Home >Documents >ANALISIS BIAYA PENYULINGAN MINYAK GAHARU .ANALISIS BIAYA PENYULINGAN MINYAK GAHARU DAN PRODUK...

ANALISIS BIAYA PENYULINGAN MINYAK GAHARU .ANALISIS BIAYA PENYULINGAN MINYAK GAHARU DAN PRODUK...

Date post:16-Mar-2019
Category:
View:233 times
Download:3 times
Share this document with a friend
Transcript:

ANALISIS BIAYA PENYULINGAN MINYAK GAHARU

DAN PRODUK SAMPINGANNYA PADA INDUSTRI

RUMAH TANGGA DI SAMARINDA

Humairo Aziza1, Abubakar M. Lahjie

2 dan Djumali Mardji

3

1Program Pascasarjana Unmul, Samarinda.

2Laboratorium Politik, Ekonomi dan Sosial

Kehutanan Fahutan Unmul, Samarinda. 3

Laboratorium Perlindungan Hutan Fahutan

Unmul, Samarinda

ABSTRACT. Cost Analysis of Agarwood Oil Refineries and Industrial

Byproducts in Household in Samarinda. This study aimed to determine the

stages in the process of agarwood oil refinery, cost and revenue over a period and

the maximum gain obtained. From this study may provide motivation to the

various parties to be able to utilize low quality agarwood through distillation

which will provide high-value results. Observation procedures by conducting

direct observation in the field to observe the distillation process. Economic value

was obtained by analyzing of break even point (BEP) and the maximum revenue.

The results described the stages in the process of agarwood oil refinery by

poaching that the particles of agarwood in direct contact with water. BEP of

values obtained in the distillation process that uses raw materials from a variety

of quality was 5,39 cc, with the acquisition profits Rp301,183,- on BEP

Rp214,249,- with Rp4,027,000,- maximum profit on 1,000 cc production.

Kata kunci: penyulingan, minyak gaharu, biaya produksi, Samarinda.

Indonesia sebagai negara berhutan hujan tropis yang didukung oleh letak geografis,

iklim, musim serta masa penyinaran matahari relatif panjang, secara biologis

menghasilkan peluang untuk terbentuknya keragaman potensi sumberdaya jenis

tumbuhan yang tinggi. Dalam kawasan hutan akan dijumpai antara 30.00040.000

jenis tumbuhan penghasil kayu serta belum terhitung potensi tumbuhan hasil hutan

bukan kayu (HHBK) yang memiliki manfaat, baik sebagai sumber bahan makanan,

industri serta tumbuhan penghasil obat herbal. Salah satu kelompok jenis tumbuhan

HHBK yang telah diketahui dan menjadi salah satu sumber kehidupan masyarakat

yang potensial dan memiliki nilai komersial tinggi adalah gaharu (Sumarna, 2009).

Gaharu dihasilkan oleh pohon-pohon terinfeksi yang tumbuh di daerah tropis

dan antara lain termasuk marga Aquilaria, Gyrinopsis dan Gonystylus yang

keseluruhannya termasuk dalam famili Thymelaeaceae. Di Indonesia terdapat 26

spesies pohon penghasil gaharu. Marga Aquilaria terdiri dari 15 spesies, tersebar di

daerah tropis Asia mulai dari India, Pakistan, Myanmar, Thailand, Kamboja, China

Selatan, Malaysia, Philipina dan Indonesia. Enam di antaranya ditemukan di

Indonesia (A. malaccensis, A. microcarpa, A. hirta, A. beccariana, A. cumingiana

dan A. filaria). Keenam jenis tersebut terdapat hampir di seluruh kepulauan di

Indonesia, kecuali Jawa, Bali dan Nusa Tenggara. Marga Gonystylus memiliki 20

spesies, tersebar di Asia Tenggara mulai dari Malaysia, Serawak, Sabah, Indonesia,

Papua New Guinea, Philipina dan Kepulauan Solomon serta Kepulauan Nicobar.

Sembilan spesies di antaranya terdapat di Indonesia yaitu: di Sumatera, Kalimantan,

Bali, Maluku dan Irian Jaya. Marga Gyrinopsis memiliki tujuh spesies. Enam di

128

129 JURNAL KEHUTANAN TROPIKA HUMIDA 3 (2), OKTOBER 2010

antaranya tersebar di Indonesia bagian timur serta satu spesies terdapat di Srilanka

(Anonim, 2009a).

Produk yang diperdagangkan dalam berbagai bentuk seperti bongkahan, chip

dan serbuk, namun ada pula dalam bentuk minyak hasil sulingan yang sangat ideal

digunakan dari jenis produk kelas kemedangan yang diduga dalam masa 23 tahun

proses inokulasi sudah dapat dipanen (Sumarna, 2005). Kelas kemedangan berharga

murah dan bersifat ringan, sedangkan komponen kimia dari kemedangan berharga

tinggi. Oleh karena itu, diversifikasi produk kemedangan sangat berpotensi untuk

dikembangkan terutama di tempat penghasil kemedangan. Kegiatan diversifikasi

produk yang telah dilakukan masyarakat adalah penyulingan (Suwardi dan Edriana,

2005).

Minyak gaharu mengandung resin aromatik yang sangat dibutuhkan di dunia

kesehatan, kosmetik dan obat-obatan hingga puluhan tahun yang diperoleh dari

pembakaran gaharu yang mengeluarkan bau harum. Warna minyak gaharu kuning

hingga hitam dengan kekentalan yang sangat tinggi, beraroma balsam dan kayu.

Aroma manisnya mirip cendana. Sisa distilasi berupa serbuk kayu, dijemur agar

kering. Remahan itu berguna sebagai bahan baku dupa dengan penambahan bahan-

bahan adesif agar berubah bentuk menjadi pasta. Dupa digunakan pada ritual

sembahyang agama Budha, Konghucu dan Hindu di negara-negara Asia Timur dan

Asia Selatan (Anonim, 2009b). Sisa distilasi atau ampas sisa penyulingan ini laku

dijual dengan harga Rp3.0004.000/kg (Suwardi dan Edriana, 2005).

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tahapan dalam proses penyulingan

yang menggunakan teknik pengukusan; mengetahui besarnya biaya dan pendapatan

dan keuntungan maksimum yang akan diperoleh selama satu periode produksi

minyak gaharu.

Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan motivasi kepada

berbagai pihak untuk dapat memanfaatkan gaharu bermutu rendah melalui

diversifikasi produk yang salah satunya dengan cara penyulingan untuk

menghasilkan minyak gaharu yang bernilai tinggi.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini dilaksanakan di industri penyulingan minyak gaharu berskala

rumah tangga yang terletak di Jalan Gerilya Samarinda. Penelitian memakan waktu

selama 3 bulan dari bulan April sampai Juni 2010.

Objek penelitian adalah industri penyulingan minyak gaharu di Samarinda. Data

yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder.

Pengumpulan data primer yang diperoleh melalui wawancara dan observasi

langsung di lapangan mencakup antara lain: jenis dan harga bahan baku gaharu yang

digunakan, proses penyulingan minyak, biaya dan jumlah produksi selama satu

periode produksi serta harga jual minyak dan ampas sisa penyulingan.

Data sekunder diperoleh melalui pengumpulan data atau dokumen yang ada,

baik dari kepustakaan, maupun informasi yang diperoleh dari lembaga terkait dalam

keperluan penelitian.

Aziza dkk. (2010). Analisis Biaya Penyulingan Minyak Gaharu 130

Prosedur pengumpulan data dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:

1. Pembelian gaharu dari para pengumpul.

2. Seleksi gaharu berdasarkan kualitas.

3. Pencacahan gaharu menggunakan parang.

4. Penggilingan cacahan gaharu menjadi partikel yang lebih kecil dengan mesin

giling.

5. Pengeringan.

6. Penyiapan ketel, kompor dan penampung kondensat sesuai prosedur.

7. Penyulingan dan penampungan hasil sulingan.

8. Penjualan.

Komponen biaya penyulingan yang dikeluarkan selama satu periode produksi

meliputi biaya tetap dan biaya variabel yang ditabulasikan ke dalam kelompok biaya

(cost) dan selanjutnya dilakukan analisis break even point (BEP).

Biaya penyulingan minyak gaharu terdiri dari semua biaya yang dikeluarkan

untuk mengolah gaharu sampai menghasilkan minyak gaharu. Biaya tersebut

meliputi biaya tetap dan biaya tidak tetap (variabel).

Biaya tetap meliputi: biaya penyusutan peralatan, biaya penyusutan rumah

penyulingan dan listrik. Biaya variabel meliputi: bahan baku, bahan bakar, listrik,

upah karyawan, biaya pemeliharaan.

Rumus yang digunakan untuk mencari nilai BEP dalam unit dihitung dengan

menggunakan persamaan:

BEP = {TFC / P (TVC/Q)}

BEP(q) = break even point. TFC = total biaya tetap. TVC = total biaya variabel.

P = harga jual per unit. Q = jumlah unit yang dihasilkan.

Soehardi (1990) juga mengemukakan rumus untuk menghitung BEP dalam

rupiah adalah:

BEP = {TFC / 1 (TVC/S)}

BEP(Rp) = break even point. TFC = total biaya tetap. TVC = total biaya variabel

S = total pendapatan.

Selain menggunakan analisis BEP, juga digunakan analisis terhadap keuntungan

maksimum. Menurut Sukirno (1994), keuntungan maksimum akan diperoleh pada

saat biaya marginal sama dengan keuntungan marginal atau dengan kata lain saat

harga produk sama dengan keuntungan marginal (P = MR), maka keuntungan

maksimum akan diperoleh dari tingkat produksi di mana biaya marginal sama

dengan hasil penjualan marginalnya (MC = MR). Dalam bentuk grafik ditunjukkan

dengan perpotongan kurva biaya marginal dengan garis harga.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Industri penyulingan minyak gaharu yang terletak di Jalan Gerilya Samarinda

merupakan satu-satunya industri penyulingan yang berada di kota tersebut. Pada

awalnya, tepatnya sekitar tahun 1980-an, pemilik usaha yakni Bapak H. Jailani yang

131 JURNAL KEHUTANAN TROPIKA HUMIDA 3 (2), OKTOBER 2010

juga berstatus sebagai Pegawai Negeri Sipil hanya melakukan usaha jual beli gaharu

dalam bentuk alami. Namun, memasuki awal tahun 2000, pemilik usaha yang berada

di kawasan pemukiman padat penduduk ini, tepatnya di kelurahan Sungai Pinang

Dalam, Kecamatan Samarinda Utara memulai usaha dalam

Embed Size (px)
Recommended