Home > Documents > BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang...

BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang...

Date post: 08-Mar-2019
Category:
Author: vuongcong
View: 215 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 21 /21
1 BAB I PENGANTAR A. Latar Belakang Masalah “Sedino-dino mung nangis gawene Sing leren-leren sampek alum matane. Yo mesesegen ilang suaranae Kesuwen nangis sampek nono iluhe. Kepingin seru ketemu, eman Nong kembang hang biso ngudang atine. Kadung urip nong endi sangkane Dung wes mati nong endi paesane. Arep sun kirim kembang hang wangi gandane Arep sun kirim gending nawi tah biso, nentremaken atine” 1 Syair di atas merupakan sebuah lagu Tetese Eluh karangan Catur Arum dan Yon’s Dd tahun 2003. Pada syair tersebut, pengarang berusaha menggambarkan kesedihan seseorang yang telah ditinggal pergi orang terdekat akibat pergolakan pada akhir tahun 1965 di Banyuwangi. 2 Pergolakan ini terjadi pasca peristiwa 1 Alih bahasa dalam Indonesia: Setiap hari hanya menangis, tidak berhenti hingga layu matanya. ya kasihan hilang suaranya, terlampau menangis hingga kering air matanya. Berharap sangat ingin bertemu, sayang, hanya bunga yang dapat menghibur hatinya. Jika masih hidup dimana alamatnya, jika sudah mati dimana pusaranya. Hendak ku kirim bunga yang semerbak wanginya. Akan kukirim nyayian, mungkin bisa menentramkan hatinya. Merupakan sebuah lagu lokal yang dikarang oleh Arum Candra dan Yon’s DD. Lagu dipopulerkan Patrol Orkestra Banyuwangi (POB) dengan menggabungkan unsur musik Kendang kempul, Patrol, Keroncong. https://www.youtube.com/watch?v=0IS5Cbo_Y7E 2 Dituturkan oleh bapak Suhalik, seorang pemerhati sejarah lokal Banyuwangi (wawancara: 10 Mei 2014, Perum Permata Giri Banyuwangi).
Transcript

1

BAB I

PENGANTAR

A. Latar Belakang Masalah

Sedino-dino mung nangis gawene Sing leren-leren sampek alum matane. Yo mesesegen ilang suaranae Kesuwen nangis sampek nono iluhe. Kepingin seru ketemu, eman Nong kembang hang biso ngudang atine. Kadung urip nong endi sangkane Dung wes mati nong endi paesane. Arep sun kirim kembang hang wangi gandane Arep sun kirim gending nawi tah biso, nentremaken atine1

Syair di atas merupakan sebuah lagu Tetese Eluh karangan

Catur Arum dan Yons Dd tahun 2003. Pada syair tersebut,

pengarang berusaha menggambarkan kesedihan seseorang yang

telah ditinggal pergi orang terdekat akibat pergolakan pada akhir

tahun 1965 di Banyuwangi.2 Pergolakan ini terjadi pasca peristiwa

1 Alih bahasa dalam Indonesia: Setiap hari hanya menangis,

tidak berhenti hingga layu matanya. ya kasihan hilang suaranya,

terlampau menangis hingga kering air matanya. Berharap sangat ingin bertemu, sayang, hanya bunga yang dapat menghibur hatinya. Jika masih hidup dimana alamatnya, jika sudah mati

dimana pusaranya. Hendak ku kirim bunga yang semerbak wanginya. Akan kukirim nyayian, mungkin bisa menentramkan

hatinya. Merupakan sebuah lagu lokal yang dikarang oleh Arum Candra dan Yons DD. Lagu dipopulerkan Patrol Orkestra Banyuwangi (POB) dengan menggabungkan unsur musik Kendang

kempul, Patrol, Keroncong. https://www.youtube.com/watch?v=0IS5Cbo_Y7E

2 Dituturkan oleh bapak Suhalik, seorang pemerhati sejarah

lokal Banyuwangi (wawancara: 10 Mei 2014, Perum Permata Giri

Banyuwangi).

https://www.youtube.com/watch?v=0IS5Cbo_Y7E

2

pembunuhan Perwira Angkatan Darat oleh kelompok yang

menamakan dirinya sebagai Gerakan 30 September.3

Setelah pergolakan berakhir, di Banyuwangi terjadi konversi

agama besar-besaran ke Hindu, hingga seorang pendeta Hindu

didatangkan dari Bali untuk melayani orang-orang Banyuwangi

yang pindah kepercayaan baru.4 Hal ini memberitahukan bahwa

salah satu dampak dari konflik peristiwa Gerakan 30 September,

menimbulkan rasa ketidakpuasan terhadap suatu kepercayaan.

Apa yang melatarbelakangi sebagian masyarakat Banyuwangi

tersebut perlu mendapat perhatian. Sebelum konflik Gerakan 30

September bergejolak, Banyuwangi didominasi oleh partai komunis

3 Setelah peristiwa Gerakan 30 September di Jakarta, terjadi

banyak pergolakan hingga pembantaian besar-besaran di Indonesia khususnya di Jawa. Lihat pada Robert Cribb, The Indonesia Killings: Pembantaian di Jawa dan Bali 1965-1966, (Jakarta: Mata Bangsa, 2004); John Roosa, Dahlil pembunuhan Massal, (Jakarta: Institut Sejarah Sosial Indonesia dan Hasta Mitra, 2008).

4 Pada sensus penduduk tahun 1971, terdapat peningkatan

pemeluk agama Hindu di Jawa Tengah, Jawa Timur dan Yogyakarta. Peningkatan pemeluk hindu hingga sebanyak 168.000 orang, yang terkonsentrasi di daerah-daerah tertentu, khususnya

Gunung Kidul, klaten, Boyolali, and Banyuwangi. M.C. Riklefs. Islamisation and its opponents in java c. 1930 to the present, (Singapore: NUS Press, 2012), hlm., 139; Andrew Beatty, Varieties of Javanese Religion, (UK: Cambridge University Press, 1999), hlm., 150.

3

Indonesia.5 Masyarakat yang plural6 serta pengaruh partai politik

saat itu, memunculkan dua kekuatan yang menonjol di

Banyuwangi, yaitu PKI dan NU. Persaingan antar kekuatan utama

di Banyuwangi itu sudah sangat terlihat sejak periode pendudukan

Belanda. PKI membunuh pemimpin-pemimpin NU sejak masa

pendudukan Belanda. Pembunuhan ini berdasar alasan bahwa

para pemimpin-pemimpin NU adalah mata-mata Belanda.7

Selanjutnya menjelang tahun 1960, persaingan dan

perselisihan kedua kekuatan ini tidak hilang karena perselisihan

diantara kelompok komunis dan non-komunis, merupakan

implementasi undang-undang pertanahan (UUPA) dan gerakan

anggota PKI ke dalam jabatan-jabatan resmi serta mobilisasi

massa.8 Persaingan juga terlihat pada pemilu tahun 1955, tetapi

5 Pengaruh PKI banyak tersebar di Kecamatan Glagah,

Singajuruh, Kabat, Ronggojami, Genteng, Pasanggaran, Cluring, Purwoharjo dan Glenmore. Sedangkan kecamatan Wongsorejo, Giri

dan Cluring mendapat pengaruh kuat NU, dan pengikut PNI umumnya terdiri dari pegawai negeri dan pejabat desa yang

menyebar di berbagai kecamatan. Dalam Robert Cribb, op. cit., hlm., 250.

6 Terdiri dari beberapa etnis dan kepercayaan, dari unsur

etnis dan kepercayaan membuat perbedaan golongan partai,

kebanyakan yang memeluk agama islam lebih condong ke NU sedangkan abangan lebih condong ke PKI. Arbit Sanit. Badai revolusi: sketsa kekuatan politik PKI di Jawa Tengah dan Jawa Timur (Yogyakarta: Putaka Pelajar, 2000). hlm., 175-178.

7 Robert Cribb, op. cit., hlm., 247. 8 Ibid.

4

tidak begitu terlihat secara signifikan. Puncak ketegangan antar

kekuatan di Banyuwangi meningkat pada bulan Oktober tahun

1965, bersamaan dengan isu politik Dewan Jendral atau Dewan

Revolusi akibat dari peristiwa Gerakan 30 September.9

Ketegangan yang meningkat di Banyuwangi berimbas

pecahnya pergolakan dalam masyarakat. Pergolakan yang terjadi

tahun 1965 menimbulkan beberapa rangkaian tindakan kekerasan

yang dilatarbelakangi konflik antar golongan, seperti insiden

Cemetuk dan Karangasem. Tindakan kekerasan ini dipicu antara

pemuda Ansor dan pemuda Marhanisme melawan simpatisan PKI.10

Di Banyuwangi, kasus-kasus kekerasan berkembang dari isu politik

di masyarakat. Pluralitas masyarakat Banyuwangi memberikan

nuansa kekerasan semakin memanas. Perbedaan agama, ras dan

etnis menjadi sebuah subtansi terjadinya gesekan, hingga tindak

kekerasan yang terjadi tahun 1965 di Banyuwangi berdampak

kepada keturunan dari korban maupun pelaku. Melihat tindakan

kekerasan tahun 1965 sampai menimbulkan dampak yang

9 Kekerasan massa terhadap pengikut PKI menjadi isu politik

nasional saat Dewan Jendral terbunuh dalam Gerakan 30

September. Isu politik nasional inilah yang membawa PKI di Banyuwangi dibekukan pada 16 Oktober 1965. Pembekuan PKI di Banyuwangi menyebabkan pecahnya konflik antar ras, suku,

bahkan agama. Surabaya Minggu, (minggu ke IV, september 1982); Robert Cribb, op. cit., hlm., 255.

10 H. Abdul Munim DZ, Benturan NU-PKI 1948-1965, (Depok:

Langgar Swadaya Nusantara, 2014), hlm., 18.

5

signifikan kepada masyarakat Banyuwangi, maka peristiwa

kekerasan yang berlangsung tahun 1965 di Banyuwangi begitu

penting untuk dikaji.

B. Rumusan Masalah dan Ruang Lingkup

Berdasarkan uraian di atas, pokok penelitian ini menjelaskan

bagaimana kekerasan arus bawah dapat memberikan dampak

secara personal maupun kultural dan mengapa kekerasan arus

bawah di Kalangan masyarakat Banyuwangi dapat terjadi.

Pembahasan akan difokuskan pada dua hal, pertama menganalisis

kekerasan yang melanda arus bawah Banyuwangi selama

pergolakan politik 1965 berlangsung. Kedua mengkaji warisan

kekerasan arus bawah yang membentuk stigma kiri di tengah-

tengah masyarakat Banyuwangi. Maka akan dikemukakan

beberapa permasalahan.

Permasalahan yang pertama, berkaitan dengan kondisi sosial

budaya Banyuwangi. Masyarakat Banyuwangi tergolong plural,

dihuni dari berbagai macam etnis dan budaya serta beragam

kepercayaan yang dianut. Sehubungan hal ini terdapat anggapan

bahwa masyarakat plural akan berpotensi terhadap konflik yang

berujung pada tindakan kekerasan,11 maka muncul pertanyaan

11 Kutut Suwondo, Civil Society: Di Atas Lokal, Perkembangan

Hubungan Antara Rakyat dan Negara di Pedesaan Jawa, (Salatiga: Pustaka Pelajar dan Pustaka Percik, 2003), hlm., 158-173.

6

yang mendasar, apakah Banyuwangi merupakan daerah rawan

konflik? Faktor apa yang mudah menyulut konflik di Banyuwangi?

apakah terdapat kaitan dengan pluralitas yang ada?

Permasalahan kedua, kekerasan langsung terjadi bersamaan

dengan perpecahan antar organisasi politik di Banyuwangi. Muncul

pertanyaan, mengapa tindakan kekerasan di Banyuwangi terjadi?

Momentum apa yang memicunya? Apakah kekerasan yang

berlatarbelakang konflik di Banyuwangi merupakan konflik

lanjutan dari sebelumnya atau baru terjadi? Bagaimana keterkaitan

kekerasan di Banyuwangi dengan politik masa itu? Selain politik,

alasan apa yang mendorong masyarakat melakukan tindakan

kekerasan? Kondisi sosial psikologi apa yang menyebabkan

tindakan kekerasan hingga meluas?

Sebuah tindakan akan memunculkan sebuah hasil, ini

merupakan korelasi umum mengenai sebab akibat. Begitu juga

halnya dengan kekerasan yang berlangsung pada pergolakan politik

1965, banyak warisan dalam masyarakat Banyuwangi yang hadir

secara lisan ataupun secara tertulis mengenai cerita masa itu.

Sebagai contohnya ialah lagu-lagu lokal Banyuwangi yang dianut

dari cerita masa lalu, diantaranya lagu Tetese Eluh. Karya seni

tersebut berupaya memunculkan kembali cerita kekerasaan 1965.

Sehubungan dengan permasalahan ketiga ini, maka muncul

pertanyaan seperti apa hasil dari kekerasan langsung di

7

Banyuwangi? Bagaimana wujudnya? Mengapa dapat menjadi

warisan? Bagaimana bentuk warisannya? Dan bagaimana dampak

yang dihasilkan terhadap masyarakat baik secara sosial maupun

psikologi?

Pergolakan politik 1965 sebagai cakupan waktu dalam studi

ini memiliki rentan waktu yang sempit dan sulit diartikan secara

tegas. Oleh sebab itu, pergolakan politik 1965 yang dimaksud

mencakup kurun waktu 1965-1966. Tahun 1965-1966 menjadi

pilihan waktu, karena kurun waktu tersebut banyak perubahan

besar dalam percaturan sosial budaya, politik, dan ekonomi bangsa

Indonesia, yang bukan saja mempengaruhi ragam dan dinamika

perpolitikan tetapi juga dorongan masyarakat untuk memberikan

respon terhadap situasi saat itu.

C. Tujuan dan Manfaat Penulisan

Penelitian ini memiliki empat tujuan penting. Pertama,

menggambarkan pola kekerasan arus bawah yang berlangsung

pada masyarakat Banyuwangi pasca Gerakan 30 September.

Kedua, mencari korelasi antara masyarakat arus bawah dengan elit

lokal pada kekerasan kolektif di Banyuwangi. Ketiga, menganalisis

kondisi yang mendasari individu melakukan perilaku agresif,

sehingga terjadi kekerasan yang bersifat jangka panjang. Keempat

menjelaskan secara psikologi tentang warisan kekerasan yang

terbentuk di tengah-tengah masyarakat Banyuwangi.

8

Adapun manfaat yang ingin dicapai dalam penelitian ini

adalah; pertama, penelitian ini diharapkan menjadi bahan

pembanding dengan penelitian terdahulu dan menjadi sumber

rujukan bagi penelitian-penelitian selanjutnya. Kedua, penelitian

ini dapat menjadi tambahan kasanah dalam memandang kekerasan

pada masa pergolakan 1965 pasca Gerakan 30 September.

D. Tinjauan Pustaka

Sehubungan dengan penelitian ini, pembahasan tentang

kekerasan yang berlangsung di dalam masyarakat Banyuwangi

pada tahun 1965. Oleh sebab itu, diperlukan beberapa karya tulis

yang terkait dengan penelitian sebagai perbandingan dan tinjauan,

diantaranya adalah Robert Cribb, Pembantaian PKI di Jawa dan

Bali 1965-1966, menjelaskan peristiwa-peristiwa penting yang

terjadi di Jawa dan Bali, serta pengaruh-pengaruh lokal dan

nasional dalam aksi kekerasan tahun 1965 1966.12 Robert Cribb

memetakan kembali arti penting pembantaian yang terjadi tahun

1965-1966. Dalam karya Robert Cribb mengulas tetang kekerasan

kolektif yang terjadi di Banyuwangi. Cribb menjelaskan adanya dua

kubu kekuatan yang sangat berpengaruh di Banyuwangi. Insiden

gerakan 30 september menjadi ujung konflik antar dua kubu besar

yang ada di Banyuwangi. Beberapa insiden di Banyuwangi, seperti

12 Robert Cribb, loc. cit.

9

insiden Cemetuk dan Karangasem diulas dalam karya Cribb ini.

Karya Robert Cribb ini dianggap membantu dalam menyusun

penelitian ini.

Selain Robert Cribb terdapat Hermawan Sulistyo, Palu Arit di

Ladang Tebu: Sejarah Pembantaian Massal yang terlupakan

(Jombang-Kediri 1965-1966) menjelaskan pembunuhan massal

anggota dan simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI) pada tahun

1965 1966 merupakan salah satu terbesar di dunia dan faktor-

faktor yang berperan terhadap terjadinya pembantaian.13

Hermawan Sulistyo memusatkan penelitiannya pada Kediri dan

Jombang. Meskipun dalam karya Hermawan Sulistyo tidak banyak

memaparkan konfik yang terjadi di Banyuwangi, namun karya ini

dapat menjadi pembanding pada pola kekerasan yang terjadi dan

meluas di Jawa Timur.

Selanjutnya Laporan tentang Studi Mengenai Keresahan

Pedesaan pada tahun 1960-an. Laporan yang diterbitkan oleh

Yayasan Pancasila Sakti merupakan kumpulan dari studi

keresahan pedesaan, terdiri dari Bali, Klaten, dan Banyuwangi.14

Laporan ini dapat dijadikan acuan karena memberikan gambaran

13 Hermawan Sulistyo, Palu Arit di Ladang Tebu: Sejarah

Pembantaian Massal yang terlupakan (Jombang-Kediri 1965-1966), (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2000).

14 Laporan tentang Studi Mengenai Keresahan Pedesaan

pada tahun 1960-an, (Jakarta: Yayasan Pancasila Sakti,1982).

10

secara detail keresahan yang sedang berlangsung dalam

masyarakat Banyuwangi. Meskipun dalam laporan tersebut

terdapat gaya bahasa yang memihak salah satu kelompok, tetapi

laporan ini dapat dijadikan tolok ukur sebagai hasil wawancara.

Berikutnya ialah karya mahasiswa Universitas Negeri

Jember, Firman Samsyudin, Peristiwa Cemetuk Tahun 196515 dan

Priya Purnama, Konflik Berdarah di Desa Karangasem Kecamatan

Gambiran Kabupaten Banyuwangi (18 Oktober 1965).16 Kedua

karya ini merupakan dua hal yang berbeda tetapi keduanya

merupakan karya yang berkaitan, karena antara peristiwa

Karangasem dan Cemetuk berlangsung secara bersamaan. Secara

geografis Karangasem dan Cemetuk pun bersebelahan, tidak

mengherankan apabila konflik yang terjadi saling berkaitan. Dari

kedua karya tersebut dapat diambil keterkaitan kekerasan yang

berlangsung diruang lingkup pedesaan Banyuwangi, hal ini karena

keduanya terfokus terhadap konflik yang berlangsung di

Karangasem dan Cemetuk. Keduanya saling menjelaskan secara

detail bagaimana konflik yang berlangsung di desa tersebut.

Walaupun kedua karya tersebut tidak secara langsung berbicara

15 Firman Samsyudin, Peristiwa Cemetuk Tahun 1965

(Universitas Negeri Jember, 2009).

16 Priya Purnama, Konflik Berdarah di Desa Karangasem

Kecamatan Gambiran Kabupaten Banyuwangi (18 Oktober 1965),

(Universitas Negeri Jember, 2012).

11

tentang kekerasan, keduanya dapat membantu peneliti untuk

menemukan orang-orang yang dapat berbagi pengalaman hidup

selama berlangsungnya pergolakan 1965 di Banyuwangi.

Ada juga karya Andrew Beatty, Varieties of Javanese Religion.

Karya Beatty ini dianggap sangat membantu penelitian, karena

kajian utama penelitiannya berada di Banyuwangi.17 Beatty

menghadirkan kehidupan sosial budaya masyarakat Banyuwangi.

Selebihnya Beatty juga membahas tentang ingatan masyarakat

Banyuwangi mengenai pahitnya pengalaman dalam pergolakan

1965, sehingga karyanya banyak mengulas tentang dampak

kekerasan 1965 yang mempengaruhi pola kehidupan masyarakat

Banyuwangi secara kultural. Selain karya-karya di atas masih

banyak karya yang membahas seputar kekerasan dalam pergolakan

1965, namun karya-karya yang lain tidak secara khusus membahas

persoalan yang berkaitan langsung dengan penelitian ini.

E. Kerangka Konseptual dan Pendekatan

Penganut strukturalis memandang pergolakan memiliki

unsur konflik dan kekerasan. Sehubungan dengan hal tersebut

penelitian ini akan terfokus pada penjelasan kekerasan, namun

rentetan peristiwa yang diteliti merupakan bagian dari konflik.

Maka penelitian ini akan melihat kekerasan dengan konflik sebagai

17 Andrew Beatty, loc. cit.

12

latar belakangnya. Menurut Marx, konflik dalam sejarah dan

masyarakat kontemporer adalah akibat dari benturan kepentingan

kelompok-kelompok sosial.18 Untuk mencapai kepentingan ini,

tidak sedikit kelompok sosial menggunakan kekerasan. Hal ini

serupa dengan pendapat Hobes, bahwa kelompok sosial ataupun

organisasi sosial mengarahkan dan menentukan tindakan apa saja

yang paling tepat untuk mereka, termasuk kapan kekerasan

dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan.19

Bagi Dahrendorf, konflik kekerasan lebih merupakan bentuk

manifestasi konflik daripada sebagai sebab akibat, hal ini

merupakan masalah senjata yang dipilih pihak berkonflik untuk

mengekspresikan permusuhan mereka.20 Dengan kata lain,

terdapat kelompok-kelompok yang berkuasa atau disebut sebagai

golongan elit telah memainkan peranan dalam terciptanya

kekerasan arus bawah.21

18 Seperti yang dikutip dalam Novri Susan, Pengantar

Sosiologi Konflik dan Isu-Isu Konflik Kontemporer, (Jakarta: Kencana, 2010), hlm., 39.

19 Ibid., hlm., 116. 20 Seperti yang dikutip dalam Novri Susan, ibid., hlm, 116. 21 Arus bawah yang dimaksud dalam penelitian ini ialah

menunjuk pada praktek dan diskursus masyarakat kelas bawah

non-elit. Istilah arus bawah sudah pernah digunakan dalam karya Bagong Suyanto. pada karyanya yang berjudul "Gejolak Arus Bawah", mengumpamakan istilah arus bawah sebagai kelompok-

kelompok sosial yang tidak memiliki kekuasaan secara formal

13

Kekerasan di Banyuwangi merupakan sebuah kekerasan

yang terjadi di Kalangan masyarakat dimana dalam penelitian ini

disebut dengan arus bawah. Kekerasan terjadi setelah gagalnya

upaya PKI melakukan kudeta atau yang lebih dikenal dengan

Gerakan 30 September. Beberapa pandangan berupaya

memaparkan keadaan yang memicu kuatnya perilaku agresif

masyarakat dalam tindakan kekerasan 1965. Menurut Arnold

Brackman, pada saat kekerasan 1965 masyarakat Indonesia

mengalami keadaan amok. Amok dilihat sebagai bentuk reaksi

spontan atas keterlibatan PKI dalam Gerakan 30 September.

Banyak tindakan kekerasan terhadap simpatisan komunis maupun

non-komunis yang dilatarbelakangi unsur balas dendam.22 Berbeda

dengan pandangan Hermawan Sulistiyo. Sulistiyo menganggap

amok kurang memiliki dasar pada tindakan kekerasaan 1965. Hal

ini karena tindakan kekerasan tidak dilakukan oleh individu dalam

kondisi mental yang berubah. Dari sudut pandang psikologis, tiap

individu yang terkait tindakan kekerasan 1965 telah

mempersiapkan kondisi mental dalam kurun waktu yang cukup

dalam sistem politik, atau lebih dikenal dengan golongan

masyarakat kalangan bawah non-elit (underdog). Lihat pada Bagong Suyanto (dkk), Gejolak Arus Bawah, (Jakarta: Pustaka utama grafity. 1994), hlm., X.

22 Arnold C. Brackman, the Communist Collapse in Indonesia,

(New York: Praeger, 1963), hlm., 12.

14

lama, dengan kata lain bukan merupakan semburan dan ledakan

yang tiba-tiba.23 Robert Cribb hampir sependapat dengan

Hermawan Sulistiyo. Menurutnya gagasan amok pada tindakan

kekerasan 1965 tidak sesuai dengan sudut pandang psikologis yang

dikenal saat ini. Cribb memandang tindakan kekerasan 1965

sebagai upaya menyelamatkan kehormatan.24

Ketiga pendapat tersebut, antara Brackman, Sulistiyo dan

Cribb terdapat pertentangan dalam cara pandang masing-masing.

Dari sudut pandang psikologi, Sulistiyo dan Cribb menganggap

kekerasan 1965 bukanlah sebuah spontanitas atau ledakan secara

tiba-tiba. Cribb menganggap amok tidak sesuai dengan sudut

pandang psikologis yang dikenal saat ini. Maka dari itu, penelitian

ini akan menggunakan pendekatan sosio-psikologis untuk

mendapati keadaan seperti apa yang dialami oleh masyarakat

Banyuwangi. Hal ini dilakukan untuk mengetahui dasar

keterkaitan antar individu yang terorganisir untuk melakukan dan

membenarkan diri dalam tindakan kekerasan. Pendekatan sosio-

psikologis yang digunakan dikhususkan pada tingkah laku

(behavioristik).

23 Hermawan Sulistyo, op. cit., hlm., 234. 24 Robert Cribb, op. cit., hlm., 29-33.

15

Pada umumnya kekerasan muncul dari situasi konkrit yang

sebelumnya didahului oleh gagasan, nilai, tujuan dan masalah

bersama dalam periode waktu yang lama.25 Tetapi, bagaimana

kebersamaan dalam situasi konkrit ini dapat terbentuk pada suatu

kelompok masyarakat menjadi persoalan sampai saat ini. Seperti

halnya, Miller Skiner yang berpendapat bahwa prilaku individu

dipengaruhi adanya stimulus. Selanjutnya, individu tersebut yang

akan merespon stimulus. Stimulus dapat muncul terhadap

manusia karena faktor lingkungan, dengan kata lain lingkungan

berperan penuh terhadap perilaku manusia.26

Stimulus ini dapat berupa isu maupun bentuk keresahan

yang muncul ditengah-tengah masyarakat, dimana hal ini dapat

merangsang masyarakat dalam tindakan kekerasan secara

berkelompok. Tindakan kekerasan semakin menjadi mana kala

terdapat sebuah individu yang menonjol yang dapat menanamkan

sebuah nilai penguatan dalam suatu kelompok masyarakat, namun

bagaimana masyarakat akhirnya dapat berprilaku sama dalam

kelompok. Dalam pandangan sosio-psikologis terdapat faktor yang

dapat mendorong individu-individu untuk berprilaku yang sama

25 Jack D. Douglas and Frances Chaput Waksler,

Kekerasan, dalam Thomas Santoso, Teori-Teori Kekerasan, (Jakarta; Galia Indonesia, 2002), hlm., 15.

26 Seperti yang dikutip Calvin S. Hall (et.al), Teori-Teori Sifat

dan Behavioristik, (Yogyakarta: Kanisius, 2003), hlm., 204.

16

dan menjadi kelompok, yaitu faktor konformitas dan kepatuhan

(obedience).

Konformitas dipahami sebagai suatu bentuk pengaruh sosial

dimana individu mengubah sikap dan tingkah lakunya agar sesuai

dengan norma sosial yang ada.27 Dengan kata lain agar individu

dapat membaur dengan lingkungannya, maka tindak penyesuaian

terhadap individu lain perlu dilakukan atau bisa juga aturan yang

berlaku dilingkungan sekitarnya. Sedangkan, kepatuhan lebih

bersifat kultural dimana dalam suatu masyarakat sudah tidak asing

adanya nilai kepatuhan terhadap orang yang memiliki strata sosial

diatasnya, baik secara materi maupun ilmu.28 Oleh karenanya,

manusia cenderung untuk mematuhi perintah yang memiliki strata

sosial tinggi.

Perilaku individu atau kelompok dalam tindakan kekerasan

akan menghasilkan suatu keadaan terhadap individu-individu yang

terkait kekerasan. Untuk memahaminya diperlukan sebuah

pengertian konsep kekerasan, maka penelitian ini memerlukan

konsep kekerasan Galtung, yaitu kekerasan langsung dan

struktural. Hal ini bertujuan untuk dapat melihat kekerasan dan

27 Robert A. Baron (dkk), Psikologi Sosial Jilid 2, (Jakarta:

Erlangga, 2005), hlm., 62.

28 Sarlito W. Sarwono (dkk), Psikologi Sosial, (Jakarta:

Salemba Humanika, 2009), hlm., 116.

17

dampak yang terjadi ditengah-tengah Kalangan masyarakat

Banyuwangi.

Kekerasan langsung merujuk pada tindakan yang menyerang

fisik atau psikologis seseorang secara langsung.29 Kekerasan

langsung dapat dilihat sebagai bentuk kasus kerusuhan yang

menyebabkan individu maupun kelompok mengalami luka-luka

atau kematian akibat serangan individu atau kelompok lain, serta

ancaman atau teror dari suatu kelompok yang menyebabkan

ketakutan dan trauma psikis.30 Sedangkan kekerasan struktural

dipahami sebagai ketidakadilan yang tercipta dari suatu sistem

yang menyebabkan individu atau suatu kelompok tidak mampu

memenuhi kebutuhan dasarnya, dapat ditunjukkan dengan rasa

tidak aman karena tekanan-tekanan lembaga yang dilandasi

kebijakan politik, diantaranya intimidasi.31

Antara kekerasan langsung dan struktural memiliki

keterkaitan secara erat dan tidak terpisahkan. Kedua kekerasan

tersebut menghasilkan suatu keadaan yang mana individu ataupun

kelompok mengalami kematian, kesengsaraan, alienasi, dan

29 Jamil Salmi, Violence and Democratic Society:

Hooliganisme dan Masyarakat Demokrasi, (Yogyakarta: Pilar Media, 2005), hlm., 35.

30 Novri Susan, op. cit., hlm., 121. 31 Ibid., hlm., 119.

18

represi.32 Pengalaman keadaan tersebut merupakan dampak yang

dihasilkan dari sebuah tindakan kekerasan.

F. Metode dan Sumber Penulisan

Penelitian ini menggunakan metode sejarah, yang memiliki

empat langkah dalam penulisannya. Pertama, heuristik yang

merupakan pengumpulan sumber. Kedua, kritik sumber untuk

memverifikasi kebenaran dan validitas sumber maupun

subtansinya. Ketiga, interpretasi sumber, dan keempat adalah

historiografi yang merupakan proses penulisan sejarah.33

Mengingat penelitian ini bersifat kontemporer, maka sumber

yang digunakan selain sumber tertulis juga menggunakan sumber

lisan yang diperoleh dari wawancara dengan saksi sejarah dan

pelaku sejarah. Dalam sejarah lisan para informan tidak akan

hanya menceritakan kembali masa lalu, tetapi juga membuat

penilaian atau interpretasi sendiri terhadap masa lalu tersebut.34

32 Johan Galtung, Kekerasan Budaya dalam Thomas

Santoso, op. cit., hlm., 184. Represi adalah perasaan yang menyebabkan kecemasan diasingkan atau diingkari aksesenya ke arah kesadaran, kesadaran dalam hal ini adalah ruang publik

sebagai masyarakat bebas. 33 Kuntowidjoyo, Pengantar Ilmu Sejarah, (Yogyakarta:

Bentang Budaya, 1995), hlm., 89. 34 Bambang Purwanto, Sejarah Lisan dan Upaya Mencari

Format Baru Historiografi Indonesiasentris, dalam buku Sartono Kartodirdjo dkk., Dari Samudra Pasai ke Yogyakarta: persembahan kepada Teuku Ibrahim Alfian (Jakarta: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia. 2002), hlm., 152.

19

Pencarian sumber lisan dilakukan dengan menggunakan

pendekatan wawancara mendalam (in-deep interview). Wawancara

mendalam merupakan proses memperoleh keterangan untuk

tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka

antara pewawancara dengan informan, dan dengan atau tanpa

menggunakan pedoman yang mana pewawancara dan informan

terlibat dalam peristiwa seputar penelitian.35 Penggunaan

wawancara dengan in-deep interview dapat menggali kembali

ingatan masa lalu masyarakat Banyuwangi dalam kurun waktu

1964-1966.

Beberapa sumber juga didapatkan dari terbitan berkala

dengan kurun waktu 1964-1966, diantaranya Kompas, Nieuwe

Rotterdamsche Courant, De Tribune, dan Nieuwsblad Van Het

Noorden. Namun karena kurangnya perawatan arsip, maka sumber

dari terbitan berkala tahun 1964-1966 hanya mendapatkan

sebagian. Refrensi lain yang digunakan untuk sumber sekunder

penulisan berupa literatur dan kajian akademis yang telah

digunakan sebelumnya oleh peneliti lain, diantaranya Peringatan

perkembangan Republik Indonesia; propinsi jawa timur tahun

1953, Laporan tentang Studi Mengenai Keresahan Pedesaan pada

35 H.B. Sutopo. Konsep-Konsep Dasar Penelitian Kualitatif,

(Surakarta: UNS Press, 2006), hlm., 72.

20

tahun 1960-an tahun 1982, dan laporan penelitian pemuda rakyat

tahun 1965.

Kritik sumber yang dilakukan melalui perbandingan antara

hasil wawancara dan koran-koran sezaman, hal ini agar terdapat

kecocokan antar sumber. Perbandingan secara terperinci

dikhususkan pada hasil wawancara agar terhindar dari

subjektivitas informan dan sebagai validitas informasi yang

diberikan oleh informan. Interpretasi sumber dilakukan hampir

sama dengan kritik sumber, yaitu melalui perbandingan dengan

literatur yang didapat. Selanjutnya historiografi akan terformat

dalam sistematika penulisan.

G. Sistematika Penulisan

Setelah bab pengantar, penulisan tesis ini akan dilanjutkan

pada bab II dengan menguraikan tentang kondisi kehidupan

masyarakat Banyuwangi yang terpolarisasi dalam beberapa

kelompok dan tersusun dari berbagai element masyarakat. Bab ini

hendak memaparkan komposisi masyarakat Banyuwangi mulai

dari kehidupan sosial hingga politiknya. Perbedaan dalam

kehidupan masyarakat Banyuwangi dapat menggambarkan hal-hal

yang berpontensi sebagai awal gesekan antar kelompok masyarakat

dan memunculkan kekerasan.

Pada Bab III menguraikan tentang flash back pertarungan

sebelum tahun 1965 dan pertarungan politik meliputi PKI, PNI,

21

Nahdlatul Ulama. Selain itu dijelaskan juga mengenai gesekan-

gesekan yang ada pada masyarakat Banyuwangi berupa perebutan

kekuasaan tingkat daerah hingga pada rumor yang menciptakan

ketegangan antar masyarakat. Bab ini juga akan memaparkan

bagaimana masyarakat Banyuwangi dapat terorganisir dan

membentuk pola-pola baru dalam tatanan yang baru untuk

mendorong terjadinya kekerasan langsung. Selanjutnya pada bab

IV, akan diuraikan upaya legitimasi dan intimidasi setelah

pergolakan 1965, yang mana legitimasi dan intimidasi tersebut

merupakan bagian dari kekerasan struktural. Warisan kekerasan

dapat berupa stigmatisasi yang melekat pada suatu kelompok.

Maka pada bab ini akan menganalisis aspek-aspek yang

mengkonstruk masyarakat Banyuwangi dalam membangun dan

memperkuat warisan tersebut hingga sekarang. Sebagai penutup,

bab V akan memaparkan jawaban dari permasalahan dan realisasi

tujuan penelitian.

BAB I PENGANTARA. Latar Belakang MasalahB. Rumusan Masalah dan Ruang LingkupC. Tujuan dan Manfaat PenulisanD. Tinjauan PustakaE. Kerangka Konseptual dan PendekatanF. Metode dan Sumber PenulisanG. Sistematika Penulisan


Recommended