Home > Documents > bahan neuro.docx

bahan neuro.docx

Date post: 21-Dec-2015
Category:
Author: brandon-lawrence
View: 23 times
Download: 5 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 76 /76
BAB II TINJAUAN PSTAKA A.Deskripsi Kasus 1. Anatomi Fungsional a. Anatomi Otak Sistem saraf merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang dapat berfungsi sebagai media komunikasi antar sel maupun organ dan dapat berfungsi sebagai pengendali berbagai sistem organ lain yang berjalan relatif cepat dibandingkan dengan sistem humoral, karena komunikasi berjalan melalui proses penghantaran impuls listrik disepanjang saraf. Berdasarkan struktur dan fungsinya, sistem saraf secara garis besar dapat dibagi dalam sistem saraf pusat (SSP) yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan sistem saraf tepi (SST). Didalam sistem saraf pusat terjadi berbagai proses analisis informasi yang masuk serta proses sintesis dan mengintegrasikannya (Singgih, 2003). Otak merupakan bagian sistem saraf pusat dimana dalam pembagiannya digolongkan menjadi korteks serebri, ganglia basalis, thalamus dan hypothalamus, mesenchepalon, batang otak, dan serebelum. Bagian ini dilindungi oleh tiga selaput pelindung (meningens) yaitu duramater, arachnoidea, piamater dan dilindungi oleh tulang tengkorak (Chusid, 1993). Otak terdiri dari neuron – neuron, sel glia, cairan serebrospinalis, dan pembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama yaitu sekitar 8 100 miliar tetapi jumlah koneksi diantara berbagai neuron tersebut berbeda – beda. Orang dewasa yang mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa
Transcript

BAB IITINJAUAN PSTAKAA.Deskripsi Kasus1. Anatomi Fungsionala. Anatomi OtakSistem saraf merupakan salah satu sistem dalam tubuh yang dapatberfungsi sebagai media komunikasi antar sel maupun organ dan dapat berfungsisebagai pengendali berbagai sistem organ lain yang berjalan relatif cepatdibandingkan dengan sistem humoral, karena komunikasi berjalan melaluiproses penghantaran impuls listrik disepanjang saraf. Berdasarkan struktur danfungsinya, sistem saraf secara garis besar dapat dibagi dalam sistem saraf pusat(SSP) yang terdiri dari otak dan medula spinalis dan sistem saraf tepi (SST).Didalam sistem saraf pusat terjadi berbagai proses analisis informasi yangmasuk serta proses sintesis dan mengintegrasikannya (Singgih, 2003).Otak merupakan bagian sistem saraf pusat dimana dalam pembagiannyadigolongkan menjadi korteks serebri, ganglia basalis, thalamus dan hypothalamus,mesenchepalon, batang otak, dan serebelum. Bagian ini dilindungi oleh tigaselaput pelindung (meningens) yaitu duramater, arachnoidea, piamater dandilindungi oleh tulang tengkorak (Chusid, 1993).Otak terdiri dari neuron neuron, sel glia, cairan serebrospinalis, danpembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama yaitu sekitar8100 miliar tetapi jumlah koneksi diantara berbagai neuron tersebut berbeda beda. Orang dewasa yang mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosadi dalam darah arterinya hanya membentuk sekitar 2% atau 1,4 kg koneksi neurondari berat tubuh total (Feigin, 2006).Dalam pembahasan ini, penulis akan menjelaskan tentang (1)kortekserebri, (2) upper motor neuron yang terdiri dari traktus piramidalis dan traktusekstrapiramidalis, (3) vaskularisasi otak dan (4) plastisitas otak.a. Kortek serebriCortex cerebri merupakan bagian terluar dari hemispherium cerebri. Padapermukaan cortex cerebri terdapat aluralur atau paritparit, yang dikenal dengansulcus. Sedangkan bagian yang terletak diantara aluralur atau paritparit inidinamakan gyrus. Sulcus dan gyrus ini membagi otak menjadi lobus-lobus yangnamanya sesuai dengan nama tulang tengkorak yang menutupinya. (Chusid,1993).Berikut beberapa daerah yang penting ; (1) lobus frontalis : area 4merupakan daerah motorik yang utama. Terletak disebelah anterior sulkussentralis. Lesi daerah ini akan menghasilkan parese atau paralysis flaccidkontralateral pada kelompok otot yang sesuai. Area 6 merupakan bagian sirkuittraktus extrapiramidalis. Spasitas lebih sering terjadi jika area 6 mengalamiablatio. Area 8 berhubungan dengan pergerakan mata dan perubahan pupil. Area9, 10, 11, 12 adalah daerah asosiasi frontalis. (2) Lobus parietalis : area 3, 1, dan92 merupakan daerah sensorik postsentralis yang utama. Area 5 dan 7 adalahdaerah asosiasi sensorik. (3) Lobus temporalis : Area 41 adalah daerah auditoriusprimer. Area 42 merupakan kortek auditorius sekunder atau asosiasi. Area 38, 40,20, 21, dan 22 adalah daerah asosiasi, disini terjadi pemrosesan bentuk-bentukmasukan sensorik yang lebih elemental. (4) Lobus occipitalis : Area 17 yaitukortek striata, kortek visual yang utama, Area 18 dan 19 merupakan daerahasosiasi visual ( Duss, 1996). Lihat Gambar 2.110Gambar 2.1 Area-area Cortex cerebri menurut Brodman (Chusid,1993).Keterangan gambar 2.1Area 1 : daerah sensoris postsentralis yang utamaArea 2 : daerah sensoris postsentralis yang utamaArea 3 : daerah sensoris postsentralis yang utamaArea 4 : daerah motorik yang utamaArea 5 : daerah asosiasi sensorikArea 6 : bagian sirkuit traktus ekstrapiramidalisArea 7 : daerah asosiasi sensorikArea 8 : berhubungan dengan gerakan mata dan pupilArea 9 : daerah asosiasi frontalisArea 10 : daerah asosiasi frontalisArea 11 : daerah asosiasi frontalisArea 12 : daerah asosiasi frontalisArea 17 : korteks visual yang utamaArea 18 : asosiasi visualArea 19 : asosiasi visualArea 20 : daerah asosiasi (lobus temporalis)Area 21 : daerah asosiasi (lobus temporalis)Area 22 : daerah asosiasi (lobus temporalis)Area 38 : daerah asosiasi (lobus temporalis)Area 40 : daerah asosiasi (lobus temporalis)Area 41 : daerah auditorius primerArea 42 : daerah auditorius sekunder11b. Traktus piramidalisTraktus piramidalis disebut juga sebagai traktus kortikospinalis, serabuttraktus piramidalis muncul sebagai sel-sel betz yang terletak dilapisan kelimakortek serebri. Sekitar sepertiga serabut ini berasal dari kortek motorik primer(area 4), sepertiga dari kortek motorik sekunder (area 6), dan sepertiga dari lobusparietalis (area 3, area 1, dan area 2) (Snell, 2007).Serabut traktus piramidalis akan meninggalkan kortek motorik menujukorona radiata substansia alba serebrum kearah ekstremitas posterior kapsulainterna masuk ke diesefalon di teruskan ke mesencephalon, pons varollisampai medulla oblongata. Pada ujung akhir medulla oblongata, 80-85%serabut-serabut ini akan menyeberang kesisi yang berlawanan menuju ke anteriorhorn cell (AHC) dari medulla spinalis yang kemudian menjadi traktuskortikospinalis lateralis, Tempat menyilang ini dinamakan decussatiopyramidium (Sistem Piramidal). Sedangkan yang 20% bagian serabut yang tidakmenyilang, akan langsung menuju medulla spinalis pada AHC yang kemudianmenjadi traktus kortikospinalis anterior (Duus, 1996).Lintasan piramidal ini akan memberikan pengaruh berupa eksitasi terhadapserabut ekstrafusal yang berfungsi dalam gerak volunter. Sehingga bila terjadigangguan pada lintasan piramidal ini maka akan terjadi gangguan gerak volunterpada otot rangka bagian kontralateral (Chusid, 1993). Lihat Gambar 2.212Gambar 2.2 Perjalanan traktus pyramidalis (Duus, 1996)Keterangan gambar 2.21. Talamus2. Traktus kortikopontis3. Pedunkulus cerebral4. Pons5. Medulla oblongata6. Traktus kortikospinalis lateral (menyilang)7. Lempeng akhir motorik8. Traktus kortikospinalis anterior (langsung)9. Dekusasio pyramidalis10. Pyramida11. Traktus kortikospinalis (pyramidalis)12. Traktus kortikonuklearis13. Traktus kortikomesensefalitis14. Kaput nukleus kaudatus15. Kapsula interna16. Nukleus lentikularis17. Kauda nukleus kaudatus13c. Traktus ekstrapiramidalisSistem ekstrapiramidalis tersusun atas corpus striatum, globus pallidus,thalamus, substantia nigra, formatio lentikularis, cerebellum dan cortex motorik.Traktus ekstrapiramidalis merupakan suatu mekanisme yang tersusun dari jalurjalurdari cortex motorik menuju Anterior Horn Cell (AHC). Fungsi utama darisistem ekstrapiramidalis berhubungan dengan gerakan yang berkaitan, pengaturansikap tubuh, dan integrasi otonom. Lesi pada setiap tingkat dalam sistemekstrapiramidalis dapat mengaburkan atau menghilangkan gerakan dibawah sadardan menggantikannya dengan gerakan dibawah sadar dan menggantikannyadengan gerakan diluar sadar ( involuntary movement ) (Chusid, 1993).Susunan ekstrapiramidalis terdiri dari corpus stratum, globus palidus, intiintitalamik, nucleus subthalamicus, substansia grisea, formassio reticularis batangotak, serebellum dengan korteks motorik area 4, 6, dan 8. Komponen tersebutdihubungkan antara satu dengan yang lain dengan masing-masing akson darikomponen tersebut sehingga terdapat lintasan yang melingkar yang disebut sirkuit(Sidharta, 1995).Lesi pada setiap tingkat dalam sistem ekstrapiramidalis dapatmengaburkan atau mehilangkan gerakan dibawah sadar (voluntary) dengangerakan diluar sadar (involuntary movement) dan timbulnya spastisitas dianggapmenunjukkan gangguan pada lintasan ekstrapiramidal (Chusid, 1993). LihatGambar 2.314Gambar 2.3 Perjalanan traktus extrapiramidalis (Duus, 1996)Keterangan Gambar 2.31. Traktus frontopontin2. Traktus kortikospinalis dengan serat ekstrapyramidalis3. Thalamus4. Kaput nukleus kaudatus5. Nukleus tegmental6. Nuklei ruber7. Substansia nigra8. Traktus tegmentus sentralis9. Oliva inferior10. Pyramid11. Traktus retikulospinalis12. Traktus tektospinalis13. Traktus kortikospinalis anterior14. Traktus kortikospinalis lateral15. Traktus vestibulospinalis16. Traktus rubrospinalis17. Nukleus lateral nervus vestibularis18. Formasio retikularis19. Dari cerebellum (nukleus fastigialis)20. Nuklei pontis21. Nukleus lentikularis22. Traktus oksipitomesensefalik23. Traktus parietotemporopontin15d. vaskularisasi otakOtak merupakan organ terpenting dalam tubuh, yang membutuhkansuplai darah yang memadai untuk nutrisi dan pembuangan sisa-sisa metabolisme.Otak juga membutuhkan banyak oksigen. Menurut penelitian kebutuhan fitaljaringan otak akan oksigen dicerminkan dengan melakukan percobaan denganmenggunakan kucing. Para peneliti menemukan lesi permanen yang berat didalamkortek kucing setelah sirkulasi darah otaknya di hentikan selama 3 menit.Diperkirakan bahwa metabolisme otak menggunakan kira-kira 18% oksigen daritotal konsumsi oksigen oleh tubuh (Chusid, 1993).Pengaliran darah keotak dilakukan oleh dua pembuluh arteri utama yaituoleh sepasang arteri karotis interna dan sepasang arteria vertebralis. Keempatarteria ini terletak didalam ruang subarakhnoid dan cabang-cabangnyaberanastomosis pada permukaan inferior otak untuk membentuk circulus willisi.Arteri carotis interna, arteri basilaris, arteri cerebri anterior, arteri communicansanterior, arteri cerebri posterior dan arteri comminicans posterior dan arteriabasilaris ikut membentuk sirkulus ini (Snell, 2007).Vaskularisasi susunan saraf pusat sangat berkaitan dengan tingkatkegiatam metabolisme pada bagian tertentu dan ini berkaitan dengan banyaksedikitnya dendrit dan sinaps di daerah tersebut (Sidharta, 1995).Menurut Chusid (1993), pokok anastomose pembuluh darah arteri yangpenting didalam jaringan otak adalah circulus willisi. Darah mencapai circuluswillisi interna dan arteri vertebralis. Sebagian anastomose terjadi diantaracabang-cabang arteriole di circulus willisi pada substantia alba subscortex.16Arteria carotis interna berakhir pada arteri cerebri anterior dan arteri cerebrimedia. Di dekat akhir arteri carotis interna dari pembuluh arteri comunicansposterior yang bersatu kearah caudal dengan arteri cerebri posterior. Artericerebri anterior saling berhubungan melalui arteri comunicans anterior. Arteribasilaris dibentuk dari persambungan antara arteri-arteri vertebralis. Pemberiandarah ke certex terutama melalui cabang-cabang kortikal dari arteri cerebrianterior, arteri cerebri media dan arteri cerebri posterior, yang mencapai cortexdi dalam piamater.Faktor yang mempengaruhi aliran darah di otak, diantaranya adalah (1)keadaan arteri, dapat menyempit karena tersumbat oleh thrombus dan embolus,(2) keadaan darah, dapat mempengaruhi aliran darah dan suplai oksigen, (3)keadaan jantung, bila ada kelainan dapat mengakibatkan iskemia di otak(Lumbantobing, 2004).17Keterangan gambar 1.41. Anterior communicatingartery2. Middle cerebral artery3. Lenticulostriate artery4. Posteriorcofmmunicating artery5. Basilar artery6. Pontine artery7. Internal auditory artery8. Posterior inferiorcerebellar artery9. Verteral artery10. Anterior spinal artery11. Anterior inferiorcerebellar artery12. Superior cerebellarartery13. posterior cerebellarartery14. Anterior coroidal artery15. Internal carotid artery16. Anterior cerebral arteryGambar 2.4 Circulus Willisi (Chusid, 1993)2. StrokeStroke adalah cedera vaskuler akut pada otak. Ini berarti bahwa strokeadalah suatu cedera mendadak dan berat pada pembuluh-pembuluh darah otak.Cedera dapat disebabkan oleh sumbatan bekuan darah, penyempitan pembuluhdarah, sumbatan dan penyempitan, atau pecahnya pembuluh darah. Semua inimenyebabkan kurangnya pasokan darah yang memadai (Feigin, 2006).18Stroke Non haemoragik atau iskemik, yaitu suatu gangguan fungsionalotak akibat gangguan aliran darah ke otak karena adanya bekuan darah yang telahmenyumbat aliran darah (Yastoki, 2007). Pada stroke non haemoragik alirandarah ke sebagian jaringan otak berkurang atau berhenti. Hal ini bias disebabkanoleh sumbatan thrombus, embolus atau kelainan jantung yang mengakibatkancurah jantung berkurang atau oleh tekanan perfusi yang menurun(Lumbantobing,2004).Sedangkan menurut Feigin, (2006) stroke haemoragik disebabkan olehperdarahan kedalam jaringan otak (disebut haemoragia intraserebrum atauhematom intraserebrum) atau kedalam ruang subaraknoid, yaitu ruang sempitantara permukaan otak dan lapisan jaringan yang menutupi otak (disebuthaemoragia subaraknoid).Stadium recovery adalah suatu tahapan ataupun proses patologi stroke. Padastadium ini terjadi reabsorpsi udema, sehingga proses desak ruang akut yangterjadi di dalam otak berangsur-angsur menurun, aktivitas refleks spinal sudahdapat berfungsi tetapi belum mendapat kontrol dari sistem supraspinal (Kuntono,2002).Berat ringannya dampak serangan stroke sangat bervariasi tergantung padalokasi dan luas daerah otak yang rusak. Bila aliran darah terputus hanya pada areayang kecil atau terjadi pada daerah otak yang rawan, efeknya ringan danberlangsung sementara. Sebaliknya bila aliran darah terputus pada area yang luasatau pada bagian otak yang vital akan terjadi kelumpuhan yang parah sampai padakematian (Vitahelth, 2003).193. EtiologiBerdasarkan etiologi Hinton (1995) membagi stroke menjadi dua :(1)Stroke hemoragik yaitu suatu gangguan fungsi saraf yang disebabkankerusakan pembuluh darah otak sehingga menyebabkan pendarahan pada areatersebut. (2)Stroke nonhemoragik, yaitu gangguan fungsi saraf yang disebabkanoleh tersumbatnya pembuluh darah otak sehingga distribusi oksigen dan nutrienke area yang mendapat suplai terganggu.Berdasarkan perjalanan klinisnya stroke non haemoragik dibagi menjadi 4,yaitu: (1) TIA (transient ischemik attack) merupakan serangan stroke sementarayang berlangsung kurang dari 24 jam(2) RIND (reversible ischemic neurologic deficit) merupakan gejala neurologisyang akan menghilang antara > 24 jam sampai dengan 21 hari(3) progressing stroke atau stroke in evolution merupakan kelainan atau defisitneurologis yang berlangsung secara bertahap dari yang ringan sampai menjadiberat(4) complete stroke atau stroke komplit merupakan kelainan neurologis yangsudah menetap dan tidak berkembang lagi (Junaidi, 2006).Faktor resiko stroke menurut Feigin dibagi menjadi dua yaitu faktorresiko yang dapat dimodifikasi seperti gaya hidup dan faktor resiko yangtidak dapat dimodifikasi seperti penuaan, kecenderungan genetik, dan sukubangsa. Faktor resiko yang terpenting adalah :20a. HipertensiTekanan darah yang tinggi secara terus-menerus menambah bebanpembuluh arteri perlahan-lahan. Arteri mengalami proses pengerasan menjaditebal dan kaku sehingga mengurangi elastisitasnya. Hal ini dapat pulamerusak dinding arteri dan mendorong proses terbentuknya pengendapanplak pada arteri koroner. Hal ini meningkatkan resistensi pada aliran darahyang pada gilirannya menambah naiknya tekanan darah. Semakin beratkondisi hipertensi, semakin besar pula faktor resiko yang ditimbulkan(Soeharto, 2004).b. Penyakit jantungEmboli yang terbentuk dijantung akibat adanya kelainan pada arterijantung trutama arteria coronaria dapat terlepas dan dapat mengalir ke otaksehingga dapat menyumbat arteri di otak dan dapat mencetuskan strokeischemia (Feigin, 2006).c. Diabetes mellitusDiabetes mellitus dapat menimbulkan perubahan pada systemvaskuler (pembuluh darah dan jantung) serta memicu terjadinyaaterosklerosis (Feigin, 2006).d. MerokokAsap rokok yang mengandung nikotin yang memacu pengeluaran zat-zatseperti adrenalin dapat merangsang denyut jantung dan tekanan darah. Kandungancarbonmonoksida dalam rokok memiliki kemampuan jauh lebih kuat daripada seldarah merah (hemoglobin) untuk menarik atau menyerap oksigen sehingga21kapasitas darah yang mengangkut oksigen ke jaringan lain terutama jantungmenjadi berkurang. Hal ini akan mempercepat terjadinya stroke ischemia bilaseseorang sudah mempunyai penyakit jantung (Soeharto, 2004).e. Makanan yang tidak sehatJika seseorang mengkonsumsi kalori lebih banyak daripada yang merekagunakan dalam aktivitas sehari-hari, kelebihan kalori tersebut akan diubahmenjadi lemak yang menumpuk di dalam tubuh (Feigin, 2006).4. PatologiTelah disebutkan sebelumnya bahwa stroke haemoragik adalah perdarahanke dalam jaringan otak. Perdarahan dari sebuah arteri intrakranium biasanyadisebabkan oleh aneurisma (arteri yang melebar) yang pecah atau karena suatupenyakit.Gambaran patologik menunjukkan ekstravasasi darah karenarobek/pecahnya pembuluh darah otak, diikuti pembentukan oedema dalamjaringan otak disekitar hematoma, akibatnya terjadinya diskontinuitas jaringan dankompresi oleh hematoma dan oedema pada struktur sekitar sehinggamenyempitkan atau menyumbat pembuluh darah yang lain disekitarnya sehinggaterjadi ishemik pada jaringan yang dilayaninya.Gejala klinis yang timbul bersumber dari destruksi jaringan otak, kompresipembuluh darah otak/ishemik dan kompresi pada jaringan otak lainnya, gejalaklinis yang menyertai diantaranya adalah nyeri kepala hebat, mual-mual, muntah22muntah yang sering terjadi diawal serangan, hemiplegi/parese biasa terjadi sejakpermulaan serangan dan kesadaran biasanya menurun bahkan sampai koma.Stroke menyerang pada susunan sraf pusat maka lesi yang diakibatkantermasuk pada lesi upper motor neuron. Hemiplegi yang diakibatkan lesi padakortek motor primer bersifat kontralateral, kerusakan yang menyeluruh namunbelum meruntuhkan semua neuron kortek pyramidal sesisi, menimbulkankelumpuhan pada belahan tubuh kontraleteral dari yang ringan sampai sedang.Meskipun yang terkena sisi tubuh kanan atau kiri pada umumnya terdapatberbedaan antara lengan dan tungkai, perbedaan tersebut nampak jika kerusakanpada tingkat korteks namun jika kerusakan pada tingkat kapsula interna makahemiplegi tidak ada perbedaan.Kerusakan atau kelumpuhan yang dikarenakan lesi pada kapsula internahampir selamanya disertai hipertonus yang khas hal ini dikarenakan pada kapsulainterna dilewati serabut serabut ekstrapiramidal. Tergantung pada arteri yangterkena maka lesi vaskular yang terjadi di kapsula interna dapat mengakibatkankerusakan area disekitarnya seperti radiasio optika, nucleus kaudatus dan putamensehingga hemiplegia akibat lesi kapsula interna memperihatkan kelumpuhanupper motor neuron yang disertai oleh rigiditas, atetosis, distonia tremor atauhemianopia.Gambaran klinis utama yang dapat dikaitkan dengan pembuluh darah otakyang pecah adalah sebagai berikut :23(1) Kerusakan pada vertebro basilaris (sirkulasi posterior) mengakibatkanterjadinya kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak, peningkatan reflektendon, ataksia, tanda babinsky bilateral, disfagia, disartria, koma, gangguan dayaingat, gangguan penglihatan dan muka baal.(2) Kerusakan pada arteri karotis interna (sirkulasi anterior) gejalanyabiasanya unilateral. Lokasi yang paling sering terkena pada bifurkasio arterikarotis komunis menjadi arteri karotis interna dan eksterna. Tanda tandanyaadalah anggota gerak atas terasa lemah dan baal, bila hemisfer dominan makadapat terjadi afasia ekspresif.(3) Kerusakan pada arteri cerebri anterior gejala utamanya adalah perasaankacau, kelemahan kontralateral terutama pada tungkai, lengan bagian proksimalmungkin juga terkena, gerak voluntair tungkai terganggu, gangguan sensorikkontralateral, demensia, muncul reflek patologis.(4) Kerusakam pada arteri cerebri posterior tanda gejalanya adalah koma,hemiparesis kontralateral, afasia visual, hemianopsia.(5) Kerusakan pada arteri cerebri media gejalanya adalah monoparesis atauhemiparesis kontralateral, kadang kadang ada hemianopsia kontralateral, afasiaglobal bila hemisfer dominan terkena, gangguan pada semua fungsi yangberkaitan dengan percakapan dan komunikasi, disfagia (Aminudin, 2000).245. Tanda dan gejalaTanda dan gejala yang ditimbulkan sangat bervariasi tergantung dari topisdan derajat beratnya lesi. Akan tetapi tanda dan gejala yang dijumpai padapenderita pasca stroke haemoragik stadium akut secara umum meliputi (1)gangguan motorik : kelemahan atau kelumpuhan separo anggota gerak, gangguangerak volunter, gangguan keseimbangan, gangguan koordinasi, (2) gangguansensoris : gangguan perasaan, kesemutan, rasa tebal-tebal, (3) gangguan bicara :sulit berbahasa (disfasia), tidak bisa bicara (afasia motorik), tidak bisa memahamibicara orang (afasia sensorik), (4) gangguan kognitif (Soetedjo, 2004, dalamRujito, 2007).6. KomplikasiKomplikasi yang akan timbul apabila pasien stroke tidak mendapatpenanganan yang baik. Komplikasi yang dapat muncul antara lain (Suyono,1992):a. Abnormal tonusAbnormal tonus secara postural mengakibatkan spastisitas. Serta dapatmenggangu gerak dan menghambat terjadinya keseimbangan.b. Sindrom bahuSindrom bahu merupakan komplikasi dari stroke yang dialami sebagianpasien. Pasien merasakan nyeri dan kaku pada bahu yang lesi akibatimobilisasi.25c. Deep vein trombosisDeep vein trombosis akibat tirah baring yang lama, memungkinkantrombus terbentuk di pembuluh darah balik pada bagian yang lesi. Hal inimenyebabkan oedem pada tungkai bawah.d. Orthostatic hypotensionOrthostatic hypotension terjadi akibat kelainan barometer pada batangotak. Penurunan tekanan darah di otak mengakibatkan otak kekurangandarah.e. KontrakturKontraktur terjadi karena adanya pola sinergis dan spastisitas. Apabiladibiarkan dalam waktu yang lama akan menyebabkan otot-otot mengecildan memendek.7. PrognosisApabila pasien dapat mengatasi serangan stroke recovery, prognosis untukkehidupannya baik. Dengan rehabilitasi yang aktif, banyak penderita dapatberjalan lagi dan mengurus dirinya. Prognosis buruk, bagi penderita yang disertaidengan aphasia sensorik (Chusid, 1993).Menurut Chusid (1993) prognosis trombosis serebri ditentukan oleh lokasidan luasnya infark, juga keadaan umum pasien. Makin lambat penyembuhannyamaka akan semakin buruk prognosisnya, pada emboli serebri prognosis jugaditentukan oleh adanya emboli dalam organ-organ lain, disamping itu penangananyang tepat dan cepat serta kerjasama tim medis dengan penderita mempengaruhi26prognosis dari stroke. Oleh karena itu, stroke yang ringan dengan penangananyang tepat sedini mungkin dengan kerjasama yang baik antara tim medis danpenderita akan menjadikan prognosis yang baik, sedangkan pada kondisisebaliknya prognosis akan menjadi buruk karena dapat menimbulkan kecacatanyang permanen bahkan juga kematian.8. Diagnosis BandingDiagnossis banding antara stroke iskemik dan stroke hemoragik yaitu padastroke iskemik ada nyeri kepala ringan, gangguan kesadaran ringan atau tidak ada,dan defisit neurologis atau kelumpuhan berat. Sedangkan pada stroke hemoragikada nyeri kepala yang berat, gangguan kesadaran sedang sampai berat, dan defisitneurologis ada yang ringan dan ada yang berat (Junaidi, 2006)Tapi jika lebih spesifik lagi, diagnosa banding penyebab stroke nonhemoragik, yaitu thrombosis dan emboli menurut Chusid (1993) yaitu onset yangrelatif lambat menyokong diagnosa thrombosis. Sedang endocarditis infeksiosa,fibrilasi atrium dan infark myocard menyokong diagnosa emboli.Ada beberapa penyakit yang memiliki tanda dan gejala yang menyerupaipenyakit stroke, misalnya trauma kepala, tumor intracranial (massa, hematoma,edema), meningitis atau virus. Untuk menegakkan diagnosis tersebut diperlukanpemeriksaan yang lebih spesifik misalnya : Computerized Tomography Sanning(CT Scan), Magnetic Resonance Imaging (MRI), Possitron Emesion TomographScanning ( PET Scan), dan pemeriksaan penunjang laboratorium (Chussid,1993).27B. Problematik FisioterapiProblematik fisioterapi pada pasien stroke stadium recovery menimbulkantingkat gangguan.1. ImpairmentImpairment atau gangguan tingkat jaringan yaitu gangguan tonus otot secarapostural, semakin tinggi tonus otot maka akan terjadi spastisitas ke arah fleksiatau ektensi yang mengakibatkan terganggunya gerak ke arah normal. Sehinggaterjadi gangguan kokontraksi dan koordinasi yang halus dan bertujuan padakecepatan dan ketepatan gerak anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesi. Sertadapat mengakibatkan gangguan dalam reaksi tegak, mempertahankankeseimbangan atau protective reaction anggota gerak atas dan bawah pada sisi lesisaat melakukan gerakan2. Functional limitationFunctional limitation yang timbul adalah terjadi penurunan kemampuanmotorik fungsional. Penurunan kemampuan dalam melakukan aktifitas dari tidurterlentang seperti mampu melakukan gerakan tangan dan kaki secara aktif saatmiring, terlentang duduk disamping bed seperti mampu melakukan gerakanmenggangkat kepala namun saat menurunkan kaki butuh bantuan orang lain agarmampu duduk disamping bed, keseimbangan duduk seperti kurang mampu28mempertahankan keseimbangan duduk, dari duduk ke berdiri seperti masihmembutuhkan bantuan orang lain, berjalan seperti masih membutuhkan bantuandari orang lain, fungsi anggota gerak atas seperti gerakan mempertahankan posisilengan ke segala arah dan pergerakkan tangan yang terampil seperti mengambilbenda dan memindahkan dari satu tempat ke tempat lain.3. DisabilityYang termasuk dalam disability adalah terjadi ketidakmampuan melakukanaktifitas sosial dan berinteraksi dengan lingkungan. Seperti gangguan dalammelakukan aktivitas bekerja karena gangguan psikis dan fisik.C. Teknologi Intervensi FisioterapiPemilihan intervensi fisioterapi harus disesuaikan dengan kondisi pasien.Dimana dalam metode pendekatan fisioterapi itu harus banyak variasinya agarpasien tidak bosan dalam melakukan rehabilitasi. Ada yang berpendapat bahwapendekatan fisioterapi pada pasien stroke itu tidak menggunakan satu metode sajamelainkan dengan penggabungan yang disusun sedemikian rupa sesuia dengankondisi dan kemampuan pasien agar memperoleh hasil yang maksimal (Suyono,1992).Pendekatan yang dilakukan fisioterapi antara lain adalah terapi latihan, yangterdiri dari breathing eercise, latihan dengan mekanisme reflek postur, latihanweight bearing, latihan keseimbangan dan koordinasi, dan latihan fungsional.291. Breathing ExerciseBreathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yangditujukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi. Tirah baringyang cukup lama dan toleransi aktivitas yang menurun mengakibatkan penurunanmetabolisme secara umum. Hal ini dapat menurunkan kapasitas fungsional padasistem tubuh dengan menifestasi klinis berupa sindroma imobilisasi, salah satunyapada sistem respirasi yang berupa penurunan kapasitas vital, penurunan ekspansisangkar thorak, penurunan ventilasi volunter, gangguan mekanisme batuk (Saleem& Vallbona, 2001).Breathing exercise dilakukan sebelum dan sesudah latihan diberikan kepadapasien. Metode yang dipilih adalah deep breathing exercise. Deep breathingexercise adalah bagian dari brething exercise yang menekankan pada inspirasimaksimal yang panjang yang dimulai dari akhir ekspirasi dengan tujuan untukmeningkatkan volume paru, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankanalveolus agar tetap mengembang, meningkatkan oksigenasi, membantumembersihkan sekresi mukosa, mobilitas sangkar thorak, dan meningkatkankekuatan dan daya tahan serta efisiensi dari otot-otot pernafasan (Levenson,1992).2. Latihan dengan mekanisme reflek posturGangguan tonus otot (spastisitas) secara postural pada pasien stroke, dapatmengakibatkan gangguan gerak. Melalui latihan dengan mekanisme reflek posturdengan cara mengontrol spastisitas secara postural mendekati status normal, maka30seseorang akan lebih mudah untuk melakukan gerakan volunter dan mengontrolspastisitas otot secara postural (Rahayu, 1992).Konsep dalam melakukan latihan ini adalah mengembangkan kemampuangerak normal untuk mencegah spastisitas dengan menghambat gerakan yangabnormal dan mengembangkan kontrol gerakan (Rahayu, 1992). Dalam upayamelakukan penghambatan maka perlu adanya penguasaan teknik pemegangan(Key Point of Control) (Suyono, 1992). Bentuk latihannya antara lain :a) Mobilisasi trunkMenurut Davies (1990) salah satu latihan melalui mekanisme reflek posturaladalah mobilisasi trunk seperti gerakan fleksi, ektensi, dan rotasi trunk. Latihanmobilisasi trunk merupakan komponen keseimbangan serta akan menghambatpola spastisitas melalui gerakan rileksasi dari trunk.. Salah satunya adalah latihanrotasi trunk, gerak rotasi merupakan komponen gerak yang sangat penting untukmenunjang fungsi tubuh (Suyono, 1992).b) Latihan menghambat pola spastisitas anggota gerak atas dan bawahLatihan menghambat pola spastisitas seperti latihan menghambat spastisitaspada lengan dan tungkai serta latihan mengontrol tungkai. Latihan ini bertujuanuntuk menurunkan spastisitas serta dapat melakukan gerakan yang selektif hinggamenuju ke aktivitas fungsional seperti latihan menghambat ektensor tungkaikhususnya pada kaki untuk mempersiapkan tungkai saat berjalan agar tidak terjadidroop foot (Davies, 1985).313. Latihan weight bearingLatihan weight bearing untuk mengontrol spastisitas pada ekstremitas dalamkeadaan spastis. Melalui latihan ini diharapkan mampu merangsang kembalifungsi pada persendian untuk menyangga. Latihan ini berupa mengenalkankembali bentuk permukaan benda yang bervariasi kepada sisi yang lumpuh agarkembali terbentuk mekanisme feed back gerakan yang utuh (Rahayu, 1992 ).Latihan weight bearing dapat dilakukan saat duduk dan berdiri. Latihanweight bearing saat duduk bisa melakukan gerak menumpu berat badan kebelakang, depan dan samping kanan serta kiri. Sedangkan latihan weight bearingsaat berdiri bisa melakukan gerakan menumpu berat badan kedepan dan belakang.Latihan weight bearing saat berdiri bertujuan untuk mempersiapkan latihanberjalan agar tidak ada keraguan dalam melangkah karena adanya spastisitas(Davies, 1985).4. Latihan keseimbangan dan koordinasiLatihan keseimbangan dan koordinasi pada pasien stroke stadium recoverysebaiknya dilakukan dengan gerakan aktif dari pasien dan dilakukan pada posisiterlentang, duduk dan berdiri. Latihan aktif dapat melatih keseimbangan dankoordinasi untuk membantu pengembalian fungsi normal serta melalui latihanperbaikan koordinasi dapat meningkatkan stabilitas postur atau kemampuanmempertahankan tonus ke arah normal (Pudjiastuti, 2003). Latihan keseimbangandan koordinasi pada pasien stroke non haemoragik stadium recovery dapat32dilakukan secara bertahap dengan peningkatan tingkat kesulitan dan penambahanbanyaknya repetisi.Latihan keseimbangan dapat dilakukan pada posisi duduk dan berdiri.Latihan ini merupakan latihan untuk meningkatkan reaksi keseimbanganequilibrium berbagai keadaan serta merupakan komponen dasar dalamkemampuan gerak untuk menjaga diri, bekerja dan melakukan berbagai kegiatandalam kehidupan sehari-hari (Davies, 1985). Latihan keseimbangan dankoordinasi merupakan latihan yang saling berkaitan yang dapat menimbulkangerak volunter (Rahayu, 1992).5. Latihan fungsionalPada pasien stroke non haemoragik stadium recovery terjadi gerak anggotatubuh yang lesi dengan total gerak sinergis sehingga dapat membatasi dalam gerakuntuk aktivitas fungsional dan membentuk pola abnormal (Rahayu, 1992).Latihan fungsional dimaksudkan untuk melatih pasien agar dapat kembalimelakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri tanpa menggantungkan penuhkepada orang lain. Latihan fungsional berupa latihan yang berhubungan dengankehidupan sehari-hari. Jika latihan fungsional dilakukan berulang ulang akanmenjadikan pengalaman yang relatif permanen atau menetap dan akhirnya akanmenjadi sebuah pengalaman gerak yang otomatis (Suyono, 1992).Latihan fungsional seperti latihan briging, latihan duduk ke berdiri danlatihan jalan. Latihan briging untuk mobilisasi pelvis agar dapat stabil danmenimbulkan gerakan ritmis saat berjalan (Johnstone, 1987). Latihan duduk ke33berdiri merupakan latihan untuk memperkuat otot-otot tungkai danmempersiapkan latihan berdiri (Davies, 1985). Latihan jalan merupakankomponen yang sangat penting agar pasien dapat melakukan aktivitas berjalandengan pola yang benar (Davies, 1985).34BAB IIIMETODE PENELITIANA. Rancangan PenelitianRancangan penelitian yang digunakan dalam pembuatan Karya Tulis Ilmiahini adalah Studi Kasus. Rencana penelitian adalah suatu konsep pelaksanaanprogram sesuai dengan perencanaan, yang sesuai teknis sesuai prosedur-prosedurpada masing-masing metodelogi dan dalam penelitian tersebut sesuai prinsipprinsippencatatan dalam proses Fisioterapi.B. Kasus TerpilihDalam hal ini penulis memilih kasus stroke hemorage stadium recovery padaNy. S di RS PKU Muhammadyah Surakarta. Penulis memilih kasus inidikarenakan pasien dianggap mampu untuk dijadikan objek penelitian mulai darihari kedua puluh empat serangan stroke hemorage sampai pasien pulih. Sehinggamenurut penulis, hasil penelitian dari terapi latihan pada stroke hemorage dapatmenggambarkan perubahan kekuatan otot menjadi bertambah.C. Instrument Penelitian1) Variabel DependentDalam penelitian ini variabel dependentnya adalah kelemahan anggotagerak kanan, penurunan kekuatan otot anggota gerak kanan, potensialkontraktur, dekubitus dan penurunan kemampuan fungsional.35a. Definisi konseptual1. Spastisitas adalah kekakuan yang disebabkan oleh meningkatnya tonusotot.2. Breathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yangditunjukan untuk mencegah penurunan fungsional sistem respirasi.3. Latihan koordinasi dan keseimbangan adalah latihan yang dilakukanuntuk mengetahui tingkat koordinasi pasien dan keseimbangan.4. Latihan fungsional adalah latihan yang dilakukan untuk meningkatkanaktifitas fungsional dasar yang bertujuan untuk mengetahui adatidaknya gangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas.5. Latihan peningkatan kekuatan otot adalah latihan gerak secara aktifyang dilakukan oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya.b. Definisi operasional1. Pemeriksaan tonus ototPemeriksaan tonus otot dilakukan dengan gerakan pasif yangsemakin cepat pada anggota gerak yang lesi, penilaian menggunakan skalaAsworth yang dimodifikasi.TABEL 3.1SKALA ASWORTH YANG DIMODIFIKASINilai Keterangan0 Tidak ada peningkatan tonus otot1 Ada peningkatan tonus otot, ditandai denganterasanya tahanan minimal (catch and release) padaakhir ROM pada waktu sendi digerakan fleksi atauekstensi2 Ada peningkatan sedikit tonus, ditandai denganadanya pemberhentian gerakan (catch) pada36pertengahan ROM dan diikuti dengan adanyatahanan minimal sepanjang sisa ROM3 Peningkatan tonus otot lebih nyata sepanjangsebagian besar ROM, tapi sendi masih mudahdigerakan4 Peningkatan tonus otot sangat nyata sepanjangROM, gerakan pasif sulit dilakukan5 Sendi atau ekstermitas kaku/rigid pada gerakanfleksi atau ekstensiSumber : Setiawan 20022. Pemeriksaan cairan mukusPemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknyapenumpukan cairan mukus. Pemeriksaan dilakukan dengan caramendengarkan paru-paru menggunakan stetoskop.3. Pemeriksaan Koordinasi Non EquilibriumPemeriksaan koordinasi dilakukan untuk mengetahui tingkatkoordinasi pasien saat dilakukan tes koordinasi selain factor kemampuanmelainkan gerakan, factor kecepatan juga harus dipertimbangkan.TABEL 3.2Koordinasi Non EqulibriumSkalaKananSkala KiriJari ke hidungJari pasien ke jari trapisJari ke jari tangan yanglainMenyentuh hidung danjari tangan bergantianGerak aposisi jaritangan37MenggenggamPronasi SupinasiRebound tesTepuk tanganTepuk kakiMenunjukTumit ke lututTumit ke jari kakiJari kaki menunjuk jaritangan terapisTumit menyentuhbawah lututMenggambar lingkarandengan tanganMenggambar lingkarandengan kakiMempertahankan posisianggota gerak atasMempertahankan posisianggota gerak bawahSullivan dan Schmitez, dikutip olehPudjiastuti dan Utomo, 2003Kriteria Penilaian Koordinasi Non Equlibrium1. Tidak mampu melakukan aktifitas2. Keterbatasan berat, hanya dapat mengawali aktifitas tetapitidak lengkap3. Keterbatasan sedang, dapat menyelesaikan aktifitas tetapikoordinasi tampak menurun dengan jelas, gerakan lambat,kaku dan tidak setabil4. Keterbatasan minimal, dapat menyelesaikan aktifitasdengan kecepatan dan kemampuan lebih lambat sedikitdisbanding normal5. Kemampuan normal4. Pemeriksaan Fungsi MotorikPemeriksaan motorik dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknyagangguan motorik saat pasien melakukan aktifitas. Pemeriksaan motorikdilakukan dengan Modified Motor Assesment Scale (MMAS).Pemeriksaan ini dilakukan pada gerak terlentang ke tidur miring pada sisi38sehat, terlentang ke duduk disamping bed, keseimbangan duduk, duduk keberdiri.TABEL 3.4Modified Motor Assesment ScaleNILAINORMALITEM YANG DI UKURTelentang ke tidur miring pada sisi sehat.1Miring sendiri tanpa bantuan (pasien miring sendiri denganlengan sehatnya, kaki sakit digerakkan oleh kaki sehat, posisi awalharus telentang tanpa kaki semifleksi)2Bisa menggerakkan kaki menyilang secara aktif dan separuhbadan yang bawah mengikuti (posisi awal sama dengan atas danlengan mengikuti belakangan)3Lengan mampu diangkat, menyilang badan dengan lengansatunya, kaki bergerak secra aktif dan badan mengikuti (posisiawal sama dengan diatas)4 Lengan bisa digerakkan sendiri secara aktif dan sisi tubuh/badanyang istirahat mengikuti (posisi awal sama dengan diatas)5Tangan dan kaki bisa berputar kesamping tapi tidak seimbang(posisi awal sama dengan diatas, shoulder protraksi dan lenganfleksi ke depan)6 Mampu miring dalam 3 detik (posisi awal sama dengandiatas tidak menggunakan tangan)Telentang keduduk disamping bed1 Miring, kepala naik tetapi tidak dapat bangun ke duduk (pasiendibantu untuk ke miring)2 Miring untuk duduk disamping bed (terapis membantu pasiendengan gerakan, pasien mengontrol posisi kepala)3Miring untuk duduk disamping bed (terapis siap memberikanbantuan pada pasien dengan membantu membawa lutut kesamping bed )394Miring ke duduk disamping bed (tanpa bantuan terapis)5 Telentang ke duduk disamping bed (tanpa bantuan terapis)6 Telentang ke duduk disamping bed selama 10 detik (tanpabantuan terapis)Keseimbangan duduk1 Duduk dengan support (terapis membantu pasien untuk duduk)2 Duduk tanpa support selama 10 detik (tanpa menahan, lutut &kaki bersamaan, kaki dapat disupport dengan lantai)3Duduk tanpa support dengan berat badan cenderung kedepan(berat harus cenderung kedepan dengan baik dengan pahadifleksikan, kepala dan thorak ekstensi, berat harus seimbang dikedua sisi)4Duduk tanpa support, memutar kepala dan trunk untuk melihat kebelakang (kaki tersangga kedua-duanya pada lantai) janganbiarkan lutut abduksi atau telapak kaki bergerak, tangan rileks,jangan biarkan tangan untuk bergerak, putar tubuh ke kanan dankiri)5Duduk tanpa support, raih kedepan untuk menyentuh lantai dankembali ke posisi awal, kaki tersangga pada lantai. Jangan biarkanpasien untuk menahan. Jangan biarkan lutut dan telapak kakiuntuk bergerak. Sangga lengan yang lemah bila perlu. Tanganharus menyentuh lantai paling tidak 10 cm didepan telapak kaki.Raih dengan masing-masing lengan.6Duduk di stool/kursi kecil , raih kesisi samping untuk menyentuhlantai, kembali ke posisi semula (telapak kaki tersangga di lantai)jangan biarkan pasien untuk menahan. Jangan biarkan lutut dantelapak kaki untuk bergerak. Sangga lengan yang lemah jika perlu.Pasien harus meraih kesamping, bukan ke depan. Raih kedua sisikanan kiri.Duduk ke berdiri1 Dapat berdiri dengan bantuan terapis (berbagai metode)2Dapat berdiri dengan diawasi terapis (berat badan masihdidistribusikan tidak merata dengan menggunakan bantuan daritangan)403 Dapat berdiri (tidak boleh berat sebelah atau dibantu tangan)4 Dapat berdiri sendiri dan mampu mempertahankan dalam 5 detikdengan hip dan knee ekstensi (tidak boleh berat sebelah)5 Duduk ke berdiri dan duduk lagi tanpa dijaga/diawasi (tidak bolehberat sebelah, ekstensi penuh dari hip dan knee)6 Mampu duduk ke berdiri tanpa diawasi 3 kali dalam 10 detik(tidak boleh berat sebelah)Sumber : Setiawan, 20025. Pemeriksaan kekuatan ototPemeriksaan kekuatan otot ini dilakukan untuk membantumenegakkan diagnose fisioterapi dan jenis latihan yang diberikan, dandapat menentukan prognosis pasien serta dapat digunakan sebagai bahanevaluasi. Maka pemeriksaan kekuatan otot dianggap penting. Parameteryang digunakan untuk mengetahui nilai kekuatan otot adalah pemeriksaankekuatan otot secara manual atau manual muscle testing (MMT) denganketentuan sebagai berikut :TABEL 3.5Kriteria Kekuatan OtotNo Nilai Kriteria Cara1 5 Subyek bergerak dengan LGS penuhmelawan gravitasi dan tahana maksimalTerapis memberikantahanan minimalpada gerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi padapergelangna tangan2 4+ Subyek bergerak dengan LGS penuhmelawan gravitasi dan tahanan moderatTerapis memberikantahanan yangmoderat pada gerakfleksi, ekstensi.41Abduksi dan adduksi3 4 Subyek bergerak dengan LGS penuhmelawan gravitasi dan tahanan minimalTerapis memberikantahanan minimalpada gerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi4 4- Subyek bergerak dengan LGS hampirpenuh melawan gravitasi dan tahananminimalTerapis memberikantahanan minimalpada gerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi5 3+ Subyek bergerak dengan LGS kurang darimidle range dan tahanan minimalTerapis memberikantahanan minimalpada gerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi6 3 Subyek bergerak dengan LGS penuhmelawan gravitasiPasien disuruh untukbergerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi sendiri7 3- Subyek bergerak dengan LGS penuhmelawan gravitasi dengan LGS lebih darimidle rangePasien disuruh untukbergerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi sendiri8 2+ Subyek bergerak denga sedikit melawangravitasiPasien disuruh untukbergerak fleksi,ekstensi, abduksi danaduksi sendiri9 2 Subyek bergerak dengan LGS penuh tanpamelawan graitasiPosisi pasien tidurterlentang pasiendisuruh untukmenggerakan fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi pada sebuahpapan sendiri10 2- Subyek bergerak dengan LGS tidak penuhtanpa melawan gravitasiPosisi pasien tidurterlentang pasiendisuruh untukmenggerakan fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi pada sebuahpapan sendiri11 1 Kontraksi otot dapat dipalpasi Pasien disuruh untukbergerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi sendiri lalu42terapis mempalpasiotot12 0 Kontraksi otot tidak terdeteksi denganpalpasiPasien disuruh untukbergerak fleksi,ekstensi, abduksi danadduksi sendiri laluterapis mempalpasiototSumber: Medical Research-Council6. Pemeriksaan pola sinergisPemeriksaan pola sinergis dengan inspeksi pada saat pasien menguap,bersin atau batuk.TABEL 3.6POLA SINERGIS PADA STROKEPola sinergis Ekstermitas atas Ekstermitas bawahFleksor sinergis Scapula : elevasi danretraksiPelvis : elevasi danretraksiBahu : abduksi, eksorotasi(endorotasi)Panggul : fleksi, eksternalrotasiSiku : fleksi Lutut : fleksiLengan bawah : supinasi(pronasi)Pergelangan kaki : dorsifleksi dalam supinasiPergelangan tangan : fleksi Jari-jari : ekstensi, dalamkeadaan spastis jari-jarifleksiJari-jari dan ibu jari : fleksidan adduksiIbu jari : ekstensiEkstensor sinergis Scapula : protaksi dandepresiPelvis : elevasi, retraksiBahu : endorotasi danadduksiPanggul : ekstensi,endorotasi, adduksiSiku : ekstensi Lutut : ekstensiLengan bawah : pronasi Pergelangan kaki : plantarfleksi , inversiPergelangan tangan :sedikit ekstensi atau fleksiJari-jari : fleksi, adduksiJari-jari dan ibu jari : fleksidan adduksiIbu jari : ekstensiSumber : Suyono, 1992437. Tes reflekTes reflek merupakan informasi penting yang sangat menentukanmaka penilaiannya harus tepat dan secara banding antara kanan dankiri. Disamping itu posisi anggota gerak harus sepadan pada waktuperangsangan dilakukan. Tes reflek meliputi reflek patologis danreflek fisiologis. Untuk reflek patologis bertujuan untukmengetahui apakah reflek tersebut yang sudah hilang muncul lagi.Adapun pembagian refleknya antara lain :1. Reflek Patologis meliputi : Babinsky, Chaddock. Adapun carapemeriksaanya antara lain : (1) Babinsky cara memberikangoresan pada telapak kaki bagian lateral yang sakit, reaksi yangterjadi adalah ekstensi ibu jari kaki dan pengembangan jari-jarikaki, (2) Chaddock cara membangkitkan yaitu membangkitkanyaitu memberikan perangsang terhadap kulit dorsum pedisbagian latera/sekitar maleolus lateralis, reaksi ekstensi ibu jarikaki dan pengembangan ibu jari kaki (Sidharta,1999).2. Reflek Fisiologis atau reflek tendon meliputi : Biceps, Patella,Achiles, Adapun cara pemeriksaanya antara lain : teknikpengetukan pada reflek tendon boleh dipegang secara keras.Gagang pada reflek dipegang dengan ibu jari telunjuksedemikian rupa sehingga palu dapat diayunkan bebas.Pengetukan tidak boleh seolah-olah memotong atau menebaskayu, melainkan menjatuhkan secara terarah, kepala palu reflek44ke tendon/periosteum. Dalam hal itu, gerakan pengetukanberpangkal pada sendi pergelangan tangan dan bukanya lenganyang mengangkat palu reflek. Kemudian tangan menjatuhkankepala palu reflek secara lurus ke tendon/periosteum(Sidharta,1999).Penderajatan reflek tendon/periosteum didasarkan ataskecepatan gerakan reflek tendon yang bangkit, amplitudonyadan lama kontraksinya berlangsung. Reflek tendon yangdibangkitkan dalam pemeriksaan antara lain : (1) Tendon bicepscaranya yaitu : a. sikap lengan tengah setengah ditekuk disendisiku, b. stimulasi pada jari pemeriksa yang ditetapkan padatendon otot biceps (dimana tendon tersebut tidak berdasarkanbangunan yang keras), c. respon fleksi lengan siku; (2) Tendonpatella caranya yaitu : a. pasien berbaring terlentang dengantungkainya difleksikan disendi lutut, b. stimulasi pada tendonpatella, c. reaksi tungkai bawah berekstensi; (3) Tendon achillescaranya yaitu : a. tungkai ditekuk disendi lutut dan kaki didorsokleksikan , b. stimulasi ketukan pada tendon Achilles, c.respon plantar fleksi kaki (Sidharta, 1999).462) Variabel IndependentVariabel independent adalah terapi latihan.3) Variabel Pengganggu yang MempengaruhiVariabel pengganggu atau yang mempengaruhi antara lain hipertensidan diabetes.A. Lokasi dan Waktu PenelitianLokasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah RS PKUMuhammadyah Surakarta dibangsal Mutazam B6 dengan waktupelaksanaanya pada tanggal 20-26 Januari 2009.B. Prosedur Pengumpulan DataProsedur pengumpulan data secara umum dibagi menjadi dua yaitudata literal dan data observasional. Data literal atau data historis adalahdata yang diperoleh dengan melakukan pencatatan terhadap kejadian ataufenomena yang telah berlalu. Dalam dunia kesehatan data ini dapatdiperoleh dengan cara anamnesis maupun mempelajari catatan yang adasebagai data sekunder. Data observasional adalah data yang diperolehdengan melakukan observasional langsung tehadap fenomena,pemeriksaan laboratorium maupun pemeriksaan langsung sebagai dataprimer.471. Data primera) AnamnesisSuatu metode atau cara pengumpulan data dengan Tanyajawab atau interview antara terapis dengan sumber data.Anamnesis yang dilakukan secara langsung kepada pasien disebutautoanamnesis sedangkan anamnesis yang dilakukan pada anggotakeluarga pasien yang mengetahui secara pasti tentang kondisipasien disebut heteroanamnesis. Anamnesis ini berisi tentangidentits penderita (nama, umur, jenis kelamin, agama, pekerjaan,hobi) serta hal-hal yang berkaitan dengan keadaan penyakitpenderita seperti keluhan utama, riwayat penyakit sekarang,riwayat penyakit dahulu, riwayat penyakit pribadi, riwayatkeluarga, anamnesis system yang meliputi kepala dan leher, systemrespirasi, system cardiovaskuler, system gastrointestinalis, systemurogenitalis, system muskuloskeletal dan system nervorum.b) Pemeriksaan fisikSuatu metode atau cara pengumpulan data denganmelakukan suatu pemeriksaan fisik penderita yang meliputi :tanda-tanda vital yang berisi (tekanan darah, denyut nadi, frekuensipernafasan, temperatur, tinggi badan, berat badan), IPPA (inspeksi,palpasi, perkusi, auskultasi), pemeriksaan gerak dasar meliputi48(gerak aktif, gerak pasif, gerak aktif melawan tahanan). Metode iniuntuk mengetahui keadaan fisik dari pasienc) EvaluasiSuatu metode atau cara pengumpulan data denganmembandingkan hasil terapi yang dilakukan sebelum, saat dansetelah terapi, yang berfungsi (1) Untuk menilai seberapa jauhtujuan terapi tercapai, (2) Menentukan terapi lebih lanjut dan (3)Untuk merujuk memodifikasi (Mardiman, 1994).2. Data sekundera) Studi DokumentasiPada studi dokumentasi ini penulis mempelajari data-datapasien dalam rekam medis, status klinis penderita di RS PKUMuhammadyah Surakarta yang meliputi, laboratorium klinis, ECGdan CT-Scan yang ada kaitanya dengan kondisi penderita.b) Studi PustakaDari buku-buku kumpulan makalah artikel dan bahan matakuliah yang berkaitan dengan Stroke Hemorage Stadium Recovery .C. Cara Analisis DataData penelitian diperoleh dari data primer dan data sekunder. Data inidikumpulkan dengan cara pengukuran langsung terhadap pasien, yang49ditunjang dengan diagnosa dokter dan assesment dari fisioterapi. Setelahpenulis mengumpulkan data yang ada dari hasil evaluasi T1 sampai T6untuk langkah berikutnya dengan analisa data tersebut denganpermasalahan yang ada untuk menganalisa data meliputi kegiatan sebagaiberikut:a) Mengumpulkan sumber data yang menghasilkan data-data, sehinggadapat dijadikan acuan untuk mengetahui kemajuan dalam proses terapi.b) Mengolah data yang sudah diperoleh dari evaluasi terapi secaraperiodik yang digunakan untuk perbandingan terhadap hasil terapiyang dicapai pada terapi berikutnya.c) Menganalisa data yang sudah masuk untuk selanjutnya dievaluasiperkembangannya dengan cara deskripsi.Sehingga dengan menganalisa data, terapis dapat menentukantindakan terapi atau memprogram terapi berikutnya untuk mencapaitujuan terapi yang akan dicapai. Dan diperoleh hasil akhir daritindakan terapi yang mengalami kemajuan dari sebelum terapi. Analisadata meliputi kekuatan otot dengan MMT (Manual Muscel Testing),kemampuan fungsional dengan MMAS (Modified Motor AssesmentScale), peningkatan cairan mukus dengan Auskultasi, pola sinergisdengan inspeksi dan spastisitas dengan Asworth Spasticity Scala.50BAB IVPELAKSANAAN STUDI KASUS1. Proses Pemecahan MasalahMenurut Soetiyem (1992) dalam melakukan Assesment kita juga harusmemprioritaskan, apakah ada masalah kapasitas fisik dan kemampuan fungsionalyang mempunyai Ending pada lingkungan formal Fisioterapi yang berhubungandengan prognosis. Melalui Assesment yang baik maka akan menjadi jelastahapan-tahapan yang akan dilakukan dan dengan Assesment kita juga dapatmengetahui perkembangan pada pasien (Soetiyem, 1992).Dalam bab ini akan dibahas tentang proses pemecahan masalah yangdihadapi oleh penderita Stroke Hemorage dextra. Pemecahan masalah padadasarnya yaitu proses fisioterapi yang didalamnya terdapat pengkajian,menentukan diagnosa atau problematik fisioterapi, tujuan pemberian fisioterapi,pelaksanaan fisioterapi, evaluasi dan dokumentasi.a. PengkajianPengkajian data merupakan komponen dalam proses fisioterapi, termasukpada pasien Stroke Hemorage agar dapat memperoleh hasil maksimal dalammengidentifikasi masalah pasien yang akan ditangani dengan pemecahanfisioterapi.1) AnamnesisAnamnesis adalah suatu cara dalam pengumpulan data denganmenggunakan tanya jawab/wawancara antara terapis dengan sumber data. Tanya51jawab ini bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu : 1) Autoanamnesis, adalahmelakukan tanya jawab yang dilakukan langsung kepada pasien/klien yangbersangkutan, 2) Heteroanamnesis, adalah tanya jawab yang dilakukan terhadaporang lain, seperti keluarga, teman atau orang lain yang dapat mengetahui keadaanpasien atau klien. Anamnesis dibedakan atas anamnesis umum dan anamnesiskhusus. Anamnesis umum meliputi data-data pribadi pasien, hasil yang diperolehdari pemeriksaan ini yaitu, nama : Ny. Suyatmi, umur : 57 tahun, jenis kelamin :perempuan, agama : islam, pekerjaan : petani, alamat : ngabean Rt/Rw 05/08pendem sumber lawang SERAGEN.Sedangkan anamnesis khusus meliputi:1) Keluhan UtamaDitanyakan kepada pasien atau keluarganya apa saja yang dirasakan pasiententang kondisi fisik maupun fungsionalnya atau gejala yang mendorong pasienuntuk ke Rumah Sakit atau klinik fisioterapi. Dalam hal ini keluhan utama pasienadalah kelemahan anggota gerak badan sebelah kanan dan pada anggota sebelahkanan pasien merasakan keju, kemeng dan geringgingan.2) Riwayat Penyakit SekarangPada riwayat penyakit sekarang hal-hal yang ditanyakan adalah kapanmulai serangan stroke, apakah terjadi saat pasien beraktivitas ataukah setelahbangun tidur, lalu ditanyakan bagaimana kondisi pasien pada serangan distaigangguan kesadaran atau tidak, pasca serangan apakah langsung mencaripertolongan medis kemana, tindakan apa saja yang sudahdiberikan dan bagaimanahasilnya. Data riwayat penyakit sekarang adalah pada tanggal 27 Desember 200752tepatnya pukul 04.30 WIB saat pasien selesai melaksanakan sholat subuh tiba-tibapasien terjatuh dan pingsan. Lalu pihak keluarga segera membawa pasien ke RS.PKU Muhammadiyah Surakarta dan masuk ICU selama 5 hari. Setelah 5 hari diruang ICU pasien dipindahkan kebangsal Mutazam sampai saat ini.3) Riwayat Penyakit DahuluRiwayat penyakit dahulu adalah penyakit-penyakit yang pernah dialamioleh pasien yang berhubungan dengan munculnya keluhan sekarang. Biasanyapada pasien dengan riwayat Hipertensi sangat beresiko untuk terkena serangan,Stroke apalagi disertai mengidap Diabetes Mellitus (Priguna Sidharta, 1999).Dalam hal ini pasien pernah menderita Hipertensi, juga disertai penyakit DiabetesMellitus.4) Riwaya PribadiDalam riwayat ini dimaksutkan untuk mengetahui hobi, pekerjaan ataukebiasan-kebiasaan pasien yang berkaitan dengan penyakit yang diderita olehpasien. Pasien ini adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai 4 oranganak. Dan kesehariannya pasien mempunyai kegiatan bertani untuk mengisi masatuanya.5) Riwayat KeluargaRiwayat keluarga mencakup penyakit-penyakit heredofamiliar. Hasil yangdidapatkan dari kasus ini tidak ada anggota keluarga yang mempunyai penyakitseperti pasien.536) Anamnesis SistemAnamnesis sistem meliputi (a) kepala dan leher : pasien mengeluh pusing,(b) system kardiovaskuler : pasien tidak meraskan nyeri dada dan jantungberdebar- debar. Hanya saja pasien sering keluar keringat dingin saat dilakukanlatihan, (c) respirasi : pasien tidak sesak nafas dan batuk-batuk, (d)gastrointestinalis : pasien tidak merasakan mual dan muntah, pasien mengeluhtidak bisa buang air besar (BAB); (e) urogenitalis : pasien belum bisa mengontrolbuang air kecil dan masih terpasang kateter; (f) muskuloskeletal : dikeluhkanadanya rasa berat untuk menggerakkan lengan dan tungkai kanannya; (g)nervorum : pasien merasakan rasa tebal-tebal dan kesemutan khususnya di pagihari.2) Pemeriksaan FisikPemeriksaan fisik dilakukan dengan memeriksa tubuh pasien untukmendapatkan data mengenai keadaan fisik pasien dan dilakukan karena semuapengkajian data berdasarkan hasil pemeriksaan langsung kepada pasien, adapunpemeriksaanya terdiri atas :a) Pemeriksaan Tanda-tanda VitalMeliputi : (1) Tekanan darah : 140/100 MmHg; (2) Denyut nadi :80x/menit; (3) Pernapasan : 28x/menit; (4) Temperatur : 36C; (5) Tinggi badan :160 cm; (6) Berat badan : 65 Kg.b) InspeksiInspeksi adalah pemeriksaan dengan cara melihat dan mengamati yangbersifat obyektif. Inspeksi terdiri dari dua macam, yaitu inspeksi Statis dan54inspeksi Dinamis. Dari pemeriksaan inspeksi Statis diperoleh informasi : tampakpasien dalam keadaan terbaring di tempat tidur dengan kondisi umum belumstabil, terpasang infus pada pergelangan tangan kiri,masih terpasang kateter, tidakada decubitus dan pola sinergis. Inspeksi Dinamis adalah inspeksi yang dilakukandimana pasien dalm keadaan bergerak. Dari pemeriksaan inspeksi Dinamisdiperoleh informasi : saat tidur miring ke sisi sehat maupun ke sisi lesi masihmemerlukan bantuan, untuk saat ini terapi masih dilakukan di tempat tidur danbelum boleh diposisikan hafelaying.c) PalpasiPalpasi adalah pemeriksaan dengan cara meraba, menekan danmemegang organ atau bagian tubuh pasien. Dari hasil palpasi didapatkaninformasi : temperatur tubuh sisi kanan sama dengan sisi tubuh kiri, tidak adanyeri tekan pada ekstrimitas tubuh sisi kanan,tidak ada spasme otot padaekstrimitas sisi tubuh kanan dan tidak ada gangguan sensabilitas.d) Auskultasi dan PerkusiUntuk pemeriksaan ini tidak dilakukan karena hal-hal yangdiperbolehkan untuk kasus stroke sendiri cenderung tidak berpengaruh,kecuali untuk pasien dengan komplikasi penyakit tertentu misalnya adanyagangguan fungsi paru-paru. Untuk hasil pemeriksaan Auskultasi didapatkanbunyi paru sonor (normal).55e) Pemeriksaan Gerak Fungsi Dasara. Pemeriksaan Gerak PasifGerak pasif adalah pemeriksaan gerak yang dilakukan oleh terapispada penderita, sementara penderita dalam keadaan pasif, jadi yangmenggerakan adalah terapis, pasien hanya diam saja. Hasil yang diperolehdari pemeriksaan ini adalah : Pada kasus ini gerak pasif yang dilakukanterapis pada sendi anggota gerak atas dan anggota gerak bawah pasiensebelah kanan, dapat dilakukan dengan LGS penuh tanpa adanya rasa nyeri.b. Pemeriksaan Gerak AktifGerak aktif adalah gerakan yang dilakukan oleh pasien sendiri dandiberi aba-aba oleh terapis. Tujuan pemeriksaan ini untuk mengetahuikelainan yang terjadi pada otot persendian dan gangguan kapasitas fisik.Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan ini adalah : Pada kasus ini gerak aktifyang dilakukan terapis pada sendi anggota gerak atas dan anggota gerakbawah pasien, dapat dilakukan dengan LGS belum bisa penuh tanpa adanyarasa nyeri dan koordinasi kurang baik.c. Pemeriksaan Gerak Aktif Melawan TahananGerak aktif melawan tahanan adalah suatu gerakan yang dilakukanpasien sendiri secara aktif sementara terapis memberikan tahanan yangberlawanan arah dari gerakan yang dilakukan oleh pasien. Tujuan dilakukanpemeriksaan ini adalah provokasi ada tidaknya nyeri dan kekuatan otot. Hasilpemeriksaan ini adalah : pasien belum mampu melawan tahanan yangdiberikan terapis.56f) Pemeriksaan Kognitif, Intrapersonal dan InterpersonalPemeriksaan ini ditekankan pada hal-hal yang mempunyai keterkaitan denganprogram layanan fisioterapi.1. KognitifBatasan fungsi kognitif meliputi memori, konsentrasi, orientasi ruangdan waktu, atensi. Hasil yang diperoleh dari pemeriksaan kognitif bahwapasien belum bisa berkonsentrasi dengan baik, maupun belum bisaberkomunikasi dengan baik maupun mengikuti instruksi yang terapis berikansaat latihan dilaksanakan.2. IntrapersonalIntrapersonal dapat dilihat dari kondisi pasien dalam menerimakeadaanya dan semangat serta keiinginan pasien dalam melakukan programterapi. Dari pemeriksaan ini didapatkan hasil : pasien mempunyai motovasiyang tinggi untuk sembuh dan kembali beraktifitas seperti sebelum terjadiserangan stroke.3. InterpersonalInterpersonal adalah untuk mengetahui hubungan interaksi dankomunikasi antara pasien denagn terapis atau tim medis lainnya. Daripemeriksaan ini diperoleh hasil : pasien sangat kooperatif dan komunikatifdengan terapis serta mampu melakukan perintah dengan baik walaupun harusberfikir lama untuk menjalankan perintah itu.573) Pemeriksaan Fungsional dan Lingkungan AktifitasPemeriksaan fungsional dan lingkungan aktifitas adalah suatu prosespemeriksaan untuk mengetahui kemampuan pasien dalam melakukan aktifitasspesifik dan hubungannya dengan rutinitas kehidupan sehari-hari. Meliputi :(a) Fungsional dasar, didapatkan hasil : pasien belum mampu tidur miringsecara mandiri, pasien belum boleh untuk dilakukan latihan duduk dari posisitidur dan saat pasien diminta untuk menggerakan AG Dextra pasienmenggerakanya dengan susah payah dan tampak masih sangat berat untukdigerakan; (b) Fungsional aktifitas, didapatkan hasil : pasien belum mamputidur miring kanan dan kiri secara mandiri dan pasien tidak mampu bangundari tidur ke duduk secara mandiri; (c) Lingkungan aktifitas, diperoleh hasil :pasien belum mampu untuk transfer ambulasi dari tidur terlentang ke miringlalu duduk ongkang-ongkang kemudian berdiri secara mandiri dan pasienbelum bisa melakukan tugasnya sebagai ibu rumah tangga.4) Pemeriksaan Spesifik FT.C Saraf Pusata. Pemeriksaan Tonus Otot Dengan Skala Asworth1. AGA kanan : nilai 1 ( Ada peningkatan tonus otot, ditandai denganterasanya tahanan minimal (catch and release) pada akhir ROM padawaktu sendi digerakan fleksi atau ekstensi ).2. AGB kanan : nilai 1 (Ada peningkatan tonus otot, ditandai denganterasanya tahanan minimal (catch and release) pada akhir ROM padawaktu sendi digerakan fleksi atau ekstensi ).58b. Pemeriksaan Kekuatan OtotSendi Otot Penggerak Kanan KiriSholder Fleksor 3- 4Ekstensor 3- 4Abduktor 3- 4Adduktor 3- 4Elbow Fleksor 3- 4Ekstensor 3- 4Wrist Fleksor 3- 4Ekstensor 3- 4Hip Fleksor 3- 4Ekstensor 3- 4Abduktor 3- 4Adduktor 3- 4Knee Fleksor 3- 4Ekstensor 3- 4Ankle Fleksor 3- 4Ekstensor 3- 4c. Pemeriksaan Modified Motor Assesment Scale (MMAS)No Item yang diukur Kemampuan Nilai1 Terlentang ke tidurmiring pada sisisehatMiring sendiri tanpabantuan (pasienmiring sendiridengan lengansehatnya, posisi awalharus terlentangtanpa kaki semifleksi)12 Terlentang keduduk disampingbedTidak dapat miringkaraena pasien tidakboleh bangun keduduk03 KeseimbangandudukBelum dilakukankeseimbangan duduk04 Duduk ke berdiri Pasien belum bisberdiri059d. Tes reflekReflek Kanan KiriReflekFisiologisPatella ++ ++Achilles - ++Biceps ++ ++ReflekPatologisBabinsky + -Chaddock + -Keterangan :Tes Reflek Fisiologis : Tes Reflek Patologis :(+) : menurun (+) : Ada(++) : normal (-) : Tidak Ada(+++) : meningkat(-) : tidak adae. Pemeriksaan pola sinergisPemeriksaan pola sinergis dengan cara inspeksi dan hasil yangdidapat adalah belum tampak adanya pola sinergis.f. Pemeriksaan KoordinasiSkalaKananJenis Tes SkalaKiri2 Jari ke hidung 42 Jari pasien ke jari terapis 42 Jari ke jari tangan yang lain 42 Menyentuh hidung dan jaritangan bergantian32 Gerak aposisi jari tangan 33 Menggenggam 43 Pronasi-Supinasi 42 Rebound tes 33 Tepuk tangan 41 Tepuk kaki 22 Menunjuk 32 Tumit ke lutut 32 Tumit ke jari kaki 31 Jari kaki menunjuk jari tanganterapis22 Tumit menyentuh bawah lutut 3601 Menggambar lingkarandengan tangan21 Menggambar lingkarandengan kaki11 Mempertahankan posisianggota gerak atas11 Mempertahankan posisianggota gerak bawah1g. Pemeriksaan cairan mukusPemeriksaan cairan mukus dengan cara Auskultasi dan hasil yangdidapat adalah tidak ada penumpukan cairan mukus akibat tirahbaring lama.b. Diagnosa FisioterapiDari hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh fisioterapi diperolehketerangan mengenai problematik :a. Impairment1) Ada spastisitas pada lengan dan tungkai kanan2) Terjadi gangguan koordinasi dan keseimbanganb. Functional LimitationsPenurunan kemampuan motorik fungsional sepertiterlentang ke tidur miring pada sisi sehat, terlentang dudukdisamping bed, keseimbangan duduk, duduk ke berdiri , berjalan,fungsi anggota gerak atas dan pergerakan tangan yang lebihterampil.61c. DisabilityPasien masih sulit berkomunikasi dengan terapis dankeluarga karena pasien mengalami gangguan koordinasi dan pasienmasih belum bisa beraktifitas sebagai ibu rumah tangga.c. Program atau Rencana Fisioterapi1. Tujuan FisioterapiMerupakan komponen penting dalam menentukan rencana terapi karenatujuan terapi merupakan sasaran utama yang ingin dicapai dalam penerapanintervensi fisioterapi. Tujuan fisioterapi terdiri dari 2 macam yaitu tujuan jangkapendek dan tujuan jangka panjang.a. Jangka Pendek1) Meningkatkan kemampuan koordinasi dan keseimbangan2) Meningatkan kekuatan otot3) Mengontrol pola sinergis dan mengontrol spastisitas bila sudahtimbul spastisitas4) Meningkatkan kemampuan motorik fungsional seperti terlentang keduduk disamping bed, duduk ke berdiri, berjalan dan pergerakantangan yang lesi.b. Jangka Panjang1) Mencegah terjadinya deformitas2) Meningkatkan kemampuan aktivitas fungsional622. Teknologi FisioterapiTeknologi yang dipilih oleh terapis adalah terapi latihan. Terapi latihanyang akan diberikan nanti bertujuan untuk mencegah komplikasi, memeliharamobilitas persendian dan menormalkan tonus postural, menanamkan pola gerakyang benar dan melatih kemampuan transver dan ambulasi.d. Pelaksanaan FisioterapiTerapi dilaksanakan dengan melihat kondisi pasien terlebih dahulu melaluianamnesis dan berbagai macam pemeriksaan yang tealah ada. Berdasarkanpromblematik fisioterapi maka tujuan jangka pendek adalah latihan memperbaikipostur dengan cara menghambat, mengontrol tonus otot (spastisitas) secarapostural serta meningkatkan keseimbangan dan koordinasi. Dan tujuan jangkapanjang adalah untuk meningkatkan kemampuan fungsional agar dalam aktifitaskesehariannya mampu melakukan aktifitas tanpa ketergantungan penuh kepadaorang lain atau secara mandiri.Pemberian latihan pasien stroke akibat trombosit dan emboli, jika tidakada komplikasi lain dapat dimulai setelah 2-3 hari setelah serangan dan bilamanterjadi perdarahan subarachnoid dimulai setelah 2 minggu. Pada trombosis atauemboli yang ada infark miokard tanpa komplikasi yang lain dimulai setelahminggu ke 3 dan apabila tidak terdapat aritmia mulai hari ke 10 (Sodik, 2002).Dilakukan secara rutin dengan waktu latihan antara 45 menit yang terbagi dalamtiga sesi. Dan tiap sesi diberikan istirahat 5 menit. Namun apabila pasien terlihatlelah, ada perubahan wajah dan ada peningkatan menonjol tiap latihan pada vitalsign, maka dengan segera harus dihentikan.63Pelaksanaan terapi dengan terapi latihan antara lain :a. Brithing ExerciseBreathing exercise adalah salah satu bentuk latihan pernafasan yangditujukan untuk mencegah penurunan fungsional system respirasi. Deep breathingexercise bertujuan untuk meningkatkan volume paru, meningkatkan danredistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap mengembang,meningkatkan oksigenasi, membantu membersihkan sekresi mukosa, mobilisasisangkar thorak, dan meningkatkan kekuatan dan daya tahan serta efisiensi dariotot-otot pernafasan (Levenson,1992).Pelaksanaannya yaitu posisi pasien half lying dengan kepala berada diatasbantal. Terapis berada disamping pasien dan memberi aba-aba kepada pasien.Pasien diminta untuk menarik nafas sedalam mungkin melalui hidung dimulai dariakhir ekspirasi kemudian mengeluarkannya secara rileks melalui mulut. Setiaplatihan dapat dilakukan 8 hitungan, 2x pengulanganGambar 4.1 Breathing exercise (Kisner,1996)b.Tupola sinerg1)Pobahu, abdpergelangaprotraksi,fleksi. KepPoterjadinyadan lenga(protraksi)panggul jaPengaturanujuannya yagis.Pengaturaosisi tidur tduksi dan ean tangan esemifleksipala pada psisi terseba retraksi senan diletakka). Bantal jatuh kebelakPn posisi tiduaitu untukan posisi tidutelentang peksternal rotekstensi, jardan internosisi netralbut diatasndi bahu daan diatas buga diletakkang dan tuPosisi Tidur64urmengontrolur terlentanpada pasientasi bahu,ri jari abduknal rotasi seatau lateralkurang man sendi panbantal sehinkkan di baungkai memGambarr Terlentangl timbulnyangn stroke akekstensi sikksi dan ekstendi panggl fleksi kesismenguntungnggul, olehngga bahuawah sendimutar keluar4.2g (Johnstonea spastisitaskut adalah pku, lengantensi. Untukgul, pada lusi yang sehakan karenkarena itusedikit terpanggul u(Soehardi,e, 1987)s dan mencprotraksi gbawah supk posisi tunutut sedikitat.na memudamaka padarsorong keduntuk menc1992).cegahgelangpinasi,ngkaisemiahkanbahudepancegah2)Popenuh, basampai pafleksi dentungkai tep3)Poterdorongdi depan tfleksi padaPengaturaosisi tidur mhu yang lumada lengan bngan kaki ypatnya dianPosiPengaturaosisi miringagak kedeptugkai yanga lututnya (an posisi tidumiring padmpuh harusbawah danang lumpuhntara keduaisi tidur miran posisi tidudimana bapan, tungkaig lumpuh, tSoehardi, 165ur miring keda penderitas dalam kealengannyah berada dipaha diganjGambarring kesisi sur miring keahu yang lui yang sehattungkai yan992).e sisi yang sa stroke adadaan protrharus lurusidepan kakijal dengan b4.3ehat (Johnse sisi yang lumpuh tidakt semi fleksng lumpuhsehatdalah pasieaksi dengans. Pada tungi yang sehabantal (Soehstone 1987)lumpuhk boleh tertsi pada hip dekstensi paen harus mn diganjal bgkai sedikitat diantara khardi, 1992)tindih dandan lutut terada hip danmiringbantalsemikedua).harusrletaksemic.1)Posedangkansakit. PenpengulangLaterapis mediatas perdari sisi jpasien desecara berfleksi, eksPosisi tidMobilLatihaosisi pasienn posisi terngulangangan. Berikutatihan gerakemegang targelangan pjari kelingkengan memrsamaan, kstensi pergeldur miring kisasi dini dean pada angselama dibrapis beradagerakan pat ini adalahk pasif padaangan pasiepasien dan tking yang lmbuka dankemudian mlangan tang66Gambarkesisi yangengan latihaggota gerakberikan latiha disampinada saat labeberapa gea pergelangaen yang lumtangan yanglumpuh kemmenutup (mmenggerakkgan, radial d4.4lumpuh (Joan gerak pasatashan gerak pg bed pasiatihan adalerakan yangan tangan dampuh, satug satunya mmudian teramengenggaan pergelandeviasi dan uohnstone 19sif dan aktifpasif adalahen dekat dlah 8 kalig diberikanan jari. Pelau tangan termengenggamapis menggam dan mengan tanganulnar devias987)fh tidur telendengan sisihitungan2selama teraaksanaanyarapis memem tangan pgerakkan jarembuka) jarn pasien ksi.ntang,yang2 kaliapi.yaituegangpasienri-jariri-jarikearahLatihDilmemegangsatunya mbawah paspronasi.Laterapis msatunya mgerak flekhan gerak palajutkan deg pada permemegang psien kearahLatihan pasifmemegang pmemegang pksi, ekstensasif pada peengan latihrgelanganpada siku pah fleksi danLatihan gerakf pada bahpada pergepada siku sesi lengan a67Gambarergelangan than gerak ptangan pasasien, dengaekstensi keGamk pasif padahu, posisi pelangan tanebagai stabatas dengan4.5tangan dan jpasif padasien yangan gentle teemudian gembar 4.6a sendi sikupasien masingan pasienilisasi, geran siku tetapjari-jari (Kisiku, satulumpuh seerapis mengerakkan keau (Kisner, 19ih tidur tern sedangkaakan yang dp lurus (Gbisner, 1996)u tangan teedangkan taggerakkan learah supinas996)rlentang, taan tangandilakukan ab. 4.7 a),)erapisanganengansi dananganyangadalahgerak68abduksi dan adduksi (Gb. 4.7 b) setelah itu siku pasien difleksikan dan terapismenggerakkan kearah sirkumduksi.a bGambar 4.7Latihan gerak pasif pada sendi bahu (Kisner, 1996)2) Latihan pada anggota gerak bawah.Posisi pasien tetap tidur terlentang dan terapis berada disamping pasiendekat dengan sisi yang lumpuh. Latihan dimulai dari kaki, terapis memegang jarijari pasien kemudian secara bersamaan digerakkan kearah fleksi dan ekstensi jarijari kaki (Gb. 4.8 a), dilanjutkan dengan gerakan inversi dan eversi (Gb.4.8 b)serta gerak plantar fleksi dan dorsal fleksi pergelangan kaki (Gb. 4.8 c).a b69cGambar 4.8Latihan gerak pasif pada pergelangan kaki (Kisner, 1996)Latihan gerak pasif pada sendi lutut dan sendi panggul dilakukan secarabersamaan, satu tangan terapis memegang tumit pasien yang lumpuh sedangkantangan yang satunya memegang dibawah lutut, kemudian terapis menggerakkantungkai kearah fleksi dan ekstensi panggul disertai dengan fleksi dan ekstensipada sendi lutut (Gb. 4.9) kemudian menggerakkan abduksi dan adduksi sendipanggul (Gb. 4.10), kemudian digerakkan kearah sirkumduksi (Gb. 4.11)Gambar 4.9Latihan gerak fleksi dan ekstensi pasif pada panggul dan lutut (Kisner, 1996)70Gambar 4.10Latihan gerak abduksi dan adduksi pada sendi panggul (Kisner, 1996)Gambar 4.11Latihan gerak sirkumduksi pada sendi panggul (Kisner, 1996)d. Peningkatan kemampuan fungsional dengan latihan fungsional1) Latihan BridgingLatihan aktif bridging dilakukan dengan posisi pasien terlentang denganlutut ditekuk posisi terapis menyesuaikan posisi pasien pelaksanaannya posisipermulaan tidur, kedua lutut ditekuk kedua lengan lurus di samping tubuh, angkatpanggul kpenekanan2)Posamping ssatu beraddan kanan.keatas, teran pada lututLatihan Gesisi pasiensisi lesi pasida di bahu pn (lihat gambLapis dapatt. Latihan inLatiherak Rotasi ttidur terlenien. Satu tanpasien, lalubar 4.13). Datihan Gera71membantuni dilakukanGambhan Bridgingtrunkntang dan kengan terapisterapis menDilakukan 8Gambar 4ak Rotasi Tru menarikn dengan penbar 4.12g (Johnstonedua lutut ds berada dilunggerakkanhitungan ,4.13runk (Kisnelutut kemungulangane, 1987)ditekuk sedautut pasienlutut pasien2X penguler, 1996)udian dilak1 x 8 hitungangkan terapdan tangann kesampinangankukangan.pis diyangng kiri723) Latihan aktivitas miring kesisi sehat dan kesisi yang sakit dariposisi terlentangPosisi pasien tidur terlentang, terapis berdiri disisi sehat. Pasien dimintamiring kesisi sehat dengan cara mengangkat tangan yang lumpuh keataskemudian dirotasikan kesisi sehat dibantu dengan tangan yang sehat, lutut pasienditekuk kemudian digulingkan kesisi sehat, kemudian diminta memutarbadannya kesisi sehat.Pada latihan aktivitas miring kesisi sehat pada dasarnya sama denganmiring kesisi sakit cuma posisi miringnya kearah sakit.Gambar 4.14 Latihan miring sisi sehat dan sakit (johnstone, 1987)4). Latihan aktivitas bagun ke dudukLatihan aktivitas fungsional bangun ke duduk dilakukan dengan posisipasien terlentang keduduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien. Pelaksanaan:pasien dalam posisi terlentang, kedua lutut ditekuk dan diganjal bantal, kedualengan lurus ke atas dengan jari jari tangan dijalin satu sama. Kemudian setelahitu pasien diminta berguling kesisi yang lumpuh dimana dimulai dengan ayunanlengan rotasi gelang bahu, badan baru diikuti gerak panggul dan tungkai. Rotasibahu dan panggul merupakan refleks yang penting untuk mencegah pola spastic73ekstensi. Setelah pasien berguling di sisi yang lumpuh diminta bergerak ke bedsebagai tumpuan berat badan.Kaki saling disilangkan dan diturunkan kelantai. Saat bangun ke duduktersebut sambil dibantu terapis. Dengan pegangan pada lengan pasien yang sehatdan kaki yang sakit. Bantuan terapis tersebut berupa gerakan menarik lenganpasien. Sesudah sampai keposisi duduk, posisi tungkai harus selalu menapakpenuh. Sesudah sampai ke posisi duduk tersebut perlu diperhatikan ekspresi wajahpasien, apakah menjadi pucat, keluar keringat dingin, keluhan rasa mual ataumuntah maupaun rasa pusing. Dicek pula terjadi peningkatan denyut nadimelebihi 100 kali per menit atau turun melebihi 60 kali per menit dan pernapasanmenjadi cepat atau lambat, sebaiknya pasien dibaringkan kembali dan diselimuti(Lihat gambar 4.15)Gambar 4.15bangun keduduk (johnstone, 1987)744) Latihan aktivitas fungsional untuk keseimbangan dudukLatiahan aktivitas fungsional untuk keseimbangan duduk dilakukandengan posisi pasien duduk, posisi terapis menyesuaikan posisi pasien. Setelahpasien sampai ke posisi duduk dengan posisi kedua kaki menapak lantai dankedua lengan diletakkan di sisi tubuh kemudian dilatih keseimbangan denganpegangan terapis pada kedua bahu pasien. Pada saat itu pula dilanjutkan latihankeseimbangan dengan pegangan terapi pada bawah leher, sedangkan posisi keduatangan pasien diletakkan diatas pangkuannya. Kemudian pasien digoyangkan kekanan kiri dan depan belakang untuk beberapa detik. Apabila pasien belum bisamempertahankan keseimbangannya selama 30 detik maka latihan tersebut perluditingkatkan lagi ( Lihat gambar 4.16).Gambar 4.16 Latihan keseimbangan duduk (Johnstone, 1987)5)Ladilantai, tpinggangTerapis mterapis. K...angkat pMonitodan sesudae.1. Qu2. Qu3. Qu4. QuLatihan aktatihan dimulterapis berdterapis sedmemberikanKemudian tepantat...yakkGambaroring tekanah pemberiaPROGNOSuo Ad Vitamuo Ad Sanamuo Ad Funguo Ad Cosmtifitas duduklai dari posdiri menghdangkan kedn fiksasi dierapis membkberdiri !r 4.17 Latihanan darah dean terapi ataSISm : Bm : Bgsionam : Dmeticam : D75k keberdirisisi duduk, khadap pasiedua tanganilutut pasieberikan aba!!!an duduk keengan penguau latihan.BaikBaikDubia ad maDubia ad makedua kakien. Keduaterapis meen dengana - aba : eberdiri (Johukuran tekaalamalampasien mentangan paemegang pamenggunakCondonganhnstone, 19anan darahnapak sempasien memeada crista ikan keduan badan ked978)sebelum, sepurmaegangiliaca.lututdepanelama76f. PELAKSANAAN FISIOTERAPITerapi hari 1 tgl 20 Januari 20091. Pengukuran tekanan darah didapatkan hasil 140/100 mmHg2. Breathing exercise3. Mobilitas dini dengan latihan pasif4. Latihan bridging5. Latihan gerak rotasi trunk6. Positioning7. Pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi 160/100 mmHgTerapi hari ke 2 tgl 21 Januari 20091. Pengukuran tekanan darah hasilnya 140/100 mmHg2. Pelaksanaan terapi ke 2 sama pada terapi 1 hanya saja untuk latihangeraknya dari pasif kemudian dilanjutkan aktif3. Pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi 160/100 mmHgTerapi hari ke 3tgl 22 Januari 20091. Pengukuran tekanan darah hasilnya 140/90 mmHg2. Pelaksanaan terapi ke 3 sama dengan terapi ke 23. Pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi 160/90 mmHg77Terapi hari ke 4 tgl 23 Januari 20091. Pengukuran tekanan darah hasilnya 130/90 mmHg2. Pelaksanaan terapi ke 4 sama dengan terapi ke 33. Pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi 160/90 mmHgTerapi hari ke 5 tgl 24 Januari 20091. Pengukuran tekanan darah hasilnya 130/90 mmHg2. Sama dengan terapi ke 4 hanya saja ditambah dengan latihan aktivitasfungsional dasar yaitu dari posisi miring pada sisi yang lumpuh.Pelaksanaanya : dar posisi miring ke sisi yang sakit kemudian pasiendiberikan instruksi untuk mendorong tungkai yang lumpuh dengan tungkaiyang sehat ke tepi bed, dan dalam waktu bersamaan lengan yang sehatpasien diusahakan memberikan penekanan ke bed untuk membantumempermudah mengangkat tubuhnya. Terapis membantu denganmemberikan fiksasi pada bahu dan panggul pasien, dengan hitungan satu,dua, tiga secara bersamaan pasien dan terapis berusaha mengarahkanpasien pada posisi duduk. Setelah duduk kemudian lengan pasiendigunakan untuk menyangga tubuhnya sendiri, namun terapis tetapmengamati pasien jangan sampai jatuh, saat itu juga dapat diberikanaproksimasi pada bahu pasien.783. Latihan keseimbangan dudukPelaksanaanya : Posisi pasien duduk dengan kedua kaki menyentuhdilantai dan kedua tangan lurus menyangga disamping, sedangkan teapisberada dibelakang pasien. Terapis mendorong pasien kearah depan,belakang, kanan-kiri dengan dorongan ringan, kemudian pasien dimintamempertahankan posisinya agar tidak jatuh.4. Pasien mampu duduk selama 15 menit5. Pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi hasilnya 170/90 mmHg6. PositioningTerapi hari ke 6 tgl 26 Januari 20091. Pengukuran tekanan darah hasilnya 130/90 mmHg2. Pelaksanaan terapi sama dengan terapi 5 hanya saja ditambah latihanaktivitas duduk ke berdiri3. Latihan duduk ongkang-ongkang /latihan keseimbangan duduk selama 15menit4. Latihan aktivitas duduk ke berdiri5. Pengukuran tekanan darah setelah dilakukan terapi hasilnya 140/100mmHg6. Positioning79g. EdukasiUntuk menunjang keberhasilan program terapi yang telah diberikan makaperlu diberikan penjelasan dan saran kepada pasien dan keluarganya agarmengerti dan memahami permasalahan yang dihadapi pasien. Edukasi yang dapatdiberikan diantaranya : (1) pasien diminta untuk melakukan latihan sendiribersama keluarga dengan cara melakukan gerakan pada anggota badan yanglumpuh dengan bantuan anggota badan yang sehat; (2) pasien diminta untuk tetapmelibatkan anggota gerak yang lumpuh dalam melakukan aktivitas sehari-hari; (3)menaruh barang-barang atau peralatan pada sebelah sisi yang lesi; (4) pasiendiminta untuk tidak terlalu banyak berfikir yang dapat memacu kenaikan tekanandarah; (5) disarankan pada keluarga untuk sesering mugkin utuk melatih ataumengajak pasien berjalan dengan menggunakan tripot; (6) menyarankan kepadakeluarga untuk terus memberikan semangat dan motivasi dan mengawasi setiapgerakan yang dilakukan pasien sewaktu dirumah.h. Evaluasi Hasil TerapiEvaluasi dilakukan untuk mengetahui atau membandingkan seberapajauh tingkat keberhasilan dari terapi yang diberikan. Evaluasi pada pasien strokestadium recovery meliputi evaluasi sesaat dan evaluasi periodik. Pada evaluasisesaat, terapis memeriksa dan mengevaluasi vital sign, yang dilakukan pada saatsebelum diberikan terapi, dan setelah terapi, terapis juga tetap memantau vital signselama terapi dilakukan untuk memutuskan melanjutkan atau menghentikan terapiyang diberikan. Pada evaluasi bertahap, terapis melakukan evaluasi pada hari80pertama melakukan pemeriksaan (T0) sampai pada akhir melakukan terapi yaitupada hari ke enam (T6). Pada evaluasi periodik terapis melakukan beberapapemeriksaan sebagai evaluasi terhadap program yang telah diberikan. Evaluasibertahap meliputi tonus otot dengan skala Asworth, evaluasi kemampuanfungsional dengan MMAS, evaluasi kekuatan otot dengan MMT,evaluasi polasinergis dengan inspeksi dan evaluasi cairan mukus dengan auskultasi.g. HASIL EVALUASI TERAKHIRSeorang pasien perempuan bernama Ny. Suyatmi umur 57 tahun denganhemiparese stadium recovery. Setelah mendapat penanganan fisioterapi selama 6kali, diperoleh hasil : peningkatan kekuatan otot dan tonus otot, terjadipeningkatan kemampuan fungsional namun pasien masih belum mampu untukduduk maupun berdiri secara mandiri.81BAB VHASIL DAN PEMBAHASANPasien perempuan yang bernama Ny. Suyatmi, usia 57 tahun dengandiagnosis medis, hemiparese dextra et causa Stroke Hemoragik mengakibatkanmasalah utama yaitu potensial terjadi komplikasi tirah baring lama pada sistempernafasan, potensial terjadi pola sinergis, hipotonus pada anggota gerak kanan,dan penurunan kemampuan fungsional.Setelah dilakukan intervensi fisioterapi sebanyak 6 kali denganmenggunakan modalitas terapi latihan, didapatkan perkembangan yang positif.Perkembangan tersebut dapat dilihat dari evaluasi petama sampai ke enam yangdiperoleh hasil sebagai berikut:1. Tonus ototHasil evaluasi tonus otot dengan skala asworth dapat dilihat pada tabel 5.1EVALUASI TONUS OTOT DENGAN SKALA ASWORTHObyek yang dievaluasiHasil terapiT0 T1 T2 T3 T4 T5 T6Tonus otot 1 1 1 1 1 2 2Dari data diatas didapatkan hasil berupa terjadi peningkatan tonus .Penurunan spastisitas dilakukan dengan metode gerak pasif, latihan gerak pasif82untuk menurunkan tonus yang hanya berlangsung sementara dan juga diharapkandapat mempengaruhi control tonus di saraf pusat. Dengan melaksanakan ini makaotot-otot yang lumpuh dicegah menjadi kecil dan persendian dicegah jangansampai kontraktur. Dalam mengerjakan fisioterapi ini, jangan terburu-buru, terlalukeras atau terlalu memaksa. Gerakan bagian lengan dan tungkai tanpa menyakitipasien. Gerakan pasif membantu mengurangi spastisitas untuk meninhibisi stretchreflek yang terjadi, dimana gerakan yang diberikan harus rhitmis dan pelan (wale,1961).Selain dengan menggunakan metode gerak pasif, menurunkan spastisitasdengan posisioning dalam inhibisi pola abnormal sehingga posisi pasien harusberada dalam lingkup pola. Pada pemberian posisioning ini terapis dibantu olehpihak keluarga dalam hal perubahan posisi setiap 2 jam sekali yang sebelumnyaterapis memberikan contoh terlebih dahulu. Dengan cara perubahan posisiberlawanan denagn pola spastisitas dalam rangka untuk mencegah pola sinergis(Mulyatsih, 2001).2. Penumpukan cairan mukusHasil evaluasi penumpukan cairan mukus dengan cara auskultasi. Daripemeriksaan tersebut menunjukkan bahwa tidak ada penumpukan cairan mukus,Ini karena pengaruh latihan breathing exercise berupa deep breathing exercise.Deep breathing exercise yang menekankan pada inspirasi maksimal yangpanjang yang dimulai dari akhir ekspirasi bertujuan untuk meningkatkan volumeparu, meningkatkan redistribusi ventilasi, mempertahankan alveolus agar tetap83mengembang, meningkatkan oksigen, membantu meningkatkan sekresi mukosa,mobilitas sangkar thorak dan meningkakan kekuatan dan daya tahan serta efisiensidari otot-otot pernafasan (Levenson, 1992).3. Pola sinergisHasil evaluasi pola sinergis dengan inspeksi dapat dilihat pada tabelTABEL 5.2EVALUASI POLA SINERGIS DENGAN INSPEKSIData T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6PolasinergisTidakadaTidakadaTidakadaTidakadaTidakadaTidakadaTidakadaDari data diatas didapatkan hasil berupa tidak timbul pola sinergis. Tidaktimbulnya pola sinergis karena adanya pemberian positioning pada posisiterlentang, miring kesisi sehat dan miring kesisi lumpuh.Waktu terjadi stroke (onset) apabila terjadi paralisis total, arefleksia padaanggota gerak, maka anggota gerak yang terkena akan flaksid selama 48 jam, darisini akan berkembang kearah spastisitas dan akhirnya ke tonus normal, sedangkankekuatan otot akan kembali melalui pola sinergis menuju gerakan itu sendiri(garrison, 2001). Maka pengaruh positioning yang dilakukan pada posisi tidurterlentang, miring ke sisi sehat dan miring ke sisi lumpuh dapat mencegah polasinergis (Soeparman, 2004).844. kemampuan fungsionalHasil evaluasi kemampuan fungsional dengan Modified Motor AssesmentScale dapat dilihat pada tabelTABEL 5.3EVALUASI KEMAMPUAN FUNGSIONALKemampuan Fungsional T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6Terlentang ke tidur miring padasisi lesi1 1 1 2 2 3 3Terlentang ke duduk di sampingbed0 0 0 0 1 2 3Keseimbangan duduk 0 0 0 0 0 1 2Dusuk ke berdiri 0 0 0 0 0 0 1Proses perbaikan pada pederita stroke, pada fase awal perbaikanfungsional neurology berupa perbaikan lesi primer oleh penyerapan kembalioedem diotak dan membaiknya system vaskularisasi. Dalam beberapa waktukemudian berlanjut ke perbaikan fungsi aksonal atau aktivasi sinaps yang tidakefektif. Pada penderita stroke, perbaikan fungsi neuron berlangsung kurang lebihdalam waktu satu tahun. Prediksi perbaikan ini sangat tergantung dari luasanyadefisit neurology awal, perkembangan lesi, ukuran dan topis kelainan di otak,serta keadaan sebelumnya. Keadaan ini juga dipengaruhi oleh usia nutrisi dantindakan terapi ( fisioterapi ) yang juga merupakan factor yang menentukan dalamproses perbaikan. Kemampuan otak untuk memodifikasi dan mereorganisasi85fungsi dari fungsi yang mengalami cedera/ kerusakan disebut neural plasticity(Rujito, 2007).Bahwasanya kemampuan fungsional mengalami peningkatan karenadiotak adanya perbaikan lesi primer oleh membaiknya system vaskularisasi.Dalam waktu kemudian berlanjut ke perbaikan fungsi aksional/aktifasi sinap yangtidak efektif melalui Neural Plasticity yaitu kemampuan otak untuk memodifikasidan mengorganisasi fungsi yang mengalami kerusakan melalui sprouting yaitubagian yang tidak mengalami kerusakan akan menuju pada bagian yangmengalami lesi, unsmaking yaitu dalam keadaan normal tidak semua sinap aktif,karena adanya lesi pada jalur utama maka bagian yang tidak aktif akanmenggantikan posisi yang mengalami lesi. Tergantung pada aktifitas yangdilakukan secara berulang-ulang akan menjadi gerak yang terkontrol/terkendalisehibgga dengan mengenalkan dan mengajarkan kembai latihan aktif pada polagerak fungsional sendiri mungkin mempercepat pasien melakukan gerak danfungsi yang mempengaruhi terhadap derajat penyembuhan maupun dalamkecepatan penyembuhan (Suyono, 2002).5. Kekuatan OtotHasil evaluasi kekuatan otot dengan Manual Muscle Testing dapatdilihat pada table 5.4.86Table 5.4Evaluasi Kekuatan Otot dengan MMTSendi Otot penggerak T0 T1 T2 T3 T4 T5 T6Sholder Fleksor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ekstensor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Abduktor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Adduktor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Elbow Fleksor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ekstensor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Wrist Fleksor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ekstensor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Hip Fleksor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ekstensor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Abduksi 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Adduksi 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Knee Fleksor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ekstensor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ankle Fleksor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Ekstensor 3- 3- 3 3 4- 4- 4-Dari tabel evaluasi yang dapat dilihat adanya peningkatan kekuatan ototdari sebelum diberikan terapi dan setelah dilakukan terapi sebanyak 6 kali.Peningkatan kekuatan otot dilakukan dengan latihan gerak aktif, yaitu gerakanaktif yang dilakukan sendiri oleh pasien pada semua sendi dan gerakanya. Denganterapi latihan secara aktif dapat meningkatkan kekuatan otot karena dapatmenstimulasi motor unit sehingga semakin banyak motor unit yang terlibat makaakan terjadi peningkatan kekuatan otot ( Kisner, 1996).87BAB VIKESIMPULAN DAN SARANA. KesimpulanPemberian latihan pada pasien stroke stadium recovery ini sangatbermanfaat karena dapat membantu dalam proses penyembuhan sehinggapemberian latihan harus diberikan sedini mungkin agar tujuan dapat tercapai lebihoptimal. Penanganan fisioterapi yang diberikan yaitu deep breathing exercise,positioning, serta mobilisasi dini.Pada pasien ini, selain mendapatkan terapi latihan dari fisioterapi jugamendapatkan terapi medika mentosa dari dokter. Sehingga tidak disimpulkanbahwa terapi latihan yang diberikan oleh fisioterapi aja yang mempunyai andil.Selain itu dari diri pasien sendiri juga ikut menentukan keberhasilan terapi latihanini, dimana motivasi untuk berlatih juga ikut berperan.Penatalaksanaan terapi latihan dengan : a) gerak pasif dan posisioningkarena adanya peningkatan tonus/spastisitas, sehingga diharapkan dapatmengurangi spastisitas. Sehingga meningkatkan voluntary movement, selain itujuga dapat mencegah terjadinya kontraktur dan decubitus. Setelah dilakukan terapisebanyak 6 kali didapatkan penurunan spastisitas dan tidak terjadi kontraktur dandecubitus, b) latihan gerak aktif pada pola gerak fungsional akan memperbaikigerak dan fungsi, setelah dilakukan terap sebanyak 6 kali didapatkan perubahan88fungsional pasien dapat duduk kemudian berdiri walaupun dengan bantuanterapis, c) edukasi yang diberikan kepada pasien untuk sering menggerakananggota gerak yang sakit memberikan hasil peningkatan kekuatan otot, d) denganterapi latihan berupa breathing exercise bermanfaat untuk menjaga mobilitassangkar thorak, sehingga kapasitas paru juga tetap terjaga selain itu juga breathingexercise berguna untuk mencegah penumpukan cairan mukus akibat tirah baringlama.Ada beberapa faktor yang mendukung keberhasilan terapi yang diberikan,antara lain (1) derajat kerusakan area yang terkena, makin besar derajat area yangterkena maka prognosis kesembuhannya juga cukup lama, (2) lokasi atau areayang terkena, akan menyebabkan gangguan neurologis yang berbedassuaifungsinya, (3) usia penderita, makin muda usianya prognosis kesembuhansemakin tinggi karena neuron-neuron masih bekerja dengan baik, (4) pemberianterapi awal dan intensitas latihan rutin akan membanu terbentuknya lintasnpenghubung baru dan fungsi yang lebih aktif dari neuron-neuron yang semulapasif akan memacu perbaikan-perbaikan fungsional di otak dengan latihanpencegahan disuded athropy sehingga terjadi keselarasan antara perbaikan ditingkat pusat dan terpeliharanya kondisi otot-otot penggerak (Junaidi, 2003).89B. SARANDalam menangani permasalahan yang cukup komplek pada pasien pascastroke stadium recovery ini, sangat diperlukan kerjasama dari berbagai pihak(tim medis, keluarga pasien serta pasien itu sendiri) agar dapat tercapai hasilyang optimal dalam proses penyembuhannya. Dalam hal ini pasien disarankanuntuk tetap semangat melakukan latihan secara rutin seperti yang diajarkanterapis serta menghindari faktor-faktor resiko agar tidak terjadi seranganstroke berulang seperti DM, hipertensi, kolestrol. Kepada keluarga pasiendisarankan untuk tetap memberikan dukungan dan motivasi kepada pasien.Peran fisioterapi pada pasien pasca stroke sangat penting untukmencegah terjadinya penurunan kapasitas fisik dan kemampuan fungsionalsehingga dalam memberikan terapi latihan perlu diberikan secara efektif danefisien


Recommended