Home >Documents >BUPATI BANTUL - jdih. 1 2015 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL No.19,2015 Dinas Perhubungan Kabupaten

BUPATI BANTUL - jdih. 1 2015 LEMBARAN DAERAH KABUPATEN BANTUL No.19,2015 Dinas Perhubungan Kabupaten

Date post:09-Mar-2019
Category:
View:214 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

1 2015

LEMBARAN DAERAH

KABUPATEN BANTUL No.19,2015

Dinas Perhubungan Kabupaten Bantul.

Jaringan, lalu lintas, angkutan, jalan.

BUPATI BANTUL

DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

PERATURAN DAERAH KABUPATEN BANTUL

NOMOR 19 TAHUN 2015

TENTANG

JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

BUPATI BANTUL,

Menimbang : a. bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan mempunyai peran strategis dalam mendukung pembangunan daerah sebagai bagian dari upaya memajukan kesejahteraan masyarakat

dan penyelenggaraan pemerintahan untuk memantapkan otonomi daerah yang luas, nyata dan bertanggung jawab;

b. bahwa Lalu Lintas dan Angkutan Jalan sebagai bagian

dari sistem transportasi harus dikembangkan potensi

dan perannya untuk mewujudkan keamanan, keselamatan, ketertiban, dan kelancaran berlalu lintas dan angkutan jalan

untuk mendukung pembangunan ekonomi dan pengembangan dalam rangka meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, kemandirian daerah berdasarkan

prinsip demokrasi, pemerataan dan keadilan, peran serta masyarakat, dan akuntabilitas dengan memperhatikan potensi daerah;

2 2015

c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Daerah tentang Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

Mengingat : 1. Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik

Indonesia Tahun 1945;

2. Undang-Undang Nomor 15 Tahun 1950 tentang Pembentukan

Daerah-Daerah Kabupaten Dalam Lingkungan Daerah

Istimewa Jogjakarta (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 1950 Nomor 44);

3. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan

Daerah sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir

dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun

2014 tentang Pemerintahan Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 58, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5679);

Dengan Persetujuan Bersama

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN BANTUL

dan BUPATI BANTUL

MEMUTUSKAN :

Menetapkan: PERATURAN DAERAH TENTANG JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN.

BAB I KETENTUAN UMUM

Pasal 1

Dalam Peraturan Daerah ini yang dimaksud dengan: 1. Daerah adalah Kabupaten Bantul. 2. Pemerintah Daerah adalah Bupati sebagai unsur penyelenggara

Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

3. Gubernur adalah Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta.

4. Bupati adalah Bupati Bantul.

3 2015

5. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah yang selanjutnya disebut DPRD adalah lembaga perwakilan rakyat daerah yang berkedudukan sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Daerah.

6. Dinas adalah Satuan Kerja Perangkat Daerah Kabupaten Bantul yang membidangi urusan Jalan dan urusan sarana dan prasarana Lalu Lintas

dan Angkutan Jalan. 7. Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah satu kesatuan sistem yang terdiri

dari Lalu Lintas, Angkutan Jalan, Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan

Jalan, Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, Kendaraan, Pengemudi, Pengguna Jalan serta pengelolaannya.

8. Lalu Lintas adalah gerak Kendaraan dan orang di Ruang Lalu Lintas Jalan.

9. Angkutan adalah perpindahan orang dan/atau barang dari satu tempat ke tempat lain dengan menggunakan Kendaraan di Ruang Lalu

Lintas Jalan. 10. Jalan adalah seluruh bagian Jalan, termasuk bangunan pelengkap dan

perlengkapannya yang diperuntukkan bagi Lalu Lintas umum, yang berada

pada permukaan tanah, di atas permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas permukaan air, kecuali jalan rel dan jalan

kabel. 11. Prasarana Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah Ruang Lalu Lintas,

Terminal, dan perlengkapan jalan yang meliputi Marka, Rambu, Alat

Pemberi Isyarat Lalu Lintas, alat pengendali dan pengaman Pengguna Jalan, alat pengawasan dan pengamanan Jalan serta fasilitas pendukung.

12. Ruang Lalu Lintas Jalan adalah prasarana yang diperuntukkan bagi gerak pindah kendaraan, orang, dan/atau barang yang berupa Jalan

dan fasilitas pendukung. 13. Terminal adalah pangkalan Kendaraan Bermotor Umum yang digunakan

untuk mengatur kedatangan dan keberangkatan, menaikkan dan

menurunkan orang dan/atau barang, serta perpindahan moda angkutan. 14. Marka Jalan adalah suatu tanda yang berada di permukaan Jalan

atau di atas permukaan Jalan yang meliputi peralatan atau tanda yang membentuk garis membujur, garis melintang, garis serong, serta lambang yang berfungsi untuk mengarahkan arus Lalu Lintas dan

membatasi daerah kepentingan Lalu Lintas. 15. Rambu Lalu Lintas adalah bagian perlengkapan Jalan yang berupa

lambang, huruf, angka, kalimat, dan/atau perpaduan yang berfungsi

sebagai peringatan, larangan, perintah, atau petunjuk bagi Pengguna Jalan.

16. Alat Pemberi Isyarat Lalu Lintas adalah perangkat elektronik yang menggunakan isyarat lampu yang dapat dilengkapi dengan isyarat bunyi untuk mengatur Lalu Lintas orang dan/atau kendaraan di

persimpangan atau pada ruas Jalan. 17. Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan adalah serangkaian Simpul

dan/atau ruang kegiatan yang saling terhubungkan untuk

penyelenggaraan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

4 2015

18. Simpul adalah tempat yang diperuntukkan bagi pergantian antarmoda dan intermoda yang berupa Terminal, stasiun kereta api, pelabuhan

sungai dan danau. 19. Halte adalah tempat pemberhentian Kendaraan Bermotor Umum untuk

menaikkan dan menurunkan penumpang.

20. Sepeda Motor adalah Kendaraan Bermotor beroda dua dengan atau tanpa rumah-rumah dan dengan atau tanpa kereta samping atau

Kendaraan Bermotor beroda tiga tanpa rumah-rumah. 21. Pejalan Kaki adalah setiap orang yang berjalan di Ruang Lalu Lintas Jalan. 22. Pengguna Jalan adalah orang yang menggunakan Jalan untuk berlalu

lintas. 23. Badan adalah sekumpulan orang/dan atau modal yang merupakan

kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan

usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, perseroan lainnya, dengan nama dan dalam bentuk apapun, firma, kongsi, koperasi,

dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

24. Parkir adalah keadaan Kendaraan berhenti atau tidak bergerak untuk beberapa saat dan ditinggalkan pengemudinya.

25. Fasilitas parkir adalah lokasi yang ditentukan sebagai tempat pemberhentian kendaraan yang tidak bersifat sementara untuk melakukan kegiatan pada suatu kurun waktu.

26. Fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan (On Street Parking) adalah fasilitas untuk parkir kendaraan dengan menggunakan sebagian badan

jalan kabupaten dan jalan desa. 27. Fasilitas parkir di luar ruang milik jalan (Off Street Parking) adalah fasilitas

parkir kendaraan yang dibuat khusus yang dapat berupa taman parkir dan

atau gedung parkir yang selanjutnya di sebut fasilitas parkir untuk umum. 28. Satuan Ruang Parkir yang selanjutnya disingkat SRP adalah ukuran luas

efektif untuk meletakkan kendaraan (mobil penumpang, bus/truk, atau sepeda motor), termasuk ruang bebas dan lebar buka pintu.

29. Petugas parkir adalah orang yang dipekerjakan oleh penyelenggara tempat

parkir sebagai tukang parkir pada tempat khusus parkir. 30. Juru Parkir adalah orang yang ditugaskan pada tempat parkir di tepi jalan

umum.

31. Penyidik adalah pejabat Kepolisian Negara Republik Indonesia atau Pejabat Pegawai Negeri Sipil tertentu yang diberi wewenang khusus oleh

undang-undang untuk melakukan penyidikan. 32. Penyidikan adalah serangkaian tindakan penyidik untuk mencari serta

mengumpulkan bukti yang dengan bukti itu membuat terang tentang

tindak pidana yang terjadi dan guna menemukan tersangkanya.

5 2015

Pasal 2

Tujuan Peraturan Daerah ini untuk membina dan menyelenggarakan Lalu

Lintas dan Angkutan Jalan yang aman, selamat, tertib, dan lancar melalui: a. kegiatan gerak pindah kendaraan, orang dan/atau barang di jalan; dan

b. kegiatan yang menggunakan sarana, prasarana, dan fasilitas pendukung Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

Pasal 3

Ruang lingkup Peraturan Daerah ini mengatur tentang: a. Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan;

b. Ruang Lalu Lintas; c. Perlengkapan Jalan; d. Terminal;

e. fasilitas parkir umum; dan f. fasilitas pendukung.

BAB II

RENCANA INDUK JARINGAN LALU LINTAS DAN ANGKUTAN JALAN

Pasal 4

(1) Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Daerah disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan

serta ruang kegiatan berskala kabupaten.

(2) Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Daerah

sebagaimana dimaksud pada ayat (1) memuat : a. Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten

untuk antarkota dalam wilayah kabupaten; b. Rencana Induk Jaringan Lalu Lintas dan Angkutan Jalan kabupaten

untuk perkotaan dalam wilayah kabu

Embed Size (px)
Recommended