Home >Documents >Bentuk Obat Dan Penulisan Resep

Bentuk Obat Dan Penulisan Resep

Date post:30-Sep-2015
Category:
View:2,279 times
Download:299 times
Share this document with a friend
Description:
Beberapa hal mengenai penulisan resep, semoga membantu
Transcript:

Bentuk obatDanpenulisan resepOleh

Drs. Bambang Sidharta, Apt.MS

Bagian Farmasi

Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Rumah Sakit Umum Dr Saiful Anwar

M a l a n g1. Pemilihan bentuk obat

Dalam memberikan terapi obat terhadap pasien, selain penetapan jenis obat, dosis obat, cara pemberian dan frekwensi pemberian yang tepat , maka pemilihan bentuk obat yang tepat akan berpengaruh terhadap keberhasilan terapi obat Pemilihan bentuk obat yang tepat berpengaruh terhadap: 1. Kepatuhan pasien dalam minum atau menggunakan obat2. Kemudahan , kenyaman pasien dalam pemakain/penggunaan obat

3. Tercapainya tujuan terapi

4. Kesembuhan pasien lebih cepat

Bentuk obat yang mudah diberikan pada pasien, tidak menimbulkan kesulitan atau memberikan rasa yang tidak enak pasien tentunya akan menjadikan pasien patuh dalam menggunakan atau minum obat sehingga tercapai tujuan terapi

Sebagai contoh pemberian obat bentuk puyer ( meskipun ada pro dan kontra ) pada anak dengan kombinasi beberapa macam obat, selain penentuan jenis dan dosis obat lebih tepat tentunya pemberian lebih mudah dibanding pemberian beberapa tablet atau kapsul maupun sirup lebih dari 1 macam kemasan obat. Begitu pula dengan pemberian kombinasi beberapa macam obat dalam satu kapsul pada usia lanjut lebih memudahkan pasien dalam minum obat .

Untuk menentukan bentuk obat yang sesuai dengan kebutuhan pasien perlu diperhatikan : 1. sifat bahan obat,Sebagai contoh

Bahan obat yang higroskopis, sebaiknya dibuat bentuk potio ( obat minum) atau lotio, bukan bentuk kapsul, tablet atau puyer

Bahan obat yang iritasi lambung, misalnya asetosal, eritromisin dibuat tablet enterocoated

Eritromisin kaplet ( eritromisin stearat) pahit, maka bila dkehendaki obat bentuk sirup atau pulvers dipilih eritromisin etil suksinat yang kurang pahit

2. stabilitas obat,Sebagai contoh :

Antibiotika yang tidak stabil dalam larutan untuk bentuk potio dibuat sirup kering ( ampicillin , amoksisilin, cefadroxil,cefixim, eritromisin, thiamfenikol ), untuk bentuk injeksi juga dalam wadah vial bentuk kering. Asetosal dalam bentuk potio tidak stabil, sehingga dibuat dalam bentu tabletromisin 3. umur pasien,Pada pasien anak , bentuk obat potio atau pulvers lebih mudah diberikan dibanding tablet. Bentuk pulvers relatif lebih mudah diberikan dibanding obat bentuk potio dengan jumlah obat lebih dari satu 4. lokasi kerja obat,Jenis obat yang sama dengan bentuk yang berbeda dapat diberikan pada lokasi berbeda dengan tujuan terapi yang berbeda juga

Contoh, pemberian Metronidazol

Untuk trichomoniasis , bentuk obat yang diberikan tablet, ovula, vaginal tablet,

Untuk Amoebiasis, digunakan bentuk tablet, sirup

Untuk bakteri anaerob digunakan bentuk tablet, sirup, supositoria, injeksi5. keadaan umum pasien Pada pasien yang tidak sadar lebih baik diberikan obat bentuk injeksi, supositoria atau bila digunakan obat peroral bentuk obat pulvers melalui Naso gastric tube6. tujuan terapi. Untuk mendapat efek terapi lokal biasanya digunakan salep, cream, lotion, solution, supositoria sedang untuk efek sistemik diberikan tablet, kapsul, potio, injeksi, supositoria

Jenis obat yang sama dengan bentuk yang berbeda dapat digunakan untuk terapi yang tidak sama.2. Bentuk obat dan cara penulisan resep

Untuk mendapatkan obat di apotek baik untuk keperluan praktek maupun untuk pasien individu, seorang dokter harus menulis permintaan dalam bentuk resep Resep yang lengkap mencakup :

1. Nama dokter

2. Surat Izin Praktek/Surat Penugasan

3. Alamat dan telepon tempat praktek

4. Waktu praktek

5. Tempat & tanggal penulisan

6. Nama dan dosis Obat

7. Bentuk obat yang diminta

8. Aturan pakai

9. Paraf / tanda tangan

10. Nama, umur, berat badan pasien

11. Alamat pasien ( RS : Nomor regester )

Nama obatUntuk menulis nama obat yang benar dalam resep agar tidak menimbulkan duplikasi pengertian nama obat, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain :1. Hindari penulisan nama obat dengan nama kimia atau rumus bangun,karena dengan menulis nama kimia, akan sulit menghafalkan nama obat dan mungkin menimbulkan kesulitan bagi apotek dalam penyediaan obat 2. Gunakan nama generikPenulisan nama obat dalam bentuk generik lebih mudah penyediaan obat pasien, karena dengan penulisan nama generik tidak menimbulkan duplikasi pemberian obat dan memberikan keleluasaan pasien untuk memilih obat yang terjangkau 3. Tulis nama obat dengan lengkap, jangan disingkat, karena bila disingkat dapat menimbulkan pengertian yang berbeda dan secara psikologis pasien lebih percaya kalau nama obat ditulis dengan lengkap Misalnya :

Parasetmol bukan ditulis Pct

Chlorpeniramin maleat bukan CTM

Dektromethorphan HBr bukan DMP

Diphenilhidantoin bukan Dph ( bisa diartikan Diphenhidramin )4. Hindari kombinasi obat dengan golongan dan kahasiat samaPemberian nama obat dengan khasiat yang sama bisa menimbulkan potensiasi bahkan intoksikasi, kalau menginginkan kombinasi beberapa macam obat hendaknya dipilih kombinasi obat yang dapat meningkatkan efek terapi dan menurunkan kemungkinan efek samping5. Jangan menggunakan sediaan lepas lambat untuk pulversSediaan lepas lambat ( SR,LA,Retard ) dibuat dengan formulasi agar obat dalam saluran pencernaan dilepas dengan pelan-pelan sehingga absorbsi obat secara bertahap dan efek kerja obat lebih lama. Bila sediaan ini dibuat pulvers yang dalam pembuatannya harus digerus maka sistem lepas lambatnya akan rusak.

6. Urutan penulisan nama obat :a. nama obat,b. kekuatan,c. bentuk, d. kemasan

Contoh :

R/ Asam Mefenamat 500 mg kaplet No I R/ Amoksisillin 250 mg sirup Fl No I R/ Gentamisin 80 mg injeksi amp No

R/ Ampicillin 1 gram injeksi vial No

R/ Diazepam 5 mg Rectal tube No

R/ Hidrocortison 2,5 % cream tube No

R/ Oralit 200ml sak No. Urutan penulisan resep :

1. Remidium Cardinale :

- causa

- simtomatik

2. Remidium ajuvan

3. Vehikulum

Obat simtomatik dipisahkan bila :

- Gejala penyakit mudah sembuh/timbul

- Untuk terapi penyakit kronis

- Digunakan waktu tertentu

- Membantu memudahkan minum obat lainContoh :

R/ Amoksisilin

Parasetaomol

Dekstromethorpan

Khlortimeton

Vitamin B compl

Sacharum Lactis

Mfpulv dtd no XV

S 3 dd pulv I , h pc

R/ Metoklopramid

Mf pulv dtd No X

S prn muntah 3 dd Pulv I, h ac

Jumlah/ dosis obatUntuk penulisan jumlah obat yang tepat, terdapat ketentuan sebagai berikut :L1. Jumlah obat hindari penulisan angka decimal yaitu ,

- kurang 1 gram tulis miligram (500 mg, bukan 0,5 g)

- kurang 1mg tulis microgram (100 mcg, bukan 0,1 mg )

2. Penulisan angka pecahan : tablet bukan 0,5 tablet

3. Jangan menyingkat gram dengan gr (gr = granum = 65 mg ) tetapi dengan g atau gm

4. Jangan menyingkat satuan mikrogram, nanogram, unit dengan Ug, Ng, U 5. Obat cairan, dalam mL, bukan cc atau cm 36. Hindari pemberian obat terlalu banyak / lama, kecuali untuk pasien kronis

7. Gunakan dosis efektif terkecil, bila dosis obat dalam rentang terapi

8. Satuan dosis obat dalam g, mg atau mcg bukan / 1/3 / tablet/ kapsul , kecuali bila kandungan obat lebih dari satu Contoh :

R/ Dextromethorphan Hbr 10 mg

bukan

R/ DMP 2/3 tablet

R/ Actifed tablet9. Bila kekuatan obat lebih dari satu, tulis dengan lengkap,Contoh :

R/ Luminal 50 mg tablet No. LX

S 3 dd tab I

bukan

R/ Luminal tablet No LX

S 3 dd tab I

R/ Cefotaxim 1gram inj Vial No II

S imm

bukan

R/ Cefotaxim vial inj No II

S imm Catatan :

Bila ada bentuk obat dengan kekuatan lebih dari satu, tetapi ditulis tanpa kekuatan ( mg/g ), maka oleh apotek pasien diberikan obat dengan kekuatan terkecil

Contoh :

R/ Luminal tablet No XC

S 3 dd tab I

Tablet luminal yang ada di apotek 15, 30, 50 dan 100 mg, maka oleh apotek pasien tersebut diberi yang 15 mg, padahal pemberian luminal dalam kasus ini kemungkinan untuk antikonvulsan pada pasien epilepsi yang memerlukan dosis 50 mg untuk sekali pemberian

Aturan pakai1. Bentuk obat potio , S 3 dd Cth I ( 5 ml ), sebaiknya tidak menggunakan C atau sendok makan, karena ukuran sendok makan di masyarakat tidak sama ( 8, 10, 12 Ml ) sehingga dosis obat tidak akurat Jangan gunakan aturan pakai tidak jelas

R/ Parasetamol sirup Fl No. I

Simm R/ Amoksisilin sirup Fl No I

S Prn 3 dd Cth 1/3

2. Bentuk tablet/kaplet/kapsul

S 4 dd tab I, 1 h pc

Jangan gunakan aturan pakai menyulitkan pasien

S 3 dd tabl 1/3

S 4 dd kaps Aturan pakai yang jelas, bedakan AP dan Signa

Jangan menyingkat aturan pakai dengan bahasa Indonesia

Contoh :

S kp p&s tab I ( kalau perlu pagi dan sore 1 tablet )

S jp mst tab I ( jika perlu malam sebelum tidur 1 tablet ) Beri batasan bila aturan pakai prn ( pro renata : bila perlu )Contoh :

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended