Home >Documents >Askep Peritonitis

Askep Peritonitis

Date post:02-Feb-2016
Category:
View:50 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Description:
materi blog gastro
Transcript:

TUGASGANGGUAN GASTROINTESTINAL

Bagian Atas ; Peritonitis

OLEH :Kelompok IINI LUH PUTU RINTHO A.D (C12115705)ANDI NUR RAHMAD (C12115712)

DIAN PISPITA SARI (C12115715)PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN (PSIK) JALUR KERJASAMAFAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR

2015KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penyusunan makalah yang berjudul Makalah Asuhan Keperawatan Otitis Media dapat terselesaikan tepat waktu.Kelompok menyadari sepenuhnya dalam penyusunan makalah ini sangat jauh dari sempurna dan masih banyak kekurangan mengingat kemampuan kami yang terbatas. Untukitu kritik dan saran yang bersifat membangun khususnya dari Dosen Pengampu mata kuliah sangat kami harapkan dan kami terima dengan senang hati.Makassar, Februari 2015Penyusun

DAFTAR ISI

halama Kata Pengantar

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

1.2 Tujuan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi

2.2 Etiologi

2.3 Patofisiologi

2.4 Manifestasi Klinis

2.5 Pemeriksaan Diagnostik

2.6 Penatalaksanaan

2.7 Kpmplikasi

BAB III ASKEP TEORITIS

3.1 Pengkajian

3.2 Diagnosa

3.3 Implementasi

3.4 Evaluasi

BAB IV PENUTUP

A.Kesimpulan

B.Saran

BAB IPENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPeritonitis adalah inflamasi peritonium,biasanya akibat dari inflamasi bakteri ; organisme yang berasal dari penyakit gastrointestinal atau pada wanita dari organ reproduktif internal. (Smeltzer & Bare, 2002)Berdasarkan sumber dan terjadinya kontaminasi mikrobial, peritonitis diklasifikasikan menjadi: primer, sekunder, dan tersier. Peritonitis primer disebabkan oleh infeksi monomikrobial. Sumber infeksi umumnya ekstraperitonial yang menyebar secara hematogen. Ditemukan pada penderita serosis hepatis yang disertai asites, sindrom nefrotik, metastasis keganasan, dan pasien dengan peritoneal dialisis. Kejadian peritonitis primer kurang dari 5% kasus bedah. Peritonitis sekunder merupakan infeksi yang berasal dari intraabdomen yang umumnya berasal dari perforasi organ berongga. Peritonitis sekunder merupakan jenis peritonitis yang paling umum, lebih dari 90% kasus bedah. Peritonitis tersier terjadi akibat kegagalan respon inflamasi tubuh atau superinfeksi. Peritonitis tersier dapat terjadi akibat peritonitis sekunder yang telah delakukan interfensi pembedahan ataupun medikamentosa. Kejadian peritonitis tersier kurang dari 1% kasus bedah.Sebagaimana dalam penelitian Tarigan pada tahun 2012, peritonitis didefenisikan suatu proses inflamasi membran serosa yang membatasi rongga abdomen dan organ-organ yang terdapat didalamnya. Peritonitis dapat bersifat lokal maupun generalisata, bakterial ataupun kimiawi. Peradangan peritoneum dapat disebabkan oleh bakteri, virus, jamur, bahan kimia iritan, dan benda asing. Kemudian disebutkan juga bahwa peritonitis merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada penderita bedah dengan mortalitas sebesar 10-40%. Peritonitis difus sekunder yang merupakan 90% penderita peritonitis dalam praktek bedah dan biasanya disebabkan oleh suatu perforasi gastrointestinal ataupun kebocoran. (Tarigan, M.H, 2012) Menurut NMS Surgery5th Edition,2008 dikutip dari penelitian S.carolina,mahasiswa keperawatan Universitas Sumatra Utara; Suatu perforasi dapat terjadi akibat trauma dan non trauma. Non trauma misalnya akibat volvulus, spontan pada bayi baru lahir, ingesti obat-obatan, tukak, malignansi, dn benda asing. Sedangkan trauma dapat berupa trauma tajam maupun trauma tumpul, misalnya iatrogenik akibat pemasangan pipa nasogastrik. Sementara itu beberapa contoh lokasi kebocoran atau perforasi gastrointestinal yang menyebabkan peritonitis sekunder adalah kebocoran pada lambung maupun kebocoran pada usus (duodenum, jejenum, ileum, colon, maupun appendik). Kebocoran lambung dapat disebabkan oleh ulkus gaster atau yang biasanya disebut tukak lambung. Tukak lambung umumnya terjadi pada pria, orang tua,dan kelompok dengan tingkat sosioekonomi rendah. Sementara itu tukak duodenum lebih sering terjadi dua kali dari pada tukak lambung.

Walaupun tukak duodenum lebih sering terjadi dari pada tukak lambung, tetapi tukak lambung yang perforasi mempunyai mortalitas lebih tinggi daripada tukak duodenum yang perforasi. Pada kebanyakan kasus tingkat kematiannya mencapai 15-20% dan kebanyakan perforasi lambung tersebut terjadi pada daerah antrum atau prepilorik. (Maingot 11th Edition, 2007) Tukak lambung adalah penyakit yang umum ditemukan, mempengaruhi sekitar lebih dari 6 juta penduduk di Amerika Serikat, menjadikannya suatu penyakit yang dipertimbangkan dan menjadi salah satu penyakit dengan pengeluaran besar. Walaupun jumlah pasien yang dirawat di rumah sakit berangsur turun pada tahun 1980 dan 1990, laju ini masih dapat dikatakan tinggi.(Feinstein, L.B., 2010).

Di Amerika Serikat angka kematian tukak lambung adalah sekitar 1 kasus per 1.000.000 orang. Angka kematian lebih tinggi pada pasien yang lebih tua, yang dapat disebabkan oleh tingginya tingkat penggunaan NSAID (non steroid anti inflammation drugs) dalam kelompok usia ini.Kelompok berisiko tinggi lainnya termasuk orang dengan diabetes. Tukak lambung juga terkait dengan morbiditas yang cukup berhubungan dengan nyeri epigastrium kronis, mual, muntah, dan anemia. (Shrestha, 2009)

Di Indonesia tukak lambung ditemukan antara 6-15% pada usia 20-50 tahun. Terutama pada lesi yang hilang timbul dan paling sering didiagnosis pada yang terjadi pada orang dewasa usia pertengahan sampai usia lanjut, tetapi lesi ini mungkin sudah muncul sejak usia muda. (Nasif et al, 2008)

Studi seroepidemiologik populasi umum di Indonesia menunjukkan bahwa prevalensi tukak lambung yang disebabkan oleh Helicobacter pylori pada anak-anak berumur 0-14 tahun sekitar 7,2-28%, sedangkan pada umur diatas 15 tahun antara 36.54,3%. Hal ini menunjukkan bahwa semakin meningkamur, maka prevalensinya pun semakin tinggi. Sebuah survei di Jakarta menunjukkan bahwa penderita tukak lambung karena H. pylori lebih banyak ditemukan pada etnik Batak dan Cina dari pada etnik lainnya. (Silitonga, 2007)1.2 TujuanUntuk mengetahui dan memahami proses terjadinya peritonitis serta asuhan keperawatan yang dapat diberikan pada pasien yang mengalami peritonitis.BAB II

TINJAUAN PUSTAKA2.1 DefinisiAnatomi Fisiologi PeritoneumPeritoneum terdiri dari dua bagian yaitu peritonium parietal yang melapisi dinding rongga abdomen dan peritonium viseral yang melapisi semua organ yang berada dalam rongga abdomen.Ruang yang terdapat diantara dua lapisan ini disebut ruang peritoneal atau kantong peritonium.

Pada laki-laki merupakan kantong tertutup dan pada perempuan merupakan saluran telur yang terbuka masuk kedalam rongga peritonium,didalam peritonium banyak terdapat lipatan atau kantong.Lipatan besar (omentum mayor) banyak terdapat lemak yang terdapat di sebelah depan lambung.Lipatan kecil ( omentum minor ) meliputi hati, kurvatura minor dan lambung,berjalan keatas dinding abdomen dan membentuk mesenterium usus halus (Syamsuddin, 2006).Peritonitis adalah Inflamasi peritoneum (Lapisan merman serosa rongga abdomen dan meliputi visera). Biasanya akibat infeksi bakteri: organisme yang berasal dari penyakit saluran gastrointestinal atau jika terjadi pada wanita biasanya dari organ reproduksi iternal. (Smeltzer & Bare,2002)Berdasarkan buku Peritonitis Harrison Textbook 2011 yang dikutip dari Karya ilmiah S. Caronila Mahasiswa Universitas Sunatra Utara Peritonitinis adalah suatu keadaan yang mengancam jiwa yang sering bersamaan dengan kondisi bakteremia dan sindroma sepsis. Klasifikasi peritonitis:1. Peritonitis primerPaling sering terjadi pada anak anak dengan sidrom nefritis atau serosis hati terutama pada anak perempuan. Peritonitis ini biasanya terjadi tanpa adanya sumber infeksi di rongga peritoneum, kuman masuk ke rongga peritoneum melalui aliran darah atau pada pasien perempuan melalui saluran alat genitalia.2. Peritonitis sekunder

Peritonitis yang terjadi jika ada kuman yang cukup banyak masuk ke rongga peritoneum, biasanya dari lumen saluran cerna, dan bisa juga terjadi jika ada trauma yang meyebabkan rupture pada saluran cerna atau perporasi setelah endoskopi kateterisasi, biopsy atau polipektomi endoscopic, dan tidak jarang pula setelah perporasi spontan pada tukak peptic atau keganasan saluran cerna, tertelannya benda asing yang tajam juga dapat menyebabkan perporasi dan peritonitis.3. Peritonitis karena pemasangan benda asing dalam peritoneumBiasanya prosedur infasi yang bisa menimbulkan peritonitis antara lain sebagai berikut:a. Kateter pentrikulo peritoneal yang dipasang pada pengobataan hidrosefalus

b. Kateter peritoneal jugular untuk mengurangi asites

c. Continous ambulatoru peritoneal dialysis (Soeparman S,)2.2 Etiologi 1. Infeksi bakteri

a. Mikroorganisme berasal dari penyakit saluran gastrointestinalb. Apendisitis yang meradang dan perforasi

c. Tukak eptik (lambung / duodenum)

d. Tukak thypoid

e. Tukak dsentri ambula / colitis

f. Tukak pada tumor

g. Salpingitish. Diverkulitis

Kuman yang paling hemolitik adalah stapilokokus aureus dan bakteri tersering adalah bakteri E.coli,streptokokus enterokokus , yang paling berbahaya adalah clostridium wechii.

2. Secara langsung dari luara. Operasi yang tidak steril

b. Terkontaminasi talcum venetum, lyocopodium, sulfonamide

c. Trauma pada kecelakaan seperti rupture limpa,rupture hati.

d. Melalui tuba fallopius seperti cacing anterobius vermikularis.

3. Secara hematogen sebagai komplikasi beberapa penyakit akut seperti radang saluran pernapasan bagian atas, otitis media, ma stoiditis, glomerulonefritis. Pe