Home >Documents >Babi Pendahuluan

Babi Pendahuluan

Date post:02-Aug-2015
Category:
View:92 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian Keracunan makanan merupakan suatu keadaan sakit yang disebabkan makan makanan yang terkontaminasi oleh mikroba patogenik, toksin

mikroorganisme, substansi kimia maupun substansi organik.1 Keracunan makanan biasanya bersifat akut dan menyerang banyak orang pada suatu waktu. Bakteri patogenik tersebut harus terdapat dalam jumlah besar untuk menyebabkan keracunan makanan, namun pada suhu yang sesuai, bakteri dapat berkembang lebih cepat. Suhu optimal untuk perkembangan bakteri penyebab keracunan makanan adalah 5 - 60, karena itu makanan beresiko tinggi seperti daging, telur, susu, sayur-sayuran dan buah-buahan tidak boleh ditinggalkan pada suhu tersebut untuk waktu yang cukup lama. Berdasarkan data dari Sentra Informasi Keracunan (SIKer), jumlah kasus keracunan pangan (dengan jumlah korban lebih dari 1 orang) pada tahun 2008 adalah 169 kejadian (berdasarkan data sampai Desember 2008). Bakteri merupakan penyebab dari 2/3 kasus keracunan makanan, yang 25,6% di antaranya disebabkan oleh Staphylococcus aureus) Staphylococcus aureus adalah bakteri gram positif yang dalam keadaan normal dapat menetap dalam rongga hidung, saluran cerna, dan kulit, namun ketika berkembang dalam jumlah yang besar, dapat pula menyebabkan infeksi pada daerah- daerah tersebut. Staphylococcus aureus merupakan salah satu

bakteri penyebab keracunan makanan yang dapat menghasilkan toksin tahan panas. Bakteri ini tahan terhadap kadar garam yang dapat membunuh bakteribakteri lainnya dan dapat ditransmisikan oleh orang-orang yang menderita radang tenggorokan maupun infeksi kulit ketika menyiapkan makanan. Makanan yang beresiko tinggi adalah daging, pasta, dan produk telur, seperti mayonnaise. Makanan yang terkontaminasi tidak mengalami perubahan warna, bentuk, bau dan rasa, namun menimbulkan gejala mual, muntah, diare dan keram perut 1-4 jam setelah mengkonsumsi. Walaupun tidak bersifat fatal, tapi keracunan makanan yang disebabkan oleh Staphylococcus aureus cukup sulit ditangani. Indonesia merupakan negara yang kaya akan sumber daya alam, termasuk diantaranya adalah buah pepaya. Tumbuhan pepaya ini sangat bermanfaat, karena setiap bagian darinya memiliki khasiat. Batang, daun, buah, dan bahkan akarnya telah banyak digunakan hingga saat ini. Salah satunya adalah untuk mengempukkan laging. Peran ini dimungkinkan oleh adanya getah yang mengandung enzim pemecah protein atau proteolitik dan populer dengan sebutan papain dan kimopapain. Kedua enzim ini mempunyai kemampuan menguraikan ikatan-ikatan dalam melekul protein sehingga protein terurai menjadi polipeptida dan dipeptida. Selain enzim papain, getah pepaya mengandung lebih dari 50 asam amino, antara lain asam aspartat, treonin, serin, asam glutamat, prolin, glisin, alanin, valine, isoleusin, leusin, tirosin, fenilalanin, histidin, lysin, arginin, triptophan, dan sistem. Getah pepaya terdapat pada hampir seluruh bagian tumbuhan pepaya, dan yang banyak digunakan dalam masyarakat adalah daun pepaya. Kandungan getah

yang paling banyak terdapat pada buah yang masih muda, yaitu sekitar dua kali lipat bila : sandingkan dengan daun dan batang. Getah tersebut dihasilkan oleh saluran- saluran getah yang banyak terdapat di bawah lapisan kulit buah. Selain mengempukkan daging, getah buah pepaya juga bermanfaat dalam bidang kesehatan. Hal ini pertama kali diselidiki oleh Bouchut pada tahun 1879, seperti dikutip oleh Vina Fitriani. Setelah Bouchut, banyak pula ilmuwan yang eneliti peran tersebut. Beberapa contoh yaitu penelitian yang dilakukan oleh Giordani R, Siepaio M, Moulin-Traffort J, dan Regli P pada tahun 1991 untuk telihat efek antijamur papain terhadap Candida albicans, dan juga penelitian yang menyelidiki efek antibakteri papain terhadap Escherichia coli oleh Jong Hyun Kim pada tahun 1998. Walaupun tidak semua penelitian menghasilkan pendapat yang sama, namun sebagian besar mendapatkan bahwa peran antimikroba tersebut disebabkan oleh senyawa karpain dalam papain, yaitu alkaloid bercincin laktonat dengan 7 kelompok rantai metilen. Karpain dapat mencerna protein

mikroorganisme ian mengubahnya menjadi peptone, sehingga mikroorganisme kekurangan makanan ian mati. Selain karpain ada beberapa komponen organik dalam papain yang sangat -ermanfaat, diantaranya adalah benzylglucosinolate, benzylisothiosianat (BITC), kolin, karpain, pseudokarpain, dan dehidrokarpain. BITC juga merupakan antibakteri ian anticendawan yang efektif sebagai penyembuh luka dan insektisida. Keadaan ini membuat penulis tertarik untuk menyelidiki secara in vitro daya antibakteri getah buah pepaya (dalam bentuk sediaan infusa kulit buah

muda) terhadap Staphylococcus aureus sebagai salah satu penyebab keracunan makanan.

1.2

Identifikasi masalah 1. Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan, masalah yang ingin diteliti adalah: 2. apakah getah buah Carica papaya L. memiliki daya antibakteri terhadap Staphylococcus aureus? 3. berapakah konsentrasi hambat minimum (KHM) getah buah Carica papaya L. terhadap Staphylococcus aureus?

1.3

Maksud dan tujuan Penelitian Maksud dari penelitian ini adalah mengetahui daya antibakteri getah buah

Caricapapaya L. terhadap Staphylococcus aureus. Tujuan penelitian yaitu: 1. membuktikan adanya daya antibakteri getah buah Carica papaya L. 2. menilai konsentrasi hambat minimum getah buah Carica papaya L. terhadap Staphylococcus aureus 3. menilai konsentrasi bunuh minimum getah buah Carica papaya L. terhadap Staphylococcus aureus.

1.4 Kegunaan Penelitian Manfaat secara ilmiah: 1. pemanfaatan getah buah Carica papaya L. secara ilmiah dalam ilmu pengobatan di masa mendatang 2. sebagai dasar bagi penelitian selanjutnya Manfaat praktis: 1. penggunaan getah buah pepaya dalam mencegah terjadinya keracunan makanan 2. penggunaan getah buah pepaya untuk menurunkan jumlah bakteri selama mengempukkan daging

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Carica papaya L. 2.1.1 Klasifikasi Ilmiah dan Nama Daerah Menurut klasifikasi taksonomi, pepaya termasuk ke dalam divisio kelas ordo " familia genus spesies : Magnoliophyta : Magnoliopsida : Violales : Caricaceae : Carica : Carica papaya L.

Famili Caricaceae memiliki 4 genus, yaitu Carica, Jarilla, Jacaranta, dan Cylicomorpha. Ketiga genus pertama merupakan tanaman asli America tropis, sedangkan genus keempat berasal dari Afrika. Genus Carica memiliki 24 spesies, salah satu di antaranya adalah Carica papaya L.. Tanaman dari genus ini banyak diusahakan untuk dikonsumsi, sedangkan 3 genus lainnya hanya untuk dinikmati keindahannya. Pepaya dapat dijumpai hampir di seluruh kepulauan Indonesia, namun beberapa lokasi mempunyai sebutan yang berbeda untuk buah ini. Di Jawa Barat (Sunda), buah pepaya dikenal dengan nama Gedang, di Jawa Tengah disebut kates, di Sulawesi kapaya, dan penduduk Ambon menyebutnya papas.

Tanaman pepaya mempunyai batang dan tangkai daun yang berongga dan tidak bercabang, tinggi pohon dapat mencapai 10m. Daunnya merupakan daun tunggal yang berukuran besar dan bercangap. Sedangkan bentuk buah bervariasi dari bulat hingga lonjong.8

2.1.2 Varietas Pepaya Pembagian varietas pepaya dibuat berdasarkan bentuk, ukuran, warna, rasa, dan tekstur buah. Berdasarkan kriteria tersebut, dikenal buah pepaya yang berukuran besar atau kecil, dengan berat buah berkisar antara 0,5-9 kg, berbentuk bulat atau lonjong, daging buah berwarna merah atau kuning, keras atau lunak, rasanya manis atau kurang manis, dan kulit buah licin atau kasar tebal. Di Indonesia, varietas yang banyak ditanam adalah pepaya semangka, pepaya jinggo, pepaya bangkok, pepaya Cibinong, pepaya meksiko, dan pepaya solo.8 Selain itu, dikenal pula varietas pepaya mas, pepaya item, dan pepaya ijo. Ketiga jenis pepaya ini sudah jarang ditemukan karena warna daging buah yang tidak begitu menarik dan rasanya yang tidak manis. Varietas pepaya yang penulis gunakan dalam penelitian adalah pepaya semangka. Pepaya jenis ini merupakan varietas introduksi dari Kaledonia Baru yang masuk ke Indonesia pada tahun 1930, di tempat asalnya pepaya ini dikenal dengan nama annabone. Pada awalnya, varietas ini hanya digunakan untuk produksi papain, namun karena rasa dan warnanya yang menarik, pepaya ini juga menjadi buah meja yang sangat populer. Daging buah pepaya semangka berwarna merah seperti buah semangka, rasanya manis dan berair banyak. Bentuk buahnya

lonjong berputing dengan berat kurang lebih 1 kg/buah.8 Buah yang sudah masak memiliki kulit yang berwarna kuning dan permukaan yang licin. Tanaman pepaya termasuk tanaman tropis basah. Kemampuan ini terlihat dari bentuk batang yang lunak dan basah, serta bunga dan buah yang tersusun pada ketiak daun di tajuk pohon. Tanaman ini membutuhkan sinar matahari penuh, sebab dengan adanya sinar matahari yang banyak, pepaya akan lebih cepat berbunga dan berbuah, proses pemasakan menjadi lebih cepat, dan rasa buah pun menjadi lebih manis. Sifat tersebut membuat pepaya lebih sesuai ditanam di daerah dataran rendah. Suhu optimal untuk pertumbuhan tanaman pepaya berkisar antara 22-26C, dengan suhu minimum 15C dan suhu maksimum 43C.8 Perkecambahan biji pun berlangsung lebih cepat (12-14 hari) bila suhu pada siang hari 35C dan suhu pada malam hari 26C.8 Selain itu, pertumbuhan pepaya memerlukan tingkat kelembapan yang tinggi, yaitu dengan curah hujan kira-kira 1.500-2.000 mm/tahun.8 Jika kondisi tersebut tidak terpenuhi, bunga-bunga akan berguguran, penyerbukan berlangsung tidak sempurna, dan buah yang dihasilkan memiliki bentuk yang tidak baik.8

2.13 Kandungan Pepaya Tabel 2.1 Komposisi Buah Pepaya Unsur Komposisi Buah Masak Buah Mentah Energi (kal) Air (g) Protein (g) Lemak (g) Karbohidrat (g) Vitamin A (IU) Vitamin B (mg) 46 86,7 0,5 * 12,2 365 0,04 26 92,4 2,1 0,1 4,9 50 0,02

Vitamin C (mg) Kalsium (mg) Besi (mg) Fosfor (mg)

78 23 1,7 12

19 50 0,4 16

Sumber: Sentra Informasi

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended