Home >Documents >ANALISIS KETAHANAN PANGAN REGIONAL DAN TINGKAT pse. · PDF fileBertitik tolak dari data...

ANALISIS KETAHANAN PANGAN REGIONAL DAN TINGKAT pse. · PDF fileBertitik tolak dari data...

Date post:03-Mar-2019
Category:
View:221 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:

49

ANALISIS KETAHANAN PANGAN REGIONAL DAN TINGKAT RUMAH TANGGA

(Studi Kasus di Provinsi Sulawesi Utara)

Tri Bastuti Purwantini, Handewi P.S. Rachman dan Yuni Marisa

Pusat Analisis Sosial Ekonomi dan Kebijakan PertanianJl. A Yani No.70 Bogor. 16161

Abstrak

Ketersediaan pangan yang cukup di suatu wilayah tidak menjamin adanya ketahanan pangan tingkat rumah tangga/individu. Berangkat dari hipotesis ini, tulisan ini mencoba memotret secara bersamaan ketahanan pangan di tingkat wilayah dan rumah tangga. Diharapkan melalui tulisan ini dapat dilihat karakteristik wilayah dan rumah tangga rawan pangan sebagai pedoman bagi pengambil kebijakan dalam melaksanakan program-programnya dalam peningkatan ketahanan pangan wilayah dan rumah tangga. Analisis dilakukan dengan menggunakan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) tahun 1999. Analisis ketahanan pangan rumah tangga dilakukan dengan mengukur derajat ketahanan pangan. Sementara untuk menganalisis ketahanan pangan tingkat regional dengan metode perbandingan antara tingkat ketersediaan pangan di wilayah dengan norma kecukupan energi (NKE) yang dibutuhkan. Hasil kajian menunjukkan bahwa secara regional status ketahanan pangan wilayah (provinsi) tergolong tahan pangan. Namun demikian masih ditemukan rumah tangga yang tergolong rawan pangan cukup tinggi. Proporsi rumah tangga rawan pangan di Sulawesi Utara pada tahun 1999 sebesar 20,8 persen dan yang termasuk tahan pangan sebesar 18,3 persen. Jumlah persentase rawan pangan di pedesaan relatif lebih tinggi dibanding perkotaan. Sebaliknya, persentase rumah tangga tahan pangan di perkotaan lebih besar dibanding di pedesaan. Oleh karena itu, prioritas perhatian untuk meningkatkan derajat ketahanan pangan perlu diarahkan kepada rumah tangga pedesaan.

Kata kunci : ketahanan pangan rumah tangga, ketahanan pangan regional, bantuan pangan

PENDAHULUAN

Peningkatan ketahanan pangan merupakan prioritas utama dalam pemba-ngunan, karena pangan merupakan kebutuhan yang paling dasar bagi manusia. Ketahanan pangan diartikan sebagai tersedianya pangan dalam jumlah yang cukup, terdistribusi dengan harga terjangkau dan aman dikonsumsi bagi setiap warga untuk menopang aktivitasnya sehari-hari sepanjang waktu. Dalam program Pembangunan Pertanian, Kabinet Persatuan Nasional dijelaskan bahwa ketahanan pangan mencakup tingkat rumah tangga dan tingkat nasional/regional (Anonimous, 1999). Dalam penger-tian operasional, diterjemahkan bahwa ketahanan pangan menyangkut ketersediaan, aksesibilitas (keterjangkauan) dan stabilitas pengadaannya.

50

Persediaan pangan yang cukup secara nasional ternyata tidak menjamin adanya ketahanan pangan tingkat regional maupun rumah tangga/individu (Saliem dkk, 2001). Sawit dan Ariani (1997) mengemukakan bahwa penentu ketahanan pangan di tingkat nasional, regional dan lokal dapat dilihat dari tingkat produksi, permintaan, persediaan dan perdagangan pangan. Sementara itu penentu utama di tingkat rumah tangga adalah akses (fisik dan ekonomi) terhadap pangan, ketersediaan pangan dan resiko yang terkait dengan akses serta ketersediaan pangan tersebut. Indikator ketahanan pangan juga dapat dilihat dari pangsa pengeluaran rumah tangga. Semakin besar pangsa pengeluaran pangan suatu rumah tangga semakin rendah ketahanan pangannya (Working, 1943 dalam Pakpahan dkk., 1993).

Berdasarkan norma gizi, secara garis besar konsumsi pangan yang menghasilkan tubuh sehat perlu mengandung unsur pangan sumber karbohidrat, protein, lemak, dan vitamin/mineral dalam jumlah yang cukup dan seimbang. Sumber karbohidrat terutama terdapat pada serealia dan umbi-umbian, protein terdapat pada daging, susu, telur dan kacang-kacangan, lemak terdapat pada biji-bijian berminyak, vitamin dan mineral umumnya terdapat pada sayuran dan buah-buahan. Keseimbangan dalam mengkonsumsi berbagai jenis pangan diatas mencerminkan kualitas konsumsi pangan.

Berdasarkan hal di atas tulisan ini bertujuan menganalisis tingkat ketahanan pangan regional (provinsi) dari sisi ketersediaan berbagai jenis pangan yang terkait dengan kandungan gizi yang dibutuhkan penduduk dan dibandingkan dengan pola pangan harapan nasional. Bertitik tolak dari data ketahanan pangan wilayah (provinsi), tulisan ini juga mencoba melihat tingkat ketahanan pangan rumah tangga dari sisi konsumsi.

METODE PENELITIAN

Cakupan Analisis

Analisis ketahanan pangan rumah tangga dibedakan menurut wilayah pedesaan dan perkotaan serta agregat berdasarkan data Susenas 1999. Sementara itu analisis pangan tingkat regional dilakukan dengan berdasar keragaan produksi, persediaan (stok) dan perdagangan pangan di wilayah yang bersangkutan. Data yang digunakan adalah data Neraca Bahan Makanan (NBM) selama lima tahun (1995 -1999).

Metode Analisis

Analisis Ketahanan Pangan Tingkat Regional

Untuk mengukur ketahanan pangan tingkat regional, analisis dilakukan dengan menggunakan pendekatan ketersediaan energi tingkat provinsi dibandingkan dengan norma kecukupan energi, dengan menggunakan rumus berikut:

51

SPKEiKpi = (1,2 NKE)

Dimana :

Kpi : ketahanan pangan di wilayah (provinsi)

SPKEi : ketersediaan energi tingkat konsumsi di provinsi (Kkal/kap/hari)

NKE : norma kecukupan energi

Dengan memperhatikan rumus tersebut dan besarnya konstribusi pangan karbohidrat terhadap konsumsi energi total (K) maka dapat ditentukan status ketahanan pangan di wilayah yang bersangkutan (Suhardjo dan Martianto, 1996 dalam Saliem dkk., 2001), dengan kriteria sebagai berikut :

Tidak tahan (rawan pangan), jika KP < K/1,2

Tahan pangan (tidak rawan) kurang terjamin, jika K/1,2 60 persen dari total pengeluaran rumah tangga.

52

Tabel 1. Ketahanan Pangan : Kecukupan Energi dan Pangsa Pengeluaran Pangan

Pangsa pengeluaran panganKonsumsi energi per unit

ekivalen dewasa Rendah(60 % pengeluaran total)

Cukup(>80 % syarat kecukupanenergi)

1. Tahan Pangan 2. Rentan Pangan

Kurang(< 80 % syarat kecukupanenergi)

3. Kurang Pangan 4. Rawan Pangan

Sumber : Jonsson and Toole, 1991 dalam Maxwell and Frankenberger. 1992

Perhitungan Konsumsi

a. Konsumsi Energi Riil

KE = KErt/ JUED, dimana

KE : Konsumsi energi per equivalen orang dewasa

KErt : Konsumsi energi riil rumah tangga

JUED : Jumlah Unit Equivalen orang dewasa

(satu unit equivalen orang dewasa adalah equivalen dengan seorang pria yang berusia 20 45 tahun, dengan berat badan sekitar 62 kg dengan aktivitas sedang)

b. Konsumsi Energi Seharusnya

KEsh = 2800 X JUED

KEsh : Konsumsi seharusnya

JUED : Jumlah unit equivalen orang dewasa

HASIL DAN PEMBAHASAN

Analisis Ketahanan Pangan Tingkat Regional

Perkembangan Produksi dan Keluar Masuk Komoditas Pangan

Pengadaan pangan yang cukup dan memenuhi persyaratan gizi bagi penduduk merupakan salah satu masalah yang memerlukan penanganan serius. Program pembangunan pertanian di bidang produksi pangan pada hakekatnya merupakan upaya peningkatan produksi pangan.

Produksi pangan pada dasarnya terdiri dari pangan nabati yang berasal dari tumbuhan dan hewani yang berasal dari hewan/ternak dan ikan. Pertumbuhan produksi

53

pangan (dari tanaman) di suatu wilayah bersumber dari dua faktor : (1) pertumbuhan areal panen; dan (2) peningkatan produktivitas. Pangan asal ternak antara lain dipengaruhi oleh populasi ternak dan produktivitas. Sementara itu hasil perikanan sangat tergantung dari sumberdaya perikanan yang ada dan kegiatan penangkapan serta budidaya perikanan. Rataan produksi dan tingkat pertumbuhan selama kurun waktu 1995-1999 di Provinsi Sulawesi Utara disajikan pada Tabel 2.

Tabel 2. Rata-rata Produksi Komoditas Pangan dan Laju Perkembangannya di Sulawesi Utara, Tahun 1995-1999

Jenis Komoditas/PanganRataan Produksi 1995-

1999 (ton)Laju Pertumbuhan

(%/tahun)Sumber Karbohidrat- Beras 231.455 -5,86

- Jagung 168.819 3,87- Ubi Jalar 25.354 -11,66- Ubi Kayu 55.117 -17,08- Sagu 6.016 18,30Sumber Protein Nabati- Kacang Tanah 6.286 6,18

- Kedelai 21.414 -36,71- Kacang Hijau 4.021 -7,99Sumber Lemak- Minyak Kelapa 152.599 2,14

Sumber Vitamin dan Mineral- Pisang 26.860 8,57

- Pepaya 10.842 -20,13- Mangga 10.029 18,62- Tomat 21.506 -15,29- Cabe 11.279 -22,95Pangan Hewani- Daging Sapi 3.542 -0,25

- Daging Babi 8.836 -14,37- Daging Ayam Kampung 1.140 -2,42- Daging Ayam Ras 1.625 24,79- Telur ayam Ras 5.022 -2,70- Telur Itik 1.466 -25,29- Ikan Laut 144.507 13,16

Sumber : BPS Provinsi Sulawesi Utara, Neraca Bahan Makanan (berbagai tahun/data diolah)

Pangan sumber karbohidrat dari serealia (beras dan jagung) merupakan pangan pokok penduduk di Sulawesi Utara. Produksi beras selama kurun waktu 1994-1999 relatif fluktuasi, walaupun cenderung menurun dengan laju pertumbuhan sekitar -

54

5,9 persen per tahun, dengan rataan produksi pada kurun waktu tersebut sekitar 231.455 ton.

Selain beras, jagung dikonsumsi sebagai makanan pokok pada sebagian penduduk Sulawesi Utara, terutama etnis Minahasa. Konsumsi jagung ini biasanya dicampur dengan beras. Produksi jagung selama kurun waktu 1995-1999 cenderung meningkat dengan laju pertumbuhan sebesar 3,9 persen per tahun. Produksi ubi jalar dan ubi kayu relatif kecil, selama 1995-1999 produksi komoditas tersebut menurun yang ditunjukkan oleh laju pertumbuhan yang negatif, masing-masing dengan laju pertumbuhan 12 persen(ubi jalar) dan 17 persen (ubi kayu) per tahun. Berkurangnya produksi terutama karena berkurangnya areal tanam komoditas tersebut, karena tergeser oleh komoditas-komoditas yang dipandang lebih menguntungkan.

Click here to load reader

Reader Image
Embed Size (px)
Recommended