Home >Health & Medicine >Apa yang perlu dokter ketahui mengenai Lupus ?

Apa yang perlu dokter ketahui mengenai Lupus ?

Date post:02-Nov-2014
Category:
View:13 times
Download:9 times
Share this document with a friend
Description:
pengetahuan dasar lupus diagnostik dan tatalaksana serta rujukan bagi dokter umum. Bermanfaat juga bagi profesi kesehatan lain seperti perawat, nurse, lab, mahasiswa dan masyarakat umum yang tertarik untuk mengetahui selintas mengenai lupus
Transcript:
  • 1. Systemic Lupus Erythematosus (SLE)
    Rachmat Gunadi Wachjudi, Dinda Andini
    Pendahuluan
    Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang lebih dikenal dengan penyakit Lupus, adalah penyakit inflamasi kronis yang dapat mengenai berbagai sistem organ di tubuh kita yang disebabkan oleh produksi antibodi dan deposisi kompleks imun yang menyebabkan kerusakan jaringan.(1) Dalam bahasa awam SLE diibaratkan sebagai alergi terhadap dirinya sendiri.(2)
    Beberapa faktor yang diangggap sebagai penyebab diantaranya predisposisi genetik, defisiensi komplemen, adanya beberapa antigen tertentu, obat-obatan, dan faktor lingkungan.(3) SLE terutama terjadi pada wanita, dengan ratio pria:wanita = 9:1. Awitan penyakit biasanya terjadi setelah masa pubertas, terutama pada dekade ke-2 dan ke-3. SLE lebih sering terjadi pada ras Afrika-Amerika dibandingkan pada ras Kaukasian.(4) Angka insidensi SLE yang pernah dilaporkan dari penelitian-penelitian sebelumnya berkisar antara 1-10/100.000/tahun, dan angka prevalensi antara 16-70/100.000/tahun. Perbedaan ras mempengaruhi angka prevalensi dan manifestasi klinis. Ras Hispanik, Afrika-Amerika, dan Asia lebih cenderung memiliki manifestasi klinik yang melibatkan system hematologis, serosa, neurologis, dan ginjal. Angka insidensi dan prevalensi SLE pada anak-anak cenderung lebih rendah dari pada orang dewasa. Dari sebuah penelitian di Eropa dan Amerika Utara ditemukan bahwa angka insidensi SLE pada anak-anak usia di bawah 16 tahun adalah < 1/100.000/tahun. Sedangkan angka prevalensi SLE pada anak-anak di Taiwan pada tahun 1999 diperkirakan 6.3/100.000/tahun.(3)
    Kriteria Diagnosis
    Diagnosis SLE pada umumnya tidak dapat ditegakkan dengan segera, rata-rata dibutuhkan waktu 4 tahun sebelum dapat terdiagnosis. Manifestasi SLE sangat beragam, sementara itu gejala-gejala dan tanda-tanda penyakit terus berfluktuasi seiring perjalanan waktu. Diagnosis masih berpedoman pada kriteria klasifikasiSLE yang dikembangkan oleh American College of Rheumatology meliputi 11 parameter, yaitu :(5)
    • Malar rash
  • 2. Discoid rash

3. Photosensitivity 4. Oral/nasal ulcers 5. Arthritis 6. Serositis 7. Renal disorder :proteinuria 500mg/day or +3 or cellular cast 8. Neuro-psychiatric disorder : seizures or psychosis 9. Hematologic disorder :hemoliticanemia or leukopenia ( 3500/mm3. Monitoring jumlah leukosit dievaluasi tiap 2 minggu dan terapi intravena dengan dosis 0,5-1 gram/m2 setiap 1-3 bulan. Efek samping yang mungkin terjadi adalah mual, muntah, rambut rontok yang akan reda bila obat dihentikan. 34. Mycophenolate 35. Mycophenolate secara efektif mengurangi proteinuria dan memperbaiki kreatinin serum pada penderita Lupus dan nefritis yang resisten terhadap siklofosfamid.Efek samping yang terjadi pada umumya adalah leukopenia, nausea dan diare. Kombinasi MMF dan prednisone sama efektifnya dengan pemberian siklofosfamid oral dan prednisone yang dilanjutkan dengan azathioprine dan prednisone. Mycophenolate mofetil diberikan dengan dosis awal 500-1000 mg dua kali sehari, dosisnya dinaikan sampai 2x1500 mg disesuaikan dengan respon yang terjadi. Pada penderita Lupus yang mengalami kehamilan obat golongan ini sebaiknya dihindarkan. 36. Azathioprine 37. Pada SLE obat ini digunakan sebagai alternatif siklofosfamid untuk pengobatan lupus nefritis dan sebagai steroid sparing agent untuk manifestasi non renal seperti miositis dan sinovitis yang refrakter. Pemberian mulai dengan dosis 1,5 mg/kgBB/hari, jika perlu dapat dinaikan dengan interval waktu 8-12 minggu menjadi 2,5-3 mg/kgBB/hari dengan syarat jumlah leukosit > 3500/mm3 dan neutrofil > 1000. Jika diberikan bersamaan dengan allopurinol maka dosisnya harus dikurangi menjadi 60-75%.Oleh karena dimetabolisme di hati dan diekskresikan di ginjal maka fungsi ginjal dan hati harus diperiksa secara periodic.Obat ini merupakan pilihan imunomodulator pada penderita nefropati lupus yang hamil, diberikan dengan dosis 1-1,5 mg/kgBB/hari karena relatif aman. 38. Leflunomide 39. Beberapa penelitian menunjukkan perannya dalam mengendalikan arthritis pada Lupus yang memerlukan steroid tinggi.Diberikan dengan dosis 20 mg/hari. 40. Methotrexate 41. Diberikan dengan dosis 7,5-20 mg peroral satu kali seminggu, terbukti efektif terutama untuk manifestasi kulit dan sendi.Efek samping yang biasa terjadi adalah peningkatan serum transaminase, gangguan gastrointestinal, infeksi, dan oral ulcer, sehingga perlu dimonitor ketat fungsi hati dan ginjal.Pada penderita Lupus nefritis yang mengalami kehamilan obat golongan ini sebaiknya dihindari. 42. Siklosporin 43. Pemberian siklosporin dosis 2,5-5 mg/kgBB/hari pada umumnya dapat ditoleransi dan menimbulkan perbaikan yang nyata terhadap proteinuria, sitopenia, parameter imunologi (C3, C4, anti-ds DNA) dan aktifitas penyakit. Jika kreatinin meningkat lebih dari 30% atau timbul hipertensi maka dosisnya harus disesuaikan.Siklosporin terutama bermanfaat untuk nefritis membranosa dan untuk sindroma nefrotik yang refrakter, namun perlu monitoring tekanan darah dan fungsi ginjal secara rutin. Siklopsporin A aman diberikan pada penderita nefritis lupus yang hamil, diberikan dengan dosis 2 mg/kgBB/hari karena relatif aman. 44. Terapi biologis 45. Aktivasi sel T, interaksi sel T dan sel B, deplesi sel B 46. Perkembangan terapi terakhir telah memusatkan perhatian terhadap fungsi sel B dalam mengambil autoantigen dan mempresenasikannya melalui immunoglobulin spesifik terhadap sel T di permukaan sel, selanjutnya mempengaruhi respon imun dependen sel T. Anti CD 20 adalah suatu antibodi monoklonal yang melawan reseptor CD 20 yang dipresentasikan limfosit B. 47. Anti CD 20 48. Anti CD 20 (Rituximab) memiliki potensi terapi untuk SLE refrakter.Beberapa penelitian memberikan keberhasilan terapi pada manifestasi lupus refrakter seperti sistem saraf pusat, vaskulitis dan gangguan hematologi. 49. LJP 394 50. LJP 394 (Abetimus sodium) telah dirancang untuk mencegah rekurensi flare renal pada pasien nefritis dengan cara mengurangi antibodi terhadap ds-DNA melalui toleransi spesifik antigen secara selektif. Substansi ini merupakan suatu senyawa sintetik yang terdiri dari rangkaan deoksiribonukleotida yang terikat pada rantai trietilen glikol.Namun demikian penelitian multisenter yang diselenggarakan sampai tahun 2009, studi pendahuluan gagal membuktikan efektivitasnya. 51. Anti B lymphocyte stimulator 52. Stimulator limfosit B (BLyS) merupakan bagian dari sitokin TNF (Tumor Necrosis Factor), yang mempresentasikan sel B. LymphoStatB merupakan antibodi monoklonal terhadap BLyS. 53. Inhibitor sitokin 54. Meskipun ada penelitian yang menunjukkan penurunan skresi TNF alfa dan meliorasi leukopenia, proteinuria dan deposisi imun kompleks pada binatang percobaan, namun tidak ada studi klinis agen anti TNF yang diberikan pada penderita SLE. 55. Anti malaria 56. Obat anti malaria yang digunakan pada SLE adalah hidroksiklorokuin, klorokuin, dan quinakrin.Digunakan untuk manifestasi konstitusional, kulit, muskuloskeletal dan serositis.Kombinasi obat antimalaria memiliki efek sinergis bila penggunaan satu macam obat tidak efektif.Hidroksiklorokuin (200-400 mg/hari), klorokuin (250mg) dan quinakrin (100mg/hari) sebagai steroid sparing agent memiliki efek samping yang ringan dan reversible, yaitu perubahan warna kulit menjadi kekuningan.Mekanisme bagaimana antimalaria mencegah kerusakan organ belum jelas. Obat golongan ini menurunkan kadar lipid dan berfungsi anti trombotik.Meskipun relatif aman, perlu diperhatikan kemungkinan efek samping pada mata walaupun sangat jarang bila digunakan dengan dosis rendah (

of 13/13
Systemic Lupus Erythematosus (SLE) Rachmat Gunadi Wachjudi, Dinda Andini Pendahuluan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau yang lebih dikenal dengan penyakit Lupus, adalah penyakit inflamasi kronis yang dapat mengenai berbagai sistem organ di tubuh kita yang disebabkan oleh produksi antibodi dan deposisi kompleks imun yang menyebabkan kerusakan jaringan. (1) Dalam bahasa awam SLE diibaratkan sebagai alergi terhadap dirinya sendiri. (2) Beberapa faktor yang diangggap sebagai penyebab diantaranya predisposisi genetik, defisiensi komplemen, adanya beberapa antigen tertentu, obat-obatan, dan faktor lingkungan. (3) SLE terutama terjadi pada wanita, dengan ratio pria:wanita = 9:1. Awitan penyakit biasanya terjadi setelah masa pubertas, terutama pada dekade ke-2 dan ke- 3. SLE lebih sering terjadi pada ras Afrika-Amerika dibandingkan pada ras Kaukasian. (4) Angka insidensi SLE yang pernah dilaporkan dari penelitian-penelitian sebelumnya berkisar antara 1-10/100.000/tahun, dan angka prevalensi antara 16-70/100.000/tahun. Perbedaan ras mempengaruhi angka prevalensi dan manifestasi klinis. Ras Hispanik, Afrika-Amerika, dan Asia lebih cenderung memiliki manifestasi klinik yang melibatkan system hematologis, serosa, neurologis, dan ginjal. Angka insidensi dan prevalensi SLE pada anak-anak cenderung lebih rendah dari pada orang dewasa. Dari sebuah penelitian di Eropa dan Amerika Utara ditemukan bahwa angka insidensi SLE pada anak-anak usia di bawah 16 tahun adalah < 1/100.000/tahun. Sedangkan angka prevalensi SLE pada anak-anak di Taiwan pada tahun 1999 diperkirakan 6.3/100.000/tahun. (3) Kriteria Diagnosis Diagnosis SLE pada umumnya tidak dapat ditegakkan dengan segera, rata-rata dibutuhkan waktu 4 tahun sebelum dapat
Embed Size (px)
Recommended