Home >Documents >Bulletin78 21 - Juni 2007

Bulletin78 21 - Juni 2007

Date post:08-Jun-2015
Category:
View:612 times
Download:14 times
Share this document with a friend
Transcript:

Bulletin Paguyuban Paskibraka Nasional 1978

Edisi Juni 2007

1995

Mengenang Husein MutaharHari Rabu sore, 9 Juni 2004, pukul 16.30 WIB, Paskibraka harus kehilangan orang yang paling mereka cintai, Husein Mutahar. Sebenarnya, bukan saja Paskibraka yang merasa kehilangan, tapi juga kalangan Pandu, Pramuka dan bahkan seluruh bangsa Indonesia. Itu semua, karena pria yang humoris dan rendah hati ini terlalu besar jasanya untuk Ibu Indonesia. Kini, tiga tahun sudah Maestro Pandu Indonesia ini meninggalkan kita. Tak banyak tulisan yang pernah kita baca tentang dirinya, karena ia memang tak suka publikasi. Tak banyak gambar atau fotonya yang dapat kita lihat karena ia ogah dipotret dan selalu memalingkan muka atau pura-pura bicara dengan seseorang bila kamera diarahkan padanya. Di masa tuanya ia lebih memilih menyepi dan bertafakur. Sesekali ia menerima kedatangan kolega-koleganya semasa bertugas di Depertemen Luar Negeri dan Depertemen Pendidikan & Kebudayaan. Atau teman-teman, adik-adik dan anakanak Pandunya, serta Paskibraka. Ia menjalani kehidupannya tanpa pendamping dengan ikhlas sampai ajal menjemputnya. Buletin Paskibraka 78 edisi ini memang khusus dipersembahkan untuk Kak Mut. Isinya merupakan rekaman memori sejumlah orang yang pernah mengenalnya dalam berbagai macam cara dan kesempatan. Termasuk, beberapa foto yang pernah terekam dari kamera kita sewaktu Kak Mut begitu antusiasnya menyambut Reuni Paskibraka 78 tahun 1994, serta pelantikan Pengurus Purna Paskibraka Indonesia (PPI) tahun 1995. Hanya ini yang dapat kita berikan. Semoga Kak Mut diterima di sisi Al-Khalik dan beristirahat dengan tenang... n Gambar Sampul: Kak Mut selalu bersemangat ketika bicara tentang AlKhalik, Tuhan Pencipta semesta alam dan kekuasaan-Nya dan kita semua pasti akan kembali kepada-Nya. (Foto: Syaiful Azram)

Bulletin ini diterbitkan oleh Paguyuban Paskibraka 1978 dan dikelola oleh para Purna Paskibraka 1978 yang ada di Jadebotabek dengan tujuan untuk menggalang kembali rasa persaudaraan (brotherhood) sesama teman seangkatan. Sebagian atau seluruh isi buletin ini dapat dikutip/diperbanyak atau dibagikan kepada Purna Paskibraka angkatan lain bila dianggap perlu. Harapan kami, buletin sederhana ini juga dapat menjadi media komunikasi alternatif antar Purna Paskibraka, meski ruang gerak dan edarnya sangat terbatas. Surat-surat/tulisan dapat dialamatkan ke: SYAIFUL AZRAM, PondokTirta Mandala E4 No. 1 Depok 16415, atau BUDIHARJO WINARNO, Gema Pesona AM-7, Jl. Tole Iskandar 45, Depok 16412 , atau SMS ke 0818866130 dan 08161834318 atau e-mail ke: muztbhe_depok[email protected]

Bulletin Paskibraka 78

Mutahar Itu Kakak Saya...Rabu sore, 9 Juni 2004 pukul 17.00, telepon di rumah saya berdering. Ternyata dari Niniek, sahabat anak saya, yang juga putrinya Pak Dibyo (alm). Niniek memberi tahu bahwa Oom Mut meninggal dunia setengah jam yang lalu. Setengah jam kemudian, anak angkat Kak Mut, Sunyoto, juga menelepon mengabarkan hal yang sama. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, saya mengucap. Tak ada yang dapat saya lakukan kecuali memberitahu tetangga dan kawankawan lain yang sekantor dengan Kak Mut ketika menjadi Dirjen Udaka dulu. Ketika sampai di rumah duka, di jalan Damai No.20 Cipete, telah berkumpul Pramuka Trisakti dan Paskibraka '78. Ada mantan Kakwarnas Mashudi dan mantan Sekjen Kwarnas Syaukat. Masih banyak lagi orang yang berkumpul di sana dan saya tidak bisa mengenali semuanya. Sementara, alrnarhum terbujur di atas tempat tidur di teras depan Keesokan harinya, tanggal 10 Juni 2004, kami bertiga dengan Pak Maryono dan Pak Juli hadir di Taman Pemakaman Umum Jeruk Purut, Jakarta Selatan untuk menyaksikan pemakanan Kak Mut. Sejak pukul 11.00 - 13.00 WIB, terdengar raungan mobil dan sepeda motor silih berganti. Begitu banyak orang yang ingin ikut menyaksikan tubuh renta itu dimasukkan ke liang lahat. Tak lama ambulans datang. DenganARI

H

H. Idik Sulaeman

sigap, Paskibraka dan Pramuka menggotong jenazah dari ambulans menuju pekuburan. Langsung dimasukkan ke liang lahat dan diuruk tanah. Tak lama kemudian, yang terlihat hanyalah gundukan tanah dengan nisan terpancang bertuliskan nama Husein Mutahar. Bagi saya, kepergian Kak Mut adalah sebuah kehilangan yang sangat besar. Mutahar adalah kakak saya. Dalam pembinaan Paskibraka, pada tahun 1969-1973 saya pernah menjadi penerus ketika beliau ditunjuk menjadi Duta Besar Luar Biasa dan berkuasa penuh di Tahta Suci Vatikan. Tapi, eksistensi seorang Mutahar di mata Paskibraka tak pernah bisa digantikan oleh

siapa pun. Beliau adalah Bapak Paskibraka. Sebagai adiknya, saya merasa berkewajiban untuk meneruskan perjuangan Kak Mut dalam membina para pemuda Paskibraka. Bahkan sampai saat ini, sekalipun saya tidak bisa lagi terlibat langsung. Di mata saya, Kak Mut adalah pribadi yang unik. Ia seorang humoris yang mampu membuat kita tertawa pada saat kita belum sadar ada sesuatu yang lucu. Ia sering memberikan kejutan pada saat kita belum siap. Sekali waktu, pernah ada peristiwa menggelikan. Saat ia ulang tahun di Tahta Suci Vatikan, saya menulis surat ulang tahun ukuran setengah halaman, suratnya 4 halaman. Surat tersebut dibalas oleh beliau dengan tulisan di atas gulungan kertas selebar 1 cm dengan lima warna (merah, putih, biru, jingga, dan kuning). Kelima gelondong kertas yang dimasukkan ke dalam amplop itu panjang seluruhnya 45 meter. Terlalu banyak kenangan manis yang ditinggalkan Kak Mut. Rasanya tidak cukup dirangkai dalam tulisan sepanjang apapun. Berusaha untuk selalu jujur, sabar, bijaksana, ikhlas dan bertanggungjawab adalah nilai-nilai yang diberikan kepada kami sebagai bekal. Kini semuanya tinggal kenangan. Semoga beliau tenang di tempat peristirahatannya dan kita bisa mewarisi semangat beliau dalam membina Paskibraka.*

Jangan Lupa Saya Diajak...aya sedang berada di depan komputer untuk menyelesaikan bagian akhir buku Derap Langkah Paskibraka, ketika tiba-tiba handphone saya bergetar. Tak biasanya ada orang yang menghubungi lewat HP, karena telepon di rumah juga tak terlalu kerap berdering. Lumayan kaget, di layar terlihat nama seseorang yang tidak asing, namun sudah lama juga tidak bertemu: Idik Sulaeman. Biasanya saya yang menghubungi beliau terutama bila ada perlu, tapi kali ini sebaliknya. Ada apa gerangan? Opul, apa kabar? Kamu bener, saya juga lagi nyari-nyari siapa ya yang bisa jadi orang ketiga, ujar Kak Idik dengan logat Sunda yang khas. Mula-mula saya tidak terlalu ngeh dengan komentar Kak Idik. Tapi, setelah agak lama dan beliau mengatakan bahwa buletinnya sudah diterima, saya baru mengerti. Ternyata beliau telah membaca tulisan saya

S

tentang siapa yang akan dan mau menjadi penerus Kak Husein Mutahar dan Idik Sulaeman dalam membina Paskibraka. Di usianya yang kini hampir 74 tahun (lahir di Kuningan, 20 Juli 1933), suara Kak Idik terdengar tetap lembut dan empuk walaupun agak terbata-bata. Kepada beliau lalu saya ceritakan tentang Paskibraka 1978 yang masih tetap mengadakan pertemuan walaupun tak sesering dulu. Lalu soal rencana menerbitkan buku untuk menyempurnakan Buku Kenangan 25 Tahun Paskibraka. Mau dicetak berapa banyak? Kak Idik bertanya antusias. Saya tidak bisa menjawab pasti, tapi cuma bilang sekitar seribu atau dua ribu barangkali. Yah, memang masih banyak yang harus ditulis tentang Paskibraka. Sayang, saya sudah tidak bisa banyak membantu, katanya merendah. Ketika saya singgung soal pertemuan Purna Paskibraka di Halim yang difasilitasi

Kak Trisno/Merry untuk membicarakan apa yang terbaik buat Paskibraka, Kak Idik menyatakan rasa syukur dan berharap Purna Paskibraka tetap mau memikirkan kepentingan sesamanya. Memang itu tugas kalian sebagai kakak yang lebh tua. Kalau bukan kalian, siapa lagi? ujarnya bertanya. Memang, dalam beberapa pertemuan terakhir Paskibraka 1978, ada niat untuk mengajak Kak Idik seperti sebelumnya. Saya juga ingin menyampaikan kalau bulan Juni ini akan ziarah ke makam Kak Mut, untuk memperingati tiga tahun wafatnya beliau. Namun, belum niat itu saya sampaikan, beliau telah lebih dulu bilang, Kalau kumpul-kumpul lagi, jangan lupa saya diajak ya.... Ucapan halus itu ibarat palu godam menimpa kepala saya. Kadang, kita memang terlalu asyik dengan diri kita sendiri, sehingga lupa mengajak orangtua yang masih peduli dan sayang kepada kita untuk ikut urun rembuk. n Syaiful Azram

2

Edisi Juni 2007

Bulletin Paskibraka 78

Husein Mutahar : Bapak Paskibraka!

P

ERISTIWA itu terjadi beberapa hari menjelang peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia pertama. Presiden Soekamo memanggil ajudannya, Mayor (Laut) M. Husain Mutahar dan memberi tugas agar segera mempersiapkan upacara peringatan Detik-Detik Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1946, di halaman Istana Presiden Gedung Agung Yogyakarta. Ketika sedang berpikir keras menyusun acara demi acara, seberkas ilham berkelebat di benak Mutahar. Persatuan dan kesatuan bangsa, wajib tetap dilestarikan kepada generasi penerus yang akan menggantikan para pemimpin saat itu. "Simbol-simbol apa yang bisa digunakan?" pikirnya. Pilihannya lalu jatuh pada pengibaran bendera pusaka. Mutahar berpikir, pengibaran lambang negara itu sebaiknya dilakukan oleh para pemuda Indonesia. Secepatnya, ia menunjuk lima pemuda yang terdiri dari tiga putri dan dua putra. Lima orang itu, dalam pemikiran Mutahar, adalah simbol Pancasila. Salah seorang pengibar bendera pusaka 17 Agustus 1946 itu adalah Titik Dewi Atmono Suryo, pelajar SMA asal Sumatera Barat yang saat itu sedang menuntut ilmu dan tinggal di Yogyakarta. Sampai peringatan HUT Kemerdekaan ke-4 pada 17 Agustus 1948, pengibaran oleh lima pemuda dari berbagai daerah yang ada di Yogyakarta itu tetap dilaksanakan. Sekembalinya ibukota Republik Indonesia ke Jakarta, mulai tahun 1950 pengibaran bendera pusaka dilaksanakan di Istana Merdeka Jakarta. Regu-regu pengibar dibentuk dan diatur oleh Rumah Tangga Kepresid

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended