Case Bedah

Date post:20-Nov-2015
Category:
View:12 times
Download:5 times
Share this document with a friend
Description:
BEDAH
Transcript:

BAB IILAPORAN KASUS

2.1 IdentifikasiNama: Tn. COUsia: 73 tahunJenis Kelamin: Laki-lakiPekerjaan : PetaniKebangsaan: IndonesiaAgama: IslamStatus: MenikahAlamat: PedamaranMRS: 29 Oktober 2014Nomor Rekam Medis: 8440800

2.2 AnamnesisKeluhan Utama:Nyeri perut kanan atas

Riwayat Perjalanan Penyakit:Kurang lebih 1 tahun sebelum masuk rumah sakit os mengeluh nyeri pada perut sebelah kanan atas dan pinggang, nyeri perut bersifat hilang timbul dan berlangsung 15 menit sampai 1 jam dan terasa tajam. Nyeri perut timbul terutama setelah penderita makan makanan berlemak. Penderita juga mengeluh nyeri pada bahu sebelah kanan, mual (+), muntah (-), demam (-), riwayat kuning (-). Os juga mengeluh nyeri kepala. BAK normal, frekuensi 3-4 kali/hari, warna kuning muda, darah (-), nyeri saat BAK (-), BAK berpasir (-). BAB normal, frekuensi 1 kali sehari, konsistensi lunak, warna cokelat, darah (-), lendir (-).Riwayat merokok 20 tahun (+).Pada tanggal 30 Agustus 2014 penderita berobat ke dokter kemudian dilakukan USG dengan hasil terdapat batu pada kandung empedu berukuran 3.71cm. Os dibawa ke RSMH untuk dioperasi

Riwayat Penyakit Dahulu:Riwayat penyakit dengan keluhan yang sama disangkalRiwayat sakit maag disangkalRiwayat sakit kuning disangkalRiwayat pernah mengalami trauma pada perut kanan atas disangkalRiwayat hipertensi disangkal

Riwayat Penyakit Keluarga:Sepupu pernah didiagnosis dengan penyakit yang sama

2.3 Pemeriksaan FisikStatus Generalis (30 September 2014)Keadaan umum: tampak sakit sedangKesadaran: E4M6V5Gizi: cukupPernapasan: 22x/menitNadi: 92x/menitTekanan darah:120/80 mmHgSuhu: 37,1O CKepala: Konjungtiva palpebra pucat -/-, sklera ikterik -/-Pupil: Isokor, refleks cahaya +/+Leher: tidak ada kelainanKelenjar-kelenjar: tidak ada pembesaranToraks: tidak ada kelainanAbdomen: lihat status lokalisGenitalia eksterna: tidak ada kelainanEkstremitas superior: tidak ada kelainanEkstermitas inferior: tidak ada kelainanStatus lokalisRegio AbdomenInspeksi : simetris, datar, tidak ada benjolan. Palpasi : lemas, nyeri tekan di perut kanan atas, Murphy sign (-), hepar dan lien tidak teraba, tidak teraba massa pada ke empat kuadran abdomen.Perkusi : timpani di seluruh kuadran abdomenAuskultasi : bising usus (+) normal, 6 x/menit

Pemeriksaan USG (30 Agustus 2014)Hepar: ukuran besar dan bentuk masih normal, permukaan masih licin, tepi tajam, parenkim homogen lunak, v. porta/v. hepatica normal, tidak tampak pelebaran saluran bilier intra/ekstra hepater.Gall blader: batu (+) dengan ukuran 3,71 cm, Batu multiple (kecil-kecil bersatu)Ginjal kanan & kiri: ukuran normal, batas korteks medula jelas, pelebaran kaliks (-), batu (-)Lien: ukuran normal, parenkim normalPankreas: normalVesica Urinaria : tidak membesar, dinding tidak menebal tidak Nampak batu/massaKesan: cholecistolithiasis multiple di gall bladder ukuran 3,71cm

2.4 Diagnosis Banding1. Kolelitiasis2. Kolesistitis3. Kolangitis 4. Ulkus petikum

2.5 Diagnosis Kerja Kolelitiasis

2.6 Penatalaksanaan Edukasi Informed consent Analgetik Diet rendah lemak Kolesistektomi

2.7 PrognosisQuo ad vitam: bonamQuo ad functionam: bonam

BAB IIITINJAUAN PUSTAKA

3.1 AnatomiVesica billiaris (kandung empedu) adalah sebuah kantong berbentuk buah pir yang terletak pada permukaan bawah (fascies viceralis) hepar. Vesica billiaris mempunyai kemampuan menampung empedu sebanyak 30-50 ml dan menyimpannya, serta memekatkan empedu dengan cara mengabsorbsi air. Vesica billiaris dibagi menjadi fundus, corpus, dan collum. Fundus vesica billiaris berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah margo inferior hepar, penonjolan ini merupakan tempat fundus bersentuhan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung cartilago costalis IX dextra. Corpus vesica billiaris terletak dan berhubungan dengan facies visceralis hepar dan arahnya ke atas, belakang, dan kiri. Collum vesica biliaris melanjutkan diri sebagai duktus sistikus yang berbelok dalam omentum minus dan bergabung dengan sisi kanan ductus hepaticus communis untuk membentuk ductus choledochus. Peritoneum meliputi seluruh bagian fundus vesica biliaris dan menghubungkan corpus dan collum vesica biliaris dengan facies visceralis hepar. HubunganKe anterior: dinding abdomen dan facies visceralis heparKe posterior : colon transversum serta pars superior dan descendens duodenum. PerdarahanArteriae arteria cystica, cabang arteria hepatica dextraVenae vena cystica mengalirkan darah langsung ke vena porta. Sejumlah arteria dan venae kecil juga berjalann diantara hepar an vesica biliaris.

Aliran limfeCairan limfe mengalir ke nodus cysticus yang terletak dekat collum vesica biliaris. Dari sini, pembuluh limf berjalan ke nodi hepatici dengan berjalan sepanjang perjalanan arteria hepatica communis dan kemudian ke nodi coelici. Persarafan Saraf simpatis dan parasimpatis membentuk plexus coeliacus. Vesica biliaris berkontraksi sebagai respon terhadap hormon kolesistokinin yang dihasilkan oleh tunica mucosa duodenum karena masuknya makanan berlemak dari gaster.

Gambar 1: Anatomi Kandung EmpeduSumber : Moore, K. L. and A. F. Dalley. 2006. Clinically Oriented Anatomy, 5th Ed.Lippincott, Williams & Wilkins, Baltimore.3.2 FisiologiVesica biliaris berfungsi sebagai tempat penyimpanan empedu. Vesica biliaris mempunyai kemampuan untuk memekatkan empedu, dan untuk membantu proses ini, mukosavesica biliaris mempunyai lipatan-lipatan permanen yang saling berhubungan sehingga permukaannya tampak seperti sarang tawon. Sel-sel toraks yang terletak pada permukan mukosa mempunyai banyak vili. Empedu diproduksi oleh sel hepatosit sebanyak 500-1500 ml per hari. Di luar waktu makan, empedu disimpan untuk sementara di dalam kandung empedu, dan disini mengalami pemekatan sekitar 50%.Pengaliran cairan empedu diatur oleh tiga faktor, yaitu sekresi empedu oleh hati, kontraksi kandung empedu, dan tahanan sfingter koledokus. Dalam keadaan puasa, empedu yang dihasilkan akan dialih-alirkan ke dalam kandung empedu. Setelah makan, kandung empedu berkontraksi, sfingter relaksasi, dan empedu mengalir kedalam duodenum. Aliran tersebut sewaktu-waktu seperti disemprotkan karena secara intermiten tekanan saluran empedu akan lebih tinggi daripada tahanan sfingter. Empedu dialirkan ke duodenum sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial vesica biliaris. Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak ke dalam duodenum. Lemak menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari tunica mucosa duodenum. Lalu hormon masuk ke dalam darah dan menimbulkan kontraksi vesica biliaris. Pada saat yang bersamaan, otot polos yang terletak apda ujung distal ductus choledocus dan ampula relaksasi, sehingga memungkinkan masuknya empedu yang pekat ke dalam duodenum. Garam-garam empedu di dalam cairan empedu penting untuk mengemulsikan lemak di dalam usus serta membantu pencernaan dan absorbsi lemak. Garam empedu, lesitin, dan kolesterol merupakan komponen terbesar (90%) cairan empedu. Sisanya adalah bilirubin, asam lemak, dan garam anorganik.Garam empedu adalah molekul steroid yang dibuat oleh hepatosit dan berasal dari kolesterol. Pengaturan produksinya dipengaruhi mekanisme umpan balik yang dapat ditingkatkan sampai 20 kali produksi normal kalau diperlukan.

3.3 Kolelitiasis 3.3.1 DefinisiKolelitiasis dimaksudkan untuk penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu. Sebagian besar batu empedu terutama batu kolesterol terbentuk di dalam kandung empedu (kolesistolitiasis). Kalau batu kandung empedu ini berpindah ke dalam saluran empedu sekunder atau koledokolitiasis sekunder. Kebanyakan batu duktus koledokus berasal dari batu kandung empedu, tetapi ada juga yang terbentuk primer di dalam saluran empedu ekstrahepatik maupun intrahepatik. Batu primer saluran empedu, harus memenuhi kriteria sebagai berikut: Ada Massa asimptomatik setelah kolesistektomi, morfologik cocok dengan batu empedu primer, tidak ada striktur pada duktus koledokus atau tidak ada sisa duktus sistikus yang panjang. Khusus untuk orang Asia, dapat ditemukan sisa cacing askaris atau cacing jenis lain di dalam batu tersebut. Morfologik batu primer saluran empedu antara lain bentuknya ovoid, lunak, rapuh, seperti lumpur atau tanah, dan warna coklat muda sampai coklat gelap. 3.3.2 KlasifikasiMenurut gambaran makroskopis dan komposisi kimianya, batu empedu di golongkan atas 3 (tiga) golongan, yaitu:a) Batu kolesterolBerbentuk oval, multifokal ataumulberrydan mengandung lebih dari 70% kolesterol.b) Batu kalsium bilirubinan (pigmen coklat)Berwarna coklat atau coklat tua, lunak, mudah dihancurkan dan mengandung kalsium-bilirubinat sebagai komponen utama.c) Batu pigmen hitamBerwarna hitam atau hitam kecoklatan, tidak berbentuk, seperti bubuk dan kaya akan sisa zat hitam yang tak terekstraksi.

3.3.3 EpidemiologiInsiden kolelitiasis di negara barat adalah 20% dan banyak menyerang orang dewasa dan usia lanjut. Angka kejadian di Indonesia di duga tidak berbeda jauh dengan angka di negara lain di Asia Tenggara dan sejak tahu 1980-an agaknya berkaitan erat dengan cara diagnosis dengan ultrasonografi.

3.3.4 Etiologi/Faktor ResikoKolelitiasis dapat terjadi dengan atau tanpa faktor resiko dibawah ini. Namun, semakin banyak faktor resiko yang dimiliki seseorang, semakin besar kemungkinan untuk terjadinya kolelitiasis. Faktor resiko tersebut antara lain:a. Jenis KelaminWanita mempunyai resiko 3 kali lipat untuk terkena kolelitiasis dibandingkan dengan pria. Ini dikarenakan oleh hormon esterogen berpengaruh terhadap peningkatan eskresi kolesterol oleh kandung empedu. Kehamilan, yang menigkatkan kadar esterogen juga meningkatkan resiko terkena kolelitiasis. Penggunaan pil kontrasepsi dan terapi hormon (esterogen) dapat meningkatkan kolesterol dalam kandung empedu dan penurunan aktivitas pengosongan kandung empedu.b. UsiaResiko untuk terkena kolelitiasis meningkat sejalan dengan bertambahnya u

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended