Home >Education >Daniel rosyid on rectorship platform

Daniel rosyid on rectorship platform

Date post:23-Jun-2015
Category:
View:703 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • Hal

    aman

    1

  • Hal

    aman

    2

    Ada empat alasan pokok mengapa saya mencalonkan diri menjadi Carek ITS periode 2011-2015.

    Pertama, model bisnis PTN bahkan yang pernah/masih berstatus BHMN-, termasuk ITS,

    saat ini sudah ketinggalan zaman. PTN saat ini, di tengah-tengah pendanaan APBN yang

    terbatas, telah menjadi semakin tidak terjangkau bagi kalangan menengah ke bawah.

    Untuk meningkatkan pendapatan, PTN menyiasatinya dengan manaikkan jumlah

    mahasiswa dan membuka berbagai macam jalur

    penerimaan mahasiswa, serta menaikkan SPP yang

    sepenuhnya dipikul oleh orangtua mahasiswa. Sekalipun

    tersedia banyak beasiswa, tetap saja jumlahnya terbatas,

    sementara biaya operasional yang layak untuk menjadi

    world-class university masih tidak terjangkau.

  • Hal

    aman

    3

    Kedua, pada saat biaya pendidikan tinggi semakin tak terjangkau, ironically lulusan PTN

    ternyata mengidap poor employability dan technopreneurship. Ini ditunjukkan oleh

    angka pengangguran sarjana yang semakin tinggi. Employability yang re ndah ini bukan

    karena kinerja akademik mereka, namun karena keterbelakangan soft-skills mereka,

    termasuk gaya hidup yang tidak sehat. Pendidikan tinggi saat ini terlalu akademik,

    memilih calon mahasiswa d engan kinerja akademik sesaat yang tinggi namun dengan

    profil kepribadian yang terbelakang, dan gagal mengembangkan soft-skills (termasuk

    kompetensi berbahasa asing) dan karakter. Alih-alih menyediakan solusi, PTN justru

    menjadi bagian dari masalah memberikan sinyal yang

    keliru pada pendidikan dasar dan menengah tentang

    kompetensi apa yang perlu dikuasai- antara lain dengan

    menciptakan sarjana yang tidak kompeten. Ini tidak saja

    menunjukkan return on education investment yang rendah,

    namun sekaligus merugikan mahasiswa sebagai konsumen.

  • Hal

    aman

    4

    Ketiga, tata kelola universitas (university governance) di PTN, termasuk ITS, tidak

    efektif mengundang partisipasi yang lebih committed oleh civitas akademikanya.

    Pola kerja yang dikembangkan saat ini rawan dengan moral hazards , kurang

    transparan, yang berpotensi merusak integritas pribadi, dan institusi. Pola kerja

    dan fungsi Senat ITS saat ini kurang efe ktif

    membangun kebijakan PTN yang inovatif. Peran

    karyawan dan mahasiswa kurang

    terakomodasikan dalam proses-proses

    pengambilan kebijakan. Inovasi sebagai penciri

    utama lembaga pendidikan tinggi- sepantasnya

    dimulai dari inovasi kebijakan PTN.

  • Hal

    aman

    5

    Keempat, arsitektur pendidikan tinggi Indonesia warisan Belanda hingga saat ini tidak

    sejalan dengan fitrah Indonesia sebagai negara kepulauan yang hanya bisa berjaya jika

    menjadi negara maritim. Infrastruktur kompetensi yang mendukung penguasaan IPTEK

    kepulauan dan kemaritiman masih terbelakang. Tidak ada perguruan tinggi negeri yang

    secara jelas menjadika n maritim sebagai visinya. Peran Indonesia dalam pembuatan

    regulasi internasional di bidang maritim melalui diplomasi di International Maritime

    Organization (IMO) kurang diperhitungkan. Ini tentu patut disayangkan karena

    berpotensi merugikan Indonesia sendiri. Persoalan pembangunan negara kepulauan ini

    dipersempit hanya sekedar persoalan perikanan, padahal prospek ekonomi negata

    kepulauan ini jauh lebih luas dan menantang. Pada tahun 2007 Saya telah

    memberanikan diri untuk mencalonkan diri sebagai calon rektor Universitas Indonesia,

    untuk menagih UI yang menyandang nama Indonesia- agar lebih peduli pada

    pengembangan IPTEK kepulauan. FTK ITS tidak akan pernah mampu memikul

    pengembangan infrastruktur kompetensi yang dibutuhkan bagi negara kepulauan seluas benua Eropa ini.

  • Hal

    aman

    6

  • Hal

    aman

    7

    1. MODEL BISNIS PTN BARU

    Dalam format sebagai Badan Layanan Umum saat ini, ITS dapat memulai model

    bisnis baru dengan ciri-ciri pokok sebagai berikut :

    1. Rekrutmen mahasiswa baru tidak lagi dilakukan hanya secara internal,

    namun juga menyertakan Pemerintah Daerah, Kementrian, dan

    Industri. Pola-pola ikatan dinas akan dikembangkan.

    2. Proses pembelajaran yang terintegrasikan dengan dunia kerja di

    birokrasi, dan industri melalui tugas kuliah, kerja praktek (magang), dan

    tugas akhir.

    3. Pembiayaan pendidikan bersama Pemerintah Daerah, Kementrian, dan

    Industri, serta perbankan (skema student loan scheme). Artinya, biaya

  • Hal

    aman

    8

    pendidikan tidak dipikul seluruhnya oleh mahasiswa atau orangtua mereka.

    4. ITS aktif melakukan penempatan kerja bagi lulusan-lulusannya, dan

    fasilitasi business start-ups bagi para teknoprener muda.

    5. Fokus pendidikan akan bergeser ke pendidikan pascasarjana yang

    berbasis penelitian untuk menghasilkan berbagai ragam Hak Atas

    Kekayaan Intelektual. Sebuah prakarsa Knowledge Management akan

    dikembangkan untuk mengkapitalisasikan khasanah kepakaran civitas

    akademika ITS. Pengembangan perangkat lunak teknik (engineering

    analysis software) secara mandiri oleh civitas akademika akan didukung agar ITS semakin mandiri dalam

    pengadaan p erangkat keras analisis teknik ini.

    6. Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya (PPNS) akan

    didorong agar independen. Sementara itu, Program D3 Sipil di Manyar akan didorong agar menjadi

    menjadi Politeknik Sipil untuk selanjutnya menjadi lembaga yang mandiri.

    7. UPT ITS Press akan diperkuat untuk memfasilitasi penulisan buku karya civitas akademika ITS.

  • Hal

    aman

    9

    Bisnis model baru ini akan mendatangkan beberapa implikasi sebagai berikut:

    Kapasitas pendidikan S1 akan dipertahankan atau bahkan diturunkan,

    sementara kapasitas pendidikan pascasarjana ditingkatkan secara

    signifikan.

    Integrasi vertikal antara pendidikan pascasarjana dan penelitian, serta

    pengembangan akan dilakukan, tidak seperti saat ini. Hubungan antara

    LPPM dan Program Pascasarjana akan semakin disinerjikan. Hibah

    Penelitian Dikti atau Menristek harus melibatkan mahasiswa, terutama

    mahasiswa pascasarjana.

    Tidak akan ada lagi dana SPI, namun SPP akan meningkat, namun tidak

    dibebankan kepada mahasiswa atau orangtua mereka. Dengan demikian,

    kebutuhan dana operasional PTN yang layak dapat dicapai tanpa

    membebani biaya kuliah mahasiswa.

  • Hal

    aman

    1

    0

    2. PENDIDIKAN SOFT-SKILLS DAN KARAKTER

    Karena belajar adalah proses memaknai pengalaman, maka belajar tuntas hanya dapat dilakukan melalui siklus

    Baca-Praktek-Tulis-Presentasi. Belajar tanpa praktek atau pengalaman bukanlah belajar yang sesungguhnya.

    Karena tujuan belajar yang sesungguhnya adalah membangun karakter, maka penguasaan hard-skills harus

    dipandang sebagai sekunder, sementara penguasaan soft-skills justru sebagai primer. Pendidikan karakter tidak

    dapat dilakukan melalui perkuliahan dan penambahan jam kuliah agama dan budi pekerti, namun hanya dapat

    diwujudkan melalui teladan dan praktek karakter oleh mahasiswa, dosen dan karyawan.

  • Hal

    aman

    1

    1

    Untuk membangun karakter dan soft skills mahasiswa, proses pembelajaran dan evaluasinya akan menggunakan

    model portofolio, dengan ukuran kinerja belajar multi-kecerdasan, dan mendorong kegiatan berbasis proyek dan

    berbasis laboratorium/studio/bengkel. Sumberdaya keuangan akan lebih dialokasikan di tingkat Program Studi dan

    laboratorium/studio/bengkel. Ujian Tulis akan dikurangi hingga minimal. UPT Perpustakaan akan diperkuat secara

    signifikan sekaligus dengan mendorong Tugas Baca secara ekstensif. Reading skills and habit yang sehat akan

  • Hal

    aman

    1

    2

    meningkatkan adaptabilitas lulusan ITS. UPT Pusat Bahasa akan diperkuat

    sekaligus untuk mengembangkan alat ukur kemampuan berbahasa yang lebih

    sesuai dengan kebutuhan lulusan ITS.

    Pengalaman selama 10 tahun membina Tim ITS Maritime Challenge menunjukkan

    bahwa belajar melalui makership/craftmanship dalam sebuah kelompok dengan

    membuat sebuah produk teknik berskala kecil, adalah proses belajar karakter

    dan soft skills yang efektif bagi mahasiswa teknik. Pendidikan tinggi teknik tidak cukup hanya melatih

    mahasiswanya dengan ketrampilan menggunakan komputer dan perangkat lunak rekayasa, dan mendesain

    dengan komputer, namun perlu mengetahui bagaimana menggunakan peralatan produksi dalam rangka

    menghasilkan produk-produk teknik yang dibutuhkan pasar. Proses ini akan menumbuhkan etos kerja dan

    kepekaan bisnis, dua hal yang dibutuhkan bagi setiap teknoprener.

  • Hal

    aman

    1

    3 Kegiatan berkesenian dan berolahraga akan semakin memperoleh perhatian dalam proses belajar mahasiswa, dan

    dinilai sebagai bagian penting dalam proses pembelajaran. UPT Fasor akan diperku at (terutama dengan kolam

    renang), dan UPT Seni (lukis, musik, tari dan teater) akan dibangun. Me ningkatkan apresiasi dan kegiatan seni dan

    olah raga akan meningkatkan kapasitas belajar mahasiswa sekaligus membuat mereka lebih sehat.

  • Hal

    aman

    1

    4

    3. GOOD UNIVERSITY GOVERNANCE

    Tata kelola PTN yang lebih baik akan dikembangkan dengan ciri-ciri pokok sebagai berikut :

    1. Investasi ICT yang menjamin proses-proses perencanaan,