Home >Documents >· Web viewDESAIN. DI ALAM. HARUN YAHYA. Perpustakaan Nasional RI: data katalog dalam terbitan...

· Web viewDESAIN. DI ALAM. HARUN YAHYA. Perpustakaan Nasional RI: data katalog dalam terbitan...

Date post:11-Mar-2019
Category:
View:238 times
Download:1 times
Share this document with a friend
Transcript:

DESIGN IN NATURE

KEAJAIBAN

DESAIN

DI ALAM

HARUN YAHYA

Perpustakaan Nasional RI: data katalog dalam terbitan (KDT)

Yahya, Harun

Keajaiban Desain di Alam / Yahya Harun; alih bahasa, Fajariska (at al.); editor, Catur Sri Herwanto. Jakarta : Flobal Cipta Publishing, 2002

Judul asli: Design in Nature

ISBN 979-96943-1-0

Judul Asli: Design in Nature

Penulis : Harun Yahya

Penerbit: Al-Attique Publishers Inc.

Judul Terjemahan : Keajaiban Desain di Alam

Alih Bahasa: Nurjannah, dkk.

Editor: Catur Sriherwanto, Yelvi Andri Z.

Penerbit: Globalmedia Cipta PublishingKomplek Golden Plaza Fatmawati A/32 Lt. 3Jl. Raya Fatmawati Jakarta 12420Telp. (021) 766 5936, 7590 1062 Fax. (021) 7590 3902

Cetekan Pertama, Rajab 1424 H, September 2003 M

daftar Isi

PENDAHULUAN

KEAJAIBAN RANCANGAN PADA KEMAMPUAN TERBANG SERANGGA

BURUNG: MESIN TERBANG YANG SEMPURNA

SISTEM KOMUNIKASI DAN PENENTUAN TEMPAT

SISTIM BERENANG REAKSI

KELOMPOK RAYAP DAN SISTIM PERTAHANAN KIMIAWI

DARAH: CAIRAN KEHIDUPAN

RANCANGAN DAN PENCIPTAAN

CATATAN-CATATAN

PENDAHULUAN

Mari kita pikirkan sejenak mengenai aspirin, Anda akan langsung mengingat tanda di tengah tablet. Tanda ini dirancang untuk menolong konsumen yang hanya menggunakan setengah dosis. Setiap produk yang kita lihat di sekitar kita, meskipun tidak sesederhana aspirin, dibuat dengan desain atau rancangan tertentu, mulai dari kendaraan yang kita pakai untuk bekerja, hingga remote control televisi.

Desain atau rancangan, secara singkat berarti gabungan yang selaras dari berbagai bagian dalam bentuk yang teratur yang dirancang untuk tujuan tertentu. Dari pengertian ini, kita tidak akan sulit menerka bahwa sebuah mobil adalah suatu rancangan. Ini karena terdapat tujuan tertentu, yaitu untuk mengantarkan manusia dan barang. Untuk mewujudkan tujuan ini, berbagai bagian seperti mesin, ban dan rangkanya direncanakan dan dirakit di sebuah pabrik.

Akan tetapi, bagaimana halnya dengan makhluk hidup? Dapatkah seekor burung beserta cara terbangnya disebut sebagai rancangan pula? Sebelum memberi jawabannya, mari kita ulang penilaian kita dalam contoh mobil tadi. Tujuan burung, dalam hal ini, adalah untuk terbang. Untuk tujuan ini, tulang yang berbobot ringan, berongga, serta otot-otot dada yang kuat yang menggerakkan tulang-tulangnya digunakan bersama dengan bulu-bulu yang mampu mempertahankan kedudukannya di udara. Sayap terbentuk dengan sifat aerodinamis dan metabolisme tubuhnya sejalan dengan kebutuhan burung untuk memperoleh tingkat tenaga yang tinggi. Jelaslah bahwa burung merupakan hasil dari rancangan tertentu.

Jika kita tinggalkan sementara pengamatan kita atas burung dan menelaah bentuk lain dari kehidupan, maka kita akan menemui kenyataan yang sama. Di setiap makhluk, terdapat contoh-contoh rancangan yang sangat sempurna. Jika kita telaah lebih jauh, kita menemukan bahwa diri kita sendiri pun merupakan bagian dari rancangan itu sendiri. Tangan Anda yang memegang halaman-halaman buku ini memiliki kemampuan yang tidak bisa disamai oleh tangan robot mana pun. Mata Anda yang membaca baris demi baris buku ini memungkinkan penglihatan dengan pusat pandangan yang oleh kamera terbaik di dunia ini pun tidak mampu tercapai.

Oleh sebab itu, kita sampai pada kesimpulan penting ini: seluruh makhluk di alam, termasuk diri kita, merupakan suatu rancangan. Hal ini, pada gilirannya membuktikan keberadaan Sang Pencipta, Yang merancang semua makhluk dengan kehendak-Nya, memelihara seluruh ciptaan-Nya, dan memiliki kekuasaan dan kebijaksanaan yang mutlak.

Namun, semua kenyataan ini ditolak oleh teori evolusi yang dirumuskan pada pertengahan abad ke-19. Teori ini, yang dikemukakan dalam buku karya Charles Darwin On the Origin of Species menilai bahwa semua makhluk berevolusi melalui rangkaian kejadian kebetulan dan berubah dari satu bentuk ke bentuk lainnya.

Menurut dalil dasar dari teori ini, semua bentuk kehidupan melalui perubahan demi perubahan kecil yang acak. Jika perubahan acak ini memperbaiki suatu bentuk kehidupan, maka bentuk kehidupan itu akan mendapatkan kelebihan atas bentuk yang lain, yang pada gilirannya diturunkan kepada keturunan-keturunan selanjutnya.

Alur cerita ini telah bertahan sekitar 140 tahun seolah-olah sangat ilmiah dan meyakinkan. Ketika ditelaah dengan sebuah mikroskop yang lebih tajam dan ketika dibandingkan dengan contoh-contoh rancangan makhluk hidup, teori Darwin melukiskan gambaran yang sangat berbeda, yakni, penjelasan Darwin tentang kehidupan tidak lebih dari lingkaran setan yang menyalahi kehidupan itu sendiri.

Pertama, mari kita pusatkan perhatian pada perubahan acak. Darwin tidak mampu memberikan sebuah pengertian yang utuh tentang pandangan ini karena kurangnya ilmu sifat keturunan (genetika) di masanya. Para pendukung teori evolusi (evolusionis) yang sepakat dengannya menyarankan pemikiran tentang mutasi. Mutasi merupakan suatu pemutusan, penempatan, atau pergeseran gen (sifat keturunan) makhluk hidup yang terjadi secara kebetulan. Padahal, dan ini yang terpenting, tak ada satu mutasi pun dalam sejarah yang terbukti memperbaiki keadaan suatu informasi genetik makhluk hidup. Hampir semua kejadian mutasi yang dikenal dapat melumpuhkan atau membahayakan makhluk tersebut, sementara lainnya tidak berakibat apa-apa. Karena itulah, berpikir bahwa suatu makhluk bisa membaik melalui mutasi sama halnya dengan menembak dalam keramaian dan berharap bahwa luka yang disebabkannya akan memunculkan manusia yang lebih baik dan lebih sehat. Ini jelas omong kosong.

Karena penting, dan bertentangan dengan semua data ilmiah, meskipun kita beranggapan bahwa mutasi tertentu bisa benar-benar memperbaiki keadaan suatu makhluk, ajaran Darwin (Darwinisme) tetap tidak mampu diselamatkan diri dari keruntuhannya yang tak terelakkan. Alasannya adalah sebuah pandangan yang disebut kerumitan tak tersederhanakan (irreducible complexity). Maksud dari pemikiran ini adalah bahwa sebagian besar sistem dan alat tubuh makhluk hidup bekerja karena berbagai bagian-bagian mandiri yang bekerja bersama, sehingga hilangnya atau berhentinya satu bagian saja dari sistem tersebut sudah cukup untuk menghentikan seluruh sistem atau alat tubuh itu.

Misalnya, telinga menginderakan suara hanya bisa dengan serangkaian alat-alat yang lebih kecil. Ambil atau ubahlah salah satunya, misalnya salah satu tulang telinga bagian tengah, maka tidak akan ada pendengaran sama sekali. Agar telinga dapat mengindera suara, berbagai bagiannya (semisal saluran pendengaran luar, selaput gendang, tulang-tulang di telinga bagian tengah, seperti tulang martil, tulang pelana dan tulang sanggurdi, cairan siput, penerima pendengaran atau sel-sel rambut, bulu getar yang membantu sel tersebut menginderakan getaran, jaringan saraf yang terhubung ke otak dan pusat pendengaran di otak) harus bekerja bersama tanpa kecuali. Sistem ini tidak dapat berjalan bagian per bagian karena tidak ada satu bagian pun yang dapat bekerja sendiri.

Oleh karenanya, pandangan kerumitan tak tersederhanakan tadi menghancurkan teori evolusi di akarnya. Menariknya, Darwin juga mengkhawatirkan kemungkinan mutlak ini. Dia menulis dalam On The Origin of Species:

Jika bisa ditunjukkan bahwa ada alat tubuh yang rumit, yang tidak mungkin dapat terbentuk oleh banyak perubahan-perubahan yang kecil dan bertahap, teori saya pasti akan runtuh 1

Darwin tidak mampu, atau mungkin tidak ingin menemukan alat tubuh seperti itu, ketika tingkat pengetahuan di abad ke-19 masih amat hijau. Namun, ilmu pengetahuan di abad ke-20 telah mempelajari hingga perincian terkecil dan membuktikan bahwa sebagian besar struktur kehidupan menunjukkan kerumitan yang tak tersederhanakan. Karenanya, Teori Darwin telah dengan mutlak jatuh, tepat seperti yang ia takutkan.

Dalam buku ini, kita akan menggali berbagai contoh sistem makhluk hidup yang melumpuhkan teori Darwin. Cara kerja tubuh ini dapat ditemui di mana pun mulai dari sayap burung hingga dalam tengkorak kelelawar. Ketika kita menelaah contoh-contoh ini, kita tidak hanya akan melihat kesalahan besar yang dibuat Darwinisme namun juga membuktikan begitu hebatnya kebijaksanaan yang menyertai penciptaan sistem tersebut.

Oleh karena itu, kita akan melihat bukti yang tak terbantahkan tentang penciptaan oleh Allah yang tak bercela. Demikianlah, kekuasaan dan keindahan seni Allah dalam menciptakan tanpa cacat tersebut disebutkan di dalam sebuah surat Al Quran sebagai berikut:

Dia-lah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Yang Mempunyai Nama-Nama Yang Paling Baik. Bertasbih kepada-Nya apa yang ada di langit dan di bumi. Dan Dia-lah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Surat Al Hasyr : 24)

Sebuah Contoh Kerumitan yang Tak Tersederhanakan: Mata Udang Laut

Banyak jenis mata yang berbeda di dunia tempat kita hidup. Kita sudah terbiasa dengan mata sejenis kamera yang ditemukan pada makhluk hidup bertulang belakang. Bentuk ini bekerja atas dasar pembiasan cahaya yang jatuh ke atas lensa dan dipusatkan pada titik di belakang lensa di bagian dalam mata.

Akan tetapi, mata yang dimiliki oleh makhluk lain bekerja dengan cara yang berbeda. Sebagai contoh adalah udang laut (jenis lobster). Mata seekor udang laut bekerja atas dasar pemantulan, bukan pembiasan.

Ciri yang paling menonjol pada mata udang laut adalah permukaannya, yang terdiri atas banyak kotak persegi. Sebagaimana yang terlihat pada gambar di halaman berikutnya, kotak-kotak tersebut ditempatkan dengan begitu tepat.

Mata udang laut memperlihatkan bangun ruang yang istimewa yang tidak ditemukan di tempat lain di alam mata itu memiliki mata-mata majemuk yang amat kecil yang berbentuk persegi dengan sempurna, se

Click here to load reader

Embed Size (px)
Recommended