Home > Documents > DINAMIKA RELASI MENANTU DENGAN MERTUA YANG TINGGAL BERSAMA · dan penerimaan keadaan yang mengarah...

DINAMIKA RELASI MENANTU DENGAN MERTUA YANG TINGGAL BERSAMA · dan penerimaan keadaan yang mengarah...

Date post: 12-Jan-2020
Category:
Author: others
View: 8 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 166 /166
DINAMIKA RELASI MENANTU DENGAN MERTUA YANG TINGGAL BERSAMA SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi Program Studi Psikologi Disusun Oleh: Devi Putri Sari 129114131 PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA 2018 PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI
Transcript
  • DINAMIKA RELASI MENANTU DENGAN MERTUA

    YANG TINGGAL BERSAMA

    SKRIPSI

    Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat

    Memperoleh Gelar Sarjana Psikologi

    Program Studi Psikologi

    Disusun Oleh:

    Devi Putri Sari

    129114131

    PROGRAM STUDI PSIKOLOGI JURUSAN PSIKOLOGI

    FAKULTAS PSIKOLOGI

    UNIVERSITAS SANATA DHARMA

    YOGYAKARTA

    2018

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • ii

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • iii

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • iv

    MOTTO

    “f.o.c.u.s – follow one course until successful”

    (Robert Toru Kiyosaki)

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • v

    HALAMAN PERSEMBAHAN

    Sebuah persembahan karya sederhana kepada yang tercinta

    Bapak dan Ibu:

    Sudarmin & Wirati

    Selesainya karya ini adalah tanda nyata Bapak dan Ibu selalu mempercayakan

    harapan pada anakmu menyelesaikan tanggung jawab.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • vi

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • vii

    DINAMIKA RELASI MENANTU DENGAN MERTUA

    YANG TINGGAL BERSAMA

    Devi Putri Sari

    ABSTRAK

    Penelitian ini memiliki tujuan untuk memahami dinamika relasi menantu dengan mertua

    yang tinggal bersama. Menantu dan mertua merupakan relasi keluarga yang menunjukkan

    ambivalensi. Relasi kekeluargaan menantu dan mertua tinggal serumah juga menunjukkan

    ketegangan, sehingga hubungan mereka renggang. Ketegangan yang terjadi menyebabkan hubungan

    mereka tidak harmonis dan menantu menilai tidak dekat dengan ibu mertua. Hal ini berkaitan

    dengan konsep dua nilai budaya Jawa yaitu nilai rukun dan hormat yang mengarahkan dan

    menggerakkan keluarga Jawa mewujudkan keharmonisan sebagai harapan budaya itu sendiri. Kedua

    hal ini saling berlawanan dan bagaimana titik temu untuk menyelaraskan sesuai cerminan keluarga

    Jawa. Informan penelitian ini adalah menantu perempuan yang tinggal bersama mertua dengan

    jumlah empat menantu perempuan. Pengambilan data dilakukan dengan metode wawancara semi-

    terstruktur. Analisis penelitian kualitatif ini menggunakan analisis fenomenologi interpretatif.

    Penelitian ini mendapati dinamika relasi menantu dengan mertua berorientasi pada relasi keluarga

    yang harmonis. Menantu menunjukkan dengan sikap mengalah sebagai cara menghormati mertua

    dan penerimaan keadaan yang mengarah pada relasi kekeluargaan. Peran budaya Jawa mengarahkan

    dan menyelaraskan tindak tanduk menantu mencerminkan norma budaya itu sendiri. Relasi menantu

    terhadap mertua juga didasarkan pada keuntungan cinta yang didapat menantu selama tinggal

    bersama. Menantu merasa bergantung pada bantuan mertua sehingga menantu memprioritaskan

    kebersamaan dan keutuhan keluarga.

    Kata kunci : relasi menantu dengan mertua, keluarga, keharmonisan, budaya Jawa.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • viii

    THE DYNAMICS OF DAUGHTER-IN-LAW AND MOTHER-IN-LAW’S

    RELATIONSHIP WHO LIVES TOGETHER

    Devi Putri Sari

    ABSTRACT

    This research aimed to understand the dynamics of daughter-in-law and mother-in-law’s

    relationship who lives together. Daughter-in-law and mother-in-law is family relationship that

    shows ambivalence. The familial relationship of daughter-in-law and mother-in-law who lives

    together shows tension, so there is a gap between them. The tension makes their relationship

    disharmonious and not intimate. It relates to Java’s culture value, such as harmonious and

    respectful that direct and stir Java’s family actualize harmony as the culture’s hope. These two

    contrast at each other and how the intersection synchronize due Java’s family reflection. The

    subjects were 4 daughter-in-laws that lived together with their mother-in-law. The data collected

    using semi-structured interview, analyzed with interpretative phenomenology analysis. This

    research found that the dynamics of daughter-in-law and mother-in-law’s relationship oriented on

    harmonious family relationship. Daughter-in-law shows succumb attitude as a way to respect

    mother-in-law and condition acceptance that leads to family relationship. Java’s culture role leads

    and sychronize daughter-in-law behavior reflects the culture norm itself. The relationship from

    daughter-in-law to mother-in-law based on affection obtained during live together. Daughter-in-law

    feels dependent on mother-in-law’s help so that daughter-in-law prioritize togetherness and unity of

    the family.

    Keyword : relationship of daughter-in-law and mother-in-law, family, harmony, Javanese culture

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • ix

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • x

    KATA PENGANTAR

    Puji dan syukur dipanjatkan kepada Yesus Kristus atas rahmat dan kasih-

    Nya yang berlimpah menyertai anak-Nya dalam proses penulisan skripsi dengan

    lancar. Perjalanan selama penulisan skripsi ini mengalami kesulitan, namun selalu

    diberikan pembelajaran dan kemudahan untuk menyelesaikan pada waktu yang

    tepat. Banyak pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini. Oleh

    karena itu, penulis mengucapkan terima kasih kepada:

    1. Ibu Dr. Titik Kristiyani, M.Psi., Psi., selaku Dekan Fakultas Psikologi

    Universitas Sanata Dharma dan segenap jajaran Dekanat.

    2. Ibu Monica Eviandaru Madyaningrum, M. App., Ph.D., selaku Kepala

    Program Studi Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

    3. Ibu Ratri Sunar Astuti, S.Psi., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Akademik

    penulis yang selalu memberi masukan, semangat untuk menyelesaikan studi

    S1 penulis selama di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma.

    4. Bapak Y.B. Cahya Widiyanto, M.Si., Ph.D., selaku dosen pembimbing

    skripsi yang telah membimbing dan memberi masukan sehingga penulis

    dapat menyelesaikan dengan baik. Terima kasih atas kesempatan yang

    Bapak berikan untuk berproses bersama dan selalu memberi keyakinan di

    tengah keraguan. Banyak hal dalam hidup yang Bapak ajarkan dan kenalkan

    melalui proses penyelesaian skripsi ini. Hidup bukan sekedar berproses dan

    dijalani namun menemukan dan menggali makna dari setiap kejadian hidup

    yang terjadi. Segala proses yang terjadi memampukan penulis mengenali

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xi

    dan memahami diri lebih jauh dari sebelumnya. Terima kasih kesempatan

    berdinamika dan menjembatani bertemu dengan ibu Tuti.

    5. Seluruh dosen Psikologi yang mendidik dan mendampingi dengan penuh

    kesabaran selama penulis menempuh pendidikan di Fakultas Psikologi

    Universitas Sanata Dharma.

    6. Seluruh Staff dan Karyawan Psikologi Universitas Sanata Dharma yang

    telah sabar melayani dan memberikan informasi selama penulis berkuliah di

    Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma ini.

    7. Para informan yang membantu untuk bersedia meluangkan waktu dan

    berbagi pengalaman berharga kepada penulis. Terima kasih kesempatan

    yang diberikan.

    8. Bapak dan Ibu tercinta: Sudarmin dan Wirati sangat memberikan energi

    positif dan cinta kasih yang selalu mengalir. Terima kasih memberikan

    kesempatan menuntut ilmu, kesabaran menghadapi proses kehidupan

    anakmu, doa-doa dan cinta kasih yang selalu terucap. Terima kasih air mata

    yang harus mengalir untuk anakmu, mohon maaf menyakiti Bapak Ibu

    sebagai orang tua yang sepenuh hati menyayangi penulis. Maaf kebaikan

    Bapak dan Ibu belum terbalaskan.

    9. Keluarga yang memberikan dukungan, perhatian, dan tak pernah putus

    memberikan cinta kasih kepada penulis. Teruntuk Mas Nunung, Mbak Atik,

    Mas Andi, Mbak Becha, dan keponakan Lia, Dhafin, Via, Falisha yang

    selalu menguatkan dengan tawa mereka. Terima kasih pengertian dan

    pemahaman untuk tidak menanyakan “kapan”, selalu mendampingi di saat

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xii

    kesulitan dan memberikan motivasi persiapan mengenai kehidupan

    selanjutnya.

    10. Seluruh teman penulis di Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

    angkatan 2012. Terima kasih kesempatan mengenal kalian yang mengisi

    jalan cerita hidup penulis, bertemu kalian adalah pengalaman yang

    berharga. Canda tawa bersama teman-teman menjadi warna kenangan

    dalam diri sebagai mahasiswa. Suka duka bersama teman-teman menjadikan

    diri kita kuat dan menjadi sosok kita yang hebat memahami kehidupan.

    Terima kasih energi positif yang ditularkan. Pertemuan kita adalah awal kita

    berjalan bersama menapaki kehidupan untuk terus berlanjut dan saling

    mendoakan dimana pun teman-teman berkembang. Teruntuk teman-teman

    Karina, Maria, Fani, Reka, Anti, Priska, KaGue, Rini, Nia, Maureen, Oci,

    Ogek, Gege, Sekar, Jeje, dan teman-teman lain yang selalu menularkan

    senyum mereka.

    11. Teman-teman seperjuangan menuliskan pemikiran di atas kertas putih.

    Terima kasih kalian berproses bersama dan selalu menularkan energi positif

    di tengah kesulitan. Teruntuk teman-teman Nia, Karina, Priska, Amel, Cia,

    Edo, Ananta, Mas AP, Vincent, Kenang dan teman-teman angkatan 2011,

    2013, 2014.

    12. Teman-teman Klaten penulis yang memberikan energi positif dan harapan

    akan ada hal baik. Terima kasih berbagi pengalaman suka duka kehidupan

    yang memotivasi penulis untuk terus maju melawan hambatan. Teruntuk

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xiii

    Giffari, Ayu, Titis, Tiara, Salindri, Alphin, Yeyen dan teman-teman lain

    yang selalu memberi dukungan.

    13. Devi Putri Sari yang telah kuat bertahan melawan diri. Terima kasih

    kesempatan tumbuh dan berkembang hingga detik ini membawa diri

    menjadi lebih baik. Perjalanan sesungguhnya akan segera dimulai.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xiv

    DAFTAR ISI

    HALAMAN JUDUL..................................................................................... i

    HALAMAN PERSETUJUAN DOSEN PEMBIMBING ............................... ii

    HALAMAN PENGESAHAN ....................................................................... iii

    HALAMAN MOTTO ................................................................................... iv

    HALAMAN PERSEMBAHAN .................................................................... v

    HALAMAN PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .................................... vi

    ABSTRAK ................................................................................................... vii

    ABSTRACT ................................................................................................... viii

    HALAMAN PERSETUJUAN PUBLIKASI KARYA ILMIAH .................... ix

    KATA PENGANTAR .................................................................................. x

    DAFTAR ISI ................................................................................................ xiv

    DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................. xviii

    DAFTAR GAMBAR .................................................................................... xix

    BAB I: PENDAHULUAN ............................................................................ 1

    A. Latar Belakang ............................................................................... 1

    B. Pertanyaan Penelitian ..................................................................... 10

    C. Tujuan Penelitian ............................................................................ 10

    D. Manfaat Penelitian .......................................................................... 10

    1. Manfaat Teoritis ....................................................................... 10

    2. Manfaat Praktis ......................................................................... 10

    BAB II: TINJAUAN TEORI......................................................................... 12

    A. Keluarga ......................................................................................... 12

    B. Penelitian Terkait Relasi Menantu dengan Mertua .......................... 13

    C. Hubungan ....................................................................................... 16

    D. Kaidah Dasar Masyarakat Jawa ...................................................... 18

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xv

    1. Nilai Hormat ............................................................................. 19

    2. Nilai Rukun .............................................................................. 21

    3. Nilai Harmoni Jawa .................................................................. 22

    E. Analisis Fenomenologi Interpretatif ................................................ 23

    F. Dinamika Relasi Menantu dengan Mertua ...................................... 25

    BAB III: METODOLOGI PENELITIAN...................................................... 27

    A. Paradigma dan Pendekatan Penelitian ............................................. 27

    B. Fokus Penelitian ............................................................................. 29

    C. Prosedur Penelitian ......................................................................... 29

    1. Informan Penelitian................................................................... 29

    2. Metode Pengambilan Data ........................................................ 31

    D. Metode Analisis Data ..................................................................... 33

    1. Membaca dan membaca kembali .............................................. 33

    2. Membuat catatan awal .............................................................. 33

    3. Mengembangkan tema .............................................................. 34

    4. Mencari keterkaitan antara tema-tema yang muncul .................. 34

    5. Pindah ke kasus selanjutnya ...................................................... 34

    6. Mencari pola dari keseluruhan kasus ......................................... 34

    E. Kredibilitas Penelitian .................................................................... 35

    1. Sensitivity to context ................................................................. 35

    2. Commitment and rigour ............................................................ 36

    3. Coherence and transparency..................................................... 37

    4. Impact and importance ............................................................. 38

    F. Refleksivitas Peneliti ...................................................................... 39

    BAB IV: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ............................... 41

    A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian ............................................. 41

    1. Persiapan Penelitian .................................................................. 41

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xvi

    2. Pelaksanaan Penelitian .............................................................. 42

    B. Informan Penelitian ........................................................................ 43

    1. Latar Belakang Informan .......................................................... 43

    a. Informan 1 (N) .................................................................... 43

    b. Informan 2 (Wf) .................................................................. 46

    c. Informan 3 (Sr) ................................................................... 47

    d. Informan 4 (Fs) ................................................................... 48

    e. Informan 5 (S)..................................................................... 49

    f. Informan 6 (Hm) ................................................................. 51

    C. Hasil Penelitian .............................................................................. 52

    1. Informan N (31) ........................................................................ 52

    2. Informan Wf (30) ...................................................................... 54

    3. Informan Sr (27) ....................................................................... 57

    4. Informan Fs (28) ....................................................................... 59

    5. Informan S (59) ........................................................................ 61

    6. Informan Hm (62) ..................................................................... 62

    D. Analisis Data .................................................................................. 65

    1. Kekurangan ekonomi hidup mandiri ......................................... 65

    2. Ketegangan pendapat ................................................................ 68

    3. Sanggahan perkataan mertua ..................................................... 70

    4. Diam terhadap mertua ............................................................... 72

    5. Introspeksi diri .......................................................................... 74

    6. Nilai rukun dan hormat ............................................................. 77

    a. Kerukunan .......................................................................... 78

    b. Kehormatan ........................................................................ 80

    7. Mengalah untuk menghormati ................................................... 82

    8. Penerimaan keadaan ................................................................. 84

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xvii

    E. Pembahasan .................................................................................... 89

    1. Mengalah untuk menghormati ................................................... 92

    2. Penerimaan keadaan ................................................................. 94

    BAB V: KESIMPULAN DAN SARAN........................................................ 104

    A. Kesimpulan .................................................................................... 104

    B. Keterbatasan ................................................................................... 105

    C. Saran .............................................................................................. 106

    1. Bagi peneliti selanjutnya ........................................................... 106

    2. Bagi menantu dan calon menantu .............................................. 106

    3. Bagi Mertua .............................................................................. 107

    4. Bagi Praktisi ............................................................................. 108

    DAFTAR PUSTAKA ................................................................................... 109

    LAMPIRAN ................................................................................................. 113

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xviii

    DAFTAR LAMPIRAN

    Interview Protocol ........................................................................................ 113

    Lembar Persetujuan Informan 1 .................................................................... 114

    Lembar Persetujuan Informan 2 .................................................................... 115

    Lembar Persetujuan Informan 3 .................................................................... 116

    Lembar Persetujuan Informan 4 .................................................................... 117

    Lembar Persetujuan Informan 5 .................................................................... 118

    Lembar Persetujuan Informan 6 .................................................................... 119

    Verbatim Informan N .................................................................................... 120

    Clustering of Themes N ................................................................................. 144

    Skema Informan N ........................................................................................ 147

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • xix

    DAFTAR GAMBAR

    Gambar 1. Skema Relasi Menantu dengan Mertua Yang Tinggal Bersama .... 26

    Gambar 2. Tabel Keterangan Pelaksanaan Penelitian ................................... 42

    Gambar 3. Skema Dinamika Relasi Menantu Dengan Mertua Yang Tinggal

    Bersama ........................................................................................................ 103

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Indonesia khususnya daerah Jawa memiliki konsep keluarga yang tidak

    terbatas pada hubungan sedarah, melainkan adanya unsur pelebaran hubungan

    (Geertz, 1983). Salah satu pelebaran hubungan yang dimaksud adalah proses

    pernikahan yang terdapat istilah ‘menantu’ dan ‘mertua’. Setelah pernikahan

    terjadi, menantu tinggal bersama mertua dan telah menjadi keluarga, yang disebut

    keluarga batih. Keluarga batih adalah keluarga yang dari keluarga inti (ayah, ibu,

    dan anak) dan adanya posisi anggota keluarga lain di dalamnya (Lee, 1982 dalam

    Lestari, 2012). Hubungan keluarga batih menekankan pada hubungan

    kekerabatan. Penelitian ini memfokuskan pada hubungan menantu perempuan

    dengan ibu mertua di keluarga yang tinggal bersama.

    Fenomena menantu tinggal bersama mertua di Jawa masih sering ditemukan

    di masyarakat pedesaan. Menantu menjadi bagian dalam keluarga mertua

    dianggap seperti anak sendiri, sama halnya dengan mertua. Sebagai keluarga yang

    tinggal seatap, mereka saling berinteraksi setiap harinya. Menantu dan mertua

    memiliki perbedaan dalam hal menilai satu sama lain. Perbedaan tersebut memicu

    masalah, yang mengakibatkan ketegangan, kekakuan interaksi serta membuat

    jarak di antara keduanya.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 2

    Menantu yang tinggal bersama mertua sering dijumpai di berbagai daerah.

    Seperti penelitian di Asia ditemukan, sebanyak 55% menantu Vietnam dan 42%

    menantu di Taiwan tinggal bersama ibu mertua (Li-Ching & Yi-Fang, 2015).

    Hasil tersebut mengungkapkan masih banyak menantu perempuan yang tinggal

    bersama ibu mertua. Penelitian Andriyani dan Widyayanti (2015) di Indonesia

    juga menyampaikan masih adanya pasangan suami istri setelah menikah tinggal

    bersama orang tua suami atau istri.

    Hubungan menantu dan mertua di dalam keluarga menarik untuk dibahas.

    Pada dasarnya mereka memiliki hubungan yang memengaruhi satu sama lain

    (Kelley et al. dalam Sears, Freedman, & Peplau, 1985). Hal tersebut terjadi pada

    hubungan menantu dengan mertua yang tinggal serumah. Hubungan menantu

    dengan mertua saat tinggal serumah diwarnai ambivalensi, dimana terjadi

    kedekatan hubungan dan juga terjadi permusuhan (Allendorf, 2015; Willson,

    Shuey, & Elder, 2003). Hubungan ambigu tersebut menimbulkan konflik yang

    berdampak pada interaksi keluarga (Fischer, 1983).

    Allendorf (2015) dalam penelitiannya menjabarkan hubungan menantu

    perempuan dan ibu mertua. Hubungan mereka yang ambivalensi digambarkan

    hubungan dalam keluarga yang dekat seperti ibu dan anak namun secara

    bersamaan terjadi situasi seperti orang asing. Keambiguan interaksi nampak pada

    perilaku mereka dalam aktivitas sehari-hari. Sebuah penelitian mengungkapkan

    kedekatan menantu dengan mertua justru memiliki hubungan yang rendah

    (Fingerman, Gilligan, VanderDrift, & Pitzer, 2012). Dengan kata lain, kualitas

    hubungan mereka mengarah pada hal negatif.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 3

    Salah satu informan menantu perempuan penelitian ini, Informan Wf,

    menggambarkan bahwa sulitnya menganggap mertua sebagai orang tua sendiri.

    Ambigu hubungan mereka diibaratkan seperti kedekatan hubungan ibu-anak, akan

    tetapi secara bersamaan terhadap situasi seperti orang asing di antara keduanya.

    Adanya kecenderungan dalam dirinya membedakan dan membandingkan mertua

    dengan orang tua sendiri.

    “..walaupun mereka bilang kamu tak anggap seperti anak

    sendiri tapi tetep rasanya beda, bicaranya aja beda kalo

    kita kan sama ibu kita kan biasa aja gitu lho gak pernah

    sakit hati, biasa. Gini lho kalo sama ibu sendiri kan biasa

    ngoko gitu lho kan gak papa kan kalo sama mertua kan lha

    harus bicaranya halus seperti itu karna ya soalnya beda.

    Kalo ibu sendiri bicara blak-blakan gini-gini gak akan

    marah soalnya udah tau anaknya sifatnya kayak gini kalo

    mertua belum tentu. Kadang kita bicara sedikit sakit hati

    kadang bicara ini sedikit tersinggung kan kita harus hati-

    hati.” (Wf, 30th, 36-46)

    Penelitian ini difokuskan pada sudut pandang menantu perempuan. Peneliti

    melihat seorang menantu yang telah menikah dan ikut tinggal bersama suami

    memberikan pengalaman baru dalam hidupnya. Pengalaman menantu sebagai

    anggota keluarga baru membawa pengaruh terhadap bagaimana dirinya terlibat

    interaksi dengan mertua. Geertz (1983) menyampaikan wanita memiliki pengaruh

    besar dalam sebuah hubungan yang bersolidaritas. Suatu penelitian di Taiwan

    menunjukkan terjadi konflik tingkat tinggi dalam hubungan menantu perempuan

    dan ibu mertuanya (Wu et al., 2010). Konflik tersebut terjadi akibat ibu mertua

    menekan dan memojokkan menantu. Perilaku ibu mertua dianggap sebagai

    penghambat menantu menjadi istri yang baik. Dengan kata lain, keluarga baru

    yang dibangun menantu menentukan masa depan bagaimana relasi antara menantu

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 4

    dengan mertua dan relasi dua keluarga besar. Hal tersebut juga memunculkan

    harapan akan terwujudnya suasana keluarga yang nyaman dan tenang sehingga

    tidak terjadi konflik.

    Menantu dihadapkan pada proses penyesuaian diri dari berbagai perubahan.

    Menantu sebagai wanita yang memiliki keterlibatan lebih dengan mertua memiliki

    kuasa untuk mengendalikan semua hal terkait keluarga barunya. Menantu yang

    ikut suami tinggal bersama mertua membentuk interaksi intens dengan mertua

    atau orang tua suami meskipun merasa asing menjadi bagian keluarga baru.

    Perasaan yang dirasakan menantu seperti ketakutan disebabkan oleh adanya

    kebingungan dan kecemasan karena merasa tidak nyaman berinteraksi dengan

    keluarga suami (Fingerman et al., 2012; Prentice, 2008). Menurut Mulder (1992),

    kedekatan jarak tidak menjamin hubungan mengarah pada keintiman atau

    memiliki ikatan personal yang kuat.

    Li-Ching dan Yi-Fang (2015) menyatakan frekuensi kedekatan memberikan

    dampak positif dan negatif terhadap relasi menantu dan mertua yang tinggal

    bersama. Menantu perempuan mendapatkan dukungan dan dampingan tentang

    bagaimana membangun rumah tangga yang baik. Akan tetapi, dukungan dan

    dampingan yang berlebihan menimbulkan anggapan kerugian bagi menantu. Ibu

    mertua memerankan porsi lebih dalam rumah tangga menantu dimana

    keterlibatannya mendominasi keputusan keluarga. Bagi menantu intensitas

    dukungan mertua yang berlebihan memberikan dampak buruk seperti anggapan

    sumber stres dan pembatasan dirinya berperan di keluarga (Li-Ching, 2015;

    Rittenour & Soliz, 2009).

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 5

    Fischer (1983) menjelaskan bahwa ibu mertua dan menantu yang tinggal

    bersama memiliki batasan interpersonal menantu yang kurang jelas. Ibu mertua

    memiliki perasaan menolak menantunya sebagai pilihan anak laki-lakinya.

    Ketidakjelasan tersebut membawa dampak terhadap manajemen rumah tangga.

    Menantu menganggap ibu mertua sebagai pengganggu kehidupan pernikahannya.

    Anggapan ini menyebabkan timbulnya konflik yang lebih banyak dalam

    hubungan mereka. Konflik mengurangi dan merenggangkan ruang intimasi relasi

    mereka sebagai keluarga yang tinggal bersama.

    Pendapatan keluarga merupakan salah satu faktor yang mengonstruksi

    hubungan menantu-mertua. Menurut Li-Ching dan Yi-Fang (2015) menganggap

    ekonomi sebagai pemicu konflik, dimana mertua mendominasi kekuasaannya

    untuk menekan menantu perempuan. Campur tangan mertua yang berkuasa dalam

    keluarganya mengakibatkan ketidaknyamanan dan muncul perasaan terjajah dan

    terhina (Min-Jung & Yun-Jeong, 2015). Persaingan berdampak negatif terhadap

    hubungan mereka apabila mertua bergantung finansial pada anak laki-laki (suami)

    (Turner, Young, & Black, 2006). Konsekuensi yang diterima menantu perempuan

    selama tinggal bersama menyulitkan dirinya untuk terbuka terhadap mertua.

    Hubungan keluarga menantu dan mertua mengalami ketidakcocokan karena

    tidak memiliki ikatan yang sama sehingga ketegangan terjadi (Allendorf, 2015).

    Ketegangan berkaitan interaksi yang tidak akrab (Santi, 2015) dan adanya

    interaksi yang formal antara menantu terhadap mertua (Fischer, 1983). Hal

    tersebut berbeda dengan hubungan keluarga yang ideal. Anggota keluarga saling

    mengakrabkan diri dan mengutamakan keterbukaan dan keharmonisan.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 6

    Budaya memiliki pengaruh dan peran penting dalam hubungan menantu dan

    mertua (Min-Jung & Yun-Jeong, 2015; Nganase & Basson, 2017). Peneliti

    mengaitkan pandangan relasi menantu-mertua dengan budaya di Indonesia,

    khususnya Jawa. Budaya Jawa memiliki sistem nilai yang mengatur pola interaksi

    sosial di keluarga Jawa. Nilai tersebut terangkum dalam nilai rukun dan hormat.

    Orientasi dua prinsip tersebut memberikan pengaruh akan tercapainya

    keharmonisan sesama individu (Geertz, 1983). Bagi masyarakat Jawa meyakini

    dua prinsip yang dipegangnya membantu untuk menyelaraskan perilaku hidup

    mereka dengan norma budaya di lingkungan.

    Budaya lebih memengaruhi pada masyarakat pedesaan daripada masyarakat

    modern (Datta, Ype, & Alfons, 2003; Nganase & Basson, 2017). Interaksi

    masyarakat pedesaan memiliki hubungan sosial yang tinggi (Landis, 1948, dalam

    Setyawan, 2015) daripada masyarakat perkotaan. Oleh karena itu, penelitian ini

    juga mempertimbangan lokasi untuk mendapatkan data sesuai dengan tujuan.

    Elemen dasar masyarakat Jawa nampak pada sebuah sistem mengenai

    prinsip kehidupan (Mulder, 1992). Sistem ini dianggap sebagai pelengkap dalam

    diri orang Jawa. Sistem tersebut mencakup tradisi Jawa dari berbagai aspek

    kehidupan orang Jawa yang berpengaruh pada gaya hidup dan etnik di lingkup

    sosial. Dengan kata lain, sistem prinsip kehidupan menjadi pengajaran orang Jawa

    yang meyakini sebagai sumber kebijakan dan kebenaran untuk refleksi diri.

    Pengajaran Jawa mengarahkan individu Jawa menjadi pribadi Jawa.

    Menurut Handayani dan Noviyanto (2004), individu perlu mencapai dan

    mempertahankan keseimbangan batin. Hal ini dapat ditunjukkan melalui

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 7

    ketenangan, pengendalian diri, dan berpikir secara rasional. Individu Jawa juga

    diarahkan untuk mengendalikan diri dari nafsu dan egoisme. Arahan tersebut

    membantu untuk memperkuat diri dengan menyeimbangkan dan menyesuaikan

    dengan tuntutan keselarasan sosial. Pengajaran Jawa memuat nilai budaya Jawa

    sebagai pedoman masyarakat Jawa bertindak tanduk sehari-hari.

    Nilai budaya Jawa memerankan tidak hanya mendasari perilaku, juga

    menjadi pusat pemahaman. Nilai hormat merupakan salah satu nilai yang secara

    konkretnya berupa tata krama. Tata krama berkaitan dengan kewajiban individu

    untuk memelihara hubungan di masyarakat dan keluarga. Pemeliharaan relasi

    seyogyanya dilakukan dalam setiap situasi sosial. Tata krama tidak mengenal

    waktu dan tempat. Nilai budaya Jawa lainnya adalah terpeliharanya keharmonisan

    sosial dalam nilai rukun. Gambaran hubungan sosial yang ideal di lingkungan

    Jawa diukur melalui nilai rukun. Peran nilai rukun untuk mencegah ungkapan

    perselisihan dengan menjaga keharmonisan. Petunjuk moral bagi masyarakat

    Jawa secara tradisional mengandalkan nilai rukun untuk menengahi suatu

    ketegangan (Geertz, 1983).

    Pedoman moral dua budaya Jawa digunakan sebagai ukuran bagaimana

    bertata krama yang baik dalam konteks sosial apapun. Adanya petunjuk normatif

    mempermudah masyarakat Jawa untuk memelihara tindak tanduknya dengan

    tenang dan mantap dalam segala hubungan. Hal tersebut menjadi kekuatan atau

    strategi mereka membangun hubungan yang kuat dengan orang lain. Nilai budaya

    Jawa menyatu dan tertanam dalam diri individu sebagai pusat pengertian dirinya

    berelasi. Bagi hubungan keluarga, setiap anggota keluarga membutuhkan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 8

    pemahaman dan pengalaman bertindak tanduk dengan anggota keluarga lainnya.

    Dalam hubungan keluarga, anggota keluarga membutuhkan pengertian dan

    pengalaman bertindak tanduk (Geertz, 1983).

    Patokan ideal hubungan harmoni antara menantu dan mertua adalah

    kerukunan. Mereka dapat saling bekerja sama menyerasikan diri dengan

    menitikberatkan pada harmoni hubungan (Geertz, 1983), sehingga perselisihan

    dapat dicegah. Dengan demikian, menantu dan mertua bergotong royong

    membangun hubungan keluarga yang saling menerima dan memberi satu sama

    lain. Hal tersebut termasuk memahami mengenai perbedaan yang ada.

    Perasaan-perasaan yang ditekan seringkali memunculkan ketegangan

    terbuka dalam keluarga. Hal tersebut seharusnya dapat dicegah dengan proses

    komunikasi. Pengutamaan cinta kasih dalam hubungan mereka dan penerapan

    nilai moral mewujudkan keharmonisan hubungan keluarga. Perilaku dan sikap

    sebagai media menantu dan mertua menunjukkan aksi kerja samanya. Bagi orang

    Jawa, pengendalian diri di setiap situasi kesopanan sosial penting untuk

    menunjukkan setiap hormat pada orang lain (Geertz, 1983).

    Pada dasarnya, keluarga Jawa membekali anggota keluarga, dengan nilai-

    nilai budaya Jawa untuk mengembangkan relasi mengarah pada hubungan

    harmonis. Pemeliharaan bentuk-bentuk tata krama yang selaras menjadikan

    kualitas relasi yang terjalin mengarah positif. Kesepakatan bersama menyesuaikan

    tindak tanduk sebagai cara untuk menaati norma demi keserasian dan

    keharmonisan.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 9

    Harapan budaya Jawa yang mengutamakan keharmonisan keluarga berbeda

    dengan kenyataanya, terjadi pada relasi menantu dengan mertua. Adanya

    perbedaan yang nampak pada relasi keluarga mereka menampilkan relasi tegang

    dan berkonflik. Menantu memandang ibu mertua sebagai orang tidak dekat

    dengan dirinya (Santos & Levitt, 2007), juga mendapatkan pemahaman hubungan

    menantu-mertua yang tidak harmonis. Pandangan nilai budaya Jawa mengarahkan

    dan menggerakkan keluarga secara aktif mengupayakan harapan budaya

    terwujudkan. Penelitian ini melihat perbedaan dua hal yang saling berlawanan

    arah dan tidak menemukan satu titik temu yang baik untuk mengubah arah relasi

    sesuai cerminan keluarga Jawa.

    Peneliti memandang menantu sebagai orang baru perlu membawa diri

    masuk ke dalam relasi keluarga terutama dengan mertua. Pada sisi lain, menantu

    perempuan memandang negatif terhadap sosok ibu mertua yang diakibatkan

    konflik. Keterlibatan mertua pada kehidupan keluarga menantu menyulitkan

    konflik itu dicegah. Dengan kata lain, menantu mengalami kesulitan menemukan

    kecocokan dan kenyamanan dirinya berinteraksi dengan mertua selama tinggal

    bersama. Oleh karena itu, situasi menuntut menantu berperan untuk meleburkan

    pertentangan, melembutkan interaksi, dan menciptakan keharmonisan dalam

    hubungan mereka.

    Berdasarkan uraian tersebut, menantu memahami dasar nilai budaya Jawa

    sebagai pertimbangan bagaimana mengarahkan dan memelihara hubungan selaras.

    Peran menantu mengupayakan relasi dengan mertua yang penuh selisih dengan

    mertua dapat mencerminkan hubungan kekeluargaan yang harmonis. Oleh karena

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 10

    itu, peneliti tertarik melihat dinamika seorang menantu perempuan dengan ibu

    mertua yang tinggal bersama dan peran budaya Jawa di dalamnya.

    B. Pertanyaan Penelitian

    Pertanyaan penelitian ini adalah bagaimana dinamika relasi menantu dengan

    mertua tinggal bersama?

    C. Tujuan Penelitian

    Tujuan penelitian ini adalah untuk memahami dinamika relasi menantu

    dengan mertua yang tinggal bersama.

    D. Manfaat Penelitian

    1. Manfaat Teoretis

    Penelitian ini memberikan sumbangsih pada Ilmu Psikologi terutama

    Psikologi Budaya dan Psikologi Sosial mengenai pandangan masyarakat tertentu

    terutama ibu mertua dan menantu perempuan mengenai pola relasi berlandaskan

    nilai budaya Jawa. Selain itu, untuk mempelajari dan memahami keunikan ikatan

    relasi menantu pada mertuanya sebagai masyarakat Jawa yang menjunjung nilai

    keharmonisan.

    2. Manfaat Praktis

    Penelitian ini diharapkan memberikan paparan mengenai hal-hal berkaitan

    dengan relasi masyarakat Jawa, terutama ibu mertua dan menantu perempuan.

    Menantu perempuan menapaki kehidupan baru pernikahan memberikan pelajaran

    melalui pengalaman berrumah tangga. Penelitian ini diharapkan memberikan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 11

    manfaat bagi mertua dan menantu mempersiapkan, menerima, dan menyesuaikan

    diri terhadap segala perubahan, serta sebagai strategi berkeluarga yang produktif.

    Bagi praktisi maupun konselor terkait topik ini, diharapkan dapat membantu

    menambah informasi sebagai pertimbangan untuk memberikan bimbingan dan

    program yang sesuai.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 12

    BAB II

    TINJAUAN TEORI

    A. Keluarga

    Pengertian keluarga selalu diasosiasikan dengan gambaran rumah tangga

    (Fatimaningsih, 2015). Beberapa pandangan mendefinisikan keluarga dari berbagai

    sudut, Murdock (dalam Lestari, 2012) mengartikan keluarga tidak hanya sebatas

    kelompok sosial, namun memiliki empat fungsi utama yakni seksual, reproduksi,

    pendidikan, dan ekonomi. Menurut Reis (dalam Lestari 2012), keluarga sebagai suatu

    kelompok yang memiliki pertalian keluarga, menjadi tempat bersosialisasi dan

    sumber dukungan emosi atau disebut sosialisasi pemeliharaan.

    Karakteristik sebuah keluarga diuraikan Lestari (2012) menjadi dua jenis

    keluarga, yakni keluarga inti dan keluarga batih. Keluarga inti terdiri dari anggota

    keluarga ayah, ibu, dan anak. Suseno (1985) menambahkan dalam masyarakat Jawa,

    keluarga inti merupakan pertalian kekerabatan dasar. Sedangkan keluarga batih

    menurut Lestari terdiri dari anggota keluarga lain yang tinggal dalam satu rumah.

    Perspektif dari keluarga Jawa mengonsepkan keluarga tidak hanya terbatas pada

    keluarga inti melainkan menyebar secara sosial maupun geografis, dengan syarat

    memiliki ikatan hubungan yang kuat (Geertz, 1983). Pertalian keluarga juga

    menyangkut relasi dengan masyarakat, serta mencakup berbagai aspek yang

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 13

    mendukung yaitu kebutuhan pribadi, ekonomi, sosial, dan psikologis setiap individu

    masyarakat terpenuhi dan nilai-nilai yang diyakini bersama (Geertz, 1983).

    Keluarga berawal dari pernikahan sebagai pondasi utama (Lestari, 2012).

    Geertz (1983) mengartikan perkawinan sebagai perubahan dan perluasan hubungan

    persaudaraan. Perluasan hubungan keluarga ini memunculkan istilah menantu dan

    mertua. Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) mendefiniskan menantu “istri atau

    suami dari anak kita”; sedangkan mertua didefinisikan “orang tua dari istri (suami)”.

    Senada dengan Purnomo (1994) mengartikan mertua adalah orang tua pasangannya

    yang sekarang menjadi orang tuanya juga. Dalam masyarakat Jawa memiliki istilah

    khusus untuk menyapa seperti daughter-in-law untuk mantu-wedok atau menantu

    sebagai anak dan parent-in-law untuk maratuwa sebagai orang tua menantu (Geertz,

    1983).

    B. Penelitian Terkait Relasi Menantu dengan Mertua

    Banyak penelitian meneliti dan memfokuskan pada keberlanjutan hubungan

    menantu perempuan dan ibu mertua. Penelitian menguraikan banyak faktor yang

    memengaruhi hubungan menantu dan mertua seperti, edukasi (Li-Ching & Yi-Fang,

    2015), kedekatan (Fingerman et al., 2012; Li-Ching & Yi-Fang, 2015; Rittenour &

    Soliz, 2009; Santos & Levitt, 2007), ekonomi (Li-Ching & Yi-Fang, 2015; Min-Jung

    & Yun-Jeong, 2015; Turner et al., 2006), pengasuhan (Fischer, 1983), dan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 14

    ketidakcocokan (Allendorf, 2015). Hubungan menantu perempuan dengan ibu mertua

    diasosiasikan hubungan negatif yang berkonflik (Allendorf, 2015).

    Fokus penelitian adalah relasi menantu yang tinggal bersama ibu mertua. Li-

    Ching dan Yi-Fang (2015) dalam penelitian kuantitatifnya menguraikan sebanyak

    42% menantu perempuan di Taiwan dan 55% menantu perempuan di Vietnam tinggal

    serumah dengan ibu mertua. Menantu mengalami dampak positif dan negatif selama

    tinggal bersama ibu mertua. Menantu mendapat dukungan dan dampingan seperti

    hubungan persahabatan oleh ibu mertua (Li-Ching, 2015; Li-Ching & Yi-Fang, 2015;

    Min-Jung & Yun-Jeong, 2015; Santos & Levitt, 2007). Pada sisi lain, fokus topik

    penelitian ini adalah dampak negatif dukungan yang berlebih. Ibu mertua yang

    memberikan dukungan berlebih cenderung mendominasi, mengkritik, dan menekan

    (Char, Saavala, & Kulmala, 2010; Fingerman et al., 2012; Fischer, 1983; Li-Ching &

    Yi-Fang, 2015; Min-Jung & Yun-Jeong, 2015; Prentice, 2008; Rittenour & Soliz,

    2009; Turner et al., 2006).

    Tinggal berdekatan dengan mertua, dinilai tidak menguntungkan bagi menantu,

    sebab menimbulkan perasaan tidak nyaman (Prentice, 2008; Fingerman et al., 2012).

    Menurut Fischer (1983), tinggal bersama justru menimbulkan konflik lebih sering.

    Hal ini mengindikasikan adanya kualitas hubungan negatif antara menantu dan

    mertua (Fingerman et al., 2012). Turner et al. (2006) menjelaskan bahwa menantu

    menunjukkan keraguan, ketakutan, dan kecemasan selama berinteraksi dengan ibu

    mertua. Konflik seringkali terjadi setelah pernikahan, yang disebabkan menantu tidak

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 15

    dapat menerima komentar maupun kritikan dari ibu mertua. Faktor lain dalam

    hubungan berkonflik disebabkan oleh ketidakcocokan ikatan keluarga yang

    mendorong terjadinya konflik (Allendorf, 2015), dan perbedaan perspektif dalam

    mengasuh anak dianggap mengganggu (Fisher, 1983). Ibu mertua cenderung

    mengendalikan dan menguasai rumah tangga menantu yang memiliki pendapatan

    rendah (Li-Ching & Yi-Fang, 2015; Turner et al., 2006). Keterlibatan ekonomi

    berkaitan faktor ekonomi yang terbatas dengan perilaku ibu mertua yang mengejek

    dan mengkritik keluarga menantu perempuan, sehingga muncul perasaan terhina dan

    direndahkan (Min-Jung & Yun-Jeong, 2015). Menurut Fischer (1983), konflik relasi

    menantu-mertua dikarenakan batasan interpersonal yang tidak jelas, sehingga

    mengganggu interaksi mereka.

    Menantu menilai keterlibatan ibu mertua membawa hal negative dalam

    keluarganya (Rittenour & Soliz, 2009). Santos dan Levitt (2007) menjelaskan bahwa

    kedekatan menantu dan mertua memengaruhi pandangan menantu terhadap kualitas

    relasinya dengan ibu mertua. Dalam penelitian Turner et al. (2006) menemukan

    menantu memandang negatif terhadap ibu mertua. Oleh karena itu, menantu

    membandingkan orang tua denghan ibu mertuanya (Fischer, 1983).

    Budaya juga memiliki peran dalam relasi menantu dan mertua (Datta et al.,

    2003; Nganase & Basson, 2017). Menantu menganggap budaya berpengaruh negatif

    dan positif terhadap perkembangan hubungan dengan mertua (Nganase & Basson,

    2017). Dalam penelitian tersebut mengungkapkan menantu menganggap perilaku

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 16

    yang berkaitan dengan rumah tangga merupakan kontruksi budaya. Hal ini

    menimbulkan anggapan budaya telah bergeser dan berubah. Menurut Geertz (1983),

    dalam masyarakat Jawa perilaku menantu perempuan diatur dalam norma budaya.

    Dengan kata lain, menantu seyogyanya menghormati mertua. Menurut Rittenour

    (2012) mengenai lingkungan yang memandang buruk hubungan menantu-mertua. Wu

    et al. (2010) mengungkapkan konflik terjadi karena ketidaksesuaian ekspetasi

    masyarakat terhadap hubungan menantu dan mertua.

    Dalam perkembangan relasi menantu dengan mertua, Prentice (2008)

    mengungkapkan dukungan ibu mertua merupakan penentu kemampuan adaptasi

    menantu. Hal ini mendukung bagaimana menantu mempersepsikan hubungan

    keluarga yang harmonis terutama dengan ibu mertua (Andriyani & Widyayanti,

    2015). Semakin positif persepsi menantu semakin positif juga kualitas relasinya.

    Menurut Min-Jung dan Yun-Jeong (2015), adanya harapan hubungan harmonis di

    tengah perselisihan antara ibu mertua.

    C. Hubungan

    Kelly et al. (1983 dalam Sears et al., 1985) mendefinisikan hubungan adalah

    sesuatu yang terjadi bila dua orang saling memengaruhi dan bergantung satu sama

    lain. Menurut kacamata psikologi sosial meninjau berbagai bentuk hubungan yang

    terdapat pola perilaku manusia (Sears et al., 1985).

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 17

    Proses pembentukkan hubungan memiliki dasar yang digambarkan oleh

    Levinger & Snoek (1972 dalam Sears et al., 1985) melalui beberapa tahapan. Berikut

    jabaran tahapan individu membentuk hubungan melalui model interdependesi. Tahap

    pertama disebut zero contact. Proses diawali dengan tidak ada kesadaran terhadap

    kehadiran individu lain dalam situasi atau tempat. Tahap kedua adalah menyadari dan

    adanya kepekaan dengan memperhatikan individu lain. Perhatian terhadap orang lain

    membentuk kesan dalam diri melalui penampilan atau perilaku. Kesan yang baik

    membuka kesempatan untuk berinteraksi. Tahap ketiga adalah kontak permukaan.

    Interaksi awal terjadi percakapan atau surat menyurat. Pada tahap ini interaksi

    berlangsung singkat dari topik pembicaraan, dampak interaksi awal dan peran sosial

    yang terbatas. Tahap keempat atau tahap terakhir yang bersifat kontinuum adalah

    mutualitas. Tahap ini bergantung pada intensitas keberlanjutan dan ketergantungan

    tahap kontak permukaan.

    Menurut Kelly et al. (1983 dalam Sears et al., 1985), adanya karakteristik yang

    disebut hubungan. Pertama, faktor frekuensi interaksi yang terjadi dalam waktu yang

    panjang. Kedua, terlibat dalam berbagai macam kegiatan atau peristiwa yang terjadi

    bersama-sama. Ketiga, hubungan terbentuk dimulainya proses pengaruh kuat antar

    dua orang. Dalam hal ini, ketergantungan emosi dengan orang lain.

    Salah satu teori yang membahas persoalan hubungan adalah teori pertukaran

    sosial. Seseorang akan memperhitungkan ganjaran dan kerugian yang diterima dan

    diberi dalam hubungan dengan orang lain (Sears et al., 1985). Foa dan Foa (1974

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 18

    dalam Sears et al., 1985) mendefiniskan ganjaran sebagai hal yang diterima dan

    diberikan dalam hubungan. Terdapat enam bentuk ganjaran sebagai acuan seseorang

    menilai hasil hubungannya. Enam ganjaran tersebut meliputi cinta, uang, status,

    informasi, barang, dan jasa. Salah satu ganjaran bergantung pada pemberi adalah

    cinta sebagai ganjaran utama dalam hubungan dengan dan oleh orang lain, status, dan

    jasa. Menurut teori pertukaran sosial, selain enam ganjaran terdapat ganjaran dalam

    hubungan yang dapat dilihat, dicium, dan diraba. Ganjaran lain yang diterima dan

    diberikan berupa nasihat atau kedekatan sosial.

    Dalam teori pertukaran sosial juga memperhitungkan konsekuensi negatif.

    Seseorang mempertimbangkan kerugian dalam hubungannya dengan orang lain

    seperti membutuhkan tenaga dan waktu. Apabila hubungan terkendala interaksi dan

    tidak disetujui oleh salah satu pihak maka memungkinkan terjadi pertentangan.

    Pada dasarnya, hubungan mengalami beberapa proses yang terjadi. Kuantitas

    atau intensitas keberlanjutan interaksi memengaruhi kualitas hubungan. Pertimbangan

    tersebut meliputi empat tahapan pembentukan hubungan, faktor-faktor yang

    menentukan terjalinnya hubungan, dan pertimbangan teori pertukaran sosial. Teori

    pertukaran sosial menfokuskan pada konsekuensi berupa ganjaran dan kerugian

    dalam hubungan.

    D. Kaidah Dasar Masyarakat Jawa

    Ketenteraman dan keselarasan masyarakat merupakan dasar moralitas. Dasar

    itu terletak pada hubungan selaras antara orang dalam masyarakat mereka sendiri

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 19

    (Mulder, 1973). Geertz (1983) menyatakan nilai-nilai kemasyarakatan berlaku

    sebagai petunjuk normatif dalam masyarakat. Nilai dasar kemasyarakatan tersebut

    ada dalam dua nilai Kejawen. Nilai pertama menuntut orang Jawa bersikap bentuk

    tata krama yang sesuai yaitu nilai hormat. Nilai kedua mengenai perilaku memelihara

    sosial yang harmonis sehingga tidak menimbulkan konflik yaitu nilai rukun (Geertz,

    1983). Kedua nilai dasar tersebut merupakan cerminan pola sosial masyarakat Jawa

    (Suseno, 1985).

    1. Nilai Hormat

    Geertz (1983) mengungkapkan situasi sosial masyarakat Jawa selalu

    mengutamakan tata krama, salah satunya hormat. Hormat merupakan prinsip yang

    bersifat mengekang diri sendiri secara halus untuk menunjukkan hormat pada orang

    lain (Handayani & Novianto, 2004). Menurut Suseno (1985), prinsip hormat

    mengatur diri selaras dengan membawa diri mengikuti aturan tata krama sosial.

    Bentuk penghormatan masyarakat Jawa ditunjukkan dalam sikap, pembawaan

    diri, dan bahasa (Geertz, 1983). Komunikasi orang Jawa diatur dalam tataran bahasa

    yaitu krama inggil, krama, ngoko madya, dan ngoko. Masing-masing tataran bahasa

    tersebut menunjukkan kedudukan dan pengakuan sosial.

    Dasar moral orang Jawa dipelajari dan didapat dari lingkungan (Mulder, 1973).

    Keluarga sebagai lingkungan awal individu memulai dan memperkenalkan

    pendidikan dasar sejak bayi (Geertz, 1983). Keluarga tidak membentuk anak menjadi

    mandiri namun mampu bersosial dengan masyarakat (Mulder, 1973). Kemampuan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 20

    bersosial yang dimiliki anak dapat mencapai kedewasaan dengan diukur tiga perasaan

    yaitu wedi, isin, dan sungkan (Geertz, 1983).

    Geertz (1983) mengartikan perasaan wedi sebagai perasaan takut secara jasmani

    maupun sosial. Keluarga mengajarkan anak takut terhadap orang tua yang membuat

    mereka menjadi penurut. Suseno (1985) menambahkan anak mendapatkan ajaran

    untuk menumbuhkan rasa takut pada orang yang dihormati.

    Langkah awal anak menuju pendewasaan memiliki perasaan isin. Arti kata isin

    yaitu malu atau diartikan merasa bersalah (Geertz, 1983). Pada dasarnya, anak dididik

    untuk malu ketika bertemu dengan orang lain. Suseno (1985) mengungkapkan

    perasan isin dan hormat saling berkaitan dan kesatuan. Orang merasa isin diartikan

    menaruh hormat terhadap orang yang pantas dihormati. Bagi orang Jawa, perasaan

    isin merupakan kekuatan mereka menyesuaikan perilaku dengan norma di masyarakat

    (Suseno, 1985).

    Ciri khas nilai hormat masyarakat Jawa adalah perasaan sungkan. Menurut

    Geertz (1983), anak memiliki isin sekaligus mempelajari perasaan sungkan. Hal yang

    membedakan sungkan dan isin adalah perasaan basa-basi menunjukkan hormat pada

    orang lain. Geertz (1983) menggambarkan isin sebagai kesopanan dengan

    pengendalian diri sedangkan sungkan digambarkan pengendalian yang peka dan

    lembut di masyarakat sosial. Suseno (1985) memandang sungkan sebagai perasaan

    malu yang positif.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 21

    Ketiga perasaan wedi, isin, dan sungkan saling berkaitan sebagai fungsi sosial

    untuk memengaruhi dan mendukung psikologis seseorang dalam tuntutan prinsip

    hormat (Suseno, 1985). Seseorang melakukan dan memiliki perasaan tersebut

    memiliki pribadi yang matang (Suseno, 1985), inilah konsep dewasa menurut

    pandangan masyarakat Jawa (Geertz, 1983).

    2. Nilai Rukun

    Masyarakat Jawa memandang rukun sebagai nilai tertinggi yang

    menyeimbangkan emosional (Geertz, 1983). Rukun berkaitan dengan hubungan

    selaras yang harmonis. Dengan kata lain, mewujudkan kedamaian dengan

    menyelaraskan diri dengan sosial (Handayani & Novianto, 2004).

    Suseno (1985) memandang adanya indikasi tuntutan kerukunan terhadap

    masyarakat Jawa. Rukun digambarkan tidak mengganggu ketenangan dan keselarasan

    sosial yang dianggap sebagai keadaan normal. Rukun juga diartikan menghindari

    konflik terjadi. Tuntutan rukun merupakan menjaga dan mengatur keselarasan dalam

    bermasyarakat sosial. Pengendalian hubungan sosial yang diperlukan untuk

    mencegah konflik terbuka. Handayani dan Novianto (2004) menambahkan dalam

    Serat Wulangreh menggambarkan rukun menjaga keharmonisan dan kerukunan serta

    mencegah timbulnya konflik.

    Lingkup keluarga rukun dipandang sebagai elemen sentral (Geertz, 1983).

    Suasana terbuka dalam keluarga inti memudahkan setiap anggota keluarga berlaku

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 22

    ramah, spontan, simpati, dan saling percaya. Situasi hubungan keluarga itu berbeda

    dengan keluarga ipar yang menjaga jarak dan adanya suasana hati-hati dan dingin

    (Suseno, 1985). Menurut Geertz (1983), pertimbangan utama menyelesaikan masalah

    adalah rukun. Suseno (1985) menyampaikan masyarakat Jawa menuntut dapat

    mengendalikan diri dan membawa diri sebagai orang dewasa secara tenang dan rukun

    menghadapi konflik. Geertz (1983) mengungkapkan rukun sebagai gambaran ideal

    hubungan sosial, yang selalu diusahakan di setiap situasi keluarga maupun

    masyarakat.

    3. Nilai Harmoni Jawa

    Dua nilai dasar Jawa saling berkesinambungan satu sama lain untuk

    mengarahkan interaksi masyarakat Jawa. Nilai rukun mengatur segala bentuk proses

    keputusan itu diambil. Nilai hormat menentukan kerangka bermacam interaksi. Nilai

    hormat menetapkan pertimbangan hal-hal pengambilan keputusan, sedangkan nilai

    rukun memastikan semua pihak menyetujui kesepakatan bersama yang sudah

    ditentukan. Hal ini disebutkan sebagai syarat interaksi teratur, artinya saling

    mengakui satu dengan yang lain dan memahami sikap menjalin relasi yang

    mengutamakan keselarasan (Suseno, 1985).

    Peran dua nilai memunculkan implikasi terhadap interaksi masyarakat Jawa.

    Keselarasan sebagai prinsip yang menuntut individu menjamin kepentingan dan hak

    tidak mengganggu keselarasan sosial. Keselarasan tindak tanduk dijaga dengan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 23

    mempertimbangkan keputusan sendiri dan menghormati sistem kedudukan. Individu

    mengupayakan bertindak berdasarkan pertimbangan-pertimbangan norma sosial,

    bukan dari kehendak sendiri. Prinsip keselarasan dianggap sebagai patokan kerangka

    atau batasan bagi individu bertindak dan menemukan batasnya (Suseno, 1985).

    Nilai hormat dan rukun secara utuh tidak menuntut individu terhadap sikap

    batinnya, melainkan menunjukkan perilaku mencerminkan dua nilai tersebut di

    masyarakat. Masyarakat Jawa menjunjung keselarasan dalam segala bentuk apa pun.

    Akan tetapi, keselarasan dan tanggung jawab moral berlawanan dapat memunculkan

    konflik. Artinya, sikap selaras dalam diri individu baik sejalan dengan tuntutan

    tanggung jawab moral bertindak tanduk.

    E. Analisis Fenomenologi Interpretatif

    Topik relasi merupakan fokus utama dari penelitian ini. Relasi merupakan salah

    satu aspek psikologi yang berkaitan dengan proses kehidupan informan. Secara lebih

    rinci, aspek psikologi menguraikan persoalan dalam diri informan atau personal dan

    sosial dimana saling memengaruhi satu sama lain. Keterkaitan dunia personal dan

    sosialnya membangun sebuah harapan terhadap perkembangan relasinya.

    Peneliti mengungkapkan dinamika relasi antara menantu perempuan dengan ibu

    mertua yang tinggal bersama berdasarkan pengalaman menantu. Selain melihat faktor

    internal informan, peneliti menganggap aspek budaya sebagai faktor eksternal

    memiliki pengaruh pada dinamika relasi mereka. Hal internal dan eksternal

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 24

    menyangkut dan berkaitan pada harapan relasi menantu perempuan. Oleh karena itu,

    kombinasi topik penelitian dengan metode yang tepat akan menentukan perolehan

    data yang menunjang dan mendukung jawaban dari pertanyaan penelitian.

    Strategi mendapat data yang sesuai dan mendalam, peneliti menggunakan IPA

    (Interpretative Phenomenologi Analysis) karena dianggap sesuai dengan prinsipnya.

    Menurut Smith (2013), IPA merupakan metode yang efektif digunakan untuk

    penelitian di bidang psikologi. Penguraian psikologis informan mempelajari

    bagaimana pemikiran dan perasaannya mengenai pengalaman ditafsirkan lebih dalam.

    Inilah kekuatan IPA menggali informasi masuk lebih dalam pada ranah kognitif,

    bahasa, afeksi, dan fisik dari pengalaman personal informan (Smith, 2008). Oleh

    karena itu, tugas peneliti menginterpretasi dalam mengidentifikasi dan memahami

    rasionalitas dari sudut pandang mental dan emosional informan (Smith, 2008).

    Berdasarkan penjelasan tersebut, IPA membantu peneliti mengurai ranah

    psikologis terkait dengan objek masalah penelitian yang diangkat. Peneliti mendapat

    informasi melalui kacamata menantu yang merumuskan dinamika relasi melalui

    proses identifikasi dan interpretasi. Hal tersebut menuntut kedalaman informasi

    bagaimana relasi menantu tinggal bersama ibu mertua terkait hal yang dialami dan

    dirasakan. Ketepatan prinsip IPA mengarahkan pembelajaran menggali informasi

    dengan pertanyaan-pertanyaan melalui proses wawancara. Dengan demikian,

    informasi sebagai data penelitian didapat tepat sasaran dan mendalam. Hasil tersebut

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 25

    didapat menggunakan pendekatan IPA yang sesuai dengan tujuan dan pertanyaan dari

    penelitian ini.

    F. Dinamika Relasi Menantu Dengan Mertua

    Keluarga merupakan bentuk pertalian keluarga yang diikat melalui sistem

    pernikahan. Pernikahan memunculkan istilah menantu dan mertua dalam keluarga.

    Menantu menjadi bagian keluarga mertua masih ada yang tinggal serumah, inilah

    gambaran keluarga batih. Keluarga batih adalah keluarga yang terdiri keluarga inti

    dan anggota keluarga lain yang tinggal bersama (Lestari, 2012). Budaya Jawa

    mengonsepkan pertalian hubungan dalam keluarga berkaitan dengan aspek kebutuhan

    pribadi, ekonomi, sosial, dan psikologis serta nilai yang disepakati bersama (Geertz,

    1983).

    Pernikahan menandakan dimulainya jalinan relasi menantu dengan mertua.

    Bagi menantu tinggal bersama mendapati keuntungan dan kerugian. Menantu

    mendapat dukungan dan dampingan oleh ibu mertua strategi membangun rumah

    tangga yang baik. Menantu juga merasakan ketidaknyamanan karena mertua yang

    menekan dan mendominasi kepentingan keluarganya. Dampak terhadap relasi antara

    dua anggota keluarga tersebut menampilkan ketegangan yang disebabkan

    ketidaknyamanannya menantu.

    Berkaitan dengan budaya Jawa, menurut Geertz (1983) keluarga Jawa memiliki

    dua nilai yang mutlak sebagai pedoman tingkah laku mereka di dalam lingkungan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 26

    sosial. Dua nilai tersebut dicerminkan pada nilai hormat dan rukun. Tindak tanduk

    sebagai harapan budaya Jawa mewujudkan kerukunan dan suasana keluarga yang

    harmonis. Apabila terjadi ketegangan, masyarakat Jawa mengandalkan nilai rukun

    untuk menengahi permasalahan dan mengutamakan kerukunan.

    Penjelasan tersebut mendapati bahwa arah keberlawanan antara relasi menantu

    dengan mertua dan harapan budaya Jawa. Menantu diharapkan dapat mencerminkan

    tindak tanduk selaras dengan norma dalam nilai Jawa. Harapan budaya berorientasi

    keharmonisan kolektif sebagai petunjuk arah relasi menantu dengan mertua. Oleh

    karena itu, penelitian ini mengupayakan untuk menguraikan bagaimana dinamika

    relasi menantu dengan mertua yang tinggal bersama, serta untuk mewujudkan

    interaksi harmonis.

    Gambar 1. Skema Relasi Menantu dengan Mertua Yang Tinggal Bersama

    Tinggal bersama

    (keluarga)

    Tekanan dan

    dominasi

    Relasi menantu

    dengan mertua

    Nilai budaya

    Jawa

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 27

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

    A. Paradigma dan Pendekatan Penelitian

    Penelitian ini menggunakan paradigma penelitian kualitatif. Paradigma

    penelitian kualitatif merupakan metode yang sesuai untuk mengungkapkan tujuan

    penelitian dan menjawab pertanyaan penelitian dengan mengeksplorasi fokus dari

    penelitian. Menurut Creswell (2012), penelitian kualitatif merupakan metode atau

    strategi untuk mempelajari makna dari pengalaman pribadi informan terkait masalah

    penelitian. Penelitian kualitatif merupakan penelitian interpretatif atau penafsiran

    sebagai tugas peneliti mengidentifikasi pengamatan langsung selama berinteraksi

    dengan informan (Creswell, 2012).

    Karakteristik yang dimiliki penelitian kualitatif membantu peneliti

    menerjemahkan data dalam proses analisis interpretasi. Peneliti mempertimbangkan

    faktor lingkungan atau setting penelitian, agar terfokus pada informan dan interaksi

    mereka di dalam konteks penelitian. Penelitian kualitatif menuntut peneliti

    mengembangkan hubungan personal langsung dengan informan sebagai strategi

    untuk memahami kehidupan nyata sehari-hari. Selain itu, penelitian kualitatif

    mengutamakan proses analisis data yang bersifat induktif artinya pengolahan data

    berupa pola, kategori, dan tema dilakukan secara berulang-ulang hingga menemukan

    rangkaian tema yang utuh (Creswell, 2012).

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 28

    Pendekatan penelitian ini menggunakan analisis fenomenologi interpretatif

    (Interpretative Phenomenological Analysis atau IPA). Smith (2013) menekankan IPA

    sebagai metode tepat digunakan untuk penelitian berkaitan dengan psikologi. IPA

    menganalisis dan berfokus pada sisi kognisi psikologi dalam interaksi peneliti dan

    informan. Proses mental dalam kognisi psikologi dan kognisi sosial merupakan

    bagian dalam psikologi sosial dan klinis. Dengan demikian, IPA bekerja untuk

    membantu peneliti memahami sebuah fenomena dengan menganalisis berkaitan

    proses mental secara lebih dalam (Smith, 2013).

    Smith (2013) menjelaskan bahwa IPA tepat digunakan untuk menginterpretasi

    hal yang menarik dengan memahami melalui proses identifikasi atau penekanan.

    Tujuan pendekatan IPA untuk memaksimalkan proses eksplorasi pengalaman

    informan. Peneliti IPA bertugas untuk mengeksplorasi masa lalu dan masa depan

    berdasarkan perspektif informan. Sumber informasi dari pengalaman informan

    membantu peneliti IPA untuk menemukan bagaimana seorang berproses memaknai

    dunia personal dan sosial mereka.

    Pendekatan IPA menuntut peneliti kualitatif untuk terlibat langsung dalam

    proses pengambilan data. Masalah penelitian dalam penelitian ini adalah relasi

    menantu perempuan dengan ibu mertua. Peneliti membangun hubungan dengan

    informan supaya mereka lebih leluasa mengutarakan pandangannya. Oleh karena itu,

    Smith (2013) menyarankan untuk menggunakan wawancara semi-terstruktur. Hal ini

    berkaitan dengan bagaimana informan mengekspresikan pikiran dan perasaan secara

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 29

    terbuka kepada peneliti. Kemudian, data dianalisis melalui proses interpretasi untuk

    menemukan dan memahami dinamika menantu berelasi dengan ibu mertua yang

    tinggal satu rumah.

    B. Fokus Penelitian

    Penelitian berfokus pada dinamika relasi menantu perempuan dengan ibu

    mertua. Relasi yang dimaksudkan tinggal berdekatan atau dalam satu rumah.

    Penelitian ini mengeksplorasi relasi dari sudut pandang menantu perempuan sebagai

    data utama dan ibu mertua sebagai data pendukung. Sudut pandang mertua digunakan

    untuk data tambahan, melengkapi, dan menyeimbangkan pandangan menantu.

    Dinamika relasi informan dikaitkan dengan peran budaya Jawa untuk menyelaraskan

    sikap dan perilakunya dengan norma. Budaya mengharuskan sebuah interaksi dapat

    terjalin intim dan mencapai keharmonisan.

    C. Prosedur Penelitian

    1. Informan Penelitian

    Informan penelitian ini adalah menantu perempuan dan ibu mertua. Jumlah

    informan sebanyak empat menantu perempuan dan dua ibu mertua. Karakteristik

    informan yaitu menantu perempuan dan ibu mertua yang tinggal dalam satu rumah.

    Peneliti tidak membatasi lamanya waktu informan tinggal bersama dan tinggal di

    rumah menantu atau ibu mertua. Peneliti mengharapkan mendapat informasi lebih

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 30

    mengenai pengalaman menantu perempuan dengan mempertimbangkan keleluasaan

    informasi psikologis.

    Pemilihan informan penelitian memperhitungkan karakteristik yang telah

    ditentukan sebelumnya. Pada awalnya, peneliti mencari menantu perempuan dan ibu

    mertua yang tinggal bersama di lingkungan sekitar rumah peneliti. Peneliti juga

    memilih informan pendukung yaitu ibu mertua. Informan ibu mertua penelitian ini

    merupakan mertua dari dua informan menantu perempuan.

    Peneliti meminta kesediaan menantu perempuan dan ibu mertua sebagai

    informan penelitian. Strategi untuk mendapatkan data yang autentik, peneliti

    melakukan rapport dengan berkunjung ke rumah menantu perempuan dan ibu

    mertua. Hal tersebut merupakan langkah awal yang penting agar informan merasa

    nyaman dengan peneliti sebelum mengungkapkan pikiran dan perasaan pada orang

    lain. Peneliti mendekati informan untuk bercakap-cakap untuk membangun interaksi

    hangat, sekaligus menentukan kebersediaan waktu informan untuk melakukan

    wawancara.

    Selama proses persiapan wawancara, peneliti dan informan bersepakat

    mengenai waktu, tempat, dan kenyamanan informan untuk pelaksanaan wawancara.

    Informan dan peneliti mengupayakan waktu luang bersama dengan saling

    menginformasikan kebersediaan waktu. Peneliti mempertimbangkan situasi rumah

    saat wawancara agar informan menantu perempuan merasa nyaman menyampaikan

    pengalamannya ketika tidak ada kehadiran ibu mertua. Sedangkan, salah satu

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 31

    informan ibu mertua meminta untuk melaksanakan wawancara di luar rumahnya atau

    bertempat di rumah peneliti. Hal ini mempertimbangkan situasi ketenangan dan

    kenyamanan informan selama proses wawancara berlangsung. Informan ibu mertua

    yang lain memilih melaksanakan wawancara di rumahnya sendiri.

    2. Metode Pengambilan Data

    Lokasi pengambilan data penelitian dilakukan di kota Klaten, tepatnya di Desa

    Jatiwoyo dan Desa Kwoso. Peneliti mempertimbangkan wilayah pengambilan data

    sebab faktor kedekatan budaya peneliti dan informan merasa tidak asing satu sama

    lain. Hal ini juga mempermudah peneliti memahami berbagai hal rinci terkait fokus

    penelitian. Penelitian ini menerapkan purposefully select atau sengaja memilih

    informan dan lokasi dengan penuh kepercayaan untuk membantu peneliti memahami

    masalah (Creswell, 2012). Informan dan lokasi pengambilan data dipilih secara

    sengaja sesuai dengan karakteristik penelitian.

    Proses pengambilan data dilakukan di tempat tinggal dan tempat kerja

    informan. Salah satu informan menantu perempuan dan ibu mertua meminta proses

    wawancara dilakukan jauh dari tempat tinggalnya. Informan menginginkan

    keleluasaan dan kenyamanan dirinya mengungkapkan pikiran dan perasaan. Oleh

    karena itu, peneliti memprioritaskan suasana pelaksanaan wawancara supaya

    informan merasa nyaman dan terbuka menceritakan pengalaman personalnya.

    Penelitian kualitatif mendapatkan data dengan melakukan wawancara. Metode

    wawancara digunakan untuk mendapatkan data yang detail mencakup cerita, pikiran,

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 32

    perasaan informan (Smith, 2013). Selama proses pengambilan data, peneliti

    melibatkan diri dalam interaksi aktif secara langsung dengan informan. Dengan

    demikian, peneliti dapat mengendalikan alur tanya jawab supaya terarah dan langsung

    pada pokok permasalahan.

    Sebelum melakukan pengambilan data, peneliti menyusun berbagai pertanyaan

    terbuka sebagai panduan wawancara. Menurut Smith (2013), panduan wawancara

    merupakan serangkaian pertanyaan yang disusun bersifat terbuka dan meluas untuk

    memunculkan pandangan dan penjelasan secara luas dari informan. Pertanyaan dalam

    panduan wawancara mengenai eksplorasi pengalaman informan berelasi dengan ibu

    mertua dan pandangan tentang nilai budaya Jawa. Panduan wawancara digunakan

    secara fleksibel dan menyesuaikan cakupan ketertarikan informan. Peneliti juga

    melakukan pendekatan atau rapport terhadap informan. Suasana dan interaksi yang

    dekat membantu informan dan peneliti tidak merasa terinvestigasi dari pertanyaan-

    pertanyaan yang diajukan.

    Peneliti menggunakan panduan wawancara yang diterapkan dalam wawancara

    semi-terstruktur. Wawancara semi-terstruktur secara fleksibel mengikuti ketertarikan

    informan mengungkapkan pengalaman, sehingga memperoleh kekayaan data.

    Informasi yang menarik dan perlu penjelasan, peneliti probing atau menggali

    sehingga dapat dikembangkan (Smith, 2008). Peneliti memanfaatkan informasi

    menarik dari data untuk digali dalam aspek psikologis dan sosialnya.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 33

    Sebelum wawancara berlangsung, peneliti meminta ijin pada informan untuk

    melakukan perekaman wawancara. Perekaman bertujuan untuk merekam jawaban-

    jawaban informan saat peneliti mengajukan pertanyaan. Oleh karena itu, peneliti

    menggunakan fasilitas audio-recorder pada hand-phone sebagai alat perekam.

    Jawaban informan yang terekam merupakan data penelitian berupa audio. Data audio

    tersebut ditranskripkan melalui proses verbatim dan dianalisis pada tahap selanjutnya.

    D. Metode Analisis Data

    Penelitian ini menggunakan analisis data menurut Smith (2013), yang

    dijabarkan sebagai berikut:

    1. Membaca dan membaca kembali

    Langkah pertama pada proses analisis adalah mengumpulkan data dengan

    melakukan wawancara kepada informan. Hasil wawancara dalam bentuk verbal

    ditranskipkan dalam bentuk kalimat, sehingga mempermudah membaca data kembali.

    Peneliti menemukan fokus analisis penelitian melalui baca data. Tugas peneliti

    mengulang membaca transkrip untuk mempermudah mengembangkan struktur

    wawancara.

    2. Membuat catatan awal

    Pada tahap ini, peneliti membuat catatan pada tranksrip data. Hal ini

    memerlukan kedetailan dan memakan waktu. Peneliti melakukan identifikasi

    keterkaitan kata dan bahasa pada transkrip untuk menemukan pola pikir informan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 34

    terhadap konteks yang difokuskan. Hal tersebut dimaksudkan untuk memahami

    kedetailan catatan dan komentar pada data. Analisis memfokuskan pada deskripsi hal

    penting dan makna dalam diri mereka (fokus penelitian seperti relasi, proses, tempat,

    kejadian, nilai, dan prinsip).

    3. Mengembangkan tema

    Pada tahap ini, peneliti mengubah catatan ke dalam bentuk tema. Hal tersebut

    bertujuan untuk menghasilkan tema yang singkat dan jelas sesuai pernyataan penting

    pada komentar transkrip. Catatan yang dikembangkan dalam bentuk tema untuk

    memudahkan peneliti mengeksplor fokus tema-tema yang muncul. Tugas peneliti

    juga memetakan dan menyambungkan pola-pola dalam data transkrip yang bertujuan

    mengeksplorasi catatan.

    4. Mencari keterkaitan antara tema-tema yang muncul

    Peneliti menggabungkan tema menjadi struktur yang menggambarkan semua

    aspek dari informan. Pada tahap ini memetakan keterkaitan tema-tema menjadi pola

    atau bagan. Keterhubungan tema digunakan untuk proses analisis interpretasi tema-

    tema.

    5. Pindah ke kasus selanjutnya

    Tahap ini mengarahkan peneliti untuk mengulang langkah awal untuk

    memproses data informan lainnya. Peneliti akan menjumpai tema-tema yang muncul

    pada informan satu dan kembali muncul di informan lainnya. Pada sisi lain, peneliti

    menemukan tema baru muncul pada setiap informan.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 35

    6. Mencari pola dari keseluruhan kasus

    Pada tahap ini, peneliti mencari pola dari keseluruhan kasus informan. Peneliti

    IPA dapat melakukannya dengan mind-mapping dari tema-tema keseluruhan

    informan. Tahap ini membantu peneliti untuk menganalisis dan menginterpretasinya.

    E. Kredibilitas Penelitian

    Pentingnya mengevaluasi validitas penelitian berguna untuk membuat penilaian

    penelitian yang baik, terpercaya, dan berguna. Lucy Yardley (Smith, 2008)

    menjabarkan evaluasi validitas penelitian, sebagai berikut:

    1. Sensitivity to context

    Penelitian kualitatif penting mempertimbangkan sensitivitas konteks. Salah

    satunya penggunaan teori yang relevan dan pustaka secara empiris sebagai dasar

    penjelasan makna dan konsep fokus penelitian. Sensitivitas pada teori yang

    digunakan dapat relevan dengan ilmu di konteks lain yang berbeda. Penelitian

    terdahulu membantu peneliti membangun pertanyaan penelitian, sebagai pembanding

    dan penjelas interpretasi.

    Dalam penelitian kualitatif, fokus penelitian adalah relasi menantu dengan

    mertua. Peneliti menyesuaikan fokus topik penelitian dengan teori maupun pustaka

    yang relevan, agar menjadi dasar yang kuat dalam penjelasannya. Teori hubungan

    dan beberapa penelitian terdahulu terkait relasi membantu peneliti meletakkan

    pemahaman dasar sesuai dengan tujuan penelitian.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 36

    Penelitian kualitatif yang baik menunjukkan kesensivitasan perspektif pada

    konteks sosial-budaya terhadap hal yang diteliti. Proses pengambilan data

    mempertimbangkan karakteristik informan dan setting pengambilan data. Pertanyaan

    terbuka-tertutup mendorong informan untuk mengungkapkan pemikiran mereka tanpa

    dibatasi.

    Peneliti mempertimbangkan karakteristik informan dan setting pengambilan

    data untuk mencapai kesensitivitasan data. Karakteristik informan penelitian berguna

    untuk memperjelas dan memfokuskan perspektif. Lokasi pengambilan data

    mengutamakan situasi dan kenyamanan informan menantu perempuan dan ibu

    mertua.

    Pada tahap analisis, peneliti menganalisis data dengan melihat makna yang

    ingin disampaikan informan. Sensitivitas pada analisis berperan sebagai

    pertimbangan alasan mengapa keterangan boleh dan tidak boleh diekspresikan dan

    bagaimana mereka mengekspresikannya. Hal yang perlu diperhatikan dalam

    menganalisis adalah keterbukaan menginterpretasikan dan mengakui kompleksitas

    serta ketidakkonsistenan yang dibicarakan oleh informan. Kompleksitas makna dari

    pernyataan informan satu berbeda dengan informan lain. Peneliti memanfaatkan

    perbedaan tersebut sebagai kekhasan setiap informan penelitian.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 37

    2. Commitment and rigour

    Aspek komitmen merupakan prinsip untuk menyesuaikan analisis data dengan

    tujuan penelitian. Kekakuan dalam penelitian kualitatif menuntut peneliti

    mengupayakan konsistensi fokus penelitian dengan data yang terkumpul. Komitmen

    yang tepat diterapkan dalam memilih informan penelitian, sebab kurang tepatnya

    pemilihan informan dapat memengaruhi kevalidannya analisis penelitian. Kesesuaian

    pemilihan informan dengan metode dan teori menunjukkan konsistensi yang jelas

    untuk menginterpretasikan data.

    Penelitian ini mengutamakan kesesuaian topik dengan informan untuk

    mencapai tujuan penelitian. Peneliti memilih menantu perempuan yang sesuai dengan

    kriteria informan penelitian yang telah ditentukan sebelumnya. Kriteria tersebut

    mempertimbangkan menantu yang tinggal dalam satu rumah dengan mertua dan tidak

    membatasi berapa lama menantu tinggal bersama. Oleh karena itu, peneliti

    mengupayakan kedekatan dengan informan.

    3. Coherence and transparency

    Kejelasan dan kekuatan argumen dalam menganalisis bergantung pada

    pendekatan teoritis, pertanyaan penelitian, metode, dan interpretasi data. Proses

    analisis data memperhitungkan konsistensi metode dan teori yang relevan saling

    mendukung. Oleh karena itu, analisis transparansi menyajikan cukup data berupa

    kutipan, kutipan teks, dan merangkum tema, untuk menunjukkan kepada pembaca

    dasar analisis interpretatif. Transparansi hasil penelitian kualitatif dilihat dari

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 38

    bagaimana pembaca dapat memahami apa yang telah diteliti dan mengapa hal

    tersebut diteliti.

    Dalam penelitian ini, peneliti menyampaikan alasan dan hal-hal yang perlu

    diketahui oleh pembaca secara jelas. Peneliti memberikan alasan pada setiap bagian

    penelitian untuk menyampaikan transparansi proses pemikiran dalam melakukan

    penelitian ini. Salah satunya pendekatan analisis fenomenologi interpretatif yang

    digunakan penelitian ini untuk mengolah data sesuai tujuan penelitian yang

    diharapkan. Pada proses analisis, peneliti mengupayakan kesesuaian kutipan verbatim

    yang mendukung interpretasi. Penjelasan dalam interpretasi menggambarkan makna

    yang disampaikan informan berdasarkan kemurnian data yang diperoleh.

    4. Impact and importance

    Penelitian yang baik memiliki manfaat dapat diimplentasikan secara langsung

    pada kehidupan manusia. Penelitian ini memberikan pandangan baru pada pembaca

    untuk memahami pandangan menantu perempuan mengenai relasi dengan ibu mertua.

    Peneliti memberikan masukan untuk menantu dan mertua, serta konselor atau

    praktisi. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan dampak positif dan memberikan

    pandangan baru mengenai relasi menantu perempuan dan ibu mertua di Jawa terkait

    nilai-nilai moral Jawa dalam relasi mereka.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 39

    Validitas data penelitian ini menggunakan prosedur triangulasi. Smith (2008)

    menjelaskan guna triangulasi dalam penelitian sebagai cara menguatkan data dari

    orang atau kelompok lain. Triangulasi juga membantu penelitian mendapat

    kedalaman untuk memudahkan peneliti menganalisis melalui proses interpretasi.

    Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan triangulasi teori sebagai cara yang sesuai

    untuk memperluas deskripsi aspek psikologis yang berkaitan dengan fokus penelitian

    ini. Proses triangulasi memanfaatkan referensi penelitian terdahulu melalui

    pembandingan hasil penelitian dan data penelitian yang diperoleh.

    F. Refleksivitas Peneliti

    Saya berperan sebagai peneliti yang meneliti dinamika relasi menantu

    perempuan dengan ibu mertua yang tinggal bersama. Saya, Devi Putri Sari, tinggal

    dalam keluarga batih, bersama ayah dan ibu sebagai mertua dan keluarga kakak

    dalam satu rumah. Selama tinggal bersama, saya mengamati interaksi menantu dan

    mertua dimulai dari perubahan situasi keluarga dan relasi antar anggota keluarga.

    Pengalaman tersebut menarik perhatian saya menjadi topik penelitian ini. Saya

    mendapat kemudahan untuk memahami perubahan menantu perempuan dan mertua.

    Saya membangun interaksi intim dengan ibu mertua dan menantu perempuan.

    Mereka menyampaikan keluh kesahnya terhadap satu sama lain pada saya. Oleh

    karena itu, saya mendapat kesempatan dan tidak merasa canggung lagi

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 40

    mengeksplorasi pengalaman sensitif informan penelitian. Hal ini mendorong

    keinginan dan ketertarikan saya untuk memahami dinamika mereka lebih mendalam.

    Penelitian ini memungkinkan terjadinya bias dalam menginterpretasikan data.

    Selama menyusun penelitian ini, saya belum menikah membentuk persepsi atau

    harapan akan suatu situasi tertentu, sehingga interpretasi cenderung memihak

    menantu perempuan. Hal ini dikarenakan, saya sebagai calon menantu mencerminkan

    pengalaman langsung di rumah yang memengaruhi keberpihakkan. Pengalaman saya

    masuk dalam dunia informan penelitian menggambarkan pengalaman langsung saya

    dalam keluarga. Hal ini mengurangi objektivitas dan kevalidan hasil penelitian.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 41

    BAB IV

    HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    A. Persiapan dan Pelaksanaan Penelitian

    1. Persiapan Penelitian

    Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Pendekatan yang digunakan

    adalah analisis fenomenologi interpretatif yang berfokus pada dinamika relasi

    menantu dengan mertua tinggal bersama. Tujuan peneliti ini mengeksplorasi lebih

    dalam terutama pengalaman menantu perempuan berdinamika serumah dengan

    mertua. Peneliti menggunakan metode wawancara semi-terstruktur sebagai

    metode pengambilan data untuk mendapat data yang lebih terperinci. Proses

    pengambilan data dilakukan menggunakan handphone sebagai alat perekam. Data

    kualitatif yang diperoleh berupa audio yang ditranskripkan melalui tahap

    verbatim.

    Awalnya, peneliti bertemu pada informan untuk meminta kesediaan waktu

    sebagai bagian penting dalam penelitian ini. Peneliti juga membangun rapport

    dengan menanyakan kabar dan menjelaskan secara singkat maksud penelitian ini,

    agar informan merasa nyaman dan jelas bercerita dari awal hingga akhir. Selama

    proses wawancara berlangsung, peneliti mengikuti arah pembicaraan informan

    namun tidak terlepas dari pertanyaan panduan wawancara.

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 42

    2. Pelaksanaan Penelitian

    Berikut keterangan waktu dan tempat pelaksanaan penelitian pada masing-

    masing informan.

    Gambar 2. Tabel Keterangan Pelaksaan Penelitian

    No Keterangan Informan 1

    (N)

    Informan 2

    (Wf)

    Informan 3

    (Sr)

    Informan 4

    (Fs)

    1. Perizinan

    pada

    informan

    Selasa, 29

    November

    2016

    Jumat, 6

    Januari 2017

    Selasa, 1

    Agustus 2017

    Selasa, 1

    Agustus 2017

    2. Pengambilan

    data–

    wawancara

    informan

    a. Rabu, 30

    November

    2016

    18.40 –

    19.50

    Rumah Ibu

    S

    a. Senin, 16

    Januari

    2017

    11.28 –

    13.13

    Rumah Ibu

    Hm

    a. Kamis, 3

    Agustus

    2017

    14.17 -

    15.03

    Rumah Ibu

    Sr

    a. Kamis, 3

    Agustus

    2017

    15.15 –

    16.38

    Rumah Ibu

    Sr

    b. Jumat, 09

    Desember

    2016

    18.38 –

    19.05

    Rumah Ibu

    S

    b. Jumat, 03

    Maret 2017

    11.18 –

    11.53

    Rumah Ibu

    Hm

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 43

    No Keterangan Informan 5

    (S)

    Informan 6

    (Hm)

    1. Perizinan pada

    informan

    Sabtu, 26 November

    2016

    Senin, 2 Januari 2017

    2. Pengambilan data–

    wawancara

    informan

    a. Selasa, 29 November

    2016

    14.39 – 15.43

    Rumah Ibu S

    a. Jumat, 6 Januari 2017

    11.16-13.39

    Rumah peneliti

    b. Sabtu, 10

    Desember 2016

    16.11– 16.38

    Rumah Ibu S

    b. Rabu, 8 Maret 2017

    11.19 – 12.19

    Rumah Ibu Hm

    B. Informan Penelitian

    1. Latar Belakang Informan

    Berikut pengalaman singkat responden penelitian sebagai menantu tinggal

    bersama mertua.

    a. Informan 1 (N)

    N adalah perempuan berasal dari kota Sragen yang menikah dan tinggal

    di kota Klaten. Sejak awal menikah N langsung tinggal di rumah mertua.

    Pengalaman N tinggal bersama mertua sudah 9 tahun lamanya. Saat ini N dan

    suami telah dikaruniai 2 anak laki-laki.

    Pada awalnya, N dan suami memutuskan untuk mengontrak rumah

    yang berjarak jauh dari rumah mertua. Selama tinggal mengontrak, N mengurus

    semua pekerjaan rumah termasuk mengurus anaknya. Kesibukkan bekerja N dan

    PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

  • 44

    suami harus menitipkan anaknya pada mertua pada pagi dan N menjemput pada

    sore hari. Sebelum berangkat bekerja, N harus menitipkan anaknya di rumah

    mertua setiap hari. Hal tersebut dikarenakan anak N lebih senang tinggal di rumah

    neneknya yang memiliki teman lebih banyak dibandingkan di rumah kontrakan. N

    juga merasa kesepian ketika tinggal di kontrakan karena terbiasa bercengkrama


Recommended