Home >Documents >BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 URAIAN .untuk senyawa semi polar dan non polar. Derajat polaritas...

BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 URAIAN .untuk senyawa semi polar dan non polar. Derajat polaritas...

Date post:03-Mar-2019
Category:
View:233 times
Download:4 times
Share this document with a friend
Transcript:

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 URAIAN TANAMAN

2.1.1 Klasifikasi Tanaman (Steenis, 2008)

Regnum : Plantae

Divisi : Spermathophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledoneae

Ordo : Zingiberales

Famili : Zingiberaceae

Genus : Alpinia

Spesies : Alpinia galangal (L.)

2.1.2 Deskripsi Tanaman

Merupakan terna berumur panjang, tinggi sekitar 1-2 meter, bahkan dapat

mencapai 3,5 meter. Biasanya tumbuh dalam rumpun yang rapat. Umumnya

lengkuas ada dua macam, yaitu lengkuas merah dan lengkuas putih. Lengkuas

putih banyak digunakan sebagai rempah atau bumbu dapur, sedangkan yang

banyak digunakan sebagai obat adalah lengkuas merah. Pohon lengkuas putih

umumnya lebih tinggi dari pada lengkuas merah. Pohon lengkuas putih dapat

mencapai tinggi 3 meter, sedangkan pohon lengkuas merah umumnya hanya

sampai 1-1,5 meter. Berdasarkan ukuran rimpangnya, lengkuas juga dibedakan

menjadi dua varitas, yaitu yang berimpang besar dan kecil.

http://www.plantamor.com/index.php?plantsearch=Zingiberaceaehttp://www.plantamor.com/index.php?plantsearch=Alpinia

Rimpang lengkuas berukuran besar dan tebal, berdaging, berbentuk

silindris, diameter sekitar 2-4 cm, dan bercabang - cabang. Bagian luar berwarna

coklat agak kemerahan atau kuning kehijauan pucat, mempunyai sisik-sisik

berwarna putih atau kemerahan, keras mengkilap, sedangkan bagian dalamnya

berwarna putih. Daging rimpang yang sudah tua berserat kasar. Apabila

dikeringkan, rimpang berubah menjadi agak kehijauan, dan seratnya menjadi

keras dan liat. Untuk mendapatkan rimpang yang masih berserat halus, panen

harus dilakukan sebelum tanaman berumur lebih kurang 3 bulan. Rasanya tajam

pedas, menggigit, dan berbau harum karena kandungan minyak atsirinya.

Gambar. 1

Tanaman dan Rimpang Lengkuas (Alpinia galanga L.)

(Anonim, 2012)

Lengkuas mudah diperbanyak dengan potongan rimpang yang bermata

atau bertunas. Juga dapat diperbanyak dengan pemisahan anakannya, atau dengan

biji. Tanaman ini mudah dibudidayakan tanpa perawatan khusus (Steenis , 2008).

2.1.3 Kandungan Kimia dan Khasiat

Lengkuas merupakan tanaman obat yang dapat bermanfaat sebagai

antifungi, yang memiliki kandungan 1% minyak atsiri berwarna kuning kehijauan

yang terutama terdiri dari metil-sinamat 48 %, sineol 20% - 30%, eugenol, kamfer

1 %, seskuiterpen, -pinen, galangin, dan lain-lain (Erna, 2005).

Eugenol dan 1-asetoksi clavikol asetat (ACA) yang terdapat pada rimpang

lengkuas (Alpinia galanga) dikenal memiliki efek sebagai antijamur. Salah satu

efek obat dari eugenol adalah sebagai antiseptik lokal. Senyawa lain yang juga

memiliki efek sebagai antijamur Candida albicans adalah diterpene. Senyawa ini

berhasil diisolasi dari biji lengkuas (Alpinia galanga) dan diidentifikasi sebagai

(E)-8 beta, 17-epoxylabd-12-ene-15, 16-dial. Penelitian lebih lanjut menunjukkan

bahwa diterpene bekerja dengan cara mengubah lipid membran dari Candida

albicans yang berakibat pada perubahan permeabilitas membrannya. Pelaksanaan

skrining ekstrak rimpang lengkuas yang dibuat pada konsentrasi 10% (b/v)

menunjukkan aktivitas antimikroba terhadap Candida albicans (Silvana, 2006).

Selain itu rimpang juga mengandung resin yang disebut galangol, kristal

berwarna kuning yang disebut kaemferida dan galangin, kadinen,

heksabidrokadalen hidrat, kuersetin, amilum, beberapa senyawa flavonoid,

glikosida sterol dan lain-lain.

Menurut Harborne (1987), senyawa bioaktif dalam minyak atsiri dapat

berupa senyawa golongan terpenoid. Golongan ini diketahui sebagai penyusun 6

minyak atsiri yang utama pada tanaman. Terpenoid berasal dari molekul isoprena

(CH2=C(CH3)-CH=CH2) dan kerangka karbonnya dibangun oleh penyambungan

dua atau lebih satuan C5. Pemilahan senyawa golongan ini membagi terpenoid ke

dalam beberapa kelompok yaitu monoterpen (C10) dan seskuiterpen (C15) yang

mudah menguap, diterpen (C20) yang sukar menguap, sampai senyawa yang tidak

menguap yaitu triterpenoid (C30) dan sterol, serta pigmen karotenoid (C40).

Sebagian besar terpenoid alam memiliki struktur siklik dan memiliki satu gugus

fungsi atau lebih (hidroksil, karbonil).

Harborne (1987) selanjutnya mengemukakan bahwa komponen bioaktif

lain yang ditemukan pada tanaman adalah senyawa fenolik. Senyawa ini memiliki

cincin aromatik yang mengandung satu atau dua penyulih hidroksil. Beberapa

senyawa aktif lengkuas yang bersifat anti jamur adalah dari golongan fenolik.

Adapun beberapa senyawa tersebut antara lain adalah galangin, kaemferol, dan

kuersetin yang berasal dari golongan flavonol. Sedangkan eugenol merupakan

salah satu senyawa aktif lengkuas yang berasal dari golongan fenil propanoid.

Penelitian yang lebih intensif menemukan bahwa rimpang lengkuas

mengandung zat-zat yang dapat menghambat enzim xanthin oksidase sehingga

bersifat sebagai antitumor, yaitu trans-p-kumari diasetat, transkoniferil diasetat,

asetoksi chavikol asetat, asetoksi eugenol setat, dan 4-hidroksi benzaidehida. Juga

mengandung suatu senyawa diarilheptanoid yang dinamakan 1-(4-hidroksifenil)-

7-fenilheptan-3,5-diol.

Buah lengkuas mengandung asetoksichavikol asetat dan asetoksieugenol

asetat yang bersifat anti radang dan antitumor, juga mengandung kariofilen

oksida, kario- filenol, kuersetin-3-metil eter, isoramnetin, kaemferida, galangin,

galangin-3-metil eter, ramnositrin, dan 7-hidroksi-3,5-dimetoksiflavon

(Yuharmen, 2002).

Penelitian yang dilakukan oleh Morita dan Itokawa pada tahun 1988

menunjukan bahwa biji lengkuas mengandung senyawa-senyawa diterpen yang

bersifat sitotoksik dan antifungal, yaitu galanal A, galanal B, galanolakton, 12-

labdiena-15,16-dial, dan 17- epoksilabd-12-ena-15,16-dial (Erna, 2005).

2.2 METODE EKSTRAKSI MASERASI

Proses ekstraksi adalah penarikan atau penyarian zat-zat berkhasiat atau

zat-zat aktif yang diinginkan dari bahan tanaman obat, hewan dan beberapa jenis

ikan termasuk biota laut dengan menggunakan pelarut yang dipilih dimana zat

yang diinginkan akan larut (Ansel, 2008).

Zat-zat aktif terdapat di dalam sel, namun sel tanaman dan hewan berbeda,

demikian pula ketebalannya, sehingga diperlukan metode ektraksi dengan pelarut

tertentu dalam mengekstraksinya.

Tujuan ekstraksi adalah untuk menarik komponen kimia yang terdapat

pada bahan alam. Ekstraksi ini didasarkan pada prinsip perpindahan massa

komponen zat ke dalam pelarut, dimana perpindahan mulai terjadi pada lapisan

antar muka kemudian berdifusi masuk ke dalam pelarut.

Proses penyarian pada sel yang dindingnya masih utuh, zat aktif yang

terlarut pada cairan penyari untuk keluar dari sel, harus melewati dinding sel.

Peristiwa osmosis dan difusi berperan pada proses penyarian tersebut.

Pelarut organik Pelarut organik

+ Zat aktif

Gambar 2. Proses tersarinya zat aktif dalam tanaman

(Mustapa, 2012)

Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk kedalam rongga sel

yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan

konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka

larutan yang terpekat didesak ke luar. Peristiwa tersebut berulang sehinggga

terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel.

Ada beberapa metode yang dipakai untuk ekstraksi yaitu metode maserasi,

perkolasi, refluks dan soxhletasi. Penelitian yang dilakukan oleh Handjani dan

Purwoko (2008), metode ekstraksi yang digunakan untuk rimpang lengkuas

adalah metode maserasi, dengan menggunakan pelarut etanol 70%.

Pemilihan pelarut untuk proses ekstraksi tergantung dari komponen yang

akan diisolasi. Salah satu sifat yang penting adalah polaritas suatu senyawa. Suatu

senyawa polar diekstraksi dengan menggunakan pelarut polar, demikian pula

untuk senyawa semi polar dan non polar. Derajat polaritas tergantung pada

besarnya tetapan dielektrik, makin besar tetapan dielektrik makin polar pelarut

tersebut. Rangkaian proses ekstraksi meliputi persiapan bahan yang akan

diekstrak, kontak bahan dengan pelarut, pemisahan residu dengan filtrat dan

proses penghilangan pelarut dari ekstrak. Pemilihan proses ekstraksi juga

mempertimbangkan titik didih dari pelarut yang digunakan (Houghton dan

Raman, 1998).

Jokopriyambodo, dkk pada tahun 1999 menyatakan bahwa hasil ekstraksi

khususnya dari rimpang lengkuas dipengaruhi oleh jenis dan rasio pelarut, derajat

kehalusan simplisia serta teknik dan waktu ekstraksi. Ekstraksi dengan cara

perkolasi dan maserasi tidak menunjukkan perbedaan terhadap kadar ekstrak total

lengkuas sedangkan pelarut yang paling banyak menghasilkan ekstrak total adalah

pelarut etanol : air dengan perbandingan 7 : 3 v/v.

Maserasi adalah salah satu metode ekstraksi atau penyarian zat aktif bahan

alam yang dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan

penyari yang sesuai selama 3 hari pada temperatur kamar dan terlindung dari

cahaya. Cairan penyari akan masuk ke dalam sel mele

Embed Size (px)
Recommended