Home >Documents >BAB IV HASIL PENELITIAN DAN...

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN...

Date post:08-Jun-2019
Category:
View:213 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

46

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Gambaran Umum Subyek Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Salatiga 8 pada semester II

tahun pelajaran 2015/2016 dengan subyek penelitian kelas 4. Total jumlah

siswa di kelas 4 yaitu 37 siswa, dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 22

siswa sedangkan jumlah siswa perempuan sebanyak 15 siswa. SD Negeri

Salatiga 8 terletak di lingkungan yang cukup kondusif karena jauh dari jalan

raya sehingga suasana belajar terbilang tenang. Sarana dan prasaran di SD

Negeri Salatiga 8 juga mendukung jalannya proses pembelajaran, hal ini

karena ditunjang sarana dan prasana yang cukup lengkap untuk mengajar

seperti alat peraga, LCD dan sumber- sumber lain (buku) sudah sangat

menunjang proses pembelajaran.

4.2. Hasil Penelitian

4.2.1. Deskripsi Kondisi Awal

Kondisi awal adalah kondisi di mana penelitian tindakan kelas

belum diterapkan. Pada kondisi awal pembelajaran yang dilakukan oleh

menggunakan metode ceramah dan dilanjutkan pemberian tugas. Metode

ceramah menjadikan pembelajaran berpusat kepada guru, hal ini tentu

saja berlawanan dengan karakteristik dari pembelajaran IPA yang

seharusnya guru berperan sebagai fasilitator untuk memfasilitasi siswa

supaya aktif dalam pembelajaran, sehingga berdampak pada hasil belajar

yang rendah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada kelas 4

SDN Salatiga 8 dari 37 siswa, yang dinyatakan tuntas sebanyak 21

sedangkan yang tidak tuntas ada 16 siswa. Untuk menentukan interval

nilai, digunakan persamaan berikut ini:

47

Interval =nilai tertinggi nilai terendah

1 + 3.3 (log n)

Interval =85 40

1 + 3.3 (log 33)

Interval =45

1 + 3.3 (1.5)

Interval =45

1 + 4.95

Interval = 8

Data hasil belajar siswa sebelum dilakukan tindakan, dapat dilihat

pada tabel berikut ini:

Tabel 4.1

Rekapitulasi Hasil Belajar IPA siswa kelas 4

SDN Salatiga 8 Sebelum Tindakan

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%)

1 85 93 1 2.7 Tuntas

2 76 84 5 13.52 Tuntas

2 67 75 15 40.54 Tuntas

3 58 66 3 8.11 Belum tuntas

4 49 57 9 24.32 Belum tuntas

5 40 48 4 10.81 Belum tuntas

Jumlah 37 100

Rata-rata 66.35

Nilai tertinggi 85

Nilai terendah 40

Rekap nilai pada tabel 4.1 di atas dapat diuraikan sebagai

berikut siswa yang mendapat nilai 40 48 sebanyak 4 siswa atau

10.81%, siswa yang mendapat nilai antara 49 57 sebanyak 9 siswa

atau 24.32%, siswa yang mendapat nilai antara 58 - 66 sebanyak 3

siswa atau 8.11%, siswa mendapat nilai antara 67 75 sebanyak 15

siswa atau 40.54%, siswa yang mendapat nilai antara 76 84

berjumlah 5 siswa atau 13.52%, dan siswa yang mendapat nilai 85

48

93 ada 1 siswa atau 2.7%. Nilai rata-rata yang diperoleh kelas adalah

66.35 dengan perolehan nilai terendah yaitu 40 dan tertinggi 85.

Mengacu pada KKM 70, maka prosentase keseluruhan siswa

yang mencapai kriteria ketuntasan maupun belum tuntas belajar,

disajikan pada tabel berikut ini:

Tabel 4.2

Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas 4

SDN Salatiga 8 Sebelum Tindakan

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%)

1 < 70 16 43.24 Belum tuntas

2 70 21 56.76 Tuntas

Jumlah 37 100

Rata-rata 66.35

Nilai tertinggi 85

Nilai terendah 40

Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa kelas 4 SDN Salatiga

8 sebelum dilakukan tindakan, diketahui bahwa siswa yang

memperoleh nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM

70) sebanyak 16 siswa atau 43.24% dari total keseluruhan siswa,

sedangkan siswa yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal

sebanyak 21 siswa atau 56.76% dari total seluruh siswa. Berikut,

prosentase siswa yang belum ataupun telah mencapai KKM disajikan

pada gambar berikut ini:

49

Gambar 4.1

Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Sebelum Tindakan

Berdasarkan pengamatan sebelum dilakukan penelitian,

rendahnya hasil belajar siswa disebabkan karena metode yang sering

digunakan adalah metode ceramah dan penugasan. Kondisi yang

demikian menjadikan guru sebagai pusat pembelajaran, sehingga

kurang memperhatikan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Hasil

belajar yang rendah menunjukkan bahwa perlunya diberikan

perbaikan, dalam hal ini penulis berupaya melakukan perbaikan

dengan melakukan penelitian tindakan kelas yakni dengan menerapkan

model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay atau sering

disebut CRH untuk meningkatkan hasil belajar siswa.

4.2.2. Pelaksanaan Penelitian

a. Pelaksanaan Siklus I

Pelaksanaan siklus I dilakukan dalam 2 pertemuan dengan pokok

bahasan perubahan kenampakan bumi. Penelititan ini dilakukan melalui empat

tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/observasi, dan

refleksi yang sesuai dengan tahap penelitian Kemmis & Mc Taggart dalam

57%43%

KETUNTASAN HASIL

BELAJAR PRA SIKLUSTUNTAS TIDAK TUNTAS

50

Arikunto (2007:16). Adapun penjelasan masing-masing tahapan dijabarkan

sebagai berikut.

a) Tahap Perencanaan Tindakan

Sebelum dilaksanakan tindakan pelaksanaan, ada beberapa langkah

yang dilakukan oleh penulis, antara lain:

1) Memeriksa kembali RPP yang telah disusun, sambil mencermati

kembali setiap butir yang direncanakan untuk dilaksanakan pada

pelaksanaan tindakan.

2) Menyiapkan semua alat peraga dan sarana lain yang akan digunakan.

Setelah itu dilakukan pengecekan lagi alat peraga tersebut apakah

sudah benar-benar tersedia dan sesuai dengan perencanaan

pembelajaran yang hendak dilakukan.

3) Mengecek kembali kelengkapan dan ketersediaan alat pengumpul data,

seperti lembar observasi yang telah disepakati dengan guru yang

mendampingi sebagai observer.

b) Pelaksanaan Tindakan

Setelah menyusun langkah-langkah kegiatan pembelajaran, maka

disepakatilah untuk melakukan kegiatan perbaikan pembelajaran yang

terdiri dari dua pertemuan pembelajaran yaitu:

Pertemuan 1

1) Kegiatan Awal

Kegiatan awal yang dilakukan meliputi beberapa kegiatan

seperti yang telah disusun dalam rencana pembelajaran yaitu membuka

pembelajaran dengan salam, berdoa, mengabsen, mengecek kerapian

siswa, mengatur tempat duduk siswa dan melakukan apersepsi.

Kegiatan apersepsi yang dilakukan adalah menunjukkan beberapa

gambar perubahan kenampakan bumi kemudian menanyakan apa yang

terjadi pada gambar tersebut. Setelah itu dilanjutkan dengan beberapa

pertanyaan yang relevan sesuai dengan respon siswa.

51

2) Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti, yang dilakukan adalah menjelaskan materi

pembelajaran yaitu perubahan kenampakan bumi. Untuk mengecek

pemahaman siswa guru mengajukan pertanyaan karena tidak banyak

siswa yang berani menjawab guru menunjuk beberapa siswa untuk

menjawab pertanyaan. Selanjutnya, guru membagi kelas ke dalam

beberapa kelompok, dilanjutkan dengan pembagian lembar kerja

kelompok. Guru meminta setiap kelompok untuk berdiskusi

menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya bersama dengan

guru, siswa membahas soal yang telah dikerjakan dalam kelompok

dengan melakukan koreksi silang. Guru meminta siswa untuk berteriak

Horay bagi siswa yang jawabannya benar. Suasana kelas pada saat

koreksi silang gaduh karena hampir seluruh siswa berteriak Horay

meskipun jawaban mereka salah, pada kondisi ini guru berupaya

mengendalikan suasana kelas. Setelah kegiatan koreksi bersama selesai

dilakukan guru membimbing siswa dalam membahas kegiatan

kelompok yang dilakukan. Guru memberikan penghargaan berupa

pujian pada siswa yang mendapat nilai tertinggi.

3) Kegiatan penutup

Pada kegiatan ini, guru membimbing siswa untuk

menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan. Guru memberikan

motivasi kepada siswa, khususnya pada beberapa siswa yang terlihat

pasif guru memberikan nasihat supaya pada pertemuan selanjutnya

siswa dapat lebih aktif, selanjutnya guru memberikan tugas rumah dan

mengakhiri pembelajaran dengan salam dan doa.

Pertemuan 2

1) Kegiatan awal

Kegiatan awal pada pertemuan 2 Siklus I guru diawali dengan

mengucapkan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di

52

ruangan kelas, dan apersepsi. Kemudian, guru melakukan apersepsi

dengan melakukan apersepsi dengan menunjukkan beberapa gambar

perubahan kenampakan bumi kemudian menanyakan apa yang terjadi

pada gambar tersebut. Selanjutnya guru memberikan pertanyaan sesuai

dengan jawaban siswa, setelah itu guru menyampaikan tujuan

pembelajaran.

2) Kegiatan inti

Pada kegiatan inti di pertemuan kedua ini, yang dilakukan oleh

guru adalah menjelaskan materi pembelajaran yaitu berbagai dampak

dari perubahan kenampakan bumi. Untuk mengecek pemahaman siswa

guru mengajukan pertanyaan, pada pertemuan 2 masih terlihat tidak

benyak siswa yang berani menjawab, oleh karena itu guru menunjuk

beberapa siswa yang terlihat pasif untuk menjawab pertanyaan. Hal ini

dilakukan untuk menarik perhatian siswa sekaligus membuat siswa

yang lain fokus dalam pembelajaran. Selanjutnya, guru membagi kelas

ke dalam beberapa kelompok, dilanjutkan dengan pembagian lembar

kerja kelompok. Sebelum siswa melakukan kegiatan kelompok, guru

menyampaikan informasi mengenai tugas siswa, sehingga siswa dapat

mengerjakan tugasnya. Guru meminta setiap kelompok untuk

berdiskusi menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya bersama

dengan guru, siswa membahas soal yang telah dikerjakan dalam

kelompok dengan melakukan koreksi silang. Guru meminta siswa

untuk berteriak Horay bagi siswa yang jawabannya benar. Suasana

kelas pada saat koreksi silang masih sedikit gaduh namun lebih

terkendali daripada pertemuan sebelumnya. Setelah kegiatan koreksi

bersama selesai dilakukan guru membimbing siswa dalam membahas

kegiatan kelompok yang dilakukan. Guru memberi penjelasan terkait

materi yang belum dipahami siswa. Guru memberikan penghargaan

berupa pujian pada siswa yang mendapat nilai tertinggi

53

3) Kegiatan penutup

Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan pembelajaran

yang telah dilakukan, dilanjutkan dengan pemberian tugas rumah dan

guru memberikan motivasi pada siswa untuk giat belajar. Untuk

mengakhiri pembalajaran guru mengucapkan salam penutup dan doa.

c) Observasi

Pada kegiatan ini, yang diamati adalah hasil belajar melalui tes yang

dilakukan setelah tindakan, dan terlaksananya pembelajaran yang dinilai

melalui lembar observasi. Berikut ini dipaparkan hasil belajar dan

observasi terhadap guru dan siswa yang diperoleh setelah dilakukan

tindakan pada siklus I, baik pada pertemuan pertama maupun pertemuan

kedua.

1) Hasil Belajar Siswa pada Siklus I

Setelah dilakukan tindakan yakni dengan menerapkan model

pembelajaran kooperatif tipe CRG pada siklus I pertemuan 1 dan 2, maka

dilakukan tes evaluasi untuk mengtahui hasil belajar siswa. Perolehan hasil

belajar siswa pada siklus I disajikan dalam interval nilai berikut ini. Untuk

menentukan interval nilai, digunakan persamaan berikut ini

Interval =nilai tertinggi nilai terendah

1 + 3.3 (log n)

Interval =95 50

1 + 3.3 (log 33)

Interval =45

1 + 3.3 (1.5)

Interval =45

1 + 4.95

Interval = 8

54

Hasil belajar pada siklus I setelah diberikan soal evaluasi diakhir

siklus adalah sebagai berikut:

Tabel 4.3

Rekapitulasi Ketuntasan Hasil belajar Siklus I

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%)

1 95 2 5.4 Tuntas

2 86 94 2 5.4 Tuntas

3 77 85 6 16.2 Tuntas

4 68 76 19 51.4 Tuntas

5 59 67 3 8.1 Belum tuntas

6 50 58 5 13.5 Belum tuntas

Jumlah 37 100

Rata-rata 72.6

Nilai tertinggi 95

Nilai terendah 50

Tabel di atas, menunjukkan hasil belajar pada siklus I. Pada

tabel tersebut terlihat jelas perbandingan hasil belajar siswa pada

kondisi sebelum tindakan dan setelah diberikan tindakan pada siklus

I, pada kondisi awal siswa yang mencapai kentuntasan belajar

(KKM 70) sebanyak 21 siswa dan yang tidak tuntas sebanyak 16

siswa, namun setelah diberikan tindakan pada siklus I yakni dengan

menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe CRH siswa yang

tuntas mengalami peningkatan yakni menjadi 29 siswa (73.38%)

sedangkan siswa yang belum tuntas mengalami penurunan yakni

menjadi 8 siswa (21.62%).

Kondisi perolehan hasil belajar siswa berubah setelah

diberikan tindakan pada siklus I. Siswa yang mendapatkan nilai pada

rentang 50 58 sebanyak 5 siswa atau 13.5%, siswa yang

mendapatkan nilai pada rentang 59 67 sebanyak 3 siswa atau 8.1%,

siswa yang mendapatkan nilai pada rentang 68 - 76 berjumlah 19

siswa dengan prosentase 51.4%. Siswa yang mendapatkan nilai

55

antara 77 85 berjumlah 6 siswa atau 16.2%, siswa yang

mendapatkan nilai pada rentang 86 94 sebanyak 2 siswa atau 5.4%,

dan siswa yang mendapatkan nilai 95 ada 2 siswa atau 5.4%. Nilai

rata-rata siswa meningkat dari awal sebelum tindakan yaitu 66.35

menjadi 73.50 pada siklus I. Nilai terendah dicapai dengan nilai 50

dan nilai tertinggi adalah 95.

Berikut disajikan dalam tabel, prosentase ketuntasan belajar

pada siklus I. hasilnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini:

Tabel 4.4

Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siswa Kelas 4

SDN Salatiga 8 Siklus I

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%)

1 < 70 8 21.62 Belum tuntas

2 70 29 78.38 Tuntas

Jumlah 37 100

Rata-rata 73.50

Nilai tertinggi 95

Nilai terendah 50

Prosentase ketuntasan hasil belajar siswa SD Negeri Salatiga 8

setelah diberikan tindakan pada siklus I yakni siswa yang tuntas ada

29 siswa dengan prosentase 78.38% sedangkan siswa yang belum

tuntas ada 8 siswa dengan prosentase (21.62%). Berikut prosentase

hasil belajar siklus I disajikan pada gambar di bawah ini:

56

Gambar 4.2

Prosentase Ketuntasan Belajar Siklus I

Berdasarkan pengamatan, setelah diadakan penelitian tindakan

siklus I, terjadi peningkatan hasil belajar siswa. Hal ini disebabkan

karena siswa dapat mengikuti pembelajaran yang dirancang oleh guru

dengan baik, dan guru dapat melaksanakan pembelajaran dengan baik

pula. Meskipun demikian masih terdapat beberapa kendala yang

dialami oleh guru dan siswa.

2) Hasil Observasi Terhadap Guru pada Siklus I

Pengamatan yang dilakukan terhadap guru berupa aktivitas guru

dalam pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif tipe CRH

dalam pelajaran IPA materi perubahan kenampakan bumi sub tema

faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan kenampakan bumi pada

pertemuan pertama. Berdasarkan hasil observasi diketahui bahwa

aktivitas guru pada pertemuan pertama siklus I, dalam menerapkan

model kooperatif tipe CRH pada pelajaran IPA materi perubahan

kenampakan bumi sudah baik. Langkah-langkah pembelajaran yang

dirancang secara garis besar sudah terlaksana, namun masih ada

beberapa langkah pembelajaran yang terlewatkan atau tidak terlaksana.

78%

22%

Ketuntasan Belajar Siswa Siklus I

Tuntas Tidak Tuntas

57

Pada kegiatan awal, guru belum menyampaikan tujuan pembelajaran,

guru juga tidak memberikan penjelasan mengenai kegiatan kelompok

yang akan dilakukan, kemudian saat kegiatan kelompok berlangsung

guru kurang memberikan bimbingan sehingga bebarapa kelompok

terlihat kesulitan. Saat guru meminta siswa untuk berteriak horay,

suasana kelas tergolong ramai karena hamper semua siswa berteriak

horay.

Observasi juga dilakukan pada pertemuan kedua, pada

pertemuan ke dua, suasana kelas sudah cukup terkendali. Guru sudah

memberikan bimbingan kepada siswa, namun untuk kegiatan

kellompok penjelasan yang diberikan guru masih kurang sehingga

beberapa kelompok masih sering bertanya mengenai tugas yang harus

dikerjakan. Guru sudah dapat mengontrol suasana kelas, sehingga pada

pertemuan 2 siklus I pembelajaran tergolong kondusif, beberapa siswa

sudah terlihat aktif yakni bertanya dan menanggapi pertanyaan dari

guru. Paparan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran pada siklus I

telah berjalan dengan baik meskipun masih terdapat beberapa

kekurangan, selanjutnya kekurangan-kekurangan tersebut akan

dievaluasi guna dirancang solusi untuk mengatasinya. Secara garis

besar pembelajaran yang dilakukan oleh guru sudah bagus, namun

kendala-kendala di atas harus diperhatikan dan dilakukan evaluasi

supaya tidak terjadi kendala serupa. Adapun catatan observer pada

siklus I adalah guru perlu mengontrol suasana kelas supaya tidak

ramai, dan yang lebih penting guru harus menguasai langkah-langkah

pembelajaran.

3) Hasil Observasi Terhadap Siswa pada Siklus I

Selain aktivitas guru, aktivitas yang diamati adalah aktivitas

siswa. Aktivitas siswa dalam hal ini adalah kesiapan siswa, respon

siswa dalam mengikuti pembelajaran model kooperatif tipe CRH.

58

Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa pada siklus I

pertemuan 1 dan pertemuan 2.

Berdasarkan hasil perhitungan pada lembar observasi siswa

diketahui bahwa aktivitas siswa dalam mengikuti pembelajaran pada

siklus I pertemuan 1 masuk dalam kriteria baik, ini menujukkan siswa

dapat mengikuti pembelajaran dengan model kooperatif tipe CRH.

Meskipun demikian masih ada beberapa kendala, seperti suasana kelas

yang cukup ramai saat guru meminta siswa untuk berteriak horay,

selain itu dalam kegiatan kelompok terlihat beberapa kelompok

kesulitan dan bingung mengenai tugas yang diberikan hal ini karena

guru belum maksimal dalam memberi bimbingan. Siswa juga relative

pasif ketika guru mengajukkan pertanyaan, guru harus menunjuk

dahulu karena sebagian siswa cenderung diam dan tidak menanggapi

pertanyaan dari guru.

Pada pertemuan kedua, kendala-kendala yang dialami selama

pertemuan 1 sudah banyak berkurang, suasana kelas sudah terkendali.

Beberapa siswa sudah terlihat berani menanggapi pertanyaan dari

guru, dan mengemukakan pendapat. Pada siklus II, hasil penilaian

pada lembar observasi juga lebih baik, meskipun ada beberapa

kendala. Adapun catatan yang diberikan observer adalah siswa harus

mendengarkan perintah guru. Namun secara keseluruhan siswa dapat

mengikuti pembelajaran dengan baik.

d) Refleksi

Pembelajaran IPA kelas 4 pada materi perubahan kenampakan bumi

pada siklus I ini belum berhasil sesuai indikator kinerja yang ditentukan

karena ketuntasan belajar baru 78.38%. Adapun kendala yang menjadi

penyebab kekurang berhasilan dalam pembelajaran siklus I yaitu:

1) Pembelajaran masih gaduh dan kurang terkendali pada saat siswa

kegiatan kelompok, hal ini dikarenakan pembelajaran dengan model

59

kooperatif tipe CRH adalah model pembelajaran yang baru bagi guru,

sehingga pada siklus I guru masih belum terbiasa dengan langkah-

langkah pembelajaran CRH.

2) Guru belum memberi arahan dalam kegiatan kelompok sehingga masih

ada siswa yang kebingungan dalam mengerjakan tugas.

3) Guru belum memberi kesempatan pada siswa untuk mengemukakan

pendapat dan bertanya.

Berdasarkan data yang telah dianalisis dan data hasil diskusi, peneliti

melakukan penelaahan dan mencoba menyimpulkan hasil tindakan yang

telah dilakukan. Hasil ini menunjukkan bahwa penguasaan siswa sudah

meningkat, meskipun belum sesuai dengan kriteria keberhasilan yang

ditentukan karena ketuntasan belajar baru 78.38%.

Mencermati kendala tersebut maka solusi yang dapat dirancang ,

untuk mengadakan perbaikan pembelajaran pada siklus II sebagai berikut:

1) Guru perlu menguasi langkah-langkah dari model pembelajaran

kooperatif tipe CRH agar pembelajaran dapat terlaksana dengan baik,

dengan demikian guru juga dapat menguasai kelas.

2) Memberi teguran pada siswa yang ramai dan memberi nasihat serta

motivasi pada siswa yang kurang terlibat aktif selama pembelajaran

berlangsung.

3) Memberikan kesempatan pada siswa untuk mengemukakan pendapat

atau bertanya.

b. Pelaksanaan Siklus II

Tahap pelaksanaan siklus II sama seperti tahap pelaksanaan pada

siklus I, yakni mengacu pada tahap penelitian Kemmis & Mc Taggart dalam

Arikunto (2007:16), pelaksanaan siklus II terdiri dari empat langkah yaitu

perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan/ observasi, dan refleksi.

Bagian pelaksanaan siklus II menguraikan perencanaan tindakan mengenai

60

apa yang dilaksanakan sebagai perbaikan dari kekurangan siklus I. Setelah

perencanaan dan pelaksanaan, diuraikan refleksi berdasarkan hasil obsevasi.

a. Tahap Perencanaan

Peneliti menyiapkan dan merevisi RPP dan menyiapkan kembali

skenario tindakan yang akan dilaksanakan pada perbaikan pembelajaran

siklus II. Berdasarkan hasil diskusi dan refleksi siklus I maka solusi yang

dirancang dalam upaya perbaikan pembelajaran, yakni penguasan langkah-

langkah model kooperatif tipe CRH oleh guru, memberi teguran pada siswa

yang ramai dan memberi nasihat serta motivasi pada siswa yang kurang

terlibat aktif selama pembelajaran berlangsung, memberikan kesempatan

pada siswa untuk mengemukakan pendapat atau bertanya. Selain itu

penulis juga menyiapkan kembali lembar kerja siswa, lembar evaluasi,

lembar observasi.

b. Pelaksanaan

Pertemuan I

1) Kegiatan awal

Pelaksanaan pada pertemuan II guru membuka pelajaran dengan

mengucapkan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana di

ruangan kelas, dan apersepsi. Pada kegiatan apersepsi guru

menanyakan apakah bintang hanya bersinar di malam hari?

Kemudian, guru menanyakan pertanyaan lain sesuai dengan jawaban

siswa. Guru mencocokkan PR dan mengingatkan kembali tentang

materi yang telah diajarkan di pertemuan sebelumnya yaitu materi

perubahan kenampakan bumi. Guru menginformasikan tujuan

pembelajaran.

2) Kegiatan Inti

Pada kegiatan inti Siklus II pertemuan 1, yang dilakukan oleh guru

adalah menjelaskan materi pembelajaran yaitu perubahan kenampakan

bintang dan matahari. Untuk mengecek pemahaman siswa guru

61

mengajukan pertanyaan, pada pertemuan 1 siklus II, banyak siswa

yang berani menjawab pertanyaan. Hal ini dilakukan untuk menarik

perhatian siswa sekaligus membuat siswa yang lain fokus dalam

pembelajaran. Selanjutnya, guru membagi kelas ke dalam beberapa

kelompok, dilanjutkan dengan pembagian lembar kerja kelompok.

Sebelum siswa melakukan kegiatan kelompok, guru menyampaikan

informasi mengenai tugas siswa, sehingga siswa dapat mengerjakan

tugasnya. Guru meminta setiap kelompok untuk berdiskusi

menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya bersama dengan

guru, siswa membahas soal yang telah dikerjakan dalam kelompok

dengan melakukan koreksi silang. Guru meminta siswa untuk berteriak

Horay bagi siswa yang jawabannya benar. Pada peretmuan 1 siklus II

suasana kelas sudah terkendali, hanya siswa yang jawabannya benar

saja yang berteriak horay. Setelah kegiatan koreksi bersama selesai

dilakukan guru membimbing siswa dalam membahas kegiatan

kelompok yang dilakukan. Guru memberikan kesemapatan pada siswa

untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan pendapat. Guru

memberi penjelasan terkait materi yang belum dipahami siswa. Guru

memberikan penghargaan berupa pujian pada siswa yang mendapat

nilai tertinggi.

3) Kegiatan akhir

Pada kegiatan akhir, siswa dibimbing untuk menyimpulkan

pembelajaran yang telah dilakukan. Guru menanyakan apakah siswa

merasa senang serta memberi motivasi berupa pujian kepada siswa.

Siswa diberikan tugas secara individual untuk dikerjakan di rumah,

pembelajaran diakhiri dengan salam dan doa.

Pertemuan II

1) Kegiatan awal

62

Seperti pada pertemuan-pertemuan sebelumnya, kegiatan awal

dimulai dengan salam, berdoa, mengabsensi siswa, mengatur suasana

di ruangan kelas, dan apersepsi. Guru melakukan apersepsi dengan

menanyakan peran dari matahari bagi bumi, guru menunggu respon

dari siswa kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang

relevan. Setelah itu, guru menginformasikan tujuan pembelajaran.

2) Kegiatan inti

Kegiatan yang dilakukan pada pertemuan ini adalah guru

memberi penejlasan tentang pokok bahasan yakni kenampakan bulan

beserta fase-fasenya. Untuk mengecek pemahaman siswa guru

mengajukan pertanyaan, guru juga memberi kesempatan bagi siswa

untuk bertanya. Pada kegiatan ini siswa terlihat aktif dan dapat

mengikuti pembelajaran dengan baik, ditunjukkan dengan banyaknya

siswa yang berani menanggapi tanpa harus ditunjuk. Selanjutnya, guru

membagi kelas ke dalam beberapa kelompok, dilanjutkan dengan

pembagian lembar kerja kelompok. Sebelum siswa melakukan

kegiatan kelompok, guru memberi penjelasan mengenai tugas siswa

dalam kegiatan kelompok, sehingga siswa dapat mengerjakan

tugasnya. Guru meminta setiap kelompok untuk berdiskusi dalam

menyelesaikan tugas yang diberikan. Selanjutnya bersama dengan

guru, siswa membahas soal yang telah dikerjakan dalam kelompok

dengan melakukan koreksi silang, guru menunjuk beberapa siswa

untuk menjawab soal yang telah dikerjakan. Guru meminta siswa

untuk berteriak Horay bagi siswa yang jawabannya benar. Pada

peretmuan 2 siklus II suasana kelas sudah terkendali, hanya siswa yang

jawabannya benar saja yang berteriak horay. Setelah kegiatan koreksi

bersama selesai dilakukan guru membimbing siswa dalam membahas

kegiatan kelompok yang dilakukan. Guru memberikan kesemapatan

pada siswa untuk mengajukan pertanyaan dan mengemukakan

63

pendapat. Guru memberi penjelasan terkait materi yang belum

dipahami siswa. Guru memberikan penghargaan berupa pujian pada

siswa yang mendapat nilai tertinggi.

3) Kegiatan akhir

Pada kegiatan akhir, guru membimbing siswa dalam

menyimpulkan pembelajaran yang telah dilakukan, guru memberikan

motivasi berupa pujian dan nasihat supaya siswa selalu rajin belajar.

Guru mengulas kegiatan yang dilakukan dengan bertanya kegiatan

apakah yang paling disukai siswa. Guru mengakhiri pembelajaran

dengan salam dan doa.

c. Observasi

Bersamaan dengan berlangsungnya kegiatan belajar mengajar,

bersamaan dengan itu, guru meminta observer untuk melakukan observasi

dengan menggunakan lembar observasi guru dan siswa yang telah

disiapkan sebelumnya. Berikut diuraikan hasil observasi yaitu hasil belajar

siswa pada siklus II, ketika guru mengajar dengan menggunakan model

koperatif tipe CRH.

1) Hasil belajar Siklus II

Hasil belajar pada siklus II yang diperoleh selama proses

pembelajaran IPA dengan menggunakan model kooperatif tipe CRH

kelas 4 SDN Salatiga 8 dijabarkan dalam interval nilai berikut ini.

Untuk menentukan interval nilai, digunakan persamaan berikut ini

Interval =nilai tertinggi nilai terendah

1 + 3.3 (log n)

Interval =100 65

1 + 3.3 (log 33)

Interval =35

1 + 3.3 (1.5)

Interval =45

1 + 4.95

64

Interval = 6

Tabel 4.5

Rekapitulasi Ketuntasan Belajar Siklus II

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%)

1 > 94 2 5.41 Tuntas

2 87 93 4 10.81 Tuntas

3 80 86 4 10.81 Tuntas

4 73 79 9 24.32 Tuntas

5 66 72 15 40.54 Belum tuntas

6 65 3 8.11

Jumlah 37 100

Rata-rata 82.65

Nilai tertinggi 100

Nilai terendah 65

Tabel 4.5 menunjukkan ketuntasan belajar siswa pada

siklus II. Pada tebel tersebut dapat diketahui jumlah siswa yang

belum tuntas atau belum mencapai KKM (KKM 70) ada 3

siswa. Jika pada siklus I, jumlah siswa yang belum tuntas

mencapai 8 (21.26%) pada siklus II jumlahnya berkurang

menjadi 3 siswa (8.1%), kemudian untuk siswa yang tuntas

belajarnya pada siklus II mencapai 91.89% atau sebanyak 34

siswa mendapat nilai di atas KKM. Berikut uraian nilai yang

diperoleh dari siklus II: siswa yang mendapatkan nilai pada

rentang >65 sebanyak 3 siswa atau 8.11%, siswa yang mendapat

nilai pada rentang 66 72 sebanyak 15 siswa atau 40.54%,

kemudian pada rentang 73 79 sebanyak 9 siswa atau 24.32%,

pada rentang 80 86 berjumlah 4 siswa dengan prosentase

10.81%; yang mendapatkan nilai dalam rentang 87 93

berjumlah 4 siswa atau 10.81%, dan yang mendapatkan nilai

pada rentang >94 ada 2 siswa atau 5.41%. Nilai rata-rata kelas

menjadi meningkat yaitu 82.65, dengan nilai terendah 65 dan

tertinggi 100.

65

Tabel 4.6

Prosentase Ketuntasan Hasil Belajar Siklus II

No Nilai Sebelum Tindakan Keterangan

Jumlah Siswa (%)

1 < 70 3 8.11 Belum tuntas

2 70 34 97.89 Tuntas

Jumlah 37 100

Rata-rata 82.65

Nilai tertinggi 100

Nilai terendah 65

Ketuntasan hasil belajar pada siswa 4 SD Negeri Salatiga

8, sebelum dilakukan tindakan dapat diketahui bahwa siswa yang

memiliki nilai kurang dari Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM

70) sebanyak 16 siswa atau 43.24% pada siklus I kemudian

terjadi penurunan menjadi 8 siswa atau 21.62% setelah dilakukan

siklus II terjadi penurunan lagi menjadi 3 siswa atau 8.11%

siswa yang mendapat nilai di bawah KKM. Sedangkan, yang

mencapai ketuntasan minimal sebelum dilaksanakan tindakan

yaitu sebanyak 21 siswa atau 56.76% pada siklus I kemudian

meningkat menjadi 29 siswa atau 78.38%, dan pada siklus II

mengalami peningkatan lagi menjadi 91.89% tuntas dalam

belajar IPA. Meskipun masih terdapat siswa yang tidak tuntas

namun hasil ini membuktikan penelitian yang telah dilakukan

telah berhasil karena telah melebihi batas ketuntasan yaitu 85%

sedangkan hasil ketuntasan belajar pada siklus II mencapai

91.89%. Prosentase ketuntasan belajar siswa secara lebih jelas

dapat dilihat pada gambar berikut.

66

Gambar 4.3 Diagram Lingkaran Prosentase

Ketuntasan Belajar Siswa Siklus II

Berdasarkan pengamatan setelah diadakannya penelitian

tindakan siklus II, terjadi kenaikan hasil belajar siswa.

Terjadinya kenaikan hasil belajar siswa tersebut karena siswa

merasa senang dalam proses pembelajaran. Siswa terlihat sangat

antusias, aktif dalam bertanya dalam pembelajaran menggunakan

model kooperatif tipe CRH.

2) Hasil Observasi Terhadap Guru Siklus II

Pengamatan yang dilakukan terhadap guru berupa aktivitas guru

dalam pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif tipe CRH

dalam pelajaran IPA materi perubahan kenampakan bumi sub tema

kenampakan bintang dan matahari pada pertemuan pertama. Hasil

perhitungan terhadap aktivitas guru pada lembar observasi pada

pertemuan pertama dan kedua siklus II materi kenampakan bintang

dan matahari, mendapat skor yaitu 20 dengan nilai aktivitas yaitu

100%, dengan kategori baik sekali. Hal ini menunjukkan bahwa

pembelajaran pada pertemuan 1 dan kedua siklus II telah berjalan

91.89%

8.11%

Ketuntasan Belajar Siklus II

Tuntas

Belum Tuntas

67

sesuai dengan apa yang dirancang, guru telah dapat menerapkan model

kooperatif tipe CRH dengan baik. Kendala-kendala yang dialami

selama siklus I sudah teatasi pada siklus II. Guru telah mampu

menerapkan seluruh langkah-langkah pembelajaran dengan baik.

3) Hasil Observasi Terhadap Siswa Siklus II

Pada siklus II ini juga dilakukan pengematan terhadap aktivitas

siswa selama mengikuti pembelajaran dengan menggunakan model

kooperatif tipe CRH. Aktivitas siswa dalam hal ini adalah kesiapan

siswa, respon siswa dalam mengikuti pembelajaran model kooperatif

tipe CRH. Aktivitas siswa yang diamati adalah aktivitas siswa pada

siklus II pertemuan 1 dan pertemuan 2.

Berdasarkan hasil observasi pada siklus II baik pada pertemuan

1 dan 2, siswa telah dapat mengikuti pembelajaran dengan baik.

Kendala selama siklus I sudah teratasi pada siklus II. Seluruh aspek

yang diamati pada lembar observasi sudah terlaksana, kondisi yang

demikian menunjukkan bahwa siswa dapat mengikuti pembelajaran

dengan baik. Hasil tersebut menunjukkan bahwa pada siklus II

pembelajaran yang dirancang oleh guru dapat diikuti oleh siswa, ini

menunjukkan siswa telah terbiasa dengan model kooperatif tipe CRH

yang pada siklus sebelumnya masih terdapat kendala namun pada

siklus II kendala tersebut dapat diatasi ditunjukkan dengan skor

perolehan pada lembar observasi siswa. Hasil dari lembar observasi

siswa ini selanjutnya dapat mendukung meningkatnya hasil belajar

siswa setelah mengikuti pembelajaran kooperatif tipe CRH.

d. Refleksi

Setelah dilakukan perbaikan pembelajaran pada siklus I, maka

pelaksanaan pembelajaran pada siklus II dapat dikatakan telah

berjalan dengan baik, terbukti dengan penilaian pada lembar

observasi yang menunjukkan telah terlaksananya seluruh langkah-

68

langkah pembelajaran. Ketuntasan hasil belajar siswa juga

mengalami peningkatan dari siklus I, pada siklus II ketuntasan

belajar siswa telah mencapai indikator yang ditentukan dengan

demikian tidak diperlukan tindakan pada siklus berikutnya atau

upaya peningkatan hasil belajar siswa melalui penerapan model

kooperatif tipe CRH telah berhasil dilaksanakan.

4.2.3. Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I

dan Siklus II

Berikut dijabarkan mengenai perbandingan keseluruhan ketuntasan hasil

belajar mulai dari kondisi awal, siklus I, sampai siklus II. Berdasarkan analisis

komparatif diketahui bahwa terjadi peningkatan ketuntasan hasil belajar baik

pada kondisi pra sikus, siklus I, dan siklus II. Pada kondisi awal jumlah siswa

yang tidak tuntas mencapai 16 siswa atau sebesar 43.24% sedangkan siswa

yang tuntas mencapai 21 siswa atau sebesar 56.76%. Kondisi tersebut berubah

setelah diberikan tindakan pada siklus I dan siklus II. Ketuntasan belajar pada

siklus I yakni mencapai 78.38% atau sebanyak 29 siswa dinyatakan tuntas

sedangkan siswa yang tidak tuntas mencapai 8 siswa atau sebesar 21.62%.

Peningkatak ketuntasan belajar juga terjadi pada siklus II, yakni jumlah siiswa

yang tuntas ada 34 siswa atau sebesar 91.89% sedangkan yang tidak tuntas

ada 3 siswa atau sebesar 8.11%, meskipun masih terdapat siswa yang belum

tuntas, namun penerapan pembelajaran dengan model kooperatif tipe CRH

telah berhasil dilaksanakan karena ketuntasan pada siklus II telah mencapai

indikator yang ditentukan yakni 85% siswa tuntas belajarnya. Dengan hasil ini

dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model kooperatif tipe CRH

berhasil diterapkan pada pelajaran IPA pada siswa kelas 4 SDN Salatiga 8

semester II tahun pelajaran 2015/2016.

Hasil ini disajikan pada grafik perbandingan ketuntasan hasil belajar

pada kondisi awal, siklus I dan siklus II yang dapat dilihat pada grafik yang

tersaji berikut ini:

69

Gambar 4.4

Perbandingan Ketuntasan Hasil Belajar Kondisi Awal, Siklus I dan

Siklus II

4.3. Pembahasan

Hasil analisis komparatif, menunjukkan bahwa adanya peningkatan

terhadap ketuntasan belajar siswa mulai dari kondisi pra siklus hingga siklus

II. Pada kondisi awal, ketuntasan belajar siswa mencapai 56.76%, hal ini

dikarenakan dalam pembelajaran guru masih menggunakan metode

pembelajaran yang konvensional yakni dengan ceramah dan dilanjutkan

pemberian tugas. Kondisi demikian tidaklah sesuai dengan karakteristik

pembelajaran IPA. Harlen (Patta Bundu, 2006: 10) menyebutkan bahwa salah

satu karakteristik IPA adalah terdapat fakta dan teori ilmiah yang dapat

dibuktikan melalui kegiatan ilimiah, oleh karena itu pembelajaran IPA lebih

menekankan pada proses. Samatowa (2011: 5) menjelaskan bahwa belajar

IPA merupakan proses konstruktif yang menhendakti partisipasi aktif dari

segi siswa sehingga peran guru berubah dari sumber dan pemberi informasi

menjadi fasilitator bagi siswa. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa

21

29

34

16

8

3

Pra Siklus Siklus I Siklus II

Perbandingan Ketuntasan Belajar Kondisi Awal,

Siklus I, Siklus II

Tuntas Tidak Tuntas

70

pembelajaran IPA hendaknya melibatkan aktivitas siswa, sedangkan metode

ceramah tidaklah mendukung terlibatnya siswa dalam permbajaran.

Mencermati hal tersebut, maka diperlukan suatu model pembelajaran yang

sesuai dengan karakteristik pembelajaran IPA salah satunya adalah model

kooperatif, karena pembelajaran kooperatif merupakan pembelajaran dengan

cirri khas kegiatan kelompok sehingga siswa harus terlibat aktif dalam

pembelajaran, dalam hal ini peneliti memilih kooperatif tipe CRH, karena

CRH mengemas pembelajaran dengan menyenangkan dengan adanya yel-yel

yang dilakukan siswa. Menurut Widodo (2009) model pembelajaran CRH

merupakan model pembelajaran yang dapat menciptkan kondisi belajar yang

menyenangkan karena siswa di bagi dalam kelompok selanjutnya diberi

pertanyaan dan kelompok yang dapat menjawab benar dapat berteriak

HOREY atau yel-yel lainnya yang disukai.

Setelah dilakukan tindakan yakni dengan menerapkan model

pembeljaran kooperatif tipe CRH, dapat dilihat peningkatan hasil belajar

siswa dari kondisi pra siklus ke siklus I adalah sebesar 21.62% yakni

ketuntasan peningkatan dari 56.76% (kondisi pra siklus) menjadi 78.38%

(kondisi siklus I), meskipun terjadi peningkatan ketuntasan terhadap hasil

belajar siswa, namun hasil tersebut belum dapat dikatakan berhasil karena

ketuntasan pada siklus I masih dibawah dari indikator keberhasilan yang

ditentukan yakni 85% siswa mendapat nilai di atas KKM (KKM 70)

sehingga diperlukan tindakan pada siklus II.

Hasil observai pada siklus I menunjukakan bahwa proses

pembelajaran sudah berjalan dengan baik, meskipun ada beberapa langkah

pembelajaran yang terlewatkan, suasana kelas yang masih ramai dan

beberapa siswa yang terlihat pasif, solusi dari permasalahan tersebut adalah

guru perlu menegur dan mengingatkan siswa yang ramai dan terlihat pasif.

Hasil observasi pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan baik

terhadap guru maupun siswa, hal tersebut membuktikan bahwa guru telah

71

dapat melaksanakan pembelajaran kooperatif tipe CRH dengan baik, selain

itu ketuntasan belajar siswa juga mengalami peningkatan.

Kondisi pada siklus II menunjukkan adanya peningkatan yakni sebesar

35.15% jika dibandingkan dengan kondisi awal peningkatan ketuntasan

belajar yakni dari 56.76% (kondisi pra siklus) menjadi 91.89% (kondisi

siklus II). Nilai ketuntasan belajar pada siklus II menunjukkan keberhasilan

dalam penelitian ini karena nilai ketuntasan pada siklus II telah mencapai

indikator keberhasilan yang ditentukan, dengan demikian penerapan model

kooperatif tipe CRH dalam meningkatkan hasil belajar IPA siswa kelas 4

SDN Salatiga 8 telah berhasil dilakukan.

Hasil penelitian ini memperkuat penelitian-penelitian yang dilakukan

sebelumnya, yakni penelitian yang dilakukan oleh Jusman Lapatta, Siti

Nuryanti, dan Yusuf Kendek. 2014 dengan judul Peningkatan Hasil Belajar

Siswa Melalui Penggunaan Model Course Review Horay Pada Mata

Pelajaran IPA Kelas IV SD Inpres Sintuwu. Hasil penelitian menunjukan

bahwa model pembelajaran Course Review Horay dapat meningkatkan

ketuntasan belajar siswa yaitu pada siklus I daya serap klasikal 64,75% dan

ketuntasan belajar klasikal 55%. Hasil belajar pada tindakan siklus II daya

serap klasikal 86% dan ketuntasan belajar klasikal 90%. Berdasarkan hasil

ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa Penggunaan Model Course Review

Horay pada Mata Pelajaran IPA dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas

IV SD Inpres Sintuwu.

Penelitian lainnya yang berhasil dilakukan adalah penelitian dari

Wiwin Susiati. 2012. Peningkatan Hasil Belajar IPA Melalui Model

Pembelajaran CRH (Crouse Review Horay) Pada Siswa Kelas V Di SD

Negeri Mojogedang Tahun Ajaran 2011/2012. Hasil dari penelitiannya

menunjukkan adanya peningkatan terhadap hasil belajar siswa yang

ditunjukan dengan pada kondisi awal yang mendapat nilai 6 sebanyak 14

anak, pada siklus I sebanyak 6 anak, pada siklus II sebanyak 0. Pada tahap

72

pra siklus siswa yang mendapat nilai 7 sebanyak 7 anak, pada siklus I

sebanyak 10 anak, pada siklus II sebanyak 6 anak. Pada tahap pra siklus

siswa yang mendapat nilai 8 sebanyak 5 anak, pada siklus I sebanyak 10

anak, pada siklus II sebanyak 13 anak, sedangkan siswa yang mendapat nilai

9 hanya ada pada siklus II sebanyak 7 anak. Keaktifan siswa dalam

mengungkapkan pendapat meningkat, yaitu: pada tahap pra siklus sebesar

15,3%, pada tahap siklus I sebesar 53,8%, dan pada tahap siklus II sebesar

65,3%. Keaktifan siswa dalam bertanya mengalami peningkatan, yaitu: pada

tahap pra siklus sebesar 19,2%, pada tahap siklus I sebesar 57,6%, dan pada

tahap siklus II sebesar 57,6%. Keaktifan siswa dalam menjawab pertanyaan

juga mengalami peningkatan, yaitu: pada tahap pra siklus sebesar 26,9%,

pada tahap siklus I sebesar 57,6%, dan pada tahap siklus II sebesar 92,3%.

Hasil penelitian ini sejalan dengan teori yang dikemukakan Widodo

(2009) yang menjelaskan bahwa model pembejaran CRH merupakan salah

satu model pembelajaran kooperatif yang dapat meningkatkan kemampuan

siswa dalam bersaing secara postif dalam pembalajaran, selain itu juga dapat

mengambangkan kemampuan dalam berpikir kritis serta membantu siswa

untuk mengingat konsep yang dipelajari secara mudah. Penelitian ini dapat

dilakukan dengan baik oleh peneliti karena guru serta siswa yang diberikan

tindakan bersikap kooperatif. Keunggulan dalam penelitian ini yakni,

pembelajaran yang dilakukan dengan CRH selain meningkatkan hasil belajar

siswa juga meningkatkan kemampuan guru dalam menerapkan model CRH

selain itu memberikan referensi bagi guru terhadap model-model

pembelajaran yang praktis dan menyenangkan sehingga guru dapat

merancang pembelajaran yang menyenangkan dan pada akhirnya berdampak

pada hasil belajar siswa.

of 27/27
46 BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Subyek Penelitian Penelitian ini dilaksanakan di SD Negeri Salatiga 8 pada semester II tahun pelajaran 2015/2016 dengan subyek penelitian kelas 4. Total jumlah siswa di kelas 4 yaitu 37 siswa, dengan jumlah siswa laki-laki sebanyak 22 siswa sedangkan jumlah siswa perempuan sebanyak 15 siswa. SD Negeri Salatiga 8 terletak di lingkungan yang cukup kondusif karena jauh dari jalan raya sehingga suasana belajar terbilang tenang. Sarana dan prasaran di SD Negeri Salatiga 8 juga mendukung jalannya proses pembelajaran, hal ini karena ditunjang sarana dan prasana yang cukup lengkap untuk mengajar seperti alat peraga, LCD dan sumber- sumber lain (buku) sudah sangat menunjang proses pembelajaran. 4.2. Hasil Penelitian 4.2.1. Deskripsi Kondisi Awal Kondisi awal adalah kondisi di mana penelitian tindakan kelas belum diterapkan. Pada kondisi awal pembelajaran yang dilakukan oleh menggunakan metode ceramah dan dilanjutkan pemberian tugas. Metode ceramah menjadikan pembelajaran berpusat kepada guru, hal ini tentu saja berlawanan dengan karakteristik dari pembelajaran IPA yang seharusnya guru berperan sebagai fasilitator untuk memfasilitasi siswa supaya aktif dalam pembelajaran, sehingga berdampak pada hasil belajar yang rendah. Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada kelas 4 SDN Salatiga 8 dari 37 siswa, yang dinyatakan tuntas sebanyak 21 sedangkan yang tidak tuntas ada 16 siswa. Untuk menentukan interval nilai, digunakan persamaan berikut ini:
Embed Size (px)
Recommended