Home > Documents > Askes Tentang Drg Klwrga

Askes Tentang Drg Klwrga

Date post: 18-Feb-2015
Category:
Author: diah-andryantini
View: 117 times
Download: 1 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 60 /60
BULETIN BULANAN PT ASKES (PERSERO) EDISI JUNI 2010 INFO ASKES Gatot Soetono (Pakar Dokter Keluarga dari IDI) ALTERNATIF PELAYANAN KESEHATAN BERBASIS DOKTER KELUARGA “KITA KEKURANGAN DOKTER KELUARGA YANG ANDAL”
Transcript

INFOASKESBULETIN BULANAN PT ASKES (PERSERO) EDISI JUNI 2010

Alternatif Pelayanan Kesehatan BerbasisGatot Soetono

Dokter Keluarga(Pakar Dokter Keluarga dari IDI)

KITA KEKURANGAN DOKTER KELUARGA YANG ANDAL

Service to be

ExcellentHealth Insurance Specialist

www.ptaskes.com

DARI CEO

S

aat ini kita akan segera memasuki paruh kedua tahun 2010. Tanpa terasa hampir 5 bulan waktu ditahun 2010 ini telah kita lalui. Sebagai perusahaan yang selalu mengutamakan layanan terbaik kepada pesertanya maka perjalanan waktu setengah tahun ini merupakan saat yang tepat untuk melakukan evaluasi pelaksanaan atas semua rencana yang kita buat di untuk tahun 2010 ini. Tahun 2010 ini merupakan tahun ke dua periode transformasi korporasi dengan sasaran utama adalah pencitraan yang semakin baik untuk dapat menumbuhkan rasa percaya dan rasa bangga semua pemangku kepentingan kepada PT Askes (Persero). Para pembaca yang budiman, Salah satu upaya pencitraan yang ingin kami tingkatkan adalah pelayanan peserta pada Rawat Jalan Tingkat Pertama yang saat ini dilaksanakan melalui Puskesmas. Dari hasil survey kepuasan peserta pelayanan kesehatan di Puskesmas banyak mendapat sorotan dan keluhan peserta karena ketiadaan dokter dan faktor lainnya. Puskesmas yang seyogyanya sebagai tempat pelayanan dasar dan berperan sebagai gate keeper dalam konsep managed care akhirnya hanya dijadikan sebagai tempat mengambil rujukan saja. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan. Mulai tahun 2010 ini peserta diberi kebebasan untuk menentukan pilihan pelayanan melalui dokter umum, klinik dokter 24 jam, Puskesmas. Pengalihan tempat pelayanan ini sudah tentu menjadi sesuatu yang baru bagi peserta dan untuk itu perlu sosialisasi yang intensif melalui berbagai cara dan media. Berkaitan dengan hal tersebut saya sungguh menyambut baik keinginan Redaksi Buletin Info Askes di bulan Juni ini membahas secara lebih mendalam tentang apa itu Dokter Keluarga, dimana dan bagaimana cara menjadi peserta pada dokter keluarga tersebut, serta apa peran dokter keluarga yang diharapkan oleh PT Askes (Persero) dan pesertanya. Semua itu akan menjadi fokus bahasan pada bulan ini dan sebagai bentuk upaya sosialisasi yang baik tentang Dokter Keluarga.

Pembaca yang saya hormati dan banggakan,

Tentu saja Duta Askes tidak akan berpuas diri dengan pencapaian-pencapaian tersebut. Ke depan, masih diperlukan kerja keras lagi untuk mewujudkan layanan yang melampaui harapan pelanggan melalui Dokter Keluarga, Puskesmas serta fasilitas kesehatan lainnya.

Konsep Dokter Keluarga di dalam sistem managed care tentulah sangat penting. Kita patut berbesar hati, tahun ini telah terseleksi sebanyak 1900 lebih dokter dari 3.750 dokter yang kita targetkan menjadi Dokter Keluarga Askes. Peserta yang sudah mendaftar di Dokter Keluarga Askes telah mencapai 1,5 juta peserta dari target 7,5 juta peserta. Tentu saja PT Askes (Persero) tidak akan berpuas diri dengan pencapaian-pencapaian tersebut. Ke depan, masih diperlukan kerja keras bagi seluruh Duta Askes untuk mewujudkan layanan Dokter Keluarga yang semakin baik dan berkualitas bagi peserta. Menyadari pula bahwa Puskesmas memiliki peran penting dan penanggung jawab utama dalam pelayanan tingkat dasar di wilayahnya maka PT Askes (Persero) selalu bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan untuk membangun kualitas layanan yang semakin baik di Puskesmas bagi masyarakat dan khususnya peserta Askes. Kami haturkan selamat berkarya dan terima kasih kepada jajaran Dinas Kesehatan, Puskesmas dan juga para Dokter Keluarga Askes. Kepada seluruh Duta Askes kami sampaikan penghargaan atas kerja keras saudara, mari kita tetap menjaga komitmen kita untuk memberikan layanan melampaui harapan. Semoga Tuhan memberkati usaha kita, amin.

Salam,

I Gede Subawa Direktur Utama PT Askes (Persero)

JUNI 2010

INFOASKES

3

SALAM REDAKSI

Buletin Bulanan PT Askes (Persero)B u l e t in di t e r bi t kan o l e h :

INFOASKESPT Askes (Persero)

Salam jumpa pembaca setia,alam hangat selalu, kami, redaksi Buletin Info Askes, senantiasa ucapkan kepada seluruh pembaca setia. Semoga kehangatan ini semakin mendorong kami untuk terus memberikan informasiinformasi terhangat yang edukatif. Seperti pada edisi kali ini, kami mengangkat topik tentang Dokter Keluarga. Sebagai penyelenggara asuransi kesehatan terpercaya di Indonesia, PT Askes (Persero) terus meningkatkanpelayanan kepada peserta. PT Askes (Persero) meningkatkan layanan tingkat pertama berbasis Dokter Keluarga. Pada tahun 2010 ini, Dokter Keluarga harus melihat pasien secara keseluruhan, dari hulu ke hilir, dalam arti pasien yang merupakan peserta Askes mendapatkan layanan mulai dari pelayan Rawat Jalan Tingkat Pertama (RJTP), lalu upaya-upaya promotif dan preventif, hingga rehabilitatif. Kami juga menampilkan upaya para Duta Askes di Kantor PT Askes (Persero) Cabang Utama Tangerang dan Regional VII dalam menjalankan program Dokter Keluarga. Melalui program Dokter Keluarga Mandiri, KCU Tangerang dan KR VII dapat memberikan pelayanan yang melampaui harapan bagi seluruh peserta Askes. Profil Puskesmas Batuceper, RSUD Soetomo, Siloam Hospital, dan Dokter Keluarga Hermawan tersaji dalam Rubrik Mitra dengan maksud pembaca dapat mengetahui proses pengimplementasian ini. Kami berharap pembaca setia Buletin Info Askes dapat menikmati setiap informasi-informasi yang dikupas sehingga media ini terus menjadi jembatan komunikasi dan informasi yang efektif antara PT Askes (Persero) dengan para stakeholder-nya. Akhir kata, kami ucapkan, selamat membaca! Redaksi

S

Jln. Letjen Suprapto PO BOX 1391/JKT Jakarta Pusat Tlp. (021) 4246063, Fax. (021) 4212940 ISSN : 2086-0536

Pengarah Direktur Utama Penanggung Jawab Direktur SDM & Umum Direktur Operasional Pemimpin Umum Sekretaris Perusahaan Pimpinan redaksi Kepala Bidang Humas Penasehat hukum Kepala Bidang Hukum Sekretaris Sri Wahyuningsih Sekretariat Sayun Dulrochmat Eko Yulianto Redaktur Ida Iusdiani Chandra Nurcahyo Donny Hendrawan Arief Syaefudin Tafip Hermansyah Angga Firdauzie Widianti Utami Lia Lucyana Maliki Sasongko Distribusi & Pengadaan Basuki Syahriadi Kusuma Jaya

S U R AT P E M B A C Aemail : [email protected] Fax : (021) 57853226

Salut untuk Duta AskesHalo Buletin Info Askes, Salam sejahtera untuk segenap redaksi Buletin Info Askes. Sejujurnya, melalui semangat para Duta Askes, saya mulai merasakan visi PT Askes (Persero) untuk memberikan pelayanan yang melampaui harapan. Mereka tidak sekadar memberi pelayanan kesehatan di rumah sakit, tetapi membuka wawasan saya tentang perkembangan dunia asuransi. Tampak tak ada lelah sedikit pun di raut wajah mereka. Saya mendapatkan pelayanan prima dari para Duta Askes di Askes Center Soetomo. Terima kasih untuk seluruh Duta Askes di Askes Center Soetomo atas pelayanannya. Terima kasih juga untuk redaksi Buletin Info Askes! Dwi, Surabaya Salam sejahtera bagi Anda. Tentunya menjadi harapan bagi seluruh Duta Askes untuk memberikan pelayanan yang melampaui harapan. Terima kasih atas masukannya dan tetap membaca Buletin Info Askes. Redaksi

co publisher PT Media Citra Solusi Komunikasi Jln. Bendungan Jatiluhur 19, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat, 10210. Telp. (021) 5737331 Fax. (021) 57853226. [email protected] www.mediacitra.co.id dicetak oleh PT Gramedia Printing Group

D esain S ampul Tim Kreatif MediaCitra Redaksi menerima tulisan artikel/opini berkaitan dengan tema seputar Askes maupun tema-tema kesehatan lainnya yang relevan dengan pembaca yang ada di Indonesia. Panjang tulisan maksimal 7.000 karakter (termasuk spasi), dikirimkan via email ke alamat: [email protected] dilengkapi dengan identitas lengkap dan foto penulis.

4

INFOASKES

JUNI 2010

IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIII

DAFTAR ISI IIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIjuni 2010

66 FOKUS 22 KANTOR ASKES

18Kantor PT Askes (Persero) Regional VII

424 4 14 21 33 38 40 42 44 46 48 50 59 SALAM REDAKSI SURAT PEMBACA KABAR PESERTA ASKES CENTER KILAS & PERISTIWA OPINI PROMKES CSR WAJAH TANYA ASKES TANYA DOKTER TESTIMONI GAYA HIDUP

ALTERNATIF PELAYANAN KESEHATAN BERBASIS DOKTER KELUARGAPelayanan kesehatan yang bermutu, efektif, serta efisien merupakan hakikat yang diperlukan dalam mewujudkan sistem kesehatan yang berkeadilan dan berkesinambungan. Hakikat tersebut layaknya dapat terkondisikan di setiap lini pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. PT Askes (Persero) selaku badan penyelenggara Jaminan Pelayanan Kesehatan memiliki komitmen yang besar untuk mewujudkan hakikat tersebut. Keseriusan ini terefleksi dengan jelas dalam denyut kontekstual tentang program yang disediakan bagi pesertanya.

Tercapainya Universal Coverage di Jawa Timur 26 MITRA

Si loam Hospital Lippo Karawaci

Jangkau Masyarakat dengan Layanan Bedah Syaraf dan Jantung Berstandar InternasionalRSUD dr. Soetomo, Surabaya

18

BINCANG

Gatot Soetono

(Pakar Dokter Keluarga dari IDI)

Rumah Sakit Rujukan Kelas A di Indonesia TimurP u s k e s m a s B a t u c e p e r, Ta n g e r a n g

KITA KEKURANGAN DOKTER KELUARGA YANG ANDALAda sebuah perhitungan sederhana nan logis, ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, sekitar 15 persen saja yang tergolong masyarakat berisiko menjadi penyandang (perawatan akibat penyakit yang butuh penanganan khusus). Sisanya, 85 persen masyarakat tergolong masyarakat sehat atau kalaupun sakit hanya dijangkiti penyakit yang dapat diobati oleh dokter primer atau bisa juga disebut dengan Dokter Keluarga.

Jangkau Masyarakat dengan Pelayanan Tuberkulosis dan Promotif-Preventifdr. Hermawan

Pengabdian bagi Kampung Halamanku

Bersiap Menjadi Penyelam

52

SEHAT

Buah Cinta Belum Hadir,JUNI 2010

Mungkin InfertilINFOASKES

5

FOKUS

Alternatif Pelayanan Kesehatan Berbasis Dokter KeluargaPelayanan kesehatan yang bermutu, efektif, serta efisien merupakan hakikat yang diperlukan dalam mewujudkan sistem kesehatan yang berkeadilan dan berkesinambungan. Hakikat tersebut layaknya dapat terkondisikan di setiap lini pelayanan kesehatan yang dibutuhkan oleh masyarakat. PT Askes (Persero) selaku badan penyelenggara Jaminan Pelayanan Kesehatan memiliki komitmen yang besar untuk mewujudkan hakikat tersebut. Keseriusan ini terefleksi dengan jelas dalam denyut kontekstual tentang program yang disediakan bagi pesertanya.

6

INFOASKES

JUNI 2010

FOKUS

PPK pelayanan dasar merupakan kunci utama pelayanan kesehatan sebagaimana digariskan dengan Sistem Kesehatan Nasional. Olehkarena itu, optimalisasi PPK pelayanan dasar telah ditetapkan sebagai salah satu strategi utama untuk memenuhi harapan peserta terhadap pelayanan yang bermutu dan aman.Umbu M. Marisi Direktur Operasional PT Askes (Persero)

arapannya, jika programprogram tersebut terselenggara dengan baik, perkembangan asuransi kesehatan akan semakin pesat sehingga dapat dikembangkan untuk melayani masyarakat luas. Hingga saat ini, pengembangan jasa layanan yang telah dilakukan terus mendukung profesionalisme kerja dilakukan seharihari. Ke depan, PT Askes (Persero) akan memenuhi amanat UU No. 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) sebagai Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) di ranah kesehatan. Keseluruhan program-program ini bertumpu seutuhnya pada upaya optimalisasi peran Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK) di setiap lini pelayanan melalui mekanisme sistem rujukan. Sistem tersebut sangat memerlukan keterlibatan dan komitmen seluruh

H

PPK terutama PPK pelayanan dasar, ujar Umbu M. Marisi, Direktur Operasional PT Askes (Persero) beberapa waktu yang lalu. Umbu M. Marisi juga menambahkan, PPK pelayanan dasar merupakan kunci utama pelayanan kesehatan sebagaimana digariskan dengan Sistem Kesehatan Nasional. Oleh karena itu, optimalisasi PPK pelayanan dasar telah ditetapkan sebagai salah satu strategi utama untuk memenuhi harapan peserta terhadap pelayanan yang bermutu dan aman. Strategi untuk mengoptimalkan PPK pelayanan dasar pada dasarnya sejalan dengan konsep pelayanan berbasis managed care yang dijalankan PT Askes (Persero). Konsep tersebut mengintegrasikan antara pelayanan kesehatan yang bermutu dengan rasionalitas biaya. Pelayanan tingkat pertama berperan sebagai gate keeper yang menentukan sejauh mana peserta

membutuhkan pelayanan pada tingkat lanjutan sesuai kebutuhan medisnya. Pada awalnya, Puskesmas merupakan PPK dasar utama bagi peserta Askes. Hal ini didasarkan pada Keputusan Menteri Kesehatan yang telah ditetapkan. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, seiring dengan peran Puskesmas sebagai penyangga upaya kesehatan masyarakat, muncul keluhan-keluhan peserta menyangkut pelayanan khususnya, yakni pelayanan kuratif yang diberikan oleh Puskesmas. Misalnya, sedikit peserta yang memiliki kesempatan untuk ditangani langsung oleh dokter, lalu terbatasnya waktu pelayanan, keterbatasan pelayanan obat, dan lain sebagainya, tambah Umbu M. Marisi. Dokter Keluarga, Optimalisasi Managed Care Untuk merespon gejala tersebut, pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama

JUNI 2010

INFOASKES

7

FOKUS(RJTP) mulai dilakukan oleh Dokter Keluarga sejak tahun 2003. Harapannya adalah tercapainya kepuasan peserta Askes dan optimalisasi peran PPK dasar sebagai gate keeper. Di samping itu, dari hasil survei, kepuasan peserta Askes (Customer Satisfaction) setiap tahunnya tergambar dengan jelas adanya peningkatan permintaan (demand) peserta terhadap layanan Dokter Keluarga. Oleh karena itu, PT Askes (Persero) memperluas target cakupan peserta pada pelayanan RJTP berbasis Dokter Keluarga pada tahun 2010 ini. Hal ini disampaikan disampaikan oleh Kepala Divisi Jaminan Pelayanan Kesehatan dr. Maya Amiarny Rusady kepada Buletin Info Askes. Ditambahkan pula oleh Maya, selain perluasan cakupan peserta, juga dilakukan perluasan pelayanan gigi di Dokter Keluarga. Sesuai dengan UU SJSN No. 40, PT Askes (Persero) telah menyesuaikan Anggaran Dasar perusahaan menjadi not for profit sehingga PT Askes (Persero) saat ini tidak lagi mengelola program Askes Komersial dan hanya pure mengelola Askes Sosial. Kita juga tidak lagi diwajibkan menyetor deviden kepada pemerintah. Oleh karena itu, seluruh sisa hasil usaha PT Askes (Persero) dikembalikan untuk kemanfaatan maksimal bagi peserta Askes. Selama ini PT Askes (Persero) selaku badan penyelenggara menjalankan program berdasarkan managed care system, namun ada salah satu unsur dalam managed care tersebut yang belum dilaksanakan secara sempurna yaitu dari aspek promotif dan preventif. Dimana peserta tidak hanya dilayani pada saat sakit saja, tetapi juga mendapatkan pelayanan promotif preventif sebelum sakit. Pelayanan ini dapat diberikan salah satunya melalui pelayanan RJTP yang berkualitas dimana peserta dilayani secara lebih individu oleh Dokter. Untuk itu, salah satu upaya yang dilakukan adalah kita ingin meningkatkan mutu pelayanan di RJTP dengan menyediakan alternatif pelayanan dasar berbasis Dokter Keluarga. Artinya pelayanan tersebut bersifat optional, tidak memaksa dan bukan mengalihkan pelayanan dari Puskesmas, tutur Maya. Secara umum, program perluasan pelayanan RJTP di Dokter Keluarga memiliki tujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan tingkat pertama bagi peserta Askes. Di samping itu, ada tujuan khusus yang hendak dicapai melalui program ini, di antaranya tercapainya pola hubungan yang baik antara dokter dan pasien. Di Dokter Keluarga, optimalisasi fungsi gate keeper juga dapat terwujud karena sesuai dengan prinsip managed care. Dengan begitu, diharapkan akan terjadi peningkatan pengendalian mutu dan biaya pelayanan kesehatan peserta Askes. Selain itu, terdapat pula peningkatan yang signifikan dari sisi manfaat pelayanan di Dokter Keluarga, seperti yang terlihat dalam tabel berikut. Jenis Pelayanan Sebelum Fokus pada pelayanan kuratif Apotik dan Dispendingdr. Maya Amiarny Rusady, Kepala Divisi Jaminan Pelayanan Kesehatan PT Askes (Persero)

Sesudah Fokus pada upaya promotif dan preventif Apotik dan Dispending

Pelayanan Medik

Pelayanan Obat Pelayanan Laboratorium Sederhana Besaran Kapitasi

Tidak Ada

Darah dan urin rutin Rp 5.500,- s/d Rp 6.500,sesuai hasil kredensialing dan komposisi peserta terdaftar Komputerisasi Penilaian Kapitasi sarana dan prasarana sesuai standar PDKI Workshop dan modul Dokter Keluarga

Rp 2.500,-

Pencatatan

Manual

Rekruitmen Standar Kompetensi Dokter Keluarga

Sesuai perminatan

Tidak ada

8

INFOASKES

JUNI 2010

FOKUSDengan tidak mengembalikan deviden tadi serta ketersediaan premi yang ada, kita kan berkewajiban untuk meningkatan manfaat atas premi yang tersedia. Nah, momentumnya sangat tepat untuk meningkatkan pelayanan berbasis Dokter Keluarga tadi. Dimana kapitasi Dokter Keluarga akan dinaikkan dari Rp. 2.500,- per kapita, menjadi tiga klasifikasi, yakni pertama sebesar Rp. 5.500, Rp. 6.000,- dan Rp. 6.500,-. Kapitasi ini bisa diberikan kepada Dokter Keluarga berdasarkan hasil credentialing atas kompetensi serta fasilitas pelayanan di dokter tersebut. Kalau dia bersedia memberikan pelayanan lengkap bisa menggunakan kapitasi yang paling tinggi. Namun jika pelayanannya lebih sederhana maka menggunakan kapitasi yang paling rendah, jelas Maya. Untuk itu Dokter Keluarga dengan sendirinya harus meningkatkan kualitas layanan yang diberikan. PT Askes (Persero) menetapkan beberapa syarat antara lain kompetensi fungsional, sarana, SDM dan pelayanan penunjang. Pihak Askes akan melakukan kunjungan lapangan untuk melihat bagaimana kesiapan para Dokter Keluarga untuk memberikan pelayanan. Dalam hal ini, tidak tertutup kemungkinan seandainya Puskesmas juga dapat memberikan pelayanan berbasis Dokter Keluarga dan mempunyai hasil credentialing yang sesuai dengan ketentuan yang telah kami tetapkan, maka Puskesmas dapat menjadi Dokter Keluarga dengan kapitasi tersebut. Target kita tahun ini sebanyak 7,5 juta peserta di seluruh Indonesia dapat memanfaatkan pelayanan RJTP berbasis Dokter Keluarga ini. Karena hal ini bersifat optional, artinya peserta tidak dipaksa maka kita harus membuat hal ini menarik. Strateginya antara lain adalah melakukan sosialisasi, mapping serta meningkatkan kapitasi. Banyak peserta yang belum mengenal konsep pelayanan Dokter Keluarga dan hal ini merupakan tantangan bagi kami. Disisi lain ada beberapa wilayah dimana pemerintah setempat belum menyambut baik program ini, sehingga sosialisasi tentang pelayanan berbasis Dokter Keluarga kepada peserta, para dokter termasuk Puskesmas, Dinas Kesehatan dan Pemerintah setempat merupakan kunci

Keseluruhan upaya-upaya ini dan segala penyempurnaan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada peserta. Hal ini sejalan dengan tema korporasi yang ditetapkan, yakni memberikan pelayanan melampaui harapan pelanggan. Selain itu, strandarisasi kompetensi, sarana, dan prasarana Dokter Keluarga merupakan wujud nyata terhadap program pemerintah sebagaimana tertuang dalam Sistem Kesehatan Nasional. Diharapkan program pelayanan RJTP berbasis Dokter Keluarga ini dapat menjadi inovasi yang gemilang bagi kemaslahatan seluruh masyarakat, tutup Maya.yang harus terus dilakukan. Berikutnya adalah melakukan mapping yang baik untuk kebutuhan penyediaan Dokter Keluarga serta menerapkan kapitasi sesuai hasil credentialling. Untuk itu, sejak program ini ditetapkan, hal pertama yang harus dilakukan adalah melakukan mapping, baik mapping peserta, dokter serta Puskesmas kemudian memilih pelaksanaan di daerah potensial. Misalnya, di daerah tersebut berapa banyak pesertanya, bagaimana animo peserta, lalu bagaimana kondisi pelayanan di Puskesmas, antriannya, termasuk dalam pemberdayaan klinik 24 jam, jelas Maya. Prolanis seiring Perkembangan Dokter Keluarga Bersamaan dengan perluasan Dokter Keluarga dan jangkauan kepesertaan di Dokter Keluarga, juga dilakukan upaya peningkatan pelayanan-pelayanan yang mendukung program Dokter Keluarga, misalnya sistem pelayanan rujuk-balik. PT Askes (Persero) bersama dengan perhimpunan profesi akan membuat semacam clinical guide line bagi Dokter Keluarga untuk menentukan sejauh mana seorang pasien dapat ditangani di Dokter Keluarga serta kapan seharusnya pasien di rujuk. Demikian pula kapan seorang pasien di rujuk balik untuk ditangani kembali oleh Dokter Keluarga. Rujuk balik ini kebanyakan diperuntukkan bagi peserta penderita penyakit kronis. Diharapkan dengan pola rujuk balik ini, setelah peserta ditangani Dokter Spesialis maka kedepannya peserta bisa dikembalikan untuk ditangani Dokter Keluarga sehingga peserta tidak perlu bolak-balik ke Rumah sakit hanya untuk mendapatkan obat penyakit kronis. Dokter Keluarga dapat juga memberikan resep obat kronis sesuai dengan gudie line tadi. Peserta dapat kembali ke Dokter Spesialis dalam 2-3 bulan sekali untuk kontrol dan sebagainya. Dampaknya, jika program ini berjalan dengan baik, kita akan membantu mengurangi beban rumah sakit, yakni dapat mengurangi minimal 10 persen kunjungan,sehingga rumah sakit tidak menjadi semacam Puskesmas raksasa. Selain itu, akan ada penyuluhan yang dilakukan oleh Dokter Keluarga bekerja sama dengan Askes, seminar kesehatan bersama Dokter Ahli dan dibuat leaflet promosi kesahatan untuk meningkatkan pengetahuan dan kesadaran peserta akan hidup sehat. Keseluruhan upaya-upaya ini dan segala penyempurnaan yang dilakukan pada prinsipnya bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan yang diberikan kepada peserta. Hal ini sejalan dengan tema korporasi yang ditetapkan, yakni memberikan pelayanan melampaui harapan pelanggan. Selain itu, strandarisasi kompetensi, sarana, dan prasarana Dokter Keluarga merupakan wujud nyata terhadap program pemerintah sebagaimana tertuang dalam Sistem Kesehatan Nasional. Diharapkan program pelayanan RJTP berbasis Dokter Keluarga ini dapat menjadi inovasi yang gemilang bagi kemaslahatan seluruh masyarakat, tutup Maya.

JUNI 2010

INFOASKES

9

FOKUS

Masyarakat Indonesia Butuh Sentuhan

Dokter Keluarga

Barang kali, banyak di antara kita yang masih bingung dengan pengertian Dokter Keluarga. Nyatanya, sampai sekarang, layanan Dokter Keluarga ini belum memasyarakat. Bahkan, di kalangan para dokter istilah ini pun masih rancu. Sebagian menafsirkan bahwa Dokter Keluarga itulah yang menangani keluarga-keluarga atau pelanggannya adalah keluarga. Sementara, sebagian lagi, justru menganggapnya sebagai bentuk kelas baru di antara yang sudah dikenal sebelumnya, seperti dokter umum dan dokter spesialis.

10

INFOASKES

JUNI 2010

FOKUS

Saat ini, rakyat Indonesia masih memerlukan high touch bukan high tech dalam bidang kesehatan. Artinya, rakyat kita masih perlu sentuhan dokter, pendekatan sosial, dan bukan teknologi yang tinggi. Penyakit yang sering muncul saat ini punsebenarnya tidak perlu terjadi jika semua orang melakukan pencegahan. Oleh karena itu, kehadiran Dokter Keluarga di tengah masyarakat sangat dinantikan. Apa bedanya Dokter Keluarga dengan dokter yang ada di Puskesmas saat ini?

dr. Hendrawan Nadesul, Anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI)

L

antas, siapa sebenarnya yang disebut Dokter Keluarga? Mereka adalah dokter yang bertanggung jawab melaksanakan pelayanan kesehatan personal, terpadu, berkesinambungan, dan proaktif yang dibutuhkan oleh pasiennya dalam kaitan sebagai anggota dari satu unit keluarga serta komunitas tempat pasien itu berada. Sifat pelayanannya meliputi peningkatan derajat kesehatan (promotif ), pencegahan (preventif ), kuratif (pengobatan), dan rehabilitatif.

Bila berhadapan dengan suatu masalah khusus yang tak mampu ditanggulangi, Dokter Keluarga bertindak sebagai koordinator dalam merencanakan konsultasi atau rujukan yang diperlukan kepada dokter spesialis yang lebih sesuai. Dari pengertian ini, terlihat jelas bahwa sifat dan layanan kesehatan Dokter Keluarga amat berbeda dengan dokter lain. Definisi yang ditetapkan oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun 1982 di atas sesuai dengan pengertian Dokter Keluarga yang disepakati oleh

The American Academic of General Practice dan Singapore College of General Practice. Menurut Dr. Hendrawan Nadesul, anggota Ikatan Dokter Indonesia (IDI), saat ini, rakyat Indonesia masih memerlukan high touch bukan high tech dalam bidang kesehatan. Artinya, rakyat kita masih perlu sentuhan dokter, pendekatan sosial, dan bukan teknologi yang tinggi. Penyakit yang sering muncul saat ini pun sebenarnya

JUNI 2010

INFOASKES

11

FOKUStidak perlu terjadi jika semua orang melakukan pencegahan. Oleh karena itu, kehadiran Dokter Keluarga di tengah masyarakat sangat dinantikan. Apa bedanya Dokter Keluarga dengan dokter yang ada di Puskesmas saat ini? Menurut saya, konseptor dari Departemen Kesehatan sering menganggap dokter Puskesmas sebagai Superman, serba bisa. Tugas dokter Puskesmas seharusnya membina masyarakat desa dan dua pertiga jam kerjanya di lapangan. Akan tetapi, apa yang sering kita lihat, dalam sehari mereka bisa melayani 150 pasien. Jadi, bisa saja pelayanan menjadi tidak berkualitas. Padahal, Puskesmas dikatakan berhasil ketika pasien yang datang sedikit karena masyarakatnya sehat. Idealnya, di Puskesmas ada dua dokter dan dokter itu harus melakukan pendekatan sosial. Contohnya, ketika pulang, pasien dibekali pengetahuan medis, seperti diberitahu cara mencuci tangan yang benar. Kelihatannya sepele, padahal cuci tangan bisa mencegah 10 penyakit. Akan tetapi, tugas itu kan sangat berat bagi dokter Puskesmas, jelas Hendrawan. Oleh karena itu, tambah Hendrawan, saat ini IDI sedang mengupayakan adanya Dokter Keluarga di tengah masyarakat, yang bisa melakukan upaya promosi dan preventif. Selain itu, juga akan dirancang tarif dokter yang ideal di masing-masing wilayah sehingga ada pemerataan dokter karena satu Dokter Keluarga menjaga kesehatan 2.500 warga. Mengapa kehadiran Dokter Keluarga menjadi penting? Karena belum semua masyarakat masuk asuransi, ongkos berobat masih terbilang tinggi, dan sistem layanan kesehatan pun belum memihak kepada pasien. Pasien pun sering salah dalam menentukan alamat berobat sehingga biaya berobat menjadi tinggi walaupun terkadang hasilnya pun tidak memuaskan. Dokter Keluarga akan mengenal betul kondisi medis seluruh anggota keluarga yang dibinanya. Bahkan sejak lahir, lengkap dengan rekam medisnya. Sekarang ini, hampir semua warga tidak memiliki riwayat penyakitnya atau rekam medisnya. Ini juga akan menyulitkan pemberian resep. Jadi, apa pun masalah medis yang dihadapi keluarga, Dokter Keluarga menjadi tempat bertanya, dan sekaligus berobat. Oleh karena itu, Dokter Keluarga sudah harus mengenal setiap anggota keluarga langganannya. Dengan demikian, setiap anggota keluarga terjamin akan selalu aman dalam berobat. Aman karena tidak mungkin dokter yang sudah sangat mengenal pasiennya akan membahayakan diri pasien, papar Hendrawan. Berbeda jika pasien berobat kepada dokter siapa saja, berganti-ganti dokter, atau sebut saja dokter selewat. Menurut Hendrawan, Dokter Keluarga juga akan lebih hati-hati dalam meresepkan obat atau sesuai dengan riwayat medis pasien. Dia tidak akan memberi obat yang langsung keras seperti dokter selewat karena Dokter Keluarga setiap hari akan terus memantau kondisi pasien. Kalau tidak perlu benar obat, dokter tidak meresepkannya. Berbeda dengan dokter yang tidak biasa menangani pasien tersebut, bisa saja memberi obat yang dinilai berkhasiat. Dokter Keluarga juga yang akan merujuk pasien ke alamat berobat yang paling tepat. Mungkin kepada sejawat yang sudah amat dikenalnya sehingga komunikasi medis demi kesembuhan terbaik pasien bisa terbangun. Tanpa Dokter Keluarga, pasien mungkin salah memilih alamat berobat. Padahal, alamat berobat menentukan tingkat keberhasilan penyembuhan penyakit, selain tidak harus boros, atau mungkin berakhir dengan hasil nihil. Apakah adanya Dokter Keluarga dapat mengurangi risiko malpraktik? Betul. Dokter Keluarga, sebagaimana halnya dokter pribadi, selalu siap setiap saat on call sehingga kejadian penyakit gawat tidak akan terlambat ditangani. Adanya Dokter Keluarga berarti juga akan memberdayakan dokter dan pemerataan tugas dokter. Kembalikan Konsep Dokter Keluarga Senada dengan Hendrawan, Ketua Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI), dr. Sugito Wonodirekso, juga berpendapat, belakangan ini, pemerintah berusaha mengembangkan kembali konsep pelayanan Dokter Keluarga. Caranya, tentu saja bukan dengan melahirkan pelayanan Dokter Keluarga yang bersifat spesialistis, atau mewajibkan dokter spesialis menerapkan prinsip-prinsip Dokter Keluarga. Satu-satunya pilihan yang tepat untuk mengembangkan pelayanan Dokter Keluarga di Indonesia adalah dengan lebih memantapkan dan menyempurnakan pelayanan Dokter Umum. Kualifikasi Dokter Keluarga adalah dokter umum plus. Ini terlihat dari konsekuensi pelayanannya, yakni sebagai health care manager bagi pasiennya. Sebagai contoh, rekam medis yang dibuatnya berbeda dengan yang dilakukan dokter umum. Rekam medisnya ditujukan untuk perawatan yang berkesinambungan. Jadi, rekam medis tidak hanya terjadi kala sakit, tetapi juga di saat sehat, jelas Sugito.

demikian, setiap anggota keluarga terjamin akan selalu aman dalam berobat. Aman karena tidak mungkin dokter yang sudah sangat mengenal pasiennya akan membahayakan diri pasien, papar Hendrawan.

Dokter Keluarga sudah harus mengenal setiap anggota keluarga langganannya. Dengan

12

INFOASKES

JUNI 2010

FOKUS

Kualifikasi Dokter Keluarga adalah dokter umum plus. Ini terlihat dari konsekuensi pelayanannya, yakni sebagai health care manager bagi pasiennya.Sebagai contoh, rekam medis yang dibuatnya berbeda dengan yang dilakukan dokter umum. Rekam medisnya ditujukan untuk perawatan yang berkesinambungan. Jadi, rekam medis tidak hanya terjadi kala sakit, tetapi juga di saat sehat, jelas Sugito.dr. Sugito Wonodirekso, Ketua Persatuan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI)

Dokter Keluarga juga dapat berperan mengedukasi masyarakat untuk meningkatkan dan mengawasi kesehatannya. Sistem tersebut juga mengurangi biaya kesehatan. Melihat peluang tersebut, PT Askes (Persero) mulai mengembangkan sistem Dokter Keluarga bagi anggotanya yang saat ini sekitar 16,2 juta pegawai negeri sipil. Direktur Operasional PT Askes (Persero), Umbu M. Marisi, mengatakan PT Askes (Persero) sudah mulai mengembangkan sistem Dokter Keluarga pada tahun 1995 di Jawa Timur dalam proyek bantuan Bank Dunia (HP4). Dari evaluasi program ini, diperoleh manfaat yang besar baik dari aspek mutu pelayanan maupun pengendalian biaya sehingga layak untuk dikembangkan di daerah lain. Dari hasil survei yang dilakukan di Jawa Timur tahun 2000, diperoleh gambaran bahwa kualitas pelayanan RJTP di Puskesmas jauh di bawah pelayanan

RJTP yang dilaksanakan pada praktik Dokter Keluarga. Berdasarkan itu semua, manajemen PT Askes (Persero) mengambil kebijakan untuk mengalihkan pelayanan RJTP dari Puskesmas ke Dokter Keluarga yang dilaksanakan secara bertahap. Pada tahun 2009, PT Askes (Persero) juga telah melakukan MoU bersama PB IDI terkait kerja sama untuk realisasi program Dokter Keluarga tersebut. Program ini akan membantu distribusi dokter di Indonesia secara merata. Sebab, nantinya bakal dibutuhkan ribuan dokter. Satu dokter nanti akan meng-handle 2.500 warga. Mereka bisa ditempatkan di berbagai daerah tanpa khawatir akan mendapat penghasilan rendah karena ada premi asuransi yang meng-cover kesejahteraan dokter. Kalau sekarang kan dokter enggan ditempatkan di daerah terpencil karena penghasilannya rendah. Nah,

nanti dengan sistem ini, mereka akan mendapat penghasilan yang memadai, tutur Umbu M. Marisi. Keuntungan lain, semua warga bisa mendapatkan pelayanan kesehatan yang optimal. Sebab, mereka memiliki dokter pribadi. Asuransilah yang meng-cover biaya kesehatan mereka. Sebagaimana diketahui, pemerintah akan menerapkan Sistem Jaminan Sosial Nasional sebagaimana yang diamanatkan UU No. 40 Tahun 2004 tentang SJSN. Jadi, tidak menuntut kemungkinan, program Dokter Keluarga ini akan berkembang ke depannya. Untuk tahun ini, target jumlah Dokter Keluarga Askes adalah 3.750 dan ditargetkan 7,5 juta jiwa peserta sendiri akan pindah untuk memanfaatkan pelayanan kesehatan dasar berbasis Dokter Keluarga.

JUNI 2010

INFOASKES

13

K A B A R P E S E RTA

Kota madiun

Jamkesda Menciptakan KeteraturanKeberadaan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak terlepas dari sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan yang tersebar di seluruh pelosok negeri pada dahulu kala. Salah satu daerah yang dulu merupakan daerah pemerintahan kerajaan adalah Kota Madiun. Konon, kota ini dulunya juga disebut sebagai kota pemberontakan. Dan kini, Kota Madiun terus mengembangkan seluruh potensinya yang ada, termasuk SDM melalui Program Jamkesda yang telah digulirkan.

S

ecara geografis, Kota Madiun merupakan salah satu kota di Provinsi Jawa Timur. Batasbatas wilayah Kota Madiun: sebelah utara berbatasan dengan Kecamatan Madiun, Kabupaten Madiun; sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Geger, Kabupaten Madiun; sebelah timur berbatasan dengan Kecamatan Wungu, Kabupaten Madiun; sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Jiwan, Kabupaten Madiun. Luas Wilayah Kota Madiun adalah 33,23 km yang terbagi menjadi tiga kecamatan dan 27 kelurahan di mana masing-masing kecamatan terbagi menjadi sembilan kelurahan. Secara kuantitas, sarana prasarana kesehatan yang ada di Kota Madiun bisa dibilang cukup lengkap. Sarana prasarana tersebut terdiri dari tujuh unit rumah sakit, enam unit Puskesmas, lima unit rumah sakit bersalin, dan tujuh unit laboratorium. Semua sarana prasarana kesehatan itu meng-cover seluruh masyarakat Kota Madiun yang berjumlah 201.619 jiwa. Meski begitu, Pemerintah Kota Madiun terus mengupayakan pengembangan kualitas kesehatan masyarakatnya, yakni dengan mengikuti Program Jamkesda yang telah berjalan dua

tahun belakangan ini. Menurut Walikota Madiun, Bambang Irianto, S.H., M.M., Program Jamkesda merupakan sebuah kewajiban bagi pemerintah daerah di mana saja, termasuk Madiun untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di daerah tersebut. Kesehatan adalah inti dari kehidupan seseorang. Dengan Program Jamkesda ini, seluruh masyarakat Kota Madiun yang tidak mampu akan kami jamin pelayanan kesehatannya, ujar Bambang. Menurut Bambang lagi, Program Jamkesda di Kota Madiun adalah sebuah proses penyempurnaan dari apa yang dijalankan sebelumnya. Pada prinsipnya, sarana prasarana kesehatan yang ada di Kota Madiun telah cukup baik. Karena itu, untuk menyempurnakan apa yang sebelumnya sudah baik, kami memercayakan kepada PT Askes (Persero) sebagai penyelenggara Program Jamkesda. Kami melihat yang sudah pasti saja dan PT Askes (Persero) sudah jelas kemampuannya pada bidang yang dijalani, Bambang memaparkan.

14

INFOASKES

JUNI 2010

K A B A R P E S E RTA

Karena itu, untuk menyempurnakan apa yang sebelumnya sudah baik, kami

memercayakan kepada PT Askes (Persero) sebagai penyelenggara Program Jamkesda. Kami melihat yang sudah pasti saja dan PT Askes (Persero) sudah jelas kemampuannya pada bidang yang dijalani, Bambang memaparkan.kali, pihak penerima jaminan justru masyarakat yang relatif mampu, bukan masyarakat miskin. Dulu memang sering terjadi seperti itu, tapi data yang kami dapatkan datangnya memang dari ketua RT di daerah setempat, dan kami adalah pihak yang menerima saja, dr. Wardani mengisahkan. Karena itu, agar tidak terjadi lagi kendala tersebut, Pemerintah Kota Madiun melalui Dinas Kesehatannya menjalankan sistem verifikasi yang baru. Dalam sistem ini, peserta yang namanya ingin dimasukkan dalam Program Jamkesda harus melalui beberapa proses seleksi. Mereka (calon peserta-red) terlebih dahulu harus membuat surat pernyataan ke kelurahan. Tahap selanjutnya adalah verifikasi oleh pihak kelurahan, pihak RT, dan pihak Puskesmas, terang dr. Wardani. Indikator yang menentukan layak atau tidaknya seseorang menjadi peserta Jamkesda itu sendiri terdiri dari beberapa faktor, yakni tempat tinggal, pendapatan, jumlah tanggungan, dan kemampuan untuk membiayai kesehatan. Sistem verifikasi itu jangan dianggap sebagai sebuah proses birokrasi yang rumit, melainkan sebuah sistem yang kami buat agar semakin terciptanya keteraturan, dan pemberian kepesertaan Jamkesda ke masyarakat Kota Madiun juga semakin tepat sasaran lagi, harap dr. Wardani Selain itu, hal yang tidak kalah penting menurut dr. Wardani, pihaknya juga terus melakukan berbagai upaya promosi kesehatan bagi masyarakat Kota Madiun.

Bambang Irianto, S.H., M.M, Walikota Madiun,

Kota Madiun sudah memasuki tahun ke dua dalam program jaminan kesehatan sudah bekerja sama dengan PT Askes (Persero). Sebanyak 35.070 jiwa telah masuk dalam Program Jamkesda, bahkan dana sisa Jamkesda dikembalikan langsung ke kas daerah. Kota Madiun juga dijadikan bench mark daerah lain dalam penyelenggaraan Jamkesda yang bekerja sama dengan PT Askes (Persero). Sebut saja Kota Pekalongan dan Kota Tasikmalaya yang langsung mengadakan studi banding di kota ini untuk pelaksanaan Jamkesda. Bahkan Provinsi Jawa Timur pun juga melakukan hal yang sama. Menciptakan Keteraturan Salah satu dampak positif dari Program Jamkesda yang dijalankan di satu daerah adalah keteraturan dalam hal pelayanan kesehatan. Termasuk juga yang terjadi di Kota Madiun. Menurut Kadinkes Kota Madiun, dr. Wardani dua tahun kepesertaannya dalam Program Jamkesda telah menciptakan kemudahan bagi masyarakat maupun bagi pihak provider di Kota Madiun. Dalam hal pelayanan sistem ini telah menciptakan keteraturan. Kalau dulu,

kebanyakan masyarakat langsung berobat menuju ke rumah sakit, tapi sekarang dilakukan secara berjenjang, yakni melalui unit yang lebih kecil terlebih dahulu, seperti Pustu, Puskesmas, dan juga Posyandu, terang dr. Wardani. 2008 (Jiwa) Hal itu terlaksana bukanlah tanpa kendala. Pada awal perjalanannya, kendala yang sering muncul dalam Program Jamkesda di Kota Madiun adalah kepesertaan yang dinilai tidak tepat sasaran. Sering

dr. Wardani, Kepala Dinas Kesehatan Kota Madiun

JUNI 2010

INFOASKES

15

K A B A R P E S E RTA

KOTA BLITAR

Pengembangan Sarana Prasarana Kesehatan Sebagai Ujung TombakMendengar nama Kota Blitar, otomatis pikiran akan langsung tertuju pada kenangan sosok Soekarno, Presiden pertama Indonesia sekaligus salah satu Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia. Ya, di kota inilah, lelaki yang bercita-cita menjadikan Indonesia sebagai negara berdaulat di dunia ini dimakamkan. Saat ini, sebagai sebuah kota sejarah, Blitar pun memiliki cita-cita mulia untuk memajukan kesejahteraan seluruh masyarakatnya dalam segala bidang, termasuk kesehatan.

K

ota Blitar juga dikenal dengan sebutan Kota Patria, Kota Lahar, dan Kota Proklamator. Secara legalformal, kota ini berdiri pada tanggal 1 April 1906. Dalam perkembangannya, momentum tersebut, ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Blitar. Akronim PATRIA dipilih sebagai semboyan. Kata PATRIA ini disusun dari kata PETA, yakni satuan Pembela Tanah Air (PETA) di Blitar pada zaman penjajahan Jepang yang dipimpin oleh legenda Soedanco Soeprijadi serta dari kata Tertib, Rapi, Indah, dan Aman. Selain itu, kata PATRIA memang sengaja dipilih karena di dalamnya mengandung makna Cinta Tanah Air . Diharapkan dengan menyebut kata PATRIA, orang akan terbayang kobaran semangat nasionalisme yang telah ditunjukkan oleh para patriot bangsa yang ada di kota Blitar. Dilihat dari kedudukan dan letak geografisnya, Kota Blitar tidak memiliki sumber daya alam yang unggul secara signifikan karena seluruh wilayahnya adalah wilayah perkotaan, yang berupa pemukiman, perdagangan, layanan publik, sawah pertanian, kebun campuran, dan pekarangan. Oleh karena itu, sebagai penggerak ekonomi Kota Blitar mengandalkan potensi di luar sumber daya alam, yaitu Sumber Daya Manusia (SDM) dan sumber daya buatan. Hal ini pulalah yang dikatakan oleh Walikota Kota Blitar, Drs. H. Djarot Syaiful Hidayat, M.S., kepada redaksi di kantornya beberapa waktu lalu. Peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu hal yang sangat kami perhatikan. Untuk itu, banyak yang telah dan akan

kami lakukan, antara lain dengan meningkatkan standar kesehatan dan pendidikan untuk seluruh masyarakat. Oleh karena itulah, anggaran tertinggi di Kota Blitar kami alokasikan untuk kedua bidang tersebut. Di bidang kesehatan, bekerja sama dengan PT Askes (Persero) kami yakini dapat meningkatkan standar kesehatan masyarakat melalui program Jamkesda, ujar Djarot. Berbicara mengenai kesehatan masyarakat Kota Blitar, perkembangan positif dari tahun ke tahun telah dicapai. Pembangunan infrastruktur kesehatan mulai dari sarana, prasarana, dan Sumber Daya Manusia. Bahkan sejak tahun 2004/2005, Kota Blitar menjadi pilot project untuk melakukan kontrak pelayanan dengan masyarakat, dan terwujud dalam hal realisasi pemerintah daerah untuk menjamin kesehatan masyarakatnya yang bekerja sama dengan PT Askes (Persero) awal tahun 2010 ini. Hasil dari situ pun ternyata berkembang, yakni seluruh sarana kesehatan seperti Puskesmas dan rumah sakit semuanya berkualitas baik. Jadi, untuk pelayanan dasar yang bisa ditangani di Puskesmas maka tangani di Puskesmas saja. Kalau ada tindakan medis yang Puskesmas tidak mampu,

16

INFOASKES

JUNI 2010

K A B A R P E S E RTA

Peningkatan kualitas SDM merupakan salah satu hal yang sangat kami perhatikan. Untuk itu, banyak yang telah

dan akan kami lakukan, antara lain dengan meningkatkan standar kesehatan dan pendidikan untuk seluruh masyarakat. Oleh Karena itulah, anggaran tertinggi di Kota Blitar kami alokasikan untuk kedua bidang tersebut. Di bidang kesehatan, bekerja sama dengan PT Askes (Persero) kami yakini dapat meningkatkan standar kesehatan masyarakat melalui program Jamkesda, ujar Djarot.Drs. H. Djarot Syaiful Hidayat, M.S, Walikota Blitar

baru dibawa ke rumah sakit. Puskesmas berada di garis depan dan Puskesmas itu yang bertanggung jawab memberikan pembinaan ke seluruh Posyandu dan Pustu yang ada, Djarot menerangkan. Hal ini juga sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar dr. Ngesti Utomo, menurutnya yang paling berperan terhadap kualitas kesehatan masyarakat Kota Blitar adalah Puskesmas, Posyandu, dan Pustu. Untuk itu, sarana prasarana terkait ketiga hal itulah yang dikembangkan oleh Pemerintah Kota Blitar, terang Ngesti. Pengembangan Posyandu Juga Untuk Lansia Dari tahun ke tahun, usia harapan hidup masyarakat Kota Blitar terus mengalami peningkatan. Artinya, usia produktif tentu juga semakin panjang bahkan hingga Lanjut Usia (Lansia). Sehubungan dengan fenomena tersebut, kebutuhan akan pelayanan kesehatan bagi Lansia tentu terus mengalami peningkatan. Melihat fenomena tersebut, kami juga melakukan pengembangan Posyandu berdasarkan fungsinya. Saat ini,

Posyandu tidak boleh lagi dipandang sebagai pelayanan bagi Balita saja, melainkan juga bagi para Lansia. Untuk itulah, keberadaan Posyandu terus kami perkuat, papar Ngesti. Di sela-sela usaha pengembangan yang terus dilakukan, Pemerintah Kota Blitar juga menyadari masih

banyak kekurangan yang harus segera disempurnakan. Mulai dari pengembangan SDM sampai dengan perluasan cakupan pelayanan kesehatan agar dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat di Kota Blitar (universal coverage). Universal coverage sebenarnya bukan hanya tugas Pemda, tapi juga pemerintah pusat. Seluruh warga masyarakat miskin tentu berhak mendapatkan jaminan kesehatan dan pelayanan memadai, ujar Ngesti. Karena itu, menurutnya diperlukan sebuah kerja sama antara seluruh pihak terkait dalam hal ini Pemerintah Kota Blitar, Pemerintah Pusat, dan Juga PT Askes (Persero) untuk dapat mewujudkan rencana universal coverage bagi seluruh masyarakat Kota Blitar. Memang kerja sama ini baru berlangsung tahun ini, namun menurut Ngesti pengalaman dan kompetensi yang dimiliki PT Askes (Persero) menunjukan optimisme yang positif. Ngesti juga berharap, semoga dengan menjamin masyarakat derajat kesehatan yang dicita-citakan dapat terwujud.

dr. Ngesti Utomo, Kepala Dinas Kesehatan Kota Blitar

JUNI 2010

INFOASKES

17

BINCANG

(Pakar Dokter Keluarga dari IDI)

Gatot Soetono

KITA KEKURANGAN DOKTER KELUARGA YANG ANDAL

Ada sebuah perhitungan sederhana nan logis, ketika kita dihadapkan pada kenyataan bahwa dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, sekitar 15 persen saja yang tergolong masyarakat berisiko menjadi penyandang (perawatan akibat penyakit yang butuh penanganan khusus). Sisanya, 85 persen masyarakat tergolong masyarakat sehat atau kalaupun sakit hanya dijangkiti penyakit yang dapat diobati oleh dokter primer atau bisa juga disebut dengan Dokter Keluarga.

18

INFOASKES

JUNI 2010

BINCANG

A

rtinya, keberadaan Dokter Keluarga sebenarnya menjadi sebuah kebutuhan yang dapat menjamin tingginya standar kesehatan nasional masyarakat Indonesia. Bukan tanpa kendala, bahkan bisa menjadi sebuah dilema ketika pada kenyataannya fungsi Dokter Keluarga di Indonesia masih belum terlihat secara maksimal. Banyak benturan-benturan yang terjadi. Apakah masalah legalitas? Tumpang tindih peran antara Dokter Keluarga dengan dokter spesialis? Atau mungkin karena minimnya pemahaman masyarakat tentang keberadaan Dokter Keluarga itu sendiri? Untuk menjawabnya, beberapa waktu lalu Buletin Info Askes berkesempatan melakukan wawancara khusus dengan Gatot Soetono, M.D, M.PH., seorang pakar Dokter Keluarga dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI). Berbagai pandangan brilian disampaikan oleh bapak dari empat orang anak ini. Berikut petikannya. Seiring perjalanan waktu, bagaimana keberadaan Dokter Keluarga di tengah-tengah masyarakat saat ini? Kita harus melihat dari dua aspek, yaitu dari segi konsep dan fungsi Dokter Keluarga. Mengenai konsep, sebenarnya masyarakat belum sepenuhnya mengerti tentang Dokter Keluarga. Bagi mereka, dokter yang selalu didatangi saat berobat itulah Dokter Keluarga mereka. Seharusnya, kita tidak melihat konsep dari pandangan masyarakat, tetapi berdasarkan fungsi Dokter Keluarga itu sendiri. Nah, berbeda dengan dokter umum yang kita kenal sebelumnya yang hanya mengobati ketika pasien datang, setelah itu selesai. Hal ini berbeda dengan fungsi Dokter Keluarga, yakni memelihara kesehatan sekelompok masyarakat. Seseorang yang ditunjuk menjadi Dokter Keluarga terikat dalam periode waktu. Dalam periode itu, dia dituntut untuk memelihara kesehatan pasiennya. Jadi, meskipun pasien datang dan diperiksa, setelah itu tetap saja masih ada proses lain, misalnya edukasi, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, berdasarkan fungsi, Dokter Keluarga dengan dokter umum sudah jelas terlihat berbeda sekali. Pemahaman di kalangan profesi dokter sendiri seperti apa? Itu dia, saya akui bahwa sampai saat ini mindset di kalangan profesi dokter masih sama seperti dulu. Dokter itu hanya sebatas memberikan praktik di ruangan 4x4 meter, memeriksa, memberi obat, lalu selesai. Mereka tidak bisa disalahkan juga karena memang sistem pendidikan kedokteran kita dari dulu hingga kini masih seperti itu. Kita ibaratkan, misalnya Anda datang ke tempat praktik dokter dalam keadaan sehat. Lalu, Anda menanyakan bagaimana caranya agar tetap sehat seperti saat itu? Dokter pun akan bingung harus melakukan apa. Lain lagi bila Anda datang dalam keadaan sakit, dokter langsung tahu apa yang harus dia lakukan. Oleh karena itu, saat ini, saya membuat suatu pendekatan untuk para rekan seprofesi agar menerapkan mindset bahwa salah satu tugas terpenting mereka adalah memelihara kesehatan masyarakat, bukan hanya sekadar mengobati. Caranya, pertama, dokter itu harus melakukan assesment atau pemeriksaan terhadap kesehatan seseorang. Nah, dari assessment itu, akan didapatkan

profil kesehatan pribadi. Di sinilah dokter melakukan analisis, apakah orang itu sehat, berisiko menyandang penyakit, atau memang sedang menyandang penyakit tertentu. Setelah selesai, sang dokter harus menyiapkan suatu program jangka panjang untuk pasien. Kalau pasien itu sehat, tetap diberikan edukasi tentang bagaimana menjaga kesehatan. Begitu juga dengan pasien yang berisiko menyandang penyakit maupun yang tengah menyandang penyakit tertentu. Jadi, dokter akan selalu punya agenda bagi setiap pasien atau individu, yakni program-program terencana. Kalaupun sedang tidak berhadapan langsung dengan pasien, tetap saja ada pekerjaan yang harus dilakukan oleh dokter. Itulah yang membedakan pemahaman tentang dokter umum yang kita kenal sebelumnya, dengan Dokter Keluarga yang ada saat ini ada. Setiap Dokter Keluarga harus melakukan tugas-tugas tersebut. Di masyarakat kita secara luas, sebenarnya angka pesakitan itu hanya sekitar 15 persen. Sisanya, sebanyak 85 persen masih tergolong sebagai orang yang sehat. Nah, para dokter umum, spesialis, rumah sakit, dan sebagainya berebut lahan hanya pada 15 persen masyarakat pesakitan tadi, sisanya justru cenderung diabaikan. Untuk Dokter Keluarga justru sebaliknya, mereka harus bermain dengan 85 persen masyarakat tersebut. Bagaimana dia dapat memelihara kesehatan dan mencegah masyarakat yang sehat untuk tidak menjadi risiko penyandang penyakit, itulah tugas mereka. Sebenarnya untuk membentuk mindset tentang konsep Dokter Keluarga seperti yang Anda maksud terlihat sederhana bukan? Lantas di mana kendalanya? Memang benar. Namun, dalam praktiknya yang terjadi adalah ketidakfokusan dalam mendidik para dokter. Hal yang dilakukan selama ini hanya berupa pelatihan-pelatihan, seminar, dan berbagai kegiatan yang kebanyakan membahas masalah administratif, bukan klinis. Padahal, seorang Dokter Keluarga itu adalah seorang dokter klinis yang andal. Artinya, ditanya apa pun tentang masalah klinis, dia bisa menjawabnya meskipun tidak melakukan praktik di bidang itu secara langsung. Secara legal, dasar hukum tentang Dokter Keluarga itu belum ada, apakah itu juga termasuk salah satu kendala? Secara legal memang belum ada dan mungkin saja menjadi salah satu kendalanya karena memang dapat menyebabkan kerancuan. Semua dokter praktik yang terdaftar di Indonesia berdasarkan Surat Tanda Registrasi (STR) memang hanya dua jenis, yaitu dokter umum dan dokter spesialis, belum ada STR untuk Dokter Keluarga yang bisa membuka praktik. Dokter umum itu disebut juga dengan dokter pelayanan primer. Untuk kondisi saat ini, sebenarnya Dokter Keluarga tidak ada bedanya dengan dokter umum. Karena kesamaan tugasnya, yakni memecahkan sebagian besar masalah kesehatan. Sudah banyak literatur yang menyebutkan bahwa sebagian besar masalah kesehatan bisa ditangani oleh dokter pelayanan primer atau bisa juga kita sebut dengan Dokter Keluarga. Nah, yang tidak bisa ditangani oleh Dokter Keluarga, baru ditangani

JUNI 2010

INFOASKES

19

BINCANGoleh dokter spesialis. Namun faktanya, berdasarkan data-data yang ada, penyakit yang harus ditangani oleh dokter spesialis jumlahnya sangat sedikit dibandingkan dengan penyakit yang bisa ditangani oleh dokter pelayanan primer. Dengan begitu, saya bersama rekanrekan yang lain sedang mengupayakan untuk mengoptimalkan peran Dokter Keluarga dalam menangani penyakit di wilayah praktik dokter pelayanan primer. Artinya, dengan pengoptimalan tersebut, risiko seseorang terjangkit penyakit yang lebih parah akan bisa diminimalisasi dan biaya pengobatan pun akan tertekan dengan sendirinya. Oleh karena itu, masyarakat pun akan kembali diuntungkan. tetap menangani penyakit-penyakit yang memang sudah di luar kompetensi Dokter Keluarga. Lantas bagaimana caranya menaikan kompetensi mereka? Saya akui, pendidikan Dokter Keluarga selama 20 tahun ini tidak berhasil mengangkat kompetensi mereka. Menurut saya, kalau memang mau meningkatkan kompetensi Dokter Keluarga seperti yang saya katakan sebelumnya, misalnya ada PDKI yang harus menjembatani dokter spesialis dan Dokter Keluarga untuk dapat berembuk lahan di bidang spesialis mana saja yang dapat diisi oleh Dokter Keluarga. Lalu, dirundingkan juga mengenai apa dan bagaimana program pendidikan dari dokter spesialis yang dapat diberikan sebaliknya. Akibatnya, masyarakat kita jadi terdistorsi. Mereka tidak dapat membedakan mana yang bisa diselesaikan layanan primer dan mana yang harus diselesaikan dokter spesialis. Lebih parah lagi, masyarakat akan memandang pengobatan berdasarkan strata mutu, bukan kompetensi. Dengan penyakit tergolong ringan, namun karena mindset berdasarkan strata mutu maka langsung saja seseorang pergi ke dokter spesialis. Akibatnya, biaya akan menjadi lebih mahal. Apakah tidak akan ada tumpang tindih peran antara Dokter Keluarga dan dokter spesialis? Mulai tahun 2004, sudah ada Konsil Kedokteran Indonesia (KKI). Tugas mereka adalah mengesahkan batas kompetensi setiap spesialisasi. Artinya, sebelum tahun

Saya bersama rekan-rekan yang lain sedang mengupayakan untuk mengoptimalkan peran Dokter Keluarga dalam menangani penyakit di wilayah praktik dokter pelayanan

primer.

Anda bisa jelaskan lebih detail tentang pengoptimalan peran Dokter Keluarga tersebut? Untuk saat ini, kompetensi dokter layanan primer atau boleh juga kita sebut Dokter Keluarga masih jauh di bawah yang seharusnya dapat mereka lakukan. Artinya, kami sedang berusaha menaikan kompetensi mereka untuk mengisi sedikit lahan yang telah diisi oleh dokter spesialis. Tidak seluruhnya, namun hanya sedikit menaikan kompetensi mereka. Di beberapa negara, hal ini telah dilakukan. Sering kali ada jenis penyakit yang sebelumnya langsung dianjurkan untuk ke dokter spesialis padahal sebenarnya masih bisa ditangani oleh Dokter Keluarga. Kalau memang bisa ditangani oleh Dokter Keluarga, otomatis biaya pengobatan akan menjadi jauh lebih murah. Dokter spesialis

kepada Dokter Keluarga. Kalau tidak begitu, selamanya akan menjadi rancu. Hal ini butuh kesepakatan. Kalau tidak, tugas Dokter Keluarga sampai kapan pun tetap tidak bisa maksimal. Kembali lagi ke masalah 85 persen, yakni masyarakat kita yang tergolong sehat. Kalau melihat itu, sebenarnya secara nasional yang kita butuhkan adalah ditambahnya jumlah Dokter Keluarga, lebih tepatnya saat ini kita kekurangan Dokter Keluarga yang andal, bukan dokter spesialis. Kalau kita memiliki lebih banyak Dokter Keluarga yang andal, masalah kesehatan secara nasional sudah bisa teratasi. Nah, dokter spesialis itu hanya pendukung. Kalau memang ada masalah kesehatan yang tidak bisa diatasi di pelayanan primer, baru dilarikan ke dokter spesialis. Keadaan di negara kita saat ini justru

2004, bila terjadi beda pendapat batas kompetensi di kalangan dokter, tidak ada hakimnya. Kalau sekarang, ya KKI itulah hakimnya. Jadi, jangan ditakutkan lagi terjadi tumpang tindih kompetensi antara Dokter Keluarga dan dokter spesialis karena KKI yang akan memberikan batasan kompetensi antara keduanya. Apa yang Anda harapkan terkait perkembangan Dokter Keluarga di Indonesia? Kita harus punya Sistem Pelayanan Kesehatan Nasional. Sistem itulah yang akan menjadi acuan dari sistem pendidikan kedokteran di Indonesia karena pendidikan harus mengikuti apa yang dibutuhkan oleh sistem pelayanan. Kalau sekarang kan tidak, pendidikan dan pelayanan itu masingmasing berjalan sendiri.

20

INFOASKES

JUNI 2010

ASKES CENTER

Askes Center RSUD dr. Soetomo Surabaya

Menekankan Pelayanan Pada Sektor Informasielihat tingginya kebutuhan pasien, dalam hal ini peserta Askes terhadap informasi, Askes Center Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) dr. Soetomo, Surabaya, melakukan hal yang tergolong berbeda dari Askes Center lain. Namun, bukan berarti apa yang dilakukan Askes Center lain tidak dilakukan di Askes Center yang dikunjungi lebih kurang 800 peserta tiap harinya. Customer Visit, yang diibaratkan sebagai program wajib bagi sebuah Askes Center dilakukan juga di sini, demikian pula program layanan lain. Sektor Informasi, itulah yang lebih ditekankan oleh Askes Center RSUD dr. Soetomo. Pemberian informasi terkait pelayanan, biaya, provider, dan lain-lain menjadi hal utama yang diberikan kepada seluruh peserta. Menurut Koordinator Askes Center, dr. Indriana, dulu sebelum ada ruangan khusus Askes Center, para peserta bahkan pasien yang bukan peserta Askes selalu menanyakan berbagai hal yang ingin diketahui ke bagian resepsionis rumah sakit. Terkadang, keadaan tersebut seringkali tidak terkendali. Hal inilah yang menggambarkan kebutuhan pasien akan informasi memang sangat besar. Saat ini, jumlah kepesertaan Askes semakin terus bertambah. Seiring dengan hal tersebut, kebutuhan informasi pun semakin tinggi. Itulah yang kami tekankan di sini. Bukan hanya informasi tentang pelayanan di rumah sakit, melainkan juga dalam banyak hal. Salah satunya adalah informasi tentang Dokter Keluarga yang sering ditanyakan oleh para peserta,tambah Indriana. Dalam menekankan pada pelayanan di sektor informasi, Askes Center RSUD dr. Soetomo pun dituntut untuk meningkatkan mobilitas di semua lini.

M

Saat ini, informasi merupakan kebutuhan penting, termasuk bagi para pasien di rumah sakit. Tingginya mobilitas dan kesibukan pelayanan seringkali menjadi kendala bagi rumah sakit dalam pemberian informasi kepada pasien. Hasilnya, misscommunication yang sering terjadi berujung pada ketidakpuasan pasien terhadap pelayanan yang diberikan.

Hal yang kami lakukan itu ternyata memang berbuah manis, keluhan peserta menyangkut provider di Askes Center ini bisa dikatakan yang terendah bila dibandingkan dengan Askes Center yang lain, karena rumah sakit ini adalah pusat rujukan Indonesia bagian Timur,ujar Indriana bangga. Selain itu, ia menambahkan, program khusus untuk peserta juga dilakukan oleh Askes Center RSUD dr. Soetomo. Program khusus seperti mendukung acara seminar-seminar tentang penyakit tertentu yang diadakan oleh pihak rumah sakit, customer visit secara berkala yang dilihat berdasarkan kasus-kasus yang ada, ditujukan semaksimal mungkin untuk kepentingan semua pihak. Apa yang dilakukan oleh Askes Center selama ini juga telah menciptakan sebuah hubungan yang saling menguntungkan dengan banyak pihak. Pihak RSUD dr. Soetomo sendiri pun mengalami kemudahan dan lebih fokus dalam melayani pasien. Bila ada pasien atau peserta yang bertanya ke pihak rumah sakit tentang segala hal yang berhubungan dengan Askes, pihak rumah sakit pun akan langsung mem-follow up ke Askes Center saat itu juga. Hal ini juga diungkapkan oleh Direktur Utama RSUD dr. Soetomo, Dr. dr. Slamet R.Yuwono, bahwa keberadaan Askes Center yang dibangun dengan modern ini mendukung visi rumah sakit untk memberikan pelayanan prima bagi pasien. Slamet juga berharap, keberadaan Askes Center di RSUD dr. Soetomo selain menjadi tempat peserta Askes memperoleh pelayanan, juga dapat membangun kemitraan yang lebih baik lagi dengan pihak rumah sakit. Dengan begitu, harmonisasi akan terwujud, dan pelayanan prima yang diidamkan akan tercapai.

JUNI 2010

INFOASKES

21

KANTOR ASKES

PT Askes (Persero) Regional VII

Tercapainya Universal Coverage di Jawa TimurTiap daerah memiliki ciri khas yang mencerminkan daerah tersebut sebagai suatu kepribadian yang unik. Begitu pula dengan masyarakat Jawa Timur. Sebagian besar mereka bertutur kata dengan lembut dan sopan. Dari segi geografis, Jawa Timur memiliki wilayah terluas di antara enam provinsi di Pulau Jawa dan jumlah penduduk terbanyak kedua di Indonesia setelah Jawa Barat. Melihat keunikan ini, para pegawai Kantor PT Askes (Persero) Regional VII berjuang menjadi penyelenggara asuransi kesehatan terpercaya di Jawa Timur.

S

aat ditemui Buletin Info Askes di ruang kerjanya, Kepala PT Askes (Persero) Regional VII, Mohammad Edison, mengatakan, KR VII memiliki visi untuk mencapai universal coverage di Jawa Timur. PT Askes (Persero) menjadi penyelenggara terpercaya asuransi kesehatan semesta di daerah yang beribu kota Surabaya ini. Hal yang dimaksud sebagai penyelenggara terpercaya adalah pelayanan-pelayanan yang diberikan oleh PT Askes (Persero) dinilai bagus. Kalau belum bagus, mungkin kita belum diajak bicara dengan Pemprov. Kami terus menyuarakan visi ini di berbagai kesempatan, saat rapat di kantor cabang, rapat kerja dengan Pemda, Dinkes, dan Pemprov. Alhamdulillah, pendekatan maupun advokasi dari semua titik mengarah pada jaminan semesta, sedangkan penyelenggara terpercaya merupakan muara akhirnya, ujar Edison. Prototype Dokter Keluarga Sebagai penyelenggara terpercaya asuransi kesehatan di Jawa Timur, KR VII dibanding dengan KR PT Askes (Persero) lainnya,

r Kanto II nal V Regio

Hasil akhir yang ingin dicapai adalah kepuasan peserta karena adanya pelayanan terbaik dari Dokter Keluarga, ujar Edison.

Kami menerapkan program Dokter Keluarga dengan sistem reward. Kami berusaha memberikan pelayanan RJTP secara optimal di Dokter Keluarga.

22

INFOASKES

JUNI 2010

KANTOR ASKESKami menerapkan program Dokter Keluarga dengan sistem reward. Kami berusaha memberikan pelayanan RJTP secara optimal di Dokter Keluarga. Hasil akhir yang ingin dicapai adalah kepuasan peserta karena adanya pelayanan terbaik dari Dokter Keluarga, ujar Edison. Dalam penuturannya, Edison menjelaskan, konsep one stop service diterapkan dalam program Dokter Keluarga. Setiap Dokter Keluarga mempunyai jaringan dengan dokter gigi, apotik RJTP, dan laboratorium RJTP. Dengan begitu, pasien yang memerlukan layanan obat, pemeriksaan laboratorium, dan pelayanan gigi bisa dengan mudah mendapatkan pelayanan dengan maksimal. Di dalam menjaga kualitas pelayanan, KR VII pun melakukan credentialing bagi Dokter Keluarga. KR VII memilih Dokter Keluarga yang mempunyai sarana tempat praktik sesuai standar yang ada dan kooperatif dengan program PT Askes (Persero). Di samping itu, KR VII secara rutin memberikan tambahan knowledge melalui penyelenggaraan seminar kedokteran yang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indoensia (IDI) dan dokter ahli. Bahkan, untuk meningkatkan kualitas dari fasilitas tempat praktik, KR VII memberikan pinjaman PKBL kepada Dokter Keluarga. Keunggulan lainnya adalah Jamkesda dan Askes Center. Askes Center merupakan tombak pencitraan perusahaan. KR VII memiliki Askes Center di RSU dr. Sutomo sebagai prototype unggulan dari pengembangan seluruh Askes Center di wilayah kantor regional ini. Tahun ini, KR VII meningkatkan performance tiga kantor cabang, yakni KC Bojonegoro, Madiun, dan Banyuwangi. Selain meningkatkan sistem dan kompetensi secara berkala, kami juga senantiasa mengajak seluruh Duta Askes untuk lebih andal di bidang ini. Karena ke depan, Dokter Keluarga ini perlu dikembangkan dan dikaji terutama tentang besaran kapitasi yang ideal, layanan standar, dan pembagian reward. Bersama KCU Surabaya dan seluruh KC di Indonesia, semoga program Dokter Keluarga ini bisa terus dikembangkan sebagai bentuk upaya meningkatkan kualitas layanan peserta di tingkat primary health care, tutur Edison. Program Unggulan Tahun 2010 Dalam upaya meningkatkan mutu pelayanan SDM, SIM, dan Askes Manajemen Sistem, KR VII memiliki beberapa strategi. Strategi pertama, Edison dan jajarannya selalu berupaya membangkitkan semangat dan motivasi diri setiap pegawai agar memberikan pelayanan terbaik dan terus meningkatkan kompetensinya. Kedua, mempercepat respond time pelayanan pelanggan di semua jajaran dan ketiga, membuat inovasi untuk memberikan nilai tambah (added value) dan pelayanan terbaik untuk peserta. Keempat, mengimplementasikan SIM yang senantiasa dikembangkan dan dimutakhirkan sesuai kebutuhan pelanggan. Saya selalu mengatakan kepada temanteman bahwa kita harus memberi kontribusi bagi perusahaan. Hijau atau merahnya Jawa Timur berada di tangan kita. Caranya, lima belas pegawai di KR VII ini harus menjalankan program-program yang senada dengan visi perusahaan ini secara maksimal, tutur Edison, kepala KR yang pernah mendapat penghargaan prima se-Jawa Timur untuk pelayanan Jamkesmas. Agar peserta puas di pelayanan tingkat pertama (primary health care), seluruh pegawai KR VII mem-feed back setiap program sedini mungkin. Dengan demikian, bila ada yang belum mencapai target, bisa segera dicapai. Para pegawai dipacu untuk bekerja keras di awal sehingga hasilnya dapat maksimal. Edison meyakini bahwa ke depannya keberadaan KR VII sangat diperlukan karena para pegawai senantiasa membuka diri dan berperan bagi banyak orang (peserta Askes). Para pegawai KR VII diajak bekerja secara smart dengan komitmen dan semangat tinggi untuk memberikan pelayanan terbaik bagi pelanggan. Bekerja smart berarti bekerja dari dalam diri untuk berpikir maju dan dengan tulus mencintai pekerjaannya. Kita boleh lelah fisik, namun tidak boleh lelah dalam berpikir. Kita bekerja bersamasama, ujar Edison.

Mohammad Edison, Kepala PT Askes (Persero) Regional VII

memiliki beberapa keunggulan. Kantor PT Askes (Persero) yang meliputi Kantor Cabang Utama (KCU) Surabaya, KC Bojonegoro, Madiun, Kediri, Malang, Pasuruan, Jember, dan Sumenep ini memiliki keunggulan dalam layanan Dokter Keluarga. Edison menceritakan, KR VII merupakan pilot project dalam program Dokter Keluarga. Empat kantor cabang di wilayah KR VII, yaitu KCU Surabaya, KCU Kediri, KC Malang, dan KC Madiun, pada pertengahan tahun 2008, dijadikan awal mula peyelenggaraan dari pelayanan Rujuk Jalan Tingkat Pertama (RJTP) di Dokter Keluarga. Dalam pelaksanaannya, program pilot project tersebut telah menunjukkan perkembangan yang cukup baik. Hal tersebut terlihat dari tercapainya target perluasan peserta. Selain itu, dapat dilihat pula dari munculnya beberapa inovasi pelayanan, seperti di Askes Center dibuat loket khusus bagi peserta Lansia, ruang konsultasi, bahkan di KCU Surabaya dibuat drive thru untuk peserta meng-update kartu tanpa perlu turun dari kendaraan mereka. Untuk program Dokter Keluarga juga kami membuat program DokterKU. Inovasi-inovasi tersebut sematamata ditujukan untuk meningkatkan kepuasan peserta.

JUNI 2010

INFOASKES

23

KANTOR ASKES

Kantor Cabang Utama Tangerang

Program Fokus Pelanggan Melalui Program Dokter Keluarga Mandiri Serta Kesiapan Meraih Kepercayaan Pemerintah Provinsi Banten Menuju Universal CoverageSuasana nyaman dan tenang terasa saat memasuki gedung Kantor Cabang Utama Tangerang, yang terletak di di Jalan Perintis Kemerdekaan II No. 2, Tangerang ini. Senyum ramah para pegawai pun mengguratkan tak ada lelah sedikit pun untuk melayani puluhan peserta yang masih duduk di kursi antrean. Padahal, kala Info Askes mengunjungi KCU Tangerang Jumat sore, waktu menunjukkan pukul 15.30 WIB. ampak semangat untuk memberikan layanan yang melampaui harapan sangat dijiwai oleh para pegawai KCU yang dipimpin oleh Benjamin SP Simanjuntak. Sekoridor dengan slogan perusahaan di tahun 2010 ini, KCU Tangerang telah menetapkan visi untuk menjadi pusat unggulan operasional layanan prima di Kantor Regional IV. Artinya, untuk titik-titik pelayanan terdepan baik Askes Center maupun di Kantor Askes, KCU Tangerang akan menjadi yang terdepan atau unggulan dalam menerapkan standarisasi operasional pelayanan prima yang terpadu di Kantor Regional IV. Untuk mencapai tag line perusahaan tersebut, yakni memberikan layanan kesehatan yang melampaui harapan, para Duta Askes di KCU Tangerang menjalankan tiga misi utama. Pertama, menetapkan standar operasional

T

ang r Cab o t n a K a Utam

Ternyata, animo peserta Askes terhadap Dokter Keluarga sangat tinggi. Sebagai contoh, dalam tiga bulan sajasebuah Klinik Dokter Keluarga dapat memperoleh kepercayaan dari 8.000 Peserta Askes untuk dialihkan dari Puskesmas ke Dokter Keluarga. Ini menjadi salah satu indikator, di mana masyarakat memiliki kebutuhan untuk dilayani oleh Dokter Keluarga secara 24 jam penuh. Saya yakin program ini menjadi program unggulan untuk peningkatan kualitas layanan bagi peserta, ujar Benjamin.

Tan

g geran

24

INFOASKES

JUNI 2010

KANTOR ASKESekspektasi yang melampaui harapan peserta, ujar Benjamin. Benjamin mengungkapkan, dalam mengembangkan fokus pelanggan melalui Dokter Keluarga, KCU Tangerang menjalankan beberapa strategi. Pertama, seluruh Dokter Keluarga telah melalui proses seleksi (credentialing). Fokus dan prioritas saat ini adalah Klinik 24 jam, sehingga peserta memperoleh kelengkapan jenis pelayanan (Dokter, Paramedis, Penunjang Diagnostik, Obat) dalam satu lokasi, aksesibilitas dan waktu pelayanan 24 jam. Kedua, Penetapan standarisasi kompetensi Dokter Keluarga, sesuai dengan standar yang ditetapkan bersama antara PT Askes (Persero) dengan Perhimpunan Dokter Keluarga Indonesia (PDKI). Lalu strategi ketiga adalah Prolanis sebagai bentuk implementasi dari Disease Management Programme. Keempat, pelaksanaan pelatihan bagi Dokter Keluarga. KCU Tangerang bekerja sama dengan Ikatan Dokter Indonesia, PDKI dan Dinas Kesehatan.. Kelima, sosialisasi pada seluruh Dokter Keluarga, Dinas Kesehatan, Puskesmas, Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan instansi sehingga peserta Askes dapat memilih pelayanan oleh Puskesmas atau Dokter Keluarga. Ternyata, animo peserta Askes terhadap Dokter Keluarga sangat tinggi. Sebagai contoh, dalam tiga bulan saja sebuah Klinik Dokter Keluarga dapat memperoleh kepercayaan dari 8.000 Peserta Askes untuk dialihkan dari Puskesmas ke Dokter Keluarga. Ini menjadi salah satu indikator, di mana masyarakat memiliki kebutuhan untuk dilayani oleh Dokter Keluarga secara 24 jam penuh. Saya yakin program ini menjadi program unggulan untuk peningkatan kualitas layanan bagi peserta,ujar Benjamin. Antusias Mencapai Universal Coverage Memang bukan hal yang mudah untuk mengembangkan konsep Dokter Keluarga yang ideal. Akan tetapi, seluruh Duta Askes KCU Tangerang yakin dan senantiasa antusias dalam melaksanakan setiap program unggulan. Menurut Benjamin, antusiasme adalah nilai yang selalu ditanamkan kepada Duta Askes KCU Tangerang dalam mengoptimalkan kapasitas, kompetensi dan pencapaian kinerja secara optimal. Antusiasme memberikan tiga dampak : pertama, selalu dig into deeper, yakni menggali dan mencari pengetahuan, kompetensi dan inovasi baru yang dapat diraih; kedua, pegawai selalu bergairah dalam bekerja, sehingga kapasitas optimal dalam pencapaian bahkan melampaui target akan tercapai; ketiga, selalu menyebarkan berita baik/positif (spread good news) serta membawa keceriaan dan kegembiraan (bring sunshine everyday), artinya hati yang bekerja dengan gembira, tentunya memberikan hasil yang optimal bagi perusahaan. Sejujurnya, ketiga hal ini yang dibudayakan Duta Askes KCU Tangerang berasal dari antusiasme dalam berkarya. Sebenarnya, apa yang kita berikan saat ini masih 50 persen. Kapasitas kita masih mampu untuk berbuat lebih. Banyak target-target besar yang dapat kita capai bagi perusahaan yang kita cintai ini, ujar Benjamin. Antusiasme ini juga diterapkan dalam meraih kepercayaan pemerintah daerah baik di Provinsi, Kota/Kabupaten untuk penyelenggaraan PJKMU yang lebih dikenal oleh Pemda adalah Jamkesda. Saat ini, KCU Tangerang telah meraih kepercayaan dari sejumlah daerah. Untuk Kota Serang, terdaftar 23.000 peserta PJKMU, di luar kuota Jamkesmas dan Askes Sosial. Pemerintah Kota Serang memiliki komitmen untuk meng-cover seluruh masyarakatnya sehingga mencapai universal coverage. Sementara untuk Kota Cilegon, terdaftar 16.667 peserta PJKMU. Menurut Benjamin, target universal coverage bagi seluruh kabupaten/kota akan terwujud. Sebagai perusahaan pengemban amanah SJSN, proses transformasi yang dilakukan PT Askes (Persero) menunjukkan hasil yang sangat signifikan. Tidak hanya dirasakan oleh pelanggan, tetapi juga dirasakan oleh seluruh Duta Askes, yakni peningkatan kompetensi, dedikasi, dan komitmen dalam hal pemberian pelayanan kepada Peserta. Kini, saatnya seluruh masyarakat Indonesia mendapatkan jaminan kesehatan. Melalui social marketing dengan fokus kepada 4P, yakni (Public, Partnership, Policy, dan Purse String), maka universal coverage yang dicita-citakan bersama dapat terwujud.

Benjamin SP Simanjuntak, SKM. Kepala PT Askes (Persero) Cabang Utama Tangerang

layanan prima terpadu pada pelayanan administrasi di Kantor Askes dan Askes Center. Kedua, mengembangkan fokus pelanggan melalui Dokter Keluarga mandiri. Ketiga, meraih kepercayaan pemerintah daerah (Provinsi, Kabupaten, Kota se-Provinsi Banten) dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Umum (PJKMU). Dokter Keluarga Mandiri Dalam hal pengembangan fokus pelanggan melalui Dokter Keluarga, KCU Tangerang memiliki nilai tambah, yakni sebagai Kantor Cabang di KR IV yang telah melaksanakan Program Dokter Keluarga dan Prolanis secara intensif. Saat ini, terdapat 21 Dokter Keluarga yang tersebar mulai Kabupaten Lebak, Pandegelang, Serang, Cilegon, Kota Tangerang, Tangerang Selatan, hingga Kabupaten Tangerang. Benjamin mengakui bahwa ini tentunya menjadi suatu kebanggaan sekaligus tanggung jawab besar bagi seluruh pegawai KCU Tangerang. Penerapan Dokter Keluarga tidak hanya sebatas keep the eye, tetapi beyond expectation. Hal terpenting yang menjadi faktor kritis keberhasilan adalah, kita memberikan pelayanan dengan hati dan penuh antusias sehingga target indeks kepuasan peserta dapat tercapai serta dapat dipertahankan trend pertumbuhannya. Program Dokter Keluarga juga merupakan bagian dari implementasi elemen prioritas dalam managed care system. Hal ini tentunya menjadi kunci keberhasilan tercapainya

JUNI 2010

INFOASKES

25

MITRA

Siloam Hospital,Lippo Karawaci

Siloam Hospital Lippo Karawaci

Jangkau Masyarakatdengan Layanan Bedah Syaraf dan Jantung

Berstandar InternasionalRumah sakit internasional kini menjamur di Indonesia, tetapi jika ditelusuri lebih jauh, tidak semuanya benar-benar bertaraf internasional. Penggunaan label internasional ternyata belum menjamin bahwa pelayanan sebuah rumah sakit telah mencapai taraf kelas dunia. Namun, Siloam Hospital di Lippo Karawaci, Tangerang, sudah diakui lembaga internasional sebagai rumah sakit yang benar-benar berstandar internasional. Siloam Hospital menyediakan layanan kesehatan kelas dunia bagi para pasiennya yang datang dari Indonesia maupun mancanegara.

Akan tetapi, uniknya, di Siloam Hospital terdapat pula panduan pengunjung untuk menghindari infeksi kuman. Misal, terdapat botol cairan pembersih tangan yang mengandung alkohol disertai dengan panduan penggunaan di depan lift. Lalu, dicantumkan bagaimana cara mencuci tangan yang benar. Tidak hanya itu, peralatan medis pun dicek secara teratur, termasuk sumber energi listriknya. Saat diwawancarai oleh Buletin Info Askes, Direktur Operasional Siloam Hospital, dr. Andry, M.M., M.H.Kes. mengatakan bahwa memiliki pelayanan berkualitas tidak membuat Siloam Hospital telah sempurna. Banyak yang harus dilakukan mulai dari penambahan fasilitas bangunan hingga peningkatan kemampuan tenaga medis demi keselamatan pasien. Siloam Hospital berprinsip untuk menjadi lebih baik tiap harinya. Rachmat, peserta Askes, mengaku telah mendapatkan layanan prima baik dari petugas Askes maupun dari tim medis rumah sakit. Selama menjalani pengobatan, dirinya dilayani dengan cepat dan sigap. Kinerja layanan yang cemerlang ini tentu didapatkan dari kemitraan yang baik antara petugas Askes dan pegawai rumah sakit.

S26

ebagai rumah sakit terkemuka di Indonesia, Siloam Hospital sangat memerhatikan setiap aksen pelayanannya. Saat memasuki gedung, pengunjung disambut dengan salam ramah dan senyum hangat dari petugas frontline. Sofa tunggu, meja pendaftaran, dan kafetaria tersusun rapi, seolah setiap posisi memiliki sasaran mutu. Alunan piano dan pemandangan yang memukau pun menciptakan atmosfer nyaman bagi pengunjung. Menelisik lebih dalam, Siloam Hospital memberikan kemudahan dan keamanan bagi pasien saat menjalani pengobatan. Buletin Info Askes melihat ada tanda petunjuk

jalan dalam dua bahasa, yaitu Indonesia dan Inggris, yang memudahkan perjalanan dari lobi menuju ruang yang dituju. Sementara itu, tempat-tempat yang dianggap berisiko (dalam perbaikan) juga diberi label sebagai tanda peringatan untuk pasien maupun pengunjung. Lalu, terdapat pula petunjuk arah yang jelas ke arah pintu, tangga darurat, serta jalur evakuasi jika dalam kondisi darurat. Alat pencegah kebakaran pun sudah siap di setiap sudut ruangan, terutama di kamar pasien, yakni detektor asap, alat penyiram api, alarm kebakaran, dan tabung pemadam api yang disertai petunjuk pemakaian. Kebersihan yang terjaga menjadi perhatian penting di tempat-tempat pelayanan medis.

INFOASKES

JUNI 2010

MITRA

Hal senada juga dikatakan oleh Andry, yakni para pegawai Askes sangat kooperatif dengan para pesertanya. Umumnya, para pasien rumah sakit yang merupakan peserta Askes merasa dimudahkan dengan alur pelayanan yang ada. Mereka datang dan segera dilayani tanpa harus menunggu lama. Sebagai mitra dari PT Askes (Persero) yang senantiasa memberikan layanan terbaik, kami dituntut untuk memberi pelayanan prima kepada seluruh pasien khususnya peserta Askes. Kami memiliki tanggung jawab untuk mencapai kepuasan peserta terhadap pelayanan. Menurut saya, kemitraan dengan PT Askes (Persero) memberi dampak positif terhadap perkembangan layanan kesehatan di Indonesia, karena terdorong untuk memberikan layanan unggulan, ujar Andry. Unggul dalam Bedah Saraf dan Jantung Berbicara tentang layanan unggulan, lanjut Andry, Siloam Hospital memiliki layanan unggulan dalam bidang bedah saraf dan klinik jantung. Saat ini, Siloam Hospital memiliki delapan dokter spesialis purna waktu (full-time doctors). Selain itu, Siloam Hospital telah dilengkapi dengan alat-alat bedah termuktakhir untuk menangani permasalahan saraf dan jantung.

Para pegawai Askes sangat kooperatif dengan para pesertanya. Umumnya, para pasien

rumah sakit yang merupakan peserta Askes merasa dimudahkan dengan alur pelayanan yang ada. Mereka datang dan segera dilayani tanpa harus menunggu lama.dr. Andry, M.M., M.H.Kes, Direktur Operasional Siloam Hospital

Kami memang mengembangkan pelayanan di bidang neurologi dan jantung. Hal tersebut kami kembangkan karena seiring dengan meningkatnya penderita penyakit saraf maupun jantung. Dengan adanya layanan unggulan ini, masyarakat tidak perlu lari ke luar negeri untuk berobat. Kita harus menjadi tuan di negara sendiri, ujar Andry. Andry mengungkapkan, Siloam Hospital menerapkan Standard Operating Procedure (SOP) bertaraf pelayanan internasional. Namun, tetap saja SOP yang diterapkan disesuaikan kembali dengan kebutuhan rumah sakit. Contoh, soal penanganan pasien. Tim dokter diberi time out atau waktu yang diberikan kepada dokter untuk mendiagnosis pasien. Dokter juga wajib melihat medical record pasien sebelum mengambil tindakan. Dengan begitu, bisa ditentukan pasien harus menjalani operasi apa sehingga dokter dipastikan tidak salah prosedur. Dokter juga wajib memberi keterangan sedetail mungkin kepada pasien, ungkapnya lagi. Bukan hanya itu. Supaya tidak terjadi human error dalam menangani pasien, sumber daya manusia (SDM) rumah sakit yang terdiri dari 42 dokter purna waktu,

187 dokter spesialis, dan staf penunjang, rutin di-upgrade. Tidak hanya dokter dan perawat, pihak rumah sakit juga rutin memberi training kepada para karyawan. Dalam setahun, minimal, karyawan pernah mengikuti dua minggu training untuk meng-upgrade pengetahuan mereka. Why not Who Berbagai pengembangan telah dilakukan Siloam Hospital semata-mata untuk memberikan layanan medis yang prima, paripurna, dan bertaraf internasional. Hasil positif yang dicapai merupakan hasil usaha bersama baik internal maupun dengan mitra kerja. Semua perubahan ini diarahkan pada satu tujuan, yakni mencapai kepuasan peserta terhadap layanan medis yang prima dan mumpuni. Andry mengakui, manajemen Siloam Hospital memiliki budaya tersendiri untuk segera menangani dan menyelesaikan masalah. Dalam menangani setiap masalah, Siloam Hospital menerapkan prinsip mengapa bukan siapa (why not who). Dengan budaya why not who, kita menjadi tahu akar permasalahannya. Kita tahu penyebab kesalahannya. Ini akan semakin menyempurnakan pelayanan kami, tutup Andry.

JUNI 2010

INFOASKES

27

MITRA

RSUD dr. Soetomo, Surabaya

Rumah Sakit Rujukan Kelas Adi Indonesia TimurSurabaya membuat sejarah di dunia kedokteran di Indonesia Timur pada April 2010. RSUD dr. Soetomo yang bekerja sama dengan Oriental Organ Transplant Center (OOTC), Tianjin, Tiongkok telah berhasil melakukan tranplantasi lever. Hal yang paling membanggakan adalah hampir seluruh tindakan dalam operasi tersebut dilakukan oleh tim dokter dari rumah sakit milik pemerintah Provinsi Jawa Timur ini. dari pasar potensial tersebut. Hal ini tertuang dalam visinya, sebagai rumah sakit pendidikan terbaik dan terpandang di Indonesia dengan ciri-ciri aman, bermutu, informatif, manusiawi, efektif, memuaskan, dan efisien. Sebagai rumah sakit rujukan kelas A, RSUD dr. Soetomo mengutamakan pelayanan untuk klien dan pasien sehingga menjadi panutan dan cerminan bagi rumah sakit lain, khususnya di wilayah Indonesia Timur. Untuk itu, pihak manajemen dan komite mutu rumah sakit tersebut melaksanakan beberapa program sebagai upaya meningkatkan dan mempertahankan mutu dengan pendekatan pemecahan masalah. Adapun teknik pemecahan masalah dalam meningkatkan mutu pelayanan baik pelayanan internal maupun eksternal di RSUD dr. Soetomo, antara lain Kelompok Budaya Kerja (KBK), Gugus Kendali Mutu (GKM), dan Problem Solving for Better Health. Ketiga teknik ini diharapkan dapat menghasilkan budaya kerja yang baik dan SDM yang berkualitas. Sebagai rumah sakit pendidikan, RSUD dr. Soetomo sangat concern dengan kualitas SDM-nya. Pasalnya, dalam rumah sakit pendidikan, hal yang paling dibutuhkan secara mutlak adalah kuantitas dan kualitas SDM yang mumpuni. Tak heran, rumah sakit ini memiliki banyak pengajar yang terdiri dari spesialis dan konsulen. Di samping itu, RSUD dr. Soetomo ditunjang pula dengan hardware dan prosedur tetap (Protap) yang menjadi dasar dan panutan yang harus dipatuhi oleh mahasiswa maupun dokter. Protap tersebut ada yang berasal dari Dirjen Dikti, berupa Standar Operasional Prosedur (SOP). Selain itu, ada pula yang dimodifikasi oleh profesi dokter di RSUD dr. Soetomo, yakni Standar Pelayanan Medik (SPM). Saat ini, di RSUD dr. Soetomo, terdapat sekitar 854 dokter muda (mahasiswa kedokteran yang sedang menempuh pendidikan ko-asistensi (koas)), 5.000 dokter ahli dan umum, 293 dokter spesialis, serta 1.100 perawat. Mereka berasal dari berbagai

RSUD

dr. Soetomo, Surabaya

K28

esuksesan operasi cangkok hati tersebut memang patut menjadi kebanggaan bagi masyarakat Surabaya. Hal ini juga kian mengukuhkan posisi RSUD dr. Soetomo sebagai wahana pelayanan kesehatan dan pendidikan kedokteran terbesar di wilayah Indonesia Timur. RSUD yang berada di ujung Pulau Jawa, tepatnya di Jalan Airlangga No. 19, Surabaya, ini telah memberikan kepastian pelayanan kesehatan yang berkualitas. Saat ditemui Buletin Info Askes, Direktur RSUD dr. Soetomo, dr. Slamet Riyadi Yuwono, DTMH, MARS mengatakan, RSUD dr. Soetomo memiliki beberapa layanan unggulan, yakni layanan hemodialisa, endoskopi, USG 4 dimensi, echocardiologi,

laboratorium CT Scan 64 Slice, kanker, penyakit syaraf, dan klinik fertilitas. Dilengkapi dengan kecanggihan fasilitas kesehatan yang bekerja selama 24 jam non-stop, rumah sakit yang dibangun di atas lahan 16 Ha ini senantiasa berusaha untuk memberikan diagnosis serta terapi yang efektif dan tepat kepada pasien. Hal tersebut didukung pula oleh para dokter spesialis dan super spesialis yang ada di RSUD dr. Soetomo. Sebenarnya, masyarakat Indonesia Timur, lanjut Slamet, merupakan pasar yang potensial. Selama ini, mereka lari ke rumah sakit swasta atau luar negeri ketika sakit mendera. Dengan peningkatan kualitas dan kuantitas layanan kesehatan, RSUD dr. Soetomo berusaha untuk menjadi rumah sakit pertama dan utama bagi segmen utama

INFOASKES

JUNI 2010

MITRA

fakultas kedokteran yang berafiliasi dengan RSU dr. Soetomo. Namun, diakui Slamet, pada kenyataannya, jumlah tenaga medis ini ternyata belum mampu menangani seluruh pasien yang ada. Integritas Tiga Kelompok Kinerja gemilang RSUD dr. Soetomo tidak dicapai dalam waktu singkat. Menurut Slamet, RSUD dr. Soetomo selalu melakukan perbaikan internal organisasi dan mutu pelayanan, yang didasarkan pada hasil analisis SWOT atau kepanjangan dari Strengths kekuatan, Weaknesses kelemahan, Opportunities kesempatan, dan Threats ancaman. Selama 2-3 tahun, RSUD dr. Soetomo fokus terhadap perbaikan kelembagaan, prosedur disiplin, dan teamwork. Ada tiga kelompok di RSUD dr. Soetomo ini, yakni pendidik, profesi yang melayani, dan manajamen. Selama ini, mereka menjalankan tugasnya secara terpisah. Misalnya pendidik, tugasnya adalah mendidik, tidak ada kaitan dengan masalah pelayanan. Begitu juga dengan kelompok profesi dan manajemen. Saya coba satukan ketiga kelompok ini. Kini, penyatuan tersebut tergambar dari slogan masalahku menjadi masalah kita,ujar Slamet. Lebih lanjut, Slamet memaparkan, para pegawai dituntut untuk meningkatkan

Saya melihat perkembangan Askes secara bagus dan signifikan. Seiring dengan pekembangan perusahaan, pelayanannya pun meningkat, tutur Slametdr. Slamet Riyadi Yuwono, DTMH, MARS, Direktur RSUD dr. Soetomo

Saya mengenal PT Askes (Persero) sejak tahun 1980 saat di Pacitan.

teknik berkomunikasi yang baik kepada para pasien. Hampir sebagian besar dari para pasien di rumah sakit memberi masukan tentang miss-communication antara dokter dengan pasiennya. Untuk itu, diharapkan para pegawai lebih giat untuk mengembangkan kemampuan akademik dan soft skill-nya dalam meningkatkan pelayanan kesehatan untuk masyarakat. Beliau menambahkan, salah satu hal terpenting yang ditekankan untuk para dokter baru adalah untuk senantiasa meningkatkan teknik berkomunikasi yang baik kepada para pasiennya. Karena sesuai dengan kondisi di lapangan, sebanyak 3.000 pasien per hari yang berobat ke RSUD dr. Soetomo, 60 persen di antaranya mengaku tidak nyaman terhadap pelayanan rumah sakit. Terlebih, karena kurangnya jalinan komunikasi antara dokter dengan pasiennya. Terus Berkembang Sebagai rumah sakit bertaraf internasional, RSU dr. Soetomo menjalin kemitraan dengan perusahaan yang menjadi pakar di bidangnya. Di bidang kesehatan, RSU dr. Soetomo bekerja sama dengan PT Askes (Persero) . Saya mengenal PT Askes (Persero) sejak tahun 1980 saat di Pacitan. Saya melihat perkembangan Askes secara bagus dan

signifikan. Seiring dengan pekembangan perusahaan, pelayanannya pun meningkat, tutur Slamet. Perkembangan signifikan PT Askes (Persero) adalah pembayaran pelayanan kesehatan. PT Askes (Persero) melakukan pembayaran lebih cepat sehingga minimal sehari sebelum jatuh tempo. Hal ini memberi kelancaran dalam pelayanan kesehatan bagi peserta Askes. Mayoritas pasien RSU dr. Soetomo, lanjut Slamet, merupakan peserta Askes. Mereka umumnya memberi penilaian positif baik kepada pegawai rumah sakit maupun para pegawai Askes yang berada di Askes Center. Mereka senang karena ketika mengeluhkan sesuatu segera dilayani dan ditangani dengan baik. Harapannya, kerja sama yang telah terjalin baik ini semakin ditingkatkan melalui peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan kepada pasien. Saya percaya, PT Askes (Persero) sebagai perusahaan spesialis asuransi di bidang kesehatan akan terus menjalankan program-program yang dibutuhkan pasien, ujar Slamet.

JUNI 2010

INFOASKES

29

MITRA

Puskesmas Batuceper, Tangerang

Puskesmas Batuceper, Tangerang

Jangkau Masyarakat dengan Pelayanan Tuberkulosis dan Promotif-PreventifWajah Puskesmas Batuceper tak berbeda dari Puskesmas umumnya, yakni bangunan sederhana yang terbagi dalam beberapa poli. Namun, hal yang berbeda dari Puskesmas yang terletak di Jalan Daan Mogot Raya Km 21, Kelurahan Batuceper, Kota Tangerang itu adalah bukan sekadar tempat berobat, tetapi menjadi Puskesmas yang memiliki banyak inovasi untuk meningkatkan kualitas hidup pasiennya. Puskesmas Batuceper dapat menjangkau masyarakat dengan Pelayanan Tuberkulosis (TB) dan Promotif-Preventif.

S30

eperti diketahui, Kota Tangerang merupakan daerah industri. Hal ini membuat iklim dan lingkungan menjadi faktor penentu terhadap penularan tuberkulosis. Lokasi Batuceper yang banyak dilalui angkutan umum dan kendaraan antarkota membuat pencemaran udara semakin di luar batas ketentuan. Akibatnya, banyak masyarakat terkena penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Saat diwawancarai oleh Buletin Info Askes, drg. R.R. Sri Wahyu Hermiyati, Kepala Puskesmas Batuceper, menjelaskan, mengingat penyakit

tuberkulosis menjadi masalah kesehatan masyarakat di Kecamatan Batuceper dan belum dilaksanakan pemberantasannya secara menyeluruh maka Puskesmas Batuceper membuka poli TB. Tidak hanya itu, suatu upaya swasembada masyarakat juga sangat diperlukan untuk dapat mendukung pemberantasan tuberkulosis. Peran serta masyarakat yang dapat mendukung pemberantasan tuberkulosis, antara lain dalam hal peningkatan kesehatan lingkungan pemukiman dan memerhatikan aspek sosial budaya serta perilaku hidup sehat yang berkaitan dengan penularan penyakit tuberkulosis.

INFOASKES

JUNI 2010

MITRA

Puskesmas Batuceper menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Keadaan ini senada dengan konsep jaminan pelayanan PT Askes (Persero) bagi para pesertanya.drg. R.R. Sri Wahyu Hermiyati, Kepala Puskesmas Batuceper

Di samping pelayanan TB, Puskesmas Batuceper juga menjalankan Program Promosi Kesehatan (Promkes). M


Recommended