Home > Documents > Buku Antologi Sastra Mahasiswa UMK

Buku Antologi Sastra Mahasiswa UMK

Date post: 06-Apr-2016
Category:
Author: wahyu-dwi-pranata
View: 299 times
Download: 25 times
Share this document with a friend
Description:
buku antologi sastra ini adalah buah karya teman-teman mahasiswa UMK yang di inisiasi oleh LPM Pena Kampus UMK Pilot Project oleh : Wahyu Dwi Pranata anda bisa mengirimkan karya berupa sastra ke redaksi kami : email : [email protected]
Embed Size (px)
of 122 /122
Transcript
  • Gemuruh Jiwa Titisan Hawa

    Mentari menampakkan senyumnya

    Menyiratkan semburan cahaya

    Kuning merekah indah

    Menyemai kedamaian alam semesta

    Desir pasir berayun pelan

    Menyibak pantai yang gersang

    Perahu menari-nari dengan lihai

    Meronta, melawan desiran ombak

    Apakah ombak akan menaklukkan perahu?

    Atau perahu akan menaklukkan ombak?

    Entahlah

    Setetes rindu pada kebebasan

    Merekah kuat di dalam kalbu titisan hawa

    Melambai-lambai pada jeritan kata

    Semakin kuat, semakin dekat

    Mari, mari sambut kebebasan

    Kebebasan yang hakiki

    Bukan dia yang hina

    Bukan dia yang nista

    Namun, dia yang mampu menari di atas ombak

  • Derai Mimpi Kartini

    Kala langkah tak berkawan

    Kala asa tak bertuan

    Hati seakan mati

    Redup tak berarti

    Jengkal demi jengkal

    Terasa sangat berat

    Namun cita tak akan padam

    Terpatri kuat, terkunci rapat

    Mimpi pun membara

    Menganga di setiap detik

    Maju, bergerak, perlahan

    Semilir membawa harapan

    Goresan pena terukir mesra

    Tetes demi tetes

    Lembar demi lembar

    Menari dalam relung imajinasi

    Kini, ia menjadi cahaya dalam kegelapan

    Menjadi pelita dalam kebodohan

    Menopang asa dan cita

    Mewangi di setiap hembusan nafas

    Menebarkan cinta di setiap sudut negeri

  • Bak awan yang menghiasi birunya langit

    Indah, sangat indah

    Mimpi yang abadi

    Sepanjang masa

    * Alfi Muhimmatul

  • Kartini

    Hentakan mulut berdengung

    Merayap ke atas angin

    Berterbangan menyelimuti

    Gelapnya awan

    Awan menangis sendu

    Hujan hati bertatap saja

    Jiwa merah muda merayap

    Mengubah gelap hitam

    Ke putih terang

    Siapa?

    Kartini,

    Wanita pemberi inspirasi penghujung mati

    * Uswa

  • Ibuku Ibu Kartini

    Peluh keringat menetes pelan

    Membasahi sisi dipelupuk hati

    Duka lara tiada di rasa

    Demi bahagianya sang buah hati

    Ibuku Ibu Kartini

    Menjaga kami tanpa rasa lelah

    Ia bukan wanita perkasa

    Tubuh ringkihnya dimakan umur

    bertambah usia

    Raut wajah goresan cerita

    Mencerminkan kerapuhan jiwa

    Keluh kesah tiada dirasa

    Berjuang hidup demi belahan jiwa

    Ibuku Ibu Kartini

    Membesarkanku sepenuh hati

    Sesosok kartini nyata

    Menjagaku dengan derai keringat juga air

    mata

  • Habis Gelap

    Habis gelap terbitlah terang

    Tak hentinya kami berucap syukur

    Harum namamu bau semerbak

    Menumbuhkan semangat dalam gejolak

    Mengorbankan jiwa raga

    Menghilangkan sekat antara kita

    Demi terwujudnya emansipasi wanita

    Kau tak ingin wanita dijajah pria

    Wanita lemah tak berdaya

    Tak mampu untuk melawan

    Hanya pasrah merenung dalam jiwa

    Apalagi hak yang diperjuangkan

    Kini semua telah sirna

    Karena jasamu wahai sang ksatria

    Bekerja keras demi Indonesia

    Memperjuangkan kesamaan jiwa

    * Rizky

  • Tanganku yang Tak Sampai

    Ingin aku buat beberapa rampai

    Tentang kau yang ku cintai

    Bukan alai

    Tapi ini air yang meng-ambai

    Sungguh yakin akan kau yang menguntai

    Di dedaun pagi yang tak semampai

    Andai..

    Aku bisa mencintai

    Hanya kau yang aku sampai

    Hai..

    Sapa hangat sang dawai

    Di antara ngarai dan belum terbukanya

    tirai

    Kau masih terlihat pasai

    Hingga sapa sang dawai harus berulangkali

    membelai

    Sudah mulai

    Iya, merdu dari kidung dawai

    Tentang kasih tinggi yang se-mampai

    Tetapi,

    aku masih mencoba mendapak sunyi untuk

    menggapai Sang derai

    Namun,

    aku hanyalah bangkai

    Layaklah jika kau mengabai

  • Jika ada badai

    Hilanglah kau Sang bisai

    Dan aku lihat beberapa bagian bilai

    saat aku beranikan diri membuka tirai

    Dan begitulah aduhai

    Tuhan punya cipta pada bonsai

    Juga pada arombai di tepian pantai

    Jika kau pandang aku sebagai masai

    Biarlah masai ini terus me-lalai

    Menjadi untai

    Untai yang menjadi esai

    Hingga akhirnya aku selesai

    Sebuah rima yang aku pakai untuk mencintaimu saat kita

    terlarai

  • Perempuan yang Berubah

    Mengasur tidur tak terpancang cagak

    Tangan mengepal, yang sudah mengapal

    perjalanan rantau kemarau dibulan

    April

    Rebah marah atau hanya desah kesal

    menggumam pada kebencian luka

    Menata bata dari kata orang lain berbayar

    harga :

    "Kerja..."

    Perempuan senja di hamparan sorga

    Aku di sebalik neraka berusaha mengeja

    Bukan pada harga yang jauh terjaga

    Melainkan kotaKota renta usia yang haus

    akan noda

    Jika perempuanku telah berbeda

    Tangannya akan semakin mengepal lama

    Berotot nyata, pada kunangKunang yang juga

    sama-sama suka senja

    Pada tengkulak yang mencoba mencurangi

    nelayan2 di kota

    Mereka sama

  • Perempuanku,

    Jika tanganmu semakin membatu

    Air akan mengasuhmu lewat basuh lembut

    kesabaran

    Memberikan 3 menit bisu keterdiaman

    Mengolah logika-logika lama

    Mendulang lagi kenangan akan senja berdua

    Lewat waktu yang serasa koma

    Mencapai melankolia lama

    Perempuanku,

    Jika tanganmu tak lagi menyiku

    Ada satu kalimat untukmu:

    "Aku masih ingin bertemu"

    Keinginan Menyentuh ragu dengan puisi, 2014

    * Pranata

  • Banyak yang mengatakan

    Banyak yang bilang

    Banyak yang mengatakan

    Banyak yang mengecam

    Tentang dia

    Dia sang anak adam

    Banyak yang mengatakan,

    Wanita suka menangis karena keadaan

    Namun disibak sanalah wanita berjuang tuk

    para pahlawan

    Banyak yang mengatakan,

    Wanita mudah pecah bag cermin hiasan

    Disitulah ditemukan, kekuatan sang Ibunda

    dalam berkorban

  • Banyak yang mengatakan,

    Wanita lemah dan tak berpengetahuan

    Itu dulu tuan,

    Sebelum emansipasi datang

    Banyak yang mengatakan,

    Wanita hanya teman belakang dalam

    kehidupan

    Tapi, disinilah wanita bersinar dan tak

    pernah terbenam

    Diantara jutaan, 28 April 2014

  • Gadis Ayu

    Gadis Ayu

    Oksigen mahal itu bagimu

    Pijatan jarum penghias tubuhmu yang kaku

    Cairan plasma luruh, deras, seiring

    mengguyurmu

    Virus, sahabat setia dalam hidupmu

    Gadis Ayu

    Gumam itu tak bernada

    Jeritanmu tertahan tanpa suara

    Valium pembius rintihan merdu berdawai ria

    Ranjang beroda mengantarkan ragamu ke

    singgah sana

    Gadis Ayu

    Berbaring lemas nan sayu

    Hidupmu tak ingin menghitung waktu

    Senyum terlempar tanpa pandang bulu

    Semangat hidup adalah perjuanganmu

    Leukimia, rumah sakit, 2010

    * Ulin

  • Ilustrasi :

    Imam 3 Koma

  • Ibu Kartini hingga

    Ibu dan Aku

    Kau baktikan sisa hidupmu tuk wanita

    Indonesia

    Hingga mereka mampu berkata

    Kau turunkan kelihaian jemari dan tutur

    katamu

    Hingga mereka mampu berkarya

    Kau limpahkan seluruh jiwa dan ragamu

    Tuk perjuangkan martabat wanita di depan

    bangsa

    Selayaknya engkau kartini,

    Ibuku pun menjadi wanitamu

    Wanita yang berpegang teguh denganmu

    Membimbingku menjadi wanita kartini

    Memegang jemari ini tuk berani menapaki

    tanah air

    Menapakkan telapak ini tuk akhirnya

    berdiri

    Berdiri tuk melahirkan karya

    Berdiri tuk menyuarakan semangatmu

    Karna ku berdiri karna Ibu dan semangatmu

  • Salam Ku Untukmu Kartini

    Gejolak jiwa yang dahulu tertindas,

    membangkitkan raga hawa sesungguhnya

    Perjuangkan makna hawa untuk dunia

    Meski kau tlah menyatu dengan alam,

    Namun tak pernah mati dalam jiwa perempuan

    indonesia

    wahai kartini semangat dan perjuanganmu

    melekat pada wanita titisanmu

    Aunganmu mampu membangkitkan jiwa ini

    hingga Bangkit dan berdiri kokoh tuk dunia

    Dan aku percaya,

    wanita Kartini tak lagi tumbang oleh

    hembusan Adam

    Kusuarakan selalu Salamku Untukmu Kartini

    * Tita

  • Kau Tak Dapat Ku Miliki

    Seribu puisi yang kupunya,

    Tak mampu menyaingi indah wajahmu,

    Kau adalah keindahan,

    Yang menghiasi duniaku,

    Memandangmu,

    Aku berharap waktu berhenti,

    Menyentuhmu,

    Seperti menyentuh sesuatu yang rapuh,

    Tapi sangat berharga,

    Kau adalah jejak,

    Yang iringi langkahku,

    Kau adalah detak,

    Yang iringi jantungku,

    Kau adalah air mata,

    Yang iringi tangisku,

    Karena kau kan selalu ada di hatiku

    ..................

  • Ibu Sahabat Pertamaku

    Ibu,

    Kau ajarkan aku tentang cinta,

    Cinta pertama dalam hidupku,

    Sejuta kasih kau suap di mulutku,

    Kau adalah sosok sahabat tiada tara,

    Pengorbananmu tak mampu ku ucap dengan

    kata-kata,

    Pahlawan pertama dalam nafasku,

    Nyawaku terlindung berbalut cintamu,

    Tiada tara,

    Tiada kata,

    Itulah pengorbananmu,

    Ibuku,

    Kaulah sahabat cintaku,

    Mengalir kasih pertamaku,

    Doaku kan selalu menyertaimu

    * Azalia

  • Titik itu berhenti

    koma itu berhenti sejenak,

    Seru itu segera

    dan tanya itu

    .....

    Apakah sudah Kau jawab

    kapan akan kau gores pena (lagi)..?

  • Wanita dalam sosok

    Sosok rapuh namun tak melepuh

    Sosok indah namun tak merasa megah

    Sosok pasrah namun tak berserah

    Dan sosok teduh namun tak rusuh

    Merasa semua semu

    Mengalir tak berair

    Merasa semua hampa

    Mengembang dalam alunan tak bersua

    Mungkinkah bertanya

    Kepada ombak hati tak bertuan

    Mungkinkah menyapa

    Kepada rintihan tangis yang bergema

    Meraih asa tanpa resah

    Meraih angan tanpa desah

    Menggenggam tangan dalam buaian

    Menjadi hangat dalam dekapan

    Inilah kisah tak usai

    Dalam dunia warna

    Ombang ambing gejolak wanita

    Dalam rangkaian sinema

    * Khikmah

  • Wanita perkasa

    Senja,

    Redup yang pankan mata

    Di bawah ronanya

    Tergeletak puluhan ribu nyawa

    Menggentung tanpa arti

    Menunggu,

    Menyepi,

    Membawa derita, memikul asa

    Kudus, 04-04-2014

  • Andai Ku Terlahir Bukan Dari

    Rahim Mu Ibu

    Andai Ku Terlahir Bukan Dari Rahim Mu Ibu,

    Kini ku bimbang bersamamu Apa aku harus

    senang?

    Aku tak bisa merasakannya Apa ku harus sedih?

    Aku masih meragukannya

    Andai waktu bisa ku putar kembali

    Andai kau bukan Ibu yang melahirkan ku

    Aku ingin mencobanya

    Mencoba hidup dengan topangan kaki ku

    Mencoba berjalan mengikuti hati ku

    Aku ingin tahu,

    Bagaimana aku hidup tanpa bayangmu ibu

    Mata yang selalu mengitariku,

    Rasa ingin tahu ku,

    Selalu menujam dalam benak ku

    * Rina

  • Talang cinta

    Talang cinta Tuhan

    Helai rambut hitam menikam

    menatap senja di keheningan

    Tiba saatnya

    Talang Cinta dengan luruh dalam pendakian doa

    Setelah dua ratus tujuh puluh hari bersemadhi

    dalam hening jati diri

    di detak jantung ibu

    duh ibu,

  • Tuhan

    cinta apa yang pernah alpa untukku

    dekap kasih yang tak pernah lekang bagiku

    tak ada keluh, tak ada kesah, dibalik matamu

    yang senantiasa basah

    dan angka - angka inflasi yg memusingkan tiap

    kepala

    hanya engkau yang selalu berkata

    makanlah, ibu masih kenyang

    pakailah, pakaian ibu masih bagus

    tenanglah, akan ibu lakukan apa saja untukmu

    ibu

    bagimu cahaya surga

    wakil Tuhan di dunia

    di kakimu aku bersimpuh

    menghantarkan bakti dan cinta

    yang mungkin kelak ku alpa..

    * Yudi

  • sayang, bunga itu

    aku tidak terima, bunga itu terambil orang

    aku tidak rela, malam ini dapat kabar

    kamu akan di ambil orang

    kenapa itu?

    aku pun tidak tahu, mau berkata apa

    pilihan darimu, hakmu saja

    aku tidak bisa bicara lama

    lamunan malam ini pertanda hampa

    bersiaplah menyantap kehidupanmu

    Kudus, 22022014

  • Camar Biru

    Camar, lihatlah itu

    pergi dengan perlahan

    berdesir suara lirihnya

    sekejap berdendang, terdengar lamban

    beserta geyuyup angin romantis

    saling berhimpitan batang-batang

    sungguh tidak terdengar

    kicauan lembut

    hanya daun pojok itu yang

    mendengarnya,

    itupun tak keras

    namun kian sirna

    camar datang dengan perempuan menangis

    itupun sirna dalam lantunan angin

    tak selang lama, camar kembali

    dia hanya meninggalkan lima kata saja

    "cinta tak selalu tepat waktunya"

    masih ada jalan untuk melewati dan berdiam

    diri

    kudus, 13032014

    * Ulum

  • WANITA DI ZAMAN EDAN

    Wanita di zaman edan

    Ahlaknya serba kebablasan

    Wanita di zaman edan

    Moralnya serba tak kecukupan

    Wanita di zaman edan

    Kecanduan kosmetik oplosan

    Wanita di zaman edan

    AuratnyaAhai!

    sungguh menawan,

    Bagi birahi yang kelaparan.

    Wanita di zaman edan

    Lonte PK ayam kimcil cabecabean

    Di zaman edan,

    Wanita edan!

    Kudus, 15 April 2014

    * Umam

  • Ilustrasi :

    Imam 3 Koma

  • Kejutan Mengerikan

    Buah Tinta: Yuni Isnawati*

    Aku terdiam dibalik kaca jendela.

    Melihat beberapa kuncup bunga anggrek yang

    sedang mekar. Hanya beberapa,tapi terlihat

    sangat cantik. Warnanya yang putih cerah

    berpadu dengan warna ungu yang membentuk

    gradasi, seolah membawa pikiran ke dalam

    suasana yang sedikit berbeda ketika

    melihatnya meskipun hanya beberapa detik.

    Aku berbalik arah, melihat suasana rumah

    yang sepi. Bagi keluargaku, hari minggu

    adalah bonus waktu untuk berlama-lama di

    dalam selimut. Jadi tidak heran, jika di

    hari minggu aku sering menikmati suasana

    pagi tanpa aksi jahil adik adikku yang

    sering membuat gaduh.

    Aku berjalan pelan menuju meja makan.

    Aku mengambil ponselku yang tergeletak di

    meja makan. Sambil duduk di kursi, aku

  • membuka pesan yang belum aku baca sejak

    tadi malam karena tidak kuat menahan

    kantuk.

    Ada empat pesan dari kontak yang

    sama. Aku namai kontak tersebut dengan

    nama Mas Hendra. Hendra adalah kekasihku

    sejak tiga bulan yang lalu. Kami adalah

    teman yang sering satu kelas ketika

    kuliah. Aku memang tertarik dengannya

    sejak pertama kali aku melihatnya. Namun

    waktu itu aku tidak berani berharap agar

    bisa dekat dengannya. Karena aku sadar,

    aku bukan wanita berparas cantik,

    berpenampilan menarik, dan tidak pintar.

    Aku mahasiswa biasa. Sungguh berbanding

    terbalik jika dibandingkan dengan Hendra.

    Dia adalah kakak tingkatku, dia dua tahun

    lebih tua dariku. Dia mahasiswa semester 8

    yang penampilannya sangat menarik.

    Wajahnya tampan, senyumnya ramah, dan

    banyak dikenal oleh mahasiswa kampus

  • karena keaktifannya dalam beberapa

    organisasi. Ya, bisa dibilang dia itu pria

    idaman bagi banyak wanita. Jadi aku masih

    tidak percaya, seorang lelaki yang dikenal

    dengan banyak kelebihannya itu menyukai

    wanita biasa sepertiku. Wanita pendiam

    yang tidak memiliki popularitas.

    Aku membaca pesan darinya satu per

    satu. Terbayang sosoknya yang gagah itu

    dalam benakku. Aku tersenyum, tersipu, dan

    merasa sangat senang. Bukan hanya karena

    pesan-pesannya yang selalu menaikkan detak

    jantungku. Tapi semua memori akan

    kejadian-kejadian kecil yang kami lalui.

    ***

    Wajah beberapa mahasiswa tampak

    sedikit mengerut karena teriknya matahari

    yang membakar kulit. Aku duduk di salah

    satu kursi di sudut ruangan berdinding

    kaca. Sesekali aku melihat ke arah luar,

  • mencari batang hidung mas Hendra. Aku

    memasang senyum melihat dosen muda yang

    melintas. Beliau adalah dosen kuliah kami

    hari ini. Beliau memang disiplin. Saking

    disiplinnya, beliau sering menunggu

    mahasiswanya yang datang. Mungkin itu

    salah satu sebab beliau bisa mencapai

    kesuksesan di usia muda. Yaitu disiplin

    dan bisa mengelola waktu dengan baik.

    Aku kembali memasang senyum,

    menyambut kedatangan mas Hendra yang

    tampak semangat. Wajahnya terlihat segar,

    seperti wangi parfum yang dia pakai hari

    ini.

    Gimana tidurmu semalam? ucapnya

    membuka pembicaraan sembari duduk di

    sebelahku.

    Nyenyak mas.

    Jawabku dengan senyum singkat.

  • Maaf ya akhir-akhir ini aku agak

    sibuk, soalnya lagi banyak urusan. Hari

    ini aku kuliahnya juga cuma sebentar, mau

    pamit sama pak Dani dulu ujarnya, sambil

    merapikan lengan baju panjangnya.

    Emm...memangnya mau pergi kemana

    mas?

    mas mau ke...

    Eh Hendra, Widia. Kalian ngapain

    mojok disitu? Ayo cepat masuk kelas.

    Kuliah sudah dimulai tuh! tegur Bowo

    sambil menarik lengan Hendra menuju kelas.

    Aneh, Bowo seperti sengaja memotong

    obrolan kami. Ya sudahlah, mereka kan

    teman karib. Mungkin Bowo tidak ingin

    temannya itu terlalu lama mengabaikan

    kelas kuliah yang sudah dimulai sejak

    beberapa menit yang lalu.

    ***

  • Sejak hari itu, mas Hendra semakin

    jarang menemuiku. Hanya pesan-pesan

    singkat yang mengingatkanku untuk makan,

    istirahat, mengerjakan tugas. Dia

    membuatku merasa kehilangan.

    Jika aku bertanya, sebenarnya mas

    Hendra sibuk apa? Dia menjawab Mas

    sedang sibuk buat masa depan. Lalu jika

    aku bertanya, Masa depan gimana

    maksudnya? Dia menjawab, Masa depan yang

    mas inginkan. Semua jawaban itu tidak

    menjawab rasa penasaranku.

    Aku masih bertanya-tanya, tapi aku

    tidak ingin mencurigai mas Hendra. Mungkin

    karena skripsinya yang sulit sehingga

    menghabiskan banyak waktu dan pikiran.

    Iya, aku harus percaya sama mas Hendra.

    Aku harus bisa mengerti dia disaat dia

    sibuk seperti ini.

  • Aku menghela nafas. Menyusul ketiga

    temanku yang berjalan menuju kantin.

    Mereka adalah Ana, Dina dan Ulya. Kami

    duduk berhadapan di meja persegi panjang

    yang siap menjadi lahan untuk santapan

    kami. Kami adalah teman sejak ospek.

    Pertemanan kami tidak terlalu dekat, hanya

    sekadar teman biasa yang sering makan

    bersama di kantin.

    ini ya, yang namanya Widia?Suara

    wanita menghentikan gurauan kami.

    Kami memandangi wanita cantik itu.

    Wanita itu berdiri tepat di hadapanku,

    bersama kedua temannya.

    iya. Aku Widia. Kamu siapa? kataku

    sambil menatap mata lentiknya yang terbuka

    lebar.

    Gue Ratna. Jawabnya dengan nada

    ketus.

  • Wajahnya menyiratkan kebencian. Meski

    begitu wajahnya tetap cantik dengan

    pulasan make up tipis. Tubuhnya tinggi dan

    ramping. Sangat apik dengan balutan dress

    warna biru yang membuat kulitnya terlihat

    cerah. Tapi sayang, dia kurang tahu sopan

    santun. Sehingga mengurangi aura

    kecantikannya yang elok.

    Kayaknya aku gak kenal sama kamu

    Ratna. Ada apa ya? tanyaku lagi.

    Tidak ada apa-apa. Cuma mau

    memberikan ini. katanya sambil

    menyodorkan amplop berwarna coklat.

    Aku menerimanya dengan wajah yang

    masih bertanya-tanya. Menatap wajah gadis

    cantik itu lekat-lekat. Antara terpesona

    dan heran. Gadis itu lantas melangkah

    pergi di susul dengan kedua temannya.

    Melenggak lenggok hingga membuat beberapa

    lelaki tercekat melihatnya. Suara hak

  • sepatunya perlahan menghilang, membuatku

    berhenti memandangi gadis cantik itu.

    Aku teringat dengan amplop yang ada

    di tanganku. Aku membukanya dengan rasa

    penasaran. Aku mengambil 2 lembaran foto

    di dalamnya. Memandangi dua orang yang ada

    di foto-foto itu.

    Aku terbelalak. Aku masih tidak

    percaya. Foto mas Hendra yang sedang asyik

    bersantap di sebuah kedai bersama wanita

    tadi. Apakah ini jawaban dari pertanyaanku

    selama ini? Apakah yang aku khawatirkan

    selama ini memang terjadi? Apa benar, mas

    Hendra tega membohongiku dengan cara

    seperti ini?

    Aku tidak menghiraukan komentar

    teman-temanku yang terdengar histeris

    melihat dua lembar foto itu. Pikiranku

    melayang jauh. Apakah mungkin mas Hendra

  • mempunyai hubungan khusus dengan wanita

    tadi?

    Aku beranjak pergi meninggalkan

    teman-temanku, mencari tempat untuk

    menenangkan diri.

    ***

    Aku termenung di atas kasur. Sudah

    dua hari aku menghabiskan waktu di kamar.

    Aku memutar-mutar HP yang sengaja aku

    matikan. Aku sengaja menghindar, sengaja

    diam dan membiarkan Hendra berpikir

    sendiri mengapa aku begini. Wanita lebih

    suka bila pasanganny mampu menebak apa

    yang ada dalam pikiran wanita, meskipun si

    wanita tahu bahwa hal itu menyulitkan

    pasangannya.

    Tok tok tok tok, kak tolong bukakan

    pintunya. Tolong kak, bukakan pintunya.

    Suara kurcaci-kurcaci itu membuatku tidak

  • tahan, dan memaksaku untuk membuka pintu

    kamarku. Dengan malas aku membukanya.

    Ha teriakku refleks melihat dua

    orang dengan wajah tertutup kain hitam

    berada di depan daun pintu bersama kedua

    adikku.

    waaa teriakku lagi ketika mereka

    dengan cepat menarik lenganku dan

    membawaku keluar rumah dan masuk mobil.

    Aku berteriak, namun kedua orang itu

    berusaha menutup mulutku dengan tangan

    kanannya. Tidak salah lagi, aku diculik!

    Lalu adikku, Mama, Papa. Bagaimana dengan

    mereka?

    Aku menenggerakkan seluruh badanku

    dengan sekuat tenaga. Aku berusaha untuk

    lepas dari tangan-tangan mereka tapi tidak

    berhasil. Sepertinya tangan yang menutup

    mulutku ini adalah tangan seorang wanita.

    Terlihat dari kukunya yang di cat dengan

  • apik dan cantik. Aku memegang tangannya

    yang halus, memandangi wajahnya yang

    tertutup kain hitam, hanya kedua matanya

    yang terlihat.

    Tidak lama setelah itu, mobil

    berhenti. Salah satu dari mereka menutup

    mataku dengan kain. Tangan yang bercat

    kuku cantik memegangi tanganku. Aku hanya

    pasrah karena mulai kelelahan, melangkah

    pelan dituntun dua orang tadi. Pikiranku

    panik, bercampur aduk. Akan dibawa kemana

    aku ini?

    Aku hanya diam ketika mereka

    memaksaku duduk di sebuah kursi. Mereka

    melepaskan kedua tangannya. Ini adalah

    kesempatan untukku lari dari sisni. Ya!

    Secepatnya!

    Dengan cepat aku membuka penutup mata

    dan segera bangkit dan berlari. Aku

    memandang sekeliling. Tempat apa ini? Aku

  • memutar arah pandanganku. Dari sudut kiri,

    sudut kanan, dan sisi atas ruangan ini.

    Ini bukan layaknya gudang atau rumah

    kosong tempat orang menyandera korbannya.

    Suasana yang asri dan damai dengan alunan

    musik balada yang perlahan memperlambat

    detak jantungku.

    Aku masih tidak mengerti. Tepat di

    atas meja mungil berbentuk bundar terdapat

    rangkaian bunga yang sangat cantik dan

    tiga lilin yang menyala.

    Sayang

    Suara yang amat aku kenal, diikuti

    dengan suara langkah kaki yang mantap. Aku

    menoleh, mencari asal suara itu. Astaga!

    Mas Hendra.

    Ma mas...Mas Hendra?

    Aku terkejut melihat wajah penuh

    senyum itu. Penampilannya sangat rapi

    dengan tatanan rambutnya yang kelimis.

  • hehe..kaget ya?

    a..apa ini maksudnya? Kenapa...

    Aku sedikit gugup dan malu karena

    menyadari penampilanku yang sangat

    berantakan. Aku hanya diam menunduk

    menunggu jawaban. Hanya menurut saja

    ketika aku di tuntun untuk duduk di sebuah

    kursi tepat di depan meja bundar. Aku

    memandangi penampilannya yang kali ini

    sangat mempesonaku. Dia duduk di depanku,

    dan kami bertatapan tepat di antara meja

    mungil yang berhiaskan lilin-lilin cantik.

    Sayang, mungkin ini terlalu cepat

    untuk sayang. Atau mungkin sayang masih

    ragu, tentang keseriusanku untuk

    menjadikanmu pendampingku. Beberapa hari

    ini mungkin sayang mencurigaiku dan ingin

    meninggalkanku. Mungkin sayang

    menganggapku tidak peduli dengan

    kelanjutan hubungan kita. Tapi, ada satu

  • hal yang harus aku katakan, dan kali ini

    sayang harus percaya.

    Jantungku berdebar. Lebih kencang

    jika dibandingkan dengan tragedi

    penculikan yang aku alami beberapa menit

    yang lalu. Dia berdiri, melangkah dan

    berhenti tepat di depanku. Tangannya

    meraih tanganku yang gemetaran, lalu

    menunuduk dan menjatuhkan lutut kirinya di

    lantai. Kedua bola mata kami saling

    berdekatan, lalu dengan perlahan dan hati-

    hati dia katakan.

    Sayangku Widia. Maukah kamu menjadi

    istriku?

    Aku tak dapat mengeluarkan suara. Ini

    seperti mimpi. Memoriku mengarah pada

    wanita cantik itu. Kedai ini. Astaga!

    Tidak salah lagi, ini kedai tempat mas

    Hendra terlihat mesra dengan wanita itu.

    Aku mencari kedua penculik yang ternyata

  • masih berdiri di belakangku. Aku

    terbelalak menyaksikan wajah mereka yang

    telah menanggalkan penutupnya.

    Ratna, Bo..Bowo?

    Aku setengah berteriak. Sungguh tak

    percaya dengan semua ini. Mereka tersenyum

    melihatku yang terbelalak tak menyangka

    semua ini adalah rencana mereka.

    Iya, aku Ratna. Aku sepupunya

    Hendra. Aku yang punya kedai ini. Jadi

    beberapa hari lalu kami sering ketemuan

    untuk persiapin drama ini. Hehehe. ucap

    Ratna dengan wajah yang tersenyum ramah,

    sangat berbeda dengan raut wajahnya saat

    kami bertemu beberapa hari yang lalu.

    Aku menitikkan air mata. Mungkin ini

    yang disebut menangis bahagia. Aku tak

    kuasa mengucapkan apapun selain memeluk

    mas Hendra. Aku tidak ingin sedikit pun

    jauh darinya.

  • Iya, aku mau mas jawabku kemudian,

    dengan penuh kemantapan.

    *Mahasiswa Sistem Informasi UMK

    Bulan tidak pernah membenci matahari.

    Begitupun matahari, ia tidak pernah membenci

    bulan.

    Mereka Saling memiliki, melengkapi, dan bersinergi.

  • Terimakasih Ibu

    Buah Tinta: Alfi Muhimmatul Fauziyyah*

    Mentari yang bersinar terang di ufuk

    timur memberikan semangat untukku. Hari

    ini adalah hari pertama aku sekolah. Aku

    punya teman baru, guru baru, dan

    lingkungan baru. Aku merasa senang, tapi

    aku takut jika teman-teman mengejekku. Aku

    berbeda dengan mereka. Kaki kiriku tidak

    bisa digunakan untuk berjalan. Aku pincang

    sejak lahir. Untuk berjalan aku harus

    menggunakan tongkat.

    Zaza, ayo sayang masuk ke dalam kelas

    kata Ibuku.

    Iiya bu, aku mencium tangan Ibu dan

    bergegas masuk ke dalam kelas.

    Ibu, Zaza masuk ke kelas dulu ya.

    Iya sayang, belajar yang rajin ya, ucap

    Ibu sampil mencium keningku.

  • Aku duduk di bangku paling depan

    dekat dengan meja guru. Kuperhatikan

    teman-teman dikelasku, mereka tidak ada

    yang cacat seperti aku. Mereka mempunyai

    dua kaki yang utuh. Mereka mempunyai fisik

    yang sempurna. Rasa takutku muncul

    kembali, aku takut jika teman-teman

    mengejekku karena aku cacat.

    Dari luar kelas terlihat perempuan

    muda berparas cantik sedang berjalan

    menuju ke dalam kelas. Dia adalah guru

    kelasku.

    Selamat pagi anak-anak. ucap bu

    guru ketika masuk ke dalam kelas.

    Selamat pagi bu guru, ucap semua siswa.

    Anak-anak, Ibu ucapkan selamat

    datang di SD Harapan Bangsa. Kalian adalah

    siswa terpilih dari ratusan siswa yang

    mendaftar di sekolah ini. Jadi, tepuk

    tangan untuk kalian semua.

  • Semua siswa tampak gembira seraya

    bertepuk tangan.

    Selanjutnya, Ibu akan memperkenalkan

    diri Ibu. Semua sudah siap mendengarkan bu

    guru?

    Yaaa bu. jawab siswa serempak.

    Baiklah, perkenalkan nama Ibu adalah

    Ana Silvia, anak-anak bisa memanggil bu

    guru dengan panggilan bu Ana. Nah,

    sekarang giliran anak-anak yang berkenalan

    dengan teman sebangku masing-masing ya,

    sebutkan nama lengkap kalian! pinta bu

    Ana.

    Aku pun berkenalan dengan teman

    sebangkuku.

    Hai namamu siapa? Aku Zaza Citra

    Putri, biasa dipanggil Zaza, ucapku

    sambil tersenyum.

  • Namaku Ila Saskia, jawab Ila dengan

    memalingkan muka.

    Aku sangat sedih karena Ila membalas

    dengan muka masam di wajahnya. Kenapa Ila

    seperti itu? Apa karena aku cacat, jadi

    dia tidak mau berteman denganku. Tapi aku

    kan tidak pernah minta dilahirkan dengan

    keadaan seperti ini. kenapa semua terasa

    tidak adil.

    Hai, namamu siapa? tiba-tiba

    terdengar suara anak laki-laki yang duduk

    di bangku nomor dua, tepat di belakang

    bangkuku. Aku menoleh kebelakang,

    Hai, namaku Zaza Citra Putri, namamu

    siapa?

    Aku Fahmi Najib, senang berkenalan

    denganmu. ucap Fahmi sambil tersenyum.

    Iya, aku juga senang berkenalan dengamu,

    tapi kamu tidak malu berteman denganku?

    kataku.

  • Aku senang berteman dengan siapa saja,

    termasuk denganmu. Mulai sekarang kita

    berteman ya? kata Fahmi.

    Iya, aku mau berteman baik denganmu.

    jawabku dengan tersenyum.

    ***

    Bel pulang sekolah berbunyi, aku

    menghampiri ibu yang sudah menungguku di

    gerbang sekolah. Sesampai di rumah, Ibu

    bertanya kepadaku.

    Za, hari pertama masuk sekolah pasti

    menyenangkan ya?

    Iya bu, hari ini aku berkenalan

    dengan bu guru dan teman-teman. Ada

    temanku yang sangat baik bu, namanya

    Fahmi. Dia tidak malu berteman dengan

    Zaza, padahal Zaza anak yang cacat.

    Eh, anak Ibu tidak boleh berkata seperti

    itu, setiap manusia yang diciptakan Allah

  • memiliki kekurangan dan kelebihan Zaza.

    Zaza harus bersyukur karena diberi Allah

    kecerdasan, diberi dua mata yang bisa

    melihat, dua tangan, dan diberi kesehatan.

    Itu semua adalah karunia Allah. Jangan

    karena Zaza cacat, Zaza jadi rendah diri.

    Allah tidak suka dengan orang yang rendah

    diri. Ibu sayang sama Zaza. Walaupun Zaza

    cacat, Ibu akan tetap menyayangi Zaza,

    karena Zaza adalah anak ibu yang paling

    baik. Mendengar kata-kata Ibu, aku tidak

    sedih lagi. Aku berusaha menerima

    keadaanku dengan ikhlas.

    ***

    Sudah satu bulan aku bersekolah,

    namun tidak banyak yang mau berteman

    denganku. Hanya Fahmi yang mau berteman

    baik denganku. Karena apalagi kalau bukan

    karena aku cacat. Aku memang berbeda

    dengan teman-temanku. Seperti pagi ini,

  • ketika jam olahraga aku hanya bisa melihat

    teman-teman dari jendela kelas.

    Bel masuk kelas berdering. Bu Ana

    masuk ke dalam kelas dengan membawa

    brosur. Aku penasaran dengan isi brosur

    yang dibawa Bu Ana.

    Anak-anak, Ibu membawa brosur yang

    berisi pengumuman penting. Dengarkan baik-

    baik ya. Dinas Pendidikan Kabupaten akan

    menyelenggarakan lomba menyanyi tingkat

    SD. Minggu depan sekolah kita akan

    mengadakan tes seleksi untuk memilih satu

    siswa yang akan mewakili sekolah dalam

    lomba tersebut. Ibu harap salah satu

    diantara kalian bisa mewakili sekolah kita

    untuk berpartisipasi dalam lomba

    tersebut.

    Mendengar pengumuman itu, aku senang.

    Aku ingin mengikuti lomba menyanyi itu.

  • Tapi, aku ragu. Aku menunduk dan

    memandangi kakiku.

    Sampai di rumah, aku bercerita kepada

    ibu.

    Bu, tadi bu Ana mengumumkan kalau

    akan diadakan lomba menyanyi tingkat SD

    se-Kabupaten. Zaza ingin ikut bu, tapi

    Zaza takut kalau orang-orang mengejek Zaza

    karena Zaza cacat.

    Lho...lho...lho...Zaza kok bilang

    begitu? Kan Ibu selalu bilang, Zaza itu

    sama dengan yang lainnya. Apalagi suara

    Zaza kan sangat merdu, jadi Zaza pasti

    bisa. Dan pastinya ibu akan selalu

    mendukungmu. Kata ibu lalu memelukku.

    Terimaksih bu, Zaza janji akan

    mengikuti tes seleksi itu. Zaza akan

    berusaha menyanyi dengan baik. ucapku.

    Tes seleksi pun dilaksanakan.

    Pesertanya banyak sekali. Tidak hanya dari

  • kelas satu, tetapi mulai kelas satu hingga

    kelas enam pun mengikuti tes seleksi ini.

    Kini, giliran aku menyanyi. Dengan tenang

    aku pun membawakan sebuah lagu yang sudah

    aku siapkan dari rumah. Tanpa kuduga,

    akhirnya pihak sekolah mengumumkan kalau

    yang akan mewakili sekolah untuk mengikuti

    lomba menyanyi adalah aku. Bahagianya

    diriku. Sejak hari itu, aku berjanji akan

    latihan setiap hari di rumah.

    ***

    Hari perlombaan itu tiba. Setelah

    berlatih selama dua minggu, kini aku

    berada dalam panggung lomba.

    Kita saksikan penampilan Zaza Citra

    Putri dari SD Harapan Bangsa. kata

    pembawa acara memintaku naik panggung.

    Pandanganku menyapu seluruh ruangan.

    Aku melihat ibu, Bu Ana, guru-guru dan

  • teman-teman di baris penonton sambil

    menyemangatiku.

    Aku akan menyanyikan sebuah lagu

    dari Hadad Alwi dan Farhan yang berjudul

    Ibu, lagu ini aku persembahkan untuk Ibuku

    tercinta. ucapku sebelum menyanyi.

    IBU

    Bersinar kau bagai cahaya yang selalu

    beriku penerangan

    Selembut sutra kasihmu kan selalu rasa

    dalam suka dan duka

    Kaulah Ibuku

    Cinta kasihku

    Terimakasihku tak kan pernah terhenti

    Kau bagai matahari yang selalu bersinar

    Sinari hidupku dengan kehangatanmu

    Bagaikan embun kau sejukkan, hati ini

    dengan kasih sayangmu

  • Betapa kau sangat berarti dan bagiku kau

    tak kan pernah terganti

    Kaulah Ibuku

    Cinta kasihku

    Terimakasihku tak kan pernah terhenti

    Kau bagai matahari yang selalu bersinar

    Sinari hidupku dengan kehangatanmu

    Kaulah Ibuku

    Cinta kasihku

    Pengorbananmu sungguh sangat berarti

    Kaulah Ibuku

    Cinta kasihku

    Terimakasihku tak kan pernah terhenti

    Kau bagai matahari yang selalu bersinar

    Sinari hidupku dengan kehangatanmu

    Aku mendengar sorak sorai tepuk

    tangan dari penonton ketika aku selesai

    menyanyi. Aku meneteskan air mata. Ibu

  • yang melihatku juga meneteskan air mata.

    Dalam hati aku berkata Terimakasih Ibu,

    Engkau yang selalu memberikan semangat

    kepadaku, kasih sayangmu begitu besar

    kepadaku.

    Kini tiba saatnya, panitia

    mengumumkan pemenang lomba. Jantungku

    berdegup kencang. Napasku seperti

    meloncat-loncat tak karuan. Dari atas

    panggung, juri membawa selembar kertas

    yang berisi nama pemenang.

    Juara I lomba menyanyi dimenangkan

    oleh Zaza Citra Putri dari SD Harapan

    bangsa kata juri dengan keras.

    Zaza, kamu menang. Kamu juara 1

    Zaza. Ucap ibu sambil memelukku. Aku

    tidak percaya.

    Terimakasih ya Allah, Engkau telah

    memberikan karunia yang begitu besar

  • padaku. Ucapku sambil meneteskan air

    mata. Aku sangat senang sekali.

    Aku sekarang sadar, aku tidak boleh

    rendah diri. Fisikku memang berbeda dengan

    teman-teman lainnya. Tapi aku juga bisa

    berprestasi. Sama seperti yang diucapkan

    oleh Ibu. Terimakasih Ibu, selama ini

    selalu menguatkanku.

    Gubug Impian, 31 Januari 2014

    *Mahasiswa PGSD

  • Ilustrasi :

    Imam 3 Koma

  • Rembulan Surga untuk Mama

    Buah Tinta: Khikmah Khusnia*

    Senja hari ini pancarkan energi yang

    maha dahsyat untukku. Kicauan burung pipit

    yang meramaikan halaman, mengingatkanku

    dimasa kecil yang sering bermain kejar-

    kejaran bersama teman-teman. Teman-teman

    memanggilku Alya. Gadis berkulit putih

    bersih dengan lesung pipi dan rambut

    berponi miring.

    Hai Al suara Dila memecah lamuanku.

    yuk ke mall ajak Dila.

    Males ah. Mendingan baca novel di

    rumah jawabku singkat.

    Emm, ya sudah, kita ngobrol saja

    ya, ucap Dila.

    Aku pun mengangguk pelan.

  • Setelah ngobrol banyak tentang masa

    kecil kita, akhirnya Dila pamit pulang.

    Terdengar suara Mama batuk-batuk di

    ruang tengah. Sedangkan dik Zahra asyik

    main game di ruang belajar. Ayah,

    merantau di Kalimantan dan sudah lima

    tahun tidak pulang.

    Suara adzan mulai menghiasi waktu

    magrib. Aku, Mama, dan dik Zahra sholat

    berjamaah di mushola. Kami baru dua bulan

    menjadi muallaf. Kami sekeluarga

    memutuskan untuk berpindah keyakinan

    setelah memperoleh pengalaman spiritual.

    Semenjak itu, kami mulai mendalami agama

    islam. Tak mudah menjalani hidup di

    lingkungan keluarga yang sebagian besar

    beragama non muslim. Apalagi semenjak

    keluarga kami berpindah keyakinan. Mereka

    menilai kami sesat, dan itu cukup

    menyakitkan bagi kami.

  • ###

    Aku menghampiri Mama yang sedang

    membaca koran di ruang tengah.

    Ma, jika aku pergi menuntut ilmu ke

    luar negeri, apa Mama mengizinkan?

    Tanyaku pada Mama.

    Apa? Ke luar negeri? Mama tidak akan

    mengizinkan kamu pergi. Yang Mama punya di

    dunia ini cuma kamu dan Zahra. Papa sudah

    pergi, apa kamu juga tega meninggalkan

    Mama? Pertanyaan Mama membuatku semakin

    kalah rayuan.

    Tapi Ma, aku bisa menuntut ilmu dan

    berkarier lebih leluasa. Aku akan buktikan

    pada Mama kalau aku bisa sukses Ucapku.

    Kalau hanya kuliah, Mama bisa

    membiayai kamu. Kamu tidak perlu kuliah ke

    luar negeri untuk mendapatkan beasiswa

    jelas Mama.

  • Kali ini Mama teguh pada

    pendiriannya. Tekadku sudah bulat. Aku

    harus tetap pergi keluar negeri untuk

    menggapai cita-citaku. Aku berpikir

    realistis hidup dari penghasilan berjualan

    di warung kopi itu sama sekali tidak

    menjanjikan. Beasiswa ini adalah

    kesempatan emasku untuk menuntut ilmu dan

    berkarier agar aku bisa meringankan beban

    Mama.

    ####

    Tante Risma tiba-tiba datang dan

    memaki-maki Mama.

    Kalian sebaiknya pergi dari rumah

    ini. Mana sertifikat rumah ini! Sudah

    bertahun-tahun hutang, tapi tidak

    dibayar! kata tante Risma.

    Bagai disambar petir di siang hari,

    kemarahan tante Risma membuat hatiku

    sangat rapuh. Aku tidak tahu apa yang

  • terjadi hingga tante Risma akan menyita

    rumah Mama. Sebanyak itukah hutang Mama

    hingga Mama harus menyerahkan rumah pada

    tante Risma.

    Mama tak berkutik. Mama hanya bisa

    menangis. Aku tahu bagaimana perasaan

    Mama. Aku bisa membaca kesedihan di wajah

    Mama. Mama yang aku kenal, adalah sosok

    wanita yang tidak banyak bicara. Mama

    lebih suka diam dan menyembunyikan

    kesedihannya dalam hati.

    Tante, Alya mohon, beri kami waktu

    tiga hari saja. Alya janji akan

    mengembalikan uang tante, Pintaku pada

    tante Risma.Tante Risma hanya memalingkan

    muka dan tidak bicara sedikitpun. Akhirnya

    tante Risma pulang dengan wajah kesal.

    Sebenarnya apa yang terjadi ma?

    Tanyaku sedikit mengintrogasi Mama.

  • Mama terpaksa berhutang kepada tante

    Risma untuk menebus obat Zahra saat dia

    opname di rumah sakit Jelas Mama.

    Mama menangis, air matanya tumpah.

    Sejujurnya aku rapuh melihat Mama seperti

    ini. Tapi aku tidak boleh ikut menangis.

    Aku tidak ingin Mama bertambah sedih.

    Ma, Alya mohon, izinkan Alya pergi

    ke luar negeri untuk menuntut ilmu Ma.

    Alya janji, Alya akan jaga diri. Alya juga

    akan berkarier disana. Alya ingin meraih

    cita-cita Alya. Alya tidak ingin Mama

    terus-terusan dihina mereka. Alya akan

    buktikan kalau Alya jauh lebih sukses dari

    mereka. Ma, Alya mohon, izinkan Alya

    pergi. Alya janji tidak akan menjadi

    beban Mama lagi. Jika Alya sukses, Alya

    akan membiayai kuliah dik Zahra. Aku

    memohon dan bersimpuh di kaki Mama sambil

    terisak-isak. Mama memegang erat tanganku

    dan menghapus air mata yang membasahi

  • pipiku. Mama terdiam. Aku tahu, Mama sudah

    mulai tak kuasa menghalangi niatku pergi.

    Mama mulai merangkai kata.

    Pergilah nak, kamu berhak meraih

    cita-citamu. Jaga dirimu ya nak. Semoga

    kelak kamu bisa sukses disana. ucap mama.

    ####

    Pasporku sudah siap. Dua hari lagi

    aku akan meninggalkan Indonesia. Aku tahu

    perasaan Mama. Mama pasti sangat sedih

    melepas kepergianku. Tapi ini adalah

    pilihan. Pilihan untuk masa depan keluarga

    kami.

    Ma, Alya berangkat ya. Doakan Alya

    pintaku pada Mama.

    Lagi-lagi Mama meneteskan air mata.

    Mama memelukku dengan pelukan yang sangat

    erat. Dik Zahra meraih tanganku. Aku tak

    henti-hentinya meneteskan air mata.

    Rasanya meninggalkan orang-orang terkasih

  • adalah siksaan berat. Tapi ini harus aku

    lakukan untuk masa depan keluarga kami.

    ####

    Aku bersyukur. Aku sudah tiba di

    Jerman. Aku mulai kuliah disalah satu

    universitas negeri disana. Nilaiku selalu

    cumlaude. Waktu berputar sangat cepat.

    Aktivitasku tidak hanya kuliah, aku juga

    bekerjasama di media cetak terkemuka di

    Jerman sebagai redaktur. Semenjak di

    Jerman, aku mulai tekun mempelajari dunia

    jurnalistik. Yang menjadi kebanggaanku

    disini, buku-buku terbitan Indonesia

    sangat memikat warga Jerman terutama

    novel-novel remaja. Kecintaanku pada dunia

    jurnalistik berawal dari kegiatan

    favoritku membaca banyak buku. Aku

    memiliki inspiring word Tanganku akan

    lepuh dimakan zaman, namun karyaku akan

    tetap bersinar dan abadi sepanjang zaman.

  • Itulah inpiring word yang membuatku

    terus berkarya.

    Aku tak pernah absen mengirim email untuk

    Mama. Seminggu, hampir tiga kali aku

    mengirim email untuk Mama. Menanyakan

    kabar Mama, kesehatan Mama, perkembangan

    warung kopi Mama, kabar dik Zahra, dan

    masih banyak lagi. Aku juga sering

    mengirimkan uang bulanan untuk Mama. Agar

    Mama bisa tetap bertahan hidup dan

    membiayai sekolah dik Zahra di Indonesia.

    ####

    Hari ini aku wisuda. Aku diwisuda

    tanpa kehadiran Mama. Rasanya

    kebahagiaanku sedikit musnah tanpa

    kehadiran Mama disisiku. Rasanya iri,

    melihat teman-teman mendapat rangkaian

    bunga dan ucapan selamat dari orang-orang

    terkasih. Sedangkan aku tak ada yang

    memperhatikan.

  • Dear, dont be sad. Be happy, Im

    beside you kata Fahmi padaku.

    Fahmi itu teman sejati untuk

    menumpahkan segala keluh kesahku selama

    aku di Jerman. Dia juga dari Indonesia.

    Tetapi dia jauh lebih beruntung daripada

    aku. Karena dia kaya raya. Namun dia tak

    pernah membangga-banggakan kekayaan yang

    dimilikinnya. Dia sangat baik padaku.

    ####

    Aku masih menetap di Jerman. Aku

    menjadi asisten dosen disini dan

    mendapatkan beasiswa S2. Jadi, aku tidak

    akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Tak

    hanya itu, sekarang aku mulai menata hidup

    lebih religius. Aku memutuskan untuk

    behijab. Hidayah untuk berhijab telah

    memelukku. Aku sadar bahwa menutup aurat

    adalah kewajiban bagi muslim maupun

    muslimah.

  • Ini adalah persembahan terindah untuk

    Mama. Mama pantas untuk menerima kado

    terindah ini. Ya, aku memberangkatkan Mama

    haji. Aku ingin membuat Mama bahagia.

    Membahagiakan wanita yang melahirkanku,

    merawatku, membesarkanku dengan cinta dan

    kasih yang sangat tulus, mengirimkan doa-

    doa yang sangat berpengaruh dalam hidupku

    sehingga aku bisa sukses.

    ####

    Doakan Mama nak, hari ini Mama akan

    berangkat ke tanah suci. Terima kasih ya

    nak. Mama akan selalu mencintaimu kata

    Mama saat aku menelpon beliau.

    Aku sangat bahagia dan terharu. Aku

    turut merasakan kebahagiaan Mama. Sejak

    dulu, Mama ingin sekali berangkat haji.

    Karena faktor biaya, Mama selalu menghapus

    niatnya itu.

    ####

  • Dik Zahra sudah semester tujuh. Aku

    pun sudah sukses di Jerman. Aku memutuskan

    untuk kembali ke Indonesia.

    Mbak, cepat pulang, Mama sakit Dik

    Zahra menelponku dengan nada cemas.

    Aku pun segera menuju Indonesia.

    Tangisku pecah kala aku memadang

    rumah mungilku dipenuhi tetangga yang

    membaca surat yasin. Tampak tante Risma

    membawa dua keranjang bunga segar, dan pak

    dhe Toni memegang keranda jenazah.

    Ternyata, wanita yang ada dibalik

    keranda jenazah itu adalah wanita yang

    sangat aku rindukan, wanita yang sangat

    aku cintai, wanita yang selalu membelaiku

    dengan kasih sayang, dan wanita yang

    berpengaruh dalam kesuksesanku. Kenapa

    kedatanganku harus dibayar dengan

    kepergian Mama?

    Jika boleh aku ingin bertanya kepada Allah

  • Kenapa menjemput Mama secepat ini?

    Aku bahkan belum mampu mengeja kenangan,

    tapi Mama sudah pergi.

    Aku hanya bisa menangis di makam

    Mama. Sulit melepas kepergian Mama. Aku

    yakin, Mama berada ditempatNYA yang paling

    indah.

    Aku hanya bisa memandang rembulan

    yang memancarkan sinar terangnya tiap

    malam. Aku pernah ingat perkataan Mama

    sewaktu aku masih kelas tiga SD.

    Lihatlah rembulan itu sayang, disana

    ada bidadari yang cantik jelita ucap

    Mama.

    Pasti bidadari itu tidak kalah

    cantik dengan Mama Jawabku kala itu.

    Memandang rembulan itu sebetulnya

    belum cukup melepas kerinduanku pada Mama.

  • Setiap malam, aku memandang rembuan dan

    berkata, Aku merindukanmu Ma, aku

    mencintai Mama.

    Semoga Mama bahagia di rembulan

    surga, karena rembulan surga itu hanya

    untuk Mama. Mama yang paling aku cinta.

    Mama itu ibarat lautan tanpa tepi, gunung

    tanpa kerucut, kerinduan tanpa batas,

    cinta tanpa lelah, kasih tanpa celah

    Rumah Sastra, 28 Maret 2014

    *Mahasiswa PGSD Semester 4

  • Bagaimanapun,Dia Adalah

    Anakku

    Buah Tinta: Rina Noviana*

    Sore itu, langit tampak marah padanya.

    Dia tetap duduk manis menanti belas kasih,

    terus saja meratapi nasib buruknya.

    Hidupnya bagaikan runtuhan angan yang

    pernah bergelayut dalam pikirannya. Ia

    habiskan masa hidupnya dari belas kasih

    pemuda-pemudi yang lalu lalang

    dihadapannya. Setiap hari recehan uang ia

    kumpulkan di kotak kue usang. Warnanya

    sudah menguning, sebagian sudah berubah

    coklat dengan bau yang cukup menyengat.

    Hidupnya tampak mengenaskan ketika ia

    harus menerima kenyataan. Anak laki-

    lakinya pergi darinya. Badrun nama

    anaknya, anak laki-laki yang tak tau diri.

  • Setiap malam dia pulang dengan tubuh yang

    sempoyongan. Matanya buta oleh nikmat

    dunia yang selalu menggerogoti tubuhnya.

    Darimana saja kau nak? tanyanya

    sambil memegang lengannya.

    Awas kau, tua renta busuk. ucapnya

    sembari mendorong ibunya ke lantai.

    Dia pun akhirnnya tersungkur ke

    lantai, kepalanya terbentur meja yang

    lancip, cairan deras mengalir dari

    pelipisnya.

    Melihat ibunya terkapar di lantai,

    Badrun pun hanya bisa nyengir kecut sambil

    terus mengumpat. Dia merasa kesenangannya

    terusik.

    ***

    Lasih adalah wanita yang membuatnya

    seperti itu. Dia adalah penari jaipongan

  • di desa Sukamenak. Dialah sang idola para

    lelaki. Goyangannya yang aduhai membuat

    para lelaki tergila-gila padanya. Badrun

    kecewa pada Lasih karena melihat Lasih

    kencan dengan juragan Muji. Kemudian ia

    lampiaskan kemarahannya dengan menenggap

    miras.

    Semenjak saat itu kelakuan Badrun

    menjadi berangas dan tak terkendali. Tanpa

    pikir panjang dia kerap kali memukuli

    ibunya. Tubuh renta sang ibu tak kuasa

    menahannya. Kerap kali ia harus terkapar

    tak berdaya.

    Selang satu bulan dari malam itu,

    Badrun mengulangi perbuatannnya. Dia ketuk

    triplek yang menutupi rumahnya dengan

    kuatnya. Sampai akhirnya pintu itu lepas

    dari engsel yang menopangnya. Badrun pun

    mencari ibunya. Namun ibunya tak kunjung

    ia temukan.

  • ***

    Terseok-seok ia berjalan menjauh dari

    rumah. Tubuh rentanya kini sudah tak lagi

    bisa menerima perlakuan buruk anaknya. Dia

    pergi menjauh, menjauh untuk selamanya.

    Dia berjalan entah kemana, yang terpenting

    ia tak bertemu dengan Badrun.

    Andai saja Badrun menemukannya,

    habislah hidupnya. Badrun yang tak kunjung

    menemukannya akhirnya mengamuk dan

    membanting semua barang yang berada di

    rumah. Akhirnya ia sampai ke dapur dan

    mengambil benda mungil itu.

    Benda yang berwarna putih itu siap

    mengoyak semua isi perut sang ibu. Badrun

    keluar dengan menggenggam pisau yang

    sangat tajam.

    Dia berlari kencang mencari tubuh tua

    yang tak berdaya. Tubuh yang bertahun-

    tahun merawatnya kini menghilang dari

  • tatapannya. sampai tengah malam ia mencari

    dan hasilnya pun tetap sama, ia tak

    menemukannya juga.

    Karena bingung mau melakukan apa, ia

    menemui Lasih di kontrakannya. Lasih hidup

    sendiri, dia janda yang mempunyai anak

    satu, namun kecantikannya tak pernah

    memudar meskipun sudah memiliki seorang

    anak.

    Dengan membabi buta Badrun merangsek

    masuk kedalam kontrakan Lasih. Lasih yang

    sedang asyik menonton TV kaget dan

    langsung menatapnya. Tatapannya penuh

    dengan tanda tanya.

    Apa yang ingin ia lakukan disini?

    itulah pertanyaan yang langsung muncul

    dalam benakn Lasih.

    ***

    Melihat Lasih yang berdiri mematung,

    ia pun akhirnya menghampirinya. Setelah

  • tubuhnya lurus berdiri dihadapan Lasih, ia

    ayunkan pisau yang sedari tadi ia

    sembunyikan di balik punggungnya.

    Lasihpun tumbang, mulutnya

    memuncratkan darah segar, bercaknya

    terhempas ke tubuh Badrun. Kaos hijau yang

    melekat ditubuhnya kini berwarna merah

    terang. Melihat pujaan hatinya terkapar

    tak berdaya, badrun berteriak kencang.

    Menangis, dan terus menangis sambil

    memeluk tubuh Lasih. Dia tak percaya

    dengan apa yang dilakukannya. Orang yang

    ia sayang kini mati digenggamannya.

    Pisau yang sedari tadi tertancap di

    perut Lasih ia cabut. Tanpa berpikir

    panjang akhirnya ia pun melakukan hal yang

    sama pada dirinya. Ia tancapkan sendiri

    pisau itu tepat di dadanya, tepat di

    jantungnya.

  • Kini kontrakan Lasih bagaikan lautan

    darah, disana tergeletak dua tubuh yang

    tak bernyawa.

    ***

    Anak kecil itu keluar dari kamar

    mandi. Ia histeris melihat tubuh ibunya

    yang berdarah. Seketika itu ia menjerit,

    tetangga yang mendengar jeritan itu

    langsung berdatangan ke kontrakan Lasih.

    Mereka tak percaya dengan apa yang sedang

    mereka lihat. Lasih dan Badrun sudah

    menjadi mayat.

    Berita kematian Badrun pun akhirnya

    sampai ke telinnga ibunnya. Ia pun

    akhirnya kembali ke desa, niatnya ia

    urungkan.

    Dilihatnya tubuh anaknya yang

    tergeletak di atas papan di dalam rumah.

    Sontak ia pun berlari menghampirinya. Ia

  • ciumi jenazah anaknya. Tak henti-hentinya

    ia menangisi kepergianya.

    Putra Lasih yang masih kecil kini ia

    yang harus merawatnya. Itulah yang bisa ia

    lakukan atas perbuatan anaknya. Lasih tak

    mempunyai saudara, ia anak tunggal, mau

    tak mau dialah yang harus merawatnya.

    Dengan uang hasil mengemisnya, ia kini

    menghidupi seorang anak mungil yang

    hidupnya bertumpu padanya.

    *Mahasiswa Teknik Informatika

  • Ilustrasi :

    Rayhan Taufik

  • Namaku Kartini

    Buah Tinta: Dessy Trianasari*

    Namanya Kartini, ia adalah anak

    perempuan satu-satunya di keluarganya.

    Kartini tulang punggung keluarga, ia anak

    sulung. Walaupun hanya lulusan SMA, ia

    anak yang sangat cerdas. Kartini tidak

    punya biaya untuk meneruskan ke perguruan

    tinggi. Tapi ia bertekad untuk menjadikan

    adiknya orang yang sukses. Kartini ingin

    adiknya belajar sampai lulus perguruan

    tinggi.

    Kartini memang bukan orang kaya, ia

    hanya pembuat dodol. Orang tuanya sering

    sakit-sakitan. Hanya ia yang menjadi

    andalan keluarga untuk menopang biaya

    sehari-hari.

  • Kartini, ayah dan ibu merasa bukan

    orang tua yang baik untukmu dan adikmu

    Firman. kata Ayah Kartini.

    Tidak Ayah. Kartini tahu keadaan

    ayah dan ibu sekarang. Kalian sering

    sakit-sakitan. Kartini bisa membiayai

    keluarga kita kok yah. Ayah tenang saja

    ya, kata Kartini.

    Ayahnya tersenyum mendengar perkataan

    Kartini. Ayahnya mendoakan agar Kartini

    sukses dalam bisnisnya membuat dodol.

    Setiap pagi, ia bangun pukul 3 pagi

    untuk meracik dodol. Terkadang ibunya juga

    membantu dalam meracik dodol. Dalam

    membuat dodol, yang paling berat adalah

    saat mengaduk dodol agar adonannya matang

    dan kental. Setelah matang, dodol

    dituangkan ke dalam baskom dan ditunggu

    hingga dingin. lalu dicetak kecil-kecil

    dan dibungkus pada kertas seperti permen.

  • Seperti itulah yang dilakukan Kartini

    dalam membuat dodol setiap harinya.

    Setelah dodol siap, ia memasarkan ke toko-

    toko langganannya. Ada sepuluh toko

    langganannya. Setiap harinya ia mengayuh

    sepeda berkilo-kilo meter untuk

    mengantarkan dodol ke toko-toko

    langganannya.

    Bu, ini dodolnya, 50 bungkus ya bu.

    Dodol yang kemarin masih atau sudah habis

    bu? kata Kartini.

    Dodol yang kemarin sudah habis mbak,

    ini uang hasil penjualannya, Rp 34.000,00.

    Saya sudah ambil upah saya, kata si

    pemilik toko.

    Ya bu, terimakasih, kata Kartini.

    Setelah itu Kartini langsung pergi

    menuju toko-toko selanjutnya. Selain

    dipasarkan, ia juga menjualnya sendiri

    keliling kampungnya. Setiap harinya ia

  • bisa menjual 30 bungkus dodol. Biasanya ia

    sampai di rumah pukul 5 sore.

    Setelah sampai rumah ia mandi dan

    memasak untuk keluarganya. Setelah memasak

    ia mencuci baju dan membimbing adiknya

    belajar yang sekarang duduk di bangku SMP

    kelas VIII. Ia baru benar-benar istirahat

    pukul 11 malam. Padahal ia harus bangun

    kembali pukul 3 pagi.

    Ia melakukannya dengan senang hati,

    tanpa mengeluh sedikitpun. Terkadang ia

    merasa iri dengan teman-temannya yang bisa

    kuliah di perguruan tinggi. Ia ingin

    seperti teman-temannya. Tapi ia harus

    memenuhi biaya sehari-hari keluarganya. Ia

    selalu berdoa agar suatu saat ia juga bisa

    kuliah seperti teman-temannya. Ia berpesan

    kepada adiknya agar adiknya belajar lebih

    keras lagi. Karena Kartini ingin adiknya

    menjadi sarjana dan sukses dikemudian

    hari.

  • Firman, kamu harus rajin belajar ya.

    Kamu tidak perlu memikirkan kakak, kakak

    bisa menopang biaya sehari-hari kita,

    kata Kartini.

    Firman janji kak, Firman akan

    memenuhi keinginan kakak. Firman sayang

    kakak, ayah dan ibu, kata Firman sambil

    memeluk kakaknya.

    Firman anak yang cerdas seperti

    kakaknya. Ia sering mendapat peringkat

    satu di sekolahnya. Bahkan ia mendapatkan

    beasiswa dari sekolahnya karena mendapat

    peringkat satu. Kartini bangga sekali

    punya adik seperti Firman. Ia akan

    melakukan apapun demi kesuksesan adiknya

    kelak. Walaupun ia hanya lulusan SMA, tapi

    ia berharap adiknya bisa lulus sampai

    perguruan tinggi dan mempunyai pekerjaan

    yang mapan.

  • Firman, kalau kamu nanti jadi orang

    yang sukses, jangan sombong ya. Ingatlah

    perjuangan kakak dan orang tua kita untuk

    menyekolahkan kamu, pesan Kartini.

    Insyaallah kak, semoga aku bisa

    memenuhi amanat kakak, kata Firman.

    Amin jawab Kartini.

    Tak terasa malam semakin larut.

    Waktunya mereka untuk tidur karena besok

    pagi mereka harus melakukan rutinitas

    masing-masing. Ketika mereka beranjak

    tidur terdengarlah suara ibunya yang

    sedang batuk-batuk di kamarnya. Saat itu

    ayahnya sedang sholat di ruangan dekat

    dapur. Merekapun menemui ibu mereka.

    Betapa kagetnya mereka saat melihat tangan

    ibunya penuh dengan darah. Ternyata ibunya

    terjangkit penyakit TBC.

  • Ibu, mengapa tidak bilang sama

    Kartini kalau ibu terkena TBC? Kita ke

    rumah sakit ya bu? ajak Kartini.

    Nak, ibu tidak apa-apa. Ibu sudah

    berobat ke mantri ujung jalan nak.

    Sebentar lagi pasti sembuh, jawab Ibu

    Kartini.

    Tidak bu, Ibu harus ke rumah sakit.

    Biar dokter yang akan memeriksa ibu, kata

    Kartini.

    Nak, sudahlah. Ibu tidak mau

    merepotkan kamu. Nanti uangmu habis untuk

    perawatan ibu nak. Ibu tidak apa-apa.

    jawab Ibu Kartini.

    Kali ini ibu harus menuruti

    permintaan Kartini ya. Kartini bisa

    mencari uang bu. Tabungan Kartini masih

    cukup jika digunakan untuk berobat ke

    rumah sakit, kata Kartini dengan nada

    memaksa.

  • Karena Kartini memaksa. Akhirnya

    ibunya mau dibawa ke rumah sakit.

    Sesampainya di rumah sakit, ibunya

    langsung ditangani oleh dokter spesialis

    penyakit dalam. Semenjak ibunya di rumah

    sakit, Kartini harus bolak balik ke rumah

    sakit bersama ayahnya. Sedangkan adiknya

    di rumah sendiri.

    Firman, kamu di rumah ya. Biar kakak

    dan ayah yang pergi ke rumah sakit, pesan

    Kartini.

    Iya kak. Hati-hati dijalan ya, kata

    Firman sambil mencium tangan Ayah dan

    Kartini.

    Firman berharap ibunya lekas sembuh,

    agar ia bisa berkumpul bersama ibunya

    kembali.

    Semakin hari kondisi ibu semakin

    parah. Sehingga dokter harus menanganinya

    secara intensif. Segala usaha telah dokter

  • lakukan, namun tuhan berkehendak lain. Ibu

    Kartini meninggal dunia.

    Pak, saya sudah berusaha semaksimal

    mungkin. Tapi maaf pak saya tidak bisa

    menyelamatkan nyawa ibu, kata sang

    dokter.

    Apa dok, tidak mungkin. Tolong dok,

    dokter pasti salah. Istri saya pasti bisa

    tertolong. Saya akan bayar berapapun agar

    istri saya sembuh dok, pinta Ayah

    Kartini.

    Tapi maaf pak, saya sudah berusaha

    semaksimal mungkin. Tapi Tuhan berkata

    lain. Bapak dan anak-anak harus ikhlas,

    kata sang dokter.

    Kartini berusaha menenangkan hati

    Ayahnya. Setelah ayahnya tenang, Kartini

    segera mengurusi makam sang ibu. Kartini

    tidak menyangka bahwa ibunya akan

    meninggal secepat itu. Kartini dan Ayahnya

  • pulang untuk menyiapkan liang lahat untuk

    sang ibu. Sesampainya di rumah betapa

    kagetnya Firman setelah mendengar bahwa

    ibunya meninggal.

    Firman, kamu yang tabah ya nak. Ibu

    sudah tenang di alam sana. Ibu sudah

    terbebas dari penyakit TBC nya, kata ayah

    Kartini.

    Apa yah, tidak mungkin. Aku ingin

    melihat ibu, mana ibu yah? kata Firman

    sambil menangis.

    Firman, jasad ibumu masih di rumah

    sakit. Nanti setelah dimandikan, ibu

    dibawa pulang ke rumah. Kamu yang sabar

    Firman. Buat ibu tersenyum di alam sana,

    kata Kartini sambil memeluk adik

    tercintanya.

    Setelah almarhumah ibu sampai di

    rumah, Firman langsung memeluk tubuhnya.

    Firman tak kuasa menahan tangis.

  • Firman, kamu harus ikhlas ya, agar

    ibu tenang di alam sana, kata kartini.

    iya kak, Firman akan ikhlas kak.

    Jawab firman dengan nada sedih.

    Banyak sekali yang melayat di

    rumahnya saat itu. Tamu pun semakin banyak

    yang datang silih berganti. Hingga ibunya

    dimasukkan ke liang lahat pun masih banyak

    yang melayat di rumahnya.

    Keluarga Kartini melakukan tahlilan

    selama tujuh hari. Setelah acara tahlilan

    selesai, Kartini baru merasa kesepian

    karena ditinggal ibunnya. Ia melihat album

    foto saat ia masih kecil, ia digendong

    sang ibu. Kartini mencium foto-foto sang

    ibu sambil menangis. Betapa berharganya

    sang ibu di mata Kartini. Tapi ia tak

    boleh larut dalam kesedihan. Ia harus

    bangkit mewujudkan cita-citanya

  • menyekolahkan sang adik hingga lulus

    perguruan tinggi.

    Keesokan harinya, seperti biasa ia

    bangun pukul 3 pagi untuk membuat dodol.

    Ayahnya pun ikut membantu Kartini

    menyiapkan bahan-bahan buat dodol. Setelah

    dodol siap dipasarkan. Ayahnya ikut

    membantu mengantarkan dodol ke toko-toko

    langganannya.

    Tiga tahun sudah Kartini berbisnis

    dodol. Hingga pada akhirnya ia dan ayahnya

    membuat toko sendiri di depan rumahnya.

    Semakin lama penjualan dodol Kartini

    semakin berkembang pesat. Hingga pada

    akhirnya ia membuat cabang di luar kota.

    Cabang itu dikelola oleh saudara sepupunya

    bernama Tuti.

    Dari bisnis yang berkembang pesat

    tersebut, ia bisa menyekolahkan Firman

    hingga lulus Perguruan tinggi. Firman

  • lulus dengan predikat cumlaude di jurusan

    dokter anak. Firman bekerja di rumah sakit

    besar di jakarta. Selain itu, Kartini bisa

    membeli rumah elit, mobil mewah hingga ia

    bisa melanjutkan perguruan tinggi.

    Walaupun umurnya tak semuda teman-temannya

    tapi ia percaya diri. Baginya untuk

    mendapatkan ilmu tidak ada kata terlambat.

    Kartini akhirnya lulus dengan nilai

    memuaskan. Ia menjadi sarjana ekonomi.

    Sekarang kehidupan keluarga Kartini benar-

    benar berubah. Ia berharap ibunya senang

    melihat kesuksesan Kartini sekarang. Dalam

    hidup memang butuh perjuangan untuk

    mewujudkan impian. Begitu juga dengan

    kartini. Mimpinya menjadi kenyataan. Ia

    bisa kuliah dan sukses.

  • Ada Di Ketika Kau

    Tanya Mana

    Buah Tinta: Pranata Wahyu*

    Seorang wanita datang padaku sambil

    membawa buah-buahan segar di keranjang

    menjalin yang terbuat dari bambu berwarna

    coklat tua kehitam-hitaman. Ia membawa

    buah yang tampak segar dan berbagai macam

    jenisnya. Keranjang itu dihias dengan pita

    yang cantik, dibuat melengkung di beberapa

    bagian sudutnya. Pita merah itu mengikat

    erat pada plastik yang tembus pandang

    bergambar bunga-bunga yang menyelimuti

    keranjang kecil berbentuk oval, dengan

    gagang melengkung di atasnya.

    Baru kali ini aku melihat wanita itu

    membawanya sambil berdandan rapi di

  • depanku. Ia tampak mengenakan Saree1

    berwarna merah. Kepala berambut panjang

    yang tergerai ke samping dan berkenakan

    anting kecil pada kedua telinganya yang

    menambah manis penampilannya.

    Sehari-hari biasanya aku tak pernah

    melihatnya seperti ini. Ia tampak berubah

    sekarang, menjelma bak seorang puteri dari

    negeri Gandhi2 yang sedang salah jalan

    karena tersesat. Atau mungkin memang ia

    sedang ingin menunjukkan sisi cantik dari

    seorang wanita yang selama ini aku kenal

    sebagai perempuan tomboy. Perempuan yang

    11Saree ialah jenis kain yang dipakai wanita di

    negara India, Bangladesh, Nepal, dan Sri Lanka.

    Sari adalah pakaian yang terdiri dari helaian kain

    yang tidak dijahit, variasinya beragam dengan

    panjang 4-9 meter yang dipakaikan di badan dengan

    bermacam-macam gaya. Jenis yang paling umum adalah

    sari yang dililitkan di pinggang, dengan ujungnya

    yang disangkutkan dari bahu ke punggung belakang. 2Negeri Gandhi yang di maksud adalah Negeri India

    yang mana tempat Mohandas Karamchand Gandhi lahir

    pada tanggal 2 Oktober 1869 di Porbandar, Gujarat,

    India.Ia adalah seorang aktivis yang memperjuangkan

    kemerdekaan India dan juga menentang segala macam

    bentuk kekerasan (ahimsa).

  • sehari-harinya memakai celana rombeng di

    bagian dengkul dan kaos oblong yang kerap

    menyertainya kemanapun ia pergi.

    Ia berjalan semakin mendekatiku, aku

    tampak bingung, apa yang harus aku

    lakukan. Sepertinya ia memang berusaha

    menuju kearahku. Pelan tapi pasti ia akan

    sampai di depanku. Nafasku semakin

    melambat dan detak jantungku semakin

    kencang mengetuk. Aku memang merasakan hal

    yang beda sejak awal, aku tidak bisa

    mengendalikan aliran darah ini untuk

    berjalan seperti biasa. Yah, biasanya aku

    tak dapat merasakan sendiri desir darah

    yang mengalir disekujur nadi ini. kali ini

    lain.

    hei sapanya.

    waoww jawabku kaget dengan terkagum

    saat pandanganku yang sudah terkonsentrasi

    buyar oleh sapanya yang lembut.

  • ini Ia sambil menyodorkan parcel

    itu kepadaku dengan badan agak menunduk.

    Selendang Saree-nya yang melingkar di

    leher tampak sedikit melorot, begitu pula

    rambutnya yang panjang mengayun kebawah

    mengikuti arah gravitasi bumi. Mengayun

    perlahan. Perlahan pula nafasku

    menghembus.

    Sepertinya aku disihirnya, aku

    mengulurkan tangan begitu saja untuk

    menerima hadiah darinya. Walau aku tak

    tahu apa maksud darinya membawakanku

    sebingkis parcel yang tak biasa ia lakukan

    sebelumnya.

    Uluran tanganku perlahan menyentuh

    tangannya yang masih terasa kasar, tapi

    aku acuhkan itu, karena ia bisa

    menutupinya dengan wangi tubuhnya yang

    semerbak keseluruh ruangan.

  • Terakhir kali aku ingat bagaimana ia

    menyentuh tangan ini. Aku menepis uluran

    tangannya untuk membantuku bangun saat aku

    tersandung di sebuah selokan kecil. Aku

    tampik bantuan itu dengan kasar. Aku

    mengira laki-laki tak perlu bantuan wanita

    untuk urusan apapun. Laki-laki harus bisa

    semuanya sendiri termasuk mencuci piring

    jika perlu pembuktian.

    Memang aku sedang disihir. Aku tak

    ingat lagi ketika ia tawarkan parcel itu

    di depanku. Ini berarti ia berikan dengan

    ikhlas, ia tak takut tanganku menampik

    niat baiknya lagi untuk kedua kalinya.

    Mungkin ia sudah berpikir puluhan kali

    sebelum benar-benar datang kerumah ini.

    Atau aku yang terlalu kagum pada

    sosok wanita yang memberikan warna yang

    berbeda selepas senja tadi. Ia dapat

    mengubah cara pandangku pada sosok wanita

    lain di dunia ini yang selama ini aku

  • kenal angkuh. Penuh teka-teki dan hanya

    inginkan sebagian kemewahan dunia ketika

    mendekati laki-laki yang diinginkannya.

    Silahkan duduk

    Aku hampir saja lupa untuk menjamu

    tamuku yang satu ini.

    Apa aku terlihat pantas untuk datang

    kesini? ucapnya dengan senyum manis pada

    bibir yang tipis memerah miliknya.

    Aku terdiam sejenak. Mencoba tidak

    tergesa-gesa untuk menjawabnya, mungkin ia

    masih punya terusan untuk kalimat yang aku

    kira belum selesai itu.

    Hening sesaat.

    kau tampak cantik, dan rumah ini

    juga cantik, kalian cocok jika berpadu

    Aku berusaha tidak menegaskan bahwa

    aku sangat menyukainya malam ini, berusaha

    menutupi perasaanku. Tapi, aku juga tidak

  • berbakat untuk menjadi pembohong dalam

    urusan hati.

    Seiring bulan yang perlahan naik,

    pembicaraan kami semakin menjadi, semakin

    hangat dan membawa pada suasana purnama

    yang benderang.

    Kalimat demi kalimat saling-silang

    berganti, kadang aku yang menjawab

    pertanyaannya tetapi kadang pula aku takut

    untuk menjawabnya karena ia mencoba

    menanyakan tentang kisah memalukanku waktu

    buku-bukuku bertebaran pada peristiwa di

    sebalik got.

    Aku merasa nampak sebagai pecundang,

    yang berjalan saja masih terjatuh. Aku

    seperti anak kecil. Aku tak mau

    mengingatnya lagi. Tapi, ia seakan-akan

    pandai memancingku kearah sana. Ia

    berhasil mendapati setiap kenangan yang

    mulai terbuka seiring pembicaraan ini.

  • Aku bisa melihat cahaya purnama masuk

    menyingkap wajahnya yang sebagian tak

    terlihat karena pekatnya ruangan rumah

    ini. Memang aku suka suasana remang untuk

    mengobrol, dimana aku bisa menyembunyikan

    mimik rupaku yang akan terlihat jujur jika

    beberapa lampu menyala. Dalam ruangan

    seperti ini pula aku bisa merasakan tenang

    jika sudah berpasangan dengan secangkir

    kopi hitam pada cangkir yang putih

    bertuliskan Delft3.

    Mana tanda lahirmu?

    Percakapan kami sampai pada masa

    kanak-kanak yang sering membincangkan

    tanda lahir masing-masing. Ia mulai

    menanyakan dimana letak tanda lahir yang

    pernah aku ceritakan waktu kami masih

    berteman di bangku Sekolah Dasar.

    Hemm, ternyata kau masih ingat ya?

    3Delftware adalah produk gerabah buatan Belanda

    pada abad ke-16

  • Aku memiliki tanda lahir

    Di sini, di punggungku, tanda lahir

    berwarna abu-abu yang dulu sering kau

    ejek.

    Memang dulu tanda lahirku sering

    menjadi bahan ejekan bagi Sarah yang

    mengira tanda lahirku seperti bekas

    kerokan yang lama tak hilang. Dasar,

    geramku dalam hati.

    ***

    Kami sudah sama-sama dewasa.

    Menginjak umur 25 tahun bukanlah waktu

    yang singkat untuk belajar tentang

    kehidupan. Sudah lama pula aku tak

    melihatnya, mungkin tahunan sudah ia pergi

    dari kampung ini. yah, sejak ia meneruskan

    kuliahnya keluar kota dan aku masih tetap

    disini untuk menjaga rumah tua yang memang

    sangat aku suka.

  • Sesekali Sarah tanpak meminum

    kopinya, perlahan menyerutup kopi itu, ia

    tampak menikmati kopi buatanku. Memang aku

    terbiasa membuat kopi. Tapi, aku tak

    terbiasa membuatkan kopi untuk orang lain.

    Seperti malam ini, aku membuatkan

    secangkir kopi untuk tamu yang lama tak

    bersua denganku. Sedikit keder sebenarnya

    menyuguhkan kopi ini, aku tak yakin ia

    terbiasa menikmati kopi hitam yang lahir

    dari tanah di kaki Gunung Dzouta di desa

    ini.

    Tapi setidaknya, dalam seduhan kopi

    itu aku memasukkan kenangan antara aku dan

    dia. Beberapa kisah yang bisa menambah

    manis ketika Ia minum kopi itu dengan

    perlahan.

    Seiring purnama yang memuncak,

    berjalan pula waktu yang berputar

    terbalik. Perlahan pula aku melihat

    wajahnya yang mulai tersingkap cahaya

  • bulan yang teduh masuk dari jendela rumah

    yang lupa aku kunci karena ia keburu

    datang saat senja tadi.

    Wajah di balik gaun Saree merah yang

    membuat aku terpukau. Berpadu dengan

    beberapa perhiasan yang mengalung di leher

    yang kadang-kadang berkerlip saat cahaya

    purnama jatuh tepat mengenainya, begitu

    pula sebuah permata yang menjulai dari

    atas rambutnya yang terbelah menuju tepat

    pada keningnya. Ia bisa membiusku,

    menjadikan tubuhku kaku sesaat. Keanggunan

    dalam tutur katanya serta selendang yang

    ia kerudungkan untuk menutupi rambutnya

    yang tergerai menyempurnakan Minggu malam

    Nyepi4 di Tahun Sembilan Belas Dua Puluh

    Tiga(1923)Saka.

    4Nyepi adalah hari raya umat Hindu yang dirayakan

    setiap tahun Baru Saka. Hari ini jatuh pada

    hitungan Tilem Kesanga (IX) yang dipercayai

  • *Nama Pena bagi laki-laki yang menyusun kata.

    merupakan hari penyucian dewa-dewa yang berada di

    pusat samudera yang membawa intisari amerta air

    hidup. Untuk itu umat Hindu melakukan pemujaan suci

    terhadap mereka


Recommended