Home >Documents >Arg Juni 2015, Mustakim

Arg Juni 2015, Mustakim

Date post:05-Jan-2016
Category:
View:5 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Description:
PAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHANGALIAN C DI DESA SELOK ANYAR KECAMATAN PASIRIANKABUPATEN LUMAJANG DITINJAU DARI PERATURANDAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 16 TAHUN2006
Transcript:
  • 128 ARGUMENTUM, VOL. 14 No. 2, Juni 2015

    PAJAK PENGAMBILAN DAN PENGOLAHAN BAHAN GALIAN C DI DESA SELOK ANYAR KECAMATAN PASIRIAN

    KABUPATEN LUMAJANG DITINJAU DARI PERATURAN DAERAH KABUPATEN LUMAJANG NOMOR 16 TAHUN

    2006

    Mustakim - Sekolah Tinggi Ilmu Hukum Jenderal Sudirman -

    Jl. Mahakam No. 7 Lumajang

    ABSTRAK Pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C (pasir) yang terdapat pada Perda Kabupaten Lumajang No. 16 Tahun 2006 tidak berjalan efekif. Hal ini dikarenakan implementasi Perda di Desa Selok anyar yang terdiri atas pembayaran pajak, pengurusan ijin lokasi dan penegakan hukum berupa sanksi belum maksimal dijalankan karena belum adanya perubahan pada pajak, tidak adanya jumlah ijin penambang, adanya koordinasi yang masih kurang maksimal baik dari desa maupun SATPOL PP, serta masih adanya respon negatif dari masyarakat atas kebijakan yang dibuat. Kata Kunci: Pajak, Bahan Galian C, Perda, Efektif,

    A. PENDAHULUAN

    Dalam sistem keuangan Negara, pajak merupakan sumber penerimaan negara yang paling dominan. Sejak diberlakukan otonomi daerah pada Januari 2001, pemerintah daerah diberi wewenang mengurus rumah tangganya sendiri dengan memanfa-atkan berbagai sumber daya yang tersedia di daerahnya, maka pemerintah pusat menghendaki daerah untuk mencari sum-ber-sumber penerimaan yang dapat membiayai pengeluaran pemerintah daerah dalam rangka menyelenggarakan pemerintahan dan pembangunan daerah.1

    Nick Devas, Richard M. Bird, dan B.C. Smith menyatakan bahwa suatu pemerintah daerah dapat menetapkan dan

    1 Marihot P,Siahaan (2005) Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, PT

    Raja Grafindo Persada, Jakarta, Hal. 35.

  • 129 ARGUMENTUM, VOL. 14 No. 2, Juni 2015

    memungut beragam jenis pajak daerah sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Hal ini sangat dimungkinkan jika pemerintah daerah memiliki kemampuan untuk menetapkan sendiri sumber pendapatan yang bersumber dari potensi daerahnya tersebut.2 Dari berbagai alternatif penerimaan daerah, pajak daerah merupakan salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah.

    Pajak secara umum dapat diartikan sebagai iuran dari rakyat kepada pemerintah yang bersifat wajib berdasarkan UU dengan tidak mendapat jasa timbal balik atau kontraprestasi yang langsung ditunjukkan dan yang digunakan untuk membiayai pengeluaran umum dan dalam rangka menyelenggarakan pemerintah. Dalam hal balas jasa, pemerintah mewujudkannya kepada masyarakat dalam bentuk pemeliharaan keamanan dan ketertiban, pemberian subsidi barang kebutuhan pokok, tempat peribadatan dan pembangunan lainnya disegala bidang.3

    Kewenangan kepada daerah untuk memungut pajak dan retribusi daerah diatur dalam UU No. 18 Tahun 1997 tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah yang kemudian disempurnakan dengan UU No. 2 8 Tahun 2009 yang diantara jenis pajak tersebut adalah Pajak Pengambilan Bahan Galian GoIongan C yang merupakan salah satu jenis pajak daerah.

    Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C adalah pajak atas kegiatan pengambilan bahan galian golongan C dari sumber alam di dalam maupun di permukaan bumi untuk dimanfaatkan sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pajak jenis ini mempunyai berkontribusi yang sangat signifikan dalam komposisi target pajak daerah untuk kabupaten atau kota, yang dapat dilihat dari begitu besarnya potensi wilayah kabupaten atau kota yang memiliki sumber alam yang dapat

    2 M. Riduansyah (2003) Kontribusi Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

    Terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan Anggaran Pendapatan dan

    Belanja Daerah (APBD) Guna Mendukung Pelaksanaan Otonomi Daerah.

    Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Hal. 49-51.

    3 Adrian Sutedi, (2013) Hukum Pajak, Sinat Grafika, Jakarta, Hal. 2.

  • 130 ARGUMENTUM, VOL. 14 No. 2, Juni 2015

    dieksploitasi, yang hasilnya menjadi dasar pengenaan Pajak Pengambilan Bahan Galian Golongan C.4

    Dari jumlah total PAD Kabupaten Lumajang dalam kurun waktu tahun 2008-2009, kontribusi pajak dari sektor bahan galian golongan C terhadap PAD Kabupaten Lumajang adalah sebesar 4,10% tahun 2008, tahun 2009 sebesar 2,53% dan pada tahun 2010 sebesar 3,07%.5

    Dalam upaya meningkatkan PAD dari bahan galian golongan C, Pemerintah Daerah Kabupaten Lumajang mengeluarkan kebijakan berupa Peraturan Daerah Nomor 4 Tahun 2006 tentang Perubahan Atas Peraturan Daerah Tingkat II Lumajang Nomor 16 Tahun 1996 tentang Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian Golongan C. Setelah Perda dibuat, maka Perda tersebut tentu saja diimplementasikan.

    Dalam pengamatan di lapangan masih begitu banyak kegiatan masyarakat yang tidak sesuai dengan apa yang terkandung dalam kebijakan tersebut. Penggalian terhadap material galian C khususnya pasir, tanah timbun dan tanah liat masih dilakukan tanpa membayar pajak, penambangan yang dilakukan tidak memiliki ijin galian serta masih adanya pelanggaran terhadap sanksi yang ditetapkan. Disamping masih kurangnya kepedulian masyarakat, hal lain yang perlu dilihat adalah bagaimana implementor dalam mengimplementasikan kebijakan agar sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai.

    B. RUMUSAN MASALAH Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Bagaimana

    pajak pengambilan dan pengolahan bahan galian C di Desa Selok Anyar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang ditinjau dari Perda No. 16 Tahun 2006?

    C. METODE PENELITIAN Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah

    pendekatan yuridis empiris. Sifat dari penelitian yang dilakukan adalah deskriptif, yaitu suatu penelitian yang berusaha untuk menggambarkan tentang keadaan dan gejala-gejala lainnya

    4 http://www. ladynoor.com//artikel/ dalam PAJAK, Uncategorized.

    5 Idem.

  • 131 ARGUMENTUM, VOL. 14 No. 2, Juni 2015

    dengan cara mengumpulkan data, menyusun, mengklasifikasi, menganalisa, dan menginterprestasikan.

    Lokasi penelitian ini dilakukan secara purposif dengan fokus lokasi penelitian di Desa Selok Anyar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang. Data dalam penelitian ini diperoleh melalui dua sumber data yaitu: (1) Data primer berupa data yang diperoleh secara langsung dari lokasi penelitian (field research) melalui keterlibatan langsung dengan masyarakat setempat. (2) Data sekunder berupa data yang diperoleh dari: (a) Bahan hukum primer, (b) Bahan Hukum Sekunder, dan (c) Bahan hukum tersier. Sedangkan metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah: 1) wawancara; 2) pengamatan, dan 3) dokumentasi.6

    Analisis data yang digunakan adalah bersifat deskriptif kualitatif. Proses analisis data itu dimulai dengan menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber, yaitu dari wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi dan dokumen resmi. Setelah dibaca, ditelaah dan dikritisi, langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data. D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

    Sebagai sebuah desa yang merupakan tempat yang dijadikan lokasi pertambangan golongan galian C yang berada di Kecamatan Pasirian, lokasi pertambangan golongan galian C yang berada di Desa Selok Anyar terdapat di sepanjang selatan Desa Selok Anyar yang merupakan area persawahan dan pesisir pantai dengan luas area atau lahan yang ditambang adalah kurang lebih 2,35 KM, dengan jenis galian yang ditambang berupa pasir dengan jumlah penambang kurang lebih sekitar 300 orang.

    Selain adanya penambang, juga terdapat orang-orang yang terlibat di dalamnya seperti pengangkut yang berjumlah kurang lebih 150 orang supir, dan lima (5) orang penarik atau penjaga portal seperti Slamet, Suadi, Siyar, Sitap, dan Tirat. Beberapa orang yang memiliki lokasi lahan pertambangan golongan galian C yang berada di Desa Selok Anyar adalah Saharuddin, H. Siyar, Badrus Salim, Ahmad Yani, Purnomo, Karsari, Tirat, Joko, dan Misbah.

    6 Moleong. L. J. (2009) Metodologi Penelitian Kualitatif. Cetakan ke-

    26, PT Remaja Rosdakara, Bandung, Hal. 217.

  • 132 ARGUMENTUM, VOL. 14 No. 2, Juni 2015

    D.1. Pajak Pengambilan dan Pengolahan Bahan Galian C (pasir) di Lokasi Penelitian Desa Selok Anyar Kecamatan Pasirian Kabupaten Lumajang

    Sebagai sebuah desa yang merupakan tempat yang dijadikan lokasi pertambangan golongan galian C yang berada di Kecamatan Pasirian, lokasi atau tempat pertambangan golongan galian C yang berada di Desa Selok Anyar terdapat di sepanjang selatan Desa Selok Anyar yang merupakan area persawahan yang merupakan milik pribadi dari masyarakat desa Selok Anyar sendiri dan sebagian daerah pesisir pantai yang merupakan daerah milik pemerintah tetapi sudah diklaim oleh masyarakat yang awalnya adalah orang-orang pendatang yang datang untuk merantau dan bukan penduduk asli Desa Selok Anyar.

    Mereka mengklaim tanah berpasir yang terdapat di sepanjang daerah pesisir pantai sebagai tanah miliknya dengan cara memberi tanda-tanda sebagai batas kepemilikan bagi mereka dengan berbagai macam cara, ada yang memagarinya, ada yang hanya memberi tanda batas dengan hanya menanaminya dengan sebatang pohon waru, dan lain sebagainya.

    Implementasi Perda pajak galian C yang berupa pasir yang terdapat di Desa Selok Anyar belum maksimal dijalankan disebabkan pemungutan pajak galian C belum dilakukan secara maksimal oleh petugas maupun pembayaran pajak yang tidak dilakukan secara sadar oleh masyarakat itu sendiri. H. Fauzan (95 tahun), selaku tokoh masyarakat Desa Selok Anyar mengat

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended