Home >Documents >Buku Insentif Das

Buku Insentif Das

Date post:19-Jun-2015
Category:
View:1,447 times
Download:19 times
Share this document with a friend
Transcript:

Sistem Insentif Rehabilitasi LahanDalam Rangka Pengelolaan Daerah Aliran Sungai

Haryanto R. Putro M. Buce Saleh Hendrayanto Iin Ichwandi Sudaryanto

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor 2003

Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan dalam Rangka Pengelolaan Daerah Aliran SungaiPENULIS Haryanto R. Putro M. Buce Saleh Hendrayanto Iin Ichwandi Sudaryanto KONSTRIBUTOR Hariadi Kartodihardjo Harianto Kukuh Murtilaksono Endriatmo Soetarto Iskandar Z. Siregar TATA LETAK Kasuma Wijaya Syamsul Budiman ILUSTRASI SAMPUL Kasuma Wijaya @ Fakultas Kehutanan IPB, 2003 VII+166 hal, 165 x 230 mm ISBN 979-9337-15-1 Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

KATA PENGANTARPengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan pengelolaan sumberdaya yang terdapat di suatu DAS, baik sumberdaya alam (natural capital), sumberdaya manusia (human capital) beserta pranata institusi formal maupun informal masyarakat (social capital), maupun sumberdaya buatan (man made capital) yang satu sama lain saling berinteraksi (interaction). Isu-isu penurunan kualitas lingkungan dalam pengelolaan DAS, terutama isu banjir dan kekeringan seringkali ditanggapi sebagai isu-isu yang disebabkan oleh masalah-masalah yang bersifat teknis semata, sehingga usulan-usulan pemecahan masalah lebih banyak dipusatkan pada kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis, seperti sodetan sungai, normalisasi sungai, pembuatan resapan aliran permukaan, penanaman di daerah hulu sungai dan sebagainya, masih jarang yang melihat prasyarat-prasyarat yang diperlukan agar kegiatan-kegiatan yang bersiafta teknis tersebut dapat berjalan dengan baik. Tim Kerja Fakultas Kehutanan IPB telah melakukan beberapa studi sebagai upaya untuk mengkaji permasalahan-prmasalahan yang dihadapi dalam Pengelolaan DAS, terutama dalam rangka merespon isu banjir dan kegagalan Rehabilitasi Lahan. Dari hasil-hasil studi tersebut ditemukan indikasi kuat bahwa kegiatan-kegiatan yang bersifat teknis memerlukan kegiatan-kegiatan non teknis sebagai prasyarat keberhasilan kegiatan teknis. Lemahnya Sistem Insentif dan Kelembagaan dalam Pengelolaan DAS merupakan dua hal yang dominan yang menyebabkan munculnya isu banjir dan kegagalan rehabilitasi lahan. Hasil dari studi tersebut ditulis dalam tiga buku, sebagai upaya untuk memberikan tambahan pengetahuan dan bahan acuan bagi studi dan praktek pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Ketiga buku tersebut adalah: 1. 2. Penataan Institusi Pengelolaan DAS Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan Dalam Kerangka Pengelolaan DAS i

3.

Hubungan Kerjasama Institusi dalam Pengelolaan DAS : Kasus DAS Ciliwung

Buku 1. Penataan Institusi Pengelolaan DAS secara garis besar berisi konsep institusi/kelembagaan, pengalaman penerapannya di beberapa negara, permasalahan institusi pengelolaan DAS di Indonesia, serta telaah penatanaannya. Buku 2. Sistem Insentif Rehabilitasi Lahan Dalam Kerangka Pengelolaan DAS, secara garis besar berisi konsep insentif, sejarah pengelolaan DAS di Indonesia, dan hasil studi kasus sistem insentif yang diperlukan di DAS Ciliwung (Jawa Barat), Rokan (Riau) dan DAS Dodokan (NTB), posisi insentif dan kebijakan rehabilitasi lahan dalam kerangka pengelolaan DAS, serta panduan pengembangan sistem insentif. Buku 3. Hubungan Kerjasama Institusi dalam Pengelolaan DAS : Kasus DAS Ciliwung, secara garis besar berisi konsep pengelolaan DAS, karakteristik DAS Ciliwung, permasalahan DAS Ciliwung dan pengelolaannya, kebijakan pengelolaan DAS Ciliwung, dan sintesa rekomendasi pengelolaan DAS dan pengendalian banjir di Jakarta. Disadari bahwa dalam penulisan buku-buku ini masih belum sempurna sehingga masukan dari pembaca sangat berguna dalam menyempurnakan isi dan penulisan buku ini. Terlepas dari kekurangan yang masih ada, diharapkan buku-buku tersebut dapat bermanfaat bagi perbaikan pengelolaan DAS di Indonesia. Tulisan ini tidak akan terdokumentasi dengan baik tanpa bantuan Japan International Agency (JICA). Terima kasih untuk Hiroshi Nakata, Rika Novida dan Irma Imelda yang dengan sabar menunggu kompilasi dokumen ini. Tidak lupa penghargaan kami berikan kepada tim dapur, Kasuma Wijaya dan Syamsul Budiman yang telah melakukan pekerjaan dengan sangat baik. Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor Dekan, Prof. Dr. Ir. Cecep Kusmana, MS ii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .................................................................................. iDAFTAR TABEL ...................................................................................... iI. II. PENDAHULUAN ............................................................................... PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI TERPADU ..........................

i v 1 5

iDAFTAR ISI ......................................................................................... iii iDAFTAR GAMBAR ................................................................................... vii

III. PENGERTIAN INSENTIF................................................................... 19 IV. PERSPEKTIF SEJARAH PERKEMBANGAN REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI INDONESIA ........................................................... 37 V. INSENTIF REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN DI DAS CILIWUNG, ROKAN DAN DODOKAN ................................................................... 63 VI. POSISI INSENTIF DALAM REHABILITASI HUTAN .............................103

VII. KEBIJAKAN REHABILITASI HUTAN ...................................................109 VIII. PANDUAN PERANCANGAN INSENTIF UNTUK REHABILITASI HUTAN DAN LAHAN ........................................................................127 iDAFTAR PUSTAKA

iii

iv

DAFTAR TABELNomor Teks Hal

Tabel 1. Tabel 2.

Perbedaan antara insentif variabel (variable insentives) dan insentif pemungkin (enabling incentives)..................... 21 Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA untuk DAS Ciliwung, Rokan, dan Dodokan .............................................................................. 29 Karakteristik yang dapat meningkatkan atau menghambat kemungkinan bekerjanya insentif ...................... 31 Struktur kegiatan rehabilitasi hutan dan lahan ....................... 36 Beberapa peraturan perundangan yang mengatur Pengelolaan DAS .................................................................. 60 Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA untuk DAS Ciliwung................................ 92 Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA untuk DAS Rokan ................................... 95 Bentuk-bentuk insentif di tingkat petani/implementasi yang diharapkan oleh berbagai pihak terkait melalui proses PRA dan LFA untuk DAS Dodokan ............................... 97 Kategori Insentif/Disinsentif Pengelolaan DAS Terpadu Dalam Konteks Kebijakan Nasional ........................................118 Contoh-Contoh Insentif Ekonomi untuk pengelolaan DAS terpadu untuk berbagai sektor .......................................119 Kategori insentif ekonomi untuk rehabilitasi hutan dan lahan berbasis masyarakat ....................................................149

Tabel 3. Tabel 4. Tabel 5. Tabel 6.

Tabel 7.

Tabel 8.

Tabel 9. Tabel 10. Tabel 11.

v

vi

DAFTAR GAMBARNomor Teks Hal

Gambar 1. Gambar 2. Gambar 3. Gambar 4. Gambar 5. Gambar 6. Gambar 7.

DAS dalam pandangan 3-D (tiga dimensi)......................... Gambar Proyeksi Permukaan DAS (2-D)............................ Siklus/pergerakan Air di Suatu DAS ..................................

6 7 8

Tipe-tipe insentif ............................................................. 20 Sistem insentif rehabilitasi lahan....................................... 22 Kategori insentif menurut luaran (pendapatan dan kontrol) yang diharapkan ................................................. 27 Tahap-tahap yang harus dipenuhi dalam mengembangkan insentif rehabilitasi hutan dan lahan .............................................................................. 33 Kerangka Logis Sistem Penyelenggaran Rehablitasi hutan dan Lahan (RHL)....................................................107

Gambar 8.

vii

1

I. PENDAHULUANA. LATAR BELAKANGPerkembangan pembangunan nasional saat ini dan pada masa yang akan datang ditandai oleh semakin terbukanya peluang bagi masyarakat untuk berpartisipasi secara langsung dalam proses perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, maupun pengendalian program pembangunan. Disamping itu penyelenggaraan pembangunan juga diarahkan untuk menggantikan mekanisme administratif yang semula dikendalikan pemerintah menjadi mekanisme pasar dimana perilaku masyarakat digerakkan oleh berbagai insentif/disinsentif yang tersedia. Di sisi lain degradasi sumber daya alam telah terjadi di berbagai tempat. Luas hutan dan penutupan vegetasi menurun sangat tajam di berbagai Daerah Aliran Sungai (DAS), terutama di daerah hulu, akibat eksploitasi sumberdaya hutan dan lahan yang irasional, sehingga mengganggu keseimbangan lingkungan. Banjir dan kekeringan di daerah hilir DAS selalu terjadi setiap tahun dan dirasakan dampaknya di seluruh wilayah. Untuk menanggulangi kondisi dan permasalahan di atas, pemerintah bersama masyarakat perlu melakukan rehabilitasi hutan dan lahan yang pada prinsipnya tidak dapat dipisahkan dari pengelolaan DAS. Selama ini degradasi lahan dan sumberdaya alam dipandang sebagai masalah fisik, sehingga pendekatan teknologi selalu diandalkan untuk memecahkannya. Fakta lapangan menunjukkan bahwa pendekatan teknologi gagal dalam upaya rehabilitasi hutan dan lahan, bahkan lahan kritis semakin luas dari waktu ke waktu. Kegagalan tersebut dapat dilihat dari dua sisi, yaitu: pertama:

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended