Home >Documents >CITA-CITA SENI LUKIS INDONESIA MODERN Buku Cita...  SENI LUKIS INDONESIA KONTEMPORER...

CITA-CITA SENI LUKIS INDONESIA MODERN Buku Cita...  SENI LUKIS INDONESIA KONTEMPORER...

Date post:05-Apr-2019
Category:
View:318 times
Download:15 times
Share this document with a friend
Transcript:

CITA-CITA SENI LUKIS INDONESIA MODERN 1900 1995:

SEBUAH KREASI IDENTITAS KULTURAL NASIONAL

HELENA SPANJAARD

DISERTASI RIJKS UNIVERSITEIT LEIDEN

1998

Buku ini adalah merupakan karya terjemahan dari disertasi untuk

memperoleh gelar doktor dari Dr. Helena Spanjaard di Universitas Leiden

(1998)

Penerjemah:

Drs. Iswahyudi M. Hum

DAFTAR ISI

PENDAHULUAN

- Empat Tahapan

- Orientalisme Belanda dan Nasionalisme Indonesia

- Kedudukan/posisi pengetahuan/ilmu

- Sirkuit Seni Indonesia

- Satu-satunya Titik Awal Penelitian Saya Sendiri

I. SEJARAH AWAL: RADEN SALEH DAN DOKUMENTASI BARAT MENGENAI

BUDAYA TIMUR

RADEN SALEH

- Pameran Kolonial

- Pegawai Pemerintah atau Seorang Seniman

- Pelukis Istana

PARA PELUKIS DAN JURU GAMBAR EROPA YANG MENDOKUMENTASIKAN

HINDIA BELANDA KITA

- Munculnya Arkeologi

- Komisi Reinwardt

- Lembaga Bataviaasch Genootschap

- Gambaran Ideal Barat mengenai Kekunoan Dunia Timur klasik.

- Penduduk Pribumi, Sebuah Obyek Studi yang Menarik

II. SENI MOOI INDIE DAN SENI AVANT-GARDE DI HINDIA BELANDA

(1900-1942).

TIGA KATEGORI SENI LUKIS

- Seni Mooi Indie

- Modernisme

- Seni Tradisional

LINGKUNGAN-LINGKUNGAN SENI

- Pameran dan Pelajaran Menggambar

- Gedung Lingkungan Seni Batavia

- Aktivitas Lingkungan Seni

- Museum

SENI AVANT-GARDE KOLEKSI REGNAULT, 1935-1940

- Museum Pinjam-Pakai

- Cat dan Seni

- Pameran Pinjam-Pakai

LEBIH DARI HANYA SEBUAH GEJALA BARAT DI DUNIA TIMUR?

- Kolonialisme dan Nasionalisme

III. NASIONALISME YANG SEDANG TUMBUH: BARAT ATAU TIMUR

PERGERAKAN NASIONALISTIS

- Pendidikan

- Soekarno dan PNI

POLEMIK BUDAYA

- Pudjangga Baru

- Puisi

- Taman Siswa

- Polarisasi

UPAYA MEMAJUKAN BUDAYA TIMUR

- Java Instituut

- Pendidikan Seni Kerajinan

- Museum Sono-Budoyo

- Bali

- Orientalisme

- Modernitas

IV. PERSAGI DAN PERANAN SUDJOJONO

PENDIRIAN PERSAGI

- Pelukis Sudjojono (1913-1986)

- Pameran tahun 1941

TEORI SENI SUDJOJONO

- Pendidikan Menggambar Barat

- Budaya Jawa

- Basuki Abdullah

PRAKTEK PERSAGI

LAMPIRAN: ARTIKEL SUDJOJONO

- Seni Lukis Indonesia Sekarang dan di Masa Depan

V. SENI UNTUK MENDUKUNG REVOLUSI

PEPERANGAN DAN REVOLUSI

- Periode Pendudukan Jepang, 1942-1945

- Seni Untuk Mendukung Revolusi (1945-1950)

SANGGAR-SANGGAR, SUMBER PERTUKARAN BUDAYA

- Debat Seni Indonesia: Sumardjo versus Sudjojono

- Realisme, Nasionalisme dan Marxisme

VI. KONTROVERSI ANTARA YOGYAKARTA DAN BANDUNG

AKADEMI YOGYAKARTA DAN AKADEMI BANDUNG

- ASRI dan Sebuah Ideal Seni Nasional

- Seni Indonesia di dalam Baju Jas Barat

- Keterasingan

SENI UNTUK MENDUKUNG NASIONALISME

- Seni yang diabdikan untuk Sosial

- Seni Neo-Mooi Indie

- Koleksi Soekarno

KREASI SEBUAH IDENTITAS INDONESIA

- Promosi Seni Nasional: Teori

- Sirkuit Budaya: Praktek

- Dokumentasi

FUNGSI SENI MODERN DI ASIA

- Isolemen

BANDUNG, LABORATORIUM BARAT?

- Ries Mulder

- Kurikulum

- Laboratorium

- Avant-Garde

VII. SENI LUKIS INDONESIA KONTEMPORER (1965-1995): BACK TO THE

ROOTS

BACK TO THE ROOTS

- Indonesianisasi

- Turning West to go East

- Jurang Pemisah antara Seni Tinggi dengan Seni Rendah

- Design dan Tukang

SPEKTRUM SENI KONTEMPORER

- Tiga Generasi

1. Abstrak-Dekoratif

2. Bentuk-Bentuk Realisme

3. Avant-Garde Seni Rupa Baru

IDENTITAS BUDAYA INDONESIA

- Heri Dono : Kepercayaan Terhadap Nilai-Nilai Tradisional

- Budaya Jawa: Seniman Sebagai Medium

- Modernisme dan Post-Modernisme

- Posisi Seni Indonesia Modern

SIRKUIT SENI INDONESIA

- Kritik seni

- Sirkuit nasional

- Sirkuit internasional

- Neo-Kolonialisme

KESIMPULAN

RINGKASAN

- Ringkasan dalam bahasa Indonesia

- Ringkasan dalam bahasa Inggris

- Ringkasan dalam bahasa Belanda

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

GAMBAR-GAMBAR

PENDAHULUAN

Istilah Seni lukis Indonesia di dunia Barat memunculkan berbagai

asosiasi stereotipe tertentu. Terutama di Belanda, Seni lukis Indonesia dengan

cepat dihubungkan dengan seni lukis batik Yogyakarta yang ditujukan untuk

para wisatawan (gambar 86) atau dengan seni lukis populer Bali yang berasal

dari desa Ubud (gambar 87). Selain itu istilah Seni lukis Indonesia

diasosiasikan dengan berbagai hal yang berbalut romantisme dan eksotisme

dari masa kolonial. Dengan ini Hindia Belanda digambarkan dengan

gunung-gunung berapi yang menjulang tinggi dan selalu tertutup kabut,

hamparan sawah-sawah yang menghijau, pohon-pohon kelapa yang

melambai-lambai dan para gadis Bali yang murah senyum (gambar 16, gambar

35).

Dalam hal ini di Indonesia sebenarnya terdapat sebuah bentuk seni lukis

modern yang harus ditempatkan di dalam kader perkembangan internasional di

bidang seni modern. Perkembangan seni lukis Indonesia modern ini terjadi di

dalam konteks intelektual, kekotaan dan tergantung kepada hasil yang dicapai

oleh nasionalisme yang sedang mengalami kebangkitan. Berbeda dengan seni

Indonesia untuk kepentingan pariwisata dan seni kolonial maka bentuk seni

lukis Indonesia modern ini sangat tidak dikenal di dunia Barat.

Penelitian saya pertama-tama ialah bertujuan untuk memperoleh

informasi mengenai hal itu yang sampai sekarang ini masih menjadi sebuah

pokok bahasan yang kurang jelas. Untuk memudahkan maka sejarah seni

Barat melakukan penilaian mengenai seni non-Barat dengan menggunakan

sebuah model hierarkhis dimana dpisahkan antara pusat (Barat) dan periferi

(non-Barat). Kriteria sejarah seni yang diterapkan terhadap hal itu ditetapkan

bersama dengan suatu gambaran dunia yang universal. Gambaran dunia ini

berasal dari sebuah dugaan bahwa secara keseluruhan seni dapat dinilai

berdasarkan sistem norma-norma yang bersifat absolut dan universal. Pada

kenyataannya terbukti bahwa sistem nilai-nilai ini berlandaskan sistem

nilai-nilai Barat sehingga sistem nilai-nilai lainnya yaitu sistem nilai-nilai

non-Barat dipaksa harus menyesuaikannya.

Berdasarkan opsi ini maka seni non-Barat modern seringkali dituding

sebagai plagiat dan epigonisme. Sementara itu seni Timur tradisional yang pada

umumnya dianggap positif masih saja selalu menimbulkan syak wasangka

buruk dari orang-orang Barat apabila berhubungan dengan seni modern

non-Barat.

Tujuan kedua dari penelitian saya terdiri dari model hierarkhis yang

bersifat universal yang juga sering dipergunakan oleh banyak sejarawan seni.

Dalam hal ini saya sama sekali tidak bermaksud untuk melakukan penilaian

terhadap seni lukis modern Indonesia berdasarkan kriteria seni Barat modern.

Saya memusatkan perhatian saya kepada dokumentasi dan analisa terhadap

berbagai aliran terpenting dalam seni lukis Indonesia. Dengan melakukan

seleksi ini saya mencoba untuk memberikan sebuah gambaran penjelasan

secara se-representatif mungkin.

Hal ini tentunya tidak saya hilangkan hanya oleh karena saya seorang

peneliti Barat yang bekerja menurut tradisi keilmuan Barat. Oleh karena itu

sangat dimungkinkan bagi para kritikus seni Indonesia untuk membuat

berbagai pilihan lain dari kriteria yang berbeda. Pada saat ini dunia

internasional sedang sangat membutuhkan sebuah penulisan sejarah yang

baru dimana kriteria seni yang bersifat lokal menggantikan ukuran-ukuran

yang bersifat universal (Barat). Dengan ini maka model sejarah seni tradisional

pusat dan pinggiran akan dapat dibalik.

Pada tahun 1984 sampai dengan tahun 1986 saya tinggal di Bandung dan

selama itu saya sudah berkunjung ke berbagai akademi seni yang berada di

Bandung (Jawa Barat), Jakarta (Jawa Barat) dan Yogyakarta (Jawa Tengah).

Pada awalnya pada saat saya melakukan penelitian lapangan, saya mengikuti

berbagai metode sejarah seni yang sudah lazim dipergunakan untuk melakukan

pengumpulan sumber-sumber data. Saya membuat dokumentasi rekaman

video terhadap seniman secara perorangan satu persatu dan mencoba untuk

memilah-milah bahan-bahan tersebut sesuai dengan gaya, isi dan tempat.

Selama saya melakukan berbagai pembicaraan dengan para seniman Indonesia

seringkali menghadapi permasalahan mengenai interpretasi terhadap

hasil-hasil karya. Saya menjadi sadar akan sebuah kenyataan bahwa saya

sebagai seorang peneliti Barat melihat seni Indonesia modern dari sudut

pandang referensi Barat. Akan tetapi bagaimakah pendapat orang-orang

Indonesia sendiri mengenai seni modern mereka?. Berdasarkan nilai-nilai dan

norma-norma yang manakah seni itu dianggap bernilai tinggi atau sebaliknya?.

Dari bahan-bahan sumber ya

of 384

Embed Size (px)
Recommended