Home >Documents >9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Keseimbangan Keseimbangan

9 BAB II KAJIAN PUSTAKA 2.1 Keseimbangan Keseimbangan

Date post:11-Dec-2016
Category:
View:233 times
Download:9 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 9

    BAB II

    KAJIAN PUSTAKA

    2.1 Keseimbangan

    Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan equilibrium

    baik statis maupun dinamis tubuh ketika di tempatkan pada berbagai posisi

    (Delitto, 2003). Keseimbangan adalah kemampuan untuk mempertahankan pusat

    gravitasi atas dasar dukungan, biasanya ketika dalam posisi tegak. Keseimbangan

    terbagi menjadi 2 yaitu statis dan dinamis (Abrahamova & Hlavacka, 2008).

    Keseimbangan statis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi

    tubuh dimana Center of Gravity (COG) tidak berubah. Contoh keseimbangan

    statis saat berdiri dengan satu kaki, menggunakan papan keseimbangan.

    Keseimbangan dinamis adalah kemampuan untuk mempertahankan posisi tubuh

    dimana (COG) selalu berubah, contoh saat berjalan.

    Keseimbangan merupakan integrasi yang kompleks dari system

    somatosensorik (visual, vestibular, proprioceptive) dan motorik (musculoskeletal,

    otot, sendi jaringan lunak) yang keseluruhan kerjanya diatur oleh otak terhadap

    respon atau pengaruh internal dan eksternal tubuh. Bagian otak yang mengatur

    meliputi, basal ganglia, Cerebellum, area assosiasi (Batson, 2009).

    Equilibrium adalah sebuah bagian penting dari pergerakan tubuh dalam

    menjaga tubuh tetap stabil sehingga manusia tidak jatuh walaupun tubuh berubah

    posisi. Statis Equlibrium yaitu kemampuan tubuh untuk menjaga keseimbangan

    pada posisi diam seperti pada waktu berdiri dengan satu kaki, berdiri diatas

    balance board. Dinamik Equilibrium adalah kemampuan tubuh untuk

  • 10

    mempertahankan posis pada waktu bergerak. keseimbangan bukanlah kualitas

    yang terisolasi, namun mendasari kapasitas kita untuk melakukan berbagai

    kegiatan yang merupakan kehidupan kegiatan normal sehari-hari (Huxham et al.,

    2001).

    2.2 Fisiologi Keseimbangan

    Banyak komponen fisiologis dari tubuh manusia memungkinkan kita

    untuk melakukan reaksi keseimbangan. Bagian paling penting adalah

    proprioception yang menjaga keseimbangan. Kemampuan untuk merasakan posisi

    bagian sendi atau tubuh dalam gerak (Brown et al., 2006). Beberapa jenis reseptor

    sensorik di seluruh kulit, otot, kapsul sendi, dan ligamen memberikan tubuh

    kemampuan untuk mengenali perubahan lingkungan baik internal maupun

    eksternal pada setiap sendi dan akhirnya berpengaruh pada peningkatan

    keseimbangan. Konsep ini penting dalam pengaturan ortopedi klinis karena fakta

    bahwa meningkatkan kemampuan keseimbangan pada atlet membantu mereka

    untuk mencapai kinerja atletik yang unggul (Riemann et al., 2002a).

    Proprioception dihasilkan melalui respon secara simultan, visual, vestibular, dan

    sistem sensorimotor, yang masing-masing memainkan peran penting dalam

    menjaga stabilitas postural. Paling diperhatikan dalam meningkatkan

    proprioception adalah fungsi dari sistem sensorimotor. Meliputi integrasi

    sensorik, motorik, dan komponen pengolahan yang terlibat dalam

    mempertahankan homeostasis bersama selama tubuh bergerak, sistem

    sensorimotor mencakup informasi yang diterima melalui reseptor saraf yang

    terletak di ligamen, kapsul sendi, tulang rawan, dan geometri tulang yang terlibat

  • 11

    dalam struktur setiap sendi. Mechanoreceptors sensorik khusus bertanggung

    jawab secara kuantitatif terhadap peristiwa hantaran mekanis yang terjadi dalam

    jaringan menjadi impuls saraf (Riemann et al., 2002b). Mereka yang bertanggung

    jawab untuk proprioception umumnya terletak di sendi, tendon, ligamen, dan

    kapsul sendi sementara tekanan reseptor sensitif terletak di fasia dan kulit

    (Riemann et al., 2002a).

    Empat jenis utama dari mechanoreceptors yang membantu dalam

    proprioception yaitu, termasuk reseptor Ruffini, reseptor Pacinian, Golgi-tendon-

    organ (GTO), dan muscle spindle. Ruffini dan Pacinian reseptor berhubungan

    dengan sensasi sentuhan dan tekanan pada umumnya terletak di kulit (Shier et al.,

    2004). Reseptor Ruffini dianggap sebagai reseptor statis dan dinamis berdasarkan

    ambang rendahnya, reseptor ini lambat-mengadaptasi karakteristik. Melalui

    perubahan impuls tekanan terjadi perubahan tarik statis dan dinamis pada kulit

    dan sangat sensitif terhadap peregangan (Rieman et al., 2002a). Reseptor

    Pacinian, agak cepat beradaptasi, namun reseptor dengan ambang batas rendah

    yang dianggap reseptor lebih dinamis (Rieman et al., 2002a). Sementara juga

    sensor tekanan, reseptor Pacinian mendeteksi tekanan berat dan mengenali

    perubahan percepatan dan perlambatan gerak (Shier et al., 2004). Golgi tendon

    Organ dan muscle spindle mempunyai yang lebih besar untuk mengetahui posisi

    sendi selama gerak. Pertama GTOs berada di persimpangan musculotendinous

    dan bertanggung jawab untuk memantau kekuatan kontraksi otot untuk mencegah

    otot dari kelebihan beban (Brown et al., 2006). Terhubung ke satu set serat otot

  • 12

    dan diinervasi oleh neuron sensorik, GTOs memiliki ambang batas yang tinggi

    dan dirangsang oleh ketegangan otot yang meningkat.

    Keseimbangan tubuh dipengaruhi oleh system indera yang terdapat di

    tubuh manusia bekerja secara bersamaan jika salah satu system mengalami

    gangguan maka akan terjadi gangguan keseimbangan pada tubuh (imbalance),

    system indera yang mengatur/mengontrol keseimbangan seperti visual, vestibular,

    dan somatosensoris (tactile & proprioceptive).

    Gambar 2.1 Proses Fisiologi Terjadinya Keseimbangan(Sumber : Vestibular disorders association, www.vestibular.org page 2 of 5)

    2.2.1 Sistem Vestibular

    Sistem vestibular berperan penting dalam keseimbangan, gerakan kepala,

    dan gerak bola mata. Sistem vestibular meliputi organ-organ di dalam telinga

    bagian dalam. Berhubungan dengan sistem visual dan pendengaran untuk

    merasakan arah dan kecepatan gerakan kepala. Sebuah cairan yang disebut

    endolymph mengalir melalui tiga kanal telinga bagian dalam sebagai reseptor saat

    kepala bergerak miring dan bergeser. Gangguan fungsi vestibular dapat

    http://www.vestibular.org/

  • 13

    menyebabkan vertigo atau gangguan keseimbangan. Alergi makanan, Dehidrasi,

    dan trauma kepala / leher dapat menyebabkan disfungsi vestibular. Melalui

    refleks vestibulo-occular, mereka mengontrol gerak mata, terutama ketika melihat

    obyek yang bergerak. kemudian pesan diteruskan melalui saraf kranialis VIII ke

    nukleus vestibular yang berlokasi di batang otak (brain stem). Beberapa stimulus

    tidak menuju langsung ke nukleus vestibular tetapi ke serebelum, formatio

    retikularis, thalamus dan korteks serebri.

    Gambar 2.2 Sistem Vestibular(Sumber : Ensiklopedia Britannica, 1997)

    Nukleus vestibular menerima masukan (input) dari reseptor labyrinth,

    formasi (gabungan reticular), dan cerebelum. Hasil dari nukleus vestibular menuju

    ke motor neuron melalui medula spinalis, terutama ke motor neuron yang

    menginervasi otot-otot proksimal, kumparan otot pada leher dan otot-otot

    punggung (otot-otot postural). Sistem vestibular bereaksi sangat cepat sehingga

    membantu mempertahankan keseimbangan tubuh dengan mengontrol otot-otot

    postural (Watson et al., 2008).

  • 14

    2.2.2 Sistem Visual

    Sistem visual (penglihatan) yaitu mata mempunyai tugas penting bagi

    kehidupan manusia yaitu memberi informasi kepada otak tentang posisi tubuh

    terhadap lingkungan berdasarkan sudut dan jarak dengan obyek sekitarnya.

    Dengan input visual, maka tubuh manusia dapat beradaptasi terhadap perubahan

    yang terjadi dilingkungan sehingga system visual langsung memberikan informasi

    ke otak, kemudian otak memerikan informasi agar system musculoskeletal (otot &

    tulang) dapat bekerja secara sinergis untuk mempertahankan keseimbangan tubuh.

    Pada gambar dibawah ini kita dapat melihat system visualisasi pada tubuh

    manusia (Prasad et al., 2011).

    Gambar 2.3 Sistem Visual(Sumber : Prasad And Galleta, 2011)

  • 15

    2.2.3 Sistem Somatosensori (Tactile & Proprioceptive).

    Sistem Somatosensori mempunyai beberapa neuron yang panjang dan

    saling berhubungan satu sama lainnya yang mana Sistem Somatosensori memiliki

    tiga neuron yang panjang yaitu : primer, sekunder dan tersier (Pertama, Kedua,

    dan Ketiga).

    a. Primer Neuron (Pertama) memiliki badan sel pada dorsal root ganglion

    didalam saraf spinal (area sensasi berada pada daerah kepala dan leher),

    dimana bagian ini akan menjadi suatu terminal dari ganglia saraf trigeminal

    atau ganglia dari saraf sensorik kranial lainnya).

    b. Second Neuron (kedua) dimana neuron ini berada di medulla spinalis dan

    brain stem dan meiliki sel tubuh yang baik. Akson neuron ini naik ke sisi

    berlawan di medulla spinalis dan brain stem, (Akson dari banyak neuron

    berhenti pada bagian thalamus (Ventral Posterior nucleus, VPN), dan yang

    lainnya pada system retikuler dan cerebellum.

    c. Third neuron (ketiga) Dalam hal sentuhan dan rangsangan nyeri, neuron

    ketiga memiliki tubuh sel dalam VPN dari thalamus dan berakhir di gyrus

    postcentralis dari lobus parietal.

    Sistem somatosensori tersebar melalui semua bagian utama tubuh mamalia

    (dan vertebrata lainnya). Terdiri dari reseptor sensori dan motorik (aferen) neuron

    di pinggiran (kulit, otot dan organ-organ misalnya), ke neuron yang lebih dalam

    dari sistem saraf pusat.

    Sistem somatosensori adalah sistem sensorik yang beragam yang terdiri

    dari reseptor dan pusat pengolahan untuk menghasilkan modalitas sensorik seperti

  • 16

    sentuhan, temperatur, proprioception (posisi tubuh), d

Embed Size (px)
Recommended