Home >Documents >02 · PDF filedan membuat slogan/yel-yel. ... 23 Lampiran 1 : Contoh Kisah Menantu dan Mertua...

02 · PDF filedan membuat slogan/yel-yel. ... 23 Lampiran 1 : Contoh Kisah Menantu dan Mertua...

Date post:06-Feb-2018
Category:
View:248 times
Download:11 times
Share this document with a friend
Transcript:
  • 02MENGELOLA PERUBAHAN

    TUJUAN

    PERKIRAAN WAKTU

    PERLENGKAPAN

    Memberikan insight bahwa advokasi pada dasarnya

    adalah mendorong suatu perubahan.

    Membuat pemahaman bahwa prinsip mengubah haruslah

    I go first , diri kita sendiri yang harus berubah.

    Mendorong perubahan sikap diri dalam hal:

    o Meyakini mungkin tidaknya untuk melakukan

    sesuatu hal, lebih bersumber pada keyakinan

    subyektif dan bukan pada fakta obyektif.

    o Menginternalisasi moto Biar sulit tapi bisa!.

    o Jangan lihat kondisi (yang membatasi), selalu

    carilah peluangnya.

    Kesediaan membuka diri terhadap hal baru seperti

    anak-anak.

    Kertas HVS 3 x jumlah peserta.

    4 gelas bening berisi air.

    Tali kenur sepanjang 1 meter sejumlah peserta.

    Dianjurkan memiliki koleksi lagu-lagu anak.

    60menit

  • 16 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

  • 17 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

    Advokasi pada dasarnya adalah proses mendorong suatu perubahan kebijakan secara gradual agar lebih berpihak pada masyarakat. Menariknya, sering kita temui banyak orang yang berusaha mendorong perubahan dengan cara yang itu-itu saja, sementara sudah jelas bahwa cara tersebut tidak efektif.

    MENGAPA PERUbAHAN DIRI PENTING UNTUK MENDoRoNG PERUbAHAN LUAR

    Ketika muda aku

    ingin mengubah dunia,

    ternyata dunia tidak

    berubah.

    Lalu kucoba mengubah

    kotaku, ternyata juga

    tidak berubah

    Kemudian aku mencoba

    mengubah keluargaku,

    ternyata juga tidak

    berubah.

    Akhirnya aku menyadari,

    terlebih dahulu aku harus

    mengubah diriku sendiri.

    (Orang bijak dari awal

    abad 19)

    Saat mendapati bahwa kegiatan advokasi mendapatkan tantangan yang cukup berat atau menghadapi kesulitan, biasanya pelaku lantas mudah menyerah atau menyalahkan kondisi. Muncul suatu perasaan sulit untuk mendapatkan gol yang mereka inginkan. Dengan serta merta mencari berbagai alasan untuk pembenaran mengapa ini sulit, dan mengapa itu tidak mungkin.

    Sejarah sudah menunjukkan bahwa orang yang sukses mengusung perubahan memiliki sikap dan keberanian untuk mengalahkan rasa tidak mungkin yang umumnya menggayuti orang rata-rata.

    Pada sesi ini, kita akan mendorong beberapa perubahan sikap dalam meyakini bahwa suatu perjuangan sekalipun sulit tapi jika dilakukan dengan bersungguh-sungguh akan bisa dicapai.

    Apa yang sering disebut tidak mungkin biasanya hanyalah ada di kepala kita sendiri.

    Apa yang sering disebut tidak mungkin biasanya hanyalah karena tidak tahu caranya.

    Jika kita berpikir tidak mungkin, maka kita tidak ingin (tidak termotivasi) untuk melakukan tindakan apapun.

    Dalam berusaha, pahami pameo Biar sulit, tapi bisa

    Jangan hanya melihat keadaan suatu hal, tapi pelajari kemungkinan dan potensinya.

    Sejalan dengan dinamika pelatihan di sesi-sesi berikutnya akan dijumpai situasi di mana peserta mulai tidak percaya diri saat diminta mempersiapkan rencana hearing untuk menggolkan suatu isu. Umumnya sejumlah peserta akan merasa tidak mampu atau tidak yakin karena faktor tidak punya pengalaman, atau faktor risiko dalam pekerjaannya.

    Di sinilah nilai penting dari internalisasi perubahan sikap dalam mendorong suatu perubahan ini. Rasa yakin bahwa selalu ada peluang, dalam kondisi apapun, sekalipun nampak sulit di awalnya.

    Dalam beberapa permainan di sesi ini, peserta akan dibawa pada situasi yang nampaknya sulit jika dilihat secara apa adanya. Dibutuhkan suatu pemikiran dan kemampuan melihat peluang agar bisa memecahkan persoalan ini. Secara ringkas akan dituangkan dengan suatu teriakan sulit tapi bisa!.

  • 18 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

    Dalam sesi ini peserta akan dikelompokkan menjadi 4 kelompok besar yang relatif akan dipertahankan selama pelatihan. Hasil pengelompokan ini akan tetap digunakan dalam beberapa sesi lain untuk menjalankan aktivitas permainan. Proses pembentukan kelompok harus melalui suatu stimulasi yang menghasilkan rasa sesuatu lebih mungkin dicapai jika dilakukan dengan cara kerjasama.

    Pengelompokan ini juga akan dijadikan dasar bagi fasilitator untuk mengelola kelas, dengan cara menunjuk ketua kelompok, membangun nilai kelompok dan membuat slogan/yel-yel.

    Penunjukkan ketua kelompok, pembuatan nilai kelompok dan pembuatan slogan harus dibuat secara demokratis dengan cara kelompok tersebut sendiri yang melakukannya.

    Sesuai dengan misi Unicef, maka aktivitas advokasi yang akan dilakukan dalam pelatihan ini berkaitan dengan dunia anak. Dengan demikian perlu sekali membangun suatu iklim untuk lebih menyelami dunia anak dalam pelatihan ini. Yang dilakukan bukan dengan cara berdiskusi mengenai anak, namun dengan menyelami langsung dunia anak melalui aktivitas yang mirip dengan anak-anak.

    Dibandingkan dengan orang dewasa, anak-anak memiliki kelebihan dalam mempelajari atau menerima hal-hal baru:

    Selalu memiliki rasa ingin tahu pada hal baru.

    Pikiran terbuka karena ingin mengerti.

    Bisa menerima perubahan dengan senang.

    Belajar dengan bergembira ria: melalui bernyanyi, bergerak aktif, tertawa.

    Pembentukan Kelompok

    Menyelami Dunia Anak

    Kalimat tersebut akan dijadikan pemicu emosi (dalam NLP disebut dengan anchor) untuk membangkitkan emosi positif, yakni perasaan sekalipun sulit tapi saya yakin bisa. Fasilitator setiap saat bisa memicu emosi ini dengan meneriakkan Sulit???, maka peserta akan menjawab Bisaaa!!!.

  • 19 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

    Cipta Suasana PermainanTantangan 1,2 dan 3

    PembentukanKelompok

    Diskusi danPenutup

    Membangun suasana (state of mind)

    Menjelaskan tujuan sesi

    Memberikan stimulasi permainan yang menyenangkan, menantang dan menggoyang belief system mengenai mungkin tidak mungkin, dan sesuatu yang sulit hanya tidak tahu caranya.

    Membagi kelas menjadi sejumlah kelompok tertentu.

    Membangun kohesivitas dalam kelompok kecil.

    Mengajak peserta menelaah ke belakang mengenai pengalaman hidup yang pesimistik.

    Memberikan insight pada peserta untuk meyakini Jika mau pasti bisa!.

    Mengajak peserta mengintip sesuatu yang dipersepsikan sebagai kesulitan yang mungkin akan dialami saat advokasi.

    Kertas HVS sejumlah peserta

    3 gelas berisi air

    Tali kenur

    Permainan Ceramah

    Kegiatan Kelompok

    Diskusi

    Ceramah

    Kisah

    Ceramah

    5 20 1520

    TOPIK

    RINGKASAN ALUR SESI

    TUJUAN

    ALAT BANTU

    METODE

    WAKTU

  • 20 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

    Cipta Suasana

    Berdiri di depan, ucapkan kalimat pembukaan yang positif, hangat, apresiatif, segar dan mantap.

    Ajukan beberapa pertanyaan sederhana untuk memancing partisipasi, perhatian dan rasa ingin tahu. Misalnya:

    o Bagaimana, sudah kebagian coffee break semuanya?

    o Oke, apakah sudah ada yang pernah

    mengetahui kapasitas otak manusia?

    Bawakan cerita dengan gaya berkisah tentang Menantu dan Mertua (lampiran).

    Tanyakan, apa moral cerita tadi.

    Permainan Tantangan

    Ajukan tantangan 1 (lampiran) di depan kelas, buat kesimpulan di flipchart.

    Ajukan Pertanyaan pada akhir tantangan:

    Siapa yang tadi mengatakan tidak mungkin?

    Apakah kertas Anda masih utuh?

    Siapa yang tadi mengatakan mungkin.

    Bagaimana hasilnya?

    Ajukan tantangan 2 (lampiran) pada kelas, buat kesimpulan di flipchart.

    Ajukan Pertanyaan pada akhir tantangan:

    Siapa yang tadi mengatakan tidak mungkin?

    Apakah kertas Anda masih utuh?

    Siapa yang tadi mengatakan mungkin.

    Bagaimana hasilnya?

    Ajukan tantangan 3 (lampiran) pada kelas, buat kesimpulan di flipchart.

    No Kegiatan Keterangan

    Gunakan berbagai hasil permainan ini untuk memotivasi peserta saat merasa sulit di sesi-sesi berikutnya atau pada saat mau hearing.

    PROSES LENGKAP

    1.

    2.

  • 21 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

    No Kegiatan Keterangan

    Ajukan Pertanyaan pada akhir tantangan:

    Siapa yang tadi mengatakan tidak mungkin?

    Apakah Anda masih terikat?

    Siapa yang tadi mengatakan mungkin? Bagaimana hasilnya?

    Buat kesimpulan dengan cara mengambil gelas aqua yang diisi air separuh.

    Ajukan pertanyaan: Gelas ini setengah kosong apa setengah isi?. Ikuti dengan cerita 2 orang salesman ikan Lou Han.

    Kaitkan dengan kecenderungan orang yang berpikir sukses (setengah isi) dibandingkan orang yang gampang menyerah (setengah kosong).

    Pembagian Kelompok

    Lakukan Pembagian Kelompok (Lihat prosedur pada lampiran Modul ini).

    Diskusi dan kesimpulan

    Berkelompok 3 orang (triad).

    Minta untuk mendiskusikan 2 hal:

    Pengalaman masing-masing dalam kehidupan/1. pekerjaan yang pernah dilakukan, apa yang dulunya kelihatan sulit, namun kemudian ternyata mudah setelah ia tahu caranya.

    Rumuskan 3 hal yang mungkin akan sulit ketika 2. dihadapi dalam advokasi, dan pikirkan peluang/kemungkinan solusinya.

    PROSES LENGKAP

    3.

    4.

  • 22 Bacaan Pengantar untuk Fasilitator

    Jika waktu cukup panjang, Anda dapat memberikan aktivitas tantangan lain di sesi ini. Carilah permainan yang mengasah otak, yang cenderung memunculkan rasa tidak mungkin dilakukan.

    Tujuan yang terpenting adalah setelah mengetahui rahasianya, akan muncul efek Oh ternyata cuma begitu saja. Permainan ini juga sekaligus akan membangun suasana ceria dan fun.

    VARIASI

    Tutup sesi ini dengan sebuah kesepakatan bersama.

    Mulai sekarang, kita menggunakan sapaan khusus untuk pelatihan ini:

    o Selamat Pagi?, jawab dengan Pagi!

    o Apakah sulit? jawab dengan Bisa!

    Putar lagu Aku pasti Bisa,

of 16/16
02 MENGELOLA PERUBAHAN TUJUAN PERKIRAAN WAKTU PERLENGKAPAN Memberikan insight bahwa advokasi pada dasarnya adalah mendorong suatu perubahan. Membuat pemahaman bahwa prinsip mengubah haruslah “I go first” , diri kita sendiri yang harus berubah. Mendorong perubahan sikap diri dalam hal: o Meyakini “mungkin tidaknya” untuk melakukan sesuatu hal, lebih bersumber pada keyakinan subyektif dan bukan pada fakta obyektif. o Menginternalisasi moto “Biar sulit tapi bisa!” . o Jangan lihat kondisi (yang membatasi), selalu carilah peluangnya. Kesediaan membuka diri terhadap hal baru seperti anak-anak. Kertas HVS 3 x jumlah peserta. 4 gelas bening berisi air. Tali kenur sepanjang 1 meter sejumlah peserta. Dianjurkan memiliki koleksi lagu-lagu anak. 60menit
Embed Size (px)
Recommended