Home >Documents >BAB I PENDAHULUAN · PDF file Visi Visi misi Kementerian Kesehatan mengikuti visi misi...

BAB I PENDAHULUAN · PDF file Visi Visi misi Kementerian Kesehatan mengikuti visi misi...

Date post:07-Nov-2020
Category:
View:13 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

    Kementrian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) merupakan jajaran

    pemerintah yang membidangi urusan kesehatan. Saat ini Kemenkes berada di

    bawah pimpinan dr. Terawan Agus Putranto sebagai menteri kesehatan.

    Gambar 1.1 Logo Kemenkes RI

    Sumber: kemenkes.go.id

    Visi

    Visi misi Kementerian Kesehatan mengikuti visi misi Presiden Republik

    Indonesia yaitu Terwujudnya Indonesia yang Berdaulat, Mandiri dan

    Berkepribadian Berlandaskan Gotong-royong. Visi tersebut diwujudkan dengan 7

    (tujuh) misi pembangunan yaitu:

    1. Terwujudnya keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah,

    menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim

    dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

    2. Mewujudkan masyarakat maju, berkesinambungan dan demokratis

    berlandaskan negara hukum.

    3. Mewujudkan politik luar negeri bebas dan aktif serta memperkuat jati diri

    sebagai negara maritim.

    4. Mewujudkan kualitas hidup manusia lndonesia yang tinggi, maju dan sejahtera.

    5. Mewujudkan bangsa yang berdaya saing.

  • 2

    6. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat dan

    berbasiskan kepentingan nasional, serta

    7. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan.

    Dengan lokasi kantor di Jl. HR. Rasuna Said Blok X5 Kav. 4-9, Jakarta Selatan,

    dalam bekerja, Kemenkes RI dipimpin oleh seorang Menteri Kesehatan dengan

    didampingi oleh beberapa staf ahli. Adapun struktur organisasi Kemenkes RI

    adalah sebagai berikut.

    Pada penelitian ini dibahas salah satu produk dari Kemenkes RI, yaitu iklan

    televisi Cegah Stunting Itu Penting. Iklan televisi ini merupakan perwujudan salah

    tugas dari Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat, yaitu pemberdayaan

    masyarakat dan promosi masyarakat. Adapun tugas ini lebih spesifiknya

    dilaksanakan oleh Direktorat Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat.

    Gambar 1.2 Iklan Layanan Masyarakat Pencegahan Stunting

    Sumber: promkes.kemkes.go.id

  • 3

    Iklan layanan masyarakat ini merupakan salah satu bentuk realisasi dari upaya

    penanggulangan stunting di Indonesia. Iklan yang dibahas pada penelitian ini

    adalah iklan yang ditayangkan pada tahun 2019 mulai bulan Mei. Dengan durasi 30

    detik, iklan ini berisi informasi mengenai hal-hal yang dapat dilakukan sebagai

    upaya pencegahan stunting, seperti pemeriksaan rutin ke Puskesmas, pemberian

    makanan dengan gizi seimbang secara teratur, serta sanitasi.

    Gambar 1.3 Iklan Layanan Masyarakat Cegah Stunting Itu Penting

    Sumber: data peneliti

    Objek penelitian, menurut Sugiyono (2013:38), merupakan atribut atau nilai

    dari seseorang, kegiatan, atau objek yang memiliki suatu variasi yang diteliti,

    dipelajari, kemudian ditarik kesimpulannya. Dengan kata lain objek penelitian

    merupakan pusat perhatian atau masalah dari penelitian. Adapun objek penelitian

    pada penelitian ini antara lain: (1) daya tarik pesan, (2) kualitas pesan, serta (3)

    frekuensi penayangan iklan layanan masyarakat Cegah Stunting Itu Penting, dan

    (4) sikap khalayak.

  • 4

    1.2 Latar Belakang Masalah

    Sebagai negara berkembang tentunya Indonesia menghadapi beberapa masalah

    dan tantangan, salah satunya di bidang kesehatan. Masalah kesehatan telah menjadi

    perhatian pemerintah sejak dulu. Banyak hal yang memicu kemunculan masalah

    kesehatan, mulai dari sulitnya akses terhadap tenaga dan fasilitas medis, hingga

    yang paling umum yaitu sanitasi.

    Mengutip PBB, 2,5 miliar orang di dunia masih hidup dengan sanitasi yang

    buruk. Indonesia merupakan salah satu negara dengan kasus sanitasi

    terbanyak(diambil dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-2202429/10-

    negara-dengan-sanitasi-terburuk-di-dunia-indonesia-peringkat-2, diakses 25

    Agustus 2019, 19:52 WIB). Padahal sanitasi atau kebersihan menjadi salah satu hal

    paling mendasar dalam hidup sehat.

    Untuk menjadi negara maju tentunya dibutuhkan bangsa yang berkualitas. Anak-

    anak, khususnya, diharapkan dapat menjadi generasi penerus bangsa untuk

    membangun Indonesia. Namun pada kenyataannya, tugas ini terhambat karena

    masalah kesehatan yang mengganggu tumbuh kembang anak dan menghalangi

    potensi mereka.

    Peraturan Presiden Nomor 72 Tahun 2012 tentang Sistem Kesehatan Nasional

    menjelaskan penelitian dan pengembangan kesehatan merupakan salah satu

    komponen penting dalam program pembangunan nasional. Pada rapat Kerja

    Nasional (Rakernas) yang diadakan oleh Badan Litbangkes, Menteri Kesehatan,

    Nila Moeloek, menyampaikan ada lima isu utama yang dijadikan prioritas dalam

    pembangunan kesehatan selama 5 tahun kedepan (2020-2024). Kelima isu tersebut

    adalah angka kematian ibu (AKI)/ angka kematian neonatal (AKN) yang tinggi,

    stunting, tuberkulosis (TBC), penyakit tidak menular (PTM) serta cakupan

    imunisasi dasar lengkap. Riskesdas menyatakan meningkatnya PTM memerlukan

    strategi penanganan dan pengendalian khusus. Di antara kelima isu tersebut,

    stunting sebagai salah satu PTM menjadi perhatian Kementerian Kesehatan

    (diambil dari https://www.kemkes.go.id/article/view/19031100002/lima-isu-

    prioritas-tantangan-balitbangkes-5-tahun-ke-depan.html, diakses 25 Agustus 2019,

    22:04 WIB)

  • 5

    Stunting adalah salah satu masalah gizi yang dialami balita di dunia. Pada tahun

    2017, stunting dialami oleh sebanyak 22,2% atau sekitar 150,8 juta balita di dunia.

    Akan tetapi, seperti yang nampak pada grafik, jumlah balita penderita stunting

    mengalami penurunan.

    Gambar 1.4 Grafik Prevalensi Balita Pendek di Dunia 2000-2017

    Sumber: Buletin Stunting 2018

    Pada tahun 2017, sebanyak 55% balita penderita stunting di seluruh dunia

    berasal dari Asia. Dari persentasi tersebut proporsi terbanyak berasal dari Asia

    Selatan, yaitu sebanyak 58,7%, sementara Asia Tenggara di urutan kedua dengan

    proporsi sebanyak 14,9%. Dari data tersebut, Indonesia merupakan negara ketiga

    dengan prevalensi tertinggi di regional Asia Tenggara. Rata-rata prevalensi balita

    stunting di Indonesia tahun 2005-2017 adalah 36,4%.

    Gambar 1.5 Rata-rata Prevalensi Balita Pendek di Regional Asia Tenggara Tahun 2005-

    2017

    Sumber: Buletin Stunting 2018

    0 10 20 30 40 50 60

    Thailand

    Myanmar

    Indonesia

    Timor Leste

    Prevalensi Stunting di Asia Tenggara 2005-2017

    Angka dalam persen (%)

  • 6

    Stunting atau kerdil/pendek telah menjadi masalah gizi utama di Indonesia.

    Stunting merupakan kondisi bayi pada rentang usia 0-11 bulan dan balita pada

    rentang usia 12-59 bulan yang gagal tumbuh. Hal ini disebabkan terjadinya

    kekurangan gizi kronis, khususnya selama 1000 hari pertama kehidupan anak.

    Kekurangan gizi terjadi setelah bayi lahir dan dari kandungan yang kurang sehat

    maka akan terlihat perbedaannya setelah anak berusia 2 tahun. Balita/anak dengan

    stunting memiliki tinggi badan yang jauh lebih pendek dibandingkan anak

    seusianya dan menyebabkan perbedaan yang signifikan dengan anak seusianya.

    Data Pemantauan Status Gizi (PSG) tahun 2015-2017 menunjukkan masalah

    anak pendek terjadi lebih banyak dibandingkan dengan masalah gizi lainnya seperti

    genuk, kurus, serta kurang gizi. Prevalensi balita pendek sempat mengalami

    penurunan dari tahun 2015 ke tahun 2016, yaitu dari 29% menjadi 27,5%. Angka

    prevalensi menunjukkan jumlah balita penderita stunting dibanding jumlah balita

    secara keseluruhan dalam suatu daerah. Namun kemudian mengalami peningkatan

    kembali di tahun 2017 menjadi 29,6% yang bahkan lebih tinggi lagi dari tahun 2016

    (diambil dari

    https://www.kemkes.go.id/resources/download/pusdatin/buletin/Buletin-Stunting-

    2018.pdf, diakses 25 Agustus 2019, 15:47 WIB).

    Gambar 1.6 Grafik Masalah Gizi di Indonesia Tahun 2015-2017

    Sumber: Buletin Stunting 2018

  • 7

    Hasil Riskesdas tahun 2007 menyatakan persentase balita pendek di Indonesia

    sebesar 36,8%. Kemudian mengalami penurunan di tahun 2010 menjadi 35,6%

    namun kemudian mengalami kenaikan kembali di tahun 2013 menjadi 37,2%

    Gambar 1.7 Grafik Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2007-2013

    Sumber: Buletin Stunting 2018

    Kemudian pada tahun 2015, persentase balita pendek di Indonesia berada pda

    angka 29%. Pada tahun 2016 angka ini menurun menjadi 27,5% dan meningkat

    kembali di 2017 menjadi 29,6%.

    Gambar 1.8 Grafik Prevalensi Balita Pendek di Indonesia Tahun 2015-2017

    Sumber: Buletin Stunting 2018

    Berdasarkan Riskesdas tahun 2018 terjadi penurunan jumlah balita stunting dari

    sebelumnya 37,2% pada tahun 2013 menjadi 30,8%. Namun WHO menetapkan

    angka rekomendasi untuk kasus ini sebesar 20% atau seperlima jumlah balita, yang

    mana berarti kasus di Indonesia masih di atas angka rekomendasi tersebut. Dengan

    ini, Atas hal ini, WHO menetapkan Indonesia sebagai negara dengan status gizi

    buruk. (diambil dari