Home > Documents > BCG BULETIN SEKSI SURVEILANS DAN IMUNISASI (SIM) …...Cakupan Imunisasi BCG per kabupaten/kota di...

BCG BULETIN SEKSI SURVEILANS DAN IMUNISASI (SIM) …...Cakupan Imunisasi BCG per kabupaten/kota di...

Date post: 04-Jan-2020
Category:
Author: others
View: 14 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 12 /12
SEKSI SURVEILANS DAN IMUNISASI (SIM) BIDANG P2P DINAS KESEHATAN DAERAH PROVINSI SULAWESI UTARA BULETIN SURVEILANS IMUNISASI Website: dinkes.sulutprov.go.id ; email : [email protected] UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 : Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai den- gan ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi; Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak. UU Perlindungan Anak No.23 tahun 2002 : Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial.” P rogram Imunisasi merupakan salah satu program yang masuk dalam Proyek Prioritas Nasional Kesehatan. Indika- tor yang akan dicapai adalah Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL). Tujuan Imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan, kematian serta kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah den- gan imunisasi (PD3I). Sapa redaksi Puji dan Syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Kasih, atas Karunia-Nya maka Buletin SIM Volume 01 Bulan Agustus 2017 ini terbit kehadapan pembaca. Buletin yang diterbitkan oleh Seksi Surveilans dan Imunisasi (SIM), merupakan media diseminasi program dan hasil pelaksanaannya. Kritik dan Saran membangun, siap kami tampung, kiranya informasi dalam Buletin SIM ini bermanfaat. Dapat diakses pada : 0-7 hr 9 Bulan Hep B 0 (HB 0) -BCG -OPV 1 -DPT-HB-Hib 1 -OPV 2 -DPT-HB-Hib 2 -OPV 3 -DPT-HB-Hib 3 -OPV 4 - IPV CAMPAK /MR 1 Bulan 2 Bulan 3 Bulan 4 Bulan Imunisasi lanjutan DPT-HB-Hib: usia 1,5 tahun Campak : usia 2 1,5 tahun < 24 Jam 29 Daftar topik 1.Tujuan dan Target Program Imunisasi 2.Capaian Program Imunisasi 2016/2017 3.SKDR 4.Alert yang direspon dalam SKDR 5.Surveillance Con- genital Rubella Syndrom (CRS).
Transcript
  • SEKSI SURVEILANS DAN IMUNISASI (SIM) – BIDANG P2P DINAS KESEHATAN DAERAH PROVINSI SULAWESI UTARA

    BULETIN SURVEILANS

    IMUNISASI

    Website: dinkes.sulutprov.go.id ; email : [email protected]

    UU Kesehatan No. 36 Tahun 2009 :

    Setiap anak berhak memperoleh imunisasi dasar sesuai den-gan ketentuan untuk mencegah terjadinya penyakit yang dapat dihindari melalui imunisasi;

    Pemerintah wajib memberikan imunisasi lengkap kepada setiap bayi dan anak.

    UU Perlindungan Anak No.23 tahun 2002 :

    “Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual dan sosial.”

    P rogram Imunisasi merupakan salah satu program yang masuk dalam Proyek Prioritas Nasional Kesehatan. Indika-tor yang akan dicapai adalah Cakupan Imunisasi Dasar

    Lengkap (IDL). Tujuan Imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan, kematian serta kecacatan akibat penyakit yang dapat dicegah den-gan imunisasi (PD3I).

    Sapa redaksi

    Puji dan Syukur kami panjatkan

    kehadirat Tuhan Yang Maha

    Kasih, atas Karunia-Nya maka

    Buletin SIM Volume 01 Bulan

    Agustus 2017 ini terbit

    kehadapan pembaca.

    Buletin yang diterbitkan oleh

    Seksi Surveilans dan Imunisasi

    (SIM), merupakan media

    diseminasi program dan hasil

    pelaksanaannya.

    Kritik dan Saran membangun,

    siap kami tampung, kiranya

    informasi dalam Buletin SIM ini

    bermanfaat.

    Dapat diakses pada :

    0-7 hr

    9 Bulan

    Hep B 0 (HB 0)

    -BCG-OPV 1

    -DPT-HB-Hib 1-OPV 2

    -DPT-HB-Hib 2-OPV 3

    -DPT-HB-Hib 3-OPV 4- IPV

    CAMPAK/MR1 Bulan

    2 Bulan

    3 Bulan

    4 Bulan

    Imunisasi lanjutanDPT-HB-Hib: usia 1,5 tahun Campak : usia 21,5 tahun

    < 24 Jam

    29

    Daftar topik 1.Tujuan dan Target

    Program Imunisasi

    2.Capaian Program

    Imunisasi 2016/2017

    3.SKDR

    4.Alert yang direspon

    dalam SKDR

    5.Surveillance Con-

    genital Rubella

    Syndrom (CRS).

  • Buletin SIM - Vol 01 Agustus 2017 hal. 2

    T ujuan pemberian Imunisasi adalah menurunkan angka kesakitan, kematian dan kecacatan akibat PD3I. Hal tersebut dapat dicapai dengan melakukan strategi operasional yang tertuang dalam target kegiatan seperti; target UCI yaitu cakupan IDL

    minimal 80% anak yang

    akan berusia 1 tahun (0-11

    bulan) telah mendapat imu-

    nisasi dasar lengkap secara merata di seluruh desa/kelurahan.

    INDIKATOR RPJMN/ RENSTRA TARGET CAPAIAN (%)

    2015 2016 2017 2018 2019

    % Kab/Kota yang mencapai 80%

    IDL pada bayi 75 80 85 90 95

    % anak usia 0-11 bulan yang men

    -dapat imunisasi dasar lengkap 91 91,5 93 92,5 93

    % anak usia 12-24 bulan yang

    mendapatkan imunisasi: Campaak

    dan DPT-HB-Hib lanjutan

    35 40 45 55 70

    Tabel 1. Indikator Program Imunisasi dalam RPJMN 2015 – 2019

    TARGET UCI TARGET CAPAIAN (%)

    2015 2016 2017 2018 2019

    Desa /

    kelurahan 84 86 88 90 92

    Target UCI

    Gambaran Cakupan Imunisasi per antigen berdasarkan ka-bupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2016 seba-gai berikut:

    Gambar 1. Cakupan Imunisasi HB0 per kab/kota di Prov. Sulut tahun 2016

    Gambar 1/Peta disamping memberi gambaran bahwa kabupaten/kota yang mencapai target Cakupan imunisasi HB0 tahun 2016 hanya satu yaitu Kota Kotamobagu yaitu 96,5%. Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah terbesar bagi kabupaten/kota yang belum mencapai target, Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target di tahun 2017 yaitu memperkuat jejaring dengan RS dan mela-kukan Surveilans Aktif RS (SARS) baik RS pemerintah mau swasta termasuk Klinik Bersalin untuk memperoleh data tentang imunisasi HB0 dan orang tua bayi diberikan Buku KIA sebagai dasar informasi untuk imunisasi antigen selanjutnya.

    Target setiap antigen pada imunisasi dasar sebesar 95%, berlaku mulai tahun 2017

    (Surat Direktur SKK, Ditjen P2P Kemenkes RI No.SR.02.06/4/1038/2017 tgl 22 /6/ 2017).

  • Buletin SIM - Vol 01 Agustus 2017 hal. 3

    Gambar 3. Cakupan Imunisasi Polio 1 per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 2. Cakupan Imunisasi BCG per kabupaten/kota

    di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 4. Cakupan Imunisasi DPT-HB-HIB 1 per

    kabupaten/ kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 5. Cakupan Imunisasi Polio 2 per kabupaten/kota

    di Prov.Sulut tahun 2016

  • Buletin SIM - Vol 01 Agustus 2017 hal. 4

    Gambar 6. Cakupan Imunisasi DPT-HB-HIB 2 per kabu-paten/ kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 7. Cakupan Imunisasi Polio 3 per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 8. Cakupan Imunisasi DPT-HB-HIB 3 per kabupaten/ kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 9. Cakupan Imunisasi Polio 4 per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016

  • Buletin SIM - Vol 01 Agustus 2017 hal. 5

    Gambar 10. Cakupan Imunisasi Campak per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 11. Cakupan Imunisasi Campak Lanjutan per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 12. Cakupan Imunisasi DPT-HB-HIB Lanjutan per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016

    Gambar 13. Persentase kab/kota yang mencapai 80%

    IDL pada bayi di Prov.Sulut tahun 2016 *)

    *) Menggunakan target Nasional tahun 2016 = 80%

  • Buletin SIM - Vol 01 Agustus 2017 hal. 6

    Gambar 13. Persentase kab/kota yang mencapai

    80% IDL pada bayi di Prov.Sulut tahun 2016 *)

    Berdasarkan gambaran cakupan imunisasi per antigen diatas, maka capaian cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) per kabupaten/kota di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2016 sbb:

    Gambar 14. Cakupan Imunisasi Dasar Lengkap (IDL)

    per kabupaten/kota di Prov.Sulut tahun 2016 *)

    *) Menggunakan target Nasional tahun 2016; IDL ≥ 91.5%

    Kesimpulan: 1. Persen (%) kab/kota yang mencapai 80% IDL pada bayi di

    Provinsi Sulawesi Utara pada tahun 2016 yaitu 53.3% (sebanyak 8 kabupaten/kota); lihat tabel 1 hal.2

    (Minahasa, Minahasa Selatan, Minahasa Utara, Manado, Bolmong Utara, Sitaro, Bolmong Timur, dan Tomohon).

    2. Kabupaten/kota yang mencapai cakupan IDL tahun 2016 adalah Minahasa, Minahasa Selatan, Manado dan Tomohon.

    Rekomendasi: 1. Peningkatan cakupan per antigen disetiap wilayah desa/

    kelurahan yang tinggi dan merata dengan melakukan Drop Out Follow up (DOFU) setiap bulan.

    2. Peningkatan Cakupan IDL yang tinggi dan merata, termasuk imu-nisasi lanjutan dan mendukung kampanye Measles Rubella (MR) yang akan dilaksanakan pada bulan Agustus-September 2018 agar dapat terbentuk kekebalan populasi (herd immunity).

    TIM REDAKSI Penasehat : Kadinkesda

    dr.Debie K.R Kalalo, MSc,PH Pengarah : Kabid P2P

    dr. Steaven P.Dandel,MPH

    Penanggung Jawab Redaksi : Kasie. SIM

    Mery B. Pasorong, SKM,M.Kes

    Anggota Dewan Redaksi:

    Nova E. Ratu, SKM,M.Sc Thelda S.Banda,SKM Ferry Awuy, SKM

    Tikla Makalalag, S.Sos Adrensi Maabuat, SST

    Frangkie N.Karinda,SST

    Penerbit Seksi Surveilans dan

    Imunisasi Sekretariat:

    Seksi SIM - Bidang P2P Dinkesda Prov. Sulut Jl.17 Agustus Manado

  • BULETIN SURVEILANS

    IMUNISASI

    Website: dinkes.sulutprov.go.id ; email : [email protected]

    Dapat diakses pada :

    SEKSI SURVEILANS DAN IMUNISASI (SIM) – BIDANG P2P DINAS KESEHATAN DAERAH PROVINSI SULAWESI UTARA

    SISTEM KEWASPADAAN DINI DAN RESPON

    (SKDR)

    SKDR merupakan tools dari Program Surveilans dengan tujuan yaitu: 1. Menyelenggarakan Deteksi Dini KLB bagi penyakit menular. 2. Stimulasi dalam melakukan pengendalian KLB penyakit menular. 3. Meminimalkan kesakitan/kematian yang berhubungan dengan KLB. 4. Memonitor kecenderungan penyakit menular. 5. Menilai dampak program pengendalian penyakit untuk memonitor

    kejadian penyakit menular berpotensi KLB.

    SKDR merupakan salah satu Indikator dalam Renstra Kemente-rian Kesehatan RI yang diimplementasi oleh semua Provinsi di Indone-sia. Indikator utama SKDR yaitu Persentase Sinyal Kewaspadaan Dini (Alert) yang direspons kabupaten/kota/puksemas. Target indikator sinyal kewaspadaan dini yang direspons untuk tahun 2017 tingkat Na-sional sebesar 75% dan target untuk Provinsi Sulawesi Utara tahun 2017 sama dengan target Nasional yaitu 75%.

    Indikator penunjang dalam SKDR untuk mendukung Indikator Utama adalah ketepatan dan kelengkapan laporan. Target ketepatan laporan setiap minggu secara nasional sebesar ≥ 80% dan kelengka-pan ≥ 90%.

    TUPOKSI SEKSI SIM: Melakukan Pembinaan Program Surveilans dan Imunisasi. Program dalam Seksi SIM antara lain: 1. SKDR penyakit menular berpotensi KLB 2. SKD Penyakit Infeksi Emerging (PIE) 3. Karantina Kesehatan terkait Public

    Health Emergency Of International Con-cern (PHEIC)/Kedaruratan Kesehatan Masyarakat yang Meresahkan Dunia (KKM-MD)

    4. Program Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I)

    5. Surveilans Congenital Rubella Syndrome (CRS)

    6. Surveilans Terpadu Penyakit (STP) 7. Program Imunisasi 8. Program Kesehatan Haji 9. Manajemen Vaksin (Coolroom)

    SKDR merupakan sistem yg lebih mengutamakan kecepatan dibanding

    ketepatan, Kapasitas kecepatan yang dimaksud adalah kecepatan mendeteksi secara dini; kecepatan melakukan respon; kecepatan berbagi data dan informasi.

    Waktu periode pelaporan SKDR adalah MINGGUAN Mekanisme pelaporan yakni Pelaksana Program Surveilans

    Puskesmas meng-sms data penyakit menular /sindrome (jenis penyakit sesuai Permenkes nomor 1501 tahun 2010 tentang Jenis-jenis

    penyakit menular yang dapat menimbulkan Wabah dan Upaya

    Penanggulangannya) ke SERVER Direktorat Surveilans dan Karantina Kesehatan setiap hari Senin minggu berjalan.

    Peran Dinas Kesehatan Provinsi dan kabupaten/kota adalah melakukan verifikasi dan analisa terhadap data SKDR basis Website

    serta melakukan respon segera terhadap alert yang muncul.

    Website SKDR : skdr.surveilans.org

  • Buletin SIM Vol — 01 Agustus 2017 hal.8

    Grafik 1. Persentase ketepatan dan Kelengkapan laporan SKDR basis Web

    per kabupaten/kota Minggu 1-30 di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2017 Kabupaten/kota yang mencapai target ketepatan minggu 1-22 tahun 2017 yaitu Kotamobagu, Manado, Tomohon, Bitung, Minut, Bolmut, Minsel dan Bolmong. Sedangkan target kelengkapan dapat dicapai oleh beberapa kab/kota karena secara kumulatif laporan dari puskesmas yang terlambat melapor dapat memenuhi kelengkapan

    Ketepatan laporan SKDR minggu 1-30 tahun 2017 tingkat Provinsi sebesar 72.9% dan keleng-kapan sebesar 89.5%. Informasi ketepatan dan kelengkapan laporan memiliki arti yang penting

    dalam SKDR sebagai tools dari surveilans. Kete-patan laporan dalam SKDR memiliki arti se-berapa cepat alert diketahui oleh kabupaten, propinsi maupun pusat. Semakin tinggi ketepatan laporan maka semakin cepat kabupaten, propinsi atau pusat mengetahui adanya alert sehingga semakin cepat pula alert diverifikasi maupun direspons. Kelengkapan laporan memiliki arti seberapa besar/banyak sebuah sistem dapat menangkap alert (signal kewaspadaan). Semakin tinggi kelengkapan laporan maka akan semakin banyak alert yang ditangkap oleh sis-tem. Tetapi evaluasi laporan SKDR ter-hadap ketepatan dan kelengkapan, menunjukkan tidak ada korelasi antara ketepatan dan kelengkapan laporan den-gan kecepatan alert direspons. Misal satu kabupeten/kota memiliki kelengka-pan dan ketepatan laporan sebesar 80% dan menangkap alert sebesar 70 tetapi tidak serta merta kabupaten/kota melakukan verifikasi alert yang muncul dalam sistem pada hari itu. Mungkin besok atau lusa kabupaten baru melakukan verifikasi. Ada juga kabupaten/ kota yang sama sekali tidak melaku-kan verifikasi.

    Persentase Alert yang direspon minggu 1-30 tahun 2017 di Provinsi Sulawesi Utara sebesar 72.30%, Hal ini dapat dilihat pada Tabel 1 (persentase alert yang direspon oleh Kabupaten/Kota/Puskesmas pada minggu 1-30 tahun 2017). Beberapa kabu-

    paten/kota belum menunjukkan per-formance kinerja yang baik. Kondisi tersebut disebabkan oleh beberapa fak-tor antara lain: 1. Adanya per-gantian beberapa pelaksana sur-veilans di tingkat puskesmas dan di-nas kesehatan ka-bupaten/kota ter-lalu cepat;

    2. Tidak ada jaringan internet di dinas kesehatan/kota sehingga pelaksana surveilans kabupaten/kota tidak dapat melakukan input verifikasi/respon alert ke dalam sistem basis web walaupun sudah dilakukan respon secara fisik di masyarakat oleh puskesmas;

    VERIFIKASI

    0102030405060708090

    100

    72.9

    89.5

    KETEPATAN (%) KELENGKAPAN (%)

  • Buletin SIM Vol — 01 Agustus 2017 hal.9

    4. Sinyal dibeberapa wilayah tingkat puskesmas ma-sih kurang baik bahkan tidak ada.

    5. Beban kerja pejabat pengawas dan pelaksana sur-veilans di dinas kabupaten/kota cukup banyak (rangkap tugas) di beberapa kabupaten/kota.

    Tabel 1. Prosentase Alert dalam SKDR yang direspon

    di Provinsi Sulawesi Utara Minggu 1-30 tahun 2017.

    Secara kumulatif alert yang direspon minggu 1-30 tahun 2017 berdasarkan data yang diverifikasi oleh kabupaten/kota, dari 1.621 alert yang ada sebanyak 1172 alert yang direspon (72.30%) dan ada 5 meru-pakan KLB.

    No KAB./KOTA

    JMLH PERIN-

    GATAN DINI

    PENYAKIT DI

    PUSKESMAS

    JUMLAH KETEPA-

    TAN * (%)

    KELENG-

    KAPAN *

    (%)

    ALERT YANG DIRESPON * % Alert yang di

    respon M-30

    2017 TOT * PUSK. KEC JLH KLB

  • Buletin SIM Vol — 01 Agustus 2017 hal.10

    Sindrome penyakit dalam SKDR sebagian besar merupakan suspek kecuali malaria yang sudah kon-firmasi (baik secara RDT maupun mikroskopis). Oleh karena itu perlu dukungan laboratorium yang ber-peran sebagai laboratorium surveilans yang mendu-kung SKDR di setiap kabupaten atau propinsi atau regional yang ditunjuk. Untuk penyakit tertentu tidak semua kasus harus diperiksa sampelnya oleh labora-torium, tetapi saat diperlukan saja misalnya apabila muncul alert atau ada peningkatan kasus yang cukup bermakna. Tetapi ada juga penyakit tertentu yang harus segera dikonfirmasi setiap ada satu kasus misalnya kasus PD3I (Suspek Campak, AFP, suspek Difteri, suspek TN). Kasus AFP harus dibuktikan apakah disebabkan oleh virus polio atau bukan. Oleh karena itu seluruh kasus AFP yang dilaporkan harus diambil sampel feces dan diperiksa ke laboratorium rujukan nasional yang ditunjuk.

    Penyakit yang dilaporkan dalam SKDR basis Web setiap minggu berjumlah 23 sindrome penyakit dan dapat dikelom-pokkan dalam 5 bagian yaitu: 1. Kelompok penyakit yang termasuk PD3I (suspek Cam-

    pak, AFP, suspek Difteri, suspek Tetanus Neonatorium, suspek Pertusis dan suspek Tetanus);

    2. Kelompok penyakit ganguan pencernaan (diare akut, suspek demam thipoid, diare berdarah/disenteri, sus-pek kolera, sindrom jaundice akut);

    3. Kelompok penyakit gangguan pernafasan (pneumonia dan ILI = Influenza like Illness);

    4. Kelompok penyakit Zoonosis (susp.Leptospirosis, GHPR, susp.Antrax, susp. Flu burung pada manusia).

    5. Kelompok penyakit tular vektor (Malaria konfirmasi, susp. Dengue, susp.Chikungunya, susp.Meningithis/Enchepalitis)

    Tabel 2. Kasus AFP di Provinsi Sulawesi Utara tahun 2017

    No Kab/Kota JLh Virus

    Polio Ket. (Penting)

    1 Bolmong 1 Neg Surveilans AFP yang

    sensitive, akan men-

    deteksi secara cepat adanya importasi

    virus Polio, sehingga

    transmisi virus polio

    dapat dicegah atau

    dibatasi luas are-

    anya.

    Semakin banyak me-

    nemukan kasus AFP,

    menunjukkan bahwa

    Surveilans AFP ber-

    jalan baik, UNTUK mendukung Eradi-

    kasi Polio 2020

    2 Bolsel 0

    3 Boltim 0

    4 Bolmut 0

    5 Sangihe 0

    6 Talaud 0

    7 Minahasa 3 Neg

    8 Minsel 0

    9 Mitra 0

    10 Minut 2 Neg

    11 Sitaro 0

    12 Bitung 1 Neg

    13 Kotamobagu 0

    14 Manado 0

    15 Tomohon 0

    SULUT 8 Neg

    Kesimpulan: 1, SKDR sudah cukup baik untuk menangkap sinyal

    kewaspadaan dari pukesmas namun kabupaten/kota perlu meningkatkan upaya verifikasi atau re-spons terhadap alert yang muncul dalam SKDR.

    2. Data SKDR belum dianalisa oleh kabupaten/kota dengan alasan kuantitas SDM dan minimnya fasili-tas penunjang.

    Rekomendasi: 1. Verifikasi dan respon alert agar lebih dioptimalkan

    sehingga tidak terjadi KLB & target dapat tercapai. 2. Provinsi/kabupaten/kota wajib melihat dan mela-

    kukan verifikasi setiap minggu untuk laporan SKDR. 3. Meningkatkan koordinasi lintas program dan sektor

    termasuk masyarakat untuk respon alert. 4. Verifikasi penyakit zoonotik dan PD3I lebih dipri-

    oritaskan. 5.Kendala jaringan internet dan sinyal dapat di advo-

    kasi kepemerintah kabupaten/kota masing-masing, untuk mendukung kecepatan deteksi dini, kece-patan merespon dan kecepatan menshare data dan informasi.

  • SEKSI SURVEILANS DAN IMUNISASI (SIM) – BIDANG P2P DINAS KESEHATAN DAERAH PROVINSI SULAWESI UTARA

    BULETIN SURVEILANS

    IMUNISASI Surveillance Congenital Rubella Syndrom (CRS) Definisi Kasus CRS 1. Suspek CRS : Bayi usia

  • Surveillance Congenital Rubella Syndrom (CRS)

    Buletin SIM Vol — 01 Agustus 2017 hal.12

    Diagram Alur Penentuan Kasus CRS Pada Bayi Usia


Recommended