Home >Documents >BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 jek...

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 jek...

Date post:05-Mar-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

46

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Subjek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan pada siswa kelas 4 SDN Salatiga 09. Total

jumlah siswa di kelas 4 berjumlah 38 siswa, dengan total jumlah siswa

perempuan adalah 21 siswa dan siswa laki-laki adalah 17 siswa. Penelitian

dilaksanakan pada siswa kelas 4 SDN Salatiga 09 disebabkan kondisi ketuntasan

belajar yang dialami oleh siswa ini.

4.2 Hasil Penelitian

4.2.1 Kondisi Awal

Kondisi awal merupakan kondisi sebelum dilaksanakan tindakan. Pada

kondisi awal, diketahui bahwa dari total jumlah siswa yaitu 38 siswa, 28 siswa

(73.7%) siswa belum lulus KKM =70 dan hanya 10 siswa (36.3%) yang

dinyatakan lulus KKM. Berikut ini akan disajikan tabel 4. 1 perolehan nilai siswa

berdasarkan interval kriteria ketuntasan, yaitu:

Tabel 4. 1

Hasil Belajar Siswa Sebelum Tindakan

No Interval Nilai Sebelum Tindakan

Keterangan Jumlah (%)

1 < 50 2 5.3 Belum tuntas

2 50 59 8 21 Belum tuntas

3 60 69 18 47.4 Belum tuntas

4 70 79 7 18.4 Tuntas

5 80 89 3 7.9 Tuntas

6 90 100 - - -

Jumlah 38 100

Rata-rata 62.9

Nilai tertinggi 85

Nilai terendah 45

Berdasarkan tabel 4.1. diketahui bahwa jumlah siswa yang belum tuntas

yang mendapatkan nilai pada interval < 50 adalah 2 siswa (5.3%), 8 siswa (21%),

mendapatkan nilai pada interval nilai 50 59; 18 siswa (47.4%) mendapatkan

nilai pada interval nilai 60 69. Sedangkan siswa yang tuntas yang mendapatkan

nilai pada interval nilai 70 79 adalah 7 siswa (18.4%); dan 3 siswa (7.9%)

mendapatkan nilai pada interval nilai 80 89; dan tidak ada siswa yang

47

mendapatkan nilai pada interval nilai 90 100. Dari tabel 4.1 juga diketahui

perolehan nilai rata-rata yaitu 67.5, dimana perolehan nilai terendah yaitu 45 dan

nilai tertinggi 85.

Berikut ini disajikan dalam diagram 4. 1 siswa yang mendapatkan nilai pada

interval nilai

Gambar 4. 1 Perolehan Nilai Berdasarkan Interval Nilai Sebelum Tindakan

Pada tabel 4.2 dan diagram 4.2 berikut ini akan disajikan jumlah total dan

persentase siswa yang tuntas dan belum tuntas belajar sebelum diberikan

tindakan.

Tabel 4. 2

Total Jumlah dan Persentase Ketuntasan Belajar Sebelum

Tindakan

No Nilai Sebelum Tindakan

Keterangan Jumlah Siswa (%)

1 < 70 28 73.7 Belum tuntas

2 70 10 36.3 Tuntas

Jumlah 38 100

Rata-rata 62.9

Nilai tertinggi 85

Nilai terendah 45

Gambar 4. 2 Total Jumlah Siswa Tuntas dan Belum Tuntas Belajar Sebelum

Tindakan

0

10

20

48

Gambar 4. 3 Persentase Ketuntasan Belajar Sebelum Tindakan

Berdasarkan tabel 4.2., gambar 4.2. dan gambar 4.3. diketahui bahwa

jumlah siswa yang belum mencapai ketuntasan < 70 adalah 28 siswa (73.7%),

sedangkan jumlah siswa yang mencapai ketuntasan 70 adalah 10 siswa (36.3%).

Hasil ini memberikan gambaran bahwa perlu dilakukan tindakan untuk

memperbaiki ketuntasan belajar guna mencapai kriteria yang ditetapkan sekolah

yaitu minimal 75% dari total siswa tuntas KKM = 70.

4.2.2 Siklus I

a) Perencanaan

Perencanaan merupakan tahap untuk menyusun strategi dalam rangka

menyelesaikan masalah ketuntasan belajar siswa yang dialami. Setelah melakukan

konsultasi dengan guru kelas, maka hal-hal yang direncanakan untuk selanjutnya

dilaksanakan dalam pelaksanaan tindakan adalah sebagai berikut:

1) Menentukan upaya-upaya tindakan dengan menerapkan model

pembelajaran time token.

2) Melaksanakan tindakan dalam dua siklus, masing-masing siklus akan

dilaksanakan dalam dua pertemuan.

3) Memantau proses perkembangan siswa selama mengikuti proses belajar

mengajar dengan menerapkan model pembelajaran time token.

4) Memantau kinerja guru dalam menerapkan pembelajaran dengan model

time token.

73,7

36,3

Persentase Ketuntasan Belajar Siswa

Sebelum Tindakan

Belum Tuntas

Tuntas

49

5) Menyusun lembar kerja siswa dan menyiapkan alat peraga berdasarkan

materi yang akan diajarkan dengan menerapkan model pembelajaran time

token.

b) Pelaksanaan

Pertemuan 1

1) Kegiatan Awal

Kegiatan diawali dengan mempersiapkan siswa, berdoa dan absensi. Setelah

itu, guru mengajak siswa untuk membentuk kelompok. Kelompok yang dibagi

didasarkan pada pertimbangan heterogenitas yaitu kemampuan akademik, usia,

dan jenis kelamin. Selanjutnya, guru memberikan apersepsi dalam bentuk

pertanyaan siapa yang pernah pergi ke laut? pernahkah kalian melihat pasang dan

surut di laut? bagaimana volume air saat pasang naik atau pasang surut? Guru

memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjawab apersepsi yang diberikan

guru. Setelah siswa menjawab apersepsi dengan benar, guru menjelaskan tujuan

pembelajaran yang akan dicapai pada pertemuan itu dan menjelaskan langkah-

langkah pembelajaran dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe

time token.

2) Kegiatan Inti

Sebelum siswa diminta untuk melakukan diskusi kelompok, siswa diminta

mengamati gambar-gambar tentang perubahan daratan yang disebabkan oleh

banjir, erosi, abrasi, air laut pasang dan naik, kebakaran hutan. Sambil siswa

mengamati, untuk menggali pemahaman siswa pada gambar yang disajikan, guru

mengadakan tanya jawab dengan siswa yang terkait dengan gambar-gambar yang

disajikan. Selama proses tanya jawab untuk menggali pemahaman siswa, tampak

bahwa siswa tidak memiliki keberanian untuk mengemukakan pendapatnya,

hingga kelas cenderung hening.setelah diminta oleh guru untuk memberikan

tanggapan, ada beberapa siswa memberanikan diri memberikan tanggapan.

Setelah ada tanggapan dari siswa, guru memberikan penjelasan materi tentang

pengaruh bumi berputar pada porosnya. Setelah memaparkan materi, guru

membagikan kupon bicara kepada masing-masing anggota kelompok. Setiap

kupon bicara diisi waktu kurang lebih 15 detik. Setelah mendapatkan kupon,

50

masing-masing kelompok diberikan tugas untuk berdiskusi mencari jawaban atas

pertanyaan yang diajukan. Selama proses diskusi untuk menyatukan pendapatnya,

tampak bahwa diskusi hampir tidak berjalan seimbang. Dalam kelompok yang ada

perempuan, hampir tidak ada siswa perempuan mengeluarkan pendapatnya.

Demikian juga ada beberapa siswa laki-laki yang belum memiliki keberanian

untuk bicara. Diskusi akhirnya didominasi oleh yang berani semata.

Mengantisipasi hal tersebut, guru membimbing kelompok, untuk memberikan

kesempatan kepada anggota kelompok lainnya untuk terlibat. Namun, situasi

berubah. Setelah kelompok yakin mendapatkan jawaban yang benar, kelompok

memberitahukan kepada anggota kelompok lain tentang jawaban dari tugas yang

diberikan guru. Setelah masing-masing anggota kelompok diyakinkan tentang

jawaban, guru menunjuk salah satu anggota kelompok untuk memaparkan

jawaban yang ditemukan oleh kelompok, dengan waktu 15 detik. Setelah

waktunya selesai, siswa memberikan kepada anggota kelompok lain untuk

melanjutkan memaparkan pendapatnya. Selama memaparkan hasil diskusi

kelompok, tampak ada siswa yang enggan dan merasa malu untuk tampil di depan

kelas membacakan hasil. Ada juga siswa yang membacakan dengan sangat

terburu-buru membacakan hasil diskusi kelompoknya. Namun, ada juga siswa

yang waktunya telah habis sementara hasil diskusi belum selesai dibahas.

Meskipun suasana pembelajaran berjalan baik, suasana menjadi agak gaduh

karena ada siswa yang belum mendapatkan giliran presentasi, sementara waktu

yang diberikan hampir selesai. Untuk mengantipasi agar tidak berlangsung

keributan, guru memberikan penguatan bahwa masih ada pertemuan berikutnya,

dan siswa yang belum mendapatkan kesempatan pada hari itu, akan diberikan

kesempatan pada waktu mendatang untuk presentasi di depan kelas. Selanjutnya,

guru dan siswa membahas hasil kerja kelompok secara keseluruhan. Guru juga

memberikan motivasi agar siswa tetap bersemangat belajar, dan terlebih lagi

bersemangat dalam menyampaikan pendapatnya.

3) Kegiatan Akhir

Sebelum menutup pelajaran, guru mengajak siswa untuk mengambil

kesimpulan mengenai materi yang dipelajari pada hari itu. Guru juga

51

mengingatkan siswa untuk belajar terlebih dahulu di rumah, karena akan ada

pertemuan lagi berikutnya. Guru mengucapkan terimakasih atas kerjasama siswa

dan menutup pelajaran.

Pertemuan 2

1) Kegiatan Awal

Pada pertemuan kedua kegiatan diawali dengan mempersiapakan siswa,

berdoa dan mengabsensi siswa. Setelah itu, guru melakukan apersepsi dengan

bertanya kepada siswa siapa yang pernah menonton berita di TV tentang banjir,

atau bencana karena gempa bumi? apa yang terjadi ketika bencana-bencana itu

terjadi? Kali ini untuk membangkitkan semangat siswa dalam belajar, guru

meminta siswa yang pada pertemuan sebelumnya belum mendapatkan

kesempatan untuk presentasi, menjawab pertanyaan apersepsi yang diajukan.

Namun, karena siswa yang diberikan kesempatan hanya diam, guru melemparkan

pertanyaan apersepsi kepada seluruh kelas, dan mempersilakan siswa untuk

menjawab. Untuk memudahkan siswa menjawab apersepsi, guru mempersilakan

siswa membuka buku IPA dan menemukan jawaban aperspsi yang diberikan.

Setelah siswa menjawab apersepsi dengan benar, selanjutnya guru menjelaskan

tujuan pembelajaran yang akan dicapai pada hari itu. Setelah menjelaskan tujuan

pembelajaran, guru mengecek pemahaman siswa mengenai tujuan pembelajaran,

guru meminta siswa menyebutkan ulang tujuan pembelajaran yang hendak

dicapai. Setelah siswa memamparkan ulang tujuan pembelajaran yang dicapai,

guru menanyakan apakah siswa masih ingat langkah-langkah pembelajaran,

seperti yang telah dilakukan sebelumnya. Untuk mengingatkan siswa lagi, guru

menjelaskan lagi langkah-langkah pembelajaran yang akan dilaksanakan dalam

pembelajaran hari itu.

2) Kegiatan Inti

Sebelum masuk dalam pemaparan materi, guru meminta siswa mengamati

gambar-gambar yang disajikan yaitu gambar-gambar tentang pengaruh

penampakan bumi akibat hujan dan bencana alam lainnya. Untuk menggali

kemampuan dan pemahaman siswa terhadap materi yang akan diajarkan, guru

mengadakan tanya jawab dengan siswa. Kali ini, guru sekali lagi mempersilakan

52

siswa yang belum mendapatkan kesempatan presentasi pada pertemuan

sebelumnya untuk menjawab pertanyaan yang diajukan. Ada beberapa siswa

akhirnya memberanikan diri untuk menjawab. Agar siswa menjadi berani, guru

memberikan motivasi tentang pentingnya menjadi berani dalam mengemukakan

pendapat. Selanjutnya, guru menjelaskan materi tentang pengaruh kenampakan

bumi akibat hujan dan bencana alam lainnya. Tampak bahwa ada beberapa siswa

yang kurang menyimak penjelasan guru. Ada beberapa siswa yang saling

berbisik-bisik selama guru menjelaskan materi pelajaran. Setelah selesai

pemaparan materi, guru meminta siswa untuk bergabung dengan kelompok yang

telah dibentuk pada pertemuan sebelumnya, dan membagikan kupon bicara

kepada kelompok. Setelah semua kelompok mendapatkan kupon bicara,

selanjutnya guru memberikan tugas tentang pengaruh kenampakan bumi akibat

hujan dan bencana alam lainnya. Setelah semua kelompok mendapatkan tugas,

guru meminta siswa untuk mendiskusikan jawaban atas tugas yang diberikan.

Selama proses diskusi, agar menghindari hal-hal seperti pada pertemuan pertama,

guru mengkoordinasi kelompok agar ada siswa yang mencatat dan ada siswa yang

menyampaikan ide-idenya. Guru juga membimbing siswa agar selama proses

bertukar pikiran, siswa dapat belajar menghargai pendapat temannya dan

mendengarkan pendapat temannya. Guru juga membimbing agar siswa jangan

dulu terburu-buru memotong pembicaraan salah seorang anggota kelompoknya.

Meskipun telah terbagi tugas, tetap saja, diskusi masih didominasi oleh siswa

yang berani berpendapat. Setelah kelompok yakin akan jawaban atas tugas yang

diberikan, selanjutnya, guru menunujuk salah satu anggota kelompok untuk maju.

Agar tidak terjadi kejadian seperti pertemuan sebelumnya, guru meminta siswa

yang belum presentasi untuk maju presentasi. Sama seperti pertemuan

sebelumnya, waktu yang terbatas, menyebabkan ada siswa yang belum

mendapatkan giliran untuk preesentasi di depan kelas. Setelah itu, guru bersama

siswa membahas hasil kerja dari masing-masing kelompok, dan memberikan

motivasi kepada siswa yang masih pasif dalam mengikuti pembelajaran.

53

3) Kegiatan Akhir

Sebelum menutup pelajaran, untuk menguji pemahaman siswa terhadap

materi yang telah diajarkan, sekaligus untuk melihat efektivitas penerapan mode

kooperatif time token dalam pembelajaran, guru memberikan evaluasi berupa tes.

Setelah siswa mengumpulkan evaluasi, guru mengucapkan terimakasih, dan

mengingatkan akan ada lagi pertemuan berikutnya. Setelah itu, guru menutup

pelajaran.

c) Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran

berlangsung. Hal-hal yang diamati adalah keseluruhan proses pembelajaran yang

terjadi, diantaranya adalah kinerja guru dalam menerapkan model time token,

aktivitas siswa mengikuti pembelajaran, termasuk keaktifan siswa selama proses

pembelajaran, dan implikasi dari menerapkan pembelajaran time token pada hasil

belajar siswa.

1) Kinerja Guru

Kinerja guru yang dimaksudkan adalah kinerja guru dalam menerapkan

model pembelajaran kooperatif time token dalam pembelajaran. Hal-hal yang

diamati dari kinerja guru adalah kesesuaian antara langkah-langkah pembelajaran

kooperatif time token dengan pelaksanaan pembelajaran. Hasil pengamatan

kinerja guru disajikan dalam tabel 4.3 berikut ini:

Tabel 4. 3

Hasil Pengamatan Kinerja Guru Menerapkan Model Pembelajaran Time

Token

Siklus Indikator Total skor Nilai

kinerja Kriteria

I 1) Membuka pelajaran 2) Penyampaian materi dan strategi

pembelajaran

3) Penggunaan model pembelajaran dan pemanfaatan sumber belajar

4) Penilaian hasil belajar 5) Penutup

67 88.2% Baik

Keseluruhan yang diamati dari kinerja guru ada 19 item dalam lembar

observasi, mengenai kegiatan yang dilaksanakan guru dalam menerapkan model

pembelajaran kooperatif tipe time token. Setiap item diberikan skor mulai dari

54

skor terendah 0 hingga tertinggi 4. Skor 0 adalah terendah yaitu skor yang tidak

dilaksanakan sama sekali, 1 adalah skor dilaksanakan tapi masuk dalam kategori

sangat kurang, diikuti 2 dilaksanakan tapi masuk kategori kurang, 3 dilaksanakan

dan masuk pada kategori cukup baik dan 4 dilaksanakan dan masuk pada kategori

sangat baik.

Kinerja guru dalam menerapkan model time token pada siklus I dihitung

dengan cara sebagai berikut:

Dengan kriteria nilai sebagai berikut:

>86% = baik sekali

70 85% = baik

55 69% = cukup baik

55

2) Keaktifan Belajar

Keaktifan belajar siswa yang diamati adalah keaktifan siswa dalam

mengikuti pembelajaran IPA materi perubahan kenampakan bumi dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token. adapun aspek-

aspek yang diamati dalam keaktifan belajar siswa adalah sebagai berikut:

menjawab pertanyaan, mengerjakan tugas dengan baik, mengajukan pertanyaan,

menyatakan pendapat, menyimak penjelasan guru dengan sungguh-sungguh,

menunjukkan antusias dalam pembelajaran, menunjukkan ketertarikan dalam

pembelajaran, menunjukkan rasa senang dalam pembelajaran, melakukan

interaksi dengan anggota kelompok, mengeluarkan pendapat saat diskusi,

menghargai pendapat orang lain, menunjukkan kekompakan dalam diskusi,

melaporkan hasil diskusi di depan kelas, mengerjakan tugtas mandiri dengan

antusias, mengoreksi hasil pekerjaan teman dengan baik.

Keseluruhan keaktifan yang diamati tersebut diberikan skor terndah dan

tertingi. 1 untuk skor terendah dengan kategori sangat kurang, 2 untuk masuk

kategori hampir cukup, 3 masuk dalam kategori cukup dan 4 masuk dalam

kategori baik.

Mengukur skala keaktifan belajar dalam mengikuti pembelajaran IPA

materi perubahan kenampakan bumi dengan model pembelajaran kooperatif tipe

time token, digunakan skala menggunakan rumus Likert yang terdiri dari 3

kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Untuk mengetahui tingkat keaktifan

belajar siswa, digunakan ketentuan yang dibuat oleh Depdiknas (2003) yaitu:

Dengan ketentuan sebagai berikut:

80 ke atas : tinggi

60 79 : sedang

59 : rendah

Berdasarkan hasil total penghitungan untuk setiap aspek yang disebutkan di

atas, diperoleh hasil sebagai berikut:

x100

56

Berdasarkan ketentuan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

keaktifan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model time token

pada siklus I berada pada kategori sedang dengan nilai 73.7

3) Hasil Belajar

Hasil belajar siswa merupakan hasil belajar yang diperoleh siswa setelah

mendapatkan pembelajaran model time token. Menyajikan hasil belajar adalah

untuk mengamati apakah model time token mampu memberikan pengaruh dalam

memperbaiki ketuntasan belajar siswa setelah tindakan. Berikut disajikan tabel 4.

4 hasil belajar siswa setelah tindakan pada siklus I

Tabel 4. 4

Hasil Belajar Siswa Siklus I No Interval Nilai Siklus I Keterangan

Jumlah (%)

1 < 50 - - Belum tuntas

2 50 59 3 8 Belum tuntas

3 60 69 9 23.7 Belum tuntas

4 70 79 8 21 Tuntas

5 80 89 14 36.8 Tuntas

6 90 100 4 10.5 Tuntas

Jumlah 38 100

Rata-rata 74.3

Nilai tertinggi 95

Nilai terendah 50

Berdasarkan tabel 4.4. diketahui bahwa jumlah siswa yang belum tuntas,

tidak ada yang mendapatkan nilai pada interval < 50; 3 siswa (8%), mendapatkan

nilai pada interval nilai 50 59; 9 siswa (23.7%) mendapatkan nilai pada interval

nilai 60 69. Sedangkan siswa yang tuntas yang mendapatkan nilai pada interval

nilai 70 79 adalah 8 siswa (21%); dan 14 siswa (36.8%) mendapatkan nilai pada

interval nilai 80 89; dan 4 siswa (10.5%) yang mendapatkan nilai pada interval

nilai 90 100. Dari tabel 4.4 juga diketahui perolehan nilai rata-rata yaitu 74.3,

dimana perolehan nilai terendah yaitu 50 dan nilai tertinggi 95.

Berikut ini disajikan dalam diagram 4. 4 siswa yang mendapatkan nilai pada

interval nilai.

57

Gambar 4. 4 Perolehan Nilai Berdasarkan Interval Nilai Pada Siklus I

Pada tabel 4. 5 dan diagram 4. 5 berikut ini akan disajikan jumlah total dan

persentase siswa yang tuntas dan belum tuntas belajar setelah siklus I.

Tabel 4. 5

Total Jumlah dan Persentase Ketuntasan Belajar Setelah Siklus I

No Nilai Siklus I

Keterangan Jumlah Siswa (%)

1 < 70 12 31.6 Belum tuntas

2 70 26 68.4 Tuntas

Jumlah 38 100

Rata-rata 74.3

Nilai tertinggi 95

Nilai terendah 50

Gambar 4. 5 Total Jumlah Siswa Tuntas dan Belum Tuntas Setelah Siklus I

Gambar 4. 6 Persentase Ketuntasan Belajar Setelah Siklus I

0

20

58

Berdasarkan tabel 4.5, gambar 4.5 dan gambar 4.6 diketahui bahwa jumlah

siswa yang tuntas belajar dengan perolehan nilai 70 pada siklus I adalah 26

siswa (68.4%), dan siswa yang belum tuntas belajar dengan perolehan nilai < 70

pada siklus I adalah 15 siswa (31.6%).

4) Perbandingan Ketuntasan Belajar Sebelum Tindakan dengan Siklus I

Membandingkan ketuntasan belajar sebelum tindakan dengan setelah

tindakan pada siklus I dimaksudkan untuk melihat apakah penerapan model time

token, memberikan pengaruh dalam meningkatkan ketuntasan belajar siswa pada

mata pelajaran IPA materi perubahan kenampakan pada bumi. Berikut ini

disajikan dalam tabel 4. 6 perbandingan ketuntasan belajar siswa sebelum

tindakan dan setelah tindakan pada siklus I.

Tabel 4. 6

Perbandingan Jumlah dan Persentase Ketuntasan Sebelum Tindakan

dengan Siklus I

No Ketuntasan Kondisi Awal Siklus I

Jumlah siswa % Jumlah siswa %

1 Tuntas 10 36.3 26 68.4

2 Belum tuntas 28 73.7 12 31.6

Total 38 100 38 100

Berikut ini disajikan dalam diagram 4. 7 perbandingan jumlah siswa yang

tuntas dan belum tuntas belajar sebelum tindakan dan setelah diberikan tindakan

pada siklus I.

Gambar 4. 7 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa Sebelum Tindakan dengan

Siklus I

Berdasarkan tabel 4.6 dan gambar 4.7 diketahui bahwa terjadi peningkatan

jumlah maupun persentase ketuntasan belajar siswa. Jika sebelum tindakan, siswa

0

5

10

15

20

25

30

Sebelum Tindakan

Siklus I

28

12 10

26

Belum Tuntas, Tuntas

Series2

59

yang tuntas belajar adalah 10 siswa (36.3%) dari total jumlah siswa, terjadi

peningkatan setelah diberikan tindakan pada siklus I, dimana siswa yang tuntas

menjadi 28 siswa (68.6%) dari total jumlah siswa. Hasil ini memberikan gambaran

bahwa terjadi peningkatan jumlah ketuntasan belajar siswa yaitu 18 siswa (32.3%).

Jumlah siswa yang belum tuntas sebelum tindakan adalah 28 siswa (73.7%) dan

berkurang setelah diberikan tindakan pada siklus I menjadi 12 siswa (31.6%). Hasil

ini memberikan gambaran bahwa terjadi penurunan jumlah siswa yang belum

tuntas yaitu 8 siswa (32.3%).

Berdasarkan hasil ini dapat disimpulkan bahwa dengan demikian model

kooperatif efektif dalam meningkatkan hasil dan ketuntasan belajar siswa kelas 4

SDN Salatiga 09. Namun demikian, peningkatan jumlah ketuntasan hasil belajar

belum memberikan hasil sesuai yang diharapkan; dimana diharapkan bahwa

minimal 75% dari total siswa tuntas KKM 70. Dengan demikian perlu tindakan

lanjutan yang akan dilaksanakan pada siklus II.

d) Refleksi

Setelah dilaksanakan tindakan, maka dilakukan refleksi mengenai

kekurangan-kekurangan selama proses pembelajaran pada siklus I. Adapun hal-

hal yang ditemui untuk dilakukan analisis agar menjadi masukan pada tindakan

siklus II adalah sebagai berikut:

1) Diskusi dan tanya jawab yang dilakukan dalam kelompok, masih

didominasi oleh siswa yang berani dalam berpendapat, bertanya atau

memberikan tanggapan, sehingga anggota kelompok lain yang belum

berani, tetap menjadi pasif selama proses pembelajaran.

2) Meskipun guru telah memberikan kesempatan yang sama kepada semua

siswa baik untuk bertanya, berpendapat ataupun memberikan tanggapan,

guru belum mengkoordinir secara baik, sehingga pembelajaran masih

didominasi oleh beberapa siswa.

3) Terbatasnya waktu sehingga tidak semua siswa mendapatkan kesempatan

untuk melakukan presentasi di depan kelas.

60

4) Terjadi peningkatan ketuntasan belajar siswa setelah diberikan tindakan,

namun ketuntasan belajar yang dicapai belum mencapai kriteria yang

diharapkan yaitu minimal 75% dari total siswa tuntas KKM 70.

4.2.3 Siklus II

a) Perencanaan

Sebelum melaksanakan tindakan pada siklus II, maka disusun perencanaan

yang nantinya akan dilaksanakan selama dilangsungkan tindakan pada siklus II.

Berdasarkan hasil refleksi pada siklus I, maka hal-hal yang menjadi perencanaan

untuk dilaksanakan adalah sebagai berikut:

1) Membentuk kelompok, mengkoordinir jalannya diskusi, memberikan tugas

yang berbeda-beda pada tiap-tiap anggota dalam kelompok, agar semua

anggota kelompok dapat aktif dalam pembelajaran.

2) Mengatur agar siswa yang dominan tidak terlalu mendominasi jalannya

diskusi kelompok, maupun melakukan tanya jawab.

b) Pelaksanaan

Pertemuan 1

1) Kegiatan Awal

Pada pertemuan pertama siklus II ini, guru mengawali kegiatan

pembelajaran dengan mempersiapkan siswa, mengajak berdoa bersama menurut

agama dan kepercayaan dan mengabsensi siswa. Sebelum melakukan apersepsi,

guru terlebih dahulu membagi siswa dalam kelompok. Setelah siswa dibagi dalam

kelompok, sebelum guru memberikan apersepsi dalam bentuk pertanyaan, guru

memberikan tugas kepada setiap anggota kelompok. Bagi siswa yang berani dan

dominan, diminta untuk mendampingi siswa yang pasif dan membantu siswa yang

pasif dalam memberikan jawaban apersepsi. Setelah itu, guru memberikan

apersepsi dalam bentuk pertanyaan, pernah pergi ke laut, apa akibat abrasi bagi

pantai? Kali ini guru memberikan kesempatan kepada siswa yang kurang aktif

untuk memberikan jawaban pada apersepsi, sambil tetap mengawasi dan meminta

agar siswa yang aktif dan berani untuk memberitahukan kemungkinan jawaban

atas apserspsi. Dengan cara ini, siswa yang pasif mulai berani mengemukakan

61

pendapat berdasarkan bantuan dari rekannya. Sedangkan siswa yang aktif mulai

berupaya untuk menjadi pendengar bagi rekan-rekannya yang lain. Setelah siswa

berhasil menjawab apersepsi dengan benar, guru menjelaskan tujuan pembelajaran

yang akan dicapai pada pembelajaran hari itu. Agar mengantisipasi siswa yang

kurang menyimak penjelasan yang diberikan guru, setelah guru menjelaskan

langkah-langkah pembelajaran, guru mempersilakan siswa yang kurang

menyimak mengulang langkah-langkah pembelajaran yang disampaikan guru.

Strategi guru masih sama yaitu meminta siswa yang aktif menjadi pendamping

untuk memberikan kemungkinan jawaban. Sebelum masuk dalam kegiatan inti,

guru meminta siswa yang pandai, untuk berperan mencatat dan menjadi

moderator bagi anggota yang lain, sedangkan siswa yang lain diminta untuk

memberikan tanggapan atas tugas kelompok yang nanti akan diberikan guru.

2) Kegiatan Inti

Sebelum memaparkan materi, guru meminta siswa mengamati gambar-

gambar yang disediakan, yaitu gambar-gambar tentang dampak perubahan

lingkungan akibat erosi dan abrasi. Sambil siswa mengamati gambar-gambar,

guru menuntun siswa untuk melakukan tanya jawab dalam rangka menguji

pemahaman siswa pada materi yang akan diberikan. Sama seperti pada apersepsi,

dalam tanya jawab tentang materi yang akan disajikan ini, guru meminta siswa

yang aktif dan berani berpendapat untuk mendampingi siswa yang pasif dan

memberikan kemungkinan-kemungkinan jawaban. Awalnya, siswa yang aktif dan

berani, tampak enggan melakukan hal tersebut, namun diiringi motivasi guru

bahwa berhasil belajar bersama dan dapat membantu teman untuk dapat berhasil

adalah hal yang membanggakan, siswa yang aktif dan berani berpendapat mulai

menerima dan mendampingi siswa, sambil mencatat pertanyaan yang

disampaikan guru. Setelah dilaksanakan tanya jawab, guru memaparkan materi

tentang dampak perubahan lingkungan akibat erosi dan abrasi. Guru meminta agar

siswa yang kurang menyimak, mencatat apa yang disampaikan guru. Hal ini

dimaksudkan agar perhatiannya dialihkan pada materi pelajaran yang sedang

diberikan. Sambil memaparkan materi, guru juga berjalan berkeliling diantara

kelompok dan memperhatikan adakah siswa yang tidak mencatat apa yang

62

disampaikan. Setelah memberikan paparan materi, guru membagikan kupon

bicara kepada masing-masing kelompok, dan memberikan tugas. Dalam diskusi

kali ini, guru meminta siswa yang aktif dan berani berpendapat, mencatat dan

mendengarkan pendapat dari siswa yang pasif Juga siswa yang pasif didampingi

untuk disampaikan mengenai kemungkinan-kemungkinan jawaban atas tugas

yang diberikan guru. Sambil mencatat, guru meminta siswa yang aktif dan berani,

untuk menyampaikan kepada rekan lain jawaban-jawaban tersebut, dan meminta

siswa yang berani untuk memimpin dengan meminta ulang kepada anggota

kelompok untuk menyampaikan lagi apa yang telah dihasilkan dalam diskusi.

Agar menghindar dari waktu yang terbatas, guru meminta presentasi di depan

kelas dilakukan oleh siswa yang pasif. Sementara siswa yang aktif diminta untuk

mencatat, dan memberikan tanggapan pada hasil paparan dari kelompok lain.

Setelah siswa selesai memaparkan hasil diskusi kelompoknya di depan kelas, guru

bersama siswa membahas hasil kerja masing-masing kelompok. Kali ini, guru

memberikan kesempatan kepada siswa yang aktif untuk menyampaikan apa saja

yang dihasilkan oleh kelompoknya, dan meminta siswa dari kelompok lain yang

aktif memberikan tanggapan, sementara siswa yang pasif diminta untuk mencatat,

dan kemudian nanti akan membacakan hasil tersebut sebagai kesimpulan. Setelah

selesai membahas, gur menyampaikan motivasi dalam bentuk pujian karena siswa

berhasil bekerjasama dengan rekan-rekannya secara baik.

3) Kegiatan Akhir

Sebelum mengakhiri pelajaran, guru bersama siswa menarik kesimpulan.

Kesimpulan yang telah dicatat selama pembahasan tadi, diminta untuk dibacakan.

Setelah siswa selesai membacakan hasilnya, guru mengucapkan terimakasih atas

kerjasama siswa, juga atas partisipasi dan mengingatkan siswa untuk mempelajari

materi lagi di rumah, karena ada pertemuan pada waktu berikutnya. Guru juga

memberikan tugas individual untuk dikerjakan di rumah. Ini dilakukan untuk

menguji pemahaman siswa pada materi yang telah diberikan.

63

Pertemuan 2

1) Kegiatan Awal

Pada pertemuan 2 siklus II ini, kegiatan pembelajaran diawali dengan

mempersiapkan siswa agar siap belajar, berdoa dan mengabsensi. Sebelum

melanjutkan melakukan apersepsi, guru bertanya siapa yang mengerjakan PR,

silakan dikumpulkan. Setelah siswa mengumpulkan PR, guru melanjutkan, hari

ini pertemuan terakhir, karena kalian telah bekerjasama dengan baik pada

pertemuan sebelumnya, hari ini, kita bentuk lagi kelompok baru. Pembentukan

kelompok baru dimaksudkan agar siswa lebih meningkatkan kemampuan

bekerjasama dengan rekan-rekannya yang lain. Setelah itu, siswa dibagi dalam

kelompok-kelompok, dengan tetap mempertimbangkan heterogenitas siswa.

Setelah kelompok terbentuk, guru bertanya, masih ingat kan peran kalian pada

pertemuan sebelumnya, nah hari ini kita akan berlatih dengan rekan yang berbeda,

namun dengan peran yang sama. Selanjutnya guru memberikan apersepsi, apa

saja akibat tanah longsor? siswa lalu berbisik-bisik, ada juga yang menuliskan

jawaban di kertas dan meminta rekannya untuk menjawab pertanyaan apersepsi.

Setelah siswa menjawab apersepsi dengan benar, guru memberikan penguatan

dengan motivasi berupa pujian, bahwa kerjasama memiliki banyak manfaat, selain

manfaat akademik juga memiliki manfaat sosial, yaitu siswa akan memiliki

banyak sahabat. Selanjutnya, guru menjelaskan tujuan pembelajaran yang akan

dicapai pada hari itu. Tampak ada beberapa siswa yang mencatat tujuan

pembelajaran dan memberikan catatan itu kepada rekannya, mengantisipasi jika

guru meminta siswa yang kurang menyimak menjelaskan lagi tujuan

pembelajaran yang harus dicapai pada hari itu. Sebelum masuk dalam materi,

guru menanyakan, masih ingatkan langkah-langkah pembelajaran yang akan

dilaksanakan dalam pembelajaran nanti? Serentak siswa memberikan jawaban,

iya, namun guru tetap menjelaskan langkah-langkah pembelajaran yang akan

dilaksanakan.

2) Kegiatan Inti

Kegiatan inti pembelajaran diawali dengan guru memberikan gambar-

gambar dan meminta siswa mengamati gambar-gambar tentang dampak

64

perubahan lingkungan akibat banjir dan tanah longsor. Siswa yang aktif dan

beberapa siswa lainnya, serentak membuka buku pelajaran mengenai materi dan

memberikan kepada rekan disampingnya. Selama siswa mengamati gambar-

gambar tersebut, guru melakukan tanya jawab untuk menggali kemampuan siswa

ke arah materi yang akan dipelajari. Siswa mencatat pertanyaan-pertanyaan guru,

dan menuliskan jawaban-jawaban untuk disampaikan oleh rekannya. Setelah

tanya jawab, guru memberikan materi tentang dampak perubahan lingkungan

akibat banjir dan tanah longsor. Setelah memaparkan materi, guru membagikan

kupon bicara kepada masing-masing kelompok sekaligus memberikan tugas untuk

dibahas bersama oleh kelompok. Tampak bahwa selama diskusi menemukan

jawaban atas tugas, siswa yang aktif dan berani lebih banyak mencatat dan

mendengarkan, juga memberikan masukan-masukan pada jawaban yang mungkin

benar. Setelah selesai diskusi, siswa yang aktif bertanya pada rekan kelompoknya

apakah sudah memahami dengan benar jawaban yang dihasilkan. Seperti

pertemuan sebelumnya, kelompok menyepakati untuk presentasi dilakukan oleh

perwakilan yaitu siswa yang kurang berani dan pasif dalam diskusi untuk

menyampaikan hasil diskusi kelompok. Setelah siswa selesai presentasi, guru

bersama-sama siswa yang aktif membahas hasil keseluruhan diskusi, sedangkan

siswa yang biasanya pasif, giliran untuk mencatat hasil pembahasan yang

nantinya dimasukkan sebagai kesimpulan.

3) Kegiatan Akhir

Sebelum mengakhiri pelajaran, guru meminta catatan selama pembahasan

dibacakan sebagai kesimpulan. Setelah selesai dibacakan, guru meluruskan

beberapa pemahaman yang keliru, dan memberikan evaluasi. Sebelum menutup

pelajaran, guru menyampaikan terimakasih kepada siswa telah bekerjasama

dengan baik, baik dengan rekannya, maupun dalam mengikuti proses

pembelajaran ini.

c) Pengamatan

Pengamatan atau observasi dilaksanakan selama proses pembelajaran

berlangsung. Hal-hal yang diamati adalah keseluruhan proses pembelajaran yang

terjadi, diantaranya adalah kinerja guru dalam menerapkan model time token,

65

aktivitas siswa mengikuti pembelajaran, termasuk keaktifan siswa selama proses

pembelajaran, dan implikasi dari menerapkan pembelajaran time token pada hasil

belajar siswa.

1) Kinerja Guru

Kinerja guru yang dimaksudkan adalah kinerja guru dalam menerapkan

model pembelajaran kooperatif time token dalam pembelajaran. Hal-hal yang

diamati dari kinerja guru adalah kesesuaian antara langkah-langkah pembelajaran

kooperatif time token dengan pelaksanaan pembelajaran. Hasil pengamatan

kinerja guru disajikan dalam tabel 4. 7 berikut ini:

Tabel 4. 7

Hasil Pengamatan Kinerja Guru Menerapkan Model Kooperatif Time Token

pada Siklus II

Siklus Materi Total

skor

Nilai

kinerja Kriteria

II 1) Membuka pelajaran 2) Penyampaian materi dan strategi

pembelajaran

3) Penggunaan model pembelajaran dan pemanfaatan sumber belajar

4) Penilaian hasil belajar 5) Penutup

68 89.5% Baik

sekali

Keseluruhan yang diamati dari kinerja guru ada 19 item dalam lembar

observasi, mengenai kegiatan yang dilaksanakan guru dalam menerapkan model

pembelajaran kooperatif tipe time token. Setiap item diberikan skor mulai dari

skor terendah 0 hingga tertinggi 4. Skor 0 adalah terendah yaitu skor yang tidak

dilaksanakan sama sekali, 1 adalah skor dilaksanakan tapi masuk dalam kategori

sangat kurang, diikuti 2 dilaksanakan tapi masuk kategori kurang, 3 dilaksanakan

dan masuk pada kategori cukup baik dan 4 dilaksanakan dan masuk pada kategori

sangat baik. Kinerja guru dalam menerapkan model time token pada siklus II

dihitung dengan cara sebagai berikut:

Dengan kriteria nilai sebagai berikut:

>86% = baik sekali

70 85% = baik

55 69% = cukup baik

66

Adapun skor perolehan dan pelaksanaan langkah ini mencapai 68 dari 100

atau 89.5%. Artinya dalam penerapan model pembelajaran kooperatif time token

mencapai skor 3 pada skor yang cukup dan skor 4 sangat baik. Hal ini nampak

pada aktivitas guru memeriksa kesiapan siswa, membuka pelajaran meliputi

berdoa dan presensi guru menyampaikan apersepsi, menyampaikan tujuan

pembelajaran, menyampaikan materi perubahan kenampakan bumi, menjelaskan

langkah-langkah pembelajaran time token, bertanya jawab dengan siswa,

memberikan permasalahan kepada siswa, membagi siswa dalam kelompok,

membagikan kupon bicara kepada setiap kelompok, memberikan kesempatan

kepada siswa untuk berdiskusi, menugaskan kelompok untuk menemukan

jawaban atas permasalahan yang diberikan, memberiakn kesempatan kelompok

untuk presentasi, menunjuk salah satu anggota kelompok menajwab soal yang

telah diberikan guru dalam waktu 15 detik, menyimpulkan materi, memberikan

tes, memberikan penghargaan secara individual maupun kelompok, memberikan

penguatan dan menutup pelajaran. Berdasarkan penghitungan hasil kinerja guru

pada siklus I, maka kinerja guru dalam menerapkan model pembelajaran time

token berada pada kategori baik sekali dengan perolehan skor 67 dan persentase

89.5%.

2) Keaktifan Siswa

Keaktifan belajar siswa yang diamati adalah keaktifan siswa dalam

mengikuti pembelajaran IPA materi perubahan kenampakan bumi dengan

menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe time token. adapun aspek-aspek

yang diamati dalam keaktifan belajar siswa adalah sebagai berikut: menjawab

pertanyaan, mengerjakan tugas dengan baik, mengajukan pertanyaan, menyatakan

pendapat, menyimak penjelasan guru dengan sungguh-sungguh, menunjukkan

antusias dalam pembelajaran, menunjukkan ketertarikan dalam pembelajaran,

menunjukkan rasa senang dalam pembelajaran, melakukan interaksi dengan

anggota kelompok, mengeluarkan pendapat saat diskusi, menghargai pendapat

orang lain, menunjukkan kekompakan dalam diskusi, melaporkan hasil diskusi di

depan kelas, mengerjakan tugtas mandiri dengan antusias, mengoreksi hasil

pekerjaan teman dengan baik.

67

Keseluruhan keaktifan yang diamati tersebut diberikan skor terendah dan

tertingi. 1 untuk skor terendah dengan kategori sangat kurang, 2 untuk masuk

kategori hampir cukup, 3 masuk dalam kategori cukup dan 4 masuk dalam

kategori baik.

Mengukur skala keaktifan belajar dalam mengikuti pembelajaran IPA

materi perubahan kenampakan bumi dengan model pembelajaran kooperatif tipe

time token, digunakan skala menggunakan rumus Likert yang terdiri dari 3

kategori yaitu tinggi, sedang dan rendah. Untuk mengetahui tingkat keaktifan

belajar siswa, digunakan ketentuan yang dibuat oleh Depdiknas (2003) yaitu:

Dengan ketentuan sebagai berikut:

80 ke atas : tinggi

60 79 : sedang

59 : rendah

Berdasarkan hasil total penghitungan untuk setiap aspek yang disebutkan di

atas, diperoleh hasil sebagai berikut:

x100

Berdasarkan ketentuan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa

keaktifan belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif

tipe time token pada siklus II berada pada kategori tinggi dengan nilai 87.4

3) Hasil Belajar Siswa

Hasil belajar siswa yang diamati adalah hasil belajar setelah diberikan

tindakan. Hasil belajar adalah perolehan nilai setelah diberikan pembelajaran

dengan menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe time token. Hasil belajar

siswa setelah diberikan tindakan pada siklus II, disajikan dalam tabel 4. 8 berikut

ini:

68

Tabel 4. 8

Hasil Belajar Siswa Siklus II

No Interval Nilai Siklus II

Keterangan Jumlah (%)

1 < 50 - - Belum tuntas

2 50 59 - Belum tuntas

3 60 69 - Belum tuntas

4 70 79 16 42.1 Tuntas

5 80 89 18 47.4 Tuntas

6 90 100 4 10.5 Tuntas

Jumlah 38 100

Rata-rata 78.7

Nilai tertinggi 95

Nilai terendah 70

Berdasarkan tabel 4. 8 diketahui bahwa setelah diberikan tindakan pada

siklus II, maka siswa yang tuntas belajar adalah 38 dari 38 (100%), dengan rincian

sebagai berikut: 16 siswa (42.1%) yang mendapatkan nilai pada interval nilai 70

79; 18 siswa (27.4%) yang mendapatkan nilai pada interval nilai 80 89; dan 4

siswa (10.5) mendapatkan nilai pada interval nilai 90 100. Setelah diberikan

tindakan pada siklus II, terjadi juga perubahan pada nilai terendah, dimana nilai

terendah dicapai dengan 70, sedangkan nilai tertinggi tetap seperti siklus I yaitu

95.

Hasil ketuntasan belajar siswa setelah diberikan tindakan pada siklus II,

disajikan dalam diagram 4. 8 berikut ini:

Gambar 4. 8 Perolehan Nilai Berdasarkan Interval Nilai Pada Siklus II

Berikut akan disajikan tabel 4. 9 dan diagram 4. 9 total ketuntasan belajar

siswa setelah diberikan tindakan pada siklus II:

0

10

20

69

Tabel 4. 9

Total Jumlah dan Persentase Ketuntasan Belajar Setelah Siklus

II

No Nilai Siklus II

Keterangan Jumlah Siswa (%)

1 < 70 - - Belum tuntas

2 70 38 100 Tuntas

Jumlah 38 100

Rata-rata 78.7

Nilai tertinggi 95

Nilai terendah 70

Gambar 4. 9 Total Jumlah Siswa Tuntas Pada Siklus II

Berdasarkan tabel 4.9 diketahui bahwa setelah diberikan tindakan pada

siklus II, tidak ada siswa yang memperoleh nilai < 70, dan 38 (100%) siswa

memperoleh nilai 70. Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa dengan demikian,

menerapkan model pembelajaran kooperatif time token tercapai dalam

meningkatkan hasil belajar atau ketuntasan belajar siswa kelas 4 SDN Salatiga 09

pada mata pelajaran IPA materi Memahami Perubahan Kenampakan Bumi,

Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013.

4) Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dengan Siklus II

Membandingkan ketuntasan belajar pada siklus I dengan siklus II

dimaksudkan untuk melihat apakah model yang diterapkan tercapai dalam

meningkatkan hasil belajar atau ketuntasan belajar siswa pada mata pelajaran IPA.

Berikut ini disajikan tael 4. 10 perbandingan jumlah ketuntasan siswa setelah

tindakan pada siklus I dengan siklus II.

0

10

20

30

40

Setelah Tindakan Siklus II

38

Belum Tuntas

Tuntas

70

Tabel 4. 10

Perbandingan Jumlah dan Persentase Ketuntasan Siklus I dengan Siklus II

No Ketuntasan Siklus I Siklus II

Jumlah siswa % Jumlah siswa %

1 Tuntas 26 68.4 38 100

2 Belum tuntas 12 31.6 - -

Total 38 100 38 100

Berikut ini disajikan dalam diagram 4. 10 perbandingan jumlah siswa yang

tuntas dan belum tuntas belajar setelah tindakan pada siklus Idan setelah diberikan

tindakan pada siklus II.

Gambar 4. 10 Perbandingan Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I dengan Siklus II

Pada pemaparan berikut ini, akan disajikan perbandingan keseluruhan hasil

belajar maupun jumlah dan persentase ketuntasan belajar siswa mulai sebelum

tindakan, siklus I hingga siklus II. Berikut disajikan perbandingannya melalui

tabel 4. 11 berikut ini:

Tabel 4. 11

Perbandingan Jumlah Siswa dan Persentase Ketuntasan Belajar Siswa

Sebelum Tindakan, Siklus I dengan Siklus II

No Hasil Belajar

Tuntas Belum Tuntas

Jumlah siswa % Jumlah

siswa %

1 Sebelum tindakan 10 36.3 28 73.7

2 Siklus I 26 68.4 12 31.6

3 Siklus II 38 100 - -

Berdasarkan pada tabel 4.11. diketahui bahwa sebelum dilakukan tindakan,

siswa yang tuntas belajar adalah 10 (36.3%) dari 38 siswa. Setelah diberikan

tindakan pada siklus I, terjadi pertambahan siswa yang tuntas menjadi 26 siswa

(68.4%). Dengan kata lain, setelah diberikan tindakan pada siklus I, terjadi

0

10

20

30

40

Siklus I Siklus II

12

26

38

Belum Tuntas

Tuntas

71

peningkatan jumlah siswa yang tuntas yaitu 16 siswa (32.1%). Setelah diberikan

tindakan pada siklus II, terjadi lagi peningkatan ketuntasan belajar siswa menjadi

38 (100%). Dengan kata lain terjadi peningkatan siswa yang tuntas yaitu 12 siswa

(31.6%).

Siswa yang belum tuntas sebelum diberikan tindakan adalah 28 siswa

(73.7%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I, terjadi penurunan menjadi 12

siswa (31.6%). Dengan kata lain setelah diberikan tindakan pada siklus I, terjadi

penurunan jumlah siswa yang belum tuntas yaitu 16 (32.1%). Setelah diberikan

tindakan pada siklus II, terjadi lagi penurunan menjadi tidak ada siswa yang

belum tuntas. Dengan kata lain terjadi penurunan 12 siswa (31.6%).

Dengan hasil ini dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran

kooperatif tipe time token, berhasil dalam meningkatkan hasil belajar atau

ketuntasan belajar IPA siswa pada materi perubahan kenampakan bumi pada

siswa kelas 4 SDN Salatiga 09, Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013.

d) Refleksi

Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan berdasarkan masukan pada siklus I,

dan setelah guru memperbaiki kinerjanya, maka diketahui bahwa keaktifan belajar

dan jumlah serta persentase ketuntasan belajar siswa menjadi meningkat setelah

diberikan tindakan pada siklus II. Hal ini memberikan refleksi bahwa

memperhatikan proses dan memperhatikan karakteristik personal siswa selama

KBM berlangsung adalah sesuatu yang penting dan mendasar demi mencapai

hasil belajar dan ketuntasan belajar yang diharapkan.

4.3 Pembahasan

Sebelum dilakukan tindakan, siswa yang tuntas belajar adalah 10 (36.3%)

dari 38 siswa. Setelah diberikan tindakan pada siklus I, terjadi pertambahan siswa

yang tuntas menjadi 26 siswa (68.4%). Dengan kata lain, setelah diberikan

tindakan pada siklus I, terjadi peningkatan jumlah siswa yang tuntas yaitu 16

siswa (32.1%). Setelah diberikan tindakan pada siklus II, terjadi lagi peningkatan

ketuntasan belajar siswa menjadi 38 (100%). Dengan kata lain terjadi peningkatan

siswa yang tuntas yaitu 12 siswa (31.6%).

72

Siswa yang belum tuntas sebelum diberikan tindakan adalah 28 siswa

(73.7%). Setelah diberikan tindakan pada siklus I, terjadi penurunan menjadi 12

siswa (31.6%). Dengan kata lain setelah diberikan tindakan pada siklus I, terjadi

penurunan jumlah siswa yang belum tuntas yaitu 16 (32.1%). Setelah diberikan

tindakan pada siklus II, terjadi lagi penurunan menjadi tidak ada siswa yang

belum tuntas. Dengan kata lain terjadi penurunan 12 siswa (31.6%). Dengan hasil

ini dapat dikatakan bahwa penerapan model pembelajaran kooperatif tipe time

token, berhasil dalam meningkatkan hasil belajar atau ketuntasan belajar IPA

siswa pada materi perubahan kenampakan bumi pada siswa kelas 4 SDN Salatiga

09, Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013.

Selain terjadi peningkatan hasil belajar siswa, juga terjadi peningkatan

keaktifan belajar siswa. Pada siklus I keaktifan belajar siswa dalam mengikuti

pembelajaran dengan model time token, berada pada kategori sedang dengan nilai

73.7. Setelah dilakukan perbaikan-perbaikan dengan memberikan peran yang

berbeda-beda dalam kelompok, pada siklus II, terjadi peningkatan keaktifan

belajar siswa dalam mengikuti pembelajaran dengan model time token pada siklus

II berada pada kategori tinggi dengan nilai 87.4.

Dengan hasil ini, maka dapat disimpulkan bahwa penerapan model pembelajaran

kooperatif time token berhasil dalam meningkatkan keaktifan dan hasil belajar

IPA siswa kelas 4 SDN Salatiga 09 Semester II Tahun Pelajaran 2012/2013.

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended