Home >Documents >5.2. PENGUKURAN SUDUT & JARAK

5.2. PENGUKURAN SUDUT & JARAK

Date post:24-Feb-2016
Category:
View:180 times
Download:7 times
Share this document with a friend
Description:
5.2. PENGUKURAN SUDUT & JARAK. 2.1. PENGUKURAN SUDUT. 2.1.1. Jenis Sudut. 2.1.2. Pembacaan Besaran Sudut. 2.2. PENGUKURAN JARAK. 2.2.1. Jenis Pengukuran ( Pengukuran Datar, Pengukuran Miring & Beda Tinggi). 2.2.2. Pengukuran dengan Titik Silang. 2.2.3. Rambu Ukur. U. U 67 º T. - PowerPoint PPT Presentation
Transcript:

52 Pengukuran Sudut & Jarak

5.2. PENGUKURAN SUDUT & JARAK2.1.1. Jenis Sudut2.1.2. Pembacaan Besaran Sudut2.1. PENGUKURAN SUDUT2.2. PENGUKURAN JARAK2.2.1. Jenis Pengukuran (Pengukuran Datar, Pengukuran Miring & Beda Tinggi)2.2.2. Pengukuran dengan Titik Silang2.2.3. Rambu Ukur1Universitas Lambung Mangkurat52. Pengukuran Sudut & JarakFakultas Kehutanan

U 45 BU 90 BS 90 BU 90 TS 90 TU 67 TS 40 BS 50 TUSTBTrue BearingTrue bearing merupakan sudut lancip yang dibentuk oleh garis meridian bumi (bujur) dengan garis/arah bidik.Besaran sudut ukurnya dihitung dari meridian Utara atau Selatan ke arah timur atau barat.1. Sudut datar2.1.1. Jenis SudutAzimut

130 UT115 UB125 ST135 SBUBTSAzimut merupakan sudut yang dibentuk antara garis Utara atau Selatan bumi dengan arah pengukuran ke Timur atau ke Barat sesuai dengan bousole (kompas) yang digunakan.Kisaran besaran sudut 0 360 atau 0g 400g.Besaran sudut hasil pembacaan ada yang bersifat langsung dan tak langsung.Kenyataannya bahwa jarum magnit tidak mengarah ke kutub Utara-Selatan bumi tetapi menyimpang ke Utara-Selatan kutub magnit bumi.Kutub magnit merupakan daerah yang luas dan pada daerah tsb jarum magnit akan berdiri tegak. Tempat-tempat yang menjauh dari daerah magnit umumnya akan membentuk sudut deklinasi yang umumnya dengan besaran yang berlainan, namun ada pula yang mempunyai sudut deklinasi sama. Penyimpangan terjadi karena posisi kutub magnit Utara-Selatan bumi tidak tepat berada di kutub Utara-Selatan bumi dan akibat pengaruh medan magnit besar yang merupakan gabungan semua gaya magnit dipermukaan bumi menarik jarum magnit untuk mengarah ke kutub magnit. Penyimpangan tsb dinyatakan sebagai deklinasi.UBS20 TU 20 TBTS 20 BDeklinasi TimurUMUBS20 BU 20 BBTS 20 TDeklinasi BaratUMDeklinasi (sudut penyimpangan)merupakan sudut yang dibentuk dari arah jarum magnit terhadap Utara-Selatan bumi yang sesungguhnya.Tempat-tempat yang berdeklinasi sama ditarik garis (maya) dan garis tsb dinyatakan sebagai isogonic. Garis isogonic di peta dinamakan isogonic chart.Sudut deklinasi setiap tahunnya berubah-ubah, bahkan setiap hari terjadi perubahan. Ini akibat rotasi bumi dan kejadian-kejadian alam. Sehingga peta isogonic pun terjadi perubahan-perubahan.Disamping itu ada pula tempat-tempat yang mempunyai deklinasi nol (tepat mengarah Utara-Selatan kutub bumi) dan garis yang menghubung-kannya dinamakan agonic.UBUMBTSTahun 1960 diperkirakan letak areal magnit Utara sekitar titik perpotongan 75 LU dan 101 BB. Letak areal magnit Selatan sekitar perpotongan 67 LS dan 148 BT.Local attraction (pengaruh lokal) = gaya tarik setempat)merupakan pengaruh suatu kejadian yang biasa terjadi pada daerah-daerah pegunungan atau vulkanik.Garis gaya magnetik yang mengarahkan jarum magnit pada kompas sering berubah arah dengan adanya tambang, deposit mineral atau kabel transmisi listrik. Bahkan benda-benda yang terbuat dari logam seperti tiang listrik, alat-alat berat, tangkai payung, pulpen/pensil logam dapat mempenagruhi arah jarum magnit.Pada pengukuran keteknlkan hutan (kehutanan) biasa menggu-nakan deflection angle (sudut-sudut pelurus) dan interier angle (sudut dalam).Sudut pelurus merupakan sudut yang dibentuk dari perpanjang-an garis melalui suatu titik atau sudut yang dibentuk antara perpanjangan pandangan belakang dan pandangan depan.Sudut dalam merupakan sudut yang dibentuk antara dua sisi yang berdekatan pada suatu poligondddddpppppp = sudut pelurusd = sudut dalam* Besaran jumlah sudut dalam suatu poligon = (n-2)(1800)* Besaran jumlah sudut pelurus dengan asumsi bahwa pelurus kanan dan kiri mempunyai tanda yang berlawanan.Bila terjadi pengaruh lokal, maka diperlukan pandangan (pengukuran) muka dan belakang terhadap suatu titik agar dapat mengoreksi pengaruh tsb dan menghitung ulang arah sudut yang benar.Bila besaran ukuran pandangan muka dan belakang berbeda, maka perlu menentukan sudut arah dengan cara pengamatan pengindraan.Sudut arah tidak menentukan arah Utara, Timur, Selatan atau Barat. Sehingga dalam pengukuran diperlukan 2 titik yang telah diketahui azimutnya, agar dapat ditentukan posisi titik-titik atau garis berikutnya.Arah merupakan pandangan depan yang dibentuk dari pandang-an belakang (sebelumnya) sebagai garis patokan. Sudut yang dibentuk merupakan sudut arah. ABCKatakan pengukuran bergerak dari A ke B terus ke C, maka arah BA pandangan belakang arah BC pandangan muka ABC = adalah sudut arahSudut arahKatakan saja pengukuran bergerak dari A B C.- Titik A dan B membentuk garis yang diketahui asimutnya 1 = 45 UB. (arah BA pandangan belakang).- Selanjutnya arah pengukuran dari titik B ke titik C dengan membentuk sudut terhadap garis BA sebesar = 110 (sudut arah). Azimut BC (pandangan muka) diperoleh dari ( - 1) = (110 45) = 65 (2).

BTU12ABCS2. Sudut tegak

ZNSudut tegak dibentuk dari bidang tegak (vertikal). Sudut ditentukan dari garis tegak yaitu berupa sudut zenit () atau sudut nadir () dengan besaran maksimal sebesar 180.Besaran sudut elevasi () dan depresi () diperoleh dari : = 90 = 90 Sudut miring/lapangan dibentuk dari bidang datar (horizontal) terdiri dari sudut elevasi atau depresi. Bidang datarBidang tegak1. Sudut datarPengukuran azimut secara langsungBousole2.1.2. Pembacaan Besaran Sudut

1809090270ObSOk00

9090180270ObS0037OkLangkah pengukuran/pembacaan :Gambar di sebelah kiri menunjukkan kedudukan awal teropong, dimana skala piringan datar 00 berimpit 00UMBArahkan teropong ke rambu (misal mengarah ke kanan/Timur). Setelah mengarah ke rambu tepat (untuk pembacaan), baca sudut melalui mikroskop dan terbaca (misalnya) 37 .Besaran sudut yang terbaca merupakan azimut yang terbaca langsung didasarkan dari utara magnit bumi ke arah pembidikan rambu (37UTM) Pengukuran azimut secara tak langsungBousole

0S18090270ObB9018035Ok

Ob062S180909790180Ok270Langkah pengukuran/pembacaan :Gambar di sebelah kiri menunjukkan kedudukan awal teropong, dimana skala piringan datar 350 berimpit dengan 1800SMB = 00UMBArahkan teropong ke rambu (misal mengarah ke kanan/Timur). Setelah mengarah ke rambu tepat (untuk pembacaan), baca sudut melalui mikroskop dan terbaca (misalnya) 97 .Besaran sudut yang terbaca tidak merupakan azimut yang terbaca langsung. Perhitungan hasil pembacaan : (970 350) = 620UTM2. Sudut tegakZ

Arah bidikArah bidik11A1A2Bidang datar = sudut zenith = 900 ~ 1 = 1 = sudut elevasi = sm +Bila sebesar :(1) Z ~ A1 = 1 2(2) Z ~ A2 = 2 2 = 900 ~ 2 = 2 = sudut depres = sm = 900 ~ 500 = 400 = 900 ~ 1500 = - 600Tanda neg. = arah pengukuran menurun2.2. PENGUKURAN JARAKJarak merupakan rentangan hubungan terpendek antara dua titik. Jauh rentangan antara dua titik dinyatakan dalam satuan ukuran panjang.Kedudukan kedua titik tsb, bisa pada : posisi datar (sejajar dengan bidang datar), disebut jarak datarposisi miring (membentuk sudut lancip dengan bidang datar), disebut jarak miring (lapangan) posisi tegak (membentuk sudut 900 terhadap bidang datar), disebut jarak tegak (beda tinggi)18Universitas Lambung Mangkurat52. Pengukuran Sudut & JarakFakultas KehutananPengukuran jarak secara garis besar terbagi 2 jenis pengukur-an yaitu secara langsung dan tidak langsunga. Pengukuran jarak secara langsung : pengukuran jarak antara dua titik tidak begitu jauh atau pada hamparan lahan yang tidak begitu luas. Pengukuran ini dilakukan dengan cara sederhana. Peralatan ukur yang digunakan berupa galah, pita ukur atau rantai ukur.b. Pengukuran jarak secara tak langsung : pengukuran jarak antara dua titik cukup jauh atau pada hamparan lahan yang cukup luas. Pengukuran dilakukan secara optik atau elektronik. Peralatan ukur yang digunakan berupa alat optik (manual atau elektronik).2.2.1. Jenis Pengukuran (Pengukuran Datar, Pengukuran Miring & Beda Tinggi)Pengertian pengukuran (jarak) datar bila kedudukan garis bidik teropong sejajar dengan bidang datar (sudut miring = 0). Pengukuran datar ini lebih dikenal dengan Menyipat Datar (diuraikan tersendiri). Pesawat ukur yang digunakan berupa Bousole Tranche Montagne (BTM) atau Theodolit.1. Pengukuran datarPengukuran dengan alat (pesawat) optik dikenal 4 unsur utama yang berperanan yaitu benang silang (stadia), rambu ukur, sudut (sudut datar dan sudut tegak) dan nivo (gelembung pendatar).BATAbBabpSumbu VafcD.bFdAbT1T2BaSumbu H(Pesawat Bousole Tranche Montagne)Jarak datar pada pengukuran datarRumus dasar perhitungan jarak :d = c + D.bberarti :D = ( d : b ) ( f : p )Tetapan c = jarak titik api F (focus) ke busur lensa sangat kecil (nol) sehingga diabaikanTetapan D = bilangan pengali dalam menentukan jarak dan besarannya telah ditetapkan (umumnya bernilai 100)Nilai b = selisih nilai antara dua pembacaan benang pada rambud = c + Dbd = (100) (0,30) m= 30 mAB = AT = TBABT1,25 m1,55 mataud = (100) (1,55 m 1,25 m)= 30 mPerhitungan :b = 1,55 m 1,25 m = 0,30 mb = Ba Ab = B A (selisih dua benang)Contoh : Tinggi pesawat setelah diukur setinggi 1,40 m. Setelah teropong dibidikan ke rambu diperoleh pembacaan benang atas (Ab) dan benang bawah (Ba) adalah 1,25 m dan 1,55 m. Tetapan D sebesar 100.( Pesawat Theodolit )Jarak datar pada pengukuran datarBATBbAabpSumbu VafcD.bFdBbT1T2AaSumbu HLPBPerhitungan :d = c + D.bd = (100) (0,40 m)= 40 mb = 1,55 m 1,15 m = 0,40 mAB = AT = TBABT1,55 m1,15 mataud = (100) (1,55 m 1,15 m)= 40 mb = Aa Bb = A B (selisih dua benang)Contoh : Tinggi pesawat setelah diukur setinggi 1,35 m. Setelah teropong dibidikan ke rambu diperoleh pembacaan benang atas (Aa) dan benang bawah (Bb) adalah 1,55 m dan 1,15 m. Tetapan D sebesar 100.Bila tetapan D tidak diketahui, maka cara berikut dapat digunakan sebagai pegangan untuk menetapkan nilai D sebagai berikut :1) Cari lokasi yang datar sepanjang 50 m atau 100 m.2) Dirikan pesawat (posisi datar) dan usahakan tinggi pesawat bernilai genap; misal 1,30 m, 1,40 m.3) Dirikan rambu ukur (posisi

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended