Home >Documents >BAB 1- 3 21 Juni 2012

BAB 1- 3 21 Juni 2012

Date post:29-Oct-2015
Category:
View:52 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
fff
Transcript:

I. PENDAHULUAN

A. Latar BelakangKejadian distosia bahu semakin menjadi ketakutan sendiri bagi dokter, perawat, bidan, dan tenaga medis lainnya karena seringkali merupakan peristiwa kegawatan obstetri yang tidak bisa diprediksi dan dicegah. Distosia bahu didefinisikan sebagai kelahiran yang membutuhkan manuver obstetri tambahan untuk mengeluarkan bahu setelah traksi bawah gagal. Distosia bahu terjadi ketika terdapat impaksi bahu bayi anterior atau, jarang terjadi, posterior dengan simfisis atau promontorium sakralis ibu. Biasanya distosia bahu didahului dengan tanda klasik turtle sign yaitu setelah kepala bayi dikeluarkan, akan terjadi retraksi kuat kembali ke perineum ibu. Spong mendefinisikan distosia bahu sebagai persalinan kepala-badan yang lama, yaitu lebih dari 60 detik) dan atau mengharuskan manuver obstetri tambahan. Lama persalinan 60 detik dijadikan batas interval karena waktu tersebut terletak antara dua standar deviasi di atas nilai rerata persalinan normal pada penelitiannya. Walaupun terdapat rekomendasi tersebut, distosia bahu tetap belum memiliki definisi yang jelas.Perbedaan laporan kasus sebagian disebabkan oleh variasi definisi distosia bahu, populasi pasien yang dipelajari, dan bentuk kasus over-diagnosed atau under-diagnosed. Insidensi yang dilaporkan adalah 0,6% sampai 3% kelahiran pervaginam dengan presentasi vertex, walaupun distosia bahu dapat dikelola dengan tepat tetapi tetap dapat meningkatkan angka mortalitas dan morbiditas perinatal. Kegagalan bahu untuk lahir dengan spontan dapat menjadikan ibu hamil dan bayi memiliki risiko cidera persalinan permanen. Cidera pleksus brakhialis adalah komplikasi distosia bahu yang paling sering terjadi, yaitu pada 4-16% persalinan. Kejadian ini tergantung dari pengalaman operator persalinan. Kebanyakan kasus diatasi tanpa adanya kecacatan permanen, yaitu kurang dari 10% yang terjadi disfungsi pleksus brakhialis. Cidera pleksus brakhialis neonatus adalah kasus tuntutan pengadilan paling sering berkaitan dengan distosia bahu di Inggris, sedangkan distosia bahu masuk menjadi empat besar kasus pengadilan, dan diperkirakan menghabiskan 11% klaim kasus obstetri.Walaupun tidak semua cidera pleksus brakhialis disebabkan karena traksi berlebih dan dihubungkan dengan kejadian distosia bahu, manajemen risiko yang baik membutuhkan setiap tahapan harus dilakukan untuk mengatasi segala kemungkinan, pencegahan, dan penatalaksanaan distosia bahu dengan standar yang baik. Sejak dimulainya NHS Litigation Authority pada tahun 1995 terdapat sekitar 555 klaim yang berhubungan dengan distosia bahu, dengan perkiraan biaya 189.400.000. B. TujuanTujuan dari penelitian ini adalah untuk meninjau literatur tentang permasalahan distosia bahu yang terdiri dari identitifikasi faktor risiko untuk deteksi awal persalinan beresiko tinggi dan penatalaksanaan yang sistematis dari kedaruratan obsetri untuk menghindari permasalahan kesehatan setelah melahirkan, medico-legal, dan komplikasi yang minimal.

II. TINJAUAN PUSTAKA

1. DefinisiDistosia bahu termasuk dalam kedaruratan obsetri, sehingga dibutuhkan tindakan segera, ketrampilan dan kemampuan teknik persalinan yang tepat untuk menghidari morbiditas dan mortalitas perinatal. Hal ini terjadi ketika bahu depan terjepit oleh simpisis pubis atau bahu belakang terjepit oleh sacral promontorium sehingga terjadi kegagalan dalam pengeluaran bahu. (arulkumaran, 2003). Persalinan kepala umumnya diikuti oleh persalinan bahu dalam waktu 24 detik, sedangkan jika persalinan bahu lebih dari 60 detik dianggap sebagai distosia bahu (Manuaba, 2007).

2. InsidensiInsidensi distosia bahu dilaporkan meningkat dalam beberapa dekade terakhir ini. Kejadian dengan distosia bahu terjadi 1:200 kelahiran (arulkumaran et al., 2003). Hal itu menyebabkan morbiditas dan mortalitas perinatal yang tinggi dan yang sering dihubungkan dengan komplikasi meskipun sudah dikelola dengan tepat. Akibat dari itu Royal Collage of Obstetricians and Gynaecologists (RCOG) and The Royal Collage of Midwives (RCM) bersama-sama merekomendasi untuk melakukan pelatihan terhadap manajemen persalinan dengan distosia bahu (RCOG, 2005)

3. Komplikasi distosia bahuPersalinan distosia bahu mempunyai komplikasi yang cukup serius (tabel 2.1). Dalam menghadapi kemungkinan distosia bahu, sulit diduga sebelumnya oleh karena :a. Tidak terdapat gejala yang mendahului. Persalinan kepala dapat berlangsung normal, tetapi persalinan bahunya menghadapi kesulitan yang sangat membahayakanb. Ketepatan perkiraan berat janin intra uterin dengan menggunakan USG sulit dipastikanc. Sectio caesarea yang dilakukan hanya dengan dugaan janin makrosomia janin saja sulit dibenarkan. Namun, jika berat janin diduga sekitar 5000 gram, ibu hamil dengan diabetes mellitus, atau dugaan berat janin 4500 gram pada ibu hamil dengan diabetes mellitus, seksio sesarea dapat dibenarkan. (Manuaba, 2007)Tabel 2.1. Komplikasi pada Maternal dan PerinatalKomplikasi MaternalKomplikasi Perinatal

Trias komplikasi : Trauma jalan lahir Perdarahan postpartum InfeksiTrauma persendian: Leher: dislokasi, fraktur tulang leher Bahu : dislokasi persendian bahu, fraktur tulang humerus

trauma pleksus brakialis : Erb paralisis, yaitu C5-C7 dengan ciri : Humerus abduksi, rotasi internal Siku ekstensi Paralisis klumpke atau ikut serta C8 dan TI Siku fleksi Tangan terlempang dan jadi mencengkram

Sindrom horner Jika saraf simfatikus ikut serta

4. Manifestasi KlinisTanda klinis terjadinya distosia bahu meliputi:1. Tubuh bayi tidak muncul setelah ibu meneran dengan baik dan traksi yang cukup untuk melahirkan tubuh setelah kepala bayi lahir2. Turtle sign adalah ketika kepala bayi tiba-tiba tertarik kembali ke perineum ibu setelah keluar dari vagina. Pipi bayi menonjol keluar, seperti seokor kura-kura yang menarik kepala kembali ke cangkangnya. Penarikan kepala bayi ini dikarenakan bahu depan bayi terperangkap di tulang pubis ibu, sehingga menghambat lahirnya tubuh bayi.

Gambar 2.1. Turtle Sign

5. Diagnosis1. Kepala janin telah lahir namun masih erat berada di vulva2. Tidak terjadi gerakan/ restitusi spontan 3. Dagu tertarik dan menekan perineum4. Adanya tanda khas yang disebut sebagai Turtle Sign, yaitu penarikan kembali kepala terhadap perineum sehingga tampak masuk kembali ke dalam vagina.5. Penarikan kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang terperangkap di belakang symphisis. (RCOG, 2012)

6. Penatalaksanaan Karena distosia bahu tidak dapat diramalkan, pelaku praktek obstetrik harus mengetahui betul prinsip-prinsip penatalaksanaan penyulit yang terkadang dapat sangat melumpuhkan ini. Pengurangan interval waktu antara pelahiran kepala sampai pelahiran badan amat penting untuk bertahan hidup. Usaha untuk melakukan traksi ringan pada awal pelahiran, yang dibantu dengan gaya dorong ibu, amat dianjurkan. Traksi yang terlalu keras pada kepala atau leher, atau rotasi tubuh berlebihan, dapat menyebabkan cedera serius pada bayi (Cunningham, 2006). Beberapa ahli menyarankan untuk melakukan episiotomi luas dan idealnya diberikan analgesi yang adekuat. Tahap selanjutnya adalah membersihkan mulut dan hidung bayi. Setelah menyelesaikan tahap-tahap ini, dapat diterapkan berbagai teknik untuk membebaskan bahu depan dari posisinya yang terjepit di bawah simfisis pubis ibu (RCOG, 2012; Cunningham, 2006; Rayburn, William F,. Carey, J Christopher, 2001):1. Penekanan suprapubik sedang dilakukan oleh seorang asisten sementara dilakukan traksi ke bawah terhadap kepala bayi.

Gambar 2.2. Manuver Massanti

2. Manuver McRoberts yang ditemukan oleh Gonik dan rekan (1983) dan dinamai sesuai nama William A. McRoberts, Jr., yang mempopulerkan penggunaannya di University of Texas di Houston. Manuver ini terdiri atas mengangkat tungkai dari pijakan kaki pada kursi obstetris dan memfleksikannya sejauh mungkin ke abdomen. Gherman dan rekan (2000) menganalisa manuver McRoberts dengan pelvimetri radiologik. Mereka mendapati bahwa prosedur yang menyebabkan pelurusan relatif sakrum terhadap vertebra lumbal, bersama dengan rotasi simfisis pubis ke arah kepala ibu yang menyertainya serta pengurangan sudut kemiringan panggul. Meski manuver ini tidak memperbesar ukuran panggul, rotasi panggul ke arah kepala cenderung membebaskan bahu depan yang terjepit. Gonik dan rekan (1989) menguji posisi McRoberts secara obyektif pada model di laboratorium dan menemukan bahwa manuver ini mampu mengurangi tekanan ekstraksi pada bahu janin.

Gambar 2.3. Manuver McRoberts

3. Woods (1943) melaporkan bahwa, dengan memutar bahu belakang secara progresif sebesar 180 derajat dengan gerakan seperti membuka tutup botol, bahu depan yang terjepit dapat dibebaskan. Tindakan ini sering disebut sebagai manuver corkscrew Woods.

Gambar 2.4. Corkscrew-Woods Manuver

4. Pelahiran bahu belakang meliputi penyusuran lengan belakang janin secara hati-hati hingga mencapai dada, yang diikuti dengan pelahiran lengan tersebut. Cingulum pektorale kemudian diputar ke arah salah satu diameter oblik panggul yang diikuti pelahiran bahu depan. Tindakan ini disebut sebagai maneuver Jacquimer.

Gambar 2.5. Manuver Jacquimer

5. Rubin (1964) merekomendasikan dua manuver. Pertama, kedua bahu janin diayun dari satu sisi ke sisi lain dengan memberikan tekanan pada abdomen. Bila hal ini tidak berhasil, tangan yang berada di panggul meraih bahu yang paling mudah diakses, yang kemudian didorong ke permukaan anterior bahu. Hal ini biasanya akan menyebabkan abduksi kedua bahu, yang kemudian akan menghasilkan diameter antar-bahu dan pergeseran bahu depan dari belakang simfisis pubis.

Gambar 2.6. Manuver Rubin

6. Hibbard (1982) menganjurkan untuk menekan dagu dan leher janin ke arah rektum ibu, dan seorang asisten menekan kuat fundus saat bahu depan dibebaskan. Penekanan kuat pada fundus yang dilakukan pada saat yang salah akan mengakibatkan semakin terjepitnya bahu dep