Home >Documents >178. Tabir Delapan Mayat

178. Tabir Delapan Mayat

Date post:06-Apr-2018
Category:
View:231 times
Download:0 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    1/124

    1

    DENGAN bunga matahari yang telah diberimantera sakti oleh Nyi Roro Jonggrang, Ratu Randangberhasil melenyapkan tanda Pukulan Delapan SukmaMerah yang ada di kening dan dada Pendekar 212Wiro Sableng. Sebagai ucapan terima kasih, Wiromencium si nenek sampai empat puluh kali. BiasanyaRatu Randang yang selalu duluan mencium sangpendekar. Gembira tak terhingga mendapat ciumanbegitu banyak, walau bibirnya jadi jontor, si nenekcantik segera hendak menolong Dewi Ular. Saat itu

    Dewi Ular memang dalam keadaan cidera akibatntrokan kekuatan tenaga dalam dan kekuatan gaibdengan Pangeran Matahari dan Sinuhun Muda yangdibantu Sinuhun Merah serta bocah Ksatria

    Junjungan Dirga Purana. Walau keadaannya sepertiitu, namun Dewi Ular dengan polos minta agar sinenek lebih dulu menolong Raja Mataram yang saatitu tergeletak ditemani Jaka Pesolek, si gadis cantik

    berkumis halusRatu Randang tidak ingin meninggalkan Dewi

    Ular begitu saja. Maka dia tetap saja lebih dulumenolong gadis alam roh itu dengan mengusapkanbunga sakti ke bagian depan dan belakang Dewi Ular.Namun setelah si gadis sembuh, entah mengapa sinenek berlaku iseng. Pakaian Dewi Ular di sebelahbawah disingkap lalu bunga matahari diusapkan ke

    bagian terlarang di bawah perut Dewi Ular."Hai Nek! Kau ini gila apa?!" Teriak Dewi Ular."Kau bilang aku gila! Nanti lihat saja! Pasti

    banyak lelaki yang tergila-gila padamu! Hik... hik...hik!" Ratu Randang tertawa panjang.

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    2/124

    "Nek, bagaimana kalau nanti karena kualatbunga itu hilang kesaktiannya. Padahal kau belummenolong raja!" Teriak Dewi Ular pula.

    Teriakan Dewi Ular membuat Ratu Randang

    diam-diam merasa khawatir juga. Si nenek segeramendatangi Raja Mataram yang saat itu ditemani oleh

    Jaka Pesolek si gadis cantik berkumis halus yangpunya ilmu kepandaian menangkap petir.

    Terpengaruh oleh teriakan Dewi Ular, selintas pikiranmuncul di benak si nenek. Dia berusaha mencaripenangkal agar benar-benar tidak ditimpa kualat.Maka bunga matahari diusapkannya ke dada Raja

    Mataram Rakai Kayuwangi Lokapala.Walau cidera di tubuh Raja lenyap setelah diusap

    bunga, namun saat itu pula muncul gejala aneh. SangRaja melompat bangkit sambil mengusap dada yangbergerak turun naik. Kepala mendongak, matamenatap kosong ke arah langit lalu berkedap-kedip.Dari mulut terdengar suara mendesah tiada henti.

    Melihat keadaan Raja yang seperti tengah

    membayangkan dan merasakan sesuatu yangmenyenangkan, timbul hasrat Jaka Pesolek inginmelihat dan memegang bunga matahari. Ketika sinenek menampik, maka gadis ini langsung merampasbunga. Bunga matahari kemudian diusap danditekan-tekan berulang kali ke aurat di bawah perut.

    Tak selang berapa lama Jaka Pesolek keluarkanjeritan keras lalu jatuh tertelentang. Mata membeliak,

    dua bola mata berputar-putar. Mulut tersenyum-senyum dan keluarkan suara mendesah-desah.

    Si nenek tertegun. Memandang ke arah Raja lalukembali pada Jaka Pesolek. Tiba-tiba si nenekmembungkuk mengambil bunga matahari yangtercampak di tanah. Seperti yang dilakukan Jaka

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    3/124

    Pesolek, bunga sakti itu lalu ditekapkan ke bagianbawah perutnya.

    Tidak menunggu lama, "Oala Oala! Inirupanya!" Ratu Randang berteriak berulang kali.

    Lutut goyah, tubuh limbung lalu jatuh tertelentang diatas sebuah batu. Pinggang dan pinggul menggeliat-geliat. Mata yang juling mendelik memancarkancahaya berseri mulut menganga dan lidah terjulurbasah.

    Di lereng bukit sebelah atas Sakunta adewi aliasDewi Kaki Tunggal membantu Wiro bangkit berdiri

    "Wiro, aku mendengarsuara orang berteriak-

    teriak dan tertawa cekik kan di bawah sana. Anehrasanya dalam keadaan seperti ini ada orang mas hbisa tertawa.."

    "Aku juga mendengar. Itu suara teriakan RajaMataram Yang tertawa cekikikan sepertinya RatuRandang dan gadis

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    4/124

    aneh bernama Jaka Pesolek. Sebelumnya akuseperti mendengar suara teriakan Dewi Ular Kitaharus segera menyelidik apa yang terjadi."

    SEWAKTU sampai di lereng bukit sebelah bawahWiro dan Sakuntaladewi terheran-heran menyaksikankeadaan Raja Mataram. Ratu Randang dan JakaPesolek. Di tanah, di samping sosok Jaka Pesolektertampak Bunga Matahari sakti. Dengan cepatSakuntaladewi mengambil bunga itu.

    "Apa yang terjadi. Mereka kelihatan seperti orangmabok Bica a seperti orang mengigau." Kata

    Sakuntaladewi sambil memperhatikan tiga orang itusatu persatu.

    Wiro menggaruk kepala lalu berkata. "Tidak adaminuman keras di bukit ini. Mereka tidak mengigau.

    Jangan-jangan mereka kemasukan roh haluspenghuni bukit"

    "Aku tahu puluhan bahkan mungkin ratusan rohberkeliaran di bukit ini. Tapi bisa juga ini pekerjaan

    jahat Sinuhun Merah Penghisap Arwah." kataSakuntaladewi pula. Sekali lompat dia sudah beradadi hadapan Raja Mataram

    Begitu melihat ada perempuan di depannyasepasang mata Raja Mataram membesar. Bibirbergerak-gerak. Raja berusaha bangkit tapi hanyamampu duduk di tanah. Tangan kanan diulur, tangankiri mengusap dada lalu mulut keluarkan ucapan.

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    5/124

    "Ah... Aku sungguh bahagia Aku senangmelihatmu.

    Dara cantik, apakah kau datang hendakmenolongku? Mengapa kau tampak bersedih?

    Bergembiralah di hadapan Rajamu!"Wajah Sakunta adewi alias Dewi Kaki Tunggal

    saat itu memang sedih dan cemas melihat keadaanRaja Mataram Raka Kayuwangi. Sementara itu banyakorang telah berada di situ termasuk dua istri danbeberapa putera puteri Raja tidak berani mendekatMereka malah bersurat mundur. Takut kalau tiba-tibaRaja diluar sadar menjatuhkan tangan kasar.

    Sakuntaladewi gelengkan kepala. "Tidak mungkinRaja Mataram berperi laku seperti ini. Aku mau lihatMahlu k halus atau jin atau roh jahat apa yang telahmenguasai Rajai" Sakuntaladewi lalu pentang lima jaritangan kanan hingga memancarkan cahaya biru.Kelima jari itu kemudian ditusukkan ke batok kepalaRaja sambil berucap "Yang Mulia, maafkan saya!"

    Desss!"

    Lima cahaya biru yang semula memancar hendakmemasuki batok kepala Raja Mataram tiba-tibamencuat berbalik kembali, masuk ke dalam tanganSakuntaladewi disertai dorongan dahsyat hingga gadisberkaki satu ini terpekik dan terpental sampai tigalangkah

    "Bukan mahluk halus bukan roh jahat! Lalu apaini?!" Sakuntaladewi berucap dalam hati tereran-

    heran sambil usap tangan kanan dengan tangan kiriyang terasa kesemutan

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    6/124

    Tanganku tidak cidera. Tapi ada hawa anehmembuat habku seperti berbunga-bunga. Hyang JagatBathara. Saya mohon perlindungan untuk RajaMataram dan kami semual"

    DI tempat lain Jaka Pesolek yang saat itutergeletak di atas tubuh Ratu Randang sambilmelejang-Jejangkan kaki perlahan-lahan bergerakberdiri. Tubuh terhuyung-huyung, mata m erammelek, lidah dljulur-julurmembasahi bibir. Sambillambaikan tangan kanan ke arah Pendekar 212sementara tangan kiri menekap bagian bawah perutdia mengulum senyum dan berkata.

    "Pemuda gagah idamanku kekasihku. Pendekar yang mampu mengeluarkan petir dari tangan kanan.Mengapa kita bdak bermain petir-petiran? Ohh "

    Kening Pendekar 212 mengerenyiL Kepaladigaruk, i

    "Sobatku cantik, aku suka-suka saja bermainpetir-petiran denganmu. Tapi saat ini aku rasa kautelah kesambat setan kesasaratau kemasukan jin

    Bukit Batu Hangus..."" hh B caramu membuat aku merinding.

    Kemarikan tanganmu. Aku suka tangan besar dankuat Ayo..."

    "Eh kau mi gila benaran rupanya!" Kata VHrosambil melangkah mundur kebka Jaka Pesolekhendakmenarik tangan kanannya.

    Tiba-tiba di atas batu, sosok Ratu Randang

    menggeliat Didahului suara tawa ekikjkan nenek inibangkit dan duduk d atas batu. rambut serta pakaianawut-awutan tak kaiuan.

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    7/124

    "Anak muda yang aku kenal dengan nama WiroSab eng berjuluk Kesatna Panggilan. Mengapa maumemperbodoh diri bicara dengan lelaki yangberpakaian dan berdandan seperti perempuan? Apa

    enaknya?! hik hik Aku perempuan asli tempat danaku suka bersenang-senang dari siang sampai malam,sampai pagi. H kkk hikk Si nenek tertawa cekikikansambil busung-busungkan dada.

    Murid Sinto Gendeng jadi terkesiap, memandangmendelik tak berkesip

    "Nek. kau...kau juga ikutan gila..?! Celaka! Apaini yang sebenarnya terjadi?"

    Ratu Randang menjawab dengan mencibirkanbibirnya yang jontor. Mata juling d kedap kedip,tangan dilambaikan memberi isyarat agar Wiro datangmendekat

    "Ada yang aneh Aku melihat mereka bertigaselalu memegangi bagian tubuh tertentu. Mengapa?Ada yang salah urat atau ada yang mau copot?!"

    Baru saja Wiro berucap seperti itu tiba-tiba

    didahului tenakan keras dan unjukkan wajah gemasRatu Randang dan Jaka Pesolek bers rebut cepatmelompat hendak merangkul sang pendekar1

  • 8/3/2019 178. Tabir Delapan Mayat

    8/124

    2

    WIRO melompat mundur. Dia berhasil

    mengelakkan sambaran Ratu Randang. Tapi tidakmampu menghindar dari Jaka Pesolekyang memilikigerakan secepat kilat menyambar. Kamp i sajapinggangnya akan kena dipeluk oleh si gadis berkumishalus dan wajahnya hendak dicium tiba-tiba satubayangan hijau berkelebat Gerakan yang sebatmembuat Jaka r Pesolek terjajar ke belakang

    "Oala! Peiempuan mana yang cemburu buta. Jika

    memang suka mengapa tidak melakukan bersama-sama! Hik hik..hik! Jaka Pesolekhenbkantawa,matadikedap-kedip ketika melihat siapa yangada di hadapannya Ah gadis cantik berjuluk Dewi Ularrupanya!" Ucap Jaka Pesolek. "Aku kira siapa! Akutahu kau sudah mengenal Kesatria Panggilan jauhlebih dulu dariku. Kalau kau memang mau duluanpula bercinta dengannya aku mengalah. Atau kau

    mau berbaik hab ingin

of 124

Embed Size (px)
Recommended