Home >Documents >B A N D U N G 2 0 1 8 -

B A N D U N G 2 0 1 8 -

Date post:25-Nov-2021
Category:
View:0 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
RENDAHNYA CAKUPAN ASI EKSKLUSIF PADA IBU DENGAN BAYI
USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS SUMBERSARI
KABUPATEN BANDUNG TAHUN 2018
Pendidikan Program Studi D III Kebidanan
STIKes Bhakti Kencana Bandung
PROGRAM STUDI D.III KEBIDANAN
2 0 1 8
ABSTRAK
ASI eksklusif merupakan pemberian ASI saja tanpa makanan atau minuman apapun
sampai usia bayi 6 bulan. Cakupan ASI eksklusif di Indonesia sekitar 55,7%. Data
Dinkes Kabupaten Bandung didapatkan cakupan ASI eksklusif di Puskesmas
Sumbersari dengan jumlah bayi sebanyak 590 orang, yang tidak ASI eksklusif yaitu
sebanyak 95,08% (561 bayi) dan yang diberikan ASI eksklusif hanya 4,02% (29
orang).
Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan
dengan rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi 6-12 bulan di
wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung tahun 2018.
Penelitian yang digunakan adalah deksiptif. Populasi penelitian sebanyak 561
orang. Sampel sebanyak 85 orang dengan teknik stratified random sampling dan
analisis data menggunakan univariat.
Hasil penelitian diketahui bahwa usia ibu dengan bayi usia 6-12 bulan lebih dari
setengahnya usia <20 tahun dan >30 tahun sebanyak 55,3% (47 orang),
berpendidikan SMP 45,9% (39 orang), ibu bekerja 77,6% (66 orang),
berpengetahuan kurang 54,1% (46 orang), bersikap tidak mendukung 54,1% (46
orang).
Simpulan didapatkan bahwa rendahnya cakupan pemberian ASI eksklusif
dikarenakan usia ibu <20 tahun dan 30 tahun, pendidikan SMP, ibu yang bekerja,
pengetahuan yang kurang dan sikap yang tidak mendukung terhadap pemberian
ASI eksklusif. Saran bagi tempat penelitian yaitu mengadakan penyuluhan
mengenai pemberian ASI eksklusif.
Daftar Pustaka : 32 sumber (tahun 2010-2017)
ABSTRACT
Exclusive breast milk mother is give breast milk without any food or drink until the
baby get 6 months old. Coverage exclusive breast milk mother in Indonesia
approximately is 55.7%. Data from the Bandung District Health Office obtained
exclusive breast milk mother coverage at Sumbersari Health Center with a total of
590 babies, 95.08% who were not gived exclusive breast milk mother (561 babies)
and only 4.02% (29 babies) who were gived exclusive breast milk mother.
The purpose of this research was to know description the factors related to the low
coverage of exclusive breast milk for mothers with 6-12 months of infants in the
work area of Sumbersari Health Center at Bandung District in 2018.
The research used is Descriptive. The research population was 561 peoples. The
sample was 85 peoples with stratified random sampling technique and data analysis
using univariate.
The results of the research is knowed that the mother's age with infants aged 6-12
months was more than half of the age of <20 years and> 30 years as many as 47
peoples (55.3%), junior high school educated as many as 45.9% (39 peoples),
working mother 77.6% as many as (66 peoples), low knowledge as many as 54.1%
(46 peoples), and behave with not supporting as many as 54.1% (46 peoples).
Conclusions were obtained that the low coverage of exclusive breast milk mother
becaused the maternal age <20 years and 30 years, junior high school education,
mother worker, low knowledge and attitude with did not support exclusive breast
milk mother. Suggestions for research place are making counseling about exclusive
breast milk mother.
Bibliography: 32 sources (2010-2017)
dengan Rendahnya Cakupan ASI Eksklusif pada
Ibu dengan Bayi Usia 6-12 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung
Tahun 2018
Menyatakan:
1. Laporan Tugas Akhir saya ini adalah asli dan belum pernah diajukan untuk
memperoleh gelar Ahli Madya Kebidanan STIKes Bhakti Kencana Bandung
maupun di Perguruan Tinggi lainnya.
2. Laporan Tugas Akhir saya ini adalah karya tulis yang murni dan bukan hasil
plagiat atau jiplakan, serta asli dari ide dan gagasan saya sendiri tanpa bantuan
pihak lain kecuali arahan dari pembimbing.
Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan apabila kemudian
hari terdapat penyimpangan yang tidak etis, maka saya bersedia menerima sanksi
akademik berupa pencabutan gelar yang saya peroleh serta sanksi lainnya sesuai
dengan norma yang berlaku di Perguruan Tinggi.
LEMBAR PERSETUJUAN
DENGAN RENDAHNYA CAKUPAN ASI EKSKLUSIF PADA
IBU DENGAN BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN BANDUNG
HALAMAN PENGESAHAN
DENGAN RENDAHNYA CAKUPAN ASI EKSKLUSIF PADA
IBU DENGAN BAYI USIA 6-12 BULAN DI WILAYAH KERJA
PUSKESMAS SUMBERSARI KABUPATEN BANDUNG
Hari : Kamis
Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan Rahmat dan
Hidayah Nya, sehingga penulis mampu menyelesaikan penyusunan laporan tugas
akhir guna menyelesaikan studi DIII kebidanan di STIKes Bhakti Kencana
Bandung. Sholawat beserta salam Penulis tunjukan kepada Junjungan kita Nabi
Muhammad SAW beserta para keluarga dan para sahabatnya.
Pada kesempatan ini pula, Penulis ingin mengucapakan terimakasih kepada
semua pihak yang telah memberikan bantuan dan dorongan yang sangat berarti
kepada:
1. H. Mulyana, SH., MPd., MH.Kes selaku Ketua Yayasan Adhi Guna
Kencana Bandung.
2. R. Siti Jundiah, M.Kep, selaku Ketua STIKes Bhakti Kencana Bandung;
3. Dewi Nurlaela Sari, M.Keb. selaku Ketua Program Studi Kebidanan
STIKes Bhakti Kencana Bandung.
4. Ina Sugiharti, S.ST., M.Kes. selaku pembimbing yang telah memberikan
arahan dan meluangkan waktu serta tenaganya.
5. Dr.Rikmasari. selaku kepala puskesmas Sumbersari yang telah memberikan
ijin penelitian.
6. Bapa Jajang yang telah memberikan ijin uji Validitas Di puskesmas
Pakutandang.
7. Orang tua tercinta yang senantiasa mendo’akan dan mendukung secara
moril dan materil dengan penuh sabar dan penuh kasih sayang.
8. Seluruh mahasiswa DIII Kebidanan Bhakti Kencana Bandung
Penulis menyadari dalam laporan tugas akhir ini masih banyak kekurangan,
untuk itu Penulis mengharapkan masukan baik kritik maupun saran yang sifatnya
membangun untuk kesempurnaan laporan tugas akhir.
Besar harapan Penulis, semoga penyusunan laporan tugas akhir ini dapat
bermanfaat khususnya bagi Penulis dan umumnya bagi pembaca.
Bandung, 06 Agustus 2018
1.2 Rumusan Masalah ............................................................. 4
1.3 Tujuan Penelitian ............................................................... 4
1.4 Manfaat Penelitian ............................................................. 5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI ........... 13
2.1.4 Usaha Memperbanyak ASI .............................................. 16
2.2 ASI Eksklusif ...................................................................... 18
2.2.4 Dampak tidak diberikan ASI Eksklusif .......................... 23
2.2.5 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Rendahnya Cakupan ASI
Eksklusif ......................................................................... 24
3.5 Definisi Operasional ............................................................ 37
3.7 Uji Validitas dan Reliabilitas .............................................. 38
3.8 Pengolahan dan Analisa Data .............................................. 40
3.9 Waktu dan Lokasi Penelitian .............................................. 44
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian .................................................................. 45
5.1 Simpulan ............................................................................ 57
5.2 1Saran ................................................................................. 58
3.3 Kategori Pertanyaan Berdasarkan Skala Likert ........................................... 43
4.1 Distribusi Frekuensi Usia pada Ibu dengan Bayi Usia 6-12 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung Tahun 2018 .......................... 45
4.2 Distribusi Frekuensi Pendidikan pada Ibu dengan Bayi Usia 6-12 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung Tahun 2018 ................ 46
4.3 Distribusi Frekuensi Pekerjaan pada Ibu dengan Bayi Usia 6-12 Bulan di Wilayah
Kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung Tahun 2018 ................ 46
4.4 Distribusi Frekuensi Pengetahuan pada Ibu dengan Bayi Usia 6-12 Bulan di
Wilayah Kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung Tahun 2018 . 47
4.5 Distribusi Frekuensi Sikap pada Ibu dengan Bayi Usia 6-12 Bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung Tahun 2018 .......................... 47
DAFTAR BAGAN
Bagan Halaman
Lampiran 3 Kuesioner Validitas
Lampiran 6 Kuesioner Penelitian
Lampiran 8 : Lembar Konsultasi
ASI merupakan makanan pertama, utama, dan terbaik bagi bayi, bersifat
ilmiah. ASI eksklusif adalah bayi hanya diberi ASI selama 6 bulan tanpa
tambahan makanan cairan maupun makanan padat (Prasetyono, 2009).
Berdasarkan data badan kesehatan dunia (WHO) pada tahun 2014
menunjukkan rata-rata angka pemberian ASI eksklusif di dunia hanya sekitar
38 persen dari target minimal 50% hal ini membuktikan bahwa masih
rendahnya pemerintah ASI eksklusif dengan berbagai faktor yang
menyebabkan tidak tercapainya target minimal tersebut. Rendahnya pemberian
ASI eksklusif ini dikarenakan pengetahuan dan sikap yang merasa kurang
penting diberikannya ASI sampai umur bayi 6 bulan (Carmen, 2014).
Berdasarkan Data Riset Kesehatan Dasar (Riskedas) 2015 cakupan ASI
eksklusif di Indonesia mencapai 55,7%. Dengan target renstra 2015 sebesar
39%. Di Jawa Barat tercatat jumlah bayi yang diberi ASI ekslusif hanya
sebanyak 35,3% (Kemenkes RI, 2016).
Data Dinkes Provinsi Jawa Barat tahun 2016 yang termasuk cakupan
ASI eksklusif yang paling rendah yaitu di Kabupaten Bandung yaitu hanya
sebanyak 5.271 bayi dari total 30.631 bayi (17,2%) dari target 75%. Selanjutnya
berdasarkan Dinkes Kabupaten Bandung didapatkan bahwa salah satu wilayah
yang paling rendah cakupan ASI eksklusif yaitu wilayah Puskesmas
Sumbersari Ciparay (Dinkes Kabupaten Bandung, 2016).
Berbagai faktor yang menyebabkan target pemberian ASI eksklusif
tidak tercapai diantaranya faktor usia yang masih rendah, pendidikan rendah,
ibu yang bekerja, pengetahuan kurang dan sikap yang tidak mendukung
(Fikawati, 2014; Mamonto, 2015; Meiyana, 2016; dan Fitriyani, 2017).
Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 33 tahun 2012 disebutkan
bahwa tempat kerja (perusahaan, kantor pemerintah, pemerintah desa dan
swasta) harus mendukung program ASI eksklusif dengan memberikan fasilitas
ruang laktasi dan memberikan kesempatan ibu bekerja unutk menyusui atau
memerah ASI. Apabila tidak menjalani peraturan tersebut dapat terkena saksi
sesuai Undang-Undang Nomor 36 tahun 2009 dalam pasal 200 dan 201 yaitu
ancaman pidana kurangan paling berat selama 1 tahun dan denda maksimal Rp.
100 juta. Untuk perusahaan, denda menjadi maksimal 3 kali lipat atau Rp. 300
juta dan ancaman pencabutan badan izin usaha.
Kondisi yang sama berlaku pada sarana umum seperti pusat
perbelanjaan, terminal dan stasiun kereta api. Keberhasilan dalam program
tersebut hanya tercapai 16,9% dari target 75%. Pencapaian keberhasilan hanya
sampai pada usia bayi tiga bulan saja, sedangkan pencapaian menurun setelah
bayi lebih dari tiga bulan, hal ini salah satunya dikarenakan pengetahuan ibu
yang kurang dan ibu yang bekerja (Dinkes Kabupaten Bandung, 2016).
Dampak bayi tidak diberikan ASI eksklusif diantaranya bayi lebih
sering menderita diare, bayi mudah alergi terhadap zat makanan tertentu,
terjadinya malnutrisi, menurunnya daya tahan tubuh bayi sehingga bayi cepat
terkena penyakit infeksi, terjadi obstruksi usus karena usus bayi belum mampu
melakukan gerak peristaltik secara sempurna (Narendra, 2012).
Puskesmas Sumbersari dengan alamat lengkap Jl. Sumbersari Desa
Sumbersari Kecamatan Ciparay kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat.
Puskesmas Sumbersari memiliki wilayah kerja di 4 desa diantaranya desa
Sumbersari, desa Serangmekar, desa Ciheulang dan Desa Bumiwangi. Jarak
tempuh terjauh sekitar 10 km dan bisa ditempuh dengan kendaraan roda empat
maupun roda dua. Cakupan ASI eksklusif terendah (4,91%) dibandingkan
dengan Puskesmas di Ciparay yaitu Puskesmas Ciparay DTP (11,73%) dan
Pueksmas Pakutandang (10,21%).
Kabupaten Bandung didapatkan cakupan ASI eksklusif pada tahun 2017
sebesar 4,91% sesuai dengan data dari Dinkes Kabupaten Bandung dengan data
jumlah bayi sebanyak 590 orang yang tidak ASI eksklusif yaitu sebanyak 561
bayi (95,08%) dan yang diberikan ASI eksklusif hanya 29 orang (4,02%), peran
tenaga kesehatan selama ini memberikan informasi kepada ibu tentang ASI
eksklusif pada saat ibu datang memeriksakan bayi namun belum pernah ada
evaluasi mengenai informasi yang diberikan oleh tenaga kesehatan.
Keberhasilan Ibu menyusui memerlukan peran petugas kesehatan
terutama petugas pelayanan perinatal seperti bidan yang terlatih dan mengerti
akan proses menyusui.Oleh karena itu, pada trimester III adalah waktu yang
tepat pula untuk mempersiapkan ibu untuk menyusiu ASI eksklusif, untuk
meningkatkan pengetahuan ibu hamil pada trimester III tentang ASI eksklusif
perlu dilakukan konseling dan pemberian informasi lebih mendalam sehingga
memberikan pengetahuan yang baik mengenai ASI eksklusif. Pengetahuan,
sikap dan tindakan petugas kesehatan seperti bidan adalah faktor penentu
kesiapan petugas dalam mengelola Ibu menyusui dengan tata laksana laktasi
(manajemen laktasi) sehingga pelaksanaan ASI Eksklusif meningkat
(Soetjiningsih, 2010).
Selanjutnya peneliti melakukan wawancara terhadap lima orang ibu
dengan bayi usia 6-12 bulan yang tidak memberikan ASI eksklusif didapatkan
4 orang ibu tidak mengetahui tentang bayi yang harus diberikan ASI saja
sampai 6 bulan, 5 orang ibu mengatakan bahwa mereka sudah memberikan MP
ASI dikarenakan bayi tampak lapar. Didapatkan dari 5 orang ibu tersebut
mengatakan bayinya sering mengalami diare setidaknya 3 bulan sekali. Studi
pembanding di wilayah kerja Pukesmas Pakutandang dengan cakupan ASI
eksklusif yang rendah dan masih dalam satu kecamatan Ciparay merupakan
urutan kedua terendah setelah Puskesmas Sumbersari sehingga dijadikan
tempat untuk uji validitas.
tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Gambaran faktor-faktor
yang berhubungan dengan rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan
bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten
Bandung tahun 2018”.
1.2 Rumusan Masalah
faktor-faktor yang berhubungan dengan rendahnya cakupan ASI eksklusif pada
ibu dengan bayi usia 6-12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari
Kabupaten Bandung tahun 2018?
Untuk mengetahui gambaran faktor-faktor yang berhubungan
dengan rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi usia 6-
12 bulan di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung
tahun 2018.
1. Mengetahui rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi
usia 6-12 bulan berdasarkan usia ibu di wilayah kerja Puskesmas
Sumbersari Kabupaten Bandung tahun 2018.
2. Mengetahui rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi
usia 6-12 bulan berdasarkan pendidikan ibu di wilayah kerja
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung tahun 2018.
3. Mengetahui rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi
usia 6-12 bulan berdasarkan pekerjaan ibu di wilayah kerja
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung tahun 2018.
4. Mengetahui rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi
usia 6-12 bulan berdasarkan pengetahuan ibu di wilayah kerja
Puskesmas Sumbersari Kabupaten Bandung tahun 2018.
5. Mengetahui rendahnya cakupan ASI eksklusif pada ibu dengan bayi
usia 6-12 bulan berdasarkan sikap ibu di wilayah kerja Puskesmas
Sumbersari Kabupaten Bandung tahun 2018.
6. Mengetahui gambaran pengetahuan berdasarkan usia, pendidikan,
pekerjaan dan sikap ibu di wilayah kerja Puskesmas Sumbersari
Kabupaten Bandung tahun 2018.
rendahnya cakupan ASI eksklusif.
1.4.2 Bagi Institusi Pendidikan
serta memberikan motivasi untuk peneliti selanjutnya untuk
meneruskan penelitian ini ke tahap yang lebih seperti mencari faktor-
faktor lain yang mempengaruhi cakupan ASI eksklusif.
1.4.3 Bagi Tempat Penelitian
bidan praktek swasta. Dan hasil penelitian bisa dijadikan suatu
identifikasi masalah dalam upaya meningkatkan cakupan ASI eksklusif.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 ASI
dalam proses pertumbuhan dan pengembangan bayi (Marmi, 2012).
ASI adalah cairan putih yang dihasilkan oleh kelenjar payudara
ibu melalui proses menyusui. ASI merupkan makanan yang disiapkan
untuk bayi mulai masa kehamilan payudara sudah mengalami perubahan
untuk memproduksi ASI. Makanan-makanan yang diramu menggunakan
teknologi modern tidak bisa menandingi keunggulan ASI karena ASI
mempunyai nilai gizi yang tinggi dibandingkan dengan makanan buatan
manusia ataupun susu yang berasal dari hewan sapi, kerbau atau kambing
(Soetjiningsih, 2012).
dibagi menjadi 3 yaitu:
kelenjar mamae yang mengandung tissue debris dan redual material
yang terdapat dalam alveoli dan ductus dari kelenjar mamae sebelum
dan segera sesudah melahirkan anak. Tentang kolostrum :
a. Disekresi oleh kelenjar mamae dari hari pertama sampai hari
ketiga atau hari keempat dari masa laktasi.
b. Komposisi kolostrum dari hari kehari berubah.
c. Merupakan cairan kental yang ideal yang berwarna kekuning-
kuningan lebih kuning dibandingkan ASI Mature.
d. Merupakan suatu laxanif yang ideal untuk membersihkan
meconeum usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran
pencernaan bayi untuk menerima makanan selanjutnya.
e. Lebih banyak mengandung protein dibandingkan ASI Mature,
tetapi berlainan dengan ASI Mature dimana protein yang utama
adalah casein pada kolostrum protein yang utama adalah globulin,
sehingga dapat memberikan daya perlindungan tubuh terhadap
infeksi.
yang dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai 6 bulan
pertama.
dengan ASI Mature.
h. Total energi lebih rendah dibandingkan ASI Mature yaitu 58
kalori/100ml kolostrum.
i. Vitamin larut lemak lebih tinggi. Sedangkan vitamin larut dalam
air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
j. Bila dipanaskan menggumpal, ASI Mature tidak.
k. PH lebih akalis dibandingkan ASI Mature.
l. Lemaknya lebih banyak mengandung cholestrol dan lecitin
dibandingkan ASI Mature.
usus bayi menjadi kurang sempurna, yang akan menambah kadar
antibodi pada bayi.
a. Merupakan ASI peralihan dari kolostrum menjadi ASI Mature.
b. Disekresi dari hari ke-4 hari ke-10 dari masa laktasi, tetapi ada
pula yang berpendapat bahwa ASI Mature baru akan terjadi pada
minggu ke3 sampai ke-5.
karbohidrat semakin tinggi.
a. ASI yang disekresi pada hari ke-10 dan seterusnya, yang
dikatakan komposisinya relatif konstan, tetapi ada juga yang
mengatakan bahwa minggu ke-3 sampai ke-5 ASI komposisinya
baru konstan.
b. Merupakan makanan yang dianggap aman bagi bayi, bahkan ada
yang mengatakan pada ibu yang sehat ASI merupakan makanan
satu-satunya yang diberikan selama 6 bulan pertama bagi bayi.
c. ASI merupakan makanan yang mudah didapat, selalu bersedia,
siap diberikan pada bayi tanpa persiapan yang khusus dengan
temperatur yang sesuai untuk bayi.
d. Merupakan cairan putih kuning-kuningan, karena mengandung
casienat, riboflaum dan karotin.
f. Volume : 300-850ml/24 jam.
bekteri dan virus, cell (phagocyle, granulocyle, macrophag,
lymhocyle type T), enzim (lyzosime, lactoperoxidese), protein
(lactoferrin, B12 Ginding Protein), faktor resisten terhadap
staphylococcus, dan complecement (C3 dan C4) (Marmi, 2012).
2.1.2 Alasan Pemberian ASI
dan kelebihan antara lain menurunkan resiko penyakit infeksi misalnya
: diare, infeksi saluran nafas dan infeksi telinga. Disamping itu ASI juga
bisa mencegah penyakit non infeksi misalnya alergi, obesitas, kurang
gizi, asma dan eksem. ASI dapat pula meningkatkan kecerdasan anak
(Sunardi, 2013).
penyakit seperti :
2. Infeksi saluran cerna lainnya
3. Infeksi saluran nafas
5. Faktor anti parasit
Faktor propektif yang meliputi :
EGF merupakan komponen terbanyak dari faktor
pertumbuhan yang terdapat dalam ASI yang mempunyai efek
terhadap poliferasi dan diferensiasi dari epitel sel usus.
2. Faktor-faktor kekebalan untuk tubuh bayi
a. Lactobacillus Bifidus cepat tumbuh dan berkembang biak dalam
saluran pencernaan bayi mendapat ASI. Hal ini dikarenakan ASI
mengandung polisakarida yang berkaitan dengan nitrogen, tidak
terdapat dalam susu formula. Kuman ini akan mengubah laktosa
yang banyak terdapat dalam ASI menjdai asam laktat dan asam
asetat dan situasi yang asam daripada cairan susu ini akan
menghambat pertumbuhan E.Colli jenis kuman yang paling
sering menyebabkan diare pada bayi.
b. Anti-stafilokok berkhasiat menghambat pertumbuhan
staphylokok
terhadap infeksi saluran makanan dan saluran pencernaan. IgA
dan IgE merupakan imunitas humoral. Secara elektrofetik,
kromatografik dan radio immuno assay telah terbukti bahwa ASI
terutama kolostrum mengandung immunoglobulin SigA, SigA
ini tahan terhadap enzym protelitik dalam saluran cerna dan
membentuk lapisan dipermukaan mukosa usus sehingga
mencegah bakteri patogen dan enterovirus untuk masuk
d. Komplemen C43 dan C4 berkhasiat sebagai daya opsonik,
kemotaktik dan anafilaktik. Walaupun jumlahnya kecil di dalam
ASI. Komplemen diaktifkan oleh IgA dan IgE yang terdapat di
dalam ASI.
lysozym dalam ASI adalah 300kali kadar dalam susu sapi.
f. Laktoperoksidase berkhasiat membunuh streptokok.
g. Sel darah putih (leukosit) berkhasiat sebagai fagositosis,
menghasilkan Sig A, C3, C4 dan laktoferin, leukosit sebagai
imunitas seluler, sembilan puluh persen dalam ASI terdiri dari
makrofag yang berfungsi untuk membunuh dan memfatogenesis
mikroorganisme, membentuk C3, dan C4 serta lisozym dan
laktoferin. Sepuluh persen lagi terdiri dari limfosit T dan B.
h. Laktoferin berkhasiat membunuh kuman dengan jalan merubah
ion zat besi (Fe). Laktoferin adalah protein yang terkait dengan
zat besi. laktoferin ini dapat mengahambat pertumbuhan
stapilokok dan E.Colli. Dengan cara mengikat zat besi sehingga
kuman tidak mendapat zat besi yang sangat dibutuhkan untuk
pertumbuhannya. Selain itu, laktoferin juga terbukti dapat
menghambat pertumbuhan jamur kandida (Marmi, 2012).
2.1.3 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Produksi ASI
Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi produksi ASI,
meliputi beberapa faktor sebagai berikut:
1. Makanan
dimakan ibu, apabila makanan ibu secara teratur dan cukup
mengandung gizi yang diperlukan akan mempengaruhi produksi
ASI, karena kelenjar pembuat ASI dapat bekerja dengan sempurna
tanpa makanan yang cukup. Untuk membentuk produksi ASI yang
baik, makanan ibu harus memenuhi jumlah kalori, protein, lemak,
dan vitamin serta mineral yang cukup. Bahan makanan yang
dibatasi untuk ibu menyusui :
b. Yang membuat kembung, seperti : ubi, singkong, kol, sawi, dan
daun bawang.
lemak.
Emosi dan keadaan psikis ibu sangat mempengaruhi refleks
pengaliran susu. Karena refleks ini mengontrol perintah yang
dikirim oleh hipotalamus pada kelenjar bawah otak. Bila
dipengaruhi ketegangan, cemas, takut, dan kebingungan, air susu
pun tidak akan turun dari alveoli menuju puting, hal ini sering
terjadi pada hari-hari pertama menyusui, saat refleks pengaliran
susu belum sepenuhnya berfungsi. Refleks pengaliran susu dapat
berfungsi baik hanya jika ibu merasa rileks dan tenang, tidak tegang
ataupun cemas. Suasana ini bisa dicapai bila ibu punya kepercayaan
diri dan istirahat cukup, serta tidak kelelahan. Mendengar suara
tangis bayi atau bahkan memikirkan bayi bisa menyebabkan refleks
pengaliran susu bekerja, sehingga susu pun tidak bisa memancar.
3. Penggunaan alat kontrasepsi
kontrasepsi hendaknya diperhatikan karena pemakaian kontrasepsi
yang tidak tepat dapat mempengaruhi jumlah produksi ASI.
4. Perawatan payudara
kehamilan. Karena perawatan yang benar akan memperlancar
produksi ASI. Dengan merangsang payudara akan mempengaruhi
hypopise untuk mengeluarkan hormon progesteron, estrogen dan
oksitosinlebih banyak lagi. Hormon oksitosin akan menimbulkan
kontraksi pada sel-sel lain sekitar alveoli (lubang-lubang kecil di
paru-paru) mengakibatkan susu mengalir turun kearah puting,
sehingga bisa diisap bayi.
berkurang. Dengan demikian produksi ASI juga berkurang karena
sel-sel acini yang menghisap zat-zat makan dari pembuluh darah…

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended