Home >Documents >Academia Article Airasia

Academia Article Airasia

Date post:07-Mar-2016
Category:
View:6 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Description:
Academia Article Airasia
Transcript:

PERKEMBANGAN INDUSTRI PENERBANGAN DI INDONESIA:Studi Kasus Pada Maskapai Penerbangan Air Asia Indonesia

Oleh:Alindra YanuardiArif Rahman HakimZezen Mukhammad Ansor

A. PENDAHULUANLatar BelakangPertumbuhan angkutan udara di Indonesia dalam satu decade memang menunjukan peningkatan yang pesat dengan memiliki pertumbuhan rata rata diatas 20% dan hal ini merupakan pangsa pasar terbesar bagi industri penerbangan di kawasan asia pasifik, bahkan jika kita mengamati tentang perkembangan industri penerbangan, menurut data dari kementerian perhubungan bahwa adanya potensi pasar trafik penumpang angkutan udara di Indonesia memang sangat besar dan di proyeksikan akan terus meningkat beberapa tahun kedepan.Perkembangan dan pertumbuhan trafik penumpang angkutan udara di Indonesia sudah mencapai 92,6 juta penumpang pada akhir tahun 2009, dalam pandangan pasar penerbangan, rasio jumlah penumpang angkutan udara dibandingkan dengan jumlah penduduk di Indonesia menurut data dari BPS + 5%, hal ini jelas dapat dilihat bahwa perbandingan tersebut memang sangat kecil jika dibandingkan dengan beberapa Negara di kawasan asia pasifik. Berangkat dari rasio tersebut, pasar angkutan udara di Indonesia masih menyisakan peluang pasar yang potensial yang cukup besar ((Airline Business). Pada sisi lain Indonesia yang merupakan Negara kepulauan tentunya sangat membutuhkan transportasi yang efektif dan efisien, sehingga jika kita melihat kondisi geografis Indonesia kita bisa mengetahu bahwa masih banyak rentang waktu (slot-time) terkait kapasitas air traffict di Bandar udara yang masih memungkinkan untuk dilakukan optimalisasi kapasitas terkait rute penerbangan antar pulau yang belum banyak dijangkau oleh airlines.

21

Lalu Lintas Penerbangan Dalam Negeri Indonesia Tahun 2003-2011

DeskripsiUnit200320042005200620072008200920102011

1. Pesawat

BerangkatUnit352,028444,346453,177475,728454,041424,118509,305576,200671,953

DatangUnit340,467446,651440,520470,956454,267430,961513,132574,423671,377

2. Penumpang

BerangkatOrang21,171,28127,852,75929,817,12632,687,07934,864,50736,114,03641,691,06848,872,36359,275,637

DatangOrang19,285,47329,150,50624,812,27633,816,34433,963,70736,388,50242,565,09950,519,02359,035,279

TransitOrang2,068,4602,742,6901,156,2492,856,2874,271,0622,763,8114,809,4225,682,8138,216,516

3. Barang

MuatTon175,627275,397260,354265,940297,683300,170288,651375,760463,507

BongkarTon194,878210,151235,575255,204274,392331,517311,428348,476450,218

4. Bagasi

MuatTon203,257248,179292,662323,346368,934352,245396,552461,884453,556

BongkarTon207,808277,406287,318216,440364,691357,494395,810440,330404,607

5. Pos/Paket

MuatTon7,8048,8838,4497,0397,88116,64011,33510,8839,809

BongkarTon6,6538,9377,9448,9317,80419,39810,63910,5339,871

Sumber : PT (Persero) Angkasa Pura I dan II, Kementerian Perhubungan

Didalam perkembangannya ada beberapa indikasi mengenai kinerja dari sebuah bisnis penerbangan dan beberapa tantangan dan peluang yang harus dihadapi oleh pelaku bisnis, dalam hal ini adalah para maskapai penerbangan baik lokal ataupun maskapai asing. Tantangan Menghadapi mindset masyarakat tentang buruknya kualitas pesawat Kompetitor Kualitas Pelayanan Rute Penerbangan Peluang Low cost career Banyaknya armada Ukuran pesawat Fasilitas yang diberikan (full service)

Dengan potensi dan peluang ini, seharusnya industri penerbangan di Indonesia harus lebih fokus pada pengembangan pasar domestik secara jangka pendek maupun jangka panjang, fokus domestik ini sesungguhnya dimaksudkan untuk mengoptimalisasi potensi pada rute yang sudah ada dan mengerahkan pengembangan angkutan udara pada rute domestik yang banyak dan belum terkelola dengan baik. PT. Indonesia AirAsia atau yang dahulu dikenal sebagai PT. AWAIR Internasional dibentuk pada September 1999 sebagai perusahaan swasta lokal di Indonesia. Setelah itu, PT. AWAIR International diambil alih oleh sekelompok investor swasta yang dikepalai oleh Unn Harris dan Pin Harris yang kemudian secara penuh mengelola seluruh perusahaan sejak Maret 2000. AWAIR mengadopsi model bisnis maskapai penerbangan dengan pelayanan penuh dengan beragam kelas dan pelayanan cabin yang lengkap. Pada 30 Agustus 2004, AAIL memasuki kerjasama penjualan dan pembayaran untuk pengambilalihan saham AWAIR. Pada September 2004, AWAIR memperoleh ijin dari Badan Koordinasi Penanam Modal untuk mempengaruhi rencana perubahan kepemilikan saham AWAIR. Para pemegang saham AWAIR menyetujui masuknya AAIL sebagai pemegang saham baru, begitu juga penunjukkan Tony Fernandes, Group Chief Executive Officer AirAsia dan Kamarudin Bin Meranun, Executive Director, Corporate Finance and Strategic Planning AirAsia, sebagai anggota baru dari dewan komisaris AWAIR. Pada bulan Desember 2004 dengan tim manajemen yang baru, AWAIR telah dibentuk ulang mengikuti model bisnis penerbangan berbiaya rendah dan diluncurkan kembali sebagai maskapai penerbangan bertarif rendah dan tanpa embel-embel untuk melayani rute domestik di Indonesia. Kemudian pada tanggal 1 Desember 2005, PT. AWAIR International mengganti nama perusahaannya menjadi PT. Indonesia AirAsia.

VisiMenjadi maskapai penerbangan berbiaya hemat di Asia dan memperbaiki pelayanan terhadap 3 juta orang yang sekarang dilayani dengan konektivitas yang kurang baik dan tarif yang mahal.

Misi Menjadi perusahaan terbaik untuk bekerja, di mana para karyawan dianggap sebagai anggota keluarga besar Menciptakan brand ASEAN yang diakui secara global Mencapai tarif terhemat sehingga semua orang bisa terbang dengan AirAsia Mempertahankan produk berkualitas tinggi, menggunakan teknologi untuk mengurangi pembiayaan dan meningkatkan kualitas layananSelama perkembangannya, maskapai Air Asia harus menghadapi berbagai tantangan dengan intensitas yang bervariasi, berjuang untuk mendapatkan terminal angkutan berbiaya rendah, bersaing dengan armada nasional yang dibiayai pemerintah, tetapi Air Asia telah membuktikan kerja kerasnya dan tetap mempunyai kekuatan yang mengagumkan, dan hal itu terbukti dengan perjalanannya yang hanya satu tahun ternyata sudah mampu menunjukan keuntungan (Sen Ze dan Jayne Eng, 2007).Banyaknya rintangan yang dialami dan bagimana perjuangan maskapai Air Asia ini khusunya Air Asia Indonesia yang sangat menarik untuk dibahas, karena didalam perjalanan bisnis yang dilalui maskapai penerbangan milik Malaysia ini merupakan sebuah bentuk akan sebuah pengalaman bisnis yang tidak terlahir dari sesuatu yang instant.

B. TINJAUAN PUSTAKAa. FinansialKinerja Keuangan Kinerja keuangan adalah suatu ukuran kinerja yang menggunakan indikator keuangan. Analisis kinerja keuangan pada dasarnya dilakuan untuk menilai kinerja di masa lalu dengan melakukan berbagai analisis sehingga diperoleh posisi keuangan yang mewakili realitas entitas dan potensi-potensi kinerja yang akan berlanjut, di perusahaan penerbangan juga memiliki kinerja keuangan yang sama pentingnya dengan perusahaan manufaktur. Menurut Halim (2001) analisis kinerja keuangan adalah usaha mengidentifikasi ciri-ciri keuangan berdasarkan laporan keuangan yang tersedia.Laporan keuanganadalah catatan informasi keuangan suatu perusahaan penerbangan pada suatu periode akuntansiyang dapat digunakan untuk menggambarkan kinerja perusahaan penerbangan tersebut. Laporan keuangan adalah bagian dari prosespelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi: Neraca Laporan laba rugi Laporan perubahan ekuitas Laporan perubahan posisi keuangan yang dapat disajikan berupalaporan arus kasatau laporan arus dana Catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dari laporan keuanganUnsur yang berkaitan secara langsung dengan pengukuran posisi keuangan adalahaset, kewajiban, danekuitas. Sedangkan unsur yang berkaitan dengan pengukuran kinerja dalamlaporan laba rugiadalahpenghasilandanbeban. Laporan posisi keuangan biasanya mencerminkan berbagai unsurlaporan laba rugidan perubahan dalam berbagai unsur neraca.Jenis indikator kinerja keuangan ada 4, yaitu:1. Menurut (Francis, at al.,2005;Doganis, 2006) Operating Cost merupakan indikator pengukuran yang digunakan oleh perusahaan penerbangan. Dalam hal ini diukur/dihitung pendapatan perusahaan berdasarkan pembagian total biaya operasi dengan total jumlah seat yang siap dijual. Operating cost digunakan untuk mengukur efektifitas pembiayaan operasi penerbangan untuk setiap pesawat.2. Menurut (Francis, at al.,2005;Doganis, 2006) Cash Flow merupakan indikator pengukuran yang digunakan oleh perusahaan penerbangan. Cash Flow digunakan untuk mengukur kesehatan arus kas yang didasarkan pada perbandingan jumlah kas masuk dan keluar pada periode tertentu. Indikator Cash Flow sangat penting untuk menjamin efektifitas perputaran modal kerja dan menjamin operasional penerbangan.3. Menurut (Francis, at al.,2005;Doganis, 2006) Operating Revenue merupakan indikator pengukuran kinerja keuangan yang digunakan oleh perusahaan penerbangan didunia, di mana mengukur perbandingan selisih antara jumlah pembayaran yang dibayarkan oleh konsumen dan jumlah total biaya operasional untuk setiap penerbangan. Pengukuran dinyatakan dalam bentuk persentase selisih antara jumlah pembayaran atau seat yang terjual dan biaya penerbangan untuk seluruh penerbangan.4. Menurut (Francis, at al.,2005;Doganis, 2006) Profit merupakan indikator pengukuran yang digunakan oleh perusahaan penerbangan di dunia, di mana kemampuan untuk menghasilkan laba perusahaan yang didasarkan pada persentase selisih antara seluruh pendapatan penjualan seat, kargo dan biaya bagasi dan seluruh biaya operasional penerbanagan baik secara bersifat fixed cost maupun variabel terhadap seluruh pendapatan. Profit merupakan indikator utama dari keseluruhan kinerja keuangan maupun dimensi kinerja lainnya, karena keberlanjutan dari bisnis penerbangan yang dil

Embed Size (px)
Recommended