Home > Documents > ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL …lppm.indocakti.ac.id/foto_berita/ANALISIS...

ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL …lppm.indocakti.ac.id/foto_berita/ANALISIS...

Date post: 23-May-2020
Category:
Author: others
View: 63 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 21 /21
Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185 ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL UNTUK MENCIPTAKAN STRATEGI BERSAING PADA PT. MITRA LINTAS MULTIMEDIA CABANG MALANG Roni Angger Aditama STIE INDOCAKTI, Jln. Besar Ijen 90-92 Kota Malang, Jawa Timur Email: [email protected] ABSTRAK Seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan bisnis TV Kabel dan Internet yang menjanjikan, bersamaan dengan itu pula persaingan bisnis jasa ini menjadi sangat ketat. PT. Mitra Lintas Multimedia menjadi salah satu pelaku dalam bisnis tersebut. Agar bisa memenangkan persaingan, diperlukan analisis lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif dengan melakukan teknik pengambilan data melalui proses observasi, wawancara, library study, dan dokumentasi oleh sumber terpercaya (informan penelitian) dimana menggunakan metode pengambilan sample yaitu metode purposive sampling sejumlah lima orang karyawan. Penelitian ini menggunakan teknik analisa dengan menentukan IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (Eksternal Factor Evaluation) hasil total skor IFE sejumlah 2.594 dan EFE sejumlah 3.102. Selanjutnya dianalisis dengan menggunakan Matriks IE dengan hasil berada di Sel II yaitu Growth dan Build. Analisis berikutnya dengan menggunakan Matriks SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunities, Threats) diketemukan 7 (tujuh) strategi alternatif dan lalu melalui metode analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix), ditentukan skala prioritas mana dari ketujuh strategi tersebut yang terbaik untuk segera diimplementasikan dalam rangka mencapai keunggulan bersaing. Dan hasilnya adalah market penetration menjadi urutan pertama skala prioritas dengan perolehan total score 5.404. Kata Kunci: Internal Factor Evaluation (IFE), Eksternal Factor Evaluation (EFE), Analisis SWOT Matriks, Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM). PENDAHULUAN Saat ini pertumbuhan dan perkembangan industri penyedia layanan TV Kabel dan Internet sudah sangat pesat, dibandingkan 3 (tiga) tahun yang lalu. Sebagai salah satu contoh kota Malang yang saat ini digempur oleh hampir semua pemain TV Kabel dan Internet dengan brand terkemuka, seperti misalnya Indihome, First Media, Biznet, Fiberstar, My Republik, Transvision, MNC Play, dan masih banyak lagi pemain lokal lainnya. Yang tidak kalah ketinggalan adalah PLN (Persero) pun melalui anak perusahaannya ICON + telah bersiap membuat penawaran paket TV Kabel dan Internet dengan harga terjangkau. Masing-masing provider telah membuat strategi dalam merebut market share, seperti MNC Play yang membuat kebijakan, bahwa CTO (Cable TV Operator) lainnya tidak diberikan ijin menyiarkan conten channel MNC Group (Global TV, MNC TV, RCTI, dan I-News TV). Ditambah lagi MNC Group telah memperkuat jaringan bisnisnya dengan mengakuisisi 60% kepemilikan saham dari K-Vision, sebagai salah satu partner resmi yang memiliki hak siar atas Liga Champions, Liga Eropa, Piala Super UEFA 2018-2021, dan Piala AFF. Maka otomatis seluruh CTO dilarang untuk menayangkan channel tersebut jika masih belum memiliki kerjasama bisnis dengan MNC Group. Langkah strategi bisnis yang dilakukan oleh MNC Group tentu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap keberlangsungan bisnis CTO lainnya.
Transcript
  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    ANALISIS FAKTOR LINGKUNGAN INTERNAL DAN EKSTERNAL

    UNTUK MENCIPTAKAN STRATEGI BERSAING PADA

    PT. MITRA LINTAS MULTIMEDIA CABANG MALANG

    Roni Angger Aditama

    STIE INDOCAKTI, Jln. Besar Ijen 90-92 Kota Malang, Jawa Timur

    Email: [email protected]

    ABSTRAK

    Seiring dengan laju pertumbuhan dan perkembangan bisnis TV Kabel dan Internet yang menjanjikan,

    bersamaan dengan itu pula persaingan bisnis jasa ini menjadi sangat ketat. PT. Mitra Lintas Multimedia

    menjadi salah satu pelaku dalam bisnis tersebut. Agar bisa memenangkan persaingan, diperlukan analisis

    lingkungan internal dan lingkungan eksternal. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif

    kualitatif dengan melakukan teknik pengambilan data melalui proses observasi, wawancara, library study,

    dan dokumentasi oleh sumber terpercaya (informan penelitian) dimana menggunakan metode pengambilan

    sample yaitu metode purposive sampling sejumlah lima orang karyawan. Penelitian ini menggunakan

    teknik analisa dengan menentukan IFE (Internal Factor Evaluation) dan EFE (Eksternal Factor

    Evaluation) hasil total skor IFE sejumlah 2.594 dan EFE sejumlah 3.102. Selanjutnya dianalisis dengan

    menggunakan Matriks IE dengan hasil berada di Sel II yaitu Growth dan Build. Analisis berikutnya dengan

    menggunakan Matriks SWOT (Strength, Weaknesess, Opportunities, Threats) diketemukan 7 (tujuh)

    strategi alternatif dan lalu melalui metode analisis QSPM (Quantitative Strategic Planning Matrix),

    ditentukan skala prioritas mana dari ketujuh strategi tersebut yang terbaik untuk segera diimplementasikan

    dalam rangka mencapai keunggulan bersaing. Dan hasilnya adalah market penetration menjadi urutan

    pertama skala prioritas dengan perolehan total score 5.404. Kata Kunci: Internal Factor Evaluation (IFE), Eksternal Factor Evaluation (EFE), Analisis SWOT Matriks,

    Quantitative Strategic Planning Matrix (QSPM).

    PENDAHULUAN

    Saat ini pertumbuhan dan perkembangan industri

    penyedia layanan TV Kabel dan Internet sudah

    sangat pesat, dibandingkan 3 (tiga) tahun yang

    lalu. Sebagai salah satu contoh kota Malang yang

    saat ini digempur oleh hampir semua pemain TV

    Kabel dan Internet dengan brand terkemuka,

    seperti misalnya Indihome, First Media, Biznet,

    Fiberstar, My Republik, Transvision, MNC Play,

    dan masih banyak lagi pemain lokal lainnya. Yang

    tidak kalah ketinggalan adalah PLN (Persero) pun

    melalui anak perusahaannya ICON+ telah bersiap

    membuat penawaran paket TV Kabel dan Internet

    dengan harga terjangkau.

    Masing-masing provider telah membuat strategi

    dalam merebut market share, seperti MNC Play

    yang membuat kebijakan, bahwa CTO (Cable TV

    Operator) lainnya tidak diberikan ijin menyiarkan

    conten channel MNC Group (Global TV, MNC

    TV, RCTI, dan I-News TV). Ditambah lagi MNC

    Group telah memperkuat jaringan bisnisnya

    dengan mengakuisisi 60% kepemilikan saham dari

    K-Vision, sebagai salah satu partner resmi yang

    memiliki hak siar atas Liga Champions, Liga

    Eropa, Piala Super UEFA 2018-2021, dan Piala

    AFF. Maka otomatis seluruh CTO dilarang untuk

    menayangkan channel tersebut jika masih belum

    memiliki kerjasama bisnis dengan MNC Group.

    Langkah strategi bisnis yang dilakukan oleh MNC

    Group tentu memiliki pengaruh yang signifikan

    terhadap keberlangsungan bisnis CTO lainnya.

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Seperti beberapa peristiwa beredar informasi di

    media sosial twitter tentang Nexmedia yang akan

    menghentikan siaran efektif pada 01 September

    2019. Nexmedia sendiri merupakan operator

    televisi berlangganan di bawah SCTV group

    media PT. Elang Mahkota Teknologi, Tbk

    (Emtek). Berita yang hampir sama datangnya dari

    PT. Internux (Bolt) yang secara resmi menutup

    layanannya terhitung sejak tanggal 28 Desember

    2018. Permasalahan ini bermula sejak

    Kementerian Komunikasi dan Informatika

    (Kominfo) resmi mencabut ijin penggunaan pita

    frekuensi 2.3 GHz untuk Internux (Bolt). Bolt

    sendiri merupakan satu-satunya operator

    Broadband Wireless Access (BWA) yang

    melakukan roll out secara masif dan melayani

    pelanggan dengan menghadirkan akses internet

    cepat 4G LTE. Penyebab dari dicabutnya ijin

    tersebut karena masalah keuangan, yaitu pihak

    perusahaan belum melunasi tunggakan hutang dan

    denda ijin penggunaan frekuensi sejumlah Rp

    708,4 miliar.

    Persaingan dan perubahan lingkungan bisnis yang

    dinamis seperti kasus bisnis di atas, apabila tidak

    disikapi dengan cepat dan tepat akan berdampak

    terhadap kelangsungan hidup bisnis di masa

    mendatang. Oleh karena itu, penting bagi para

    pelaku bisnis penyedia jasa TV Kabel dan Internet

    melakukan analisis faktor lingkungan internal dan

    eksternal untuk bisa menentukan strategi bersaing

    dalam mewujudkan visi, misi, dan tujuan

    perusahaan.

    Terdapat 3 (tiga) penentu yang dapat

    dimanfaatkan suatu perusahaan untuk

    meningkatkan keunggulan bersaingnya (Assauri,

    2013:12) antara lain:

    1. Perspektif Internal, yang terfokus pada

    sumberdaya dan kapabilitas, seperti

    sumberdaya internal yang unik, dan

    memungkinkan perusahaan memukul lawan

    dalam persaingan.

    2. Perspektif Eksternal, yang terfokus pada

    struktur industri dan cara perusahaan

    memposisikan dirinya di dalam keunggulan

    bersaing, dan

    3. Perspektif Dinamis, yang menjembatani

    perspektif internal dan eksternal, yang

    merupakan landasan ketiga dari keunggulan

    bersaing.

    Dari penjelasan di atas dapat diketahui bahwa

    dalam menciptakan strategi bersaing untuk

    menumbuhkan keunggulan bersaing dibutuhkan

    analisis lingkungan internal dan eksternal. Dimana

    analisis lingkungan internal terdiri atas

    kompetensi dan kapabilitas sedangkan lingkungan

    eksternal terdiri atas lingkungan industri dan

    lingkungan persaingan (Assauri,2013:33).

    Secara umum, tujuan perusahaan melakukan

    analisis lingkungan adalah untuk menilai

    lingkungan organisasi secara keseluruhan. Dalam

    hal ini adalah faktor-faktor yang ada di dalam

    maupun di luar organisasi tersebut dalam

    mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dengan

    demikian diharapkan manajemen dapat

    memberikan reaksi yang sesuai dan proporsional

    untuk mencapai keunggulan bersaing yang

    berkesinambungan (Purnomo& Zulkieflimansyah,

    2007:22). Tujuan analisis lingkungan antara lain:

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    1. Untuk menyediakan kemampuan dalam

    menanggapi masalah-masalah kritis dalam

    lingkungan bagi manajemen perusahaan.

    2. Untuk memprediksi kondisi masa depan dari

    lingkungan organisasi dan kemudian

    dijadikan sebagai bahan pertimbangan

    pengambilan keputusan organisasi.

    3. Untuk dapat menentukan skala prioritas

    terhadap upaya untuk menyelesaikan

    permasalahan atau mengembangkan rencana

    solusi baik jangka pendek, menengah, maupun

    jangka panjang.

    RUMUSAN MASALAH

    Berdasarkan latar belakang masalah dan

    penjelasan di atas, dapat diketahui rumusan

    masalah dalam penelitian ini adalah:

    1. Apa saja faktor lingkungan internal yang

    mempengaruhi bisnis PT. Mitra Lintas

    Multimedia Cabang Malang?

    2. Apa saja faktor lingkungan eksternal yang

    mempengaruhi bisnis PT. Mitra Lintas

    Multimedia Cabang Malang?

    3. Apa saja strategi bersaing yang dilakukan oleh

    PT. Mitra Lintas Multimedia Cabang Malang?

    TUJUAN PENELITIAN

    1. Untuk mengetahui faktor lingkungan internal

    yang mempengaruhi bisnis PT. Mitra Lintas

    Multimedia Cabang Malang.

    2. Untuk mengetahui faktor lingkungan

    eksternal yang mempengaruhi bisnis

    PT. Mitra Lintas Multimedia Cabang Malang.

    3. Untuk mengetahui strategi bersaing yang

    dilakukan oleh PT. Mitra Lintas Multimedia

    Cabang Malang.

    MANFAAT PENELITIAN

    1. Bagi Peneliti

    Untuk menambah wawasan, pengetahuan, dan

    sarana pembuktian melalui pendekatan

    keilmuan secara teoritis dan praktis, sekaligus

    juga untuk memenuhi kewajiban

    tanggungjawab melakukan penelitian dan

    pengembangan profesi sebagai dosen.

    2. Bagi PT. Mitra Lintas Multimedia Cabang

    Malang

    Untuk memberikan sumbangsih pemikiran

    berupa hasil dari penelitian yang dilakukan,

    dengan tujuan sebagai dasar proses perbaikan

    dan pengambilan keputusan oleh manajemen

    khususnya dalam menentukan strategi

    bersaing untuk menciptakan keunggulan

    bersaing perusahaan.

    3. Bagi STIE Indocakti Malang

    Untuk menambah literatur jurnal dan

    penelitian ilmiah yang terpublikasi sebagai

    salah satu syarat memenuhi kewajiban dalam

    hal penelitian dan pengembangan sesuai

    dengan TRI DHARMA Perguruan Tinggi.

    4. Bagi Pihak Lain

    Untuk menambah pengetahuan dan wawasan

    serta sebagai bahan acuan, referensi, dan

    pembanding bagi penelitian selanjutnya.

    TINJAUAN PUSTAKA

    Strategi, adalah sekumpulan komitmen atas

    tindakan atau aksi yang terintegrasi dan

    terkoordinasi, untuk mengusahakan atau

    mengolah kompetensi dan sekaligus guna

    mendapatkan keunggulan bersaing organisasi

    (Assauri,2013:4).

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Strategi bisnis, adalah cara perusahaan untuk

    mencapai tujuannya di dalam suatu industri

    tertentu atau segmen industri. Jadi, strategi bisnis

    merupakan strategi untuk mendorong perusahaan

    menghadapi lawan persaingan, di dalam industri

    atau segmen industri (Assauri,2013:13).

    Manajemen strategi, adalah seni dan ilmu

    merumuskan, mengimplementasikan, dan

    mengevaluasi keputusan lintas fungsional untuk

    mencapai tujuannya. Manajemen strategi terdiri

    atas 3 (tiga) tahapan, yaitu: formulasi strategi,

    implementasi strategi, dan evaluasi strategi (David

    dan David, 2016:3).

    Analisis SWOT, ialah identifikasi berbagai faktor

    secara sistematis untuk merumuskan strategi

    perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika

    yang dapat memaksimalkan kekuatan dan

    peluang, namun secara bersamaan dapat

    meminimalkan kelemahan dan ancaman

    (Rangkuti,2014:18).

    Analisis lingkungan, adalah proses awal dalam

    manajemen strategi yang bertujuan untuk

    memantau lingkungan perusahaan. Lingkungan

    perusahaan disini mencakup semua faktor baik

    yang berada di dalam maupun yang di luar

    perusahaan yang dapat mempengaruhi pencapaian

    tujuan yang diinginkan (Purnomo &

    Zulkieflimansyah,2007:15).

    Lingkungan internal, adalah lingkungan

    organisasi yang berada di dalam organisasi

    tersebut dan secara normal memiliki implikasi

    yang langsung dan khusus pada perusahaan.

    Perusahaan sendiri menurut pola pikir sekarang

    merupakan kumpulan dari berbagai macam

    sumberdaya kapabilitas dan kompetensi yang

    nantinya digunakan untuk membentuk market

    position tertentu. Dengan demikian analisis

    lingkungan internal akan mencakup analisis

    mengenai sumberdaya, kapabilitas, dan

    kompetensi yang dimiliki oleh perusahaan

    (Purnomo&Zulkieflimansyah,2007:33).

    Lingkungan eksternal yang dinamis dan terus

    mengalami perubahan bahkan saat kita belum

    bereaksi dengan perubahan yang lama, sudah

    muncul perubahan baru, dan mengubur asumsi

    yang sebelumnya ingin diaplikasikan. Reaktif

    terhadap perubahan lingkungan eksternal bisa

    menjadikan kita tidak melakukan apa-apa dan

    menjadi penonton dalam persaingan. Dengan

    demikian yang perlu mendapat perhatian serius

    bagi manajemen perusahaan adalah memahami

    atau memfokuskan diri pada lingkungan internal

    sehingga mampu menciptakan kapabilitas dan

    kompetensi inti yang sulit ditiru oleh pesaing demi

    tercapainya keunggulan bersaing yang diinginkan

    (Purnomo & Zulkieflimansyah, 2007 :33).

    Komponen dari analisis lingkungan internal dalam

    penentuan keunggulan bersaing dan kemampuan

    persaingan strategik (Ireland et.al ,2009:72)

    meliputi:

    1. Resources (Sumberdaya), sumberdaya

    strategik pada suatu perusahaan mencakup

    aset-aset fisik, keuangan atau finansial,

    sumberdaya manusia dan aset organisasi

    (Assauri,2013:49).

    2. Kapabilitas, pada dasarnya menggambarkan

    kemampuan perusahaan dalam menggunakan

    sumber - sumberdayanya, baik tangible

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    maupun intangible untuk menghasilkan

    produk berupa barang atau jasa

    (Assauri,2013:54).

    3. Kompetensi Inti, merupakan sekumpulan

    keterampilan dan teknologi yang

    memungkinkan suatu perusahaan

    menyediakan manfaat tertentu kepada

    pelanggan (Hamel & Prahalad,1994).

    Prosedur Pelaksanaan Analisis Lingkungan

    (Purnomo & Zulkieflimansyah, 2007:38),

    diantaranya terdiri atas:

    1. Menentukan Relevansi Dari Tingkatan

    Lingkungan

    Tidak semua tingkatan lingkungan

    mempengaruhi perusahaan dengan pengaruh

    yang sama serta pada waktu yang bersamaan.

    2. Menentukan Tingkat Relevansi Dari Strategic

    Issues

    Strategic Issues adalah faktor lingkungan,

    baik faktor di dalam atau luar perusahaan yang

    memiliki pengaruh pada kemampuan

    perusahaan dalam mencapai tujuannya.

    3. Menerapkan Teknik-Teknik Analisis

    Lingkungan

    Terdapat berbagai macam teknik yang dapat

    digunakan oleh manajemen perusahaan untuk

    melakukan analisis lingkungan. Beberapa di

    antaranya adalah:

    a) External Factor Evaluation (EFE) Matrix

    dan Internal Factor Evaluation (IFE)

    Matrix

    Salah satu tugas utama yang harus

    dipecahkan dalam analisis lingkungan

    adalah mengidentifikasikan kekuatan,

    kelemahan, kesempatan, dan ancaman

    yang ada yang mungkin akan

    mempengaruhi pertumbuhan perusahaan

    dalam mencapai tujuannya.

    b) Environmental Scanning

    Teknik analisis ini merupakan proses

    pengumpulan informasi tentang berbagai

    peristiwa dan hubungannya dengan

    lingkungan internal dan eksternal

    perusahaan.

    c) Environmental Forecasting

    Teknik ini merupakan proses penentuan

    kondisi-kondisi apa yang mungkin

    muncul dalam lingkungan organisasi pada

    masa yang akan datang.

    Lingkungan eksternal, merupakan dimensi yang

    terdapat di dalam masyarakat luas, yang

    berpengaruh langsung terhadap suatu industri

    (Assauri, 2013 :35). Lingkungan eksternal

    dikelompokkan menjadi 2 (dua) antara lain:

    1. Lingkungan Umum, adalah suatu lingkungan

    dalam lingkungan eksternal organisasi yang

    menyusun faktor-faktor yang memiliki ruang

    lingkup luas dan faktor-faktor tersebut pada

    dasarnya di luar dan terlepas dari operasi

    perusahaan. Lingkungan ini hanya memiliki

    sedikit implikasi langsung bagi pengaturan

    suatu organisasi. Faktor-faktor tersebut

    diantaranya adalah faktor ekonomi, sosial,

    politik dan hukum, teknologi, serta demografi

    (Purnomo & Zulkieflimansyah, 2007:23).

    2. Lingkungan Industri, adalah tingkatan dari

    lingkungan eksternal yang menghasilkan

    komponen-komponen yang secara normal

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    memiliki implikasi yang relatif lebih spesifik

    dan langsung terhadap operasional perusahaan

    (Purnomo & Zulkieflimansyah, 2007:25).

    Dalam lingkungan industri terdapat 5 (lima)

    kekuatan bersaing yang disampaikan oleh

    Michael Porter (dalam Carpenter &

    Sanders,2009) dan mempengaruhi relatif lebih

    spesifik terhadap operasional perusahaan,

    yaitu:

    1. Ancaman dari masuknya pendatang baru.

    Pendatang baru dalam industri biasanya

    dapat mengancam pesaing yang ada. Hal

    ini disebabkan karena pendatang baru

    seringkali membawa kapasitas baru,

    keinginan merebut pangsa pasar, serta

    seringkali pula memiliki sumberdaya

    yang lebih besar.

    2. Intensitas dari lawan pesaing.

    Di kalangan pesaing yang sudah lebih

    dulu ada, bentuk persaingan yang muncul

    adalah upaya yang dilakukan untuk bisa

    mendapatkan pangsa pasar lebih besar.

    Segala upaya dilakukan mulai dari

    persaingan harga, perang iklan,

    pengembangan produk, meningkatkan

    pelayanan pelanggan atau memberikan

    jaminan kepada pelanggan. Kesemuanya

    itu dilakukan demi bisa menempati posisi

    tertinggi dalam level persaingan.

    3. Ancaman dari produk subtitusi.

    Produk dari suatu industri dapat

    disubtitusi produk dari industri lainnya,

    sehingga dapat memperluas lawan dari

    produk tersebut. Produk substitusi yang

    secara manfaat dan fungsinya sama seperti

    produk yang dihasilkan dan hadirnya akan

    menjadi ancaman karena biaya

    perpindahan atau switching cost dan harga

    produk substitusi lebih rendah disamping

    kualitas atau kapabilitas kinerjanya lebih

    baik, atau sama dengan produk saingan.

    4. Daya tawar pemasok (supplier).

    Pemasok dapat menekan industri dengan

    adanya kenaikan harga terhadap supply

    produknya, hal ini disebabkan karena

    industri memiliki ketergantungan dengan

    pemasok, produk yang ditawarkan

    pemasok unik/lebih baik dalam kualitas

    dan layanan. Selain itu juga karena adanya

    dominasi pemasok terhadap produk yang

    dibutuhkan oleh industri.

    5. Daya tawar pembeli.

    Pembeli memiliki perilaku mencari harga

    murah, produk dan layanan berkualitas,

    jika tidak sesuai antara harapan dengan

    kenyataan mereka cenderung berpindah

    ke pesaing. Hal ini menjadi motivasi bagi

    pelaku bisnis untuk sedapat mungkin

    memenuhi kebutuhan pelanggan.

    Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix

    (QSPM) merupakan teknik yang secara objektif

    dapat menetapkan strategi alternatif yang

    diprioritaskan, sebagai teknik QSPM memerlukan

    good intuitive judgement. QSPM adalah sebagai

    alat mengevaluasi strategi yang akan diterapkan

    sehingga dapat mengoptimalkan hasil yang

    diperoleh (Zulkarnaen & Sutopo, 2013). QSPM

    merupakan salah satu teknik analisis dalam

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    literatur yang di desain untuk menentukan daya

    tarik relatif dari tindakan alternatif yang layak.

    QSPM merupakan alat yang memungkinkan

    penyusun strategi mengevaluasi faktor kunci

    (David & David, 2016:184).

    Adapun dalam penelitian terdahulu dengan judul

    “Strategi Peningkatan Daya Saing TV Kabel

    Lokal (Studi Kasus PT DKM) ditulis oleh Amru,

    Daryanto, & Sanim, 2018:87-99, terdapat

    persamaan-persamaan yang dilakukan di dalam

    penelitian saat ini, dimana peneliti terdahulu

    mengkaji tentang:

    a) Kondisi persaingan antar provider TV Kabel

    di Kota Payakumbuh.

    b) Analisis faktor-faktor internal dan eksternal

    pada PT DKM. Dengan menggunakan analisis

    IFE/EFE dan SWOT Analisis.

    c) Merumuskan strategi alternatif yang dapat

    diimplementasikan untuk meningkatkan daya

    saing PT DKM.

    Yang membedakan penelitian terdahulu dengan

    yang dilakukan oleh peneliti saat ini adalah:

    a) Objek penelitian, yang terdahulu hanya

    membahas tentang layanan TV Kabel

    sedangkan penelitian saat ini membahas

    tentang layanan TV Kabel dan Internet.

    b) Metode Penelitian, untuk menentukan strategi

    alternatif terbaik peneliti terdahulu

    menggunakan metode analisis ANP (Analitic

    Network Process) sedangkan penelitian saat

    ini menggunakan QSPM (Quantitative

    Strategic Planning Matrix).

    METODE PENELITIAN

    Jenis Penelitian

    Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan

    metode deskriptif kualitatif dengan tujuan untuk

    mendeskripsikan atau menggambarkan keadaan

    yang sebenarnya, mengenai masalah yang

    ditemukan dalam perusahaan melalui serangkaian

    proses observasi dan wawancara dengan sumber

    terpercaya (informan penelitian).

    Subjek dan Informan Penelitian

    Subjek dalam penelitian ini adalah 5 (lima) orang

    karyawan PT. Mitra Lintas Multimedia Cabang

    Malang. Informan penelitian yang dipilih ialah

    mereka yang bersedia memberikan informasi

    terkait subjek serta permasalahan yang diteliti.

    Informan dalam penelitian ini yaitu, Koordinator

    Teknik, Koordinator Marketing, Koordinator

    HR&GA, Koordinator Logistik, dan Koordinator

    Customer Service.

    Teknik Penentuan Informan Penelitian

    Teknik penentuan informan dalam penelitian ini

    dilakukan dengan cara purposive sampling (secara

    sengaja). Yaitu dengan dasar pertimbangan

    pemilihan adalah informan tersebut dipandang

    memiliki kapasitas dan pengetahuan yang

    mendalam untuk mampu dimintakan keterangan

    dan penjelasan serta sesuai dengan tujuan dan

    permasalahan penelitian.

    Sumber data

    Sumber data dari penelitian ini terdiri atas data

    primer dan data sekunder yaitu:

    1. Data Primer, adalah data yang perolehannya

    dengan melakukan pengamatan secara

    langsung terhadap objek yang diteliti, dan

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    dengan melakukan proses pencatatan serta

    melalui serangkaian proses wawancara

    terstruktur kepada informan penelitian.

    2. Data Sekunder, adalah data yang diperoleh

    melalui studi kepustakaan untuk memperoleh

    landasan teoritis, buku-buku referensi, jurnal-

    jurnal ilmiah yang juga membahas tentang

    objek penelitian dan permasalahan yang

    sedang diteliti.

    Teknik Pengumpulan Data

    Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam

    penelitian ini antara lain meliputi:

    1. Observation (Pengamatan), yaitu melakukan

    pengamatan secara langsung terhadap objek

    penelitian di lapangan untuk melihat dari

    dekat kegiatan yang dilakukan. Teknik ini

    bertujuan untuk mengetahui secara jelas dan

    mendeskripsikan suatu gambaran hasil

    penelitian secara nyata sesuai dengan

    kenyataan yang ada dilapangan

    (Riduwan,2007:76).

    2. Interview (Wawancara), yaitu suatu cara

    pengumpulan data yang digunakan untuk

    memperoleh informasi langsung dari

    sumbernya dengan memberikan pertanyaan

    yang berkaitan dengan permasalahan yang

    diteliti, dengan tanya jawab langsung atau

    bertatap muka dengan informan menggunakan

    pedoman wawancara (Riduwan,2007:74).

    3. Library Study (Studi Pustaka), yaitu teknik

    pengumpulan data dan informasi melalui

    sumber-sumber bacaan seperti buku-buku

    referensi, jurnal-jurnal ilmiah, karya-karya

    ilmiah lainnya, maupun literatur tertulis

    lainnya yang berhubungan dengan proses

    penelitian.

    4. Dokumentasi, yaitu cara memperoleh data

    langsung dari tempat penelitian meliputi

    laporan kegiatan, peraturan-peraturan, foto-

    foto, dan video yang dibutuhkan peneliti,

    dengan maksud agar data yang dikumpukan

    lebih akurat (Riduwan,2007:77).

    Teknik Analisis Data

    Metode analisis data dilakukan dengan metode

    deskriptif kualitatif, dengan mempertimbangkan

    kesediaan informan memberikan data kondisi

    perusahaan yang dibutuhkan oleh peneliti. Adapun

    data yang diminta diantaranya adalah kondisi

    lingkungan internal perusahaan dengan

    menggunakan matriks IFE (Internal Factor

    Evaluation) dan kondisi lingkungan eksternal

    perusahaan dengan menggunakan matriks EFE

    (Eksternal Factor Evaluation). Proses penentuan

    IFE dan EFE dilakukan dengan memberikan bobot

    tingkat kepentingan terhadap faktor internal dan

    eksternal yang telah disusun, kemudian dilakukan

    penilaian rating terhadap faktor internal dan

    eksternal tersebut. Untuk tahapan selanjutnya

    diformulasikan di dalam matriks analisis SWOT

    (Strength, Weaknesess, Opportunity, Threat), dan

    Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix

    (QSPM) untuk menentukan pilihan terbaik

    alternatif strategi bagi perusahaan (David dan

    David,2017:184). Tahap-tahap yang dilakukan

    dalam menganalisis data kualitatif (Sugiyono,

    2017) antara lain sebagai berikut:

    1. Reduksi Data (Data Reduction)

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Reduksi data diartikan sebagai proses

    pemilihan, pemisahan, perhatian, dan

    penyederhanaan, pengabstrakan dan

    transformasi data kasar yang muncul dari

    catatan-catatan tertulis di lapangan. Laporan

    atau data yang diperoleh dari lapangan

    jumlahnya cukup banyak, sehingga perlu

    dicatat secara teliti dan rinci.

    2. Penyajian Data (Data Display)

    Penyajian data dilakukan dengan tujuan untuk

    mempermudah peneliti dalam melihat

    gambaran secara keseluruhan atau bagian

    tertentu dari penelitian. Penyajian data

    dilakukan dengan mendeskripsikan hasil

    wawancara yang dituangkan dalam bentuk

    uraian dan teks naratif, dan didukung oleh

    dokumen-dokumen, serta foto-foto maupun

    gambar sejenisnya untuk diadakannya suatu

    kesimpulan.

    3. Penarikan Kesimpulan (Conclusing

    Drawing/Verification)

    Penarikan kesimpulan yaitu melakukan

    verifikasi secara terus menerus sepanjang

    proses penelitian berlangsung, selama proses

    pengumpulan data. Peneliti berusaha untuk

    menganalisis dan mencari pola, tema,

    hubungan persamaan, hal-hal yang sering

    timbul, hipotesis, dan sebagainya yang

    dituangkan dalam kesimpulan relatif. Dalam

    penelitian, penarikan kesimpulan dilakukan

    dengan pembagian intisari dari rangkaian

    kategori hasil penelitian berdasarkan

    observasi dan wawancara.

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    Analisis Faktor Lingkungan Internal

    Adalah membahas tentang Strength (Kekuatan)

    dan Weaknesess (Kelemahan) yang akan

    mempengaruhi bisnis PT. Mitra Lintas

    Multimedia. Faktor-faktor tersebut antara lain:

    1. Strength (Kekuatan) PT. Mitra Lintas

    Multimedia

    a) Harga produk yang kompetitif

    b) Layanan produk TV Digital dan Internet

    c) Kualitas skill dan knowledge karyawan

    d) Handling komplain 1x24 jam

    e) Collection door to door service

    f) Iuran tanpa biaya PPN dan Denda

    Harga produk TV Digital dan Internet di

    PT. Mitra Lintas Multimedia cabang Malang

    terbilang relatif kompetitif dibandingkan

    dengan pesaing atau kompetitor penyedia

    layanan yang sejenis. Di bawah ini tabel harga

    produk dan layanan.

    Tabel 1

    Harga Produk dan Layanan

    Sumber data: PT. Mitra Lintas Multimedia

    Sedangkan layanan produk TV Digital dan

    Internet dapat pula dilihat melalui tabel 1 di

    atas dengan harga yang murah tapi layanan

    yang diberikan cukup signifikan seperti TV

    Digital, pelanggan hanya membayar

    Rp 45.000 sudah bisa menikmati tontonan 125

    No Paket Produk Harga Produk

    Layanan

    1. TV Digital 125 Channel Rp. 45.000

    2.

    3.

    4.

    5.

    Internet 5 Mbps + TV

    Internet 10 Mbps + TV

    Internet 15 Mbps + TV

    Internet 20 Mbps + TV

    Rp. 125.000

    Rp. 175.000

    Rp. 235.000

    Rp. 285.000

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    channel lokal maupun premium. Untuk

    kualitas skill dan knowledge karyawan

    PT. Mitra Lintas Multimedia Cabang Malang,

    tidak diragukan lagi karyawan yang ada

    adalah karyawan dengan pengalaman bekerja

    yang cukup lama dengan masa kerja 3-5 tahun,

    ditambah lagi proses recruitment dan seleksi

    yang komprehensif. Transfer atau sharing

    knowledge pun dilakukan di dalam setiap

    aktivitas operasional sehari-hari. Untuk

    handling komplain keluhan pelanggan tim

    teknisi memiliki standar baku yaitu harus

    diselesaikan maksimal 1 x 24 jam sejak

    keluhan masuk. Pelanggan pun dimanjakan

    dengan kemudahan pembayaran, yaitu tanpa

    harus datang ke kantor atau loket pembayaran

    tapi dengan diberikannya fasilitas tim kolektor

    yang datang ke rumah setiap pelanggan,

    walaupun ada alternatif lainnya untuk proses

    pembayaran yaitu, transfer dan loket.

    Kelebihan lainnya adalah pelanggan yang

    membayar iuran tidak dikenakan tambahan

    biaya lain-lain seperti pajak pertambahan nilai

    (ppn), bahkan bagi pelanggan yang terlambat

    dalam pembayaran tidak ada sanksi atau

    denda. Semua hal tersebut diberikan dalam

    rangka menumbuhkan strategi bersaing demi

    terciptanya keunggulan bersaing perusahaan.

    2. Weaknesess (Kelemahan) PT. Mitra Lintas

    Multimedia

    a) Infrastruktur jaringan TV dan Internet

    b) Coverage area jaringan di Kota Malang

    c) Conten channel TV siaran olahraga

    d) Support ISP (Bandwith)

    e) Brand Image

    f) Aktivitas promosi

    Selama kurun waktu berdirinya PT. Mitra

    Lintas Multimedia Cabang Malang,

    infrastruktur jaringan belum pernah

    mengalami penambahan ataupun upgrade

    jaringan, sehingga kualitas jaringan tentu

    mengalami penurunan dari tahun ke tahun,

    ditambah coverage area yang teraktivasi

    jaringan internet jumlahnya sangat terbatas

    karena masih menggunakan teknologi

    coaxcial. Aturan main dari para penyedia TV

    swasta yang memiliki hak siar eksklusif atas

    siaran-siaran channel olahraga semisal MNC

    Group dan K-Vision menjadikan para CTO

    local tidak memiliki ruang untuk

    menayangkan jika belum bekerjasama.

    Kelemahan berikutnya adalah PT. Mitra

    Lintas Multimedia, masih bergantung

    terhadap pihak ketiga yaitu penyedia ISP

    (Internet Service Provider) yang memiliki

    bandwith, hal ini tentu menjadi berpengaruh

    terhadap penentuan kebijakan operasional

    seperti penentuan harga jual dan layanan.

    Histori masa lalu yang kurang baik, juga

    menjadi salah satu kelemahan yang dimiliki,

    karena hal ini mempengaruhi citra/image

    perusahaan dimata pelanggan. Kurangnya

    SDM dalam bidang sales dan marketing

    menjadi salah satu problem minimnya

    aktivitas promosi, sekalipun ada aktivitas

    promosi yang dilakukan cenderung bersifat

    konvensional dengan konsep BTL (below the

    line) ketimbang ATL (above the line) yang

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    sebagian besar dilakukan oleh kompetitor

    lainnya.

    Berikut ini hasil analisis IFE (Internal Factor

    Evaluation) Matriks untuk memberikan

    gambaran detail terkait faktor kekuatan dan

    kelemahan PT. Mitra Lintas Multimedia

    Cabang Malang disajikan di dalam tabel 2 di

    bawah ini:

    Tabel 2

    Analisis IFE (Internal Factor Evaluation) Matrix

    No Faktor Internal Bobot Rerata Skor

    Bobot

    Streght (Kekuatan)

    1. Harga produk

    kompetitif 0.100 3.2 0.320

    2. Layanan produk TV

    Digital & Internet 0.090 2.6 0.234

    3.

    Kualitas skill &

    knowledge

    karyawan

    0.100 2.8 0.280

    4. Handling komplain

    1x24 jam 0.050 2.2 0.110

    5. Collection 0.050 2.4 0.120

    6. Iuran tanpa PPN

    dan Denda 0.050 3.4 0.170

    Weaknesess (Kelemahan)

    1.

    Infrastruktur

    jaringan TV &

    Internet

    0.110 2.4 0.264

    2.

    Coverage area

    jaringan di kota

    Malang

    0.100 2.4 0.240

    3. Conten channel TV

    Olahraga 0.100 2.6 0.260

    4. Support ISP

    (Bandwith) 0.090 2.0 0.180

    5. Brand Image 0.080 2.2 0.176

    6. Aktivitas Promosi 0.080 3.0 0.240

    Total 1.00 2.594

    Sumber: Data Primer Diolah

    Berdasarkan hasil analisis IFE (Internal

    Factor Evaluation) yang tercantum pada tabel

    2 di atas dapat diketahui untuk Strength

    (Kekuatan) skor terendah pada faktor

    handling komplain 1x24 jam dengan skor

    0.110 artinya bahwa indikator kekuatan

    tersebut perlu mendapatkan perhatian dan

    evaluasi. Kemudian untuk Weaknesess

    (Kelemahan) faktor kelemahan yang tertinggi

    dengan skor 0.264 yaitu pada faktor

    infrastruktur jaringan TV dan Internet yang

    perlu mendapat perhatian dan penanganan

    serius.

    Nilai total dari analisis IFE dengan acuan

    standar penilaian untuk total skor apabila 1

    teridentifikasi sangat rendah, 2 teridentifikasi

    rendah, 3 teridentifikasi sedang, dan 4

    teridentifikasi tinggi, maka dapat diketahui

    bahwa hasil analisis IFE dengan total skor

    2.594 masuk dikategori tergolong rendah,

    yang artinya kekuatan yang ada masih belum

    optimal untuk bisa mengatasi kelemahan yang

    dimiliki oleh perusahaan.

    Analisis Faktor Lingkungan Eksternal

    Analisis faktor lingkungan eksternal adalah

    membahas tentang Opportunity (Peluang) dan

    Threats (Ancaman) yang mempengaruhi bisnis

    PT. Mitra Lintas Multimedia. Faktor-faktor

    tersebut antara lain:

    1. Opportunity (Peluang) PT. Mitra Lintas

    Multimedia

    a) Target Market di Malang

    b) Kebutuhan TV & Internet

    c) Segmen pasar Middle-Low

    d) Luasan Wilayah kota Malang

    e) Harga produk pesaing

    Target Market kota Malang menurut Hasil

    Survei Angkatan Kerja Nasional

    (SAKERNAS, 2015) jumlah angkatan kerja,

    jumlah pelajar dan mahasiswa di kota Malang

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    relatif lebih tinggi, hal inilah mengapa Malang

    mendapat sebutan kota Pelajar, tentu ini

    peluang besar karena menjadi kebutuhan

    aktivitas sehari-hari mereka, untuk bekerja

    maupun kegiatan belajar para pelajar dan

    mahasiswa. Karakteristik ekonomi warga

    berdasarkan hasil survei juga tergolong

    middle-low dengan jumlah angkatan kerja dan

    pendidikan yang relatif tinggi dibandingkan

    angka penganggurannya.

    Terkait luasan wilayah kota Malang dengan

    luas kurang lebih 110.06 km² dan populasi

    820.243 (Sumber BPS,2010), hal ini

    merupakan peluang bisnis yang cukup besar

    untuk pengembangan wilayah pemasaran

    dengan memperluas coverage jaringan.

    Peluang lainnya adalah harga produk pesaing

    yang relatif lebih tinggi karena kompetitor

    yang ada adalah provider ternama.

    2. Threats (Ancaman) PT. Mitra Lintas

    Multimedia

    a) Kompetitor TV & Internet di Malang

    b) Problem Perijinan Jaringan RT/RW

    c) Problem Perijinan Penggunaan Tiang

    d) Program Promosi Kompetitor

    e) Bargaining position supplier ISP

    f) Bargaining position supplier conten/

    channel

    Jumlah kompetitor yang cukup banyak, seperti

    First Media, Biznet, MNC Play, Tranvision,

    My Republik, Indihome, dan masih banyak

    lagi lainnya menjadi ancaman

    keberlangsungan bisnis. Problem perijinan

    warga dan penggunaan tiang listrik juga tidak

    kalah penting. Posisi yang dilematis harus

    dihadapi, dimana warga sudah tidak nyaman

    dengan hadirnya tiang-tiang baru

    dipemukimannya karena dipandang kurang

    elok secara estetika, di lain sisi ijin

    penggunaan tiang listrik juga menjadi kendala

    tersendiri. Banyaknya program promosi yang

    gencar dengan harga bantingan (diskon)

    besar-besar juga kerap kali menjadi masalah

    dilapangan.

    Ditambah saat ini masih bergantung dengan

    ISP (Internet Service Provider) atau pihak

    ketiga yaitu penyedia jasa layanan bandwith

    selain itu juga bergantung kepada provider

    penyedia jasa conten/siaran yang mungkin

    saja setiap saat bisa menaikkan harga atau

    merubah skema kerjasama sehingga sudah

    dapat dipastikan akan mempengaruhi biaya

    produksi dan tentu harga jual produk akan

    terdampak. Dalam hal ini pelanggan yang

    paling merasakan dampaknya utamanya

    terkait perubahan harga karena adanya

    perubahan biaya produksi atau operasional.

    Berikut ini adalah hasil dari analisis EFE

    (Eksternal Factor Evaluation) matriks dalam

    hal ini untuk memberikan gambaran detail

    terkait faktor peluang dan ancaman yang

    mempengaruhi bisnis pada PT. Mitra Lintas

    Multimedia Cabang Malang data EFE

    disajikan di dalam tabel 3 di bawah ini:

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Tabel 3

    Analisis EFE (Eksternal Factor Evaluation) Matrix

    No Faktor Eksternal Bobot Rerata Skor

    Bobot

    Opportunity (Peluang)

    1. Target Market di

    Malang 0.130 2.6 0.338

    2. Kebutuhan TV &

    Internet 0.100 3.2 0.320

    3. Segmen pasar

    Middle-Low 0.090 2.6 0.234

    4. Luasan Wilayah kota

    Malang 0.080 3.2 0.256

    5. Harga produk

    pesaing 0.050 2.8 0.140

    Threats (Ancaman)

    1. Kompetitor TV &

    Internet di Malang 0.120 3.8 0.456

    2. Problem Perijinan

    Jaringan RT/RW 0.110 3.0 0.330

    3. Problem Perijinan

    Penggunaan Tiang 0.130 3.6 0.468

    4. Program Promosi

    Kompetitor 0.070 3.2 0.224

    5. Bargaining position

    supplier ISP 0.060 2.8 0.168

    6.

    Bargaining position

    supplier

    conten/channel

    0.060 2.8 0.168

    Total 1.00 3.102

    Sumber: Data Primer Diolah

    Berdasarkan analisis EFE (Eksternal Factor

    Evaluation) yang tercantum pada tabel 3 di

    atas, maka dapat diketahui bahwa Opportunity

    (Peluang) dengan nilai skor tertinggi adalah

    faktor Target Market sebesar 0.338, artinya

    bahwa target market yang ada di Kota Malang

    menjadi salah satu peluang besar yang perlu

    dipertimbangkan untuk keputusan strategi

    bisnis. Sedangkan untuk Threats (Ancaman)

    dengan nilai skor tertinggi adalah faktor

    Perijinan Penggunaan Tiang sebesar 0.468 dan

    jumlah kompetitor bisnis serupa dengan skor

    0.456 keduanya cukup tinggi dan merupakan

    ancaman yang perlu diantisipasi serta segera

    mendapat perhatian serius agar selanjutnya

    bisa menentukan langkah-langkah teknis dan

    strategis guna penentuan kebijakan bisnis

    yang diperlukan dimasa mendatang.

    Dalam analisis EFE (Eksternal Factor

    Evaluation) juga membahas tentang analisis

    persaingan dalam industri yang teorinya

    disampaikan oleh Michael Porter dalam 5

    (lima) Keunggulan Bersaing, peneliti

    mencoba menganalisis dengan peristiwa yang

    dialami oleh PT. Mitra Lintas Multimedia

    antara lain:

    1) Ancaman masuknya pesaing baru

    Seperti yang diketahui bahwa PLN

    (Persero) melalui unit bisnisnya yaitu

    PT. Indonesia Comnets Plus (ICON⁺ )

    telah hadir dengan produk barunya yaitu

    STROOMNET dengan harga yang relatif

    terjangkau serta dikemas dalam paket

    layanan listrik dan tambah daya bagi

    pelanggan PLN, hal ini akan menjadi

    program yang menarik dan tentu saja

    berpengaruh signifikan terhadap para

    CTO dan provider internet lainnya.

    2) Intensitas lawan pesaing

    Problem yang dihadapi tidak berhenti

    hanya pada ancaman pendatang baru,

    tetapi pesaing yang sudah lebih dahulu

    ada juga menjadi ancaman, seperti

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    banyaknya local operator dan provider

    internet seperti, Indihome, Biznet, MNC

    Play, My Republik, Transvision, dan First

    Media, serta masih banyak lainnya.

    3) Ancaman produk subtitusi

    Saat ini para operator TV Kabel sedang

    dihadapkan pada perubahan dan

    perkembangan teknologi, akhir-akhir ini

    frekuensi orang menonton TV cenderung

    berkurang, minat orang cenderung kepada

    layanan paket internet dikarenakan

    dengan handphone mereka sudah bisa

    menonton secara streaming atau melalui

    youtube jauh lebih praktis dan flexible

    karena mudah dibawa kemana-mana.

    4) Daya tawar pemasok

    Pemasok yang berperan dan memiliki

    pengaruh signifikan dalam bisnis di

    PT. Mitra Lintas Multimedia adalah:

    a) Provider penyedia layanan Bandwith

    dalam hal ini ISP (Internet Service

    Provider). Untuk saat ini kerjasama

    ISP dengan PT. Naraya Telematika

    (NARATEL) sebagai penyedia

    kapasitas bandwith bagi pelanggan

    PT. Mitra Lintas Multimedia.

    b) Provider penyedia layanan hak siar

    conten/channel TV khususnya untuk

    conten premium.

    Aktivitas bisnis PT. Mitra Lintas

    Multimedia dalam hal operasional akan

    dipengaruhi oleh dua provider tersebut di

    atas, apabila mereka menentukan

    kebijakan terkait perubahan harga dan

    kerjasama maka pasti imbas atau

    dampaknya akan dirasakan oleh PT. Mitra

    Lintas Multimedia Cabang Malang secara

    langsung juga akan berpengaruh kepada

    pelanggan.

    5) Daya tawar pembeli

    Pembeli adalah Raja (Customer is King)

    ini bermakna bahwa perusahaan yang

    bergerak di bidang jasa, pelayanan adalah

    yang utama. Permintaan dan kebutuhan

    pelanggan adalah segalanya bagi

    keberlangsungan perusahaan. Oleh sebab

    itu, perusahaan harus berusaha untuk

    memberikan kualitas layanan terbaiknya.

    Ditengah maraknya kompetisi dengan

    para provider bisnis serupa, masuknya

    kompetitor baru, dan munculnya berbagai

    macam produk substitusi. Akan tetapi

    memang tidak mudah memenuhi semua

    harapan pelanggan dengan kenyataan

    yang terjadi di lapangan, karena berbagai

    problem yang terkadang diluar prediksi

    internal perusahaan, semisal tiba-tiba

    kabel putus sedangkan saat itu tingginya

    kebutuhan pelanggan, jika tidak segera

    tersolusikan yang terjadi pelanggan

    kecewa dan akhirnya putus atau berhenti

    berlangganan.

    Berikut ini adalah tabel 4 yang merupakan

    hasil Analisis Persaingan Industri berdasarkan

    teori analisis 5 (lima) keunggulan bersaing

    Michael Porter:

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Tabel 4

    Analisis 5 (Lima) Keunggulan Bersaing Michael

    Porter

    Sumber: Data Primer Diolah

    Berdasarkan hasil analisis pada tabel 3 di atas

    dapat diketahui bahwa, untuk Intensitas

    Lawan Pesaing yang lebih dahulu ada

    memiliki skor tertinggi dengan nilai 3.40

    artinya bahwa variable tersebut memiliki

    pengaruh yang sangat besar oleh karenanya

    masuk dalam kategori tinggi. Lalu, skor

    tertinggi kedua dengan nilai 3.20 adalah

    variable Ancaman Pendatang Baru,

    dilanjutkan dengan Daya Tawar Pemasok

    diurutan ketiga dengan nilai 2.40. Sedangkan,

    diurutan keempat dengan nilai 2.40 adalah

    pada variable Ancaman produk substitusi, dan

    terakhir diurutan kelima dengan nilai skor

    2.00 adalah variable Daya Tawar Pembeli.

    Berdasarkan dari hasil analisis Matriks IFE dan

    EFE di atas dimana total skor matriks IFE untuk

    Kekuatan dan Kelemahan sebesar 2.594 dan

    matriks EFE untuk Peluang dan Ancaman dengan

    total skor 3.102, maka apabila ditunjukkan dalam

    gambar matriks Faktor Internal dan Faktor

    Eksternal berada di posisi sel ke II seperti pada

    gambar 1. Yang artinya bahwa perusahaan perlu

    menentukan strategi Growth dan Build, yaitu

    melakukan serangkaian strategi intensif dan

    strategi integrasi. Strategi intensif meliputi

    diantaranya, penetrasi pasar dengan memperluas

    market share melalui berbagai macam aktivitas

    promosi, pengembangan pasar dengan

    memperluas wilayah pemasaran atau pembukaan

    area baru, pengembangan produk dari yang sudah

    ada atau modifikasi produk. Sedangkan untuk

    strategi integrasi antara lain, integrasi ke depan

    (forward integration), integrasi ke belakang

    (backward integration).

    Gambar 1

    Internal & Eksternal (IE) Matriks

    Analisis SWOT Matriks

    Selain daripada analisis Internal dan Eksternal (IE)

    Matriks dalam melakukan analisis terhadap

    strategi bisnis alternatif guna menciptakan

    keunggulan bersaing, dapat juga dengan

    menggunakan analisis SWOT Matriks. Dengan

    menggunakan data dari analisis matriks IFE dan

    matriks EFE kemudian dilakukan analisis dalam

    matriks SWOT.

    No Variable Skor Rank Kategori

    1. Ancaman

    Pendatang Baru 3.20 2 Tinggi

    2. Intensitas Lawan

    Pesaing 3.40 1 Tinggi

    3. Ancaman produk

    substitusi 2.20 4 Sedang

    4. Daya Tawar

    Pemasok 2.40 3 Sedang

    5. Daya Tawar

    Pembeli 2.00 5 Sedang

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Gambar 2

    Analisis SWOT Matriks

    Berdasarkan analisis SWOT Matriks di atas maka

    dapat dikelompokkan menjadi 7 (tujuh) strategi

    bisnis alternatif guna menciptakan keunggulan

    bersaing pada PT. Mitra Lintas Multimedia antara

    lain adalah:

    a) Strategi SO

    Memanfaatkan seluruh kekuatan untuk

    merebut dan memanfaatkan peluang sebesar-

    besarnya. Sehingga strategi bisnis alternatif

    dapat dikelompokkan sebagai berikut:

    1) Melakukan Market Penetration

    (Penentrasi Pasar) melalui promosi dan

    aktivitas pemasaran.

    2) Meningkatkan kualitas dari produk dan

    layanan TV Kabel dan Internet.

    b) Strategi WO

    Strategi yang ditetapkan adalah dengan

    memanfaatkan peluang yang ada dengan cara

    meminimalkan kelemahan. Adapun strategi

    bisnis alternatif dapat dikelompokkan sebagai

    berikut:

    1) Melakukan upaya pengembangan

    area/jaringan baru (Market Development).

    2) Upgrade jaringan dari coaxcial menjadi

    jaringan FTTH (Fiber to The Home).

    c) Strategi ST

    Strategi yang ditetapkan adalah dengan

    kekuatan yang dimiliki perusahaan untuk

    dapat mengatasi ancaman yang ada. Adapun

    strategi bisnis alternative dapat

    dikelompokkan sebagai berikut:

    1) Melakukan strategi pengembangan

    produk dengan harapan pelanggan akan

    memiliki banyak pilihan produk sesuai

    kebutuhan dan keinginan (Product

    Development).

    Faktor Internal

    Faktor Eksternal

    (S) Strength (Kekuatan)

    a) Harga produk yang kompetitif

    b) Layanan produk TV Digital dan

    Internet c) Kualitas skill

    dan knowledge

    karyawan d) Handling

    komplain 1x24

    jam e) Collection door

    to door service

    f) Iuran tanpa biaya PPN dan

    Denda

    (W) Weaknesess (Kelemahan)

    a) Infrastruktur jaringan TV dan Internet

    b) Coverage area jaringan di Kota Malang

    c) Conten channel TV siaran olahraga

    d) Support ISP (Bandwith)

    e) Brand Image f) Aktivitas

    promosi

    (O)Opportunities (Peluang)

    a) Target Market di Malang

    b) Kebutuhan TV & Internet

    c) Segmen pasar Middle-Low

    d) Luasan Wilayah kota Malang

    e) Harga produk pesaing

    Strategi SO: a) Melakukan

    penetrasi pasar

    (Market Penetration)

    dengan promo

    harga yang terjangkau

    dibandingkan

    dengan pesaing. b) Meningkatkan

    kualitas layanan

    dengan memberikan

    kebutuhan dan

    keinginan

    pelanggan.

    Strategi WO: a) Melakukan

    upgrade jaringan

    dan pengembangan

    pasar dengan

    menambah jaringan/area

    baru (Market

    Development) b) Melakukan

    pengurusan ijin

    conten dan penggunaan tiang

    guna ekspansi

    jaringan baru.

    (T)Threats (Ancaman)

    a) Kompetitor TV & Internet di

    Malang

    b) Problem Perijinan

    Jaringan RT/RW

    c) Problem Perijinan

    Penggunaan

    Tiang d) Program Promosi

    Kompetitor

    e) Bargaining position supplier

    ISP

    f) Bargaining position supplier

    conten/channel

    Strategi ST: a) Aktif melakukan

    strategi intensif,

    penentrasi pasar (Market

    Penetration) dan

    pengembangan produk (Product

    Development)

    b) Melakukan strategi Forward

    Integration

    membangun jaringan saluran

    pemasaran untuk

    membantu

    penetrasi pasar

    lebih dulu dari

    pesaing.

    Strategi WT: a) Mengurus

    perijinan dengan

    RT/RW setempat. Serta

    mengurus

    perijinan dengan pihak Icon+

    ataupun investasi

    jaringan mandiri. b) Melakukan

    kerjasama

    dengan ISP dan Provider conten

    atau strategi

    integrasi ke

    belakang

    (Backward

    Integration)

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    2) Perusahaan melakukan strategi Integrasi

    ke depan (Forward Integration) yaitu

    untuk mempercepat aktivitas penetrasi

    pasar di wilayah yang luas diperlukan

    peran serta saluran pemasaran (agen

    penjualan) dalam hal ini bisa

    menggunakan MGM (Member Get

    Member).

    d) Strategi WT

    Strategi yang ditetapkan berdasarkan kegiatan

    yang bersifat defensive yaitu meminimalkan

    kelemahan untuk menghadapi ancaman.

    Adapun strategi bisnis alternatif dapat

    dikelompokkan sebagai berikut:

    1) Perusahaan melakukan pengurusan

    perijianan (permit) baik RT/RW setempat

    dimana jaringan TV Kabel dan Internet

    dibangun maupun rencana perluasan

    jaringan. Sekaligus melakukan

    pengurusan perijinan terhadap

    penggunaan pemanfaatan tiang tumpu

    PLN dengan pihak Icon+. Ataupun

    melakukan pembangunan infrastruktur

    tiang mandiri.

    2) Melakukan renegosiasi dengan pihak

    penyedia layanan bandwith (ISP) dan

    provider penyedia layanan conten/siaran

    bisa dengan strategi integrase ke belakang

    (Backward Integration) sehingga kualitas

    layanan ke depan akan lebih baik lagi.

    Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix

    (QSPM)

    QSPM merupakan satu-satunya teknik analisis

    dalam literatur yang di design untuk menentukan

    daya tarik relatif dari tindakan alternative (David

    dan David, 2017:184). Teknik ini secara objektif

    mengindikasikan strategi alternatif terbaik

    diantara alternatif strategi lainnya. Tujuan dari

    QSPM adalah menentukan strategi alternatif mana

    yang akan memiliki skor tertinggi dan menjadi

    pilihan terbaik untuk diimplementasikan dalam

    penentuan kebijakan strategi bersaing perusahaan.

    Berikut ini hasil analisis QSPM disajikan dalam

    tabel 5.

    Tabel 5

    Analisis Quantitative Strategic Planning Matrix

    (QSPM)

    No Strategi

    Alternatif

    TAS (Total

    Attractiveness

    Score)

    Rank

    Prioritas

    1. Strategy Market

    Penetration 5.404 I

    2.

    Strategy

    Peningkatan

    Mutu Produk &

    Layanan

    5.278

    III

    3. Strategy Market

    Development 5.008 VI

    4.

    Strategy

    Product

    Development

    4.940 VII

    5.

    Strategy

    Backward

    Integration

    5.224 IV

    6.

    Strategy

    Forward

    Integration

    5.114 V

    7.

    Strategy

    Infrastruktur

    dan Permit

    Development

    5.380

    II

    Sumber: Data Primer Diolah

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Berdasarkan dari hasil analisis QSPM di atas dapat

    diketahui strategi alternatif yang mungkin ada dan

    bisa dilakukan di PT. Mitra Lintas Multimedia

    Cabang Malang sejumlah 7 (tujuh) strategi

    alternatif. Peneliti melakukan kajian ini dengan

    terlebih dahulu melakukan diskusi dan

    pembahasan yang mendalam dengan pihak

    informan yang terdiri atas 5 (lima) karyawan

    diantaranya koordinator teknik, koordinator

    marketing, koordinator HR & GA, koordinator

    logistik, dan koordinator customer service. Dan

    urutan prioritas strategi yang bisa dijalankan

    berdasarkan Analisis Lingkungan Internal (IFE)

    dan Analisis Lingkungan Eksternal (EFE), serta

    berdasarkan Analisis SWOT, dan QSPM adalah

    sebagai berikut:

    1) Prioritas I adalah Strategy Market Penetration

    dengan perolehan TAS sebesar 5.404, yaitu

    perusahaan seoptimal mungkin melakukan

    aktivitas promosi/pemasaran untuk

    mendapatkan market share pelanggan

    dibandingkan dengan para pesaing. Utamanya

    dengan memanfaatkan kekuatan internal

    perusahaan yaitu harga yang terjangkau.

    2) Prioritas II adalah Strategy Infrastruktur dan

    Permit Development dengan perolehan TAS

    sebesar 5.380, yaitu perusahaan harus bisa

    segera melakukan pengurusan ijin baik

    RT/RW maupun ijin pemanfaatan tiang tumpu

    PLN dengan pihak Icon+. Ataupun

    perusahaan bersiap untuk mau berinvestasi

    mandiri guna melakukan pembangunan tiang

    sendiri. Tentu dengan konsekwensi nilai

    investasi jaringan yang tinggi dan proses

    perijinan dengan warga serta pemerintah

    setempat yang cukup sulit.

    3) Prioritas III adalah Strategy Peningkatan Mutu

    Produk & Layanan dengan perolehan TAS

    sebesar 5.278, yaitu tingginya persaingan

    antara kompetitor TV Kabel dan Internet di

    kota Malang, yang memenangkan kompetisi

    dengan bisa mengambil hati pelanggan adalah

    mereka yang mampu memberikan pelayanan

    terbaik baik mutu produk dan layanan after

    sales service.

    4) Prioritas IV adalah Strategy Backward

    Integration dengan perolehan TAS sebesar

    5.224, yaitu perusahaan akan semakin

    memiliki keunggulan bersaing jika mampu

    memiliki bargaining position dengan para

    supplier/pemasoknya. Dalam hal ini penyedia

    layanan bandwith (ISP) dan penyedia layanan

    conten/channel siaran.

    5) Prioritas V adalah Strategy Forward

    Integration dengan perolehan TAS sebesar

    5.114, yaitu perusahaan untuk mempercepat

    penetrasi pasar dan pengembangan market

    share dibutuhkan kerjasama dan bantuan dari

    saluran distribusi pemasaran. Dalam hal ini

    bangun agen-agen penjualan, manfaatkan

    MGM (Member Get Member) berikan diskon

    dan reward tertentu agar mereka termotivasi

    ikut memasarkan.

    6) Prioritas VI adalah Strategy Market

    Development dengan perolehan TAS sebesar

    5.008, yaitu perusahaan harus mampu melihat

    peluang bahwa kota Malang memiliki luasan

    wilayah yang sangat besar ditambah dengan

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    tingginya permintaan akan layanan TV Kabel

    dan Internet dan hingga saat ini jaringan yang

    dimiliki masih belum maksimal. Ke depan

    perusahaan perlu melakukan ekspansi

    jaringan dengan memperbanyak dan

    memperluas coverage area baru.

    7) Prioritas VII adalah Strategy Product

    Development dengan perolehan TAS sebesar

    4.940, yaitu di masa mendatang perusahaan

    harus melakukan modifikasi dan

    pengembangan produk sebagai cara untuk

    memberikan berbagai macam pilihan produk

    sesuai dengan kebutuhan pelanggan.

    Hasil analisis QSPM meskipun terdapat skala

    prioritas bukan berarti yang memiliki skor

    terendah atau prioritas terakhir adalah tidak

    penting atau bahkan tidak perlu dilakukan. Akan

    tetapi hasil QSPM hanyalah sebagai bahan kajian

    dan bahan pertimbangan bagi para pengambil

    keputusan dan kebijakan dengan menyajikan

    alternatif pilihan strategi terbaik dari yang paling

    baik yang pernah ada.

    KESIMPULAN DAN SARAN

    Kesimpulan

    Berdasarkan pembahasan sebelumnya yang telah

    diuraikan di atas, maka dapat disimpulkan sebagai

    berikut:

    1. Hasil analisis lingkungan internal (IFE) pada

    PT. Mitra Lintas Multimedia, dimana terdapat

    faktor kekuatan dan faktor kelemahan. Untuk

    faktor kekuatan skor terendah pada faktor

    handling komplain 1x24 jam dengan skor

    0.110 artinya bahwa indikator kekuatan

    tersebut dikemudian hari perlu mendapatkan

    perhatian dan skor tertinggi sebesar 0.320

    untuk faktor harga yang kompetitif. Kemudian

    untuk faktor kelemahan yang tertinggi dengan

    skor 0.264 yaitu pada faktor infrastruktur

    jaringan TV dan Internet yang perlu mendapat

    perhatian dan penanganan serius.

    2. Hasil analisis lingkungan eksternal (EFE)

    yaitu peluang dengan nilai skor tertinggi

    adalah faktor target market sebesar 0.338,

    artinya bahwa target market yang ada di Kota

    Malang menjadi salah satu peluang besar yang

    perlu dipertimbangkan untuk keputusan

    strategi bisnis. Sedangkan untuk ancaman

    dengan nilai skor tertinggi adalah faktor

    perijinan penggunaan tiang sebesar 0.468 dan

    jumlah kompetitor dengan skor 0.456

    keduanya cukup tinggi dan merupakan

    ancaman yang perlu diantisipasi serta segera

    mendapat perhatian serius.

    3. Hasil analisis IFE dan EFE kemudian

    dilanjutkan dengan mengkaji pada matriks

    Internal dan Eksternal dan hasilnya adalah IFE

    dengan total skor 2.594 dan EFE dengan total

    skor 3.102, maka apabila ditunjukkan dalam

    gambar matriks faktor Internal dan faktor

    Eksternal berada di posisi sel ke II yang

    artinya perusahaan tersebut perlu melakukan

    strategi Growth dan Build. Yaitu melakukan

    serangkaian strategi intensif dan strategi

    integrasi. Dimana strategi intensif antara lain,

    market penetration, market development, dan

    product development. Dan yang termasuk

    strategi integrasi adalah, backward

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    integration, forward integration, dan

    horizontal strategy.

    4. Hasil analisis SWOT dengan membuat

    strategi alternatif berdasarkan dari faktor

    internal dan eksternal, yaitu antara lain:

    a. Strategi SO

    1) Melakukan Market Penetration

    (Penentrasi Pasar) melalui promosi

    dan aktivitas pemasaran.

    2) Meningkatkan kualitas dari produk

    dan layanan TV Kabel dan Internet.

    b. Strategi WO

    1) Melakukan upaya pengembangan

    untuk area / jaringan baru (Market

    Development).

    2) Upgrade jaringan dari coaxcial

    menjadi jaringan FTTH (Fiber to The

    Home).

    c. Strategi ST

    1) Melakukan strategi pengembangan

    produk dengan harapan pelanggan

    akan memiliki banyak pilihan produk

    sesuai kebutuhan dan keinginan

    (Product Development).

    2) Perusahaan melakukan strategi

    Integrasi ke depan (Forward

    Integration) yaitu untuk mempercepat

    aktivitas penetrasi pasar di wilayah

    yang luas diperlukan peran serta

    saluran pemasaran (agen penjualan)

    dalam hal ini bisa menggunakan

    MGM (Member Get Member).

    d. Strategi WT

    1) Perusahaan melakukan pengurusan

    perijianan (permit) baik RT/RW

    setempat dimana jaringan TV Kabel

    dan Internet dibangun maupun

    rencana perluasan jaringan. Sekaligus

    melakukan pengurusan perijinan

    terhadap penggunaan pemanfaatan

    tiang tumpu PLN dengan pihak Icon+.

    Ataupun melakukan pembangunan

    infrastruktur tiang mandiri.

    2) Melakukan renegosiasi dengan pihak

    penyedia layanan bandwith (ISP) dan

    provider penyedia layanan

    conten/siaran bisa dengan strategi

    integrasi ke belakang (Backward

    Integration) sehingga kualitas

    layanan ke depan akan lebih baik lagi.

    5. Hasil Analisis QSPM terdapat 7 (tujuh)

    alternatif strategi diurutkan berdasarkan

    perolehan nilai tertinggi sebagai berikut:

    1) Strategy Market Penetration dengan skor

    TAS 5.404.

    2) Strategy Infrastructure Development and

    Permit dengan skor TAS 5.380.

    3) Strategi Peningkatan Mutu dan Layanan

    Produk dengan skor TAS 5.278.

    4) Strategy Backward Integration dengan

    skor TAS 5.224.

    5) Strategy Forward Integration dengan skor

    TAS 5.114.

    6) Strategy Market Development dengan

    skor TAS 5.008.

    7) Strategy Product Development dengan

    skor TAS 4.940.

  • Jurnal EKSIS Stie Indocakti Malang Vol. 11, No. 1. Januari 2019 ISSN : 1978-8185

    Saran

    Dari serangkaian proses penelitian dan kajian yang

    dilakukan terhadap PT. Mitra Lintas Multimedia

    Cabang Malang, maka peneliti memberikan

    beberapa saran diantaranya adalah sebagai berikut:

    1) Manajemen perlu melakukan evaluasi terkait

    kualitas dari jaringan existing dan teknologi

    STB (set top box) untuk TV digital di cabang

    Malang dikarenakan usia dan teknologi yang

    digunakan tidak support untuk dapat

    memberikan layanan terbaik kepada

    pelanggan.

    2) Manajemen juga perlu melakukan kajian

    untuk wacana ekspansi jaringan dikarenakan

    coverage area yang ada relatif kecil dan

    terkadang lokasi yang ada kurang strategis,

    sehingga berdampak terhadap efektifitas

    pemasaran.

    3) Manajemen perlu segera melakukan

    pengurusan ijin terkait pemanfaatan tiang

    tumpu yang menggunakan tiang PLN untuk

    keberlangsungan bisnis dimasa mendatang.

    4) Manajemen perlu membangun kemitraan

    yang solid dan baik utamanya yang terkait

    dengan pihak ketiga dalam hal provider

    penyedia layanan bandwith (ISP) dan provider

    penyedia layanan conten/channel TV.

    DAFTAR PUSTAKA

    Amru, M. Kadafi, Heny. K. Daryanto, dan

    Bunasor. Sanim. (2018). “Strategi

    Peningkatan Daya Saing TV Kabel Lokal

    (Studi Kasus PT DKM), Manajemen

    IKM.Vol 13. No. 1: p:87-99.

    Assauri, Sofjan. (2013). “Strategic Management:

    Sustainable Competitive Advantages”, PT.

    Raja Grafindo Persada.Jakarta.

    Carpenter, Mason A and W.M Gerard Sanders.

    (2009). “Strategic Management: A

    Dynamic Perspective”: Second Edition;

    Prentice Hall;Pearson International. New

    Jersey.

    David, Fred R dan Forest R David. (2016).

    Manajemen Strategik: Pendekatan

    Keunggulan Bersaing. Salemba Empat.

    Jakarta.

    Hammel, Gary dan Prahalad, C.K. Strategic

    Intent. Havard Business Review, No.

    3:361-374.

    Ireland, R. Duane; Robert E.Hoskisson and

    Michael A Hitt, (2009), “The Management

    of Strategy:Concepts”, South-Western

    Cengage Learning, Mason, USA.

    Purwandari, Suci. (2015). “Analisis Quantitative

    Strategic Planning Matrix (QSPM)

    Sebagai Landasan Menentukan Strategi

    Pemasaran Pada SMK Citra Medika

    Sukoharjo”.Politeknik Indonusa Surakarta.

    Vol 1. No.3.Surakarta.

    Rangkuti, Freddy. (2014). Analisis SWOT: Teknik

    Membedah Kasus Bisnis. Gramedia

    Pustaka Utama. Jakarta.

    Riduwan. (2007). Belajar Mudah Penelitian untuk

    Guru Karyawan dan Peneliti

    Pemula. Alfabeta. Bandung

    Sugiyono. (2017). Metode Penelitian Kuantitatif,

    Kualitatif, dan R&D. Alfabeta. Bandung.

    Siambaton,Ernita, Iis Mariam, dan Elsa Dian

    Prastiti. “Analisis Faktor Internal dan

    Eksternal dalam Strategi Pengembangan

    Bisnis pada PT. Esa Jaya Global.

    Administrasi Bisnis Terapan. Politeknik

    Negeri Jakarta.”

    Zulkarnaen, H. O. dan Sutopo. (2013). Analisis

    Strategi Pemasaran Pada Usaha Kecil

    Menengah (UKM) Makanan Ringan

    (Studi Penelitian UKM Snack Barokah

    di Solo). Journal of Management 2 (3):

    1-13. UNDIP. Semarang.

    Zulkieflimansyah dan Setiawan Hari Purnomo.

    (2007). “Manajemen Strategi”, Edisi

    Revisi; Lembaga Penerbit Fakultas

    Ekonomi Universitas Indonesia.Jakarta.


Recommended