Home >Documents >BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - UMPO

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA - UMPO

Date post:12-Nov-2021
Category:
View:0 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
Keluarga adalah dua orang atau lebih yang disatukan oleh ikatan-ikatan
kebersamaan dan ikatan emosional dan mengidentifikasian diri mereka
sebagai bagian dari keluarga (Zakaria, 2017). Sedangkan menurut Depkes
RI tahun 2000, keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri
dari kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di
suatu tempat di bawah satu atap dalam keadaan saling kebergantungan.
Duval dan Logan (1986 dalam Zakaria, 2017)mengatakan keluarga adalah
sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran dan adopsi yang
bertujuan menciptakan, mempertahankan budaya dan meningkatkan
pertumbuhan fisik, mental, emosional serta sosial dari tiap anggota
keluarganya.Dari hasil analisa Walls, 1986 (dalam Zakaria, 2017) keluarga
sebagai unit yang perlu dirawat, boleh jadi tidak diikat oleh hubungan
darah atau hukum, tetapi berfungsi sedemikian rupa sehingga mereka
menganggap diri mereka sebagai suatu keluarga.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa keluarga adalah dua orang atau lebih
yang disatukan oleh ikatan perkawinan, kelahiran, adopsi dan boleh jadi
tidak diikat oleh hubungan darah dan hukum yang tinggal di suatu tempat
di bawah satu atap dengan keadaan saling ketergantungan dan memiliki
kedekatan emosional yang memiliki tujuan mempertahankan budaya,
7
menganggap diri mereka sebagai suatu keluarga.
2.1.2 Tipe Keluarga
1. Keluarga Tradisional
a. Keluarga Inti (The Nuclear Family) adalah keluarga yang terdiri
dari suami, istri, dan anak baik dari sebab biologis maupun adopsi
yang tinggal bersama dalam satu rumah. Tipe keluarga inti
diantaranya:
dalam satu rumah.
terlambat menikah dan untuk mendapatkan anak terlambat
waktunya disebabkan mengejar karir/pendidikan yang terjadi
pada wanita.
jawab secara sah dari orang tua kandung ke keluarga yang
menginginkan anak.
b. Keluarga Besar (The Extended Fmily) yaitu keluarga yang terdiri
dari tiga generasi yang hidup bersama dalam satu rumah,
contohnya seperti nuclear family disertai paman, tante, kakek dan
nenek.
8
c. Keluarga Orang Tua Tunggal (The Single-Parent Family) yaitu
keluarga yang terdiri dari satu orang tua (ayah atau ibu) dengan
anak. Hal ini biasanya terjadi karena perceraian, kematian atau
karena ditinggalkan (menyalahi hukum pernikahan).
d. Commuter Family yaitu kedua orang tua (suami-istri) bekerja di
kota yang berbeda, tetapi salah satu kota tersebut sebagai tempat
tinggal dan yang bekerja di luar kota bisa berkumpul dengan
anggota keluarga pada saat akhir minggu, bulan atau pada waktu-
waktu tertentu.
atau kelompok umur yang tinggal bersama dalam satu rumah.
f. Kin-Network Family yaitu beberapa keluarga inti yang tinggal
dalam satu tumah atau berdekatan dan saling menggunakan
barang-barang dan pelayanan yang sama. Contohnya seperti kamar
mandi, dapur, televise dan lain-lain.
g. Keluarga Campuran (Blended Family) yaitu duda atau janda
(karena perceraian) yang menikah kembali dan membesarkan anak
dari hasil perkawinan atau dari perkawinan sebelumnya.
h. Dewasa Lajang yang Tinggal Sendiri (The Single Adult Living
Alone), yaitu keluarga yang terdiri dari orang dewasa yang hidup
sendiri karena pilihannya atau perpisahan (separasi), seperti
perceraian atau ditinggal mati.
i. Foster Familyyaitu pelayanan untuk suatu keluarga dimana anak
ditempatkan di rumah terpisah dari orang tua aslinya jika orang tua
9
tersebut akan dikembalikan kepada orang tuanya jika orang tuanya
sudah mampu untuk merawat.
j. Keluarga Binuklir yaitu bentuk keluarga setela cerai di mana anak
menjadi anggota dari suatu sistem yang terdiri dari dua rumah
tangga inti.
orang tua (terutama ibu) dengan anak dari hubungan tanpa nikah.
b. The Step Parent Family yaitu keluarga dengan orang tua tiri.
c. Commune Family yaitu beberapa keluarga (dengan anak) yang
tidak ada hubungan saudara yang hidup bersama dalam satu rumah,
sumber, dan fasilitas yang sama, pengalaman yang sama; serta
sosialisasi anak melalui aktivitas kelompok/membesarkan anak
bersama.
berganti-ganti pasangan tanpa melakukan pernikahan.
e. Gay and Lesbian Families, yaitu seseorang yang mempunyai
persamaan seks hidup bersama sebagaimana ‘marital partners’.
f. Cohabitating Family yaitu orang dewasa yang tinggal bersama
diluar hubungan perkawinan melainkan dengan alasan tertentu.
g. Group-Marriage Family, yaitu beberapa orang dewasa yang
menggunakan alat-alat rumah tangga bersama yang saling merasa
10
dan membesarkan anak.
alat-alat rumah tangga bersama, pelayanan, dan bertanggung jawab
membesarkan anaknya.
i. Foster Family, keluarga menerima anak yang tidak ada hubungan
keluarga/saudara di dalam waktu sementara, pada saat orang tua
anak tersebut perlu mendapatkan bantuan untuk menyatukan
kembali keluarga aslinya.
mempunyai perlindungan yang permanen karena krisis personal
yang dihubungkan dengan keadaan ekonomi dan atau masalah
kesehatan mental.
k. Gang, bentuk keluarga yang destruktif dari orang-orang muda yang
mencari ikatan emosional dan keluarga mempunyai perhatian,
tetapi berkembang dalam kekerasan dan kriminal dalam
kehidupannya.
11
juga yang menggambarkan subsitem-subsistemnya sebagai dimensi
struktural. Struktur keluarga menurut Friedman (2009) dalam Nadirawati
(2018) sebagai berikut :
Komunikasi keluarga merupakan suatu proses simbolik, transaksional
untuk menciptakan mengungkapkan pengertian dalam keluarga.
2. Struktur Kekuatan
keluarga.Struktur kekuatan keluarga merupakan kemampuan
(potensial/aktual) dari individu untuk mengontrol atau memengaruhi
perilaku anggota keluarga. Beberapa macam struktur keluarga:
a. Legimate power/authority (hak untuk mengontrol) seperti orang
tua terhadap anak.
b. Referent power (seseorang yang ditiru) dalam hal ini orang tua
adalah sesorang yang dapat ditiru oleh anak.
c. Resource or expert power (pendapat, ahli, dan lain).
d. Reward power (pengaruh kekuatan karena adanya harapan yang
akan diterima).
keinginannya).
12
kasih, misalnya hubungan seksual).
b. Struktur yang hangat, menerima, dan toleransi.
c. Struktur yang terbuka dan anggota yang terbuka (honesty dan
authenticity), struktur keluarga ini mendorong kejujuran dan
kebenaran.
d. Struktur yang kaku, yaitu suka melawan dan bergantun pada
peraturan.
adanya peraturan yang memaksa.
h. Disorganisasi keluarga; disfungsi individu, stres emosional.
3. Struktur Peran
a. Peran-peran formal dalam keluarga
Peran formal dalam keluarga dalah posisi formal pada keluarga,
seperti ayah, ibu dan anak Setiap anggota keluarga memiliki peran
masing-masing. Ayah sebagai pemimpin keluarga memiliki peran
sebagai pencari nafkah, pendidik, pelindung, pemberi rasa aman
13
masyarakat atau kelompok sosial tertentu. Sedangkan anak
berperan sebagai pelaku psikosoal sesuai dengan perkembangan
fisik, mental, sosial dan spiritual.
b. Peran Informal kelauarga
tampak ke permukaan, dan dimainkan untuk memenuhi kebutuhan
emosional atau untuk menjaga keseimbangan keluarga.
4. Struktur Nilai
masyarakat. Nilai keluarga akan membentuk pola dan tingkah laku
dalam menghadapi masalah yang dialami keluarga. Nilai keluarga ini
akan menentukan bagaimana keluarga menghadapi masalah kesehatan
dan stressor-stressor lain.
2.1.4 Fungsi Keluarga
sebagai berikut:
emosional anggota, membantu anggota dalam membentuk identitas,
dan mempertahankan saat terjadi stres.
14
nilai, sikap, dan mekanisme koping, memberikan feedback dan saran
dalam penyelesaian masalah.
dengan melahirkan anak.
keluarga dan kepentingan di masyarakat.
5. Fungsi pemeliharaan kesehatan; keluarga memberikan keamanan dan
kenyamanan lingkungan yang dibutuhkan untuk pertumbuhan,
perkembangan dan istirahat juga penyembuhan dari sakit.
2.1.5 Tugas Keluarga
1. Mengenal masalah kesehatan
meliputi pengertian, tanda dan gejala, faktor penyebab dan yang
mempengaruhinya, serta persepsi keluarga terhadap masalah
kesehatan.
Hal ini meliputi sejauh mana kemampuan keluarga mengenal sifat dan
luasnya masalah. Apakah keluarga merasakan adanya masalah
kesehatan, menyerah terhadap masalah yang dialami, adakah perasaan
takut akan akibat penyakit, adalah sikap negatif terhadap masalah
15
keluarga mendapat informasi yang benar atau salah dalam tindakan
mengatasi masalah kesehatan.
keluarga harus mengetahui beberapa hal seperti keadaan penyakit, sifat
dan perkembangan perawatan yang dibutuhkan, keberadaan fasilitas
yang diperlukan, sumber-sumber yang ada dalam keluarga (anggota
keluarga yang bertanggung jawab, finansial, fasilitas fisik,
psikososial), dan sikap keluarga terhadap yang sakit.
4. Memodifikasi lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat
Hal-hal yang harus diketahui oleh keluarga untuk memodifikasi
lingkungan atau menciptakan suasana rumah yang sehat yaitu sumber-
sumber keluarga yang dimiliki, manfaat dan keuntungan memelihara
lingkungan, pentingnya dan sikap keluarga terhadap hygiene sanitasi,
upaya pencegahan penyakit.
Hal-hal yang harus diketahui keluarga untuk merujuk anggota keluarga
ke fasilitas kesehatan yaitu keberadaan fasilitas keluarga, keuntungan-
keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat
kepercayaan keluarga dan adanya pengalaman yang kurang baik
terhadap petugas dan fasilitas kesehatan, fasilitas yang ada terjangkau
oleh keluarga.
adalah :
kebutuhan pengajaran agama, sandang, pangan, papan dan kesehatan.
Dengan kata lain tidak bisa memenuhi salah satu atau lebih indikator
keluarga sejahtera tahap I.
Keluarga yang sudah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimal, tetapi
belum bisa memenuhi seluruh kebutuhan psikososial, seperti
pendidikan, KB, interaksi dalam keluarga, lingkungan sosial dan
transportasi.Indikator keluarga tahap I yaitu melaksanakan ibadah
menurut kepercayaan masing-masing, makan dua kali sehari, pakaian
yang berbeda untuk berbagai keperluan, lantai rumah bukan dari tanah,
kesehatan (anak sakit, KB dibawa keperawatan pelayanan kesehatan).
3. Keluarga Sejahtera Tahap II
Pada tahap II ini keluarga sudah mampu memenuhi kebutuhan dasar
minimal, dapat memenuhi seluruh kebutuhan psikososial, tetapi belum
dapat memenuhi kebutuhan perkembangan (kebutuhan menabung dan
memperoleh informasi. Indikator keluarga tahap II adalah seluruh
indikator tahap I ditambah dengan melaksanakan kegiatan agama
secara teratur, makan daging/ikan/telur sebagai lauk pauk minimal satu
tahun terakhir, luas lantai rumah perorang 8 m2, kondisi anggota
17
keluarga sehat dalam 3 bulan terakhir, keluarga usia 15 tahun keatas
memiliki penghasilan tetap, anggota keluarga usia 15-60 tahun mampu
membaca dan menulis, anak usia 7-15 tahun bersekolah semua dan dua
anak atau lebih PUS menggunakan Alkon.
4. Keluarga Sejahtera Tahap III
Keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasar minimal, setelah
memenuhi keseluruhan kebutuhan psikososial, dan memenuhi
kebutuhan perkembangan, tetapi belum bisa memberikan sumbangan
secara maksimal pada masyarakat dalam bentuk material dan keuangan
dan belum berperan serta dalam lembaga kemasyarakatan.
5. Keluarga Sejahtera Tahap III Plus
Memenuhi indikator keluarga tahap sebelumnya ditambah dengan
upaya keluarga menambahkan pengetahuan tentang agama, makan
bersama minimal satu kali sehari, ikut serta dalam kegiatan
masyarakat, rekreasi sekurangnya dalam enam bulan, dapat
memperoleh berita dari media cetak maupun media elektronik, anggota
keluarga mampu menggunakan sarana transportasi.
2.1.7 Teori Perkembangan Keluarga
dari waktu-kewaktu dengan pola secara umum dan dapat diprediksi
(Zakaria, 2017). Paradigma siklus kehidupan ialah menggunakan tingkat
usia, tingkat sekolah dan anak paling tua sebagai tonggak untuk interval
siklus kehidupan (Duvall dan Miller, 1987 dalam Zakaria, 2017)
18
Tahap I Keluarga pemula (Keluarga baru menikah - hamil)
Tahap II Keluarga mengasuh anak (anak tertua bayi - umur 30 bulan)
Tahap III Keluarga dengan anak usia pra sekolah (anak tertua berusia 2 - 6 tahun)
Tahap IV Keluarga dengan anak usia sekolah (anak tertua berusia 6 – 13 tahun)
Tahap V Keluarga dengan anak usia remaja (anak tertua berusia 13 – 20 tahun)
Tahap VI Keluarga melepas anak usia dewasa muda (mencakup anak pertama sampai dengan anak terakhir meninggalkan rumah)
Tahap VII Orang tua usia pertengahan (tanpa jabatan, pension)
Tahap VIII Keluarga dalam masa pension dan lansia (hingga pasangan meninggal dunia)
Sumber: Duval dan Miller, 1985 dalam Zakaria, 2017
2.2 Konsep Skizofrenia
2.2.1 Pengertian Skizofrenia
pikir yang tidak teratur, delusi, halusinasi, perubahan perilaku yang tidak
tepat serta adanya gangguan fungsi psikososial (Yuliana Elin 2011).
Menurut Varcarolis (2000) dan Videbeck (2001) dalam Tumanggor (2018)
menegaskan bahwa skizofrenia bukan penyakit tunggal namun merupakan
suatu penyakit dengan kumpulan gejala yang melibatkan aliran darah
serebral, neuoroelektrofisiologi, neuroanatomi, dan neurobiokimia.
Menurut Eugene Bleuer (1936) dalam Tumanggor (2018) pada skizofrenia
terjadi gangguan afeksi, gangguan daya pikir, autis, dan ambivalence.
19
dalam Tumanggor (2018) :
1. Faktor Genetik
skizofrenia jika kedua orang tuanya menderita skizofrenia.Jika salah
satu dari kedua orang tua menderita skizofrenia kemungkinan
mengalami skizofrenia sebanyak 12%.
efektivitas obat-obatan antipsikotik dalam meredam efek
psikosis.Selain itu obat-obatan yang meningkatkan kerja dopamin yang
bersifat psikomimetik.Kelebihan dari dopamin pada penderita
skizofrenia berkaitan dengan keparahan dari gejala positif yang
muncul.
kehilangan volume otak yang signifikan tampaknya menimbulkan
pengurangan densitas akson, dendrit dan sinaps yang erat kaitannya
dengan fungsi asosiasi otak.
anterior cingulated basal ganglia thalamocortical yang menyebabkan
gejala positif pada skizofrenia, disfungsi dorsolateral yang
menyebabkan gejala negatif pada skizofrenia.
5. Metabolisme Otak
dan fosfat inorganik yang rendah.
6. Applied electrophysiology
penurunan aktivitas alfa, peningkatan aktivitas beta dan delta.Hal ini
mengakibatkan kemungkinan epilepsi dan abnormalitas otak kiri, dan
menyebabkan penderita skizofrenia tidak mampu untuk menyaring
suara dan sensitif terhadap suara ribut.Hal ini dapat menimbulkan
halusinasi pendengaran.
7. Psikneuroimunologi
respons limfosit periferal pada penderita skizofrenia.
8. Psychoneuoroendocrinology
dipertanyakan dan belum valid.
skizofrenia antara lain:
kebersihan dan kebersihan diri juga terabaikan.Biasanya juga menarik
diri dari lingkungan sekitar secara sosial.
2. Gangguan Pembicaraan
terganggu yaitu asosiasi.
3. Gangguan perilaku
adalah gejala katatonik yang berupa stupor, atau gaduh gelisah.
4. Gangguan afek
parathimi, emosi yang berlebihan sensitif emosi.
5. Gangguan persepsi
6. Gangguan pikiran
22
menunjukkan satu atau lebih delusi atau halusinasi pendengaran yang
kontinu.
2. Tipe yang Tidak Terorganisasi
Ciri yang khas pada skizofrenia tipe ini adalah adanya pembicaraan dan
perilaku yang tidak terarah, adanya afek datar atau afek yang tidak
sesuai.Namun, perilaku yang muncul tidak bersifat katatonik.
3. Tipe Katatonik
yang tidak memiliki tujuan dan tidak adanya stimulus eksternal,
perilaku negatif yang ekstrem dimana penderita cenderung untuk tidak
termotivasi terhadap instruksi atau mempertahankan posisi
diam/autism, gerakan aneh yang ditunjukkan dengan posisi tubuh yang
tidak biasa, adanya echolalia atau echopraxia.
4. Tipe Tidak Terdefinisikan
Penampakan khas dari tipe ini adalah tanda dan gejala skizofrenia untuk
kriteria A, namun tidak dijumpai tanda dan gejala untuk tipe paranoid,
tipe disorganisasi maupun tipe katatonik.
23
ketiadaan delusi dan halusinasi yang bertahan, selain itu juga tidak
dijumpai adanya pembicaraan yang tidak terorganisasi maupun perilaku
katatonik.Adanya gangguan yang berkesinambungan yang ditunjukkan
dengan adanya gejala negatif atau adanya dua atau lebih gejala
skizofrenia pada kriteria A. Kemudian, penderita juga menunjukkan
kepercayaan yang aneh maupun pengalaman/persepsi yang tidak biasa.
2.2.5 Penatalaksanaan
1. Terapi fase akut
tidak membahayakan dirinya sendiri dan orang lain.
2. Terapi fase stabilisasi
Pada fase ini dubutuhkan pengobatan yang rutin untuk pemulihan yang
lebih stabil karena pasien masih memiliki tingkat kekambuhan yang
besar.
mengajarkan keterampilan untuk mandiri pada pasien.
Terapi untuk skizofrenia dibagi menjadi terapi non farmakologi dan terapi
farmakologi :
emosional pada pasien.Intervensi yang diberikan pasien berdasarkan
kebutuhan dan keparahan penyakit.
Program ini dirancang khusus untuk pasien yang fungsi sosialnya
buruk dan bertujuan untuk mencegah kekambuhan dan
memaksimalkan fungsi sosial dan pekerjaan. Unsur-unsur pada
PACT adalah menekankan pada kemampuan pasien untuk
beradaptasi dengan masyarakat, penyediaan dukungan, layanan
konsultasi untuk pasien dan memastikan pasien berada tetap berada
dalam program perawatan.Dari beberapa penelitian membuktikan
PACT efektif untuk memperbaiki gejala, mengurangi masa
perawatan di rumah sakit dan memperbaiki kondisi kehidupan
pasien secara umum.
b. Intervensi Keluarga
(2012) mengatakan pasien skizofrenia sangat membutuhkan
25
penyembuhan pasien. Keluarga harus dilibatkan dalam proses
penyembuhan pasien. Anggota keluarga diharapkan dapat
berkontribusi untuk perawatan pasien dan memerlukan pendidikan,
bimbingan dan dukungan serta pelatihan membantu
mengoptimalkan peran keluarga.Karena jika keluarga tidak mampu
mampu merawat pasien dengan baik maka kemungkinan besar
dapat terjadi kekambuhan pada pasien.
c. Terapi perilaku kognitif
keyakinan dan menormalkan pengalaman psikotik pasien.Beberapa
penelitian menunjukkan bahwa terapi perilaku kognitif efektif
dalam mengurangi frekuensi dan keparahan gejala.CBT (Cognitive
Behaviour Therapy) membantu individu untuk berkembang dengan
meningkatkan keterampilan dalam mekanisme koping menurunkan
kecemasan dan meningkatkan harga diri (Wheeler, 2008 dalam
Caturini 2014).
masyarakat. Tujuannya yaitu untuk memperbaiki fungsi sosial pada
pasien.Kader kesehatan dan tokoh masyarakat memiliki peranan
penting dalam mensosialisasikan kesehatan jiwa, hal ini
dikarenakan kader merupakan ujung tombak untuk melakukan
26
suportif merupakan alternatif pilihan terapi yang ditujukan untuk
meningkatkan keluarga menjadi support system.
e. Terapi Elektrokonvulsif (ECT)
dipertimbangkan sebagai pilihan bagi penderita skizofrenia
terutama jika menginginkan perbaikan umum dan pengurangan
gejala yang cepat (American Psychiatric Assosiated, 2013).
2. Terapi Farmakologi
agitasi, agresi, ansietas, dll. Benzodiazepin terapi stabilisasi dimulai
pada minggu kedua atau ketiga.Terapi stabilisasi bertujuan untuk
meningkatkan sosialisasi serta perbaikan kebiasaaan dan perasaan.
Terapi pemeliharaan bertujuan untuk mencegah kekambuhan.Dosis
pada terapi pemeliharaan dapat diberikan setengah dosis akut.
Klozapin merupakan antipsikotik yang hanya digunakan apabila
pasien mengalami resistensi terhadap antipsikotik yang lain (Crismon
dkk., 2008).
2.3 Konsep Harga Diri Rendah
2.3.1 Pengertian Harga Diri Rendah
Harga diri rendah adalah perasaan tidak berharga, tidak berarti dan rendah
diri akibat evaluasi negatif terhadap diri sendiri dan kemampuan
diri.Harga diri rendah dibagi menjadi harga diri rendah situasional dan
harga diri rendah kronik. Harga diri rendah situasional yaitu munculnya
persepsi negatif tentang makna diri sebagai respons terhadap situasi saat
ini.Sedangkan, harga diri rendah kronik merupakan evaluasi diri atau
perasaan negatif tentang diri sendiri atau kemampuan diri dalam waktu
lama yang dapat mengganggu kesehatan (Herdman, 2015).Harga diri
rendah dapat disebabkan karena penilaian internal maupun penilaian
eksternal yang negatif.Penilaian internal adalah penilaian dari individu itu
sendiri, sedangkan penilaian eksternal merupakan penilaian dari luar
individu (orang tua, saudara dan lingkungan) yang sangat mempengaruhi
penilaian individu terhadap dirinya (Nurhalimah, 2016).
Jadi, dapat disimpulkan bahwa harga diri rendah kronik adalah perasaan
tidak berharga yang berkepanjangan akibat dari evaluasi negatif terhadap
diri sendiri dan kemampuan diri, harga diri rendah dapat juga terjadi akibat
penilaian eksternal yang negatif.
1. Harga diri rendah situasional
a. Meremehkan kemampuan menghadapi situasi
28
d. Tanpa tujuan
f. Tidak berdaya
a. Bergantung pada pendapat orang lain
b. Ekspresi rasa bersalah
c. Ekspresi rasa malu
e. Kegagalan hidup berulang
f. Kontak mata kurang
i. Meremehkan kemampuan mengatasi situasi
j. Pasif
2.3.3 Faktor yang Berhubungan dengan Harga Diri Rendah
1. Harga diri rendah situasional
a. Gangguan citra tubuh
f. Pola kegagalan
g. Riwayat kehilangan
h. Riwayat penolakan
i. Transisi perkembangan
a. Gangguan psikiatri
b. Kegagalan berulang
c. Ketidaksesuaian budaya
d. Ketidaksesuaian sosial
f. Kurang kasih sayang
h. Kurang respek dari orang lain
i. Merasa afek tidak sesuai
j. Merasa persetujuan orang lain tidak cukup
k. Penguatan negatif berulang
l. Terpapar peristiwa traumatik
2.3.4 Proses Terjadinya Harga Diri Rendah
Harga diri rendah kronis merupakan lanjutan dari gangguan pada diri klien
yang terjadi akibat harga diri rendah situasional yang tidak terselesaikan
atau ketidakadaan feed back (umpan balik) yang positif dari lingkungan
terhadap perilaku klien sebelumnya. Respon negatif dari lingkungan juga
memiliki peran terhadap gangguan harga diri rendah kronis.Pada awalnya
klien dihadapkan dengan stresor (krisis) dan berusaha untuk
menyelesaikannya tetapi tidak tuntas. Ketidaktuntasan itu menimbulkan
evaluasi diri bahwa ia tidak mampu atau gagal menjalankan peran dan
fungsinya. Evaluasi diri yang negatif karena merasa gagal merupakan
gangguan harga diri rendah situasional yang berlanjut menjadi harga diri
rendah kronis akibat tidak adanya respon positif dari lingkungan pada
klien (Sutejo, 2019).
1. Faktor Predisposisi
beberapa fackor predisposisi, seperti faktor biologis, psikologis, sosial
dan kultural.
kerja hormon secara umum. Karena hal itu keseimbangan
31
serotonin yang dapat menyebabkan klien mengalami depresi.
Kecenderungan gangguan harga diri rendah pada penderita depresi
semakin besar karena klien lebih dikuasai oleh pikiran yang negatif
dan ketidakberdayaan.Struktur otak yang mungkin mengalami
gangguan pada harga diri rendah kronis yaitu sistem limbik (pusat
emosi), hipotalamus yang mengatur mood, dan motivasi thalamus
sebagai sistem pengatur arus informasi sensori yang berhubungan
dengan perasaan, dan amigdala yang berhubungan dengan emosi
(Sutejo, 2019).Faktor hereditas (keturunan) yaitu adanya riwayat
anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa.Selain itu adanya
riwayat penyakit kronis dan trauma kepala dapat menjadi salah satu
faktor penyebab gangguan jiwa (Nurhalimah, 2016).
b. Faktor Psikologis
peran dan fungsi. Hal-hal lain yang dapat menyebabkan harga diri
rendah kronis diantaranya adanya penolakan dari orang tua,
harapan orang tua yang tidak realistis, ketidakpercayaan orang tua
terhadap anak, tekanan dari teman sebaya, peran yang tidak sesuai
dengan jenis kelamin, serta peran dalam pekerjaan (Sutejo, 2019)
c. Faktor Sosial dan Kultural
Pengaruh sosial yang dapat menimbulkan harga diri rendah yaitu
adanya penilaian negatif dari lingkungan terhadap klien, sosial
32
penolakan lingkungan pada masa pertumbuhan dan perkembangan
anak (Nurhalimah, 2016)
2. Faktor Presipitasi
menimbulkan harga diri rendah adalah:
a. Riwayat trauma, contohnya seperti pengalaman psikososial yang
tidak menyenangkan, penganiayaan seksual, menjadi korban,
pelaku, maupun saksi dari perilaku kekerasan.
b. Ketegangan peran
kanak.
berkurangnya keluarga melalui kelahiran atau kematian.
3) Transisi peran sehat-sakit yaitu akibat pergeseran dari kondisi
sehat kesakit. Hal ini dapat ditimbulkan karena kehilangan
salah satu anggota tubuh, perubahan ukuran, bentuk,
penampilan atau fungsi tubuh. Atau perubahan fisik yang
berhubungan dengan tumbuh kembang normal, prosedur medis
dan keperawatan.
Manifestasi yang biasanya muncul pada klien skizofrenia dengan
masalah harga diri rendah, menurut Nurhalimah (2016) :
1. Data Subjektif
a. Pasien mengungkapkan hal negatif terhadap diri sendiri dan orang
lain.
c. Pasien mengungkapkan pandangan hidup yang pesimis.
d. Pasien mengungkapkan penolakan terhadap kemampuan diri
e. Pasien mengungkapkan evaluasi diri tidak mampu mengatasi
situasi.
c. Pasien lebih banyak menundukkan kepala saat berinteraksi dengan
orang lain.
e. Bimbang, menunjukkan perilaku non-asertif.
f. Mengekspresikan diri tidak berdaya dan tidak berguna.
34
Adaptif Maladaptif
diri positf rendah identitas
Gambar 2.1 Rentang Respon Konsep Diri: Harga Diri Rendah (Sumber:
Stuart, 2013)
positif yang dilatar belakangi dengan adanya pengalaman yang
nyata, sukses dan diterima.
pengalaman yang positif dalam beraktualisasi diri.
3. Harga diri rendah, merupakan transisi atau peralihan dari respon
konsep diri adaptif dengan respon konsep diri maladaptif.
4. Kerancuan identitas, merupakan kegagalan individu dalam
mengintegrasikan…