Home > Documents > 74257408 Sepsis Siap Print

74257408 Sepsis Siap Print

Date post: 20-Oct-2015
Category:
Author: winda-aryanie
View: 18 times
Download: 0 times
Share this document with a friend
Embed Size (px)
of 48 /48
Pendahuluan Sepsis neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang pelayanan dan perawatan neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka mortalitas neonatus (kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, dan 98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang. World Health Organization melaporkan case fatality rate yang tinggi pada kasus sepsis neonatorum , yaitu sebesar 40%. Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi. Angka kematian bayi dapat mencapai 50% apabila penatalaksanaan tidak dilakukan dengan baik. 1,2 Angka kejadian sepsis neonatorum adalah 1-5 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data dari The National Institute of Child Health and Human Development Neonatal Research Network, i nsiden tertinggi sepsis neonatorum ditemukan pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah. Insiden sepsis awitan dini adalah 15-19 per 1000 kelahiran hidup dan sepsis nosokomial awitan lambat sebanyak 21% kasus. 3 Angka kejadian sepsis di negara berkembang masih cukup tinggi (1,8-18/1000) dengan angka kematian sebesar 12-68%, sedangkan di negara maju angka kejadian sepsis berkisar 1-5 pasien per 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian 10,3%. 1,2 Penelitian terkini di Malaysia melaporkan angka sepsis neonatorum 5-10% dengan tingkat kematian 23-52%. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam periode Januari-September 2005, angka kejadian sepsis 1
Transcript

PendahuluanSepsis neonatorum sampai saat ini masih merupakan masalah utama di bidang pelayanan dan perawatan neonatus. Menurut perkiraan World Health Organization (WHO), terdapat 5 juta kematian neonatus setiap tahun dengan angka mortalitas neonatus (kematian dalam 28 hari pertama kehidupan) adalah 34 per 1000 kelahiran hidup, dan 98% kematian tersebut berasal dari negara berkembang. World Health Organization melaporkan case fatality rate yang tinggi pada kasus sepsis neonatorum , yaitu sebesar 40%. Hal ini terjadi karena banyak faktor risiko infeksi pada masa perinatal yang belum dapat dicegah dan ditanggulangi. Angka kematian bayi dapat mencapai 50% apabila penatalaksanaan tidak dilakukan dengan baik. 1,2

Angka kejadian sepsis neonatorum adalah 1-5 per 1000 kelahiran hidup. Berdasarkan data dari The National Institute of Child Health and Human Development Neonatal Research Network, insiden tertinggi sepsis neonatorum ditemukan pada bayi dengan berat badan lahir sangat rendah. Insiden sepsis awitan dini adalah 15-19 per 1000 kelahiran hidup dan sepsis nosokomial awitan lambat sebanyak 21% kasus.3 Angka kejadian sepsis di negara berkembang masih cukup tinggi (1,8-18/1000) dengan angka kematian sebesar 12-68%, sedangkan di negara maju angka kejadian sepsis berkisar 1-5 pasien per 1000 kelahiran hidup dengan angka kematian 10,3%. 1,2 Penelitian terkini di Malaysia melaporkan angka sepsis neonatorum 5-10% dengan tingkat kematian 23-52%. Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dalam periode Januari-September 2005, angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 13,68% dari seluruh kehidupan dengan tingkat kematian sebesar 14,18%. 4

Menegakkan diagnosis sepsis pada neonatus tidak mudah karena gejala dan tanda yang tidak spesifik, dapat menyerupai keadaan lain yang disebabkan oleh non infeksi. Pembuktian infeksi dengan biakan darah sering tidak menunjukkan hasil yang memuaskan. Keterlambatan pengobatan akan memperburuk keadaan bayi dan dapat menyebabkan kematian. Sebaliknya penanganan yang berlebihan akan meningkatkan penggunaan antibiotik dan lamanya rawat inap di rumah sakit. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengenal dan menatalaksana sepsis neonatorum.1,4Definisi

Sepsis pada bayi baru lahir adalah infeksi aliran darah yang bersifat, invasive yang di tandai dengan di temukannya bakteri dalam cairan tubuh, seperti darah, sumsum tulang dan air kemih.

Sepsis neonatal merupakan syndrome klinis dari penyakit sistemik akibat infeksi satu bulan pertama kehidupan. Bakteri,virus,jamur dan protozoa dapat menyebabkan sepsis bayi baru lahir

Fetus dan neonatus sangat rentan terhadap infeksi. Ada tiga jalur utama terjadinya infeksi perinatal

1. Infeksi transplasental

2. Infeksi asendens dengan disertai rusaknya barier plasenta ( misalnya infeksi bakteri setelah 12- 18 jam selaput amnion pecah) dan

Infeksi yang didapat saat bayi melewati jalan lahir yang telah terinfeksi atau terpapar EtiologiBerbagai macam kuman seperti bakteri, virus, parasit atau jamur dapat menyebabkan infeksi berat yang mengarah pada terjadinya sepsis. Pola kuman penyebab sepsis pun berbeda-beda antar negara dan selalu berubah dari waktu ke waktu. Bahkan di negara berkembang sendiri ditemukan perbedaan pola kuman, walaupun bakteri gram negatif rata-rata menjadi penyebab utama dari sepsis neonatorum.Mikroorganisme tersering yang menyebabkan timbulnya sepsis awitan dini adalah group B Streptococcus (GBS), Eschericia Coli, Coagulase-negative Staphylococcus,Haemophilus influenzae, and Listeria monocytogenes.3 sedangkan di negara berkembang termasuk Indonesia, mikroorganisme penyebabnya adalah batang Gram negatif. Mikroorganisme penyebab sepsis awitan lambat diantaranya, coagulase-negative staphylococci, Staphylococcus aureus, E coli, Klebsiella,Pseudomonas, Enterobacter, Candida, GBS, Serratia, Acinetobacter, dan bakteri-bakteri anaerob.7,8 Di negara maju, coagulase-negative staphylococci dan Candida albicans merupakan penyebab utama sepsis awitan lambat, sedangkan di negara berkembang didominasi oleh mikroorganisme batang gram negatif (E.Coli, Klebsiella, dan Pseudomonas aeruginosa).1 Di Divisi Neonatologi Departemen Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSCM pada tahun 2003, kuman terbanyak yang ditemukan berturut-turut adalah Acinetobacter sp, Enterobacter sp, Pseudomonas sp. Data terakhir bulan Juli 2004-Mei 2005 menunjukkan Acinetobacter calcoacetius paling sering (35,67%), diikuti Enterobacter sp (7,01%), dan Staphylococcus sp (6,81%).2Tabel 3. Jenis mikroorganisme penyebab sepsis neonatorum5

KLASIFIKASI

Sepsis neonatorum dibagi menjadi dua bagian yang dibedakan menurut waktu atau usia timbulnya gejala, yaitu:1,2,3

a. Sepsis awitan dini. Timbulnya gejala sepsis segera dalam periode postnatal (kurang dari 72 jam). Sepsis awitan dini memiliki kekerapan 3,5 kasus per 1000 kelahiran hidup dengan angka mortalitas sebesar 15-50% Gejala melibatkan multi sistem dengan gangguan pernafasan paling dominan. Pada umumnya bayi dengan sepsis awitan dini berkontak dengan mikroorganisme selama proses persalinan melalui traktus genitalia ibu. Kolonisasi mikroorganisme patogen dapat terjadi sejak periode perinatal. Beberapa mikroorganisme patogen seperti treponema, virus, listeria dan bahkan Candida dapat menyebar ke plasenta secara hematogen. Penyebaran mikroorganisme lain dapat terjadi pada saat proses persalinan. Bakteri patogen dan flora normal vagina dapat mencapai cairan amnion dan janin bila selaput ketuban pecah. Korioamnionitis menyebabkan kolonisasi mikroorganisme pada janin dan terjadinya infeksi. Timbulnya gejala gangguan pernafasan pada bayi disebabkan karena bayi mengalami aspirasi cairan amnion yang terinfeksi. Kolonisasi mikroorganisme dapat terjadi di tempat lain seperti kulit, nasofaring, orofaring, konjungtiva dan tali pusat. Trauma pada permukaan mukosa dapat menyebabkan terjadi nya infeksi. Sepsis awitan dini ditandai oleh adanya gejala sepsis yang muncul tiba-tiba dan berat sehingga dapat berkembang dengan cepat menjadi syok septik dan kematian.

b. Sepsis awitan lambat. Timbulnya gejala sepsis lebih dari 72 jam. Sepsis awitan lambat pada umumnya lebih ringan, namun suatu saat dapat menjadi berat. Sepsis biasanya tidak berhubungan dengan komplikasi persalinan. Fokus infeksi yang menyebabkan bakteriemia dapat diidentifikasi. Meningitis merupakan gejala klinis paling sering menyertai sepsis. Bakteri yang bertanggung jawab sebagai penyebab sepsis awitan lambat dan meningitis. Alasan yang menyebabkan gejala klinis sepsis awitan lambat berkembang lebih lambat, keterlibatan infeksi susunan saraf pusat dan gejala infeksi sistemik serta kardiorespirasi yang lebih ringan sampai saat ini masih belum jelas. Transmisi secara horisontal memegang peranan yang besar,kontak yang erat dengan ibu yang menyusui,dan penularan transmisi secara nosokomial.Yang paling utama penyebab faktor resiko didapatkannya nosokomial sepsis adalah penggunaan lama kateter plastik intravaskuler, penggunaan prosedur invasif, pemakaian antibiotik, perawatan yang lama di rumah sakit,kontaminasi dari peralatan laboratorium pendukung, cairan intravena atau enteral,dan peralatan yang terkontaminasi. Bagaimanapun,situasi yang meningkatkan paparan neonatus terhadap mikroorganisme menghasilkan peningkatan yang tinggi terhadap infeksi nosokomial dalam perawatan.Tinjauan Immunologis NeonatusJika dibandingkan dengan orang dewasa, fungsi sistem imun neonatus memiliki kekurangan pada beberapa aspek antara lain: tipe-tipe antibodi spesifik, fungsi bakterisidal dan fagositik, opsonosasi, komplemen yang bersirkulasi, serta kemampuan untuk meningkatkan produksi neutrofil sebagai rerspon terhadap infeksi. Kadar serta fungsi monosit pada neonatus sama dengan orang dewasa; namun demikian, aktivitas kemotaksis makrofag terganggu dan berlanjut dengan penurunan fungsinya sampai masa kanak-kanak awal. Jumlah makrofag di paru-paru, limpa, serta hepar menurun. Aktivitas kemotaksis, bakterisidal, serta pemaparan antigen tidak sempurna baik. Jumlah sitokin yang diproduksi oleh makrofag juga berkurang, yang mana dapat berhubungan dengan penurunan jumlah produksi sel-T.Sel-T ditemukan dalam sirkulasi janin pada awal kehamilan dan jumlahnya meningkat saat kelahiran sampai usia sekitar 6 bulan. Namun, sel ini banyak yang immatur dan tidak bertahan lama. Neonatus kekurangan fenotip sel-T dengan sel memori pada permukaannya. Namun demikian, jumlah sel-T ini bertambah dengan makin maturnya neonatus serta dengan stimulus paparan antigen. Sel-T neonatus yang masih naf ini belum dapat langsung berproliferasi bila diaktivasi seperti pada sel-T orang dewasa. Selain itu, sel-T neonatus ini belum secara efektif memproduksi sitokin saat terjadi stimulasi dan diferensiasi oleh sel-B, serta stimulasi sum-sum tulang oleh granulosit/monosit. Keterlambatan pembentukan fungsi memori terhadap antigen spesifik mengikuti terjadinya infeksi primer. Fungsi sitotoksik sel-T neonatus kurang lebih 50-100% sama efektifnya dengan sel-T orang dewasa.

Kekebalan pasif terhadap beberapa jenis organisme didapatkan melalui IgG yang ditransfer melalui plasenta selama trimester III kehamilan. Kadar IgG antibodi dalam darah bayi cukup bulan setara dengan kadar antibodi tersebut dalam tubuh ibunya. Maka dari itu, bayi-bayi yang lahir prematur khususnya yang lahir pada usia kehamilan kurang dari 30 minggu, tentu tidak memiliki antibodi ini secara mencukupi. Bila sistem imun ibu tersupresi (immunosuppressed mother), maka tentu akan sangat mungkin bahwa jumlah IgG yang ditransmisikan kepada janinnya juga rendah. Janin dapat mensintesis IgM pada usia kehamilan 10 minggu; namun levelnya sangat rendah saat lahir, kecuali jika janin terpapar agen infeksius selama kehamilan. Hal tersebut akan menstimulasi peningkatan produksi IgM. IgG dan IgE juga dapat disintesis oleh janin dalam kandungan namun jumlahnya dalam darah pada saat lahir hanya sedikit. Neonatus mendapatkan IgA melalui ASI dan mulai mensekresikan IgA pada usia 2-5 minggu. Respon terhadap antigen polisakarida berkurang dan tetap demikian sampai 2 tahun pertama kehidupan.Pada neonatus, kemampuan kemotaksis dan kapasitas neutrofil neonatal serta leukosit PMN untuk mengeliminasi antigen mengalami penurunan. Berkurangnya adhesi sel-sel ini pada pembuluh darah mengurangi kemampuannya untuk berdiapedesis meniggalkan pembuluh darah menuju ke jaringan. Selain itu juga, PMN pada neonatal kurang dapat bergerak melalui matriks ekstraselular jaringan untuk mencapai lokus inflamasi dan infeksi. Kemampuan PMN untuk memfagositosis dan membunuh bakteri terganggu saat bayi itu sakit. Yang terakhir, cadangan neutrofil dengan mudah terdeplesi karena sum-sum tulang kurang responsif, khususnya pada bayi prematur.

Natural killer (NK) cells ditemukan dalam jumlah yang lebih besar pada darah tepi neonatus dibandingkan orang dewasa; namun kemampuannya berkurang dalam hal mengekspresikan antigen pada membran sel. Respon yang berkurang ini ditemukan pada infeksi herpes virus pada neonatus.

Janin mulai dapat memproduksi protein komplemen pada usia kehamilan 6 minggu. Komposisi komponen komplemen ini sangat bervariasi pada tiap neonatus. Aktivitas komplemen pada neonatus dalam membunuh organisme, khususnya bakteri Gram-negatif, masih kurang efisien. Hal ini terutama terjadi pada bayi-bayi prematur. Aktifitas sistem komplemen mulai matang pada usia 6-10 bulan. Fibronectin, suatu protein serum yang diinduksi dengan penempelan neutrofil serta memiliki aktivitas opsonisasi, ditemukan dalam kadar yang rendah pada neonatus. Karena itulah, efisiensi serum neonatus rendah dalam mengopsonisasi agen infektif.PATOGENESISDalam dekade terakhir telah diajukan konsep baru patogenesis infeksi yang dikenal dengan systemic inflammatory response syndrome(SIRS). Istilah ini dipakai pada pasien yang memperlihatkan gejala klinis infeksi dengan respon sistemik seperti takikardia, takipneu, hipertermia atau hipotermia (Tabel 1). Pada stadium lebih lanjut, dalam cascade inflamasi ini terjadi perubahan fungsi berbagai organ tubuh yang disebut Multi Organ Dysfunction Syndrome (MODS). Konsep ini menggambarkan patofisiologi baru dalam cascade inflamasi yang agak berbeda dengan gambaran yang dianut sebelumnya. 1,2

Tabel 1. Kriteria SIRS4

Usia NeonatusSuhuLaju nadi /menitLaju nafas /menitJumlah leukosit x 103/mm3

0-7 hari>38,5 atau 180 atau 50>34

7-30 hari>38,5 atau 180 atau 40>19,5 atau < 5

Catatan: definisi SIRS pada neonatus ditegakkan bila ditemukan 2 dari 4 kriteria dalam tabel (salah satu diantaranya adalah kelainan suhu dan leukosit)

Pada International Consensus Conference on Pediatric sepsis di San Antonio Texas USA (2002) telah dicapai suatu kesepakatan mengenai definisi SIRS, MODS, Sepsis, Sepsis Berat, dan syok Sepsis (Tabel 2). Berdasarkan kesepakatan tersebut, definisi sepsis neonatus ditegakkan bila terdapat SIRS yang dipicu oleh infeksi, baik tersangka infeksi (suspected) atau terbukti infeksi (proven). Berbagai respon sistemik dapat ditemukan pada SIRS, antara lain perubahan sistem hematologi, sistem imun tubuh, dan lain-lain.2,5Tabel 2. Kriteria infeksi, sepsis, sepsis berat, syok sepsis5

InfeksiTerbukti infeksi (proven infection) bila ditemukan kuman penyebab atau Tersangka infeksi (suspected infection) bila terdapat sindrom klinis (gejala klinis dan pemeriksaan penunjang lain)

SepsisSIRS disertai infeksi yang terbukti atau tersangka

Sepsis BeratSepsis yang disertai disfungsi organ kardiovaskuler atau disertai gangguan nafas akut atau adanya gangguan dua organ lain (seperti gangguan neurologi, hematologi, urogenital dan hepatologi

Syok SepsisSepsis dengan hipotensi (tekanan darah sistolik < 65 mmHg pada bayi < 7 hari dan 38C) pada masa peripartum akibat korioamnionitis, infeksi saluran kemih, kolonisasi vagina oleh Streptokokus grup B (SGB), kolonisasi perineal oleh E. coli, dan komplikasi obstetrik lainnya.15

3. Cairan ketuban hijau keruh dan berbau.

4. Kehamilan multipel.

5. Persalinan dan kehamilan kurang bulan.

6. Faktor sosial ekonomi dan gizi ibu.15

Faktor risiko pada bayi:

1. Prematuritas dan berat lahir rendah.

2. Dirawat di Rumah Sakit.

3. Resusitasi pada saat kelahiran, misalnya pada bayi yang mengalami fetal distress dan trauma pada proses persalinan.

4. Prosedur invasif seperti intubasi endotrakeal, pemakaian ventilator, kateter, infus, pembedahan, akses vena sentral, kateter intratorakal.

5. Bayi dengan galaktosemia (predisposisi untuk sepsis oleh E. coli), defek imun, atau asplenia.

6. Asfiksia neonatorum.

7. Cacat bawaan.

8. Tanpa rawat gabung.

9. Tidak diberi ASI.

10. Pemberian nutrisi parenteral.

11. Perawatan di bangsal intensif bayi baru lahir yang terlalu lama.

12. Perawatan di bangsal bayi baru lahir yang overcrowded.

13. Buruknya kebersihan di NICU.15

Faktor risiko lain:

Beberapa kepustakaan menyebutkan bahwa sepsis neonatorum lebih sering terjadi pada bayi laki-laki daripada perempuan, pada bayi kulit hitam daripada kulit putih, pada bayi dengan status ekonomi rendah, dan sering terjadi akibat prosedur cuci tangan yang tidak benar pada tenaga kesehatan maupun anggota keluarga pasien, serta buruknya kebersihan di NICU.27,42,46,48 Faktor-faktor di atas sering dijumpai dalam praktek sehari-hari dan masih menjadi masalah sampai saat ini. Hal ini merupakan salah satu penyebab tidak adanya perubahan pada angka kejadian sepsis neonatal dalam dekade terakhir ini. Faktor-faktor risiko ini walaupun tidak selalu berakhir dengan infeksi, harus tetap mendapatkan perhatian khusus terutama bila disertai gambaran klinis.Faktor risiko yang menyebabkan terjadinya sepsis awitan dini adalah:4a. Bayi lahir prematur atau berat badan lahir rendah ( 38C,c. Korioamnionitis.d. Fetal takikardi > 160 kali /menit.Faktor minor:a. Ibu dengan demam intrapartum > 37,5C.b. Kehamilan kembar.c. Bayi prematur d. Ibu dengan leukositosis (hitung sel darah putih >15.000).e. Ruptur membran > 12 jam.f. Takipnea g. Kolonisasi SGB pada ibu.h. APGAR score yang rendah (10 mmol/l)

Intoleransi minum

Variabel hemodinamik

Tekanan darah 3 mmol/lVariabel Inflamasi

Leukosistosis (> 34000 x 106/L)

Leukopenia ( 10%

Netrofil muda/ total neutrofil (I/T ratio) > 0,2

Trombositopenia < 100 000 x 106/L

C Reactive Protein > 10 mg/dl atau >2SD dari nilai normal

Procalcitonin > 8,1 mg/dL atau >2SD dari normal

IL-6 atau IL-8 > 70 pg/ml 16 S rRNA gene PCR: Positif

Penetapan interleukin sebagai salah satu kriteria diagnosis sepsis mempunyai arti penting karena hal itu sesuai dengan respons sistemik yang terlihat pada pasien SIRS/FIRS. Pembentukan sitokin ini bertambah penting artinya karena sitokin tidak hanya berperan dalam regulasi proses inflamasi tetapi sekaligus dapat dipergunakan sebagai penunjang diagnosis sepsis neonatorum. Kuster dkk (1998) melaporkan sitokin yang beredar di dalam sirkulasi pasien sepsis dapat dideteksi 2 hari sebelum gejala klinis sepsis muncul. Pelaporan ini sangat bermanfaat dalam manajemen pasien karena dengan demikian rencana pengobatan sepsis dapat dilakukan dengan lebih dini sehingga pengobatan akan lebih efisien dan efektif serta komplikasi jangka panjang yang mengganggu tumbuh kembang bayi dapat dihindarkan.

Akhir-akhir ini pemeriksaan biomolekuler/ Polymerase Chain Reaction (PCR) juga digunakan dalam menentukan diagnosis dini sepsis neonatorum. Dibandingkan dengan biakan darah, pemeriksaan biomolekuler mampu lebih cepat memberikan informasi jenis kuman. Selain bermanfaat untuk deteksi dini, PCR juga dapat digunakan untuk menentukan prognosis pasien sepsis neonatorum.2,7Tata laksana

Eliminasi kuman penyebab merupakan pilihan utama dalam tata laksana sepsis neonatorum, sedangkan di pihak lain penentuan kuman penyebab membutuhkan waktu dan mempunyai kendala tersendiri. Hal ini merupakan masalah dalam melaksanakan pengobatan optimal karena keterlambatan pengobatan akan berakibat peningkatan komplikasi yang tidak diinginkan. Sehubungan dengan hal tersebut, penggunaan antibiotika secara empiris dapat dilakukan dengan memperhatikan pola kuman penyebab tersering yang ditemukan di klinik tersebut. Selain pola kuman hendaknya diperhatikan pula resistensi kuman. Segera setelah didapatkan hasil kultur darah, maka jenis antibiotik disesuaikan dengan kuman penyebab dan pola resistensinya.1,2

Dalam kepustakaan dikemukakan bahwa kuman streptococcus Grup B dan kuman gram positif lainnya masih sensitif terhadap penicillin (dosis 100.000-200.000 U/kgbb/hari) atau ampisilin (dosis 100-200 mg/kgbb/hari). sedangkan kuman Listeria masih sensitif dengan kombinasi antibiotik ampisilin dan aminoglikosid, serta golongan Pseudomonas umumnya sensitif terhadap sefalosporin. Lamanya pengobatan sangat tergantung pada kuman penyebab. Pada penderita yang disebabkan oleh kuman streptococcus dan listeria, pemberian antibiotika dianjurkan selama 10-14 hari. sedangkan penderita yang disebabkan oleh kuman gram negatif pengobatan kadang-kadang diteruskan sampai 2-3 minggu. Divisi perinatologi RSCM menggunakan antibiotik golongan Ceftasidim sebagai antibiotik pilihan pertama dengan dosis yang dianjurkan 50-100 mg/kgbb/hari (bergantung berat-ringannya gejala sepsis) dan diberikan 2 kali sehari. Beberapa kuman gram negatif saat ini hanya sesnsitif terhadap imipenem atau meropenem dengan dosis 25 mg/kgbb/dosis dengan pemberian 2 kali sehari.1,2 Gambar 2 memperlihatkan protokol pemberian antibiotik pada sepsis.

Walaupun pemberian antibiotik masih merupakan tata laksana utama pengobatan sepsis neonatorum, berbagai upaya pengobatan tambahan (adjunctive therapy) banyak dilaporkan dalam upaya memperbaiki mortalitas bayi. Pengobatan tambahan atau terapi inkonvensional semacam ini selain mengatasi berbagai defisiensi dan belum matangnya fungsi pertahanan tubuh neonatus, juga dalam rangka mengatasi perubahan yang terjadi dalam perjalanan penyakit dan cascade inflamasi pasien sepsis neonatorum..

Gambar :Protokol tatalaksana sepsis8Beberapa terapi inkonvesional yang sering diberikan antara lain:1,5,6,9,10 Pemberian imunoglobulin secara intravena (IVIG). Bertujuan untuk dapat meningkatkan antibodi tubuh serta memperbaiki fagositosis dan kemotaksis sel darah putih. Namun pemberian IVIG belum terbukti memberikan efek yang menguntungkan terhadap penderita tersangka sepsis dan sepsis neonatorum.13 Pemberian Fresh frozen plasma (FFP). Pemberian FFp diharapkan dapat mengatasi gangguan koagulasi yang diderita pasien. FFP juga mengandung antibodi, komplemen dan protein lain seperti C-reactive protein dan fibronectin. Walaupun FFP mengandung antibodi protektif tertentu namun pemberian FFP dengan tujuan meningkatkan kadar proteksi pada bayi tidak akan banyak berfaedah.

Pemberian Granulocyte-Macrophage Colony Stimulating Factor (G-CSF). G-CSF secara langsung akan memperbanyak netrofil dalam sirkulasi akibat pelepasan netrofil dari sum-sum tulang yang meningkat. Transfusi tukar. Tindakan ini bertujuan untuk mengeluarkan/ mengurangi toksin atau produk bakteri dan mediator penyebab sepsis, memperbaiki perfusi perifer dan pulmonal dengan meningkatkan kapasitas oksigen dalam darah, serta memperbaiki sistem imun dengan adanya tambahan netrofil dan berbagai antibodi yang mungkin terkandung dalam darah donor. Pelaksanaan tindakan ini sulit dan berpotensi menimbulkan reaksi transfusi.

Tatalaksana imunologik. Adanya hipotesis yang menyatakan bahwa pengurangan sirkulasi TNF-a dan IL-1 (sitokin proinflamasi) dalam sirkulasi akan menghambat perkembangan cascade sepsis. Hipotesis ini dibuktikan dengan menyuntikkan reseptor antagonis IL-1(IL-1ra) pada binatang percobaan dapat merintangi aktifitas IL-1 sehingga terhindar dari kematian akibat bakteriemia dan endotoksemia.

KomplikasiKomplikasi sepsis neonatorum antara lain ialah meningitis, neonatus dengan meningitis dapat menyebabkan terjadinya hidrosefalus dan/atau leukomalasia periventrikular, hipoglikemia, asidosis metabolik, koagulopati, gagal ginjal, disfungsi miokard, perdarahan intrakranial dan pada sekitar 60 % keadaan syok septik akan menimbulkan komplikasi Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS). Selain itu ada komplikasi yang berhubungan dengan penggunaan aminoglikosida, seperti ketulian dan/atau toksisitas pada ginjal, komplikasi akibat gejala sisa atau sekuele berupa defisit neurologis mulai dari gangguan perkembangan sampai dengan retardasi mental dan komplikasi kematian.Prognosis Angka kematian pada sepsis neonatal berkisar antara 10-40 %. Angka tersebut berbeda-beda tergantung pada cara dan waktu awitan penyakit, agen etiologik, derajat prematuritas bayi, adanya dan keparahan penyakit lain yang menyertai dan keadaan ruang bayi atau unit perawatan. Angka kematian pada bayi BBLR adalah 2 kali lebih besar. Dengan diagnosis dini dan terapi yang tepat, prognosis pasien baik; tetapi bila tanda dan gejala awal serta faktor resiko sepsis neonatorum terlewat, akan meningkatkan angka kematian. Pada meningitis terdapat sequele pada 15-30% kasus neonatus. Rasio kematian pada sepsis neonatorum 24 kali lebih tinggi pada bayi kurang bulan dibandingkan bayi cukup bulan. Rasio kematian pada sepsis awitan dini adalah 15 40% (pada infeksi SGB pada SAD adalah 2 30 %) dan pada sepsis awitan lambat adalah 10 20 % (pada infeksi SGB pada SAL kira kira 2 %).Pencegahan Sepsis Awitan Dini

Pencegahan sepsis neonatorum awitan dini dapat dilakukan dengan pemberian antibiotik. Dengan pemberian ampisilin 1 gram intravena yang diberikan pada awal persalinan dan tiap 6 jam selama persalinan, dapat menurunkan risiko terjadinya infeksi awitan dini (early-onset) sampai 56% pada bayi lahir prematur karena ketuban pecah dini, serta menurunkan risiko infeksi SGB sampai 36%. Pada wanita dengan korioamnionitis dapat diberikan ampisilin dan gentamisin, yang dapat menurunkan angka kejadian sepsis neonatorum sebesar 82% dan infeksi SGB sebesar 86%. Sedangkan wanita dengan faktor risiko seperti korioamnionitis atau ketuban pecah dini serta bayinya, sebaiknya diberikan ampisilin dan gentamisin intravena selama persalinan. Antibiotik tersebut diberikan sebagai obat profilaksis. Bagi ibu yang pernah mengalami alergi terhadap penisilin dapat diberikan cefazolin.14 15

PENCEGAHAN SEPSIS Pencegahan Sepsis Awitan Lanjut2

Pencegahan untuk sepsis neonatorum awitan lanjut yang berhubungan dengan infeksi nosokomial antara lain :

Pemantauan yang berkelanjutan

Surveilans angka infeksi, data kuman dan rasio jumlah tenaga medis dibandingkan jumlah pasien

Bentuk ruang perawatan

Sosialisasi insidens infeksi nosokomial kepada pegawai

Program untuk meningkatkan kepatuhan mencuci tangan

Perhatian terhadap penanganan dan perawatan kateter vena sentral

Pemakaian kateter vena sentral yang minimal

Pemakaian antibiotik yang rasional

Program pendidikan

Meningkatkan kepatuhan pegawai berdasarkan hasil program kontrol.14 Antibiotik Profilaksis Terapi pencegahan atau antibiotik profilaksis pada bayi baru lahir tidak dilakukan lagi. Pemberian antibiotik harus dibatasi serta memperhatikan faktor ibudan bayi. Antibiotik hanya boleh diberikan pada BBLR dengan berat


Recommended