Home >Documents >Das Peusangan

Das Peusangan

Date post:18-Jul-2015
Category:
View:400 times
Download:12 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN

Daerah Aliran Sungai (DAS) Krueng Peusangan merupakan DAS dalam kategori terdegradasi prioritas utama menurut data Departemen Pekerjaan Umum dan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Aceh. DAS Krueng Peusangan merupakan DAS utama di provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan luas 238,550 ha. DAS Krueng Peusangan merupakan DAS yang melintasi empat kabupaten, daerah hulu di Aceh Tengah, daerah tengah di Bener Meriah dan daerah hilir di Bireun dan Aceh Utara. Masyarakat di luar DAS Krueng Peusangan termasuk perusahaan-perusahaan di Lhokseumawe juga merupakan pemangku kepentingan selaku pemanfaat sungai Peusangan. Degradasi hutan yang terjadi di DAS Krueng Peusangan sebagian besar disebabkan oleh aktivitas penebangan kayu dan kebakaran hutan. Setelah bencana tsunami melanda propinsi Aceh di akhir 2004, aktivitas penebangan kayu meningkat secara drastis. Kebakaran hutan sering terjadi selama musim kemarau terutama hutan pinus yang mudah terbakar (terletak di sepanjang danau Laut Tawar). Banjir, abrasi tepian sungai yang terjadi selama musim hujan, turunnya debit sungai selama musim kering dan turunnya volume danau merupakan permasalahan yang muncul akibat degradasi hutan.

Dalam dokumen kebijakan, DAS Krueng Peusangan merupakan DAS dalam kategori terdegradasi prioritas utama menurut Departemen Pekerjaan Umum dan Dinas Sumber Daya Air Provinsi Aceh. Dengan kata lain, DAS Krueng Peusangan telah mengalami degradasi yang parah dan membutuhkan prioritas tinggi untuk memperbaiki kondisinya. Pemerintah provinsi Aceh mengembangkan rencana strategis (RenStra) pengelolaan DAS Krueng Peusangan secara terpadu dan berkelanjutan untuk mencegah degradasi lebih lanjut. Terkait dengan pengembangan

1

rencana tersebut, WWF bekerjasama dengan World Agroforestry Centre (ICRAF) SEA regional program untuk melakukan kajian hidrologi secara menyeluruh berdasarkan perspektif berbagai pemangku kepentingan menggunakan metode Kaji Cepat Hidrologi/Rapid HydologicalAppraisal (RHA) (Jeanes et al., 2006). Pemangku kepentingan yang berbeda dapat mempunyai perspektif yang berbeda akan fungsi DAS dan memungkinkan adanya kesenjangan untuk tiga macam pengetahuan ekologi tersebut (Gambar 1). Dalam mengkaji fungsi DAS dan hubungan antara hulu hilir, interaksi antar ketiga pengetahuan ekologi tersebut sering kali menggunakan istilah yang berbeda dan memungkinkan dianggap sebagai mitos oleh pemangku kepentingan yang lain (Jeanes, et al. , 2006).

2

BAB II DASAR TEORI

2.1

Definisi Teknik Sungai Teknik sungai atau perlindungan sungai adalah ilmu pengetahuan yang

mempelajari seluruh proses perencanaan teknis, pelaksanaan konstruksi, eksploitasi, dan pemeliharaan untuk seluruh jenis pekerjaan dalam rangka memodifikasi kondisi alamiah sungai untuk memenuhi keperluan masyarakat.

2.2

Pengertian Sungai Sungai adalah jalan aliran air alami yang alirannya menuju ke sungai lain, ke

danau, ke laut atau ke samudera Sungai yang berisi air itu mengalir sesuai dengan sifat air, yaitu dari tempat yang tinggi ke tempat yang lebih rendah. Sungai sebelum mencapai badan air lainnya, terlebih dahulu meresap ke dalam tanah. Air hujan yang turun pun jatuh ke tanah, kemudian mengalir melalui sungai lalu terbawa sampai ke muara sungai. Sungai bermula dari mata air yang mengalir ke beberapa anak sungai. Kemudian, anak-anak sungai itu bergabung membentuk sungai utama. Ujung dari perjalanan sungai tersebut adalah muara sungai. Sungai juga merupakan salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari lingkungan sosial masyarakat Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai memanfaatkan sungai dalam keseharian mereka seperti untuk minum, masak, mencuci pakaian dan perabot rumah tangga, atau yang lebih bermanfaat untuk sistem pengairan sawah.

3

2.3

Jenis Sungai Sungai dipengaruhi oleh kondisi geografis suatu wilayah. Berdasarkan jumlah

airnya sungai dapat dibedakan menjadi: 1. Sungai Permanen, debit airnya relatif tetap sepanjang tahun. Contohnya, Sungai Kapuas dan Barito di Kalimantan, Sungai Batanghari, Sungai Musi, dan Idragiri di Sumatera 2. Sungai Periodik, sungai yang pada saat musim hujan debitnya airnya banyak. Sedangkan pada musim kemarau debit airnya sedikit. Contohnya, Sungai Opak di Jawa Tengah, Sungai Bengawan Solo, Sungai Code dan Sungai Progo di DIY Yogyakarta, dan Sungai Brantas di Jawa Timur. 3. Sungai Episodik, sungai yang pada musim hujan airnya banyak dan kering pada musim kemarau. Contohnya, Sungai Kalada di Pulau Sumba. 4. Sungai Ephemeral, sungai yang ada airnya hanya pada saat musim hujan. Sungai ini hampir sama dengan sungai episodik, namun pada saat musim hujan debit airnya belum tentu banyak.

Berdasarkan arah alirannya, sungai dibedakan menjadi: 1. Sungai Konsekuen, sungai yang arah alirannya searah dengan miringnya lereng 2. Sungai Subsekuen, sungai yang arah alirannya tegak lurus dengan sungai konsekuen. 3. Sungai Obsekuen, sungai yang arah alirannya berlawanan arah dengan sungai konsekuen. Ini adalah anak Sungai Subsekuen. 4. Sungai Insekuen, sungai yang arah alirannya terikat oleh lereng daratan dan tidak teratur. 5. Sungai Resekwen, sungai yang arah alirannya searah dengan Sungai Konsekuen. Ini adalah anak Sungai Subsekuen.

4

2.4

Pelestarian dan Perlindungan Sumberdaya Air Pelestarian dan perlindungan sumberdaya air untuk menjamin keberlanjutan

tata air dan pada akhirnya juga keberlanjutan pertanian perlu lebih ditingkatkan. Beberapa cara dapat ditempuh seperti misalnya: 1. Pelaksanaan analisa dampak lingkungan bagi proyek-proyek pembangunan atau investasi. Proyek yang secara potensial dapat mengganggu kelestarian sumberdaya air agar secara tegas dilarang atau dihentikan. 2. Penerapan aturan siapa yang melakukan pencemaran dialah yang harus menanggung beban biaya penanggulangan pencemaran tersebut (polluters pay principle ) dan kepada pelakunya juga harus dikenai sanksi sesuai aturan yang berlaku. 3. Pengendalian pencemaran atas mutu sumberdaya air dengan cara antara lain: a. b. pengolahan air tercemar pada badan-badan air seperti sungai dan danau; pengolahan air limbah pada sumber-sumber tercemar seperti pabrik dan pemukiman; dan c. 4. pengembangan teknologi pengendalian pencemaran

Penerapan teknologi irigasi air limbah. Irigasi air limbah adalah suatu metode pengolahan air limbah yang dapat dimanfaatkan untuk usaha pertanian. Teknologi ini telah berkembang pesat di beberapa negara seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Israel dan bahkan India (Asmanto, 1993).

5.

Rehabilitasi kerusakan daerah hulu sungai (daerah tangkapan). Kerusakan daerah hulu sangat fatal karena dapat mengakibatkan banjir. Adanya erosi karena penggundulan hutan di daerah hulu berakibat pengendapan lumpur pada waduk dan bangunan irigasi. Rehabilitasi kerusakan daerah tangkapan dapat dilakukan antara lain melalui penghijauan dan reboisasi.

5

2.5

Manfaat sungai terhadap kehidupan manusia 1. Suplai air Sungai adalah sumber air yang paling utama untuk memenuhi kebutuhan manusia antara lain ; untuk air minum , industri, air irigasi.

2. Pembangkit tenaga air Untuk dapat mebangkitkan tenaga, pada umumnya diperlukan bendungan agar tersedia terjunan dan aliran yang mantap. Atau dengan menyadap aliran kemudian diterjunkan untuk pembangkit listrik yang berada jauh dari bangunan sadap tadi. Tipe pembangkit tenaga yang lain adalah yang dikombinasikan dengan pompa dan dengan dua reservoir waduk. Waduk utama berfungsi sebagai waduk pada umumnya, sedangkan waduk yang kedua berfingsi untuk menampung beban puncak, yang kemudian dipompa kembali kewaduk utama pada saat diluar beban puncak. Tenaga untuk mengerakkan pompa dipakai tenaga listrik yang diproduksi pada saaat diluar beban puncak tadi. Waduk kedua yang berada dibawah waduk utama selain berfungsi untuk penampung sementara, juga berfungsi sebagai reregulating dam, sehingga debit mengalir pada sungai dihilir bendungan menjadi relatif konstan.

3. Pengendalian banjir Untuk mengatasi masalah banjir yang terjadi akibat timbulnya limpasan air dari luar sungai, pada umumnya diperlukan prasarana pengendali banjir dengan membuat bangunan bangunan fisik atau kegiatan pengaturan atau perbaikan alur, dalam rangka mengurangi besarnya kerugian atau bencana yang ditimbulkan oleh banjir. Kegiatan kegiatan itu merupakan gabungan beberapa kegiatan dan bisa berupa kegiatan satu jenis. Berbagai kegiatan penanganan sungai untuk mengendalikan banjir adalah:

6

Pengaturan alur sungai Pembuatan tanggul banjir Pembuatan tanggul kanal Pembangunan bendungan atau waduk penampang sementara Pengaturan dan perbaikan daerah huku sungai

4. Navigasi Sungai dapat berfungsi sebagai sarana trensportasi yang relatif murah dibanding dengan cara cara pengangkutan yang lainnya. Beberapa kegiatan yang kemungkinan diperlukan untuk memperbaiki kondisi alamiah sungai agar dapat dimanfaatkan sebagai prasarana transportasi dengan aman dan meningkat antara lain :

Normalisasi alur sungai Penstabilan dan pengaturan alur sungai Penggalian sudetan Penyempitan alur sungai agar diperoleh kedalaman yang diinginkan Pembuatan bangunan pelengkap

5. Melaksanakan pembuatan bangunan bangunan lain yang berkaitan dengan sungai dan sekelilingnya. Berbagai manfaat itu antara lain:

Pembuatan bangunan- bangunan silang , misalnya: jalan raya, jembatan kereta api, sipon talang air.

Sungai sebagai prasarana drainasi atau pematusan bagi daerah sekitarnya yang dapat berupa daerah pertanian atau irigasi, pemukiman, dsb. Sebagai prasarana drainasi induk sungai sangat besar peranannya juga dalam pengendalian pencemaran. Efektifitas sungai sebagai prasarana drainasi sangat dipengaruhi oleh besarnya peredaan elevasi dataran yang dilayani dan elevasi dasar sungainya. 7

Sungai bermanfaat pula dalam program pengendalian eros

Embed Size (px)
Recommended