Home >Documents >Brain Abscess Perbaikan V

Brain Abscess Perbaikan V

Date post:11-Aug-2015
Category:
View:33 times
Download:28 times
Share this document with a friend
Transcript:

BRAIN ABSCESSAde Rahmayani, Linda, Shofiyah Latief

I.

PENDAHULUANAbses otak adalah suatu proses infeksi dengan pernanahan yang terlokalisir diantara jaringan otak yang disebabkan oleh berbagai macam variasi bakteri, fungus, dan protozoa.(1) Abses otak dapat terjadi akibat penyebaran perkontinuitatum dari fokus infeksi di sekitar otak maupun secara hematogen dari tempat yang jauh, atau secara langsung seperti trauma kepala dan operasi kraniotomi. Abses yang terjadi oleh penyebaran hematogen dapat pada setiap bagian otak, tetapi paling sering pada pertemuan substansia alba dan grisea; sedangkan yang perkontinuitatum biasanya berlokasi pada daerah dekat permukaan otak pada lobus tertentu. Abses otak bersifat soliter atau multipel. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik; adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh sehingga sekunder terjadi polisitemia. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli.(2) Walaupun teknologi kedokteran diagnostik dan perkembangan antibiotika saat ini telah mengalami kemajuan, namun angka mortalitas tetap tinggi, yaitu sekitar 10-60% atau rata-rata 40%. Penyakit ini sudah jarang dijumpai terutama di negara-negara maju, namun karena resiko kematiannya tinggi, abses otak termasuk golongan penyakit infeksi yang mengancam kehidupan masyarakat.(1) Diagnosis sering terlambat karena

1

gejala abses otak tidak khas. Tindakan operasi tidak selalu dapat dilakukan karena lokasi abses tidak dapat dicapai atau adanya abses multipel. Kapsul yang tebal dan adanya berbagai mikroorganisme penyebab baik aerob, anaerob, campuran, jamur, atau, parasit mempersulit pemilihan antibiotika yang akan digunakan.(3) Pada beberapa kasus tidak diketahui sumber infeksinya.(2) Riwayat sebelumnya menderita penyakit otitis media, mastoiditis, sinusitis supuratif, atau infeksi pada wajah, kulit kepala, atau tengkorak, bronkiektasis, abses paru, empyema, dan endokarditis bakterial juga diketahui menyebabkan abses otak.(4) Gejala klinik abses otak berupa tanda-tanda infeksi yaitu demam, anoreksi dan malaise, peninggian tekanan intrakranial, serta gejala neurologis fokal sesuai lokalisasi abses. Terapi abses otak terdiri dari pemberian antibiotik dan pembedahan. Tanpa pengobatan, prognosis dari abses otak jelek.(2)

II. EPIDEMIOLOGIAngka kejadian yang sebenarnya dari abses otak tidak diketahui pasti. Laki-laki lebih sering menderita daripada perempuan.(2) Abses otak paling sering terjadi antara usia 20 hingga 50 tahun, namun pernah ditemukan dalam semua kelompok usia. Paien mengalami sakit kepala dan tanda neurologis fokal dengan lokasi abses yang

2

bervariasi. Tanda peningkatan ICP (khususnya mual, muntah, dan penurunan tingkat kesadaran) adalah yang paling sering ditemukan.(4)

III. ETIOLOGIAbses otak dapat berasal dari beberapa sumber infeksi, yaitu fokus infeksi dekat misalnya otitis media, mastoiditis, sinusitis paranasalis, dan fokus infeksi jauh misalnya dari paru-paru dan jantung, luka penetrasi, operasi, dan akibat komplikasi meningitis bakterialis. Keberhasilan mengetahui penyebab abses sangat dipengaruhi oleh cara pembiakan.(3) Bakteri yang sering ditemukan dalam abses otak adalah Streptococcus, Staphylococcus, Pneumococcus, Proteus, dan E.Coli. Kira-kira 75% dari abses otak disebabkan oleh bakteri-bakteri tersebut dan 25% sisanya disebabkan oleh mikroorganisme lainnya. Kebanyakan abses mengandung salah satu bakteri. Kira-kira 15% dari abses otak mengandung dua atau lebih kuman patogenik, dan 20% dari abses ternyata steril.(5) Pada penyakit jantung bawaan sianotik sering ditemukan

Streptococcus, sedangkan bila abses terjadinya pasca kraniotomi, sering ditemukan Staphylococcus atau Streptococcus.(3) Bila infeksi berasal dari sinus paranasalis penyebabnya adalah Streptococcus aerob dan anaerob, Staphylococcus dan Haemophilus influenzae. Abses oleh Streptococcus dan Pneumococcus sering merupakan komplikasi infeksi paru. Adapun jamur penyebab abses otak antara lain Nocardia asteroides, Cladosporium trichoides, dan spesies Candida dan Aspergillus. Walaupun jarang,

3

Entamoeba histolityca, suatu parasit amuba usus dapat menimbulkan abses otak secara hematogen.(2) Abses dapat timbul akibat penyebaran secara hematogen dari infeksi paru sistemik (empyema, abses paru, bronkiektasis, pneumonia),

endokarditis bakterial akut dan subakut, dan pada penyakit jantung bawaan Tetralogi Fallot (abses multiple, lokasi pada substansi putih dan abu dari jaringan otak). Abses otak yang penyebarannya secara hematogen, letak absesnya sesuai dengan peredaran darah yang didistribusi oleh arteri

cerebri media, terutama lobus parietalis, atau cerebellum dan batang otak.(1) Sekitar 20% fokus infeksi abses otak berasal dari infeksi telinga tengah, merupakan suatu komplikasi serius. Otitis media supuratif adalah penyakit yang berpotensi serius, terutama tipe maligna karena dapat menimbulkan komplikasi yang dapat mengancam jiwa.(6) Abses juga dapat dijumpai pada penderita penyakit immunologik seperti AIDS, penderita penyakit kronis yang mendapat kemoterapi/steroid yang dapat menurunkan sistem kekebalan tubuh. Penyebab abses yang jarang dijumpai adalah Osteomyelitis tengkorak, sellulitis, erysipelas pada wajah, abses tonsil, pustula kulit, luka tembus pada tengkorak kepala, infeksi gigi, luka tembak di kepala, dan septikemia.(1) Berdasarkan sumber infeksi, dapat ditentukan lokasi timbulnya abses dilobus otak : (1) 1. Infeksi sinus paranasalis dapat menyebar secara retrograd

thrombophlebitis melalui klep vena diploika menuju lobus frontalis atau

4

temporal. Bentuk absesnya biasanya tunggal, terletak superficial di otak, dekat dengan sumber infeksinya. 2. Sinusitis frontal dapat menyebabkan abses di bagian anterior atau inferior lobus frontalis. 3. Sinusitis sphenoidalis dapat menyebabkan abses pada lobus frontalis atau temporalis. 4. Sinusitis maxillaris dapat menyebabkan abses pada lobus temporalis. 5. Sinusitis ethmoidalis dapat menyebabkan abses pada lobus frontalis. 6. Infeksi pada telinga tengah dapat menyebar ke lobus temporalis. 7. Infeksi pada mastoid dan kerusakan tengkorak kepala karena kelainan bawaan seperti kerusakan segmentum timpani atau kerusakan tulang temporal oleh kolesteoma dapat menyebar kedalam cerebellum.

IV. ANATOMI OTAK DAN SAWAR DARAH OTAKOtak dihubungkan dengan sumsum tulang belakang, mengatur baik proses tidak sadar dan mengkoordinasi sebagian besar gerakan yang disadari. Lebih jauh lagi, otak merupakan pusat kesadaran, membuat manusia dapat berpikir dan belajar.(7) Otak memiliki berat sekitar satu perlima puluh berat tubuh keseluruhan, rata-rata 1,4 kg pada orang dewasa. Secara anatomi, otak memiliki empat struktur utama, yaitu: (7) 1. Serebrum besar, seperti kubah

5

2. Diensefalon yang ada di bagian lebih dalam. Terdiri atas talamus dan struktur di dekatnya 3. Cerebelum, di bagian belakang bawah 4. Batang otak, di bagian dasar Ciri otak yang paling jelas adalah serebrum, yang membentuk lebih dari empat per lima jaringannya. Serebrum memiliki tampilan berlekuk karena permukaan yang berlipat-lipat, yang disebut korteks serebrum. Lekukan otak disebut sulkus jika dangkal dan disebut fisura jika dalam. Fisura dan beberapa sulkus besar membagi empat daerah fungsional yang disebut lobus. Lobus terbagi empat bagian, yaitu frontal, parietal, oksipital, dan temporal. Gerigi di permukaan otak disebut girus.(7)

Gambar 1 . Anatomi Otak(8)

Mekanisme yang mengontrol lingkungan unik otak adalah sawar darah otak. Sawar darah otak berfungsi melindungi susunan darah pusat dari milieu darah dan mempertahankan homeostasis lingkungan mikro otak.

6

Keuntungan sawar agak dikurangi oleh kenyataan bahwa ia menahan antibiotika, neurotransmitter tertentu (misal dopamin), dan obat yang secara potensial berguna lainnya.(9) Neuron-neuron, sel-sel glia, cairan ekstraseluler otak, dipisahkan dari darah oleh sawar darah otak. Sawar darah otak dicirikan sebagai lapisan seluler yang sempurna dan kontinyu dari sel-sel endotel yang disegel oleh tight junction. Komunikasi sel ke sel normal antara astocyte, pericyte, sel endotel dan neuropil yang mengelilingi penting bagi ekspresi fenomena sawar darah otak dan mekanisme homeostasisnya. Transpor, fungsi yang dimediasi reseptor dan enzim, memainkan peran penting dalam regulasi komposisi cairan ekstraseluler otak. Molekul, di atas ukuran yang dibatasi, yang bersirkulasi dalam darah dapat memperoleh akses menuju ruang interstisial hanya jika terdapat sistem transpor khusus untuk molekul tersebut yang terdapat dalam endotel kapiler otak. Sistem demikian untuk asam amino, transferin, insulin, Ig G, dan albumin terkationasi menjamin bahwa SSP secara tetap menerima senyawa yang dibutuhkan.(9) Pada proses infeksi, kuman patogen masuk melalui penetrasi pada paraseluler dan transeluler. Kerusakan sawar darah otak mungkin disebabkan karena terjadi migrasi lekosit dari darah dalam jumlah besar melalui dinding kapiler otak. Kerusakan sawar darah otak ini secara klinis berguna untuk pemberian antibiotika yang tidak larut dalam lemak. Pada infeksi susunan saraf pusat, mekanisme terjadinya kerusakan sawar darah otak tidak hanya karena adanya kuman patogen dalam meningen, tetapi

7

juga karena terjadinya fragmentasi dinding sel, endotoksin, dan aktifitas dari sel-sel lekosit.(10)

V.

PATOFISIOLOGIAbses otak bersifat soliter atau multipel. Yang multipel biasanya ditemukan pada penyakit jantung bawaan sianotik. Adanya shunt kanan ke kiri akan menyebabkan darah sistemik selalu tidak jenuh, sehingga sekunder terjadi polisitemia. Polisitemia ini memudahkan terjadinya trombo-emboli. Umumnya lokasi abses pada tempat yang sebelumnya telah mengalami infark akibat trombosis. Tempat ini menjadi rentan terhadap bakteremi atau radang ringan. Karena adanya s