Home >Documents >Brain Abcess

Brain Abcess

Date post:17-Jan-2016
Category:
View:6 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
sukses
Transcript:

BAB I

STATUS PASIEN NEUROLOGI

A. IDENTITASNama / Umur:Ny. Herlina Handayanti (25 tahun)Jenis kelamin:Perempuan Pekerjaan:Petugas Kesehatan PuskesmasAlamat: Kota Bani RT 06/02 Kel Pasar Baru Kota Bani, BengkuluAgama:IslamStatus pernikahan:MenikahSuku bangsa:BengkuluTgl masuk:22 Maret 2014Dirawat yang ke:PertamaTgl pemeriksaan:8 April 2014B. ANAMNESAAutoanamnesa dilakukan pada tanggal 8 April 2014 di Ruangan Perawatan Umum lt.4 RSPAD Gatot SoebrotoKELUHAN UTAMA

Nyeri KepalaKELUHAN TAMBAHAN

Penurunan Kesadaran, Kejang, Kelemahan anggota gerak atas dan bawahRIWAYAT PENYAKIT SEKARANGPasien datang dari Bengkulu, Rujukan dari RSUD Bengkulu ke IGD RSPAD Gatot Soebroto dengan keluhan nyeri kepala sejak 3 bulan SMRS dan memburuk 10 hari SMRS. Pada awalnya nyeri kepala hanya timbul 1x dalam 1 minggu dan berlangsung hanya 1 2 jam, membaik dengan beristirahat dan meminum obat warung. 10 hari SMRS nyeri kepala bertambah hebat dan dirasakan diseluruh bagian kepala. Nyeri kepala tidak timbul secara mendadak. Nyeri kepala dirasakan seperti tertusuk-tusuk di seluruh bagian kepala terutama pada bagian depan dekat mata. Nyeri kepala dirasakan setiap hari, terus-menerus dan tidak membaik dengan pemberian obat anti nyeri dan tidak membaik dengan istirahat. Nyeri kepala dapat timbul pada saat aktivitas maupun pada saat istirahat. Ketika nyeri muncul, pasien tidak bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti berjalan dan pasien tidak dapat tidur. Nyeri kepala memburuk ketika pasien membuka mata. Pasien baru mengalmi nyeri kepala hebat seperti ini. Nyeri kepala disertai dengan demam dan muntah yang menyemprot. Pasien juga belum BAB selama 1 minggu SMRS. Demam dirasakan sering timbul bersamaan dengan sakit kepala. Demam dirasakan mendadak. Demam dirasakan tidak terus-menerus sepanjang hari dan membaik dengan obat penurun panas. Terkadang demam disertai dengan menggigil. Orang tua pasien menyangkal adanya demam yang berpola seperti setiap 3 hari sekali atau 2 hari sekali. Orang tua pasien menyangkal di daerah tempat tinggalnya saat ada yang menderita malaria.

Pada perawatan hari ke 4 d RSPAD pasien mengalami kejang. Kejang timbul saat demam. Kejang terlihat pada seluruh badan disertai dengan mata mendelik ke atas. Pasien mengalami kehilangan kesadaran selama 4 jam setelah kejang. Orang tua pasien mengatakan bahwa ini merupakan kejang pertama. Riwayat kejang berulang dan kejang pada anggota keluarga disangkal. Setelah kejang pasien mengalami kelemahan pada ke-empat anggota geraknya. Anggota gerak dapat digerakkan tetapi dirasakan tidak dapat melawan tahanan. Pasien juga mengalami kesulitan dalam mengucapkan kata-kata tetapi masih dapat berinteraksi dan menerima instruksi dari lingkungan disekitarnya.Pada perawatan hari ke-14 pasien merasakan lehernya kaku dan demam muncul kembali. Terdapatnya pusing berputar pada pasien, perubahan warna air kencing seperti coklat pekat, dan demam yang terus-menerus sepanjang hari ataupun berpola dalam satu minggu disangkal oleh keluarga pasien. Keluarga pasien juga menyangkal perubahan warna kulit anak menjadi warna kuning. Keluarga pasien menyangkal bahwa anaknya sering menderita gangguann pada hidung atau telinganya, menyangkal sering makan ikan mentah, dan menggunakan obat-obatan terlarang. Ibu pasien mengaku dirumah pasien banyak terdapat kucing.RIWAYAT PENYAKIT DAHULURiwayat asites 6 bulan yang lalu. Orang tua pasien mengaku semenjak ditemukannya asites, pasien mengalami penurunan berat badan tetapi tidak diketahui jumlah penurunan berat badannya. Orang tua pasien menyatakan anaknya pernah menderita malaria saat SMP. Pasien menyangkal adanya riwayat batuk lama, keganasan, sinusitis, dan sakit telinga.RIWAYAT PENYAKIT KELUARGATidak ditemukanRIWAYAT KELAHIRAN/PERTUMBUHAN/PERKEMBANGAN

Tidak ada kelainanC. PEMERIKSAAN STATUS INTERNUS

Keadaan umum:Tampak sakit berat Gizi:normoweight (BMI 19.05) Tanda vitalTD. Kanan:130/70 mmHgTD. Kiri:130/70 mmHgNadi kanan:84 x/menit regular, isi cukup, ekualNadi kiri:84 x/menit regular, isi cukup, ekual

Pernafasan:20 x/menit teratur, abdominothorakal.Suhu:37.9 C per axilla. Kepala: Normocephal ; Konjungtiva anemis - / - ; Sklera ikterik - / - Limfonodi:Tidak teraba pembesaran Thoraks: Hemitoraks kanan dan kiri simetris saat statis dan dinamis Jantung: BJ I - II reguler, gallop (-), murmur (-) Paru:Suara dasar vesikuler, rhonki (-/-), wheezing (-/-) Abdomen: Asites + pada bagian lateral dekstra dan sinistra abdomen Hepar:Tidak teraba pembesaran Lien:Tidak teraba pembesaran Ekstremitas:Akral hangat, sianosis -/-, oedem -/-, capillary refill < 2 detikSTATUS PSIKIATRIS Tingkah laku:Gelisah Perasaan hati:Euthym Orientasi:Baik Jalan fikiran:koheren Daya ingat:BaikSTATUS NEUROLOGIS Kesadaran:Apatis, GCS : 12 ( E3M6V3) Sikap tubuh:Berbaring terlentang Cara berjalan:Tidak dilakukan Gerakan abnormal:Tidak ada KepalaBentuk:NormocephalSimetris:SimetrisPulsasi:TerabaNyeri tekan:+ Leher

Sikap:NormalGerakan:BebasVertebra:NormalNyeri tekan:Tidak adaGEJALA RANGSANG MENINGEAL Kanan Kiri

Kaku kuduk: ( + )

Laseque: 60% kasus. Sepsis dapat terjadi pada 17% dari kasus.Manifestasi klinis dari abses otak tergantung pada lokasi abses, jenis infeksi, dan level dari tekanan intracranial. Hemiparise dapat muncul pada abses di sekitar lobus frontalis. Abses pada region temporal dapat menyebabkan gangguan bahasa (afasia) atau quadrantanopia homonym superior. Nistagmus dan ataxia merupakan tanda dari abses serebelum. Meningismus dapat terjadi bila infeksi telah menjalar ke ruang subarachnoid atau abses telah pecah dan mengisi ruang ventrikel.DIAGNOSIS DAN DIAGNOSIS BANDINGDiagnosis penyakit ini ditegakkan atas dasar anamnesis, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang. Pada anamnesis perlu ditanyakan mengenai gejala yang pasien alami, faktor risiko, dan gaya hidup. Pada pemeriksaan fisik perlu ditentukan apakah adanya kelainan pada GCS, status internis, dan juga status neurologis. Pada pemeriksaan laboratorium dapat ditemukan leukositosis (10.000 20.000/cm3) pada 60 70% kasus dan peningkatan laju endap darah (45mm/jam) pada 75 90 % kasus Golden standard adalah dengan melakukan pemeriksaan neuroimaging seperti CT-Scan atau MRI.

Beberapa diagnosis banding untuk abses otak seperti metastasis tumor, subdural empyema, meningitis bakterialis, meningoencephalitis virus, thrombosis superior sinus sagitalis, dan akut disseminate encephalomyelitis.

KOMPLIKASIPada pasien abses cerebri dapat terjadi beberapa komplikasi seberti rupturnya kapsul abses ke dalam ventrikel atau ruang subarachnoid, penyumbatan hidrosefalus, edema otak, dan herniasi tentorial oleh massa abses otak.

PENGOBATANPrinsip pengobatan abses otak menghilangkan proses infeksi dan edema terhadap otak. Pemberian antibiotik yang tepat selama 6 8 minggu untuk mengecilkan abses dan 10 minggu untuk menghilangkan effek massa dari abses otak adalah sebuah keharusan untuk mengatasi abses cerebri. Pemberian antibiotik generasi ke 3 atau ke 4 merupakan sebuah pilihan (cth : cefotaxime, ceftriaxone, atau cefepime) dan metronidazole. Pada pasien dengan riwayat trauma penetrasi atau pembedahan neurologis, pemberian ceftazidime dan vankomisin perlu dilakukan untuk mempertimbangkan adanya infeksi MRSA. Pada infeksi aspergilus, pemberian voriconazole efektif sedangkan untuk infeksi jamur yang lainnya, pemberian amphotericine B masih menjadi pilihan. Pada infeksi Toxoplasma gondii adalah dengan pyrimethamin dan sulfadiazine. Terapi bedah perlu dilakukan tetapi menjadi sebuah kontraindikasi apabila ukuran abses kecil ( < 2 3 cm), abses tidak berkapsul, dan kondisi pasien yang terlalu rawan untuk dilakukan oprasi. Antikonvulsan dapat diberikan karena risiko dari munculnya kejang fokal ataupun generalisata pada pasien abses cerebri. Pemberian antikonvulsan dapat dilanjutkan hingga 3 bulan pasca perawatan abses cerebri. Jika hasil EEG normal, antikonvulsan dapat diturunkan, tetapi bila hasil EEG tidak normal, antikonvulsan dapat tetap dilanjutkan. Pemberian glukortikoid sebaiknya tidak diberikan secara terus-menerus pada pasien abses cerebri. Pemberian dexamethasone 10mg / 6 jam dapat diberikan pada pasien dengan edema substansial periabses dan peningkatan tekanan intracranial. Dexametasone harus segera ditapering off untuk menghindari penundaan encapsulation abcess.PROGNOSISDalam seri modern, mortalitas menurun hingga 15% dari kasus. Sekuel yang signifikan seperti kejang, kelemahan yang menetap, afasia, gangguan mental organic tetap bertahan pada kurang lebih >20% pasien yang bertahan hidup..DAFTAR PUSTAKA1. Hakim AA. 2005. Majalah Kedokteran Nusantara Volume 38.no.42. Goldman L dan Schafer AI. 2011. Goldmans Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia : Elsevier-Saunders. pp: 2371 - 23733. Longo, et al. 2011. Principles of Internal Medicine. 18th ed. USA : The McGraw Hill. 20114. Xian YH, et al. 2003. :Fusobacterial brain abcess A review of five cases and analysis of possible pathogenesis; Journal of Neurosurg, Oct 2003; Vol 99

5. George N. 2014. Brain abcess in Emergency Medicine. Mar 25 2014; Cited 9 April 2014. Available from : http://emedicine.medscape.com/article/781021-overview#showallPAGE 17

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended