Home >Documents >ANALISA PENCAPAIAN PPD

ANALISA PENCAPAIAN PPD

Date post:01-Jul-2015
Category:
View:200 times
Download:2 times
Share this document with a friend
Description:
membahas tentang evaluasi program pedesaan
Transcript:

M.Rawa El Amady [email protected]

ANALISA KEMAMPUAN PROGRAM PERMBEDAYAAN DESA (PPD) UNTUK MENANGGULANGI KEMISKINAN DI PROVINSI RIAUOleh M Rawa El AmadyFreelance Researchers

AbstrakStudi ini membahas tentang implementasi kebijakanan penanggulangan kemiskinan pada program pemberdayaan desa (PPD). Studi ini dimaksudkan untuk menganalisis kemampuan PPD dalam menyelesaikana permasalahana kemiskinan di Riau. PPD merupakan program yang fokus kepada pedesaan dengan menyalurkan dana abadi untuk desa. Tentu melalaui studi ini akan diektahui jumlah sentuhan desa dan jiwa yang memanfaatkan program ini. Metoda studi ini lebih bersifat analisis dokumentatif di mana peneliti menjadikan dokumentasi program sebagai bahan utama kajian, hasil dari analisa dokumentatif tertsebut diverivikasi ke enam desa/kelurahan sample. Dari studi ini diketahui bahwa program ini masih sangat dominan warna mobilisasi kepentignan birokrasi yang berorientasi proyek. Pencapaian satusatunya program adalah pengembalian pinjaman yang sangat baik. Namun program ini belum menyentuh kepada desa miskin dan penduduk miskin, karena desa yang menjadi sasaran hanya 14% desa miskin dan penduduk miskin yang menjadi sasaran hanya 0,87% dari jumlah penduduk miskin versi Balitbang di desa sasaran atau 6,05 % peminjam dari jumlah peminjam keseluruhannya. Selain itu diketahui juga bahwa struktur pelaksana program terutama struktur koordinasi pemerintah belum berjalan, sedangkan struktur pelaksana dari fasilitator program masih sangat berorientasi pada kepentingan pencapaian out program yang mengabaikan fungsi-fungsi pengembangan dan koordinasi. Secara umum program ini masih beranjak dari kesalahan program pedesaan sebelumnya yang hanya menguntungkan kelas progresif pedesaan.

Analisa Pencapaian Program Pemberdayaan Desa Provinsi Riau

1

M.Rawa El Amady [email protected]

ANALISA KEMAMPUAN PROGRAM PERMBEDAYAAN DESA (PPD) UNTUK MENANGGULANGI KEMISKINAN DI PROVINSI RIAU 1. Latar Belakang

PENJELASAN Kepala BPPM Provinsi Riau dalam beberapa pertemuan, mengemukakan bahwa program ini berjalan dengan baik, yang ditandai dengan tingginya (diatas 98%) tingkat pengembalian pinjaman modal untuk usaha masyarakat anggota kelompok

(UED/K-SP) pada program ini, dan sudah mendapat kesempatan untuk diekspose di tingkat nasional. Oleh karena itu, PPD sudah menjadi trade mark bagi pemerintah daerah Provinsi Riau. PPD diperkirakan dapat dengan cepat mengurangi kemiskinan karena kemampuan daya sentuhnya yang langsung ke desa-desa. Hal ini tentu saja berkaitan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Riau sejak tahun 2005 telah menggagas arah kebijakan pembangunan kepada penaggulangan kemiskinan, kebodohan dan ketertinggalan infrastruktur (K2I). Kebijakan ini diambil atas dasar masih tingginya angka penduduk/rumah tangga miskin di Riau. Berdasarkan hasil pendataan penduduk/rumah tangga miskin tahun 2004 terdapat 22,19% penduduk miskin, 64% penduduk tidak sekolah dan tidak tamat sekolah dasar dan masih sangat minimnya infrastruktur khususnya akses jalan pedesaan. Badan Pemberdayaan dan Perlindungan Masyarakat (BPPM) Provinsi Riau sebagai salah satu dari satuan kerja dari Pemerintah Provinsi Riau yang menangani bidang kemiskinan telah mengimplemtasikan Program Pemberdayaan Desa (PPD). PPD pada intinya adalah membangunan lembaga keuangan mikro di pedesaan melalui

kelompok Usaha Ekonomi Simpan Pinjam (UED/K-SP). Program ini memberikan bantuan modal usaha, pelatihan dan pendampingan yang dikelola oleh menejemen professional. Program ini telah dimulai dan dilaksanakan sejak tahun 2005 pada 48 desa dan di teruskan pada tahun 2006 sehingga mencapai 107 desa. Menyikapi ekspos pemerintah tersebut, maka studi ini dilakukan untuk melihat kemampuan PPD itu sendiri dalam mewujudkan cita-cita pemerintah untuk mengurangi kemiskinan di Provinsi Riau. Untuk melakukan kajian tersebut maka studi ini menggunakan pedekatan analsis dukomentasi mulai konsep program, pedoman umum, petunjuk teknis dan laporan

Analisa Pencapaian Program Pemberdayaan Desa Provinsi Riau

2

M.Rawa El Amady [email protected]

program. Untuk menganalisisnya digunakan analsis isi (contents analysis) yaitu konsep program, pedoman umum, petunjuk teknis dan laporan program diverivikasi dengan kondisi kemiskinan di Riau atau pencapaian yang diingin dari program ini. Untuk memastikan analisis dokumentasi mempunyai korelasi dengan pencapaian program maka diambil 6 desa sebagai sample masing-masing dua desa di setiap kabuapten/kota. Penentuan desa sampling bersasarkan desa PPD yang dekat dengan Pekanbaru, dalam hal ini Pekanbaru, Pelalawan dan Kampar, yaitu desa yang paling mudah dijangkau dalam waktu yang terbatas. Adapun nama desa yang dipilih adalah Desa Koto Tuo dan Desa Tanjung di Kecamatan XIII Kota Kampar Kabupaten Kampar, Desa Sungai Pompa Air dan Desa Mandian Gadjah Kecamatan Bunut Kabupaten Pelalawan, Kelurahan Muara Fajar dan Kelurahan Umban Sari Kecamatan Rumbai Kota

Pekanbaru. Di desa, peneliti hanya melakukan observasi, dan wawancara dengan pendamping desa dan pengurus UED/K-SP serta wawancara dengan masyarakat secara lepas, sample masyarakatnya tidak ditentukan hanya ingin mendapat opini umum saja.

2. Pembahasan Teoritis Pembangungan pedesaan mestinya mengacu pada aspek sosial-ekonomi pedesaan. Pembangunan yang mengabaikan aspek sosial-ekonomi pedesaan selama terbukti gagal dan tidak berkelanjutan. Program-program tersebut hanya menjadi sarana politis yang menguntungkan bagi kepentingan elit saja. Sebagaimana program yang pernah dilaksanakan bank dunia, seperti Komuniti Development, Program Revolusi Hijau, Program Pembangunan Desa Berhaluan Kemiskinan. Di Indonesia sejak zaman krisis ekonomi telah diterapkan beberapa program pedesaan, mulai dari Inpres Desa Tertinggal, hingga ke Program Pengembangan Kecamatan (PPK). Program-program tersebut lebih mementingkan kepentingan politis dan kepentingan pemberi program semata, mengabaikan apa sebenarnya yang menjadi permasalahan yang perlu diselesaikan di desa. Program pembangunan pedesaan UNESCO Community Development CD yang dijalan 1948 dan dinyatakan gagal tahun 1960-an. Kelemahan utama CD bersumber dari hipotesisnya tentang masyarakat desa. CD melihat masyarakat desa bersifat homogen, mempunyai kepentingan bersama dan mampu menyelesaikan masalah secara bersama. Hipotesis ini berakibat keuntungan hanya dinikmati lapisan masyarakat tertentu yang merupakan elit di desa karena kedudukannya yang mantap

Analisa Pencapaian Program Pemberdayaan Desa Provinsi Riau

3

M.Rawa El Amady [email protected]

atau pendatang yang sengaja mengikuti program tersebut. Mereka ini memang lapisan petani progresif yang telah mempersiapkan perubahan. Sementara petani kecil, penyewa dan buruh tani tidak mengalami perubahan yang berarti. Myrdal (1968) Hunt (1966) menyebutkan bahwa program CD hanya menjadi alat pemerintah untuk menyalurkan bantuan kepada yang tidak begitu miskin. Kegagalan program CD ternyata masih diikuti pula kegagalan program penggantinya yaitu revolusi hijau. Program Revolusi Hijau berkembang tahun 1960-an dan dinyatakan gagal tahun 1970-an. Diantara kelemahan Revolusi Hijau kurang mempertimbangkan aspek sosial, semata-mata pertimbangan ekonomi. Keuntungan hanya diperoleh petani kaya yang dengan mudah mendapatkan teknologi pertanian sedangkan petani kecil, penyewa tanah dan buruh tani tentu tidak dapat memanfaatkannya. Selain itu, pendekatan ini mengabaikan dampak dari kemasukan teknologi terhadap perubahan sosial di desa serta sempitnya pemahaman masyarakat desa, sebagaimana pada program CD. Kegagalan program revolusi hijau memaksa dunia internasional

mengembangkan Program Pembangunan Desa Berhaluan Kemiskinan. Program pembangunan desa dikembangkan tahun tahun 1970 oleh seluruh lembaga bantuan keuangan dunia, sebagai kritik terhadap program sebelumnya. Program ini menjadikan petani kecil dan miskin sebagai sasaran utama pembangunan dengan melibatkan petani secara aktif dalam pembangunan. Masyarakat desa diposisikan sebagai subjek yang dinamis. Ternyata melalui progam ini 50% dari seluruh program dinyatakan berhasil. Namun demikian program ini juga tidak lepas dari kelemahan, yaitu belum jelasnya konsep petani kecil sehingga juga akan menguntungkan petani kaya yang progresif. Selain itu, program ini hanya mengutamakan in-put tidak out-put dan semata-mata atas pertimbangan pertumbuhan ekonomi, akibatnya program ini juga menyebabkan perombakan pada struktur sosial. Indonesia pernah menerapkan program IDT (inpres desa tertinggal), yang tampaknya berpangkal pada konsep Pembangunan Pedesaan Berhaluan Kemiskian ini, toh ternyata juga tidak berhasil. Begitu juga dengan Program Pengembangan Prasarana Pedesaan (P2D) dan Jaring Pengaman Sosial (JPS), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Program Peningkatan Pendapatan Petani Kecil (P4K), dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Pesisir (PEMP). Faktor kegagalannya hampir sama dengan faktor

Analisa Pencapaian Program Pemberdayaan Desa Provinsi Riau

4

M.Rawa El Amady [email protected]

kegagalan program lainnya, masyarakat desa diasumsikan homogen, kemiskinan bukan rumah tangga tetapi adalah desa, besarnya keterlibatan birokrasi, fungsi pendamping yang tidak tepat dan tidak mempunyai pengetahuan yang jelas tentang masyarakat desa. Faktor yang terpenting adalah belum tegasnya bentuk usaha yang harus dilakukan, serta lemahnya kontrol dari masyarakat dan tidak berkelanjutan. Belajar dari kegagalan program pembangunan pedesaan sebelumnya tersebut maka adalah sangat penting melaksanakan program yang berbasis sosial-ekonomi pedesaan tersebut. Tindakan bangsa Indonesia selama ini masih sangat mengabaikan aspek sosioekonomi pedesaan perlu di rubah, agar pembangunan pedesaan bukan menjadi sarana kepentingan para politisi, dan pasar bebas. Apa yang perlu diperhatikan dalam perencanaan pede

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended