Home >Documents >Buku Petunjuk Praktikum

Buku Petunjuk Praktikum

Date post:24-Oct-2015
Category:
View:139 times
Download:23 times
Share this document with a friend
Description:
buku petunjuk praktikum untuk praktik kimia organik
Transcript:
  • Praktikum Kimia Organik DIII Farmasi Poltekkes Permata Indonesia

    1

    1

    Tata Tertib Laboratorium

    1. Mahasiswa harus hadir di laboratorium kimia organik tepat waktu dan

    mengambil tempat yang sudah disediakan sesuai dengan kelompoknya

    masing-masing. Mahasiswa yang terlambat lebih dari 20 menit setelah

    praktikum dimulai tanpa ada alasan yang dapat diterima, tidak

    diperkenankan mengikuti praktikum.

    2. Jas praktikum harus dipakai selama berada dalam laboratorium.

    3. Pada waktu presensi, mahasiswa harus menyerahkan laporan resmi

    praktikum sebelumnya. Laporan resmi dibuat satu buah setiap kelompok.

    4. Sebelum praktikum dimulai, diadakan diskusi di laboratorium tentang

    materi/mata praktikum yang akan dipraktikumkan pada hari tersebut,

    dimana salah satu kelompok akan mempresentasikan sesuai pembagian

    jadwal yang telah ditentukan.

    5. Data praktikum yang diperoleh dicatat pada lembar laporan sementara dan

    dimintakan tanda tangan asisten/dosen jaga dengan memperlihatkan produk

    hasil praktikum.

    6. Mahasiswa yang tidak mengikuti praktikum dengan alasan yang tidak dapat

    diterima tidak akan diberi kesempatan untuk mengulang.

    7. Kecuali dengan alasan yang kuat, mahasiswa hanya diperbolehkan inhal

    sebanyak-banyaknya 2 (dua) mata praktikum. Bila inhal lebih dari itu,

    mahasiswa yang bersangkutan dinyatakan gagal mengikuti praktikum.

    8. Mahasiswa dilarang makan, minum, merokok, dan bersolek di dalam

    laboratorium.

    9. Semua mahasiswa harus menjaga ketertiban, keamanan, dan kebersihan

    selama menjalankan praktikum.

    ~Pengelola Praktikum Kimia Organik~

  • Praktikum Kimia Organik DIII Farmasi Poltekkes Permata Indonesia

    2

    2

    Arahan Keselamatan Kerja Di Dalam Laboratorium

    Untuk memperoleh keadaan yang selamat di dalam laboratorium dan untuk

    menghindari terjadinya kecelakaan, kita perlu berhati-hati jika menggunakan bahan-

    bahan kimia dan alat-alat laboratorium. Banyak pelarut organik (eter, benzene,

    petroleum eter, etanol, dan lain-lain) bersifat mudah terbakar. Pelarut-pelarut

    tersebut harus digunakan secara hati-hati. Kerja-kerja utama yang melibatkan

    pelarut organik di dalam laboratorium adalah: Destilasi, rekristalisasi, ekstraksi.

    Jika melakukan kerja-kerja tersebut, langka-langkah keselamatan berikut ini

    harus dipatuhi guna menghindari kecelakaan.

    1. Bila menggunakan bahan organik yang mudah menguap dan terbakar seperti

    eter, aseton, benzene, dan lain-lain, juga percobaan yang melibatkan bau busuk

    atau asap beracun harus dilakukan di almari asam.

    2. Jangan lakukan pemanasan bahan yang mudah menyala dengan api secara

    langsung.

    3. Pastikan keadaan sekeliling aman jika hendak menggunakan api. Api harus

    dipadamkan jika tidak diperlukan.

    4. Gunakan batu didih bila mendidihkan cairan. Jangan menambah/memasukkan

    batu didih ketika cairan tersebut sedang dipanaskan. Biarkan cairan tersebut

    dingin terlebih dahulu.

    5. Ketika memanaskan bahan kimia di dalam tabung uji, jangan arahkan mulut

    tabung ke arah diri sendiri atau oranglain. Bila ada, pakailah kacamata

    keselamatan.

    6. Pastikan bahan kimia yang digunakan benar serta ikuti arahan dengan rapi.

    Ambil bahan kimia sebanyak yang diperlukan saja.

    7. Jangan cemari bahan uji/reagen. Bahan uji/reagen yang sudah diambil tidak

    boleh dikembalikan lagi ke tempat asal.

    8. Bahan kimia yang akan dibuang harus dikumpulkan di tempat yang telah

    disediakan. Limbah yang mengandung chlorinated hydrocarbon seperti

    kloroform dan diklormetan, harus dipisahkan dari limbah lain.

  • Praktikum Kimia Organik DIII Farmasi Poltekkes Permata Indonesia

    3

    9. Segala kerusakan alat di dalam laboratorium harus segera dilaporkan pada

    aisten/dosen jaga.

    10. Cairan-cairan yang mempunyai titik didih rendah seperti eter, aseton, methanol,

    etanol, dan lain-lain harus disuling menggunakan penangas air (waterbath) yang

    dipanaskan dengan pemanas listrik.

    11. Jika akan melakukan destilasi, pastikan sambungan-sambungan dipasang

    dengan benar dan alat-alat diklem dengan baik. Semua sambungan kaca

    haruslah bersih dan oleskan grease seperti vaselin dengan cermat sebelum

    dipasang.

    12. Saat destilasi, pastikan air mengalir melalui kondensor/pendingin secara terus

    menerus. Pastikan selang dipasang pada kran dengan benar dan tidak mudah

    lepas.

    13. Jangan gunakan kain untuk memadamkan api (kecuali api kecil), tapi gunakan

    karbpn dioksida (dari alat pemadam api). Jangan gunakan air jikan ada natrium

    atau kalium.

    14. Jika pakaian terbakar, selubungi dengan kain basah atau arahkan karbon

    dioksida ke korban. Jangan gunakan pemadam api yang menggunakan karbon

    tetra klorida karena beracun.

    15. Jika terjadi kebakaran atau mendengar isyarat kebakaran, segera tinggalkan

    laboratorium dengan tenang ke tempat yang aman. Jika kebakaran/kecelakaan

    kecil terjadi, berusahalah untuk mengatasinya dengan bijaksana.

    16. Laporkan setiap kecelakaan yang terjadi pada dosen jaga.

    17. Dapatkan nasehat/keterangan dari dosen/asisten jaga mengenai segala sesuatu

    yang berkaitan dengan hal-hal praktikum sebelum memulai percobaan.

    18. Semua mahasiswa tidak dibenarkan bekerja di laboratorium tanpa kehadiran

    dosen/asisten jaga.

    19. Setelah selesai melakukan praktikum dan sebelum meninggalkan laboratorium,

    bersihkan semua alat yang digunakan dan simpanlah di tempat yang sudah

    disediakan dengan rapi. Sebelum meninggalkan laboratorium, pastikan bahwa

    semua alat listrik dan lampu sudah dimatikan.

  • Praktikum Kimia Organik DIII Farmasi Poltekkes Permata Indonesia

    4

    3

    Rekristalisasi

    Pemilihan solven/pelarut

    Sebelum memulai rekristalisasi, kita harus memilih solven yang sesuai.

    Dengan mengenali struktur dari senyawa yang akan direkristalisasi akan

    membantu kita dalam memilih pelarut yang sesuai. Meskipun demikian, pemilihan

    solven merupakan problem eksperimental yang dapat dipecahkan melalui trial and

    error.

    Kriteria pemilihan solven yang baik adalah:

    1. Senyawa yang akan direkristalisasi harus mudah larut dalam solven yang

    panas dan tidak larut dalam solven yang dingin.

    2. Idealnya, pengotor dalam sampel senyawa tersebut tidak larut dalam solven

    yang panas dan mudah larut dalam solven yang dingin.

    3. Titik didh solven adalah 50-120oC.

    4. Titik didih solven harus lebih rendah dari titik lebur senyawa yang

    direkristalisasi.

    5. Solven tidak bereaksi (inert) terhadap senyawa.

    6. Solven mempunyai toksisitas rendah.

    Senyawa organik yang berbentuk padat dapat dimurnikan dengan jalan

    rekristalisasi. Tahap dalam proses rekristalisasi adalah:

    1. Pemilihan solvent/pelarut yang sesuai.

    2. Pelarutan sampel dalam sesedikit mungkin solvent yang mendidih.

    3. Penyaringan larutan yang panas untuk memisahkan pengotor yang tidak

    larut.

    4. Pendinginan larutan untuk memacu rekristalisasi.

    5. Pemisahan/penyaringan padatan/kristal yang terbentuk dari larutannya

    (mother liquor).

  • Praktikum Kimia Organik DIII Farmasi Poltekkes Permata Indonesia

    5

    6. Pencucian padatan/kristal pada kertas saring dengan mengunakan sesedikit

    mungkin pelarut dingin untuk menghilangkan tapak-tapak mother liquor.

    7. Pengeringan padatan yang diperoleh.

    Arang aktif

    Seringkali senyawa organik padat mengandung pengotor yang berwarna.

    Pengotor ini biasanya sangat polar karena mengandung ikatan rangkap dua atau

    tiga dan gugus-gugus kromofor seperti: -NO2, -CN, -N=N-, dan sebagainya.

    Pengotor seperti ini dapat dihilangkan dengan penambahan arang penjerap ke

    dalam larutan yang panas. Arang penjerap ini memiliki luas permukaan yang sangat

    besar dimana senyawa polar akan teradsorbsi. Karena senyawa yang direkristalisasi

    juga dapat teradsorbsi, maka jumlah arang aktif yang digunakan tidak boleh terlalu

    banyak. Kira-kira 10-20 mg arang per gram sampel cukup untuk tujuan ini. Suspensi

    ini kemudian disaring dalam keadaan panas menggunakan penyaring panas untuk

    menghindari terjadinya kristalisasi dini pada filter/corong.

  • Praktikum Kimia Organik DIII Farmasi Poltekkes Permata Indonesia

    6

    Rekristalisasi menggunakan campuran pelarut

    Seringkali kita tidak mendapatkan solven tunggal yang sesuai untuk

    rekristalisasi. Pada kasus seperti ini, campuran/pasangan solven harus digunakan.

    Syaratnya adalah senyawa (analit) tersebut harus mudah larut dalam solven I (good

    solvent) dan tidak laru dalam solven II (bad solvent). Sampel mula-mula dilarutkan

    dalam seminimal mungkin solven I yang mendidih, kemudian ditambahkan tetes

    demi tetes solven II. Penambahan solven ini akan menimbulkan kabut

    (pengendapan senyawa) yang akan larut bila digojog. Penambahan solven II

    diteruskan hingga terbentuk kabut yang tetap. Pada saat tersebut beberapa tetes

    solven I ditambahkan hanya untuk membuat kabut tersebut hilang. Larutan

    kemudian disaring dan dibiarkan mengkristal pada suhu dingin. Padatan yang

    terbentuk kemudian disaring, dicuci, dan dikeringkan.

    Pasangan solven yang baik untuk rekristalisasi adalah: etanol-air, methanol-

    air, aseton-petroleum eter, toluene-petroleum eter, etanol-teluen, dan asam asetat-

    air.

  • Praktikum Kimia Organ

Embed Size (px)
Recommended