Home >Documents >Dementia Vaskular Novia a Nastiti

Dementia Vaskular Novia a Nastiti

Date post:24-Jul-2015
Category:
View:436 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Transcript:

Tugas Pengayaan Neuro DEMENTIA VASKULAR

Disusun Oleh: Novia Ayuning Nastiti 0710710050

Pembimbing: dr. Sri Budi Rianawati, Sp.S

Laboratorium Ilmu Penyakit Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya Rumah Sakit Umum Dr. Saiful Anwar Malang 2012

DAFTAR ISI

Daftar Isi............................................................... ........ 1. Definisi...................................................................... 2. Epidemiologi.............................................................. 3. Etiologi..................................................................... 4. Klasifikasi Demensia Vaskuler.................................. 5. Patofisiologi Demensia Vaskuler............................. 6. Kriteria Diagnosis.................................................... 7. Gejala Klinis............................................................ 8. Faktor Resiko ......................................................... 9. Diagnosis Banding... ............................................. 10. Pemeriksaan penunjang....................................... 11. Penatalaksanaan.... .............................................. 12. Prevensi................................................................ 13. Prognosis............................................................. 14. Mortalitas................................................................ Daftar Pustaka.......................................................

1 2 4 4 7 8 13 19 21 22 25 26 31 35 35 36

1

DEMENTIA VASKULAR

1. Definisi Demensia

Fungsi kognitif termasuk sejumlah keterampilan tingkat tinggi yang kompleks yang diatur oleh banyak sistem otak. Ada beberapa daerah otak yang merupakan kunci dari keterampilan tertentu . Keterampilan seperti pengambilan keputusan,1

kepribadian, pemecahan masalah dan atensi dikoordinir oleh lobus frontalis. Lobus frontalis di suplai oleh arteri serebri anterior . Memori jangka panjang dikoordinir oleh lobus1

temporalis yang mendapat suplai dari arteri serebri media dan arteri serebri posterior. Demensia adalah sindrom penyakit akibat kelainan otak bersifat kronik atau progresif serta

terdapat gangguan fungsi luhur (Kortikal yang multiple) yaitu daya ingat, daya fikir, daya orientasi, daya

pemahaman, berhitung, kemampuan belajar, berbahasa, kemampuan menilai, kesadaran tidak berkabut, biasanya disertai hendaya fungsi kognitif dan ada kalanya diawali oleh kemerosotan (detetioration) dalam pengendalian emosi, terjadi pada

perilaku sosial atau motivasi. Sindrom ini

penyakit Alzheimer, pada penyakit kardiovaskular dan pada

2

kondisi lain otak . Untuk1

yang secara primer atau sekunder mengenai

menyebabkan

gangguan

kognitif

lesi

berinteraksi secara sinergis. Neural nets dapat menerangkan jangkauan pemulihan setelah3

terjadi

lesi,

sehingga

penambahan jumlah lesi menurunkan pemulihan. Lesi di daerah frontal paling menonjol . Memori yang tergantung dari neural net yang luas, relatif terganggu dini, namun tidak paling prominen. Daerah subkortikal lazim terserang stroke dan dapat menunjukkan perbaikan dengan terjadinya rerouting dengan bypass pada signal pathway yang rusak . Penderita dengan lesi di otak sebelah kanan3

menunjukkan gangguan verbal IQ dan penderita dengan lesi di otak sebelah kiri menunjukkan gangguan performance IQ. Mekanisme terjadinya demensia dapat terjadi akibat lesi multipel disebabkan adanya neural nets. Hal ini didukung oleh emission tomography yang menunjukkan diaschisis yang luas . Demensia vaskular adalah penurunan kognitif dan kemunduran fungsional yang disebabkan oleh penyakit serebrovaskuler, biasanya stroke hemoragik dan iskemik, juga disebabkan oleh penyakit substansi aalba iskemik atau sekuale dari hipotensi atau hipoksia .1 3

3

2. Epidemiologi

Demensia karena berbagai sebab sekitar 8% dari populasi berusia lebih dari 65 tahun, 8-43% disebabkan karena kelainan vaskuler dan sisanya adalah mixed

dementia. Prevalensi demensia vaskuler pada pria berusia 6069 tahun: 0-2%; usia 80-89 tahun sampai 16%, walaupun kasus yang khas antara 3-6%. Skoog I, 1993-2000 dikutip dari Bowler JV dalam satu penelitian mendapatkan demensia vaskuler 47% berusia 85 tahun dan prevalensi keseluruhan adalah 14% pada usia tersebut. Jenis kelamin, Pria lebih sering terserang demensia. Usia 60-79 tahun pria: wanita adalah 13,6%: 12% dan menurun pada usia 80-89 tahun menjadi 4,8% dan 7%. Usia 60-69 tahun: 14,8% dan usia lebih dari 80 tahun: 52,3%, tetapi 36,4% menderita demensia Alzheimer dan sekuele stroke. Etnis: kulit hitam risiko lebih besar dari pada kulit putih .4

3. Etiologi Penyebab demensia yang paling sering pada

individu yang berusia diatas 65 tahun adalah (1) penyakit Alzheimer, (2) demensia vaskuler, dan (3) campuran antara

4

keduanya. Penyebab lain yang mencapai kira-kira 10 persen diantaranya adalah demensia Lewy body (Lewy body dementia), penyakit Pick, demensia frontotemporal,

hidrosefalus tekanan normal, demensia alkoholik, demensia infeksiosa (misalnya human immunodeficiency virus (HIV) atau sifilis) dan penyakit Parkinson . Banyak jenis demensia yang melalui evaluasi dan penatalaksanaan klinis6

berhubungan dengan penyebab yang reversibel seperti kelaianan metabolik (misalnya hipotiroidisme), defisiensi nutrisi (misalnya defisiensi vitamin B12 atau defisiensi asam folat), atau sindrom demensia akibat depresi. Pada tabel berikut ini dapat dilihat kemungkinan penyebab demensia :3

5

Gambar 1 . Perbandingan Persentase Etiologi dari Demensia

4

6

4. Klasifikasi Demensia Vaskuler Demensia vaskular (Dva) yaitu : 1. DVa paska stroke yang mencakup demensia infark strategis, demensia multi-infark, dan stroke perdarahan.5

terdiri dari tiga subtipe

Biasanya mempunyai korelasi waktu yang jelas antara stroke dengan terjadinya demensia. 2. DVa subkortikal, yang meliputi infark lakuner dan penyakit Binswanger dengan kejadian TIA atau stroke yang sering tidak terdeteksi namun memiliki faktor resiko vaskuler. 3. Demensia tipe campuran, yaitu demensia dengan patologi vaskuler dalam kombinasi dengan demensia Alzheimer (AD). Sedangkan pembagian DVa secara klinis adalah sebagai berikut : 1. DVa pasca stroke Demensia infark strategis yaitu lesi di girus angularis, thalamus, basal forebrain, teritori arteri serebri posterior, dan arteri serebri anterior.Multiple Infark Dementia5

(MID)Perdarahan intraserebral

7

2. DVa subkortikalLesi iskemik substansia albaInfark lakuner subkortikalInfark non-lakuner subkortikal 5. Patofisiologi Demensia Vaskuler. Resiko menjadi demensia meningkat setelah stroke. Sebagai contoh, Tatemichi dkk menemukan kejadian stroke sumbatan meningkatkan risiko demensia setidaknya 9 x lebih tinggi dibandingkan lansia tanpa ada penyakit

serebrovaskular. Tetaoi tidak semua pasien stroke menjadi demensia. Cumming memperkirakan 25-50% pasien stroke akan berkembang demensia. Pada umumnya setelah stroke, pasien menderita gangguan kognitif dan fungsi aktivitas sehari-hari yang menurun dibandingkan sebelum sakit. Gangguan ini

disebabkan efek dari lesi pada otak yang mengenai bagian korteks atau subkorteks. Setelah fase akut stroke biasanya gangguan ini akan berkurang setelah 3-6 bulan. Tatemichi secara garis besar menjelaskan mekanisme demensia yang berhubungan dengan stroke, termasuk lokasi lesi di otak, luas lesi, penyebab lesi di otak tersebut. Peneliti lain telah menjelaskan faktor predisposisi pada demensia vaskuler yaitu atherosklerosis, hipertensi, penyakit jantung, dan diabetes.

8

Tatemichi

menemukan

bahwa

demensia

lebih

berhubungan atau sering terjadi pada sumbatan di sisi hemisfer kiri dibandingkan sisi kanan atau pada daerah batang otak-serebelum, disertai juga dengan afasia. Pada lesi stroke hemisfer kiri, demensia terjadi pada sumbatan di sistem limbik. Lokasi pembuluh darah yang terkena yang menyebabkan demensia biasanya pada arteri serebri

posterior dan anterior sisi kiri. Lokasi lesi lebih berperan menjadi stroke dibandingkan luas sisi otak yang terkena. Loeb dkk menemukan tidak terdapat hubungan antara luas otak yang terkena dengan kejadian demensia, kecuali pada pasien dengan lesi seluas satu sisi hemisfer atau kedua hemisfer korteks atau subkorteks. Atrofi otak juga berkaitan dengan demensia. Sumbatan kecil namun dengan jumlah yang banyak dapat menyebabkan demensia dalam jangka waktu tertentu (multi infarct dementia). Sumbatan yang banyak ini dapat menimbulkan efek: a) efek adiktif, b) efek yang bertambah banyak atau c) efek sesuai dengan lokasi lesi yaitu pada penyakit Binswanger. Terdapat lesi di otak bagian subkorteks yang menimbulkan gejala demensia yang semakin memberat yaitu pada basal ganglia, white matter, lobus frontal. Mekanisme patofisiologi dimana patologi vaskuler menyebabkan kerusakan kognisi masih belum jelas. Hal ini

9

dapat dijelaskan bahwa dalam kenyataannya beberapa patologi vaskuler6

yang

berbeda

dapat

menyebabkan

kerusakan kognisi, termasuk trombosis otak, emboli jantung, dan perdarahan . 1. Infark Multiple6

Dementia multi infark merupakan akibat dari infark multiple dan bilateral. Terdapat riwayat satu atau beberapa kali serangan stroke dengan gejala fokal seperti hemiparesis, hemiplegi, afasia, hemianopsia. Pseudobulbar palsy sering disertai disarthia, gangguan berjalan (sleep step gait). Forced laughing/crying, refleks babinski dan inkontinensia. CT scan otak menunjukan hipodens bilateral disertai atrifi kortikal kadang disertai dilatasi ventrikel. 2. Infark Lakuner6

Lakunar adalah infark kecil, diameter 2-15 mm yang disebabkan kelainan pada small penetrating arteries di daerah diencephalon, batang otak dan subkortikal akibat dari hipertensi. Pada 1/3 kasus, infark lakunar bersifat

asimptomatik. Apabila menimbulkan gejala, dapat terjadi gangguan sensoris, TIA, hemiparesis atau ataxia. Bila jumlah lakunar bertambah maka akan timbul sindrom demensia, sering disertai pseudobulbal palsy. Pada derajat yang berat

10

terjadi

lacunar

state.

CT

scan

kepala

menunjukan

hipodensitas multiple dengan ukuran kecil, dapat juga tidak tampak pada CT scan karena ukurannya yang kecil atau terletak di batang otak. MRI kepala akurat untuk menunjukan adanya lakunar terutama di batang otak, terutama pons. 3. Infark Tunggal6

Strategic single infarc dementia merupakan akibat lesi iskemik pada daerah kortikal atau subkortikal yang mempunyai fungsi penting. Infark girus angularis

menimbulkan gejala sensorik, aleksia, agrafia, gangguan memori, disorientasi spasial dan gangguan konstruksi. Infark id daerah distribusi arteri serebri posterior menimbulkan gejala anmnesia disertai agitatasi, halusinansi visual,

gangguan visual dan kebingungan. Infark daerah distribusi arteri arteri serebri anterior menimbulkan abulia, afasia motorik dan apraksia. Infark lobus parietalis menimbulkan gangguan kognitif dan tingkah laku yang disebabkan gangguan persepsi spasual. Infark pada daerah distribusi arteri paramedian thalamus mengkasilkan thalamic dementia. 4. Sindroma Binswanger6

Gambaran klinis sindrom Binswanger menunjukan demensia progresif dengan riwayat stroke, hipertensi dan

11

kadang diabetes melitus. Sering disertai gejala pseudobulbar palsy, kelainan piramidal, gangguan berjalan (gait) dan inkontinensia. Terdapat atropi white matter, pembesaran ventrikel dengan korteks serebral yang normal. Faktor resikonya adalah small artery disease (hipertensi, angiopati amiloid), kegagalan autoregulasi aliran darah di otak usia lanjut, hipoperfusi periventrikel karena kegagalan jantung, aritmia dan hipotensi. 5. Angiopati amiloid cerebral6

Terdapat penimbunan amiloid pada tunika media dan adventitia arteriola serebral. Insidennya meningkat denga bertambahnya usia. Kadang terjadi dementia dengan onset mendadak. 6. Hipoperfusi6

Dementia dapat terjadi akibat iskemia otak global karena henti jantung, hipotensi berat, hipoperfusi dengan atau tanpa gejala oklusi karotis, kegagalan autoregulasi arteri serebral, kegagalan fungsi pernafasan. Kondisi tersebut menyebabkan lesi vaskular di otak yang multiple terutama di daerah white matter.

12

6. Kriteria Diagnosis Terdapat beberapa kriteria diagnostik pasien yang yang

melibatkanteskognitifdan8

neurofisiologi

digunakan untuk diagnosis demensia vaskular. Diantaranya adalah :

a. Kriteria

Diagnostic and Statistical

Manual

of

Mental

Disorders, fourth edition, text revision (DSM-IV-TR). Kriteria ini mempunyai sensitivitias yang baik tetapi spesifitas yang rendah. Rumusan dari kriteria diagnostik DSM-IV-TR adalah seperti berikut :5

13

b. ADDTC (State of California Alzheimer Disease Diagnostic and Treatment Centers) dan NINDS-AIREN (National Institute of Neurological Disorders and Stroke and the Association Internationale pour la Recherche at LEnseignement en Neurosciences) yang sekarang dipakai. Radiologic Features Considered Compatible with Vascular Dementis by the INDS-AIREN Criteria

Site A. Large-vessel stroken to the following territories a. Bilateral anterior cerebral artery. b. Posterior cerebral artery. c. Parietotemporal and temporooccipital association areas. d. Superior frontal and parietal watershed territories. B. Small vessel disease: a. Basal ganglia and frontal white matter lacunes. b. Extensive periventricular white matter lesions. c. Severity a. Large vessel lesion of the dominant hemisphere. b. Bilateral large vessel hemispheric strokes. c. Leukoencephalopathy involving at least 25% of total white maner. Bilateral thalamic lesions.

14

d. Skor iskemik Hachinski Riwayat dan gejala Awitan mendadak Deteriorasi bertahap Perjalanan klinis fluktuatif Kebingungan malam hari Kepribadian relatif terganggu Depresi Keluhan somatik Emosi labil Riwayat hipertensi Riwayat penyakit serebrovaskular Arteriosklerosis penyerta 13 Keluhan neurologi fokal Gejala neurologis fokal Skor 2 1 2 1 1 1 1 1 1 2 1 2 2

Skor ini berguna untuk membedakan demensia alzheimer dengan demensia vaskular. Bila skor 7 : demensia vaskular. Skor